Fauna - Greeners.Co https://www.greeners.co/flora-fauna/category/fauna/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 26 Jul 2025 02:40:19 +0000 id hourly 1 Bajing Kelapa Sangihe, Si Putih dari Gunung Sahendaruman https://www.greeners.co/flora-fauna/bajing-kelapa-sangihe-si-putih-dari-gunung-sahendaruman/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bajing-kelapa-sangihe-si-putih-dari-gunung-sahendaruman https://www.greeners.co/flora-fauna/bajing-kelapa-sangihe-si-putih-dari-gunung-sahendaruman/#respond Sun, 27 Jul 2025 03:00:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=47053 Kepulauan Sangihe merupakan salah satu pulau yang memiliki ragam fauna yang sangat kaya. Ada banyak hewan endemis di sana. Salah satunya adalah bajing kelapa sangihe (Prosciurillus rosenbergii) yang mendiami Gunung […]]]>

Kepulauan Sangihe merupakan salah satu pulau yang memiliki ragam fauna yang sangat kaya. Ada banyak hewan endemis di sana. Salah satunya adalah bajing kelapa sangihe (Prosciurillus rosenbergii) yang mendiami Gunung Sahendaruman, tepatnya di Kampung Menggawa II dan Kampung Belengan.

Dalam bahasa lokal, hewan itu disebut tumpara. Bajing ini merupakan salah satu dari tiga jenis tupai di Pulau Sangihe yang memiliki keunikan luar biasa.

Tubuhnya warna putih, bersih, dan cantik. Hewan ini memiliki kondisi genetik yang unik, yaitu albino dan leucistic. Penyebabnya adalah mutasi genetik yang memengaruhi produksi melanin, pigmen yang memberikan warna pada kulit, bulu, dan rambut. Kedua kondisi ini menyebabkan hewan memiliki warna yang lebih pucat daripada individu normal. Namun, ada perbedaan mendasar antara keduanya.

Hewan albino sama sekali tidak memiliki pigmen melanin, sehingga kulit, bulu, atau rambutnya berwarna putih, dan matanya berwarna merah muda atau merah. Sementara, hewan leucistic mengalami pengurangan pigmen, tapi tidak seluruhnya hilang. Mereka biasanya memiliki warna yang lebih pucat, tapi memiliki sedikit pigmen warna. Mata hewan leucistic umumnya berwarna normal.

Namun, keberadaan mereka di masyarakat setempat, khususnya generasi tua, sering kali dianggap sebagai sesuatu yang mistis. Mereka percaya bahwa bajing albino atau leucistic adalah hewan jadi-jadian atau jelmaan manusia.

Burung Indonesia melansir bahwa hewan ini membawa pertanda buruk jika seseorang bertemu dengannya di hutan. Sehingga, kebanyakan orang akan memilih berbalik arah atau mencari jalan lain. Sisi positifnya, kawasan hutan tempat hewan ini tinggal dianggap keramat sehingga jarang dirusak oleh manusia.

Bagaimana Fenomena Albino dan Leucistic Terjadi?

Kondisi albino dan leucistic merupakan mutasi genetik bersifat resesif. Artinya, kedua induk harus membawa gen mutasi agar keturunannya lahir dengan kondisi tersebut. Beberapa faktor yang menyebabkan hewan indukan membawa gen mutasi di antaranya adalah kondisi isolasi geografis, seperti yang terjadi pada pulau-pulau kecil.

Pulau kecil seperti Sangihe sering menjadi rumah bagi spesies unik dengan karakteristik genetik khas. Isolasi geografis ini mempercepat proses evolusi dan meningkatkan kemungkinan munculnya variasi genetik, termasuk kondisi albino dan leucistic. Selain itu, perkawinan sedarah (inbreeding) di populasi kecil juga meningkatkan kemungkinan lahirnya individu dengan kondisi genetik langka ini.

Meskipun terlihat cantik dan unik serta keramat di Pulau Sangihe, hewan albino dan leucistic masih menghadapi ancaman dan kerentanan yang lebih besar dibandingkan dengan individu normal. Warna mereka yang mencolok membuat mereka lebih sensitif terhadap sinar matahari dan mudah terlihat oleh predator, seperti ular, elang, dan burung hantu. Selain itu, mereka juga sering menjadi korban rundungan. Bahkan, mereka juga dikucilkan oleh kelompoknya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bajing-kelapa-sangihe-si-putih-dari-gunung-sahendaruman/feed/ 0
Kepulauan Sangihe Menyimpan Keindahan Tersembunyi Ikan dan Udang Air Tawar https://www.greeners.co/flora-fauna/kepulauan-sangihe-menyimpan-keindahan-tersembunyi-ikan-dan-udang-air-tawar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kepulauan-sangihe-menyimpan-keindahan-tersembunyi-ikan-dan-udang-air-tawar https://www.greeners.co/flora-fauna/kepulauan-sangihe-menyimpan-keindahan-tersembunyi-ikan-dan-udang-air-tawar/#respond Thu, 24 Jul 2025 09:55:08 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=47029 Kabupaten Kepulauan Sangihe terletak di ujung timur laut Sulawesi Utara dan berbatasan langsung dengan Mindanao, Filipina. Wilayah ini memiliki keindahan di bawah laut dengan kondisi geografis dan hidrologis yang unik […]]]>

Kabupaten Kepulauan Sangihe terletak di ujung timur laut Sulawesi Utara dan berbatasan langsung dengan Mindanao, Filipina. Wilayah ini memiliki keindahan di bawah laut dengan kondisi geografis dan hidrologis yang unik sebagai kepulauan vulkanik. Kombinasi aktivitas vulkanik, topografi berbukit curam, dan banyak pulau kecil membentuk sistem perairan tawar yang khas, didominasi oleh sungai-sungai pendek, berarus deras, dan jernih.

Tipe habitat seperti ini sangat penting untuk kelangsungan hidup spesies ikan tertentu. Terutama yang bersifat amphidromous, yaitu ikan atau hewan yang melakukan migrasi antara air tawar dan air asin, tetapi tidak untuk tujuan berkembang biak. Oleh karena itu, mereka bergantung pada perairan yang kaya oksigen.

Conservation Programme Officer Burung Indonesia, Ganjar Cahyo Aprianto berhasil mengamati tiga kelompok yaitu kelompok ikan gobi, ikan kuhlia, dan udang air tawar di pulau ini. Untuk kelompok spesies ikan gobi, ia berhasil mengamati Giuris viator, Giuris tolsoni, Eleotris sp., Lentipes arnatusSicyopterus lagocephalusSicyopus zosterophorusS. atropurpureusStiphodon semoni, dan Stiphodon surrufu.

Sementara, kelompok ikan kuhlia atau kanamaheng (bahasa lokal), yaitu Kuhlia marginata dan Kuhlia rupestris. Terakhir, udang air tawar yang berhasil teridentifikasi adalah Caridina sp., Macrobrachium sp., atau urang (bahasa lokal), dan Atyopsis sp. atau bebawing (bahasa lokal).

Ganjar mengungkapkan bahwa posisi geografis dan sejarah geologis Sangihe yang terisolasi menjadikannya laboratorium alami untuk spesiasi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa komunitas ikan air tawarnya mungkin telah berevolusi secara terpisah. Kemudian, menghasilkan adaptasi unik dan spesies endemis yang belum ditemukan.

“Hal tersebut seakan menggugah siapa saja. Khususnya ichthyologist (pemerhati ikan) untuk menguak lebih dalam tentang spesies-spesies air tawar yang ada di Sangihe,” ungkap Ganjar dalam keterangan tertulisnya.

Kepulauan Sangihe menyimpan keindahan tersembunyi ikan dan udang air tawar. Foto:  Burung Indonesia_Ganjar Cahyo Aprianto

Kepulauan Sangihe menyimpan keindahan tersembunyi ikan dan udang air tawar. Foto: Burung Indonesia_Ganjar Cahyo Aprianto

Peran Ekologis Kepulauan Sangihe

Keberadaan ikan dan udang air tawar berfungsi sebagai indikator penting bagi kesehatan ekosistem air tawar di Pulau Sangihe. Perairan di Sangihe relatif terlindungi dari polusi berat dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian barat. Keberadaan spesies tersebut telah mencerminkan kondisi lingkungan yang masih baik.

Dalam siklus nutrisi, ikan gobi, khususnya dari subfamili Sicydiinae sangat terkait dengan habitat sungai atau pesisir. Habitat tersebut menyediakan sumber nutrisi seperti mikrobentoszooplanktonperiphyton, dan fitoplankton.

Spesies dari genus ini memakan alga dan biofilm dari bebatuan. Peran mereka sebagai konsumen primer yang mengonsumsi organisme di tingkat trofik bawah. Kemudian, menghubungkan aliran energi dari produsen primer ke tingkat trofik yang lebih tinggi dalam ekosistem.

Ganjar menambahkan, spesies udang air tawar umumnya adalah hewan penyaring dan omnivora pemakan bangkai. Mereka memainkan peran ekologis penting dalam ekosistem akuatik dengan mengonsumsi dan memproses bahan organik. Sehingga, berkontribusi pada siklus nutrisi dan kesehatan lingkungan bentik. Udang dari kelompok atyopsis, dikenal karena kemampuannya menyaring air untuk mendapatkan makanan.

“Mereka menggunakan pelengkap seperti kipas atau sikat untuk menyaring partikel makanan dari kolom air yang bergerak cepat. Dengan menyaring partikel dari air, mereka berkontribusi pada kejernihan dan kualitas air di habitatnya,” tambahnya.

Oleh karena itu, melindungi ikan asli bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies, melainkan menjaga kesehatan dan fungsi keseluruhan ekosistem air tawar Sangihe.

