kanker paru - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/kanker-paru/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 11 Jul 2025 05:01:01 +0000 id hourly 1 Studi: Asap Minyak Goreng Picu Risiko Kanker Paru Wanita https://www.greeners.co/gaya-hidup/studi-asap-minyak-goreng-picu-risiko-kanker-paru-wanita/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=studi-asap-minyak-goreng-picu-risiko-kanker-paru-wanita https://www.greeners.co/gaya-hidup/studi-asap-minyak-goreng-picu-risiko-kanker-paru-wanita/#respond Sat, 12 Jul 2025 03:00:33 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=46967 Paparan asap minyak goreng, terutama saat proses menumis tanpa alat penghisap asap (ekstraktor), secara signifikan dapat meningkatkan risiko kanker paru pada wanita, baik yang merokok maupun tidak. Hal ini terungkap […]]]>

Paparan asap minyak goreng, terutama saat proses menumis tanpa alat penghisap asap (ekstraktor), secara signifikan dapat meningkatkan risiko kanker paru pada wanita, baik yang merokok maupun tidak.

Hal ini terungkap dari meta-analisis terhadap 23 studi ilmiah (2 studi kohort retrospektif dan 21 studi kasus-kontrol) oleh pakar kesehatan pernapasan dari IPB University, Desdiani.

“Sebuah meta-analisis terbaru dari 23 studi menemukan bahwa asap minyak goreng dikaitkan dengan risiko kanker paru di kalangan wanita, tanpa memandang status merokok,” ujar Desdiani, dikutip dari Berita IPB.

Studi tersebut juga menelaah berbagai jenis minyak goreng. Hasilnya menunjukkan peningkatan risiko kanker paru pada pengguna minyak lobak dibandingkan minyak biji rami, serta minyak lemak babi dibandingkan minyak sayur.

Studi epidemiologis di beberapa negara Asia, seperti Tiongkok, Taiwan, dan Singapura, menunjukkan risiko dari paparan asap minyak goreng. Risiko kanker paru meningkat, terutama tanpa ventilasi atau alat penghisap asap saat memasak.

Desdiani menjelaskan mekanisme kerusakan sel akibat asap tersebut. Salah satu senyawa mutagenik utama dalam asap minyak goreng, yaitu trans trans-2,4-decadienal (tt-2,4-DDE). Senyawa ini terbukti mengurangi tingkat kelangsungan hidup sel eritroleukemia manusia. Bahkan, menyebabkan kerusakan oksidatif yang signifikan pada DNA kromosom.

BACA JUGA: Jangan Buang Minyak Jelantah Sembarangan!

Selain itu, senyawa hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) yang terbentuk saat minyak dipanaskan pada suhu tinggi juga menjadi faktor karsinogenik utama. Risiko ini sangat relevan di Asia, di mana banyak perempuan masih memasak tanpa perlindungan memadai terhadap asap.

“Hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) yang berasal dari minyak goreng yang dipanaskan pada suhu tinggi bisa menjadi faktor penyebab Lung Cancer in Never Smokers (LCINS). Khususnya di kalangan perempuan Asia,” lanjut Desdiani.

Mitigasi Paparan Asap

Sebagai langkah pencegahan, ia menekankan pentingnya mitigasi terhadap paparan asap. “Penggunaan ekstraktor asap saat memasak merupakan langkah kritis,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menganjurkan penggunaan metode memasak alternatif selain menumis. Hal ini untuk mengurangi paparan senyawa karsinogenik dari minyak yang dipanaskan.

