tanaman perdu - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/tanaman-perdu/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 05 Nov 2021 07:52:35 +0000 id hourly 1 Jasminum Grandiflorum, Varietas Bunga Melati yang Bermanfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/jasminum-grandiflorum-varietas-bunga-melati-yang-bermanfaat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jasminum-grandiflorum-varietas-bunga-melati-yang-bermanfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/jasminum-grandiflorum-varietas-bunga-melati-yang-bermanfaat/#respond Sat, 06 Nov 2021 03:00:52 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=34304 Melati merupakan kelompok tanaman hias yang tergabung dalam famili Oleaceae. Mereka memiliki 200 ragam spesies yang tersebar ke seluruh dunia, salah satu yang paling populer adalah Jasminum grandiflorum atau melati […]]]>

Melati merupakan kelompok tanaman hias yang tergabung dalam famili Oleaceae. Mereka memiliki 200 ragam spesies yang tersebar ke seluruh dunia, salah satu yang paling populer adalah Jasminum grandiflorum atau melati casablanca.

Melati casablanca publik kenal juga sebagai Spanish jasmine. Spesiesnya memiliki sinonim binomial yaitu Jasminum floribundum, serta berkerabat dekat dengan jenis melati gambir.

Penampilan melati casablanca dan melati gambir memang mirip. Keduanya memiliki bunga berwarna putih, meskipun bunga melati casablanca lebih terbuka dan juga lebih panjang.

Jasminum grandiflorum setidaknya memiliki dua subspesies, yakni J. g. floribundum serta J. g. grandiflorum. Keduanya tertanam di wilayah berbeda, antara Afrika sampai Asia Selatan.

Morfologi dan Ciri-Ciri Jasminum Grandiflorum

Spanish jasmine tergolong sebagai perdu atau semak yang tumbuh setinggi 2-4 m. Daunnya terlihat berlawanan, mempunyai panjang 5-12 cm dengan jumlah 5-11 lembar per batang.

Bunganya yang majemuk dapat berkembang selebar 5 cm. Bagian ini memiliki aroma yang harum, serta mampu menghasilkan nektar manis yang disenangi oleh kelompok serangga.

Walaupun ahli identifikasi sebagai semak, tanaman Jasminum grandiflorum umumnya tidak invasif. Pertumbuhannya bersifat semi-menyebar dengan batang kayu yang sedikit melekuk.

Mirip seperti daunnya, batang melati biasanya berwarna hijau. Bentuk daun tersebut bulat telur dengan permukaan gundul, tidak berbulu, serta memiliki tepian yang bergelombang.

Jika kita ukur, ketebalan daun melati casablanca mencapai 0,35 mm. Tumbuhan ini memiliki sepal daun berwarna hijau, dengan dua benang sari serta kepala sari berwarna kekuningan.

Seperti yang kita ketahui, Jasminum grandiflorum tidak tergolong sebagai tanaman berbuah. Pemanfaatannya hanya sebatas penghias, tanaman obat, serta kebutuhan industri lainnya.

Baca juga: Bunga Krisan, Simbol Cinta yang Membawa Khasiat Obat

Manfaat Tumbuhan Jasminum Grandiflorum

Daun, bunga, akar dan berbagai anatomi tumbuhan melati casablanca dimanfaatkan untuk kebutuhan yang berbeda. Agar semakin paham, simak penjabaran lengkapnya di bawah ini.

– Ornamen Penghias

Masyarakat di negara beriklim hangat dan subtropis biasanya memaksimalkan jenis bunga ini sebagai tanaman hias. Mereka ditanam di sekitar pekarangan rumah atau kebun bunga.

Tidak cuma itu, bunga melati bahkan digunakan penduduk India sebagai ornamen rambut. Kebiasaan ini dipraktikkan oleh para wanita, terutama ketika menghadiri sebuah perayaan.

– Obat Tradisional

Masih dari India, kecambah dan bunga Jasminum grandiflorum kering jamak dimanfaatkan untuk mengobati penyakit dermatosis, infeksius coryza, sampai dengan pendarahan hidung.

Daunnya bahkan berguna untuk mengobati infeksi luka serta membantu mensterilkan bisul. Bila kita kunyah, daun tersebut awam percaya mujarab mengobati sakit gigi dan stomatitis.

Selain manfaat di atas, pakar mensinyalir jika tanaman melati berkhasiat sebagai obat batuk. Ia juga ahli manfaatkan dalam pengobatan kusta, penyakit kulit, hingga penyakit batu ginjal.

– Bahan Baku Parfum

Ekstrak daun Jasminum grandiflorum umum awam manfaatkan sebagai bahan baku parfum. Aromanya terbilang menenangkan sehingga digemari oleh masyarakat dari seluruh dunia.

Bukan cuma parfum, produk sabun, kosmetik, hingga minyak esensial beraroma melati juga banyak di pasaran. Karena itu, jenis tanaman ini tergolong mempunyai nilai ekonomi tinggi.

Habitat dan Konservasi Jasminum Grandiflorum

Secara etimologi, nama Jasminum grandiflorum sendiri ahli ambil dari bahasa Latin ‘yasmin’ yang berarti bunga-bunga beroma segar, serta ‘grandiflorum’ yang bermakna bunga besar.

Berkat distribusinya yang luas, mereka juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti royal jasmine, Catalan jasmine, dan sebagainya. Spesies ini merupakan flora asli dari Asia Selatan.

Mereka juga sering pakar temukan di wilayah Semenanjung Arab, benua Afrika bagian timur dan timur laut, sampai benua Asia seperti Yunnan dan Sichuan di Republik Rakyat Tiongkok.

Wilayah pembudidayaannya lebih luas lagi, tanaman ini dapat kita jumpai di wilayah Guinea, Maladewa, Mauritius, Réunion, Kepulauan Cook, Chiapas, Amerika Tengah, sampai Karibia.

Indonesia juga termasuk sentral pembudidayaan melati casablanca, lho. Tumbuhan berordo Lamiales ini nyatanya dapat kita temukan di area Pulau Jawa, Sumatra, Bali dan sebagainya.

Jumlah populasi Jasminum grandiflorum memang belum ahli ketahui. Namun konservasinya ilmuwan duga cukup stabil, sebab sering khalayak budi dayakan untuk berbagai keperluan.

Baca juga: Pohon Darah Naga, Flora Unik yang Berasal dari Pulau Alien

Taksonomi Spesies Jasminum Grandiflorum

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/jasminum-grandiflorum-varietas-bunga-melati-yang-bermanfaat/feed/ 0
Ceriops Tagal, Tengar Kaya Zat Tanin untuk Pewarna Alami https://www.greeners.co/flora-fauna/ceriops-tagal-tengar-kaya-zat-tanin-untuk-pewarna-alami/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ceriops-tagal-tengar-kaya-zat-tanin-untuk-pewarna-alami https://www.greeners.co/flora-fauna/ceriops-tagal-tengar-kaya-zat-tanin-untuk-pewarna-alami/#respond Fri, 15 Oct 2021 03:00:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=33983 Ceriops tagal atau biasa awam sebut sebagai tengar adalah sejenis tanaman bakau yang tergabung dalam famili Rhizophoraceae. Ia ahli sinyalir mengandung zat tanin yang tinggi, sehingga sering publik manfaatkan sebagai […]]]>

Ceriops tagal atau biasa awam sebut sebagai tengar adalah sejenis tanaman bakau yang tergabung dalam famili Rhizophoraceae. Ia ahli sinyalir mengandung zat tanin yang tinggi, sehingga sering publik manfaatkan sebagai pewarna alami.

Sejatinya, tengar adalah nama dari sekelompok tumbuhan yang berasal dari genus Ceriops. Di Tanah Air kelompok ini terdiri atas dua spesies, yakni Ceriops tagal dan Ceriops decandra.

Penampilan Ceriops decandra memang tampak lebih kecil daripada saudaranya. Namun ciri dan habitat keduanya terbilang tidak jauh berbeda, bahkan sering khalayak anggap serupa.

Tengar tagal terdistribusi hampir ke seluruh wilayah Nusantara. Ia masyarakat juluki dengan berbagai sebutan meliputi tangar, tengal, tengah, tingi, palun, parun, hingga bido-bido.

Morfologi dan Ciri-Ciri Ceriops Tagal

Ceriops tagal tergolong sebagai tanaman berpohon kecil atau perdu. Mereka berkembang biak hingga setinggi 25 m, dengan batang menggelembung serta akar tunjang yang kecil.

Baik tengar tagal maupun decandra, keduanya memiliki daun tunggal dengan bentuk bulat telur. Ujungnya terlihat tumpul atau berlekuk dengan permukaan yang cenderung mengilap.

Ukuran daun tingi umumnya tidak lebih dari 4×10 cm. Terdapat daun penumpu berukuran kecil (sekitar 1,5-2,5 cm) yang lekas gugur, serta mampu meninggalkan bekas seperti cincin.

Bunganya tampak duduk atau bertangkai pendek, bagian ini tumbuh secara berkelompok dan terdiri dari 5-10 kuntum. Kelopaknya kehijauan dengan daun mahkota berwarna putih.

Ketika sudah tua, kedua bagian tersebut berubah warna jadi kecokelatan. Tangkai benang sari Ceriops tagal berukuran pendek, dengan proses pembungaan terjadi sepanjang tahun.

Pohon tengar juga memiliki buah berbentuk bulat telur, warnanya cokelat dengan ukuran rata-rata 2 cm. Hipokotilnya silindris, halus dan berbintil, ukurannya bisa mencapai 25 cm.

Habitat dan Distribusi Ceriops Tagal

Tengar jamak pakar temukan di daerah perairan payau pada zona pasang surut. Mereka berkembang biak di estuaria, perbatasan tambak, hingga area mangrove bagian dalam.

Tanah liat merupakan subtrat yang baik bagi spesies ini. Ia menyukai habitat bersalinitas tinggi, kering, serta sering ditemukan tertanam berdampingan dengan Ceriops decandra.

Melihat dari distribusinya, persebaran Ceriops tagal terbilang cukup luas. Flora berkelas Magnoliopsida ini bisa kita temukan di Madagaskar, Seychelles, India, hingga Maladewa.

Kawasan timur dan selatan Afrika, China, Indo-China, serta Malesia juga menjadi sentral distribusi flora ini. Mereka bahkan bisa kita jumpai di Papuasia sampai dengan Australia.

Di Indonesia tingi ahli temukan di Pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan. Mereka tertanam di area pinggiran pantai, serta sering dimanfaatkan oleh warga untuk berbagai keperluan.

Merujuk IUCN Red List, status konservasi Ceriops tagal berada pada level ‘least concern’ atau risiko rendah. Tren populasinya makin menurun sehingga penting untuk dilestarikan.

Pemanfaatan Spesies Ceriops Tagal

Selain menjaga ekosistem pesisir, manfaat tanaman tengar terbilang cukup banyak. Kayunya sering warga manfaatkan sebagai kayu bakar, sedang kulitnya diolah menjadi pewarna batik.

Kulit kayu tengar ahli sinyalir mengandung zat tanin sebesar 26,5%. Kandungan ini terhitung cukup tinggi, apalagi jika kita bandingkan dengan kayu avaram, hemlock, oak dan chestnut.

Tidak cuma itu, kayu spesies Ceriops tagal terbilang cukup kuat. Mereka bahkan lebih kokoh dari kayu hutan bakau lainnya, sehingga acap publik manfaatkan sebagai konstruksi rumah.

Di sejumlah daerah, kayu tingi publik maksimalkan sebagai bantalan rel kereta dan gagang perkakas. Karena itu, jangan heran jika produk olahan kayunya bernilai tinggi di pasaran.

Filipina adalah salah satu negara yang melestarikan flora ini. Di sana, tengar dimanfaatkan sebagai campuran fermentasi anggur kelapa, dengan cita rasa yang cukup pahit dan tajam.

Berkat campuran ekstrak tengar, minuman tradisional tersebut terlihat berwarna cokelat-oranye. Ini merupakan bukti, bahwa spesies Ceriops tagal memiliki zat tanin yang tinggi.