Pada gilirannya, hal ini mendukung keanekaragaman hayati lainnya serta kesejahteraan manusia, seperti penyediaan sumber air bersih. Menurut Ganjar, pemantauan yang berkelanjutan juga diperlukan. Ini penting untuk menilai apakah Pulau Sangihe berfungsi sebagai tempat pertumbuhan, pemijahan, dan jalur migrasi penting bagi berbagai spesies.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kepulauan-sangihe-menyimpan-keindahan-tersembunyi-ikan-dan-udang-air-tawar/feed/ 0
Kupu-kupu Monarch, Mengandung Racun bagi Predatornya https://www.greeners.co/flora-fauna/kupu-kupu-monarch-mengandung-racun-bagi-predatornya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kupu-kupu-monarch-mengandung-racun-bagi-predatornya https://www.greeners.co/flora-fauna/kupu-kupu-monarch-mengandung-racun-bagi-predatornya/#respond Tue, 18 Feb 2025 03:56:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=45957 Danaus plexippus dikenal juga sebagai kupu-kupu monarch. Ia termasuk anggota famili Nymphalidae yang berasal dari Amerika, Kanada bagian selatan, hingga Amerika Utara. Anggota famili ini juga merupakan kupu-kupu berkaki sikat. […]]]>

Danaus plexippus dikenal juga sebagai kupu-kupu monarch. Ia termasuk anggota famili Nymphalidae yang berasal dari Amerika, Kanada bagian selatan, hingga Amerika Utara. Anggota famili ini juga merupakan kupu-kupu berkaki sikat. IUCN Red List menetapkan status konservasi kupu-kupu ini sebagai least concern (tidak dikhawatirkan).

Terdapat dua subspesies, yaitu D. p. plexippus. Subspesies ini bermigrasi di Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Kepulauan Canary, Madeira, Azores, Bermuda, dan berbagai pulau di Pasifik termasuk Hawaii, Australia, dan Selandia Baru. Kemudian, D. p. megalippe subspesies yang tidak bermigrasi dan ada di Florida bagian selatan dan di seluruh Karibia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.

Sayap Kupu-Kupu Monarch Berkamuflase seperti Mata Hewan

Kupu-kupu monarch–baik jantan maupun betina–memiliki warna sayap oranye terang dengan garis tepi berwarna hitam. Garis-garis hitam pada betina umumnya terlihat lebih tebal daripada jantan. Lebar sayapnya ketika membentang berkisar 4cm hingga 10 cm.

Ulat monarch juga memiliki garis-garus hitam, kuning, dan putih di tubuhnya. Larva ini berukuran sekitar 5 cm dan saat menjadi kepompong, warnanya berubah menjadi hijau keemasan. Dalam waktu 6 sampai 14 hari kepompong akan berubah menjadi kupu-kupu monarch yang cantik. Kupu-kupu monarch dewasa yang berkembang biak sebagian besar hidup sekitar 2 sampai 5 minggu. Namun, individu yang mengalami musim dingin di habitatnya akan memasuki masa hibernasi dan hidup selama 6 hingga 9 bulan.

Kupu-kupu monarch menggunakan penampilannya untuk menangkal serangan predator. Sebab, warna oranye dianggap sebagai warna peringatan. Dari kejauhan, corak pada sayapnya terlihat seperti mata hewan yang berukuran besar, hal ini berguna sebagai kamuflase.

Taksonomi Kupu-kupu Monarch. Foto: Greeners

Taksonomi Kupu-kupu Monarch. Foto: Greeners

Tersebar Luas Hampir di Seluruh Dunia

Kini, populasi D. plexippus dapat kita temukan hampir di seluruh dunia. Mereka menyukai area terbuka seperti padang rumput, rawa-rawa, hingga tepi jalan. Perkembangbiakanya sangat bergantung pada persebaran tanaman milkweed.

Beracun bagi Predator

Spesies ini beracun bagi vertebrata lainya. Racun yang dikenal sebagai cardenolides tersebut berasal dari tanaman milkweed (Asclepias sp.) yang menjadi sumber pakannya. Kupu-kupu monarch membutuhkan tanaman milkweed yang melimpah untuk bertelur dan sebagai sumber pakan saat fase larva.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kupu-kupu-monarch-mengandung-racun-bagi-predatornya/feed/ 0
Narwhal, Paus Bertanduk dari Samudra Arktik https://www.greeners.co/flora-fauna/narwhal-paus-bertanduk-dari-samudra-arktik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=narwhal-paus-bertanduk-dari-samudra-arktik https://www.greeners.co/flora-fauna/narwhal-paus-bertanduk-dari-samudra-arktik/#respond Fri, 31 Jan 2025 04:19:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=45802 Monodon monoceros dikenal juga sebagai narwhal atau paus bertanduk. Mamalia air ini berasal dari family Monodontidae dan berkerabat dengan paus beluga. Ciri khasnya adalah jantan memiliki tanduk runcing yang berlekuk-lekuk […]]]>

Monodon monoceros dikenal juga sebagai narwhal atau paus bertanduk. Mamalia air ini berasal dari family Monodontidae dan berkerabat dengan paus beluga. Ciri khasnya adalah jantan memiliki tanduk runcing yang berlekuk-lekuk spiral yang menembus bibir atasnya. Pada abad pertengahan, tanduk narwhal dikenal sebagai tanduk unicorn yang diceritakan dalam dongeng. IUCN Red List melansir bahwa status konservasinya adalah least concern dengan tren populasi yang belum diketahui secara pasti.

Narwhal Memiliki Tanduk Panjang yang Berlekuk Spiral

Narwhal memiliki tubuh yang kuat, bersirip pendek dan tumpul, tidak memiliki sirip punggung. Jantan dewasa dapat tumbuh hingga berukuran panjang 15,7 meter dengan bobot hingga 1.600 kilogram. Sementara itu, betina dewasanya berukuran panjang 13,8 m dengan bobot mencapai 1000 kg.

Saat masih muda, narwhal terlihat berwarn abu-abu kecokelatan. Seiring bertambahnya usia, kulit mereka akan menggelap menjadi kehitaman dengan belang-belang putih. Namun, semakin tua kulitnya akan berubah warna lagi menjadi lebih terang hingga tampak berwarna putih dengan belang-belang hitam di kepala, sirip, dan punggungnya.

Mamalia air ini memiliki dua gigi yang keduanya tumbuh di ujung rahang atas. Namun, biasanya hanya gigi kiri yang tumbuh. Menghasilkan tanduk runcing berlekuk spiral yang tumbuh hingga mencapai 3 m. Umumnya, tanduk tersebut hanya ada pada jantan dewasa, tetapi terkadang juga ada pada betina dengan ukuran yang lebih pendek dan tak terlalu menonjol.

Fungsi dari tanduk tersebut adalah untuk kompetisi antar jantan dan daya tarik bagi para betina saat musim kawin. Selain itu, juga sebagai alat sensorik utntuk mendeteksi mangsa dan perubahan kondisi lingkungan.

M. monoceros dapat hidup hingga berusia 50 tahun, dengan masa kehamilan sekitar 13 hingga 16 bulan. Biasanya mereka melahirkan anak paus di musim panas dan akan menyusui selama satu tahun. Saat lahir, anak narwhal berukuran panjang mencapai 5 m dengan bobot 80 kg.

Taksonomi Narwhal. Foto: Greeners

Taksonomi Narwhal. Foto: Greeners

Berkelompok dan Berburu Mangsa di Dasar Laut

Narwhal seringkali terlihat berenang dalam kelompok yang terdiri dari 15 hingga 20 ekor, tapi pernah juga dalam kelompok besar terdiri dari ratusan hingga ribuan individu. Umumnya, kelompok kecil ditemukan saat musim dingin, sedangkan kelompok besar saat musim panas. Kelompok tersebut dapat dipisahkan berdasarkan jenis kelamin dan usia.

Mamalia ini mencari makan di dekat dasar laut. Oleh sebab itu, mereka dapat menyelam selama 25 menit hingga kedalaman 1,2 kilometer. Makanan narwhal berupa cumi-cumi, udang, dan ikan arktik berukuran sedang hingga besar seperti ikan kod.

Penghuni Samudra Arktik dan Atlantik

Paus bertanduk dapat kalian temukan di samudra Arktik dan Atlantik. Selama musim panas, mereka ada di Kanada bagian utara dekat pantai timur Greenland. Sementara, pada musim dingin mereka akan bermigrasi ke Teluk Baffin.

Ancaman bagi populasi narwhal yakni penduduk asli Arktik (inuit) yang kerap memburu narwhal untuk mereka ambil tanduk dan kulitnya karena kaya vitamin C. Selain itu, mamalia ini juga terkadang terperangkap oleh bongkahan es sehingga mudah tertangkap.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/narwhal-paus-bertanduk-dari-samudra-arktik/feed/ 0
Mengenal Hylobates lar, Primata Asia yang Dilindungi di Indonesia https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-hylobates-lar-primata-asia-yang-dilindungi-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengenal-hylobates-lar-primata-asia-yang-dilindungi-di-indonesia https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-hylobates-lar-primata-asia-yang-dilindungi-di-indonesia/#respond Tue, 07 Jan 2025 07:15:08 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=45629 Ungko lengan putih yang juga dikenal dengan nama ilmiah Hylobates lar merupakan salah satu primata dari famili Hylobatidae. Distribusinya meliputi Indonesia (Sumatra), Semenanjung Malaysia, Myanmar, Thailand, hingga bagian selatan China. […]]]>

Ungko lengan putih yang juga dikenal dengan nama ilmiah Hylobates lar merupakan salah satu primata dari famili Hylobatidae. Distribusinya meliputi Indonesia (Sumatra), Semenanjung Malaysia, Myanmar, Thailand, hingga bagian selatan China.

Secara umum, H. lar memiliki lima subspesies yang dapat dibedakan secara morfologi dari perbedaan warna rambutnya. Kelima subspesies tersebut adalah:
1. Hylobates lar vestitus
2. H. l. lar
3. H. l. carpenteri
4. H. l. entelloides
5. H. l. yunnanensis

Namun, hanya subspesies Hylobates lar vestitus yang dapat kita temukan di Indonesia. Primata ini termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia menurut Peraturan Menteri LHK no. 106 tahun 2018. Melansir IUCN Red List, status konservasinya adalah terancam (endangered) dengan tren populasi yang menurun. Populasi di habitat aslinya terancam oleh perburuan ilegal, kerusakan habitat, serta alih fungsi lahan untuk pembangunan infrastruktur.