Kemudian, untuk mengurangi risiko kanker paru yang tidak disadari banyak orang, Desdiani mengingatkan pentingnya edukasi dan perubahan kebiasaan memasak. Khususnya, di lingkungan rumah tangga.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/studi-asap-minyak-goreng-picu-risiko-kanker-paru-wanita/feed/ 0
Beban BPJS Tanggung Penyakit karena Polusi Udara Membengkak https://www.greeners.co/berita/beban-bpjs-tanggung-penyakit-karena-polusi-udara-membengkak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=beban-bpjs-tanggung-penyakit-karena-polusi-udara-membengkak https://www.greeners.co/berita/beban-bpjs-tanggung-penyakit-karena-polusi-udara-membengkak/#respond Wed, 29 Mar 2023 07:12:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39515 Jakarta (Greeners) – Polusi udara menjadi permasalahan global yang tak hanya berdampak buruk para kesehatan penduduk, tapi juga membebani keuangan negara. Anggaran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang menanggung […]]]>

Jakarta (Greeners) – Polusi udara menjadi permasalahan global yang tak hanya berdampak buruk para kesehatan penduduk, tapi juga membebani keuangan negara. Anggaran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang menanggung biaya pengobatan penyakit akibat polusi udara pun membengkak.

Berdasarkan data yang Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dan Bicara Udara kumpulkan penyakit respirasi seperti pneumonia, tuberkulosis, asma, kanker paru, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) merupakan penyakit dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia.

Faktor risiko polusi udara terhadap penyakit respirasi ini pun cukup tinggi. PPOK memiliki risiko 36,6 %, pneumonia 32 %, asma 27,95 %, kanker paru 12,5 %, dan tuberkulosis 12,2 %.

Data BPJS Kesehatan menyebut, selama periode tahun 2018-2022, anggaran yang mereka tanggung untuk penyakit respirasi angkanya sangat signifikan dan kecenderungannya meningkat setiap tahunnya.
Pneumonia menelan biaya sebesar Rp 8,7 triliun, tuberkulosis Rp 5,2 triliun, PPOK Rp 1,8 triliun, asma Rp 1,4 triliun, dan kanker paru Rp 766 miliar.

Sejumlah provinsi di Indonesia juga tercatat memiliki tanggungan tinggi anggaran BPJS untuk penyakit respirasi ini. Jawa Barat, provinsi tertinggi anggarannya sebesar Rp 1 triliun. Lalu Jawa Tengah Rp 600 miliar, Jawa Timur Rp 597 miliar, DKI Jakarta Rp 410 miliar, dan Sumatera Utara Rp 244 miliar.

Pakai Masker untuk Kurangi Dampak Polusi

Menanggapi hal ini Ahli kesehatan lingkungan dari Griffith University Dicky Budiman menyebut, penyakit infeksi saluran napas menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.

“Tentu ini harus menjadi dasar kebijakan pemerintah untuk memperbaiki. Kita lihat trennya meningkat. Jika tak segera dimitigasi maka akan mengalami peningkatan signifikan,” katanya kepada Greeners, Rabu (29/3).

Pandemi Covid-19 telah memberikan pelajaran akan perilaku higienis untuk mencegah penularan penyakit. Demikian halnya dalam konteks penyakit saluran pernapasan.

“Karena riset membuktikan saat kita mencuci tangan baik dan benar dan secara rutin mampu menurunkan risiko terinfeksi penyakit saluran pernapasan hingga 44 %,” ucap mantan Dewan Pengawas BPJS RI ini.

Ia juga menyarankan agar masyarakat senantiasa membiasakan memakai masker untuk meminimalisir risiko pencemaran udara.

“Masker bukan hanya saat Covid, tapi juga memastikan kita tak tercemar polusi udara,” imbuhnya.

Asap kendaraan bermotor di tengah kemacetan sumbang pencemaran udara. Foto: Freepik

Kolaborasi Tekan Polusi Kurangi Beban BPJS Kesehatan

Co-Founder Bicara Udara, Novita Natalia mengatakan, butuh kerja sama dari semua elemen, termasuk masyarakat untuk menangani polusi udara.

“Kami melihat kondisi ini sebagai panggilan bagi semua pihak untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya udara bersih,” ungkapnya.

Bicara Udara juga terus mengajak seluruh elemen masyarakat menyuarakan hak atas udara bersih dan memengaruhi kebijakan serta penegakan udara bersih di Indonesia.