Taksonomi Jenis Tumbuhan Tengar

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ceriops-tagal-tengar-kaya-zat-tanin-untuk-pewarna-alami/feed/ 0
Buah Menteng, Khasiatnya Tergerus Perkembangan Zaman https://www.greeners.co/flora-fauna/buah-menteng-khasiatnya-tergerus-perkembangan-zaman/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=buah-menteng-khasiatnya-tergerus-perkembangan-zaman https://www.greeners.co/flora-fauna/buah-menteng-khasiatnya-tergerus-perkembangan-zaman/#respond Tue, 07 Sep 2021 05:50:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=33553 Dibanding tanaman buah lainnya, nama Pohon Buah Menteng mungkin tidak terlalu populer di masyarakat. Populasinya ahli sinyalir makin merosot akibat masifnya aktivitas alih fungsi lahan, serta minimnya praktik pembudidayaan flora […]]]>

Dibanding tanaman buah lainnya, nama Pohon Buah Menteng mungkin tidak terlalu populer di masyarakat. Populasinya ahli sinyalir makin merosot akibat masifnya aktivitas alih fungsi lahan, serta minimnya praktik pembudidayaan flora tersebut di Indonesia.

Menteng atau awam kenal juga sebagai Kepundung, Rambai, dan Rambe adalah tanaman asli Asia Tenggara yang berasal dari famili Phyllanthaceae atau suku meniran-meniranan.

Ia pakar kelompokkan dalam ordo Malpighiales dan genus Baccaurea, sehingga di kalangan ilmuwan flora yang buahnya mirip seperti duku ini dinamai sebagai Baccaurea racemose.

Tampilan buah menteng dan duku memang cukup identifik, keduanya berbentuk bulat dan berwarna hijau kekuningan. Walau biji buah duku sendiri ahli nilai berukuran lebih besar.

Morfologi dan Ciri-Ciri Tanaman Buah Menteng

Pohon buah menteng tergolong sebagai tanaman perdu berkulit kasar. Spesiesnya dapat berkembang hingga setinggi 15 – 25 m dengan diameter batang mencapai 25 – 70 cm.

Bila kita perhatikan, kulit pohon tersebut berwarna agak keputihan. Daunnya lebih banyak terkumpul di ujung ranting, berbentuk lonjong dengan tepi bergerigi dan sudut yang lancip.

Menurut penelitian, daun menteng rata-rata memiliki panjang 7 – 20 cm dan lebar 3 – 7,5 cm. Diameter buahnya 2 – 2,4 cm, berwarna hijau kekuningan atau terkadang kemerahan.

Buah menteng sendiri terdiri dari dua macam, yakni berdaging putih dan merah. Keduanya sama-sama bercita rasa manis dan asam, serta ahli sinyalir mengandung antioksidan tinggi.

Untuk membiakkan flora ini, kita bisa menggunakan metode semai biji atau cangkok. Semai biji membutuhkan 7 – 8 tahun untuk berbuah, sedangkan cangkok cukup 3 – 4 tahun saja.

Buah kepundung yang sudah masak dapat kita tandai dari warnanya yang hijau kekuningan. Musim buahnya terjadi antara Januari – Maret, sedang musim bunga Oktober – Desember.

Habitat dan Persebaran Pohon Buah Menteng

Distribusi pohon buah menteng sebenarnya cukup luas, ia dapat kita temukan mulai dari Thailand, kawasan Semenanjung Malaysia, hingga Pulau Sumatera dan Jawa di Indonesia.

Bukan cuma itu, B. racemose bahkan masyarakat bawa sampai ke Kepulauan Sunda Kecil, Pulau Borneo (Sarawak, Brunei, Sabah, dan Kalimantan), Pulau Sulawesi, dan Maluku.

Berkat persebarannya yang luas, flora yang berkerabat dengan buah lempaung ini pakar ketahui memiliki banyak julukan, seperti Tangkilang di Bali dan Jirek bagi warga Jawa.

Untuk orang-orang Batak, buah kepundung lebih populer dengan sebutan Haoundung. Sedangkan di Kalimantan ia awam namai sebagai Engkuni, Kokonau, serta Moho Liox.

Di Jakarta publik mengenal ‘menteng’ sebagai nama salah satu daerah. Ini merupakan penanda, bahwa dulunya di kawasan tersebut banyak tertanam pohon buah menteng.

Melihat habitatnya, tanaman menteng tumbuh di daerah dataran rendah sampai ketinggian 1.000 mdpl. Ia menyukai karakter tanah aluvial dan kering, serta tanah liat dan berpasir.

Kandungan dan Ragam Manfaat Buah Menteng

Derasnya arus impor buah dari luar negeri berangsur-angsur menenggelamkan eksistensi buah lokal, padahal buah jirek sendiri terbilang kaya manfaat dan berguna sebagai obat.

Merujuk penelitian Jihan Fatmalah dari Universitas Jember, buah ini ia ketahui mengandung metabolit sekunder meliputi alkaloid, flavonoid, antosianin, tanin, hingga asam rosmarinik.

Pada riset terdahulu, ilmuwan melaporkan bahwa B. racemose memiliki kandungan protein, karbohidrat, vitamin C, kalsium, serta kadar fenolat yang berperan sebagai antioksidan.

Berdasarkan temuan inilah banyak masyarakat yang percaya, jika buah menteng berguna sebagai obat. Ia publik yakini menyimpan segudang manfaat bagi kesehatan, yakni:

  • Mencegah serangan jantung atau hipertensi;
  • Menjaga kesehatan tulang dan persendian;
  • Mengatasi diare serta melancarkan haid;
  • Mengobati sembelit hingga abses: dan
  • Mencegah pembengkakan pada mata.

Menariknya pada zaman dahulu, masyarakat memanfaatkan pohon buah menteng sebagai penghias halaman. Bahkan, kayunya digunakan sebagai bahan konstruksi pembuat rumah.

Taksonomi Tumbuhan Baccaurea Racemose

Penulis: Yuhan Al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/buah-menteng-khasiatnya-tergerus-perkembangan-zaman/feed/ 0
Pohon Cengkeh, Flora Kaya Guna yang Diburu Berbagai Bangsa https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-cengkeh/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pohon-cengkeh https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-cengkeh/#respond Wed, 17 Mar 2021 03:00:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=19375 Pohon Cengkeh atau Cengkih (Syzygium aromaticum) adalah sejenis tanaman rempah yang berasal dari keluarga Myrtaceae. Tanaman ini merupakan komoditas asli Indonesia yang banyak juga akrab dengan masyarakat di wilayah Zanzibar, India, Sri Lanka hingga Madagaskar.]]>

Pohon Cengkeh atau Cengkih (Syzygium aromaticum) adalah sejenis tanaman rempah yang berasal dari keluarga Myrtaceae. Tanaman ini merupakan komoditas asli Indonesia yang banyak juga akrab dengan masyarakat di wilayah Zanzibar, India, Sri Lanka hingga Madagaskar.

Melansir berbagai sumber, pemanfaatan cengkeh telah berlangsung sejak abad ke-4. Mulanya flora ini berfungsi sebagai pewangi alami, lalu berkembang menjadi bahan masakan dan ramuan obat.

Di negeri Tiongkok, warga biasa memasukkan cengkeh ke dalam peti mati. Perwira yang ingin menghadap sang kaisar juga wajib mengunyah cengkih agar aroma tubuh dan nafasnya lebih segar.

Menariknya, di wilayah Persia pohon cengkeh justru terkenal sebagai lambang cinta. Baru pada tahun 1980-an lah, tanaman yang satu ini mulai pengrajin campurkan dengan tembakau menjadi rokok kretek.

Morfologi dan Ciri-Ciri Pohon Cengkeh

Secara morfologi, pohon cengkeh termasuk jenis tumbuhan perdu dengan karakteristik batang yang besar dan berkayu keras. Tingginya bisa mencapai 15-40 m dengan kanopi yang berbentuk silindris.

Pada beberapa varietas, bentuk kanopi tersebut bahkan tampak seperti piramid dan bulat telur. Sedang batang percabangannya tergolong banyak dengan bentuk bulat yang mengkilap.

Daun cengkeh memiliki bentuk lonjong sampai elips, panjangnya berkisar 7-13 cm dengan lebar antara 3-6 cm. Letak daun tersebut biasanya berhadap-hadapan, posisinya tepat di bagian ranting.

Sebab bersifat terminal, pembentukan bunga pada tumbuhan ini terjadi di bagian ujung kuncupnya. Proses itu ditandai dengan munculnya tunas-tunas ujung yang tumpul serta berwarna hijau.

Setelah fase pembungaan, terbentuklah buah cengkih sepanjang 2,5-3,5 cm. Diameternya mencapai 1-2 cm, dengan karakterisitk daging yang tebal serta berwarna hijau kemerahan.

Jika sudah masak, buah pohon cengkeh berubah warna menjadi merah tua keungu-unguan. Biji cengkih berbentuk agak memanjang, dengan lebar 0,8 cm dan panjang berkisar 1,5-2 cm.

Berdasarkan penelitian ahli, biji buah tersebut tidak melekat pada bagian dagingnya. Ia juga memiliki dua keping biji dikotil dengan tekstur yang cukup tebal.

Sejarah Penyebaran Pohon Cengkeh di Dunia

Sejak zaman Romawi, cengkeh terkenal sebagai rempah-rempah termahal bersama dengan pala dan merica. Tanaman ini bahkan menjadi alat tukar menukar bangsa Arab pada abad pertengahan.

Di akhir abad ke-15, orang Portugis mengambil jalur perdagangan cengkih di Laut India melalui perjanjian Tordesillas dengan bangsa Spanyol, serta perjanjian dengan Sultan Ternate.

Selanjutnya, orang Portugis membawa rempah-rempah tersebut dari kepulauan Maluku sampai ke dataran Eropa lalu menjualnya dengan harga fantastis, yakni setara 7 g emas per kilonya.

pohon cengkeh

Sejak zaman Romawi, cengkeh dikenal sebagai rempah-rempah termahal bersama dengan pala dan merica. Foto: Shutterstock.

Baca juga: Kucing Domestik, Hewan Peliharaan Kesayangan Manusia

Dominasi Belanda atas perdagangan pohon cengkeh baru terjadi pada abad ke-17, diikuti dengan Perancis yang berhasil membudidayakan flora tersebut di Mauritius pada tahun 1770-an.

Asal muasal cengkih sendiri sebenarnya masih ahli perdebatkan. Melansir laman resmi Kabupaten Buleleng, flora ini disebut-sebut berasal dari Maluku Utara, Kepulauan Maluku, Filipina atau Irian.

Namun kita patut berbangga hati, sebab pohon cengkeh tertua di dunia ternyata berada di Indonesia. Jenis cengkih ini bernama Afo, ia berumur 416 tahun dengan tinggi mencapai 36,60 m.

Diamater pohon mencapai 198 m dengan keliling batang berkisar 4,26 m. Setiap tahunnya, cengkih yang tertanam di Kelurahan Tongole, Ternate Tengah ini mampu menghasilkan 400 kg bunga.

Manfaat Cengkeh untuk Kesehatan

Ada alasan kuat mengapa bangsa-bangsa terbesar di dunia rela mengarungi samudra untuk mencari keberadaan cengkih, salah satunya karena manfaat dari tumbuhan tersebut.

Seperti yang kita ketahui, manfaat cengkeh untuk kesehatan terhitung sangat banyak. Rempah ini berfungsi sebagai pengawet makanan dan obat herbal karena sifat antioksidan dan antimikrobanya.

Melansir berbagai sumber, pohon cengkeh juga sering masyarakat gunakan sebagai desinfektan, analgesik, serta anestetik pada gigi berlubang. Ia juga ampuh sebagai obat diare, sakit perut, hingga dispepsia.

Manfaat Cengkeh berdasarkan Anatominya

  • Daun Cengkeh; berkhasiat sebagai antibakteri berkat kandungan eugenolnya.
  • Bunga Cengkeh; berguna sebagai obat kolera dan menambah denyut jantung.
  • Minyak Cengkeh; sering digunakan untuk memperkuat lendir usus dan lambung, serta menambah jumlah sel darah putih, mengobati bisul, pengharum mulut dan obat sakit gigi.
  • Bunga Cengkeh; bermanfaat sebagai obat sakit tenggorakan berkat sifat antiseptiknya.

Saat ini Indonesia merupakan negara produsen dan konsumen cengkih terbesar di dunia, utamanya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pembuatan rokok kretek.