Taksonomi hylobates lar (ungko lengan putih sumatra). Foto: Greeners

Taksonomi hylobates lar (ungko lengan putih sumatra). Foto: Greeners

Hylobates lar Memiliki Banyak Variasi Warna Rambut

Kera kecil ini memiliki variasi warna rambut dari putih kecokelatan, hitam, hitam kecokelatan, hingga kemerahan. Bagian tangannya dan kakinya berwarna putih, begitu juga dengan wajahnya yang dikelilingi lingkaran berwarna putih.

Sama seperti kerabatnya yang lain, owa ungko lengan putih ini juga bergerak sebagian besar dengan cara brakiasi atau berayun dari pohon ke pohon. Oleh sebab itu, mereka memiliki lengan yang lebih panjang daripada kakinya. Selain itu, mereka juga memiliki bantalan tulang yang keras di bokongnya yang berguna sebagai bantalan duduk.

Tubuh jantan berukuran panjang sekitar 43 hingga 58,4 cm dan betinanya berukuran 42 hingga 58 cm. Di samping itu, bobot tubuh jantanya biasanya sedikit lebih berat dari betina, yakni 4,9 kg sampai 7,6 kg sedangkan betina sekitar 4,5 kg hingga 6,8 kg.

Arboreal dan Monogami

H. lar termasuk satwa frugivore, yakni satwa yang makanan utamanya adalah buah-buahan. Selain buah, mereka juga memakan daun (muda, tua), tunas, dan serangga. Seperti owa lainnya, mereka juga bersifat monogami (keluarga terdiri dari dua hingga enam individu) dan teritorial terhadap wilayah jelajahnya. Aktif pada siang hari dan selalu berda di atas pohon (arboreal).

Habitat Owa Ungko Lengan Putih

Primata ini mendiami hutan hujan dataran rendah dan subpegunungan hingga ketinggian 1,200 mdpl, hutan cemara, dan hutan rawa gambut. Dalam satu hari, rata-rata mereka melakukan perjalanan 1,5 km dengan area jelajah mencapai 54 hektar.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-hylobates-lar-primata-asia-yang-dilindungi-di-indonesia/feed/ 0
Tarsius Supriatna, Primata Kecil yang Berekor Sangat Panjang https://www.greeners.co/flora-fauna/tarsius-supriatna-primata-kecil-yang-berekor-sangat-panjang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tarsius-supriatna-primata-kecil-yang-berekor-sangat-panjang https://www.greeners.co/flora-fauna/tarsius-supriatna-primata-kecil-yang-berekor-sangat-panjang/#respond Tue, 17 Dec 2024 05:00:07 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=45425 Mari berkenalan dengan primata kecil dan endemik dari Pulau Sulawesi, yakni Tarsius supriatnai (tarsius supriatna) yang memiliki nama lain Bumbulan atau Mimito. Primata endemik ini peneliti temukan dan terdeskripsikan dalam […]]]>

Mari berkenalan dengan primata kecil dan endemik dari Pulau Sulawesi, yakni Tarsius supriatnai (tarsius supriatna) yang memiliki nama lain Bumbulan atau Mimito. Primata endemik ini peneliti temukan dan terdeskripsikan dalam artikel “Two New Tarsier Species (Tarsiidae, Primates) and the Biogeography of Sulawesi, Indonesia” oleh Myron Shekelle dan peneliti lainnya di tahun 2017.

Nama ilmiah T. supriatnai untuk menghargai jasa Dr. Jatna Supriatna yang telah mendedikasikan sebagian besar kehidupan profesionalnya dalam konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. Selain itu, ia juga telah banyak mensponsori sebagian besar penelitian kolaboratif asing pada tarsius.  IUCN Red List melansir bahwa status konservasi tarsius supriatna adalah rawan (vulnerable) dengan tren populasi yang menurun.

Memiliki Ekor dan Jari Tengah yang Panjang

Secara morfologi, T. supriatnai terlihat sangat mirip dengan T. spectrumgurskyae. Analisis genetik pada spesis ini memperkirakan telah terjadi pemisahan spesies antara T. supriatnai dan T. spectrumgurskyae sejak 0,3 juta tahun yang lalu.

Secara umum, ciri khas dari tarsius supriatna adalah memiliki bintik yang terlihat lebih besar di pangkal telinganya. Kaki belakangnya tidak terlalu pendek, jari tengah yang lebih panjang dibandingkan dengan spesies tarsius lainnya. Selain itu, tarsius ini juga memiliki ekor yang sangat panjang. Berat tubuh betina sekitar 104-114 gram, sedangkan jantan sekitar 135 gram. Panjang ekor betina sekitar 232-243 mm dan ekor jantan 246 mm.

Di samping itu, tarsius supriatna juga melakukan vokalisasi duet yang ditandai dengan frasa betina sepanjang 2-5 nada yang diiringi oleh panggilan jantan, yang sangat berbeda dengan spesies tarsius lainnya.

Taksonomi Tarsius supriatnai. Foto: Greeners

Taksonomi Tarsius supriatna. Foto: Greeners

Tarsius Supriatna Endemik dari Sulawesi

Primata endemik yang satu ini tersebar di wilayah Sulawesi Utara. Mulai dari Tanah Genting Gorontalo ke arah barat hingga Sejoli, dan mungkin mencapai Ogatemuku. Di bagian barat, spesies ini berbatasan dengan T. wallacei dan di bagian timur dengan T. spectrumgurskyae.

Di Mana Bisa Melihatnya Secara Langsung?

Jika kamu ingin melihat secara langsung primata ini di habitat aslinya, Kawasan Lindung Nantu adalah tempatnya. Di sana, terdapat stasiun penelitian yang terletak dekat dengan distrik Paguyaman. Untuk dapat ke sana, kamu harus terbang dari Jakarta ke Gorontalo sekitar 3 jam. Kemudian, naik bus dari kota Gorontalo ke Paguyaman. Selanjutnya, kamu harus menyewa mobil ke stasiun penelitian yang mungkin akan memakan waktu sekitar 3 sampai 4 jam.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/tarsius-supriatna-primata-kecil-yang-berekor-sangat-panjang/feed/ 0
Rastrelliger kanagurta, Ikan Kembung Lelaki yang Kaya Nutrisi https://www.greeners.co/flora-fauna/rastrelliger-kanagurta-ikan-kembung-lelaki-yang-kaya-nutrisi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rastrelliger-kanagurta-ikan-kembung-lelaki-yang-kaya-nutrisi https://www.greeners.co/flora-fauna/rastrelliger-kanagurta-ikan-kembung-lelaki-yang-kaya-nutrisi/#respond Mon, 04 Nov 2024 03:00:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=45138 Ikan kembung banyak dikatakan memiliki kandungan protein yang lebih baik dari ikan salmon. Mari berkenalan dengan salah satu jenis ikan kembung yang umum kita konsumsi, Rastrelliger kanagurta atau ikan kembung […]]]>

Ikan kembung banyak dikatakan memiliki kandungan protein yang lebih baik dari ikan salmon. Mari berkenalan dengan salah satu jenis ikan kembung yang umum kita konsumsi, Rastrelliger kanagurta atau ikan kembung lelaki. Ikan ini berasal dari famili Scombridae dan memiliki beberapa nama ilmiah sinonim. Di antaranya Rastrelliger serventyi, Scomber chrysozonus, Scomber kanagurta, Scomber moluccensis, dan lainnya. Selain itu, ikan ini juga memiliki nama lain Indian Mackerel, Gurukuma, atau Cavala.

Dilansir IUCN Red List, status konservasi ikan kembung lelaki adalah risiko rendah (least concern). Penetapan status ini berdasarkan jumlah populasinya yang melimpah di sebagian besar wilayah jangkauannya. Padahal, ikan ini merupakan target perikanan komersial dan konsumsi dengan penangkapan yang masif di berbagai wilayah.

Memiliki Rahang yang Panjang

Bentuk tubuh ikan ini ramping memanjang (25 cm hingga 35 cm), memipih, dan agak tinggi dengan sisi dorsa yang gelap, biru kehijauan, atau kecokelatan. Memiliki rahang atas yang sebagian tersembunyi di balik tulang lacrimal. Rahang tersebut memanjang hingga ke tepi belakang mata.

Kemudian, terdapat bintik hitam pada tepi bawah sirip dadanya. Warna tubuh ikan ini umumnya keperakan dengan beberapa garis berwarna gelap setengah bagian tubuh sisi atas. Garis-garis bagian atasnya menjadi bintik-bintik di bagian posterior.

Selain itu, sisik pada bagian anterior berukuran lebih besar. Terdapat dua berkas sirip di punggungnya, diikuti dengan tambahan 5 sirip kecil. Pada masing-masing bagian sisi batang ekornya, terdapat sepasang lunas ekor berukuran kecil.

Taksonomi ikan kembung lelaki (rastrelliger kanagurta). Foto: Greeners

Taksonomi ikan kembung lelaki (rastrelliger kanagurta). Foto: Greeners

Distribusi dan Ekologi Ikan Kembung Lelaki

Ikan kembung lelaki bisa ditemukan di teluk pesisir, pelabuhan, atau perairan yang kaya plankton. Ikan ini merupakan pemakan plankton, zooplankton, fitoplankton, dan crustacea. Distribusi ikan kembung lelaki meliputi Indo-Pasifik Barat, Laut Merah, Afrika Timur, Indonesia, Cina, Australia, Melanesia, Kepulauan Marshall, hingga Laut Mediterania dan Terusan Suez.

Di Indonesia, aktivitas pemijahan R. kanagurta mencapai puncaknya pada bulan Oktober-April. Puncak kematangan gonadnya terjadi sekitar bulan Juli dan Agustus. Ketika bertelur, betina dapat menghasilkan 29.000 hingga 520.000 telur. Panjang generasi untuk ikan ini sekitar 3 tahun.

