hepatitis - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/hepatitis/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 14 May 2022 06:14:10 +0000 id hourly 1 BRIN Siap Teliti Penyebab Hepatitis Akut Misterius https://www.greeners.co/berita/brin-siap-teliti-penyebab-hepatitis-akut-misterius/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-siap-teliti-penyebab-hepatitis-akut-misterius https://www.greeners.co/berita/brin-siap-teliti-penyebab-hepatitis-akut-misterius/#respond Sat, 14 May 2022 06:14:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36162 Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan mengandeng sejumlah stakeholder terkait untuk terlibat meneliti penyebab hepatitis akut misterius. Ancaman penyakit yang mengancam anak-anak ini menjadi kecemasan dunia […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan mengandeng sejumlah stakeholder terkait untuk terlibat meneliti penyebab hepatitis akut misterius. Ancaman penyakit yang mengancam anak-anak ini menjadi kecemasan dunia termasuk juga Indonesia.

Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis BRIN, Harimat Hendarwan menyatakan, sampai saat ini belum diketahui dengan pasti penyebab dari hepatitis akut. Akan tetapi, salah satu hipotesis yang sedang peneliti telusuri adalah adanya keterkaitan antara adenovirus dengan kejadian ini.

Adenovirus merupakan jenis virus yang dapat menyebabkan sakit dari ringan sampai berat (severe). Secara umum dikenal sebagai patogen yang biasanya menyebabkan infeksi yang self-limited.

“Adenovirus menyebar dari orang ke orang dan lebih umum menyebabkan penyakit saluran pernafasan. Walaupun tergantung pada jenisnya, dapat juga menyebabkan penyakit lain seperti gastroenteritis (peradangan pada lambung atau usus halus), konjungtivitis (mata merah), sistitis (infeksi kandung kemih) dan bisa juga menyebabkan gangguan saraf (neurological disease),” katanya dalam Sapa Media BRIN bertajuk “Mengenal Lebih Jauh Hepatitis Akut”, baru-baru ini.

Hingga 10 Mei 2022, setidaknya telah muncul sebanyak 348 kasus probable hepatitis akut unknown origin yang 20 negara laporkan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan surat edaran tentang kewaspadaan terhadap penemuan kasus hepatitis akut yang tidak diketahui etiologinya ini.

Penyebaran virus ini juga terjadi di Indonesia, hingga 30 April 2022 telah tercatat 15 kasus diduga terjangkit hepatitis akut. Hingga pada 9 Mei 2022, terdapat 5 kasus kematian karena dugaan akibat hepatitis akut.

Beberapa negara yang juga melaporkan kejadian dugaan hepatitis akut misterius ini antara lain Jepang, Kanada, Singapura dan Indonesia.

Waspadai Pola Penularan Penyakit

Harimat juga menyatakan, adenovirus sering menular dari orang ke orang dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi, melalui jalur respirasi.

“Berdasarkan hal tersebut, maka cara yang efektif untuk meminimalisir penyebaran adenovirus adalah mempraktekan higiene tangan dan respirasi, serta melakukan edukasi mencuci tangan pada anak,” paparnya.

Selain itu perlu menjaga jarak dengan orang sakit batuk dan bersin, serta mengajarkan anak cara batuk dan bersin yang benar. Anak-anak yang sedang sakit sebaiknya tinggal di rumah sampai gejalanya hilang dan sehat untuk bisa kembali ke sekolah.

Selama ini, sambung dia terdapat lima jenis virus hepatitis utama yakni tipe A, B, C, D dan E. Kelima jenis virus ini mendapat perhatian besar karena berpengaruh terhadap beban penyakit dan kematian.

Peneliti Kelompok Riset Hepatitis, Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman, Korri El Khobar menjelaskan, deteksi virus penyebab hepatitis dapat dilakukan secara serologi dan molekuler.

“Deteksi serologi dilakukan untuk menentukan apakah seseorang telah atau pernah terinfeksi dengan cara mendeteksi antibodi spesifik terhadap virus,” kata Korri.

Menurut Korri, deteksi molekuler ini untuk mengkonfirmasi diagnosis infeksi virus dengan cara mendeteksi materi genetik virus. Hasil positif dari deteksi molekuler dapat dilanjutkan dengan proses sequencing untuk mendapatkan sekuens virus tersebut.

Butuh Penelitian Lanjutan dan Cepat Terkait Hepatitis Akut Misterius

Peneliti Pusat Riset Biomedis Fitriana mengatakan, penegakan diagnosis hepatitis akut unknown hendaknya dilakukan secara seksama dengan mempertimbangkan penyebabnya.

“Pemeriksaan biokimia akan memberi andil dalam penelusuran etiologi dan mengubah unknown menjadi known,” imbuhnya.