Di samping khasiat yang terkandung di dalamnya, aroma cengkih adalah salah satu daya tarik bagi bangsa asing. Berdasarkan data FAO (2012), produksi cengkih dalam negeri mencapai 79,25 ribu ton.

Sedangkan produksi pohon cengkeh dunia pada tahun yang sama berkisar 111,65 ribu ton. Dengan kata lain, negara kita memberikan kontribusi sebesar 70,99 % terhadap total produksi cengkih dunia.

Taksonomi Pohon Cengkeh

rempah

Referensi:

Laman Kabupaten Buleleng 

Ike Ridha Rusnani, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Yanningtyas Septyana Putri, dkk., Politeknik Kesehatan Jogja

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-cengkeh/feed/ 0
Pohon Senggani, Flora Liar yang Bermanfaat bagi Kesehatan https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-senggani/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pohon-senggani https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-senggani/#respond Sun, 07 Mar 2021 03:00:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=27276 Selain sebagai pengawet alami, tanaman ini juga termasuk alternatif baru untuk menghasilkan pewarna makanan alami karena tidak berbahaya bagi kesehatan.]]>

Pohon Senggani (Melastoma candidum) adalah sejenis tanaman perdu yang berasal dari famili Melastomataceae. Meski masyarakat kerap menganggap flora ini sebagai gulma atau tumbuhan pengganggu, nyatanya tanaman berordo Myrtales ini justru memiliki segudang khasiat bagi kesehatan manusia.

Bila kita lihat dari habitatnya, senggani umumnya berkembang biak di kawasan lereng gunung, semak-semak, serta tanah lapang yang tidak terlalu gersang hingga ketinggian 1.650 mdpl.

Tumbuhan ini membutuhkan cahaya matahari yang cukup untuk berkembang secara sempurna, serta sering pula menjadi tanaman penghias untuk kawasan wisata dan jalan raya.

Di berbagai daerah, pohon senggani publik kenali dengan banyak sebutan seperti Senduduk dan Cengkodok (Melayu), Harendong (Sunda), Kluruk (Jawa), dan Kemanden (Madura).

Karakteristik dan Ciri-Ciri Pohon Senggani

Secara morfologi, pohon senggani sejatinya cukup mudah untuk kita cirikan. Mereka tergolong sebagai perdu, yang memiliki batang pendek dan tumbuh tak jauh dari permukaan tanah.

Bagian batangnya sendiri tumbuh tegak setinggi 1,5-5 m dengan percabangan simpodial. Memiliki corak warna cokelat, terdapat helaian daun berbentuk jorong atau bundar telur pada tangkainya.

Letak daun tersebut biasanya berhadapan dan saling bersilang. Helai daun senggani terdominasi warna hijau, tergolong tunggal, serta dapat tumbuh sepanjang 2-20 cm dan lebar antara 1-8 cm.

Apabila kita perhatikan, ujung dan pangkal daun terlihat agak runcing. Bagian tepinya cukup rata, dengan permukaan berambut pendek yang jarang dan kaku.

Jika kita sentuh permukaan daun pohon senggani akan terasa kasar. Ia mempunyai tiga tulang daun yang melengkung, dengan panjang petiolus berkisar 5-12 mm.

Kandungan Kimia pada Tanaman Senggani

Melansir jurnal Universitas Muhammadiyah Malang, berbagai bagian pada pohon senggani nyatanya menyimpan kandungan kimia aktif yang bisa dimanfaatkan untuk beragam kebutuhan.

Menurut penelitian, bagian daun cengkodok memiliki kandungan saponin, flavonoid, dan tanin terhidrolisis. Sedang bunganya mengandung kaempferol, antosianin, tanin, asam lemak dan sterol.

Pada spesies Melastoma malabathricum, bagian bunganya yang berwarna ungu kemerahan bahkan diduga mengandung antosianin. Sehingga bagian ini dapat kita manfaatkan sebagai pewarna alami.

Begitu pula dengan buahnya, antosianin yang terkandung di dalam buah senggani dapat diekstraksi menjadi pewarna buatan alami menggunakan pelarut yang bersifat polar.

pohon senggani

ntosianin yang terkandung di dalam buah senggani dapat diekstraksi menjadi pewarna buatan alami menggunakan pelarut yang bersifat polar. Foto: Shutterstock.

Kegunaan dan Manfaat Pohon Senggani

Tidak cuma pewarna, berkat bentuknya yang unik dan memiliki karakteristik tahan air, akar pohon senggani juga sering masyarakat gunakan sebagai ornamen aquarium atau aquascape.

Namun dari beberapa penelitian yang kami baca, manfaat Yeh mu tan (senggani dalam aksara Cina) justru banyak untuk kesehatan maupun olahan obat tradisional, misalnya:

Manfaat Pohon Senggani bagi Kesehatan:

  • Berkhasiat sebagai penurun panas, penghilang rasa sakit, peluruh urin, pereda pembengkakan, memperlancar aliran darah, serta peredam pendarahan.
  • Akarnya dapat sebagai jamu sehabis persalinan, serta ampuh mengobat sakit gigi.
  • Daunnya bermanfaat untuk mengatasi diare, disentri, tonikum, keputihan, penyakit cacar, dan berguna untuk wanita setelah bersalin.
  • Mampu mengatasi ganguan pencernaan (dispepsia), hepatitis, keputihan, sariawan, mimisan, wasir berdarah, haid berlebihan, pendarahan rahim di luar waktu haid, pembekuan dalam darah (thromboangitis), dan memperlancar air susu ibu.
  • Ekstrak metanol daun senggani mempunyai aktivitas anti bakteri terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Bacillus ereus.
  • Senyawa naringenin, kaempferol, serta kaempferol-3-Od-glukosida yang terdapat dalam bunga senggani mempunyai khasiat sebagai antioksidan.

Menambah daftar panjang di atas, daun muda pohon senggani juga biasa publik manfaatkan sebagai lalapan. Jika direbus, daun tersebut juga berguna mengobati rematik dan radang sendi.

Tidak sampai di situ, menurut pakar daun pohon ini juga berguna bagi budi daya ulat sutra karena berfungsi sebagai pakan. Bijinya yang pahit juga bisa dikonsumsi dan berkhasiat bagi kesehatan.

Pemanfaatan Akar Senggani untuk Aquascape

Walau tumbuh secara liar di kaki bukit dan pinggiran jurang, ternyata pohon senggani memiliki nilai ekonomis yang lumayan. Bagi para aquascaper, akar flora ini berguna sebagai ornamen hiasan.

Ada dua jenis akar senggani yang umumnya dijual di pasaran, yakni dalam bentuk mentah (belum berbentuk rangkaian, biasa penjual perdagangkan per ikat) atau berupa model aquascape bonsai (sudah berbentuk rangkaian).

Berdasarkan hasil penelusuran kami, harga akar senggani mulai dari Rp3 ribu sampai Rp50 ribu. Keistimewaan akar ini terletak pada warnanya yang cokelat tua dan tidak terlalu cerah.

Ukurannya yang relatif kecil turut mempermudah perangkaian akar tersebut menjadi aquascape. Belum lagi, daya tahannya terbilang kuat karena bisa bertahan hingga enam bulan di dalam air.

Taksonomi Pohon Senggani

Taksonomi Senggani

Referensi:

Rika Tri Wardani, Universitas Muhammadiyah Malang

Yuliana Safitri, Universitas Muhammadiyah Malang

Andi Irdam Hidayat, Universitas Islam Negeri Alauddin

Laman Dinas Pertanian Banten

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-senggani/feed/ 0
Takokak, Tanaman Perdu untuk Mengatasi Berbagai Penyakit https://www.greeners.co/flora-fauna/takokak-tanaman-perdu-untuk-mengatasi-berbagai-penyakit/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=takokak-tanaman-perdu-untuk-mengatasi-berbagai-penyakit https://www.greeners.co/flora-fauna/takokak-tanaman-perdu-untuk-mengatasi-berbagai-penyakit/#respond Sun, 31 May 2020 03:00:18 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=27360 Takokak berkhasiat untuk melancarkan sirkulasi darah, menghilangkan rasa sakit (analgetik), dan menghilangkan batuk (antitusif).]]>

Tanaman takokak atau Solanum tarvum merupakan sejenis perdu yang seluruh bagiannya dilapisi oleh bulu. Meskipun sering dianggap tanaman liar, masyarakat sering memanfaatkan takokak mentah sebagai sayur.

Tumbuhan ini banyak berkembang di hutan, tepi sungai, ladang, kebun, dan kadang dibudidayakan di halaman. Takokak dapat tumbuh dengan baik di berbagai jenis tanah. Misalnya pada lahan yang tidak terlalu berair, ternaungi sedang hingga tersinari matahari, dan di ketinggian 1-1.800 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini selalu tumbuh secara tersebar (Heyne 1987, Zuhud et al., 2003).

Baca juga: Bunga Pagoda, Tanaman Hias Berbentuk Piramida

Flora dari suku terung-terungan ini berasal dari Amerika dan kemudian tersebar luas ke wilayah Asia. Di Indonesia, persebarannya meliputi daerah Sumatera, Kalimantan, Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Ambon, Maluku, Halmahera, Ternate, dan Irian Jaya (Zuhud et al., 2003). Takokak memiliki nama daerah seperti terong pipit atau pokak, terong rimbang (Melayu), takokak (Jawa Barat), dan terong cepoka (Jawa Tengah) (Sirait & Balittro, 2009).

Habitus atau ciri fisik takokak adalah perdu yang seluruhnya dilapisi bulu bintang berwarna putih kuning dengan tinggi 2 hingga 4 meter. Sistem perakarannya berupa akar tunggang berwarna kuning cokelat. Batang takokak berbentuk bulat, berkayu, berwarna putih kotor atau keunguan, berduri tajam serta tegak, dan berbulu pada waktu  muda. Tanaman ini berdaun tunggal, tersebar, dan bertangkai.

Tanaman Takokak

Foto: shutterstock.com

Ciri-ciri bunga takokak antara lain bersifat majemuk, berbentuk bintang, berkelopak bulu, bertajuk lima, dan runcing. Panjang bunga diperkirakan sekitar 5 milimeter dengan benang sari lima dan bertangkai panjang kira-kira 1 milimeter. Kepala sarinya memiliki panjang kira-kira 6 milimeter berbentuk jarum, berwarna kuning, bertangkai putik kira-kira 1 sentimeter dengan corak putih, dan berkepala putik kehijauan (Sirait, 2009). Buah takokak berbentuk buni, bulat, dan licin. Ketika masih muda, buahnya berwarna hijau dan setelah tua berubah menjadi jingga.

Baca juga: Pewarna Alami dari Tanaman Liar Senggani

Takokak mampu melancarkan sirkulasi darah, menghilangkan rasa sakit (analgetik), dan menghilangkan batuk (antitusif) (Rahmat, 2009). Buah, bunga, dan daun takokak digunakan sebagai obat darah tinggi hingga penambah nafsu makan. Tanaman ini juga dapat digunakan sebagai obat sakit lambung, sakit gigi, tidak datang haid, obat sakit pinggang kaku, darah tinggi, penambah nafsu makan, mata kering, buta malam, anti radang, dan alat kontrasepsi (Mangoting dkk, 2008).

Selain itu, takokak dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk pemakaian luar. Menurut buku Tanaman Berkhasiat Obat Indonesia, cara pemakaian takokak untuk mengobati bisul dan koreng adalah dengan mencuci daun segar sampai bersih kemudian menggilingnya secara halus. Bahan tersebut lalu dibubuhkan ke tempat yang sakit dan dibalut.

Taksonomi Takokak

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/takokak-tanaman-perdu-untuk-mengatasi-berbagai-penyakit/feed/ 0
Delima, Si Buah Manis Kaya Khasiat https://www.greeners.co/flora-fauna/delima-si-buah-manis-kaya-khasiat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=delima-si-buah-manis-kaya-khasiat https://www.greeners.co/flora-fauna/delima-si-buah-manis-kaya-khasiat/#respond Mon, 28 Oct 2019 06:09:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=24541 Buah delima kaya akan kandungan serat dan memiliki banyak rmanfaat, diantaranya untuk menurunkan berat badan dan tekanan darah tinggi.]]>

Putih-putih melati, Alibaba.. Merah-merah delima, Pinokio..”