Tinggi Protein dan Kaya Vitamin

Food Science and Technology melansir bahwa ikan R. kanagurta merupakan sumber protein dan lipid yang kaya. Lemak tak jenuh dalam ikan tersebut memberikan efek positif pada tubuh dengan menyediakan nutrisi utama bagi konsumen. Setiap 100 gram ikan ini mengandung protein hingga 21 gram, 3 gram lemak, 245 mg kalium, 69 mg fosfor, dan 136 mg kalsium. Ikan ini juga mengandung asam lemak omega-3, dan vitamin B1, B2, B12.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/rastrelliger-kanagurta-ikan-kembung-lelaki-yang-kaya-nutrisi/feed/ 0
Loxodonta africana, Mamalia yang Terpisah dari Gajah Asia 7 Juta Tahun Lalu https://www.greeners.co/flora-fauna/loxodonta-africana-mamalia-yang-terpisah-dari-gajah-asia-7-juta-tahun-lalu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=loxodonta-africana-mamalia-yang-terpisah-dari-gajah-asia-7-juta-tahun-lalu https://www.greeners.co/flora-fauna/loxodonta-africana-mamalia-yang-terpisah-dari-gajah-asia-7-juta-tahun-lalu/#respond Thu, 19 Sep 2024 08:00:21 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=44773 Gajah Savana Afrika (Loxodonta africana) memiliki nama lain The Bush Elephant, African Bush Elephant, atau Savannah Elephant. Mamalia herbivora berukuran besar ini berasal dari keluarga Elephantidae. Ia berkerabat dengan Loxodonta […]]]>

Gajah Savana Afrika (Loxodonta africana) memiliki nama lain The Bush Elephant, African Bush Elephant, atau Savannah Elephant. Mamalia herbivora berukuran besar ini berasal dari keluarga Elephantidae. Ia berkerabat dengan Loxodonta cyclotis (Gajah hutan Afrika), Elephas maximus (Gajah Asia), dan Mammuthus (Mamut) yang telah punah.

Secara evolusi, gajah asia dan gajah afrika telah terpisah sejak 7 juta tahun yang lalu. Sementara, gajah savana afrika dan gajah hutan afrika terpisah 1 juta tahun kemudian.

Status konservasi gajah savana afrika menurut IUCN Red List adalah terancam (endangered). Analisis estimasi pada 334 lokasi populasi gajah savana afrika menunjukan penurunan lebih dari 50% dalam 75 tahun terakhir.

Taksonomi gajah afrika (Loxodonta africana). Foto: Greeners

Jantan Berukuran Lebih Besar dari Betina

L. africana jantan berukuran lebih besar dari betinanya. Ia memiliki bobot tubuh berkisar antara 4.500 kg hingga 8.000 kg dengan ketinggiannya saat berdiri mencapai 4 m. Sementara, betinanya berukuran sedikit lebih kecil, yakni bobot tubuhnya hanya sekitar 2000 kg hingga 3.500 kg dengan tinggi sekitar 2,2 m hingga 2,6 m.

Jantan memiliki bentuk kepala dan dahi yang lebih lebar dari betina. Tak seperti kerabatnya di Asia, gajah afrika jantan dan betina memiliki dua gading yang panjangnya dapat mencapai 3,5 m, tebal dan melengkung. Seperti gajah pada umumnya, mereka memiliki belalai yang berotot kuat untuk meraih benda serta bernapas. Selain itu, gajah ini juga memiliki telinga yang besar berbentuk segitiga.

Gajah savana afrika berwarna abu-abu, kulitnya berkerut, dan memiliki ketebalan hingga 30 mm. Selain itu, mereka juga memiliki rambut yang bervariasi ketebalan, warna, dan panjangnya. Di sepanjang punggung dan ekornya tumbuh rambut hitam pipih yang panjangnya mencapai 0,8 m. Anak gajah ini memiliki rambut yang berwarna lebih terang, yakni kemerahan atau cokelat. Interval kelahiran pada gajah afrika berlangsung selama 4 hingga 5 tahun dengan masa kehamilan selama 22 bulan.

Loxodonta africana Dianggap Punah di Dua Daerah

Gajah savana afrika secara nasional dianggap telah punah di Burundi dan Mauritania. Namun, populasi yang tersisa masih dapat kita temukan di Angola, Botswana, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Chad, Kongo, Eritrea, Ethiopia, Kenya, Malawi, Mali, Mozambik, Namibia, Nigeria, Rwanda, Somalia, Afrika Selatan, Sudan Selatan, Tanzania, Uganda, Zambia, dan Zimbabwe.

 

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/loxodonta-africana-mamalia-yang-terpisah-dari-gajah-asia-7-juta-tahun-lalu/feed/ 0
Wombat, si Pemilik Kotoran Berbentuk Kubus https://www.greeners.co/flora-fauna/wombat-si-pemilik-kotoran-berbentuk-kubus/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=wombat-si-pemilik-kotoran-berbentuk-kubus https://www.greeners.co/flora-fauna/wombat-si-pemilik-kotoran-berbentuk-kubus/#respond Tue, 10 Sep 2024 00:44:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=44689 Tahukah kamu ada satwa yang memiliki kotoran berbentuk kubus? Satwa ini merupakan salah satu herbivora penggali lubang terbesar di dunia dari kelas mamalia. Dia adalah wombat (hidung gundul) yang dikenal […]]]>

Tahukah kamu ada satwa yang memiliki kotoran berbentuk kubus? Satwa ini merupakan salah satu herbivora penggali lubang terbesar di dunia dari kelas mamalia. Dia adalah wombat (hidung gundul) yang dikenal juga sebagai Vombatus ursinus yang berasal dari famili Vombatidae.

Terdapat tiga spesies wombat dalam famili ini, yaitu wombat hidung gundul, wombat hidung berambut utara (Lasiorhinus krefftii), dan wombat hidung berambut selatan (Lasiorhinus latifrons). Wombat hidung gundul memiliki tiga subspesies, yakni V. ursinus hirsutus, V. ursinus ursinus, dan V. ursinus tasmaniensis.

Mamalia Herbivor Berkaki Pendek dan Kuat

Wombat berhidung gundul ialah mamalia berkaki empat yang berpostur pendek, berbentuk lonjong, kepala yang lebar, dan berleher pendek. Selain itu, mereka juga memiliki kaki yang berotot dan sangat kuat untuk menggali lubang, dengan cakarnya yang berfungsi seperti sekop.

Mereka juga memiliki sepasang gigi seri yang terus bertumbuh. Rambutnya berwarna abu-abu kecokelatan hingga kehitaman. Berbeda dengan dua spesies wombat lainnya, V. ursinus memiliki telinga yang lebih kecil dan berambut lebih tebal. Secara umum, tekstur rambunya memang kasar, tapi pada bagian pantat tekstur rambutnya sangat kasar hingga mengeras.

Individu dewasanya berukuran panjang sekitar 77 cm hingga 115 cm dengan tinggi hanya sekitar 22-25 cm saja. Berat tubuhnya berkisar antara 17 kg hinga 39 kg. Subspesies V. ursinus ursinus adalah yang berukuran paling kecil di antara subspesies lainnya. Perbedaan jantan dan betinanya terkadang sulit ditentukan, namun seringkali betina berukuran lebih besar dari jantannya.

Taksonomi wombat. Foto: Greeners

Taksonomi wombat. Foto: Greeners

Satwa Asli Australia

Satwa ini asli dari wilayah Australia yang ada di sepanjang tepi timur Queensland dan New South Whales dan beberapa bagian Australia Selatan. Mereka mendiami wilayah yang beriklim sedang, hutan terbuka, semak belukar, dan padang rumput.

Wombat Menghasilkan Banyak Kotoran Kubus dalam Semalam

Wombat menghasilkan kotoran berbentuk kubus. Ternyata, kotoran tersebut juga digunakan sebagai bentuk komunikasi visual dan penciuman antarindividu. Dalam semalam, mereka dapat menghasilkan 80 hingga 100 kotoran yang menjadi jejak.

Biasanya, kotoran kubus itu mereka letakkan di sekitar pintu masuk liang atau pada titik-titik tertentu yang menonjol seperti di batu atau batang kayu. The Annual Review of Animal Biosciences melansir bahwa kotoran berbentuk kubus tersebut terbentuk di dalam usus besarnya.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/wombat-si-pemilik-kotoran-berbentuk-kubus/feed/ 0
Mengenal Neophocaena phocaenoides, Lumba-Lumba Tak Bersirip Indo-Pasifik https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-neophocaena-phocaenoides-lumba-lumba-tak-bersirip-indo-pasifik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengenal-neophocaena-phocaenoides-lumba-lumba-tak-bersirip-indo-pasifik https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-neophocaena-phocaenoides-lumba-lumba-tak-bersirip-indo-pasifik/#respond Mon, 19 Aug 2024 06:55:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=44528 Apakah kamu tahu ada berapa spesies lumba-lumba yang dilindungi di Indonesia? Jika belum, simak ulasan berikut, ya. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang jenis satwa dan tumbuhan yang dilindungi […]]]>

Apakah kamu tahu ada berapa spesies lumba-lumba yang dilindungi di Indonesia? Jika belum, simak ulasan berikut, ya. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang jenis satwa dan tumbuhan yang dilindungi menyebutkan terdapat 10 spesies lumba-lumba yang dilindungi di Indonesia. Salah satunya ialah lumba-lumba hitam tak bersirip (Neophocaena phocaenoides) dari Famili Phocoenidae.

N. phocaenoides berkerabat dengan lumba-lumba tak bersirip Yangtze (N. asiaeorientalis). Dulunya, kedua spesies tersebut dianggap sama. Namun, kini keduanya adalah spesies yang berbeda. Hal ini terlihat dari morfologi tubuhnya secara umum serta ukuran tengkorak kepalanya yang berbeda.

Kedua spesies ini terpisah sejak 1700-1800 tahun yang lalu. WoRMS melansir bahwa lumba-lumba ini memiliki tiga subspesies, yakni Neophocaena phocaenoides asiaeorientalis Pilleri & Gihr, 1972, Neophocaena phocaenoides phocaenoides G. Cuvier, 1829, dan Neophocaena phocaenoides sunameri Pilleri & Gihr, 1975.

Taksonomi Neophocaena phocaenoides. Foto: Greeners

Taksonomi Neophocaena phocaenoides. Foto: Greeners

Neophocaena phocaenoides Tidak Memiliki Sirip di Punggungnya

Ukuran tubuh N. phocaenoides cenderung lebih kecil dari kerabatnya. Panjang tubuhnya sekitar 170 cm dengan bobot 70 kg. Biasanyam jantan berukuran tubuh lebih besar dari betina. Kepalanya bulat dan pendek dengan moncong yang tak terlalu jelas. Tubuhnya berwarna abu-abu gelap dan sedikit lebih terang di bagian ventralnya, dengan individu dewasa terlihat berwarna hitam.