Kepala Organisasi Riset Kesehatan, Ni Luh P. Indi Dharmayanti memastikan BRIN akan berkolaborasi dengan stakeholder terkait, seperti Kemenkes, perguruan tinggi dan lembaga riset lain untuk merespons kejadian ini.

BRIN akan menganalisis molekuler dan diversitas genetik penyebab hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya. Selain itu whole genome sequencing for understanding Hepatitis Acute epidemiology and phenotypes, metagenomics pada darah dan jaringan serta pengembangan perangkat diagnostik.

Selain itu, juga riset deteksi dini dan respons cepat terhadap penyakit hepatik akut. Kemudian eksplorasi dan pengembangan bahan baku obat dan obat tradisional untuk hepatoprotektor. Hingga riset untuk menghambat replikasi virus.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/brin-siap-teliti-penyebab-hepatitis-akut-misterius/feed/ 0
Waspadai Hepatitis Misterius pada Anak, Jaga Kebersihan dan Lingkungan https://www.greeners.co/berita/waspadai-hepatitis-misterius-pada-anak-jaga-kebersihan-dan-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waspadai-hepatitis-misterius-pada-anak-jaga-kebersihan-dan-lingkungan https://www.greeners.co/berita/waspadai-hepatitis-misterius-pada-anak-jaga-kebersihan-dan-lingkungan/#respond Thu, 05 May 2022 04:57:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36084 Jakarta (Greeners) – Perkembangan penyakit hepatitis akut misterius masih terus mengancam anak-anak di Indonesia. Kementerian Kesehatan sebelumnya telah menerbitkan surat edaran untuk mewaspadai perkembangan penyakit hepatitis akut yang berasal dari […]]]>

Jakarta (Greeners) – Perkembangan penyakit hepatitis akut misterius masih terus mengancam anak-anak di Indonesia.

Kementerian Kesehatan sebelumnya telah menerbitkan surat edaran untuk mewaspadai perkembangan penyakit hepatitis akut yang berasal dari Inggris Raya. Hepatitis akut tersebut belum diketahui etiologi atau asal usulnya hingga saat ini.

Badan Kesehatan Dunia atau WHO telah menetapkan penyakit itu sebagai kejadian luar biasa pada 15 April 2022 setelah menyerang anak-anak usia 11 bulan hingga 5 tahun. WHO telah menyatakan bahwa penyakit ini telah menjangkiti sekitar 230 anak di 20 negara termasuk Indonesia.

Sementara di Indonesia telah ada tiga pasien anak meninggal dunia dalam perawatan di RS. Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta, dugaannya terjangkit hepatitis akut misterius.

Epidemiolog Center for Environmental and Population Health Griffith University Australia Dicky Budiman menyatakan, dengan adanya kasus angka kematian maka menjadi indikator bahwa penyakit hepatitis misterius akut tersebut masuk dalam penyakit serius yang perlu masyarakat waspadai.

Meski masih misterius, sambung dia penyebab hepatitis misterius akut ini ia duga berkaitan dengan sub varian Covid-19. Penyakit baru ini menyerang anak-anak mulai usia di bawah 5 tahun hingga 16 tahun.

Hepatitis misterius akut ini menyerang hati. Tapi penyakit misterius ini dipicu oleh Covid-19 dan varian-variannya yang penularannya melalui pernapasan.

“Ada hipotesa di sebagian negara khususnya di Eropa yang menduga hepatitis ini dipicu oleh kemunculan sub varian atau varian baru dari Covid-19. Ini bisa terlihat menyerang anak,” kata dia kepada Greeners, Kamis (5/5).

Masyarakat Perlu Mewaspadai Penularan Hepatitis Misterius

Covid-19 lebih cenderung menyerang anak karena kelompok ini, utamanya berusia kurang dari 5 tahun dan belum menerima vaksin.

Dicky mengatakan sebagaimana semua penyakit menular, hepatitis akut menular secara oral seperti pola penularan penyakit diare hingga tipes. Oleh karenanya ia menekankan pentingnya pencegahan penyakit akut ini. Pencegahan bisa masyarakat lakukan dengan memastikan sanitasi lingkungan.

“Meski belum ada kejelasan mengenai mekanisme penularan hepatitis ini, tetap harus melakukan pencegahan pada penyakit menular ini. Seperti memastikan sanitasi lingkungan dan personal hygiene,” paparnya.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengimbau pencegahan guna mewaspadai penyakit mematikan ini. Beberapa tindakan yang harus masyarakat lakukan yakni melakukan pencegahan mencuci tangan, memastikan makanan dalam keadaan matang dan bersih.

Selanjutnya tidak bergantian alat makan, menghindari kontak dengan orang sakit, serta tetap menjaga protokol kesehatan.