Sepenggal lirik tersebut sangatlah tidak asing bagi generasi yang suka bermain permainan tradisional. Sepintas permainan ini menyebutkan nama dua jenis flora yaitu melati dan delima. Flora melati identik dengan bunganya yang berwarna putih, namun bagaimana dengan delima? Apakah tumbuhan ini berwarna merah sesuai dengan sebutannya dalam lirik permainan tersebut? Yuk, cari tahu dalam artikel ini!

Sebutan ‘merah-merah delima’ dalam permainan tersebut sesuai dengan kondisi tanaman delima, yang buahnya identik berwarna merah. Tumbuhan delima (Punica granatum) merupakan tanaman semak atau perdu meranggas yang dapat tumbuh dengan tinggi mencapai 5-8 meter. Tanaman ini berasal dari Persia dan daerah Himalaya yang terletak di selatan India. Tanaman buah delima tersebar mulai dari daerah subtropik hingga tropik, dari dataran rendah hingga ketinggian di bawah 1000 mdpl.

Nama daerah untuk tanaman ini, Glima (Aceh), Dalimo (Batak), Delima (Melayu), Delima Jawa (Jawa Tengah), Dhalima (Madura), Jeliman (Nusa Tenggara). Penamaan dalam bahasa Inggris yaitu Pomegranate. Tanaman ini sangat cocok untuk ditanam di tanah yang gembur dan tidak terendam oleh air, serta air tanahnya tidak dalam (Madhawati, 2012).

Tanaman delima termasuk perdu atau pohon kecil yang memiliki tinggi 2-5 meter. Batangnya berkayu dengan ranting yang bersegi dan bercabang banyak, dan memiliki duri pada ketiak daunnya. Batangnya berwarna cokelat ketika masih muda, dan berwarna hijau gelap setelah tua.

Delima dapat berbunga sepanjang tahun. Bunga delima biasanya 1-5 kuntum berada di ujung ranting, berlilin, panjang dan lebarnya masing-masing 4-5 cm, daun kelopak dan penyangganya sama-sama 2-3 cm panjangnya. Bunga delima biasanya berwarna merah, putih dan ungu. Warna bunga dapat menentukan warna daging buah delima di dalamnya (Madhawati, 2012).

Buah delima memiliki bentuk buah yang bulat, berdiameter 5-12 cm. Memiliki warna kulit yang beragam, tergantung jenisnya. Daging buah delima merupakan kulit biji yang menebal dan tersusun secara padat. Daging buah tersebut dikonsumsi langsung bersama biji-bijinya karena didalam biji banyak terkandung senyawa polifenol.

Buah Delima, Si Buah Manis Kaya Khasiat

Foto : shutterstock

Delima dikenal memiliki tiga macam buah, yaitu delima putih, delima merah, dan delima ungu. Buah delima dapat dimakan dalam keadaan segar, sebagai campuran rujak buah, salad buah, jus atau sari buah (Sasongkawati Retno, 2013). Buah delima merah memiliki rasa yang manis dengan biji-biji buah yang merah menyala, daging buahnya berair (Marhari dan Dewi, 2014).

Manfaat Delima

Delima kaya dengan mineral, seperti kalium, tembaga, magnesium, fosfor, seng dan selenium. Buah ini merupakan sumber vitamin C, K, dan asam pantotenat dalam jumlah besar. Vitamin B5 atau asam pantotenat adalah nutrisi yang penting bagi metabolisme tubuh untuk proses pemecahan karbohidrat, protein, dan lemak (Sasongkawati, 2013).

Buah delima juga kaya akan kandungan serat. Kandungan serat pada buah delima adalah 4 gr per 100 g (kira-kira 12% kebutuhan harian). Kandungan serat tersebut bermanfaat bagi pencernaan karena dapat mempelancar pencernaan dan gerakan usus.

Manfaat buah delima yakni membantu menurunkan berat badan, tekanan darah tinggi (hipertensi), mengurangi resiko serangan jantung dan stroke, mencegah anemia, mencegah dan mengobati kanker, perut kembung, menurunkan demam, dan dapat mencegah kerusakan tulang (Sasongkawati Retno, 2013).

Secara tradisional kulit buah, daun dan biji digunakan untuk menghentikan pendarahan, sakit perut karena cacing, mengurangi radang tenggorokan, peluruh dahak, peluruh haid, astringen usus dan sebagai obat antidiare (Prasetya, 2013). Tingginya manfaat buah delima ini menjadikannya sebagai buah istimewa untuk kesehatan.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/delima-si-buah-manis-kaya-khasiat/feed/ 0
Kelor, Si Mungil yang Mujarab Bagi Kesehatan https://www.greeners.co/flora-fauna/kelor-si-mungil-yang-mujarab-bagi-kesehatan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kelor-si-mungil-yang-mujarab-bagi-kesehatan https://www.greeners.co/flora-fauna/kelor-si-mungil-yang-mujarab-bagi-kesehatan/#respond Tue, 08 Oct 2019 23:00:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=24392 Mungkin kita pernah mendengar peribahasa “dunia tak selebar daun kelor”? Peribahasa tersebut mengandung makna bahwa dunia itu tidak sempit, jadi janganlah cepat berputus asa dalam menghadapi suatu keadaan atau kegagalan, karena […]]]>

Mungkin kita pernah mendengar peribahasa “dunia tak selebar daun kelor”? Peribahasa tersebut mengandung makna bahwa dunia itu tidak sempit, jadi janganlah cepat berputus asa dalam menghadapi suatu keadaan atau kegagalan, karena masih banyak pilihan lain.

Dalam artikel ini kita bukan ingin membedah lebih dalam makna peribahasa “daun kelor”, melainkan kita akan membahas mengenai keunggulan tanaman dan manfaat daun kelor bagi manusia.

Tanaman kelor (Moringa Oleifera) merupakan tanaman tropis yang mudah tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia dan berbagai kawasan tropis lainnya di dunia. Tanaman yang berasal dari dataran sepanjang sub Himalaya yaitu India, Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan ini termasuk jenis tumbuhan perdu berumur panjang.

Kelor dikenal di berbagai daerah di Indonesia dengan nama yang berbeda seperti Kelor (Jawa, Sunda, Bali, Lampung), Maronggih (Madura), Moltong (Flores), Keloro (Bugis), Ongge (Bima), dan Hau fo (Timur). Dalam bahasa Inggris tanaman ini disebut Drumstick tree.

Ciri fisik

Tanaman kelor merupakan tanaman dengan ketinggian 7-11 meter. Tanaman ini berupa semak atau pohon dengan akar yang kuat, dan berumur panjang. Kelor mampu hidup di berbagai jenis tanah, tidak memerlukan perawatan yang intensif, tahan terhadap musim kemarau, dan mudah dikembangbiakkan (Simbolon dkk 2007).

Batang kelor berkayu, tegak, berwarna putih kotor, berkulit tipis dengan permukaan kasar dan mudah patah. Hal ini dikarenakan jenis kayunya lunak dan memiliki kualitas rendah. Bagian daun kelor tipis, bersirip tidak sempurna, berbentuk kecil dan menyerupai telur, serta hanya sebesar ujung jari. Bisa jadi peribahasa daun kelor tersebut betul-betul terinspirasi dari bentuk daun kelor yang mungil.

Kelor, Si Mungil yang Mujarab Bagi Kesehatan

Foto : Wikimedia Commons

Buahnya berbentuk panjang sekitar 20 – 60 cm, ketika masih muda berwarna hijau, namun setelah tua warnanya berubah menjadi cokelat, biji berbentuk bulat berwarna cokelat kehitaman dengan sayap biji ringan, sedangkan kulit biji mudah dipisahkan sehingga meninggalkan biji yang berwarna putih.

Kelor memiliki bunga yang berwarna putih kekuning-kuningan yang keluar sepanjang tahun dengan aroma semerbak yang khas. Selain itu, tanaman ini juga memiliki buah panjang dan berbentuk segitiga. Panjang buah sekitar 20-60 cm. Ketika masih muda, buah kelor berwana hijau dan berubah menjadi coklat ketika tua (Tilong, 2012). Untuk rasanya, kelor memiliki rasa agak pahit, bersifat netral, dan tidak beracun.

Terdapat beberapa julukan untuk pohon kelor diantaranya The Miracle Tree, Tree For Life, dan Amazing Tree. Julukan tersebut muncul karena bagian pohon kelor mulai dari daun, buah, biji, bunga, kulit, batang, hingga akar memiliki manfaat yang luar biasa.

Daun kelor

Daun kelor adalah bagian yang banyak mengandung manfaat. Secara umum daun kelor dapat dikonsumsi karena mengandung gizi dan protein tinggi. Manfaat dari daun kelor antara lain sebagai anti peradangan, hepatitis, memperlancar buang air kecil, dan anti alergi. Daun kelor banyak digunakan dan dipercaya sebagai obat infeksi, anti bakteri, infeksi saluran urin, luka eksternal, antihipersensitif, anti anemik, diabetes, colitis, diare, disentri, dan rematik.

Secara tradisional, daun kelor dimasak dan digunakan seperti bayam dan katuk. Selain digunakan segar sebagai pengganti bayam, daunnya bisa dikeringkan dan ditumbuk menjadi bubuk digunakan dalam sup dan saus. Di beberapa negara, tanaman kelor diolah dalam bentuk makanan seperti tepung daun kelor, bubur, sirop, teh daun kelor, saus kelor, biskuit kelor dan lainnya. Untuk manfaat kelor yang lebih lengkap, kalian bisa baca di artikel Greeners edisi 28 Mei 2015.

tabel klasifikasi daun kelor

Penulis : Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kelor-si-mungil-yang-mujarab-bagi-kesehatan/feed/ 0
Tarum, Primadona Pewarna Alami Batik https://www.greeners.co/flora-fauna/tarum-primadona-pewarna-alami-batik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tarum-primadona-pewarna-alami-batik https://www.greeners.co/flora-fauna/tarum-primadona-pewarna-alami-batik/#respond Wed, 02 Oct 2019 05:09:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=24356 Hari Batik Nasional dirayakan setiap tanggal 2 Oktober. Untuk merayakan Hari Batik Nasional, pemerintah pun biasanya mengimbau kepada seluruh pejabat dan pegawai di lingkungan pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota untuk […]]]>

Hari Batik Nasional dirayakan setiap tanggal 2 Oktober. Untuk merayakan Hari Batik Nasional, pemerintah pun biasanya mengimbau kepada seluruh pejabat dan pegawai di lingkungan pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota untuk menggunakan baju batik.

Pewarnaan pada batik menjadi salah satu unsur penting dalam menciptakan karya seni batik yang indah. Warna baju batik identik dengan warna yang mencolok. Umumnya pewarnaan batik berasal dari pewarna alami dan kimia.

Untuk bahan pewarna alami batik bisa didapat dari bahan tumbuh-tumbuhan yang diekstrak. Bahan tersebut bisa berasal dari akar, batang, kulit, daun, bunga maupun buah-buahan. Salah satu tanaman penghasil pewarna alami batik yaitu tanaman Tarum.

Tarum (Indigofera tinctoria) adalah sejenis pohon polong-polongan yang berbunga ungu (violet). Tanaman ini dimanfaatkan untuk menghasilkan warna biru dari hasil ekstraksi daun. Zat yang dihasilkan oleh tanaman tarum banyak dimanfaatkan sebagai pewarna batik, tekstil, ataupun ulos.

Tarum memiliki daya adaptasi terhadap lingkungan yang cukup tinggi.  Tarum tumbuh subur di tanah  gembur kaya organik. Tarum  telah  dibudidayakan  secara  luas di  India  dan  Asia  tenggara pada abad  16. Penggunaan tarum pertama kali di Cina telah terjadi selama kurang lebih dari 6.000 tahun.

Tarum memiliki berbagai penamaan di tiap daerah dan negara khususnya, di wilayah Asia Tenggara. Dalam bahasa Sunda tanaman ini dikenal dengan sebutan tanaman mangsi-mangsian. Orang Jawa menyebutnya sebagai tom, dan orang di daerah Samosir menyebutnya sebagai salaon.