Mereka juga memiliki bintik-bintik putih di tubuhnya yang akan berkurang seiring bertambahnya usia. Bentuk giginya spasial berjumlah 15 hingga 21 gigi, hampir sama dengan lumba-lumba lain dari familinya. Ciri khas dari lumba-lumba ini adalah tidak memiliki sirip punggung. Namun, memiliki suatu garis tengah di punggungnya yang berisikan papila bertanduk.

Mamalia air ini biasanya berpasangan ataupun dalam kawanan besar. Berbeda dengan lumba-lumba pada umumnya, N. phocaenoides bisanya berenang dengan tenang tanpa melompat atau membuat cipratan.

Terdistribusi Cukup Luas

N. phocaenoides memiliki distribusi yang cukup luas, mulai dari Teluk Persia, sepanjang pantai India, Semenanjung Indocina, hingga Selat Taiwan di pesisir timur Tiongkok. Mereka hidup di habitat air tawar dan air asin.

Selain itu, mereka juga menyukai kawasan hutan bakau di perairan tropis. Umumnya, pada kedalaman <50 meter dengan dasar pasir yang lunak. Terkadang mereka juga berada di danau yang terputus dari lautan, namun masih berair asin.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-neophocaena-phocaenoides-lumba-lumba-tak-bersirip-indo-pasifik/feed/ 0
Ikan Kod Atlantik, Penghasil Bahan Baku Suplemen Minyak Ikan https://www.greeners.co/flora-fauna/ikan-kod-atlantik-penghasil-bahan-baku-suplemen-minyak-ikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ikan-kod-atlantik-penghasil-bahan-baku-suplemen-minyak-ikan https://www.greeners.co/flora-fauna/ikan-kod-atlantik-penghasil-bahan-baku-suplemen-minyak-ikan/#respond Sat, 20 Jul 2024 03:00:08 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=44301 Minyak ikan kod merupakan salah satu suplemen yang baik untuk tumbuh kembang anak-anak. Seperti namanya, suplemen ini berasal dari minyak hati ikan kod atlantik (Gadus morhua). Ikan ini berasal dari […]]]>

Minyak ikan kod merupakan salah satu suplemen yang baik untuk tumbuh kembang anak-anak. Seperti namanya, suplemen ini berasal dari minyak hati ikan kod atlantik (Gadus morhua).

Ikan ini berasal dari famili Gadidae dan berkerabat dengan coalfish (Pollachius virens) dan alaska pollock (Theragra chalcogramma). Minyak ikan kod kaya akan asam lemak omega-3 yang bermanfaat untuk kesehatan.

Warna Tubuh Ikan Kod Atlantik Dipengaruhi Kondisi Lingkungan

Ukuran tubuh maksimum berkisar antara 150 hingga 200 cm dengan bobot tubuh rata-rata 40 kg. Warnanya bervariasi, tergantung dengan lingkungan tempatnya hidup. Air dengan jumlah ganggang yang besar akan menghasilkan ikan kod atlantik berwarna merah hingga kehijauan.

Jika di dasar laut atau dasar yang berpasir, ikan ini akan berwarna abu-abu pucat. Beberapa ikan kod memiliki bintik-bintik kecokelatan atau merah di bagian samping dan punggungnya.

BACA JUGA: Elang Buteo, Raptor Diurnal yang Populasinya Meningkat

Pemijahan pada ikan kod berlangsung saat musim dingin dan awal musim semi di perairan lepas pantai atau dekat dasar dengan kedalaman 0 hingga 200 meter. Ikan yang lebih tua dan berukuran besar dapat menghasilkan telur yang lebih besar dengan daya apung netral pada salinitas air yang rendah. Ikan ini juga dapat hidup hingga 20 tahun.

Taksonomi ikan kod atlantik. Foto: Greeners

Taksonomi ikan kod atlantik. Foto: Greeners

Biasanya Berada di Dasar Perairan

Termasuk ikan bentopelagis, yakni biasa berada tepat di atas substrat, memakan benthos dan zooplankton. Ikan kod dapat kamu temukan mulai dari garis pantai hingga landas kontinen, beriklim sedang dengan suhu sekitar 0-20 derajat celcius.

Distribusi ikan kod atlantik meliputi sepanjang pantai timur dan utara Amerika Utara, pantai Greenland, Samudra Arktik, perairan Atlantik sekitar Islandia, Laut Utara, dan Laut Barents.

Ikan Kod Atlantik Liar vs Budidaya

Journal of Food Composition and Analysis melansir bahwa ikan kod liar mengandung lebih banyak asam dokosaheksaenoat secara signifikan. Namun, kadar asam linoleat, asam eikosapentanoat, dan asam docosapentaenoic lebih rendah dibandingkan ikan kod yang dibudidayakan.

Sementara itu, kandungan protein ikan kod budi daya juga lebih tinggi. Proses pemasakan ikan tidak memengaruhi kadar senyawa yang terkandung di dalamnya.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ikan-kod-atlantik-penghasil-bahan-baku-suplemen-minyak-ikan/feed/ 0
Mengenal Ngengat Glyphodes nurfitriae, Spesies Baru dari Papua https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-ngengat-glyphodes-nurfitriae-spesies-baru-dari-papua/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengenal-ngengat-glyphodes-nurfitriae-spesies-baru-dari-papua https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-ngengat-glyphodes-nurfitriae-spesies-baru-dari-papua/#respond Tue, 02 Jul 2024 07:42:53 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=44161 Ngengat adalah hewan kecil yang secara langsung dapat kita jumpai di lingkungan sekitar. Terdapat dua spesies baru ngengat dari genus Glyphodes yang baru terpublikasi tahun ini. Publikasi terkahir mengenai spesies […]]]>

Ngengat adalah hewan kecil yang secara langsung dapat kita jumpai di lingkungan sekitar. Terdapat dua spesies baru ngengat dari genus Glyphodes yang baru terpublikasi tahun ini. Publikasi terkahir mengenai spesies Glyphodes dari Papua ada di tahun 1960. Sejak saat itu, belum ada lagi spesies baru yang terdeskripsikan. Saat ini, Indonesia mencatat ada 48 spesies ngengat dari genus Glyphodes (termasuk dua spesies baru).

Watung et all (2024) mempublikasikan penemuannya terkait dua spesies ngengat (Glyphodes nurfitriae sp. nov. dan G. ahsanae sp. nov.) dalam jurnal Zootaxa dengan judul Description of two new species in the genus Glyphodes Guenée from Indonesia (Lepidoptera: Crambidae, Spilomelinae).

BACA JUGA: Buah Cassabanana, Kerabat Mentimun yang Kaya Vitamin C

Kali ini kita akan berkenalan dengan ngengat G. nurfitriae dari Gunung Foja, Papua. Penamaan spesies nurfitriae berasal dari nama anak perempuan pertama “Nur Fitria” dari penulis senior Hari Sutrisno yang telah banyak membantu penulis jurnal tersebut dalam mempersiapkan naskahnya.

Glyphodes nurfitriae Dapat Dikenali dengan Mudah dari Corak Sayapnya

Ngengat G. nurfitriae memiliki panjang sayap depan sekitar 9-10 mm. Bagian palpus labialis sub-ascending ruas pertama tertutupi sisik putih seperti salju dari basal hingga medial dan sisik hitam di ujungnya.

Ruas kedua bersisik lebar di bagian depannya, ruas ketiga tegak lurus dan tertanam dalam sisik putih pada ruas kedua. Palpus rahang atasnya menonjol dan melebar berbentuk segitiga dengan sisik putih salju di bagian ujungnya.

Taksonomi ngengat Glyphodes nurfitriae. Foto: Greeners

Taksonomi ngengat Glyphodes nurfitriae. Foto: Greeners

Terdapat antena filiform yang panjangnya hampir sama dengan panjang sayap depan. Permukaan dorsalnya ditutupi oleh sisik cokelat memanjang dan permukaan ventralnya ditutupi oleh silia abu-abu panjang.

BACA JUGA: Cecropia peltata, Tanaman Invasif Berbuah Lezat seperti Jeli

Kakinya berwarna putih kecokelatan, bagian handwing memiliki tiga bintik putih besar dengan berbagai ukuran dan bentuk yang menjadi ciri khasnya. Abdomennya berbentuk ramping, berwarna cokelat, dan terdapat jambul sisik hitam di bagian dubur.

Morfologi ngengat jantan dan betina hampir sama, kecuali pada bagian abdomen betina tidak memiliki jambul sisik di duburnya serta permukaan antena tertutupi silia abu-abu pendek. Ngengat G. nurfitriae dewasa umumnya aktif pada malam hari (nokturnal).

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-ngengat-glyphodes-nurfitriae-spesies-baru-dari-papua/feed/ 0
Kodok Tebu (Rhinella marina), Spesies Beracun yang Invasif https://www.greeners.co/flora-fauna/kodok-tebu-rhinella-marina-spesies-beracun-yang-invasif/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kodok-tebu-rhinella-marina-spesies-beracun-yang-invasif https://www.greeners.co/flora-fauna/kodok-tebu-rhinella-marina-spesies-beracun-yang-invasif/#respond Mon, 01 Apr 2024 05:34:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=43443 Pernahkah kamu bertemu dengan spesies kodok beracun? Kodok tebu atau Rhinella marina merupakan salah satu spesies kodok beracun dari keluarga Bufonidae. Selain itu, kodok tebu juga memiliki sebutan lain sebagai […]]]>

Pernahkah kamu bertemu dengan spesies kodok beracun? Kodok tebu atau Rhinella marina merupakan salah satu spesies kodok beracun dari keluarga Bufonidae. Selain itu, kodok tebu juga memiliki sebutan lain sebagai cane toad, marine toad, giant toad, south american cane toad, dan lainnya.

U.S Department of Agriculture (USDA) melansir bahwa  kodok tebu termasuk spesies akutik invasif yang pertama kali diintroduksi ke Florida pada tahun 1936. Spesies ini berasal dari Bolivia, Brasil, Kolombia, Ekuador, Guyana, Guyana, Peru, Suriname, Trinidad dan Tobago, Venezuela. Namun, kini telah diintroduksi ke berbagai negara seperti Amerika, Eropa, Australia hingga Indonesia. Mereka dapat kita temukan di habitat hutan yang dekat dengan perairan.

