Deforestasi Berkontribusi terhadap Penyakit Infeksi Baru

Reading time: 3 menit
Deforestasi
Deforestasi berkontribusi terhadap munculnya penyakit infeksi baru. Foto: shutterstock.com

Jakarta (Greeners) – Aktivitas manusia memunculkan akibat yang signifikan terhadap kondisi alam maupun makhluk hidup di sekitar. Peneliti Mikrobiologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sugiyono Saputra mengatakan deforestasi berkontribusi terhadap penyakit infeksi baru atau new emerging infectious disease. “Deforestasi untuk pertanian, urbanisasi, industrialisasi merusak keseimbangan ekosistem. Salah satunya dapat mempercepat seleksi genetik atau mutasi patogen,” ujar Sugiyono, saat dihubungi Greeners, Selasa (28 Januari 2020).

Menurutnya penyakit infeksi baru tidak spesifik pada virus corona saja. Sebab terdapat beberapa proses tahapan seperti gangguan ekologi yang memicu timbulnya virus. “Contohnya kasus virus ebola yang origin-nya dari kelelawar. Akibat deforestasi, habitat kelelawar menjadi rusak sehingga ekspansi meluas keluar dari habitat dan meningkatkan frekuensi interaksi dengan manusia,” ucap Sugiyono.

Rusaknya habitat kelelawar menjadi ladang baru bagi manusia untuk menangkap dan menjualnya. Perdagangan satwa liar untuk konsumsi, kata Sugiyono, juga membuka peluang terjadinya penyebaran virus dari hewan ke manusia. “Kelelawar juga membawa patogen sehingga manusia bisa tertular,” ujarnya.

Baca juga: Virus Corona Berasal dari Hewan dan Berbeda dengan SARS

Laporan ilmiah berjudul “Hilangnya Hutan Dikaitkan dengan Wabah Penyakit Virus Ebola” pada 2017 yang ditulis oleh Jesus Olivero dkk menyebut terdapat implikasi antara wabah virus ebola dengan hilanganya hutan. Kontak antara manusia dan satwa liar yang terinfeksi meningkat setelah terjadi penebangan hutan.

Sementara pada virus corona, Sugiyono menyebut laju mutasinya sangat cepat dibandingkan dengan jenis virus lain dengan double stranded DNA (dsDNA). Akibatnya, muncul kejadian luar biasa yang dapat berlangsung cepat dan tidak terduga. Penyebaran secara global, kata dia, dapat terjadi dengan mudah sebab dipengaruhi oleh mobilitas manusia yang tinggi.

Berdasarkan publikasi Journal of Medical Virology edisi 22 Januari 2020, setelah membandingkan lebih dari 200 jenis virus corona dari berbagai hewan, diketahui bahwa material genetik Novel Corona Virus (2019-nCoV) merupakan rekombinasi dari genetik virus yang berasal dari kelelawar dan ular. Kode protein atau material genetik 2019-nCoV juga memiliki kesamaan dengan material genetik dari ular.

Satwa Liar

Pasar di Tomohon Sulawesi Utara menjual berbagai macam hewan untuk dikonsumsi, mulai dari biawak, babirusa, kelelawar, dan bahkan hewan yang dilindungi seperti monyet hitam. Foto: shutterstock.com

Sugiyono menjelaskan rekombinasi merupakan gabungan antara bagian selubung virus dari virus corona yang berasal dari dua hewan. Keduanya sama-sama dapat menginfeksi manusia. Selubung virus atau virus spike, kata Sugiyono, merupakan bagian yang akan menempel atau menginfeksi sel inang jika reseptornya sesuai. Mutasi pada bagian ini yang menyebabkan virus corona dari ular dapat menginvasi sel-sel pada saluran pernapasan manusia.

Membiarkan Satwa Liar di Habitat Asal

Adapun Ketua II Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), Drh. Tri Satya Putri Naipospos menyebut, virus corona bukan jenis virus baru, tetapi masih termasuk ke dalam kelompok virus besar. Golongan tersebut terbagi menjadi tiga yakni, animal corona virus atau virus yang menyerang hewan, human corona virus yang menyerang manusia, dan virus corona yang bermutasi. Kelompok terakhir diketahui dapat melompat dari hewan ke manusia.

“Kapan melompatnya dan di waktu apa bisa terjadi coronavirus ini, manusia tidak bisa memprediksi. Di Wuhan, secara genetik dan RNA yang membangun virus ini berbeda dari coronavirus sebelumnya, ujar Tri Satya atau dipanggil Tata ini.

Menurut Tata, gaya hidup seperti memakan satwa liar memicu penularan virus. Beberapa suku tertentu juga memiliki kebiasaan mencari dan menangkap hewan di hutan untuk konsumsi. Tata menilai kedekatan manusia dengan satwa liar merupakan penyebab yang memungkinkan virus berpindah dari hewan ke manusia. Untuk memutus rantai persebaran virus, kata Tata, caranya dengan tidak mengganggu habitat mereka. “Kalau mau meminimalkan tertular virus corona ini biarkan mereka (satwa) di dalam kehidupannya,” ucapnya.

Melansir gisanddata.maps.arcgis.com, hingga 27 Januari 2020 waktu setempat, tercatat 4.474 kasus virus corona yang telah terkonfirmasi. Selain mengisolasi para penderita, pemerintah Cina juga berupaya menghentikan perdagangan satwa liar di sana.

Penulis: Dewi Purningsih

Top