Jika anak-anak mengalami gejala kuning, seperti sakit perut, muntah-muntah dan diare mendadak, seperti buang air kecil berwarna seperti teh, kotoran berwarna pucat, kejang dan penurunan kesadaran maka harus segera membawanya ke fasilitas layanan kesehatan terdekat.

Pencemaran Lingkungan Memicu Potensi Penyakit Baru

Hal senada juga pengamat lingkungan hidup dari Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa ungkapkan. Ia menyatakan, tak hanya memastikan kebersihan lingkungan, potensi penyakit baru juga muncul imbas pertumbuhan populasi manusia sehingga meningkatkan pencemaran lingkungan.

“Pertumbuhan populasi manusia turut menjadi faktor utama pencemaran tanah air, udara dan menambah potensi munculnya penyakit baru,” imbuhnya.

Berbagai virus akan mengalami perubahan perilaku karena kerusakan lingkungan termasuk pencemaran yang berpotensi memunculkan penyakit baru.

WHO sebelumnya juga menyatakan, faktor lingkungan menjadi penyebab 40 % kematian. “Sementara dari sisi teori planet boundaries, novel entities (zat atau organisme baru) ada karena aktivitas manusia termasuk pencemaran dan telah melampaui batas aman,” ungkapnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/waspadai-hepatitis-misterius-pada-anak-jaga-kebersihan-dan-lingkungan/feed/ 0
PPHI: Kasus Hepatitis A di IPB Diduga Bukan yang Pertama https://www.greeners.co/berita/pphi-kasus-hepatitis-a-ipb-diduga-bukan-pertama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pphi-kasus-hepatitis-a-ipb-diduga-bukan-pertama https://www.greeners.co/berita/pphi-kasus-hepatitis-a-ipb-diduga-bukan-pertama/#respond Thu, 17 Dec 2015 14:15:43 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12272 Otoritas kampus IPB bersama Dinas Kesehatan kabupaten Bogor dan Kementerian Kesehatan telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) hepatitis A di wilayahnya. ]]>

Jakarta (Greeners) – Beberapa waktu lalu, otoritas kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama Dinas Kesehatan kabupaten Bogor dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) hepatitis A di wilayahnya. Kejadian ini ditandai dengan adanya 28 mahasiswa yang terjangkit hepatitis A sejak minggu ke-2 November 2015 sampai dengan 10 Desember 2015. Namun, dalam periode tersebut tidak ditemukan adanya kasus kematian akibat penyakit hepatitis A.

Seperti yang diutarakan oleh Dr. Rino Alvani Gani, Sp.PD-KGEH, dokter ahli penyakit dalam, hepatitis adalah peradangan pada hati dengan berbagai macam virus penyebabnya seperti virus hepatitis A, B, C, D dan E.

Menurut Rino, apa yang terjadi di IPB bukanlah kasus hepatitis A yang kali pertama terjadi. Hal ini dikarenakan selama ini di banyak tempat yang pernah mengalami kasus hepatitis A, penyakit ini tidak pernah benar-benar hilang atau muncul tiba-tiba tanpa ada kasus awal sebelumnya. Setiap tahun, di lokasi yang pernah mengalami kasus serupa pasti pernah atau akan terjadi lagi. Mengenai jumlah orang yang terjangkit, lanjutnya, tergantung dari bagaimana lokasi tersebut melakukan antisipasi terhadap virus hepatitis A tersebut.

“Kasusnya itu tidak pernah dari nol tiba-tiba muncul dalam jumlah banyak seperti itu. Saya kira di IPB juga pasti pernah mengalami masalah ini sebelumnya. Hanya saja memang mungkin yang kemarin itu jumlah yang terjangkitnya jauh lebih banyak dari sebelumnya. Seingat saya, sekitar empat atau lima tahun yang lalu, di IPB juga pernah ada sampai seratusan mahasiswa yang dilaporkan terkena virus hepatitis A,” tegasnya kepada Greeners, Jakarta, Rabu (16/12).

Virus hepatitis A sendiri, katanya, mampu menular melalui makanan dan air yang tercemar. Sedangkan virus hepatitis B menular melalui kontak dengan darah yang terinfeksi, hubungan seksual dan tukar menukar jarum suntik atau peralatan medis lain yang tidak steril. Virus ini dapat juga ditularkan dari ibu yang terinfeksi hepatitis B kepada bayinya saat hamil ataupun proses persalinan.

Lalu, virus hepatitis C (disebut juga HCV atau Hep C) adalah salah satu virus hepatitis paling berbahaya. Di dunia, ada sekitar 130-180 juta orang yang terinfeksi hepatitis C. Hepatitis C kebanyakan ditularkan melalui kontak dengan darah, misalnya melalui kontak dengan darah atau produk darah yang terinfeksi hepatitis C, memakai peralatan suntik narkoba secara bergantian, tato dan tindik yang tidak steril, penggunaan alat-alat medis yang tidak steril atau bekas, penggunaan pisau cukur yang dapat memiliki sejumlah kecil darah, berhubungan seks tanpa pengaman dan penularan dari ibu ke bayinya, selama kehamilan atau saat melahirkan.