Berwarna Abu-Abu Cokelat Zaitun dan Kulit Berbintil

Kodok tebu berukuran cukup besar. Panjang tubuhnya dapat mencapai 15 cm hingga 25 cm. Namun, ukuran yang umum adalah 15 hingga 17,5 cm. Kulit punggung (atas) berwarna abu-abu cokelat zaitun dan terdapat banyak bintil-bintl di permukaannya. Kulit bagian ventralnya berwarna kuning keputihan dengan bintik-bintik berwarna cokelat tua.

Selain itu, kodok ini juga memiliki kelenjar parotoid besar yang membentang dari sisi anterior timpanumnya hingga setengah bagian ke arah belakang tubuhnya. Kelenjar tersebut dapat mengeluarkan racun ketika mereka merasa terancam.

Racun inilah yang menjadikan spesies kodok tebu sebagai speses insvasif asing. Sebab, para predatornya tak dapat memangsa sehingga populasinya menjadi sangat banyak di alam. Hal ini tentu berbahaya bagi kelangsungan hidup spesies kodok asli di daerah tersebut.

Pupil pada matanya horizontal dan iris matanya berwarna emas dengan bercak hitam. Individu yang masih muda seringkali memiliki punggung berwarna keabu-abuan dengan bercak kuning atau merah.

Taksonomi kodok tebu. Foto: Greeners

Taksonomi kodok tebu. Foto: Greeners

Rhinella marina Memiliki Kelenjar Parotoid yang Menghasilkan Racun

Spesies R. marina menghasilkan racun dari kelenjar parotoid di belakang tubuhnya. Penelitian Mailho-Fontana et al (2018) menyebutkan bahwa racun pada kodok tebu mengandung protein dan tersusun dari molekul-molekul bernassa rendah seperti amina biogenik. Selain itu, racun bufotoksin ini juga mengandung bufagin yang dapat memengaruhi jantung dan bufotenine yang merupakan senyawa halusinogen.

Mekanisme ini merupakan bentuk pertahanan amfibi terhadap serangan predator dan mikroorganisme di habitatnya. Kelenjar-kelenjar ini sebetulnya tersebar di seluruh tubuh kodok, tapi dapat terakumulasi di daerah tertentu.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kodok-tebu-rhinella-marina-spesies-beracun-yang-invasif/feed/ 0
Sanca Bodo, Ular Besar Tak Berbisa dari Asia Tenggara https://www.greeners.co/flora-fauna/sanca-bodo-ular-besar-tak-berbisa-dari-asia-tenggara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sanca-bodo-ular-besar-tak-berbisa-dari-asia-tenggara https://www.greeners.co/flora-fauna/sanca-bodo-ular-besar-tak-berbisa-dari-asia-tenggara/#respond Mon, 19 Feb 2024 05:28:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=43066 Ular piton atau sanca merupakan sekelompok ular besar yang tak berbisa, salah satunya sanca bodo (Python bivittatus). Ular yang berasal dari famili Pythonidae ini memiliki nama lain piton burma. Spesies […]]]>

Ular piton atau sanca merupakan sekelompok ular besar yang tak berbisa, salah satunya sanca bodo (Python bivittatus). Ular yang berasal dari famili Pythonidae ini memiliki nama lain piton burma. Spesies ini memiliki nama ilmiah sinonim, di antaranya Python molurus bivittatus, Python bivittatus hainannus, dan Python bivittatus progschai.

BACA JUGA: Kucing Emas Asia, Bertubuh Kekar dan Pandai Memanjat Pohon

Reptil besar ini berasal dari rawa-rawa berumput dan hutan di Asia Tenggara. Di Amerika Serikat, ular ini awalnya diimpor untuk perdagangan satwa peliharaan. Seiring berjalannya waktu, ular yang melarikan diri atau sengaja dilepaskan membentuk populasinya sendiri di alam liar hingga kini. Melansir publikasi The Institute of Food and Agricultural Sciences, populasi sanca bodo pertama kali terlaporkan pada tahun 2000 di US.

Di Indonesia, ular sanca bodo dapat kita temukan di Pulau Jawa, Sulawesi Selatan, Bali, dan Sumbawa. Selain di Asia Tenggara, ular ini juga tersebar hingga Asia Selatan.

Taksonomi sanca bodo (Python bivittatus). Foto: Greeners

Taksonomi sanca bodo (Python bivittatus). Foto: Greeners

Betina Sanca Bodo Berukuran Lebih Besar dan Lebih Berat

Sanca bodo termasuk salah satu ular terbesar di dunia. Memiliki corak bercak-bercak berwarna cokelat yang dibatasi warna hitam. Umumnya, ular ini berukuran 5 meter, tapi ada juga yang berukuran 7 meter, bahkan lebih. Selain itu, terdapat dimorfisme seksual antar jantan dan betinanya. Biasanya, para betina berukuran sedikit lebih panjang, tapi cenderung lebih besar dan lebih berat dari jantan.

BACA JUGA: Acerodon jubatus, Kelelawar Raksasa Mahkota Emas dari Filipina

Ular ini memiliki pertumbuhan yang cepat. Dalam sekali sesi bertelur, betinanya dapat menghasilkan hingga 100 butir telur. Mereka akan mengerami telurnya selama 2 minggu hingga 3 bulan lamanya.

Ketika masih muda, ular ini sering berada di atas pohon. Namun, ketika sudah dewasa dan bertubuh besar, mereka akan lebih sering menghabiskan waktunya di atas tanah. Di samping itu, ular ini juga merupakan perenang yang baik. Mereka dapat menahan napas selama 30 menit di dalam air.

Memiliki Penglihatan Buruk dan Tak Berbisa

Sanca bodo merupakan golongan karnivora yang biasa memangsa mamalia kecil dan burung. Ular ini memiliki penglihatan yang buruk. Oleh sebab itu, mereka berburu menggunakan sensor panas di sepanjang rahangnya dan reseptor kimiawi di lidahnya. Karena tak memiliki bisa, mereka akan membunuh mangsanya dengan cara melilitnya hingga lemas dan tulang-tulangnya hancur.

 

 

Penulis: Anisa Putri

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/sanca-bodo-ular-besar-tak-berbisa-dari-asia-tenggara/feed/ 0
Carettochelys insculpta, Satwa Dilindungi yang Berperilaku Agresif https://www.greeners.co/flora-fauna/carettochelys-insculpta-satwa-dilindungi-yang-berperilaku-agresif/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=carettochelys-insculpta-satwa-dilindungi-yang-berperilaku-agresif https://www.greeners.co/flora-fauna/carettochelys-insculpta-satwa-dilindungi-yang-berperilaku-agresif/#respond Mon, 12 Feb 2024 06:00:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=43032 Labi-labi moncong babi atau carettochelys insculpta merupakan reptil yang berasal dari famili Carettochelyidae. Di Indonesia, satwa ini termasuk dalam kategori satwa terlindungi berdasarkan Permen LHK No.106 tahun 2018. Selain itu, […]]]>

Labi-labi moncong babi atau carettochelys insculpta merupakan reptil yang berasal dari famili Carettochelyidae. Di Indonesia, satwa ini termasuk dalam kategori satwa terlindungi berdasarkan Permen LHK No.106 tahun 2018. Selain itu, status konservasinya menurut IUCN adalah terancam bahaya (endangered).

C. insculpta yang berada dalam penangkaran dapat hidup hingga 38 tahun. Namun, belum ada informasi mengenai lama hidup mereka di habitat aslinya.

Betina Berukuran Lebih Besar dari Jantan

Labi-labi moncong babi dewasa dapat berukuran panjang mencapai setengah meter. Bobot rata-ratanya mencapai 22,5 kg dan panjang tempurung rata-rata 46 cm. Umumnya, betina berukuran tubuh lebih besar daripada jantan. Namun, para jantan biasanya memiliki ekor yang tebal dan lebih panjang.

BACA JUGA: Kucing Emas Asia, Bertubuh Kekar dan Pandai Memanjat Pohon

Penyebutan moncong babi karena bentuk hidung mereka yang mirip dengan babi. Bagian bawah tempurungnya berwarna krem, sedangkan bagian atasnya (karapas) berwarna cokelat hingga abu-abu gelap. Ukuran tubuh individunya tergantung pada habitat mereka, seperti individu yang berada di dekat pantai berukuran tubuh lebih besar daripada yang berada di dekat sungai.

Taksonomi Carettochelys insculpta. Foto: Greeners

Taksonomi Carettochelys insculpta. Foto: Greeners

Mendiami habitat air tawar dan muara

Satwa ini mendiami habitat perairan tawar dan muara, biasa ada di sungai, danau, air payau, atau dasar kolam. Uniknya, para jantan umumnya menyukai mikrohabitat berupa batang kayu, sedangkan para betina menyukai mikrohabitat berupa batu berpasir. Labi-labi moncong babi dapat kita temukan di bagian utara Australia, dataran rendah bagian selatan Papua Nugini, dan Indonesia (Papua).

Carettochelys insculpta adalah Satwa Omnivora

Betina C. insculpta akan mencapai kematangan seksual pada usia 18 tahun atau lebih, dan jantan pada usia 16 tahun. Saat akhir musim kemarau, mereka akan mulai bertelur di tepi sungai yang berpasir. Mereka adalah golongan omnivora atau pemakan segala, mulai dari tumbuhan seperti bunga, buah, daun hingga hewan-hewan kecil seperti krustasea, moluska, dan serangga.