“Kami percaya dengan meningkatkan kesadaran publik dan tekanan untuk perubahan kebijakan, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang,” paparnya.

Ia menambahkan, semua pihak harus bekerja sama untuk mengurangi dampak buruk polusi udara, baik terhadap kesehatan masyarakat maupun keuangan negara.

Wujudkan Kualitas Udara yang Baik

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia sekaligus Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Agus Dwi Susanto juga menekankan pentingnya pencegahan untuk mengatasi permasalahan polusi udara.

Upaya pencegahan dengan menurunkan polusi udara harus semua pihak lakukan sehingga kasus respirasi dapat dikurangi.

“Pemerintah dan masyarakat harus memahami pentingnya kualitas udara yang baik untuk kesehatan paru,” ucapnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/beban-bpjs-tanggung-penyakit-karena-polusi-udara-membengkak/feed/ 0
Polusi Udara Bisa Turunkan GDP Negara-Negara Asia https://www.greeners.co/aksi/polusi-udara-bisa-turunkan-gdp-negara-negara-asia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=polusi-udara-bisa-turunkan-gdp-negara-negara-asia https://www.greeners.co/aksi/polusi-udara-bisa-turunkan-gdp-negara-negara-asia/#respond Mon, 12 Sep 2022 04:44:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=37316 Jakarta (Greeners) – Indonesia bersama dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik harus bersama-sama mencari solusi terbaik untuk mengatasi polusi udara. Sebab polusi udara tak sekadar mengancam kesehatan tapi juga Gross […]]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia bersama dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik harus bersama-sama mencari solusi terbaik untuk mengatasi polusi udara. Sebab polusi udara tak sekadar mengancam kesehatan tapi juga Gross Domestic Product (GDP) sejumlah negara Asia pada 2060 nanti.

Pernyataan tersebut Air Quality Lead World Resources Institute (WRI) Indonesia Muhammad Shidiq sampaikan dalam konsorsium global yang Clean Air Catalyst gelar di Bangkok baru-baru ini. Konsorsium global ini bertujuan untuk merancang solusi yang sesuai dan berbasis data untuk mengatasi polusi udara.

Bertajuk “Hari Udara Bersih Dunia: Menyongsong Langit Biru Jakarta,” acara ini sekaligus digelar bertepatan dengan Hari Udara Bersih Dunia.

Ia menyebut pencemaran udara tak hanya berpotensi menurunkan kualitas kesehatan, menyebabkan kematian dan menurunkan produktivitas masyarakat, tapi juga perekonomian.

“Karena polusi udara bukan hanya menjadi pemicu kematian karena kanker paru-paru, tetapi diperkirakan akan memicu penurunan 1 % sampai 2,5 % GDP di sejumlah negara Asia pada 2060, berdasarkan OECD Report,” katanya.

40 Kota di Asia Miliki Udara Kotor

Berdasarkan studi dari World Air Quality Report di tahun 2020, dari 40 kota-kota yang paling terdampak polusi di dunia, 37 di antaranya terletak di Asia Selatan. Kualitas udara yang buruk berdampak negatif terhadap kesehatan penduduk.

Pada tahun 2015 sebagian besar angka kematian yang terjadi secara global disebabkan oleh polusi udara ambien. Sebanyak 35 persennya terjadi di Asia Timur dan Asia Pasifik, dan sekitar 33 % terjadi di Asia Selatan.

Studi Globcon Report di tahun 2020 menunjukkan bahwa kanker paru-paru adalah penyebab terbesar kematian pada penduduk laki-laki dan perempuan di ASEAN, yaitu sejumlah 109.520.

Ia mengungkap, solusi untuk mengatasi masalah kualitas udara adalah dengan mendorong kebijakan-kebijakan pencegahan polusi udara. Mulai dari regulasi emisi kendaraan, ambang batas emisi pabrik, dan pengaturan wilayah pemukiman-industri.