“Kalau hepatitis D dan E belum terlalu umum. Namun belum ada vaksin untuk mencegah keduanya,” terang pria yang juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) ini.

Hepatitis sudah menjadi momok di tengah masyarakat sejak lama. Menurut Rino, untuk virus hepatitis B saja, tercatat lebih dari 1 juta orang meninggal di seluruh dunia per tahun. Sementara itu, ada sekitar 200 sampai 300 ribu orang per tahun yang meninggal karena hepatitis C. Meski Indonesia belum memiliki data resminya, tetapi kematian yang dihubungkan dengan kedua infeksi virus tersebut cukup tinggi.

“Dalam kasus hepatitis A sendiri sangat jarang ditemukan yang berujung kematian, biasanya 0,5 persen dari kasus. Kalau (penanganan) hepatitis B sudah ada vaksin yang mampu mencegahnya dan obat-obatan yang bisa di dapat di rumah sakit,” tuturnya.

Untuk Hepatitis C, lanjutnya, saat ini sudah ada jenis obat bernama Sofosbuvir yang tingkat keberhasilannya dikatakan sampai 95 persen dengan sedikit efek samping. Namun, saat ini ketersediaannya masih harus melalui spesial akses di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

“Kita sudah mendapatkan spesial akses untuk memasukkan obat yang relatif memiliki efek samping cukup aman dan bisa diberikan dalam jangka waktu yang cukup pendek. Sayangnya masih belum bisa masuk dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) karena tahapan registrasinya masih belum selesai di Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pphi-kasus-hepatitis-a-ipb-diduga-bukan-pertama/feed/ 0
Menkes: CTPS Mengurangi Resiko Penyakit Penyebab Kematian https://www.greeners.co/berita/menkes-ctps-mengurangi-resiko-penyakit-penyebab-kematian/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menkes-ctps-mengurangi-resiko-penyakit-penyebab-kematian https://www.greeners.co/berita/menkes-ctps-mengurangi-resiko-penyakit-penyebab-kematian/#respond Tue, 20 Oct 2015 11:19:18 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11584 Jakarta (Greeners) – Setiap tahun, pada tanggal 15 Oktober, masyarakat dunia memperingati Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPS). Untuk tahun 2015, tema yang diangkat adalah Tangan Bersih Pangkal Sehat. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Setiap tahun, pada tanggal 15 Oktober, masyarakat dunia memperingati Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPS). Untuk tahun 2015, tema yang diangkat adalah Tangan Bersih Pangkal Sehat.

Tema ini dipilih karena tangan adalah anggota badan yang banyak digunakan untuk melakuan berbagai kegiatan sehari-hari termasuk makan, minum, menyiapkan makanan, serta memberi makan anak atau bayi. Tangan yang selalu bersih dan sehat akan mencegah kita dari serangan berbagai penyakit, utamanya penyakit menular.

Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), menurut Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nila Moloek, adalah cara yang paling sederhana, mudah, murah dan bermanfaat untuk mencegah berbagai penyakit. Sebab, ada beberapa penyakit penyebab kematian yang dapat dicegah melalui perilaku cuci tangan dengan benar, seperti penyakit diare dan ISPA yang sering menjadi penyebab kematian anak-anak. Demikian juga penyakit hepatitis, typhus, dan flu burung.

“Perilaku mencuci tangan yang benar itu, ya, mencuci tangan dengan sabun. Kapan itu? Sebelum menyiapkan makanan, setiap kali tangan kotor, seperti setelah memegang uang, binatang, berkebun, setelah buang air besar, setelah menceboki bayi atau anak, setelah menggunakan pestisida atau insektisida, dan sebelum menyusui bayi,” jelasnya seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Senin (19/10).

Sebagai informasi, Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, menunjukkan bahwa proporsi penduduk umur di atas 10 tahun yang berperilaku cuci tangan dengan benar di Indonesia meningkat dari 23,2 persen pada tahun 2007 menjadi 47,0 persen pada tahun 2013.

“Kita patut bangga bahwa berkat kerja keras bersama, sejak tahun 2008 hingga kini ada 25.184 desa/keluruhan dari 80.275 desa atau kelurahan di Tanah Air yang telah melaksanakan pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Selain itu, ada sekitar 4.431 desa atau kelurahan di Indonesia yang telah mendeklarasikan Stop Buang Air Besar Sembarangan,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/menkes-ctps-mengurangi-resiko-penyakit-penyebab-kematian/feed/ 0