BACA JUGA: Acerodon jubatus, Kelelawar Raksasa Mahkota Emas dari Filipina

Satwa ini dianggap sangat agresif jika bertemu kura-kura spesies lain. Di Australia, mereka berkumpul dalam kelompok besar di sungai-sungai saat musim kemarau (ketika air sangat surut). Selama musim hujan, mereka berada di air yang dalam dan keruh.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/carettochelys-insculpta-satwa-dilindungi-yang-berperilaku-agresif/feed/ 0
Kucing Emas Asia, Bertubuh Kekar dan Pandai Memanjat Pohon https://www.greeners.co/flora-fauna/kucing-emas-asia-bertubuh-kekar-dan-pandai-memanjat-pohon/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kucing-emas-asia-bertubuh-kekar-dan-pandai-memanjat-pohon https://www.greeners.co/flora-fauna/kucing-emas-asia-bertubuh-kekar-dan-pandai-memanjat-pohon/#respond Sun, 04 Feb 2024 03:00:26 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=42951 Terdapat dua spesies kucing emas dalam famili Felidae, yakni kucing emas asia (Catopuma temminckii) dan kucing emas afrika (Profelis aurata). Nama lain kucing emas asia adalah kucing Temminck. Satwa ini […]]]>

Terdapat dua spesies kucing emas dalam famili Felidae, yakni kucing emas asia (Catopuma temminckii) dan kucing emas afrika (Profelis aurata). Nama lain kucing emas asia adalah kucing Temminck. Satwa ini termasuk dalan famili Felidae dan berkerabat dengan kucing batu (Pardofelis marmorata), kucing pallas (Felis manul), harimau (Panthera tigris), puma (Puma concolor), dan lainnya.

Ahli zoologi Belanda, Coenraad Jacob Temminck pertama kali mendiskripsikan satwa ini pada tahun 1827. Oleh karena itu, penggunaan nama spesies temminckii untuk menghormati jasanya.

BACA JUGA: Acerodon jubatus, Kelelawar Raksasa Mahkota Emas dari Filipina

Terdapat dua subspesies kucing emas asia, yaitu Catopuma temminckii temminckii (Sumatra dan Semenanjung Malaya), berukuran lebih kecil dan berwarna kemerahan. Kemudian, ada Catopuma temminckii moormensis (Nepal, Burma utara, Cina, Tibet, dan Asia Tenggara) yang berukuran lebih besar, memiliki warna dan pola yang beragam.

Memiliki Tubuh Kekar dan Kaki Panjang

Kucing emas asia berukuran tubuh sedang, panjang tubuhnya berkisar antara 116 hingga 161 cm. Panjang ekornya setengah hingga sepertiga dari panjang tubuhnya. Umumnya memiliki bobot tubuh sekitar 12 kg hingga 15 kg. Rambutnya berwarna cokelat tua kemerahan dan berwarna lebih pucat di bagian bawahnya. Namun, warna rambutnya juga memiliki berbagai variasi, seperti cokelat, keabu-abuan, cokelat emas, merah, hingga kehitaman. Mereka juga memiliki pola garis-garis hitam dan putih yang membentang secara vertikal dari bagian atas kepala hingga ke bawah lehernya.

Meskipun satwa ini sering berada di atas tanah, mereka juga mampu memanjat pohon dengan baik. Sebab, mereka memiliki tubuh berotot dan kaki yang panjang. Umumnya, kucing emas asia jantan berukuran tubuh lebih besar dari betina.

Taksonomi kucing emas asia. Foto: Greeners

Taksonomi kucing emas asia. Foto: Greeners

Kucing Emas Asia Mendiami Habitat Hutan

Kucing ini dapat kita temukan di hutan cemara tropis dan subtropis, hutan gugur campuran, hingga hutan hujan pada ketinggian 1.100 hingga 3.738 mdpl. Mereka seringkali ada di habitat hutan berbatu, terkadang juga di area yang terbuka seperti padang rumput.

Bersifat Krepuskular dan Oportunis

Satwa ini aktif pada siang hari dan bersifat krepuskular. Seperti kucing lainnya, mereka juga cenderung menyendiri kecuali saat kawin. Satwa ini juga oportunis, mereka sering memangsa tupai, ular kecil, tikus, burung, kelinci, hingga hewan ternak (sapi, kambing, domba).

BACA JUGA: Kucing Pallas, Satwa Berambut Panjang dari Asia Selatan

International Union for Conservation of Nature and Natural Resources melansir bahwa status konservasi Catopuma temminckii adalah hampir terancam (near threatened) dengan tren populasi yang terus menurun. Di samping itu, di Indonesia satwa ini termasuk yang dilindungi oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

 

Penulis: Anisa Putri

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kucing-emas-asia-bertubuh-kekar-dan-pandai-memanjat-pohon/feed/ 0
Acerodon jubatus, Kelelawar Raksasa Mahkota Emas dari Filipina https://www.greeners.co/flora-fauna/acerodon-jubatus-kelelawar-raksasa-mahkota-emas-dari-filipina/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=acerodon-jubatus-kelelawar-raksasa-mahkota-emas-dari-filipina https://www.greeners.co/flora-fauna/acerodon-jubatus-kelelawar-raksasa-mahkota-emas-dari-filipina/#respond Wed, 17 Jan 2024 03:00:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=42812 Kelelawar raksasa mahkota emas atau Acerodon jubatus merupakan mamalia terbang endemik dari Filipina. Berasal dari Famili Pteropodidae yang terdiri dari sekitar 180 spesies. Berkerabat dengan Pteropus vampyrus, Balionycteris maculata, Cynopterus […]]]>

Kelelawar raksasa mahkota emas atau Acerodon jubatus merupakan mamalia terbang endemik dari Filipina. Berasal dari Famili Pteropodidae yang terdiri dari sekitar 180 spesies. Berkerabat dengan Pteropus vampyrus, Balionycteris maculata, Cynopterus sphinx, Rousettus madagascariensis, dan masih banyak lagi.

Satwa yang makanan utamanya buah ini dapat terbang sejauh 16 km dari tempat bertenggernya untuk mencari makan. Selain buah, mereka juga terkadang memakan daun yang hancur dan menelan kandungan airnya.

IUCN melansir bahwa status konservasi kelalawar raksasan mahkota emas adalah terancam bahaya (endangered) dengan tren populasi yang terus menurun di habitatnya.

Rentang Sayapnya Mencapai 1,7 meter

Panjang tubuh Acerodon jubatus dari kepala hingga tubuhnya sekitar 17-29 cm dan tidak memiliki ekor. Selain itu, panjang lengan bawahnya cukup bervariasi, yakni antara 12,5 cm hingga 20 cm. Ketika sayapnya merentang, panjangnya mencapai 1,5 m hingga 1,7 m. Kelelawar raksasa ini berbobot sekitar 1 kg sampai 1,2 kg, menjadikannya sebagai keleawar terbesar di dunia. Secara umum, kelelawar jantan berukuran tubuh lebih besar dan lebih berat dari betinanya.

BACA JUGA: Paus Tombak, Mamalia Laut yang Berkepala Runcing

Mamalia ini memiliki mata yang besar dengan telinganya yang relatif sederhana. Telinga tersebut meruncing di ujungnya dan hampir sepanjang moncongnya. Pada ruas kedua di tiap sayapnya terdapat cakar. Tubuhnya tertutupi rambut halus dan pendek, rambut tipis pada tenggorokan dan sealup telinga, serta tidak ada rambut pada selaput sayap.

Terdapat berbagai variasi warna pada kelelawar raksasa ini, umumnya berwarna cokelat tua atau hitam pada sisi kepala dan dahinya. Selain itu, ada juga yang berwarna cokelat kemerahan pada bahu, serta cokelat tua atau hitam pada punggung bawah. Di samping itu, terdapat garis oranye pada bagian belakang lehernya. Animal Diversity Web melansir bahwa variasi warna ini tidak bergantung pada jenis kelamin, geografis, ataupun usia.

Taksonomi Acerodon jubatus. Foto: Greeners

Taksonomi Acerodon jubatus. Foto: Greeners

Acerodon jubatus satwa Endemik Filipina

Kelelawar ini seringkali bertengger di pohon bakau, area hutan rawa, hingga rumpun bambu. Tepatnya, mereka bertengger di tepi tebing atau lereng yang sangat curam dan sulit dijangkau manusia. Umumnya, mereka mencari makan di hutan primer dan hutan sekunder berkualitas tinggi. Jarang sekali ditemukan di wilayah yang terganggu dan pertanian.

Mamalia terbang ini hanya ditemukan di Filipina dengan pengecualian di wilayah Palawan dan gugusan Pulau Batanes dan Babuyan.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/acerodon-jubatus-kelelawar-raksasa-mahkota-emas-dari-filipina/feed/ 0
Paus Tombak, Mamalia Laut Dilindungi yang Berkepala Runcing https://www.greeners.co/flora-fauna/paus-tombak-mamalia-laut-dilindungi-yang-berkepala-runcing/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=paus-tombak-mamalia-laut-dilindungi-yang-berkepala-runcing https://www.greeners.co/flora-fauna/paus-tombak-mamalia-laut-dilindungi-yang-berkepala-runcing/#respond Sun, 14 Jan 2024 03:07:05 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=42747 Mari berkenalan dengan salah satu mamalia laut dilindungi, yakni paus tombak atau Balaenoptera acutorostrata. Paus ini berasal dari keluarga Balaenopteridae dan merupakan spesies yang ukurannya paling kecil di antara kerabatnya […]]]>

Mari berkenalan dengan salah satu mamalia laut dilindungi, yakni paus tombak atau Balaenoptera acutorostrata. Paus ini berasal dari keluarga Balaenopteridae dan merupakan spesies yang ukurannya paling kecil di antara kerabatnya yang lain. Selain itu, paus tombak juga menjadi spesies paus yang paling melimpah di dunia dengan status populasinya yang stabil di seluruh wilayah jelajahnya.

BACA JUGA: Kucing Pallas, Satwa Berambut Panjang dari Asia Selatan

Pemberi nama ilmiah paus ini adalah seorang pengintai paus pemula asal Norwegia, Meincke. Konon, ia mengira paus ini sebagai paus biru. Nama genus Balaenoptera berarti paus bersayap dan nama acutorostrata berarti moncong tajam.

Paus Tombak Memiliki Kepala Runcing

Paus tombak memiliki sirip belakang yang kecil, ukuran tubuh maksimumnya sekitar 10,2 meter. Para betina umumnya berukuran tubuh lebih besar dari jantan, bahkan ada yang berbobot maksimum 10.000 kg. Paus tombak berwarna gelap di bagian atas tubuhnya, dan bagian perut cenderung berwarna putih.

