Cecropia peltata, Tanaman Invasif Berbuah Lezat seperti Jeli

Reading time: 2 menit
Cecropia peltata. Foto: Shutterstock
Cecropia peltata. Foto: Shutterstock

Cecropia peltata atau pancasuda merupakan salah satu tanaman obat dari keluarga Urticaceae. Tanaman yang berasal dari Amerika, Meksiko, Brazil, Jamaika, dan Barbados ini memiliki berbagai nama. Di antaranya trumpet-tree, trumpet-wood, pop-a-gun, k’ooch k’aaax, dan masih banyak lagi. Selain itu, tanaman ini juga memiliki banyak nama ilmiah sinonim, seperti Ambaiba peltata, Cecropia arachnoidea, Coilotapalus peltata, dan lainnya.

C. peltata termasuk tanaman yang mudah beradaptasi dan tumbuh dengan cepat. Ia juga menjadi salah satu spesies tanaman invasif di Afrika Barat dan Pasifik.

Buahnya Bertekstur seperti Jeli dan Terasa Lezat

Pohon C. peltata dapat tumbuh cepat dengan ketinggian mencapai 20-25 meter, batangnya ramping berdiameter 50 cm. Kulit kayunya berwarna abu-abu kemerahan. Bagian daunnya tumbuh bergerombol di ujung cabang, permukaan atas daunnya berwarna hijau, sedangkan bagian bawahnya dilapisi bulu halus berwarna putih. Daunnya berbentuk bulat telur, berseling, dan memiliki lobus yang dalam.

Termasuk tanaman berumah dua (hanya memiliki bunga jantan atau betina), bunga jantan bertangkai ramping dan panjang, tersusun dalam kelompok sebanyak 15. Keunikan dari tanaman ini adalah tampilan buahnya yang lunak dan terkulai.

BACA JUGA: Mengenal Tanaman Wijen, Herba Tahunan dari Anak Benua India

Buah tersebut tumbuh berkelompok dan sekilas terlihat seperti kaki gurita. Meskipun seperti itu, buah C. peltata memiliki rasa yang manis, berair, dan beraroma harum. Setiap bunga akan menghasilkan sekitar 4 buah yang berisi hingga 800 buah kecil berbiji tunggal (buah achenes, seperti biji di bagian luar stroberi). Daging buahnya bertekstur lembut seperti agar-agar dan terasa seperti buah ara.

Taksonomi Cecropia peltata. Foto: Greeners

Taksonomi Cecropia peltata. Foto: Greeners

Cecropia peltata diintroduksi ke Indonesia

Tanaman ini seringkali tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis, area terganggu, lereng curam, tepi sungai, hingga lahan bekas longsor. Tanaman ini telah terdistribusi di beberapa negara, seperti Afrika, Ghana, Senegal, Tuamotu, hingga Asia. Studi Destyahaeni (2016) membahas persebaran tanaman ini di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Merapi.

Obat Tradisional Sejak Dahulu

Di Amerika Latin, daun tanaman C. peltata menjadi obat tradisional karena bersifat anti-inflamasi, antioksidan, dan hipoglikemik. Penelitian Duarte-Alonso et al (2020) menyebutkan bahwa ekstrak daun C. peltata berpotensi sebagai antidiabetes. Selain itu, bagian kulit kayunya juga bersifat antikoagulan, antitumor, kardiotonik, hingga diuretik.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

Top