Polusi udara di Jakarta

Jakarta kerap memberikan kontribusi yang paling tinggi terhadap ekonomi nasional. Data terakhir pada tahun 2021, Jakarta menyumbang 17,19 % terhadap ekonomi nasional. Di sisi lain banyaknya kepentingan yang beragam menjadikan Jakarta rentan terhadap polusi udara yang mengancam 10,6 juta jiwa warganya.

Dari perspektif atribusi sumber pencemar bergerak, wilayah Jakarta dikelilingi oleh banyak kota satelit industri besar (Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Sejumlah wilayah tersebut memiliki pabrik-pabrik dan manufaktur di mana orang-orang di kota-kota ini melakukan perjalanan pulang-pergi.

Dari sumber pencemar non mobile, pembangkit listrik (kebanyakan berbasis batu bara) juga terletak di kota-kota satelit yang mengelilingi Jakarta. Kondisi ini menghasilkan polutan udara berbahaya yang berdampak ke Jakarta.

Kolaborasi Mencari Solusi

Project Manager for Air Quality and Cities, WRI Indonesia Fadhly Zakiy mengungkapkan, upaya untuk mencari solusi terhadap polusi udara tidak bisa setiap kota atau negara lakukan sendiri.

Oleh karena itu, saat ini telah berlangsung sejumlah kolaborasi, antara lain Climate and Clean Air Coalition (CCAC), Asia Pacific Clean Air Partnership (APCAP). Selain itu juga dengan ASEAN Transboundary Haze Polution, dan (Acid Deposition Monitoring Network in East Asia (EANET).

“Kolaborasi ini memiliki inisiatif di kawasan dalam melakukan upaya mencegah polusi udara lintas batas,” paparnya.

Menurutnya, kolaborasi yang Indonesia lakukan, antara lain melalui Clean Air Catalyst. Adapun tujuannya yaitu untuk melakukan integrasi keahlian teknis yang datang dari berbagai negara. Kemudian juga berbagi pengetahuan untuk menangkap pergerakan air pollutants yang bersifat lintas-batas.

Selanjutnya, mentransformasi kebijakan menjadi solusi praktis, dan menggerakkan kolaborasi aktif intraregional dan internasional untuk meningkatkan kapasitas teknis, legal, dan institusional dari negara-negara yang tergabung di dalamnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/polusi-udara-bisa-turunkan-gdp-negara-negara-asia/feed/ 0
Polusi Udara, “Silent Killer” di Zaman Modern, Kendalikan! https://www.greeners.co/aksi/polusi-udara-silent-killer-di-zaman-modern-kendalikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=polusi-udara-silent-killer-di-zaman-modern-kendalikan https://www.greeners.co/aksi/polusi-udara-silent-killer-di-zaman-modern-kendalikan/#respond Tue, 19 Oct 2021 06:35:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=34127 Jakarta (Greeners) – Polusi udara bisa menjadi “silent killer” bagi masyarakat rentan di zaman modern. Silent killer atau penyakit tanpa menunjukkan gejala karena paparan polusi memang tidak terasa seketika. Namun […]]]>

Jakarta (Greeners) – Polusi udara bisa menjadi “silent killer” bagi masyarakat rentan di zaman modern. Silent killer atau penyakit tanpa menunjukkan gejala karena paparan polusi memang tidak terasa seketika. Namun paparan itu terakumulasi hingga menyebabkan berbagai penyakit kronis yang berujung pada kematian. Mulailah mengerem pemakaian energi fosil dengan cara-cara sederhana dan mudah dalam kehidupan sehari-hari.

Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu mengatakan, masyarakat bisa memulai cara-cara sederhana. Caranya dengan perlahan tidak bergantung pada bahan bakar fosil pada aktivitas sederhana setiap hari.

“Jika memang jaraknya tidak jauh pilihlah berjalan kaki atau bersepeda. Dengan begitu tidak menyumbang polusi udara,” katanya usai diskusi publik virtual di Jakarta, Senin (18/10).

