BPPT Kembangkan Kit Diagnostik Demam Berdarah Dengue

Reading time: 2 menit
kit diagnostik demam berdarah dangue
Imam Paryanto, perekayasa utama di Deputi TAB BPPT menunjukkan Kit Diagnostik Demam Berdarah Dengue (DBD), Jakarta, Rabu (6/02/2019). Foto: greeners.co/Dewi Purningsih

Jakarta (Greeners) – Wabah demam berdarah dengue (DBD) hingga saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan di dunia terutama di daerah tropis seperti Indonesia. Masih mahalnya biaya uji laboratorium untuk mengonfirmasi infeksi DBD menjadi kendala. Untuk mengatasi permasalahan ini, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerjasama dengan PT Hepatika Mataram mengembangkan Kit Diagnostik Demam Berdarah Dengue.

Kit ini merupakan alat tes yang mampu mendeteksi dini infeksi DBD dalam waktu singkat. Kit ini diklaim mampu mendeteksi potensi DBD dalam waktu 2 hingga 10 menit.

Deputi Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT Soni S. Wirawan mengatakan bahwa Kit Diagnostik Demam Berdarah Dengue ini merupakan purwarupa inovasi BPPT untuk bidang kesehatan. BPPT masih mengembangkan alat ini dan mencari mitra industri dalam negeri agar kit diagnostik ini dapat diproduksi secara massal.

“Kami menginginkan mitra industri yang akan memproduksi massal kit DBD ini agar dapat segera diproduksi dan digunakan untuk mempercepat deteksi dan tindakan penanganan demam berdarah di Indonesia,” kata Soni pada acara “Gelar Inovasi BPPT, Inovasi Agroindustri dan Bioteknologi” di Auditorium Gedung II BPPT, Jakarta, Rabu (06/02/2019).

BACA JUGA: Dinas Kesehatan DKI Jakarta Minta Warga Waspadai DBD

Ditemui pada acara yang sama, Plt. Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT, Agung Eru Wibowo menyampaikan bahwa wabah DBD hingga saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia terutama di daerah subtropis dan tropis seperti Indonesia.

Menurut data Kementerian Kesehatan, sejak tahun 2005 DBD ditemukan di seluruh provinsi dengan rata-rata kasus 122.676 per tahun dan kematian 1.031 per tahun. Berdasarkan data yang masuk sampai tanggal 29 Januari 2019, tercatat jumlah penderita DBD mencapai 13.683 penderita dari 34 provinsi dengan 132 kasus diantaranya meninggal dunia. Angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan pada Januari tahun 2018 dengan jumlah penderita sebanyak 6.167 penderita dan jumlah kasus meninggal sebanyak 43 kasus.

BACA JUGA: BMKG Akan Merilis Informasi Peringatan Dini DBD Berbasis Iklim Awal Tahun 2019 

Awal tahun 2019 ini tercatat beberapa daerah melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD di antaranya Kota Manado, Sulawesi Utara dan 7 kabupaten/kota di NTT, yaitu Sumba Timur, Sumba Barat, Manggarai Barat, Ngada, Timor Tengah Selatan, Ende dan Manggarai Timur.

Agung mengatakan bahwa kit DBD BPPT menggunakan anti-NS1 monoklonal antibodi yang dikembangkan berdasarkan strain virus lokal Indonesia. “Komponen utama prototipe kit diagnostik dengue BPPT berupa antibodi monoklonal anti-NS1 telah terbukti dalam skala laboratorium dapat mengenali virus dengue strain lokal Indonesia,” paparnya.

Saat ini BPPT sedang melakukan pembahasan dengan mitra industri dalam rangka hilirisasi dan komersialisasi. Oleh karena itu produk kit diagnostik hasil pengembangan BPPT ini belum diproduksi secara massal dan masih menunggu tahap kerjasama dengan mitra industri.

“Semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama, kit deteksi dengue ini segera bisa diproduksi secara massal untuk membantu mengatasi penanganan wabah demam berdarah di Indonesia,” tutupnya.

Penulis: Dewi Purningsih

Top