Tarum, Primadona Pewarna Alami Untuk Batik

WArna biru indigo yang didapat dari hasil celupan benang pada olahan Tarum. Foto : Shutterstock

Untuk di wilayah Asia Tenggara, seperti Filipina disebut tagung-tagung, Khaam (Laos), khraam (Thailand), dan cham Nhuom (Vietnam). Uniknya lagi, banyak tempat di wilayah Jawa Barat yang diberi nama berdasarkan nama tanaman tarum diantaranya Citarum, Tarumanegara, Banjar Pataruman, dan Tarumajaya.

Tarum merupakan tumbuhan perdu tegak, bercabang banyak, dengan tinggi 1-1,80 m. Ujung ranting hijau atau kemerahan. Anak-anak daunnya berukuran kecil tersusun ganda dengan jumlah antara 5-13 helai. Bentuk helaiannya bundar telur sampai lonjong. Tandan bunga ke luar di ketiak daun yang tumbuh tegak. Umumnya polong tarum berbentuk bulat lurus sampai agak melengkung, dan berisi 3-12 biji. Jumlah polong pada tiap pohonnya banyak.

Daun tarum mengandung tanin, flavonoid, alkaloid, glikosida dan fenol (Swadhini, 2011). Daunnya pun mengandung zat warna yang disebut dengan indigo, dimana merupakan senyawa indoksil yang larut dalam air dan mudah teroksidasi menjadi indigo yang berwarna biru (Lemmens, 1992).

Zat pewarna indigo yang dikeluarkan dalam tanaman ini telah menjadi komoditi dagang yang penting. Selain sebagai penghasil warna biru dan indigo, tarum juga digunakan sebagai penghasil warna hijau dengan mengombinasikan dengan pewarna alam kuning lainnya. Penggunaan pewarna alami selain aman bagi manusia juga aman bagi lingkungan,

Disamping berguna sebagai pewarna batik atau tekstil alami, tanaman ini juga dimanfaatkan sebagai tanaman penutup tanah dan pupuk hijau, khususnya di perkebunan teh, kopi dan karet. Daun tarum digunakan pula dalam pengobatan tradisional untuk menyembuhkan penyakit ayan, luka dan borok (Muzayyinah, 2012).

Tabel Klasifikasi Tanaman Tarum

Penulis : Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/tarum-primadona-pewarna-alami-batik/feed/ 0
Tanaman Patah Tulang, Harapan Tulang yang Patah https://www.greeners.co/flora-fauna/tanaman-patah-tulang-harapan-tulang-yang-patah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tanaman-patah-tulang-harapan-tulang-yang-patah https://www.greeners.co/flora-fauna/tanaman-patah-tulang-harapan-tulang-yang-patah/#respond Sat, 23 Mar 2019 13:05:38 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=22892 Ciri khas tanaman ini adalah tidak memiliki daun dan hanya tersusun atas batang-batang yang mirip tulang belulang. Seperti namanya, tanaman patah tulang (Euphorbia tirucalli L.) dapat mempercepat penyembuhan patah tulang.]]>

Kalau Anda mengalami patah tulang, maka Anda dapat memanfaatkan tanaman ‘patah tulang’ sebagai solusi pengobatan tradisional. Contohnya saja di Kabupaten Yapen, Jayapura. Masyarakat setempat menggunakan tanaman patah tulang untuk mempercepat penyembuhan patah tulang. Mereka memanfaatkan seluruh bagian tanaman yang sudah ditumbuk dan dicampur minyak kelapa murni kemudian menempelkannya pada tulang yang patah.

Tanaman patah tulang (Euphorbia tirucalli L.) juga dikenal dengan nama kayu urip, susuru (Sunda), pacing tawa, tikel balung (Jawa), kayu jaliso, kayu leso, kayu langtolangan, kayu tabar (Madura), patah tulang (Sumatera). Tanaman ini berasal dari wilayah Afrika tropis.

Tanaman ini menyenangi tempat terbuka, dimana banyak terkena cahaya matahari langsung. Mereka dapat ditemukan dari dataran rendah sampai ketinggian 600 m.

Di Indonesia, selain menjadi tanaman obat, patah tulang sering ditanam sebagai tanaman pagar, tanaman hias di pot atau dibiarkan tumbuh liar. Perdu yang tumbuh tegak ini mempunyai tinggi 2-6 m dengan pangkal berkayu, bercabang banyak, dan bergetah dengan warna getah seperti susu.

tanaman patah tulang

Bunga tanaman patah tulang merupakan bunga majemuk dan tersusun seperti mangkok. Foto: wikimedia commons

Ciri khas tanaman ini adalah tidak memiliki daun dan hanya tersusun atas batang-batang yang mirip tulang belulang. Patah tulang mempunyai ranting yang bulat silindris berbentuk pensil, beralur, dan berwarna hijau. Rantingnya setelah tumbuh sekitar satu jengkal akan segera bercabang dua yang letaknya melintang, demikian seterusnya sehingga tampak seperti percabangan yang terpatah-patah.

Daunnya jarang, berukuran kecil dan terdapat pada ujung ranting yang masih muda, bentuknya lanset dengan panjang 7-25 mm, dan mudah rontok. Bagian bunganya bertipe majemuk, tersusun seperti mangkuk, berwarna kuning kehijauan seperti ranting. Jika masak, buahnya akan pecah dan mengeluarkan biji-biji. Di Jawa tanaman ini jarang sekali berbunga, perbanyakan dilakukan dengan cara stek batang.

Secara empiris getah dari tanaman patah tulang memiliki manfaat mengobati luka akut, penyakit menular, tumor, serta memiliki aktifitas antibakteri yang dapat mencegah infeksi pada luka (Yi Q et al, 2017). Tanaman ini mengandung getah asam (latex acid) dengan kandungan senyawa kimia seperti euphol, taraksasterol, lakterol, kutschuk (zat karet), alkaloid, tanin, flavonoid, steroid, triterpenoid, dan hidroquinon (Toana dan Nasir, 2010).

Bagian tanaman ini yang paling sering dimanfaatkan untuk obat adalah kulit batang, ranting dan akarnya. Uniknya, tanaman ini dianggap bisa mencegah tahi lalat tumbuh membesar. Caranya adalah dengan menggosok tahi lalat dengan air jeruk nipis, lalu olesi dengan getah patah tulang. Lakukan beberapa kali sehari dan jangan sampai terkena mata.

Getah tanaman ini berbahaya jika mengenai mata karena dapat menyebabkan kebutaan. Jika getahnya terkena mata sesegera mungkin mata dicuci dengan air kelapa atau santan (Arief, 2007). Diimbau untuk melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan pakar kesehatan atau ahli tanaman obat sebelum menjalani pengobatan tradisional dengan menggunakan tanaman ini.

tanaman patah tulang

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/tanaman-patah-tulang-harapan-tulang-yang-patah/feed/ 0
Daun Afrika, Bukan Sekadar Tanaman Tropis https://www.greeners.co/flora-fauna/daun-afrika-bukan-sekadar-tanaman-tropis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=daun-afrika-bukan-sekadar-tanaman-tropis https://www.greeners.co/flora-fauna/daun-afrika-bukan-sekadar-tanaman-tropis/#respond Thu, 21 Mar 2019 07:03:03 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=22868 Daun afrika (Vernonia amygdalina) memiliki daun berwarna hijau gelap dengan bau yang khas dan rasanya pahit. Daun afrika biasanya dikonsumsi sebagai sayuran setelah dihilangkan rasa pahitnya.]]>

Vernonia amygdalina atau African bitter leaf atau dalam penamaan bahasa Indonesia disebut ‘daun afrika’ merupakan salah satu jenis tanaman tropis dari famili Asteraceae. Daun afrika memiliki daun berwarna hijau gelap dengan bau yang khas dan rasanya pahit. Daun afrika biasanya dikonsumsi sebagai sayuran setelah dihilangkan rasa pahitnya melalui perendaman atau perebusan untuk menghilangkan komponen astringent yang terkandung di dalamnya.

Sesuai dengan namanya, tanaman ini tumbuh di daerah di Afrika termasuk Zimbabwe dan Nigeria yang beriklim tropis dan dapat tumbuh secara liar. Di Nigeria, Ghana dan Kamerun tanaman ini ditanam di kebun dan di sekitar perumahan sebagai tanaman obat maupun tanaman pagar.

Tanaman yang disebut ewuro dalam bahasa Nigeria ini tumbuh secara alami di sepanjang sungai, danau, pinggiran hutan serta pegunungan hingga 2.800 meter diatas permukaan laut. Tanaman daun afrika juga tumbuh di wilayah yang memiliki curah hujan tahunan 750-2000 mm. Daun afrika dapat tumbuh di tempat dengan sinar matahari yang cukup dan memiliki lingkungan yang lembab. Tanaman ini tumbuh pada semua jenis tanah, tetapi lebih subur lagi bila ditanam pada tanah yang kaya humus (Ofori dkk, 2013).

Tanaman daun afrika dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 7-10 meter. Tanaman semak ini mempunyai batang tegak, berkayu dan berwarna cokelat. Memiliki daun majemuk berbentuk elips, dengan panjang daun 15-25 cm dan lebar 5-8 cm, pertulangan menyirip, tepi bergerigi. Beberapa penelitian menemukan bahwa tanaman daun afrika memiliki bunga yang tumbuh pada lingkungan tertentu, berwarna putih, harum dan sering menarik kedatangan lebah.

tanaman daun afrika

Bunga dari tanaman daun afrika. Foto: wikimedia commons

Penggunaan tanaman daun afrika sebagai tanaman obat dimulai ketika farmasi kebun binatang memberikan batang tanaman ini pada simpanse yang sakit. Berawal dari laporan tersebut, maka mulai banyak peneliti yang melakukan penelitian ilmiah tentang manfaat ekstrak medis dari tanaman ini. Tanaman daun afrika memiliki aktivitas sebagai antibakteri, antijamur, antivirus, antiinflamasi, analgesik, antioksidan, antimalaria, antidiabetes, dan antikanker.

Adapun nutrisi dan senyawa kimianya, antara lain protein 19,2%, serat 19,2%, karbohidrat, 68,4%, lemak 4,7%, asam askorbat 166,5% mg/100gr, karotenoid 30 mg/100gr, kalsium 0,97gr/100gr, fosfor, kalium, sulfur, natrium, mangan, tembaga, zink, magnesium dan selenium. Sedangkan senyawa kimianya antara lain saponin (vernoniosida dan steroid saponin), seskuiterpen (vernolida, vernodalol, vernoolepin, vernodalin dan vernomygdin), flavonoid, koumarin, asam fenolat, lignin, xanton, terpen, peptide dan luteolin.

Kegunaan yang paling utama dari daun afrika adalah untuk pengobatan diabetes, hipertensi, penyakit sendi (gout), dan kanker (Ijeh, 2010). Dalam mengobati diabetes misalnya dapat dilakukan dengan meminum rebusan daun afrika (sebaiknya tidak menambahkan bahan tambahan lain).

Ekstrak akar tanaman daun afrika juga dapat digunakan untuk mengobati malaria dan penyakit saluran pencernaan. Ditambah lagi dapat digunakan sebagai stik pembersih gigi (chewing stick) untuk menjaga kesehatan mulut dan berkontribusi terhadap penyembuhan gusi (gingiva), menyingkirkan mikroorganisme kariogenik, menghambat pembentukan plak, dan berefek mengurangi karies pada gigi.

tanaman daun afrika

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/daun-afrika-bukan-sekadar-tanaman-tropis/feed/ 0
Singawalang, Khasiat Daunnya Lawan Penyakit TBC https://www.greeners.co/flora-fauna/singawalang-khasiat-daunnya-lawan-penyakit-tbc/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=singawalang-khasiat-daunnya-lawan-penyakit-tbc https://www.greeners.co/flora-fauna/singawalang-khasiat-daunnya-lawan-penyakit-tbc/#respond Wed, 13 Mar 2019 11:41:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=22773 Hingga saat ini penggunaan tanaman singawalang belum banyak dimanfaatkan di Indonesia, sedangkan di Karibia, Amerika Latin, Afrika Barat dan daerah lainnya sudah ratusan tahun digunakan untuk mengobati berbagai penyakit.]]>

Dalam laporan Departemen Riset dan Teknologi tahun 2010, penyakit infeksi masih merupakan penyumbang tertinggi angka kesakitan dan angka kematian di negara berkembang termasuk di Indonesia. Dengan demikian, penemuan antibakteri baru merupakan kebutuhan yang sangat mendesak. Penting untuk meningkatkan ketersediaan obat dan pencarian senyawa baru yang berkhasiat sebagai obat.