Kalau pun memiliki kendaraan lanjutnya, wajib dan upayakan service rutin. Aksi lain tidak membakar sampah. Bahkan jika memungkinkan lakukan penggunaan energi listrik dari solar panel atau energi terbarukan lainnya di rumah tangga.

Pengamatan dengan Satelit

Berdasarkan hasil pengamatan satelit Greenpeace Indonesia di lima kota besar dan dua lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Indonesia, polusi udara khususnya NO2 (nitrogen dioksida) kembali memburuk sepanjang April-Juni 2021.

Bondan menyebut, kondisi polusi udara kembali memburuk seiring pelonggaran mobilitas masyarakat.

“Seiring dengan pelonggaran mobilitas warga selama April-Juni tahun ini, polusi udara NO2 kembali bergerak naik di lima kota besar. Catatan penting lainnya, pengamatan kami di dua lokasi PLTU di Banten, tingkat polusinya rata-rata terus meningkat selama beberapa tahun terakhir,” paparnya.

Dalam diskusi bertajuk Menakar Risiko Polusi Udara Yang Kembali Memburuk Terhadap Masyarakat Rentan Greenpeace itu Bondan menjelaskan, hasil pengamatan tersebut menunjukkan jumlah kolom atmosfer NO2 lebih rendah pada periode April-Juni 2020 dibandingkan tahun sebelumnya di lima kota besar di Indonesia.

Greenpeace menyebut kadar NO2 Jakarta turun 35%, Bandung 20%, Surabaya 11%, Medan 26% dan Semarang turun 24%.

Kemudian pada April-Juni 2021, jumlah NO2 terukur lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun 2020 yaitu Jakarta naik 54%, Bandung 34%, Surabaya 20%, Medan 9%, Semarang 31%. Sedangkan PLTU Cilegon PT Indorama Petrochemicals naik 31% dan PLTU Suralaya naik 39%.

Bahaya Polusi Udara Bagi Kesehatan

Polusi udara yang berasal dari transportasi, industri, rumah tangga dan sebagainya dapat memengaruhi kesehatan manusia. Kelompok rentan seperti bayi dan balita, orang tua, serta orang dengan penyakit kardiorespirasi kronik sangat terancam polusi ini.

Efek kronik atau jangka panjang yang timbul yaitu penurunan fungsi paru, risiko asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, serta risiko kanker.

World Conference on Lung Center (WCLC) 2021 mengungkapkan, 14,1% semua kematian akibat kanker paru-paru, termasuk pada mereka yang tidak merokok, secara langsung terkait dengan polusi udara.

“Sehingga dikatakan selain rokok sebagai penyebab utama, polusi udara ternyata juga jadi penyebab kedua kematian pada kanker paru.” ungkap Dokter paru Feni Fitriani Taufik dalam diskusi tersebut.

Menurutnya, sebagai “silent killer” karena zatnya tidak terlihat namun dapat masuk ke dalam tubuh dan mengancam kesehatan manusia. World Health Organization (WHO) juga menyatakan polusi udara dapat membunuh setidaknya 7 juta orang di dunia setiap tahunnya.

“Seperti silent killer yang tidak terlihat tapi dia tetap ada. Kita tidak merasakan dia masuk ke dalam tubuh kita. Tiba-tiba dalam jangka bisa akut atau kronik dan akan mempengaruhi kesehatan,” ungkapnya.

Penulis : Fitri Annisa

]]>
https://www.greeners.co/aksi/polusi-udara-silent-killer-di-zaman-modern-kendalikan/feed/ 0
Waspada Penyakit Kanker pada Pria https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-penyakit-kanker-pada-pria/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waspada-penyakit-kanker-pada-pria https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-penyakit-kanker-pada-pria/#respond Tue, 27 Oct 2015 08:30:49 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11672 Jakarta (Greeners) – Kanker merupakan penyakit tidak menular yang sangat berbahaya. Menurut catatan WHO, kanker menempati urutan ke dua setelah kardiovaskular sebagai penyakit yang menyebabkan kematian di dunia. Menurut catatan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kanker merupakan penyakit tidak menular yang sangat berbahaya. Menurut catatan WHO, kanker menempati urutan ke dua setelah kardiovaskular sebagai penyakit yang menyebabkan kematian di dunia.

