Polusi Udara Akibatkan Kerugian Ekonomi Hingga Puluhan Triliun Per Tahun

Reading time: 3 menit
Polusi Udara
Kondisi polusi udara di perkotaan Foto: Shutterstock.

Jakarta (Greeners) – Kerugian ekonomi yang disebabkan oleh polusi udara dinilai mencapai triliunan rupiah per tahun. Organisasi Greenpeace Asia Tenggara dan IQAir Air Visual meluncurkan alat baru yang dapat menghitung risiko kematian dini dan kerugian tersebut. Penelitian dilakukan di 28 kota secara real time di seluruh dunia.

“Kerugian ekonomi akibat polusi udara PM2,5 jika dibandingkan APBD 2020, di Jakarta angkanya mencapai Rp23 triliun, Surabaya Rp6,35 triliun, Bandung Rp5,34 triliun, dan Denpasar Rp1,44 triliun. Sementara jika dibandingkan defisit BPJS 2019 yang mencapai Rp13 triliun kerugian akibat polusi udara di Jakarta mencapai 175 persen, Surabaya 49 persen, Bandung 41 persen, dan Denpasar 11 persen,” ujar Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, ketika dihubungi Greeners, Minggu, (12/07/2020).

Baca juga: Penyebab Munculnya Paus Orca di Perairan Indonesia

Ia mengungkapkan empat kota tersebut dipilih karena memiliki data PM2,5 yang tersedia dan data serinya dapat diambil setiap hari. Data sejak 1 Januari hingga 1 Juli menunjukkan bahwa dampak risiko kematian dini akibat polusi udara PM2.5 di Jakarta mencapai 6.100 jiwa, Surabaya 1.700 jiwa, Bandung 1.400 jiwa, dan Denpasar 410 jiwa.

“Polusi udara jika terus dibiarkan akan menyebabkan kerugian ekonomi dan menjadi kumulatif dari waktu ke waktu. Penting langkah nyata dalam pengendalian polusi udara,” ucapnya.

Sementara itu, Lauri Myllyvirta Ketua Analis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mengatakan penghitungan biaya kerugian ekonomi dari polusi udara ini didukung oleh beberapa data. Misalnya data kualitas udara real time dari Air Visual, studi ilmiah tentang risiko kesehatan di berbagai tingkat polusi udara, data kesehatan dari statistik nasional, dan data biaya ekonomi dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh polusi udara per kasus. Selanjutnya produktivitas ekonomi yang dihitung dalam produk domestik bruto atau PDB.

Risiko Kematian Dini

Risiko kematian dini akibat polusi udara. Sumber: Greenpeace

“Dampak penanganan polusi udara ini akan memperbanyak orang sehat di mana biaya perawatan kesehatannya lebih rendah, produktivitas ekonomi lebih tinggi, dan membuat kualitas SDM lebih maju,” ujar Lauri.

Paparan polusi udara juga dikaitkan juga dengan penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, penyakit kardiovaskular, dan penyakit paru-paru kronis. Pasien dengan kondisi ini memiliki risiko lebih besar dirawat di rumah sakit bila terinfeksi COVID-19.

Keuntungan Ekonomi Jika Melindungi Alam

 Hasil kajian yang dilaporkan oleh The Campaign for Nature (CFN) berjudul, “Protecting 30% of the planet for nature: costs, benefits and economic implications,” menyebutkan bahwa melindungi 30 persen alam memberikan keuntungan ekonomi lima kali lebih besar.

Hasil kajian tersebut mengukur dampak finansial dari kawasan lindung terhadap ekonomi global dan keuntungan non materiil seperti jasa lingkungan, termasuk mitigasi perubahan iklim, perlindungan banjir, penyediaan air bersih dan konservasi tanah. Dalam semua perhitungan, para ahli menemukan bahwa keuntungannya lebih besar ketika alam lebih dilindungi dibandingkan dengan mempertahankan kondisi yang ada saat ini dan sedang berjalan (status quo).

Baca juga: Pandemi Covid-19, Momentum Membangun Tanpa Merusak Lingkungan

“Laporan kami menunjukkan bahwa perlindungan alam dalam ekonomi masa kini menghasilkan lebih banyak pemasukan dibandingkan alternatifnya dan kemungkinan menambah pemasukan bagi pertanian dan kehutanan. Juga dapat menolong mencegah perubahan iklim, krisis air, kerusakan biodiversitas dan munculnya penyakit,” ujar Anthony Waldron, penulis utama laporan dan peneliti yang fokus pada keuangan konservasi lingkungan, kehilangan spesies global, dan pertanian yang berkelanjutan.

Menurutnya meningkatkan perlindungan lingkungan adalah kebijakan tepat bagi pemerintah yang sedang mengakomodasi berbagai kepentingan. “Kita tidak bisa memberi label harga pada alam. Namun, angka-angka ekonomi telah menunjukkan pentingnya perlindungan alam,” kata Anthony.

Melindungi kawasan-kawasan lingkungan juga menyediakan manfaat kesehatan fisik dan mental yang signifikan serta mengurangi risiko wabah penyakit dari hewan (zoonotic) baru seperti Covid-19.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

Top