Informasi penggunaan tumbuhan dalam pengobatan tradisional merupakan salah satu pendekatan untuk menemukan obat baru. Seperti yang diketahui bahwa pengembangan antimikroba dari tumbuhan mempunyai prospek yang baik untuk mengatasi resistensi mikroba. Salah satu tumbuhan yang memiliki kemampuan tersebut adalah Petiveria alliaceae atau disebut singawalang.

Singawalang termasuk dalam famili Phytolaceae. Sebagai tanaman introduksi, singawalang masuk ke Indonesia melalui India. Singawalang dapat tumbuh subur di kebun-kebun di daerah panas.

Hingga saat ini penggunaan tanaman singawalang belum banyak dimanfaatkan di Indonesia, sedangkan di Karibia, Amerika Latin, Afrika Barat dan daerah lainnya sudah ratusan tahun digunakan sebagai pereda rasa sakit, flu, anti inflamasi, antitumor, antibakteri, antijamur, antihi perlipidemia, antidiabetes dan untuk menangani penyakit lainnya (Tropical Plant Database-Anamu, 2010).

Dikutip dari laman intisari.grid.id, secara fisik bentuk singawalang berbentuk semak-semak merunduk. Tinggi singawalang mencapai 1 meter. Berdaun jorong dengan panjang 6-19 cm, meruncing atau lancip, tajam, lentur, dan tak bertajuk. Buahnya longkah berbentuk garis seperti taji sepanjang 6 mm. Singawalang memiliki bau seperti marga bawang (Allium). Bila daunnya termakan oleh ternak maka akan meninggalkan bau yang tak sedap pada susu dan daging.

daun singawalang

Bunga dan daun singawalang. Foto: wikimedia commmons

Beberapa penelitian menyebutkan, singawalang memiliki kandungan senyawa saponin, polifenol, kumarin, flavonoid, dan alkanoid pada akar, batang, dan daun (Ayodele et al. 2000, Kubec et al. 2003, Mulyani et al. 2012). Tanaman ini biasa digunakan sebagai insektisida nabati.

Secara tradisional singawalang digunakan sebagai analgetik, antiinflamasi dan sebagai tanaman obat untuk batuk berdarah. Ekstrak etanol dari tanaman tersebut berkhasiat sebagai obat antidiabetes (Susilawati et al. 2016). Selain itu, pengujian etnobotani yang dilakukan di salah satu daerah di Bogor menunjukkan penggunaan singawalang dapat mengurangi lama terapi pada penderita tuberkolosis .

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan bahwa tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang organ, terutama paru-paru. Bila tidak diobati atau pengobatannya tidak tuntas, penyakit ini dapat menimbukan komplikasi berbahaya hingga kematian.

Pemanfaatan tanaman singawalang memberikan secercah harapan dalam upaya penyembuhan penyakit tuberkolosis. Daun pada tanaman singawalang dapat menjadi obat alternatif untuk menyembuhkan penyakit mematikan tersebut. Karena berkhasiat obat, maka pada 10 April 1993, presiden Soeharto, presiden Republik Indonesia saat itu, menjulukinya sebagai ‘daun tangguh’.

Dikutip pada laman fimela.com, resep untuk membuat obat herbal dari daun singawalang yaitu sediakan segenggam daun singawalang dan dua gelas air. Cuci bersih daun singawalang, kemudian bahan tersebut direbus hingga airnya tersisa satu gelas. Setelah selesai direbus maka tunggu hingga dingin, lalu diminum. Terapkan resep ini setiap pagi, siang dan sore setelah makan sampai penyakit benar-benar sembuh.

daun singawalang

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/singawalang-khasiat-daunnya-lawan-penyakit-tbc/feed/ 0
Tapak Dara, Tanaman Mungil Penumpas Kanker https://www.greeners.co/flora-fauna/tapak-dara-tanaman-mungil-penumpas-kanker/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tapak-dara-tanaman-mungil-penumpas-kanker https://www.greeners.co/flora-fauna/tapak-dara-tanaman-mungil-penumpas-kanker/#respond Sat, 02 Mar 2019 08:34:33 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=22687 Tapak dara (Catharanthus roseus) berasal dari Amerika Tengah dan umumnya ditanam sebagai tanaman hias. Tanaman berbunga mungil ini ternyata mempunyai khasiat yang besar untuk kesehatan manusia.]]>

Pengetahuan penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional telah diwariskan secara turun-temurun. World Health Organization (WHO) merekomendasikan penggunaan obat tradisional, termasuk herbal, dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit. Begitu juga dengan pemanfaatan tapak dara sebagai tanaman obat. Selain jumlahnya banyak dan mudah ditemukan di berbagai wilayah, tanaman berbunga mungil ini mempunyai khasiat yang besar untuk kesehatan manusia.

Tapak dara (Catharanthus roseus) dikenal dengan berbagai sebutan ilmiah Vinca rosea, Vinca multiflora, Ammocallis rosea dan Lochnera rosea. Tapak dara pun mempunyai banyak penamaan di berbagai negara. Di Indonesia dikenal dengan tapak dara, rutu-rutu, kembang serdadu; di Inggris dikenal dengan nama madagascar periwinkle, rose periwinkle; di Melayu disebut kemunting cina; di Vietnam hoa hai dang, Filipina tsitsirika; dan Cina chang chun hua.

Tapak dara berasal dari Amerika Tengah dan umumnya ditanam sebagai tanaman hias. Tanaman ini tumbuh subur di pedesaan beriklim tropis namun bisa ditemukan di berbagai tempat dengan iklim yang berbeda-beda. Ia dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah hingga ketinggian 800 meter di atas permukaan laut.

Tanaman tapak dara memiliki tinggi 0.2 – 0.8 m dan batangnya bercabang banyak. Tanaman ini bisa diperbanyak dengan biji, stek batang, atau akar. Batangnya berbentuk bulat dengan diameter berukuran kecil, berkayu, beruas dan bercabang. Bentuk daun memanjang dengan bulu-bulu halus di kedua sisinya dan posisi daun saling berhadapan.

tanaman tapak dara

Foto: wikimedia commons

Bunga tapak dara tumbuh di ketiak daun dan berukuran kecil, sepintas mirip telapak burung merpati sehingga tanaman ini dijuluki dengan tapak dara (telapak merpati). Pada umumnya bunga tapak dara berwarna putih dan ungu yang terdiri atas 5 kelopak.

Pada akar, batang, daun hingga bunganya mengandung berbagai zat kimia yang bermanfaat untuk pengobatan. Kandungan senyawa aktif tapak dara sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, geografis, dan unsur hara di dalam tanah. Hasil analisa fitokimia pada ekstrak daun tapak dara menunjukkan adanya kandungan tanin, triterpenoid, alkaloid (seperti vinblastin, vinkristin, vinceine), dan flavonoid.

Dengan senyawa aktif yang terkandung di dalamnya, tidak heran jika tanaman ini memiliki berbagai khasiat obat, diantaranya sebagai penenang (sedatif), menghentikan perdarahan (hemostatis), menetralkan panas, dan mengobati diabetes.

Tapak dara juga dimanfaatkan sebagai tanaman obat untuk mengobati penyakit tumor ganas dan leukemia (kanker darah) pada anak-anak, kanker payudara, kanker limposit dan kanker uterus. Senyawa vinblastine dan vinkristin digunakan sebagai obat kanker yang diekstrak dari daun tanaman tapak dara. Seperti dikutip dari portal uny.ac.id, pemanfaatan tanaman tapak dara sebagai obat leukemia dilakukan dengan mengeringkan bunga dan daunnya untuk dijadikan teh celup.

tanaman tapak dara

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/tapak-dara-tanaman-mungil-penumpas-kanker/feed/ 0
Gambir, Teman Menyirih Penghasil Devisa https://www.greeners.co/flora-fauna/gambir-teman-menyirih-penghasil-devisa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gambir-teman-menyirih-penghasil-devisa https://www.greeners.co/flora-fauna/gambir-teman-menyirih-penghasil-devisa/#respond Tue, 26 Feb 2019 10:19:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=22645 Gambir (Uncaria gambir) merupakan tanaman komoditas unggulan. Gambir juga umum dijadikan teman mengunyah sirih. Menyirih yang dicampur pinang, kapur dan getah gambir dipercaya bisa memperkuat gigi.]]>

“Gambir” bukan sekadar nama daerah ataupun nama salah satu stasiun di Jakarta. Gambir merupakan nama tanaman komoditas unggulan yang banyak ditemukan di beberapa daerah di Indonesia, diantaranya Sumatera Barat dan Riau. Kedua wilayah ini merupakan daerah produksi gambir dan telah diekspor diantaranya ke India, Pakistan, Singapura, Thailand dan Malaysia.

Pada tahun 2014, ekspor gambir dalam bentuk mentah tercatat mencapai 14 ribu ton ke 10 negara di dunia dengan jumlah terbesar ke India mencapai 12 ribu ton. Indonesia bahkan memasok sekitar 90% kebutuhan pasar dunia.

Gambir (Uncaria gambir) termasuk dalam suku kopi-kopian. Tanaman ini tergolong tanaman perdu yang membelit dan memiliki batang keras. Ia tumbuh dengan baik pada daerah dengan ketinggian 900 m dari permukaan laut. Tanaman ini membutuhkan cahaya matahari penuh serta curah hujan yang merata sepanjang tahun.

Ciri morfologinya terletak dari batangnya yang tegak, percabangan simpodial dan batang berwarna coklat pucat. Daunnya merupakan daun tunggal, berhadapan, berbentuk elips, ujung meruncing, berwarna hijau.

Bunga tanaman ini termasuk bunga majemuk, berbentuk lonceng, bagian tongkol bunga bulat dan terdiri dari bunga kecil-kecil yang berwarna putih. Sedangkan buah gambir berbentuk bulat telur, dengan panjang lebih kurang 1,5 cm dan berwarna hitam.

tanaman gambir

Ekstrak remasan daun dan ranting gambir yang telah diolah menjadi getah kering biasanya digunakan untuk teman menyirih. Foto: flickr.com

Apabila gambir diekstrak, terdapat senyawa kimia yang bervariasi didalamnya, diantaranya katekin (7-33%), asam catechu tannat (20-55%), pyrokatechol (20-30%), gambir floresen (1-3%), katechu merah (3-5%), kuersetin (2-4%), fixed oil (1-2%), dan wax (1-2%).

Senyawa-senyawa tersebut mempunyai kegunaan yang beragam, baik secara tradisional maupun sebagai bahan baku dan bahan campuran untuk berbagai industri, seperti industri farmasi, kosmetik, penyamak kulit, minuman, dan cat. Gambir juga biasa dimanfaatkan sebagai bahan penyamak kulit dan pewarna tekstil.

Dilansir pada laman http://sulbar.litbang.pertanian.go.id, sejak dahulu tanaman gambir telah digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Senyawa polifenol meliputi tanin, katenin, dan gambiriin yang terdapat dalam gambir bersifat sebagai antioksidan dan bermanfaat untuk mengobati penyakit atau menghalau radikal bebas yang terbentuk dalam tubuh. Sebagaimana diketahui, antioksidan dapat menurunkan risiko penyakit jantung, kanker, dan proses degeneratif penuaan.

Secara tradisional daun dan tangkai gambir yang masih muda jamak digunakan untuk mengobati luka, demam, diare, disentri, sakit kepala, sakit perut, obat kumur untuk mengobati sakit tenggorokan, dan infeksi oleh jamur dan bakteri. Gambir juga umum menjadi teman mengunyah sirih. Menyirih yang dicampur pinang, kapur dan getah gambir dipercaya bisa memperkuat gigi.