Menurut catatan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 Kementerian Kesehatan, penyakit kanker menyumbang angka kematian sebesar 5,7 persen dari keseluruhan kematian yang disebabkan oleh penyakit di Indonesia. Jaminan Kesehatan Nasional (Jamkesnas) sendiri menyatakan telah menggelontorkan Rp 163 miliyar untuk pengidap penyakit kanker di Indonesia.

Di Indonesia, penyakit kanker seringkali menyerang kaum hawa. Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2T) Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), Lili S. Sulistyowati, menyatakan bahwa perbandingan antara penderita kanker pada perempuan dan laki-laki adalah 3:1.

“(Penderita) kanker terbanyak adalah kanker pada perempuan dengan jumlah terbanyak adalah kanker payudara dan kanker leher Rahim,” jelas Lili dalam surat elektronik kepada Greeners pada Senin (26/10) lalu.

Meskipun didominasi oleh penderita perempuan, kaum lelaki perlu mewaspadai penyakit kanker. Lili menyebutkan, tingginya kecenderungan makanan berbahan pengawet dan pewarna buatan yang dikonsumsi masyarakat, termasuk oleh pria, sebagai pendorong faktor resiko penyebab kanker. Pasalnya, makanan dengan kandungan tersebut memiliki kandungan zat karsinogen. “Zat karsinogenik merupakan zat yang dapat memicu terjadinya penyakit kanker,” ujar Lili.

Selain itu, Lili menyarankan agar masyarakat menghindari konsumsi rokok dan minuman beralkohol karena keduanya juga mengandung zat karsinogenik. “Kasus kanker indens pada pria adalah kanker paru, kanker kolorektal dan kanker prostat. Hal ini disebabkan kebiasaan merokok, kurang makan sayur dan buah, serta kurang aktifitas fisik,” jelasnya.

Menurut Lili, ada lima jenis kanker yang menyerang pria di Indonesia. Kelima kanker tersebut adalah kanker kolorektal, kanker prostat, kanker paru-paru, kanker nasofaring, dan kanker limfoma malignum.

Seperti diketahui, berdasarkan penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) pada tahun 2015, jumlah perokok aktif pada pria mencapai lebih dari 56 juta orang. Sedangkan pengkonsumsi alkohol pun tidak berbeda, cenderung meningkat tiap tahunnya.

Faktor Hormonal

Ketua Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN), Prof. Dr. dr. Soehartati Gondhowiardjo, menyatakan bahwa kanker payudara dan leher rahim merupakan kanker yang disebabkan oleh faktor hormonal. Oleh karenanya, kanker tersebut hanya bisa diderita oleh perempuan saja. Hal itu, menurut Soehartati, yang menjadikan jumlah penderita kanker pada perempuan sangat signifikan jika dibandingkan laki-laki.

Meskipun tidak dapat diketahui secara pasti, Soehartati menambahkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki tingkat resiko yang sama dalam faktor hormonal yang menyebabkan kanker.

“Kanker prostat adalah contoh kasus kanker karena faktor hormonal pada pria,” jelas Soehartati kepada Greeners via telepon.

Soehartati pun sepakat agar pria juga menghindari alkohol, rokok serta makanan berbahan pengawet, penyedap dan pewarna buatan sebagai bentuk pencegahan dini penyakit kanker. Selain itu, ia juga menyarankan untuk rutin berolahraga dan menghindari obesitas.“Kuncinya adalah perketat pola hidup sehat,” ucap Soehartati.

Ia juga menyarankan agar mengelola stres. Selain berpengaruh pada kondisi hormonal, stres juga dapat merusak gaya hidup sehat secara keseluruhan. “Justru pola hidup sehat itu dimulai dengan pengelolaan stres,” katanya.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-penyakit-kanker-pada-pria/feed/ 0