Selain itu, paus ini memiliki kepala yang runcing seperti peluru, 50-70 lekukan di perut. Mereka juga memiliki pita putih lebar di sisi dorsal siripnya dan ekor yang memanjang.

BACA JUGA: Nesiophasma sobesonbaii, Spesies Baru Endemik Indonesia Timur

Masa kehamilan betina berlangsung sekitar 10 hingga 11 bulan lamannya. Mereka melahirkan anakan seberat 450 kg, yang akan disapih pada usia 5 bulan. Saat melahirkan, induk hanya akan melahirkan satu anak saja.

Taksonomi paus tombak. Foto: Greeners

Taksonomi paus tombak. Foto: Greeners

Paus ini dapat melakukan penjelajahan secara individu ataupun dalam kelompok (2-4 ekor). Namun, terkadang mereka juga ada dalam kelompok besar berisikan ratusan ekor paus tombak. Mamalia laut ini memakan krill dan ikan-ikan kecil. Uniknya, terdapat perbedaan tipe makanan pada spesies ini secara geografisnya. Paus yang berada di wilayah Antartika umumnya memangsa krill, sedangkan yang berada di bumi utara biasanya lebih omnivora.

Ditemukan Hampir di Seluruh Dunia

Mamalia laut ini dapat kita temukan di area teluk, laguna, muara, dan tidak pernah ditemukan lebih dari 169 km dari daratan. Di samping itu, distribusinya juga cukup luas. Mereka bisa kita jumpai hampir di seluruh dunia. Fakta lainnya, mereka lebih menyukai wilayah dingin daripada wilayah tropis.

 

Penulis: Anisa Putri

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/paus-tombak-mamalia-laut-dilindungi-yang-berkepala-runcing/feed/ 0
Kucing Pallas, Satwa Berambut Panjang dari Asia Selatan https://www.greeners.co/flora-fauna/kucing-pallas-satwa-berambut-panjang-dari-asia-selatan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kucing-pallas-satwa-berambut-panjang-dari-asia-selatan https://www.greeners.co/flora-fauna/kucing-pallas-satwa-berambut-panjang-dari-asia-selatan/#respond Sun, 07 Jan 2024 03:00:46 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=42664 Salah satu hewan yang sudah akrab bagi manusia adalah kucing. Namun, kucing yang satu ini tidak bisa kita jadikan satwa peliharaan, yakni kucing pallas (Felis manul). Kucing yang berambut tebal […]]]>

Salah satu hewan yang sudah akrab bagi manusia adalah kucing. Namun, kucing yang satu ini tidak bisa kita jadikan satwa peliharaan, yakni kucing pallas (Felis manul). Kucing yang berambut tebal ini berasal dari famili Felidae. Penamaannya disesuaikan dengan nama seorang naturalis German, Peter Simon Pallas yang pertama kali mendeskripsikan kucing pallas.

Kucing Pallas Memiliki Rambut yang Panjang dan Tebal

Kucingg pallas memiliki rambut yang cukup panjang dan cukup tebal berwarna abu-abu keperakan agak pucat atau cokelat muda. Terdapat berbagai variasi warna rambut antarindividu dan sub-spesies dari kucing ini. Ujung ekornya bercincin dan berwarna hitam, dengan beberapa individu memiliki tanda gelap yang samar pada tubuhnya.

Kucing ini bertubuh cukup kecil, seukuran dengan kucing domestik. Namun, tampak terlihat lebih berat karena rambutnya yang panjang dan tebal. Panjang tubuhnya sekitar 50-62 cm, panjang ekornya 23-31 cm, dengan berat tubuh berkisar antara 2,5 kg hingga 5 kg. Mereka tidak menunjukkan dimorfisme seksual, tapi jantan umumnya lebih berat dari para betina.

BACA JUGA: Gorila, Kera Besar Bertubuh Kekar dari Afrika

Selain itu, kucing ini memiliki kepala yang kecil serta kaki yang pendek. Mereka juga memiliki moncong yang pendek dan bagian dahi yang cukup lebar. Pada bagian punggungnya kerap ada tujuh garis melintang berwarna hitam yang memanjang hingga ke bagian sampingnya. Di samping itu, tidak terdapat perbedaan struktural yang berhubungan dengan jenis kelamin pada tengkorak kucing pallas selain dari betinanya yang agak kecil.

Uniknya, betina kucing pallas memiliki masa estrus hanya selama 26 hingga 42 jam saja. Periode ini yang paling pendek di antara kucing lainnya. Umumnya, mereka kawin pada bulan Februari dan Maret dengan betina yang melahirkan sebanyak 2 hingga 6 ekor pada bulan April dan Mei.

Taksonomi kucing Pallas (Felis manul). Foto: Greeners

Taksonomi kucing Pallas (Felis manul). Foto: Greeners

Menghuni Dataran Tinggi di Asia Tengah

Kucing menggemaskan ini berasal dari garis keturunan macan tutul dan paling banyak ada di Dataran Tinggi Tibet dan Mongolia. Meskipun begitu, kucing pallas memiliki distribusi yang cukup luas, namun tidak merata di seluruh Asia Tengah.

BACA JUGA: Maned wolf, Canidae yang Air Seninya Berbau Menyengat

Mereka mendiami padang rumput beriklim sedang hingga padang rumput pegunungan. Area-area ini terdiri dari tanah datar terbuka, perbukitan, padang rumput dataran tinggi, singkapan berbatu, hingga habitat jurang. Kucing pallas dapat kita temukan hingga ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut di Mongolia.

Di samping itu, kucing ini tidak memiliki adaptasi yang baik untuk bergerak ketika musim dingin bersalju, sehingga mereka terbatas pada area dengan lapisan salju kurang dari 10 cm saja.

 

Penulis: Anisa Putri

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kucing-pallas-satwa-berambut-panjang-dari-asia-selatan/feed/ 0
Nesiophasma sobesonbaii, Spesies Baru Endemik Indonesia Timur https://www.greeners.co/flora-fauna/nesiophasma-sobesonbaii-spesies-baru-endemik-indonesia-timur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nesiophasma-sobesonbaii-spesies-baru-endemik-indonesia-timur https://www.greeners.co/flora-fauna/nesiophasma-sobesonbaii-spesies-baru-endemik-indonesia-timur/#respond Sat, 06 Jan 2024 03:00:43 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=42665 Baru-baru ini Indonesia menemukan kembali salah satu spesies serangga baru, yakni Nesiophasma sobesonbaii. Informasi terkait serangga ini telah terpublikasi pada jurnal Faunitaxys dengan judul Nesiophasma sobesonbaii n. sp. – a […]]]>

Baru-baru ini Indonesia menemukan kembali salah satu spesies serangga baru, yakni Nesiophasma sobesonbaii. Informasi terkait serangga ini telah terpublikasi pada jurnal Faunitaxys dengan judul Nesiophasma sobesonbaii n. sp. – a new giant stick insect from the island of Timor, Indonesia (Insecta: Phasmatodea). Ini merupakan spesies pertama dari genus Nesiophasma Günther, 1934 yang pertama kali tercatat dari Timor.

Selain itu, serangga ini juga merupakan spesies kedua dari Ordo Phasmatodea yang ditemukan di pulau ini. Genus Nesiophasma adalah serangga tongkat berukuran sedang hingga besar dan merupakan yang terpanjang dari semua serangga yang diketahui di Wallacea.

BACA JUGA: Mino Muka Kuning, Beo Papua yang Mendiami Dataran Rendah

Penggunaan nama sobesonbaii untuk menghormati Raja Sonbai III, seorang raja dari Pulau Timor yang ditangkap pada tahun 1907 karena menentang pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Tubuh Nesiophasma sobesonbaii Betina Lebih Panjang dari Jantan

Terdapat dimorfisme seksual pada serangga tongkat besar ini. Betinanya berukuran lebih panjang, yakni sekitar 18 hingga 21 cm. Sementara, jantan berukuran sedang, yakni 10–11 cm dengan tubuh ramping, halus, dan berkilau. Selain itu, betina umumnya berwarna hijau, terkadang ada juga yang memiliki belang-belang cokelat. Sementara, jantan berwarna krem muda hingga kecokelatan.

Secara umum, antara jantan dan betina hanya menunjukkan sedikit adanya variasi pada ukuran serta perkembangan dan jumlah gerigi pada alat geraknya. Serangga N. sobesonbaii jantan tidak menunjukkan adanya variasi warna, tapi pada betina terdapat variasi warna cokelat dan hijau.

BACA JUGA: Chitala lopis, Maskot Kota Palembang yang Bernilai Penting

Nimfa serangga ini berukuran 1,8 cm berwarna kuning hingga kehijauan dan bagian kepalanya berwarna cokelat. Kaki depannya sebagian besar berwarna cokelat dengan bintik-bintik kecil berwarna kuning. Sementara, kaki tengah dan belakang agak terang dengan tiga garis melintang berwarna cokelat pada setiap tulang paha dan tibia. Selain itu, bagian matanya berwarna cokelat tua, antena berwarna cokelat dengan beberapa annuli yang lebih terang.

Di samping itu, telur serangga tongkat besar ini umumnya berwarna abu-abu hingga cokelat. Berbentuk bulat telur memanjang dengan ukuran 2x lebih panjang dari lebarnya. Permukaan kapsul sangat halus dan tertutupi jaringan dengan tonjolan tumpul yang lebar dan tak beraturan.

Taksonomi Nesiophasma sobesonbaii. Foto: Greeners

Taksonomi Nesiophasma sobesonbaii. Foto: Greeners

Serangga Endemik dari Pulau Timor

Merupakan serangga endemik dari Pulau Timor dan tampaknya tersebar di seluruh pulau. Hingga kini, keberadaanya tercatat di tiga wilayah, yakni sebagai berikut:

1. Timor Barat Daya, Prov. Nusa Tenggara Timur, Kecamatan Nekamese, Oemasi, Desa Oemasi SE Kupang, 400 m.
2. Timor Leste NE-Timor, Kab Malahara, Mainina, 500 m.
3. NE-Timor, Timor Leste, Distrik Oecussi-Ambeno, Nibesi, 500 m.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/nesiophasma-sobesonbaii-spesies-baru-endemik-indonesia-timur/feed/ 0