Untuk mengatasi berbagai jenis gangguan mulut, seperti sariawan, bibir kering dan luka gusi, orang zaman dahulu biasa mengunyah atau menempelkan tumbukan gambir pada bagian yang terluka. Begitu juga dalam proses penyembuhan luka bakar, daun gambir yang telah dihaluskan ditempelkan pada bagian luka. Efek dingin yang dihasilkan mampu membuat luka cepat sembuh dan meminimalisir bekas luka.

tanaman gambir

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/gambir-teman-menyirih-penghasil-devisa/feed/ 0
Katuk, Lebih dari Sekadar Tanaman Pelancar ASI https://www.greeners.co/flora-fauna/katuk-lebih-dari-sekadar-tanaman-pelancar-asi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=katuk-lebih-dari-sekadar-tanaman-pelancar-asi https://www.greeners.co/flora-fauna/katuk-lebih-dari-sekadar-tanaman-pelancar-asi/#respond Fri, 25 Jan 2019 07:31:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=22236 Katuk (Sauropus androgynus) biasa dimanfaatkan sebagai obat herbal untuk mempelancar air susu ibu. Selain sebagai obat pelancar ASI, katuk dapat dikembangkan sebagai obat anti kuman, obat kencing manis dan obat pelancar air seni. ]]>

Katuk (Sauropus androgynus) biasa dimanfaatkan sebagai obat herbal yang berkhasiat mempelancar air susu ibu (ASI). Oleh industri peternakan ternak perah, katuk dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi susu. Selain unggul dalam meningkatkan produksi susu pada ibu hamil dan hewan ternak, katuk umum dimanfaatkan sebagai obat anti kuman, obat kencing manis dan obat pelancar air seni. 

Sejak abad ke-16 tanaman katuk sudah tersebar di wilayah Asia Tenggara. Katuk memiliki banyak penamaan asing seperti dalam bahasa Cina dikenal sebagai mani cai, orang Melayu menyebutnya sebagai cekur manis, sedangkan dalam bahasa Vietnam disebut rau ngot. Di Indonesia katuk juga dikenal dengan berbagai penamaan lokal. Masyarakat Minangkabau menyebut tanaman ini sebagai simani, dalam bahasa Jawa tanaman ini disebut sebagai katukan atau babing, masyarakat Bali menyebutnya sebagai kayu manis, sedangkan masyarakat Madura menyebutnya sebagai kerakur.

Secara morfologi, katuk termasuk tanaman jenis perdu berumpun dengan ketinggian 3-5 m dan tumbuh dengan struktur batang yang tegak. Jika ujung batang dipangkas, maka akan tumbuh tunas-tunas baru yang membentuk percabangan. Daun katuk mirip dengan daun kelor. Ukuran daunnya kecil dengan panjang daun 5-6 cm. Daunnya merupakan daun majemuk genap berwarna hijau gelap.

Katuk merupakan tanaman yang sering berbunga. Bunganya berukuran kecil, berwarna merah gelap sampai kekuning-kuningan. Bila diperhatikan dengan jelas bunganya memiliki bintik-bintik berwarna merah. Bunga pada katuk umumnya menghasilkan buah berwarna putih (Santoso, 2008). Fisik buah katuk berukuran kecil, bentuknya bulat, berwarna putih dan didalamnya terdapat tiga buah biji. Biasanya anak-anak kecil senang untuk memetik buah katuk karena memiliki bentuk yang unik dan menggemaskan. Mereka juga memakainya sebagai buah untuk bermain masak-masakan.

tanaman katuk

Buah katuk berukuran kecil, berbentuk bulat, berwarna putih dan didalamnya terdapat tiga buah biji. Foto: pixabay

Perkembangbiakan tanaman katuk yaitu melalui stek batang. Batang yang dipilih adalah batang yang belum terlalu tua. Bila produksi daunnya mulai sedikit maka dapat dilakukan proses peremajaan dengan memangkas batang utamanya. Tanaman ini dapat ditanam di pekarangan sebagai pagar hidup.

Menurut Prof. Dr. Ir. Urip Santoso, M.Sc dalam bukunya yang berjudul “Katuk, Tumbuhan Multi Khasiat (2014)”,  katuk mengandung berbagai macam zat gizi dan senyawa metabolik sekunder. Katuk kaya provitamin A yang berperan dalam kesehatan mata dan reproduksi. Katuk juga mengandung vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan alami.

Daun dan akar katuk mengandung saponin, flavonoida, dan tanin. Daun katuk efektif untuk mengontrol tekanan darah dan masalah ginekologik, hiperlipidemia, urolitiasis, batu empedu dan konstipasi. Katuk juga mengandung zat besi. Kandungan zat besi pada daun katuk lebih tinggi daripada daun pepaya dan daun singkong. Zat besi pada daunnya bermanfaat sebagai pencegah anemia.

Di India daun katuk digunakan sebagai obat bisul dan radang amandel (tonsillitis). Di wilayah Tamil Nadu dan Kerala, daun katuk dikenal sebagai obat kencing manis. Berdasarkan penelitian, daun katuk mampu menurunkan kadar glukosa darah, sehingga daun katuk cukup potensial untuk dikembangkan sebagai obat kencing manis. Sebagai obat anti kuman, katuk dapat mengobati penyakit infeksi. Penggunaan katuk sebagai obat borok secara tradisional juga telah terbukti ampuh.

tanaman katuk

 

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/katuk-lebih-dari-sekadar-tanaman-pelancar-asi/feed/ 0
Jambu Biji, Daun dan Buahnya Berkhasiat Obat https://www.greeners.co/flora-fauna/jambu-biji-daun-dan-buahnya-berkhasiat-obat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jambu-biji-daun-dan-buahnya-berkhasiat-obat https://www.greeners.co/flora-fauna/jambu-biji-daun-dan-buahnya-berkhasiat-obat/#respond Fri, 18 Jan 2019 07:54:18 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=22243 Jambu biji merupakan tanaman dari keluarga melati (Myrtaceae). Daun dan buah jambu biji menjadi bagian terpenting karena sering dimanfaatkan sebagai tanaman obat.]]>

Tanaman jambu biji (Psidium guajava L.) bukan merupakan tanaman asli Indonesia. Tanaman ini pertama kali ditemukan di Amerika Tengah oleh Nikolai Ivanovich Vavilov saat melakukan ekspedisi ke beberapa negara di Asia, Afrika, Eropa, Amerika Selatan, dan Uni Soviet antara tahun 1887-1942. Seiring dengan berjalannya waktu, jambu biji menyebar di beberapa negara seperti Thailand,Taiwan, Indonesia, Jepang, Malaysia dan Australia.

Jambu biji adalah salah satu tanaman buah jenis perdu. Jambu biji merupakan tanaman dari keluarga melati (Myrtaceae). Tanaman ini mempunyai nama berbeda di setiap daerah. Masyarakat Nusa Tenggara menyebutnya sotong, di Jawa tanaman ini dikenal sebagai jambu klutuk, di Sumatera menyebutnya sebagai glima breueh, sedangkan di Manado dikenal sebagai gayawa atau kayawase (Hapsoh dan Hasanah, 2011).

Jambu biji banyak dibudidayakan dan dikembangkan diseluruh daerah tropis karena permintaan terhadap tanaman ini terus meningkat. Jenis jambu yang banyak dikembangkan di Indonesia yaitu jambu getas merah, jambu bangkok, jambu kristal, jambu sukun, dan jambu kamboja. Jenis jambu tersebut banyak dikembangkan di Indonesia karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak diminta oleh pasar (Mahfiatus et al., 2015).

Secara morfologi tinggi pohon jambu biji sekitar 2-10 meter dan memiliki cabang yang menyebar. Akarnya merupakan akar dangkal. Kulit batangnya keras, namun pada bagian batang permukaannya memiliki tekstur yang halus, mudah terkelupas dan berwarna cokelat. Bunganya terletak di ketiak daun dan termasuk bunga tunggal bertangkai, kelopak bunga berbentuk corong dan terdapat 1 – 3 bunga.

Daun dan buah jambu biji sering dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Berdasarkan buku Tanaman Berkhasiat Obat Indonesia, daun jambu biji memiliki kandungan tanin, minyak atsiri (eugenol) minyak lemak, damar, zat samak, triterpinoid, dan asam apfel. Pada buahnya terkandung asam amino (triptofan, lisin), kalsium, fosfor, besi, belerang, vitamin A, B1, dan C.

Daun muda tanaman ini bertekstur halus sedangkan daun tua permukaan atasnya licin. Bentuk daunnya bulat telur agak menjorong. Panjang daun jambu biji 6 – 14 cm dengan lebar 3 – 6 cm. Tepi daun rata agak melekuk ke atas, bertulang menyirip, dan warna daun berwarna hijau.

Biji jambu biji cukup banyak, namun ada beberapa jenis jambu biji yang berbiji sedikit bahkan tanpa biji. (Kiri: Psidium guajava ‘Uma’. Kanan: Goiaba vermelha). Foto: wikimedia commons

Buah jambu biji berbentuk bulat atau bulat lonjong dengan kulit buah berwarna hijau saat muda dan berubah kuning muda mengkilap setelah matang. Biji jambu biji cukup banyak, namun ada beberapa jenis jambu biji yang berbiji sedikit bahkan tanpa biji (Novianto, 2011). Umumnya tanaman jambu biji yang berasal dari biji relatif berumur lebih panjang dibandingkan hasil cangkokan atau okulasi, dan tanaman yang berasal dari okulasi memiliki postur lebih pendek dan bercabang lebih banyak.

Sudah banyak produk herbal dari sediaan jambu biji. Beberapa penyakit yang dapat diobati menggunakan jambu biji seperti demam berdarah dengue (DBD), diare , penyakit mag, luka, keputihan (Leucorrhea), peluruh haid, mempermudah persalinan, perut kembung pada anak, penyakit kulit, diabetes, beser (sering buang air kecil), sariawan, luka berdarah atau borok, ambeien dan lain-lain.

Untuk pemakaian luar, daun jambu biji segar dapat dipakai pada luka akibat kecelakaan, perdarahan akibat benda tajam dan borok disekitar tulang. Daun pada jambu biji digodok, airnya dipakai sebagai air cuci atau dilumatkan kemudian ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit.

jambu biji

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/jambu-biji-daun-dan-buahnya-berkhasiat-obat/feed/ 0
Cabai Rawit, Meski Pedas Namun Kaya Khasiat https://www.greeners.co/flora-fauna/cabai-rawit-meski-pedas-namun-kaya-khasiat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cabai-rawit-meski-pedas-namun-kaya-khasiat https://www.greeners.co/flora-fauna/cabai-rawit-meski-pedas-namun-kaya-khasiat/#respond Tue, 15 Jan 2019 07:25:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=22215 Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) adalah tanaman perdu setahun yang berasal dari wilayah Amerika tropik. Seperti peribahasa “kecil-kecil cabai rawit”, meskipun buah tanaman ini kecil namun memiliki banyak khasiat. ]]>

Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) adalah tanaman perdu setahun yang berasal dari wilayah Amerika tropik. Tanaman ini dapat dijumpai tumbuh liar di tepi tegalan atau ditanam di pekarangan rumah. Di beberapa daerah tanaman ini memiliki nama yang berbeda-beda, seperti leudeu pentek (dalam bahasa Gayo), lombok japlak (Jawa), cengek (Sunda), dan rica gufu (Ternate dan Tidore).

Secara morfologi cabai rawit merupakan tanaman berkayu dengan banyak percabangan. Tinggi tanaman ini 50-100 cm. Panjang batang utama berkisar antara 20-28 cm dan diameter batang antara 1.5-2.5 cm. Akarnya merupakan akar tunggang dan dapat menembus tanah sampai kedalaman 30-60 cm. Cabe rawit ideal hidup di tanah yang mengandung bahan organik sekurang-kurangnya 1.5% dan mempunyai pH 6.0-6.5 (Gultom, 2006).

Daun cabai rawit merupakan daun tunggal yang bertangkai. Helaian daun berbentuk bulat telur memanjang atau lanset dengan pangkal runcing dan ujung yang menyempit. Daun mudanya bisa dikukus untuk dijadikan lalap.

Bunga cabai rawit tergolong hermaprodit (berkelamin ganda). Mahkota bunga berbentuk bintang dengan warna yang beragam, seperti putih, putih kehijauan, terkadang berwarna ungu. Saat bunganya telah menjadi buah, buahnya akan tumbuh tegak ke atas dengan warna hijau tua ketika muda dan berubah hijau kekuningan, jingga atau merah menyala saat buah telah matang.

cabai rawit

Tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.). Foto: wikimedia commons.

Buah cabai rawit memiliki rasa pedas karena kandungan kapsaisin didalamnya. Pada buahnya juga terkandung zat  gizi seperti protein, lemak, karbohidrat, kalsium (Ca), fosfor (P), besi (Fe), vitamin (salah satunya adalah vitamin C) dan senyawa-senyawa alkaloid, seperti flavonoid dan minyak esensial (Prajnanta (2007) dalam Arifin (2010)).

Seperti peribahasa “kecil-kecil cabai rawit”, meskipun buah tanaman ini kecil namun memiliki banyak kandungan dan khasiat. Dibandingkan jenis cabai lainnya, cabai rawit paling banyak mengandung vitamin A. Cabai rawit segar mengandung 11.050 SI (Satuan Internasional) vitamin A, sedangkan cabai rawit kering mengandung 1.000 SI. Sementara cabai hijau segar hanya mengandung 260 SI vitamin A, cabai merah segar 470 SI vitamin A, dan cabai merah kering 576 SI vitamin A.

Dari aspek kesehatan, buah cabai rawit dapat menambah nafsu makan (stomakik), melancarkan sirkulasi peredaran darah, merangsang pengeluaran gas dari saluran cerna (karminatif), melegakan hidung tersumbat pada penyakit sinusitis, serta mengobati migrain (sakit kepala sebelah). Sebagai obat luar, cabai rawit juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit rematik, sakit perut, dan kedinginan. Selain sebagai bahan makanan dan obat, cabai rawit juga sering digunakan sebagai tanaman hias (Tjandra, 2011).

Dikutip dalam buku Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia (1992) yang disusun oleh H.M. Hembing Wijayakusuma, seluruh bagian tanaman cabai rawit dapat dipakai menjadi bahan obat. Contohnya untuk mengobati penyakit rematik. Buah cabai rawit digiling sampai halus kemudian campur dengan sedikit kapur sirih dan air jeruk nipis. Campuran bahan tersebut dibalur pada bagian badan yang sakit.

cabe rawit

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/cabai-rawit-meski-pedas-namun-kaya-khasiat/feed/ 0
Pucuk Merah, Tanaman Andal Penyerap Karbon https://www.greeners.co/flora-fauna/pucuk-merah-tanaman-andal-penyerap-karbon/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pucuk-merah-tanaman-andal-penyerap-karbon https://www.greeners.co/flora-fauna/pucuk-merah-tanaman-andal-penyerap-karbon/#respond Tue, 27 Nov 2018 07:09:25 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=21822 Pucuk merah (Syzygium oleana) memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida (CO2) lebih besar dibandingkan jenis tumbuhan yang lain. Tanaman dengan warna daun yang khas ini ternyata menyimpan manfaat bagi kesehatan.]]>

Siapa sih yang suka bila harus menghirup udara yang tercemar oleh asap kendaraan? Polusi udara bisa membuat nafas menjadi sesak, mata terasa perih, dan masalah kesehatan lainnya. Untuk mengurangi polusi udara di jalan raya, dinas pertamanan kota biasanya menanam tanaman penyerap karbon di pinggir atau tengah jalan raya.

Hari Pohon Sedunia yang diperingati setiap tanggal 21 November menjadi momentum yang baik untuk menanam tanaman yang dapat menyerap polutan, seperti tanaman pucuk merah (Syzygium oleana). Wilayah Indonesia merupakan salah satu tempat ideal untuk pucuk merah tumbuh karena tanaman ini sangat cocok hidup di daerah tropis.

Penelitian Wiwi Rahayu Ningsih, mahasiswi dari Pendidikan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, membuktikan bahwa pucuk merah memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida (CO2) lebih besar dibandingkan jenis tumbuhan yang lain. Hal ini dilihat dari laju fotosintesis dan kandungan timbal (PB) daun pucuk merah. Penelitiannya ini sudah ia sampaikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Biologi di Universitas Yogyakarta tahun 2017 lalu. Disamping itu, seperti dilansir pada laman jatinangor.itb.ac.id, tanaman ini dapat mencegah longsor dan menyimpan cadangan air. Hal ini dikarenakan tanaman ini memiliki struktur akar tunggang yang kokoh.

Tanaman pucuk merah adalah sejenis tanaman perdu yang memiliki ciri khas pada daunnya. Tanaman ini memiliki daun berwarna merah dan hijau. Diameter tanaman dapat mencapai 30 cm dengan tinggi mencapai 7 meter. Usia tanaman dapat mencapai puluhan tahun. Daunnya yang rimbun dan warna daun yang unik membuatnya cocok dijadikan sebagai penghias rumah dan taman.

pucuk merah

Tanaman pucuk merah memiliki daun berwarna merah dan hijau. Usia tanaman ini dapat mencapai puluhan tahun. Foto: wikimedia commons

Tanaman ini memiliki ciri-ciri, antara lain daun tunggal berbentuk lanset (ujungnya bermata dua), bertangkai sangat pendek, permukaan daun bagian atas mengkilat, ukuran daun panjang ± 6 cm dan lebar ± 2 cm, pertulangan daunnya menyirip. Warna daunnya akan mengalami perubahan. Ketika baru tumbuh berwarna merah menyala, kemudian berubah menjadi coklat, lalu berubah lagi menjadi warna hijau. Uniknya lagi jika diremas daunnya akan mengeluarkan aroma khas.

Pucuk merah berkerabat dekat dengan tanaman jambu air, salam, juwet, jambu darsono, jambu batu, dan masih banyak lagi karena diperkirakan terdapat sekitar 1.100 spesies dari genus Syzygium. Buahnya berbentuk bulat agak pipih. Pada permukaan bagian atas buah terdapat cekungan di bagian tengah. Diameter buah ± 0,7 cm. Buah yang sudah tua berwarna hitam mengkilat, rasanya manis dengan aroma yang khas sebagaimana buah dari famili jambu-jambuan. Bunga tanaman pucuk merah merupakan bunga majemuk.

Reproduksi alami tanaman ini adalah melalui biji, namun demikian tanaman ini dapat diperbanyak dengan cara cangkok atau stek. Suhu udara yang ideal bagi pucuk merah pada siang hari yaitu 28-36°C, sedangkan suhu malam hari yaitu 24-30°C. Agar tanaman ini tumbuh dengan indah, diperlukan cahaya matahari yang cukup agar warna tunasnya tetap berwarna merah dan bentuk tajuk tanaman tetap terjaga.

Selama ini tanaman pucuk merah dikenal sebagai tanaman hias yang banyak ditanam di halaman rumah, kantor, sekolah, hingga di tepi jalan. Selain kemampuannya menyerap polusi udara, tanaman ini ternyata bermanfaat bagi kesehatan manusia. Kandungan flavonoid antosianin dalam daun pucuk merah berpotensi untuk dikembangkan menjadi teh kesehatan dan antioksidan yang efektif mengatasi ancaman radikal bebas.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pucuk-merah-tanaman-andal-penyerap-karbon/feed/ 0
Kemuning, Tidak Sekadar Harum https://www.greeners.co/flora-fauna/kemuning-tidak-sekadar-harum/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kemuning-tidak-sekadar-harum https://www.greeners.co/flora-fauna/kemuning-tidak-sekadar-harum/#respond Tue, 02 Jan 2018 03:00:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=19727 Bisa dibilang flora satu ini merupakan 'paket lengkap'. Tidak hanya indah dipandang dan berbau harum, tanaman kemuning juga memiliki khasiat yang luar biasa.]]>

Indonesia memiliki banyak sekali keanekaragaman flora. Flora-flora ini sering dimanfaatkan sebagai tanaman obat atau herbal. Sayangnya, tanaman herbal Indonesia beberapa ada yang dikategorikan langka. Dalam tulisan Rifai (1994), A Discourse in Biodiversity Utilization in Indonesia, menjabarkan bahwa terdapat tigapuluh tumbuhan obat langka, salah satunya adalah Murraya paniculata atau dikenal dengan nama Kemuning.

Secara geografis, tumbuhan kemuning berasal dari daratan India, Asia Selatan (Iskandar, 2005). Kemuning adalah tanaman perdu dengan tinggi mencapai 8 meter. Tempat tumbuhnya dari dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian 400 meter di atas permukaan laut (mdpl). Selain tumbuh liar di semak belukar, tumbuhan ini juga ditanam sebagai tanaman hias.

Kemuning memiliki banyak penamaan daerah, seperti kamuning (Sunda), kamoneng (Madura), kemunieng (Minangkabau), kemuni (Bima), kamuning (Menado, Makasar), kamoni (Bare), eschi (Wetar), fanasa (Aru), kamoni (Ambon, Ulias), kamone (Buru). Ada pula penamaan dalam bahasa asing dari berbagai negara seperti Jiu Li Xiang, Orange Jasmine, May-Kay, Honey Bush, Cosmetic Box.

Berdasarkan kajian penelitian Universitas Sumatera Utara, pohon kemuning bercabang dan beranting banyak. Batangnya keras, beralur, dan tidak berduri. Daunnya majemuk bersirip ganjil dengan jumlah anak daun antara 3-9 helai dan letaknya berseling. Helaian daun bertangkai berbentuk telur, sungsang, ujung pangkal runcing, serta tepi rata atau sedikit bergerigi. Panjang daun sekitar 2-7 cm dan lebar antara 1-3 cm. Permukaan daun licin, mengilap, dan berwarna hijau.

Bunga kemuning majemuk dan berbentuk tandan yang terdiri dari 1-8 bunga. Tumbuhan ini sering digunakan sebagai tanaman hias atau tanaman pagar karena morfologi tajuknya yang lebar dan memiliki nilai estetika dari bunganya yang berwarna putih dan beraroma harum.

Buah kemuning berbentuk bulat telur atau bulat memanjang dengan panjang 8-12 mm. Bila masih muda, buah berwarna hijau dan setelah tua menjadi merah mengkilap. Di dalam buah terdapat dua buah biji (Iskandar, 2005). Buahnya sering dimakan burung liar. Bahkan beberapa peternakan lebah madu telah menanam kemuning di dekat sarang lebah. Tanaman ini tidak hanya sebagai sumber makanan serangga tetapi juga dapat menahan angin kencang.

kemuning

Kemuning (Murraya paniculata). Foto: wikimedia commons

Menurut informasi yang didapat, kemuning bersifat pedas, pahit, dan hangat. Bagian daun, bunga dan akar tanaman ini umumnya diolah untuk dijadikan obat herbal. Daun kemuning kering dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional dan ekstrak untuk ramuan jamu (Permenkes, 2013).

Menurut kajian jurnal ilmiah, daun kemuning memiliki efek farmakologis yang berkhasiat sebagai pemati rasa (anestesia), sedatif, anti-radang, antirematik, antitiroid, penghilang bengkak, pelangsing tubuh, pelancar peredaran darah, dan penghalus kulit. Selain itu, daun kemuning berkhasiat sebagai penurun kadar kolesterol dalam darah dengan kandungan kimia berupa tannin, flavanoid, steroid, dan alkaloid. Daun kemuning juga dilaporkan dalam beberapa karya ilmiah mempunyai aktivitas biologi sebagai obat penurun panas (antipiretik) dan antibakteri.

Selain manfaatnya terhadap kesehatan, ternyata bunga kemuning juga menjadi inspirasi cerita rakyat Indonesia atau dongeng yang berasal dari Riau berjudul ‘Asal-Usul Bunga Kemuning’. Dongeng tersebut menceritakan seorang Putri Raja yang baik hati bernama Putri Kuning.

Singkat cerita, Putri Kuning meninggal akibat saudarinya yang jahat. Jasad Putri Kuning pun dikubur di dekat danau tanpa sepengetahuan sang Raja. Suatu hari, sang Raja berjalan-jalan disekitaran danau dimana putri tersebut dikubur. Di sana ia menemukan bunga baru yang tumbuh di atas kuburan sang Putri. Warnanya putih kekuningan dengan batang laksana jubah dan daun membulat seperti kalung permata. Baunya harum sekali.

Bunga itu mengingatkan Raja pada putrinya yang telah tiada, dan sang Raja pun menamai bunga tersebut dengan nama bunga Kemuning. Bunga itu ternyata banyak manfaatnya. Batangnya bisa dijadikan wadah yang indah, bunganya untuk mengharumkan rambut, dan kulit kayunya bisa digunakan untuk bedak. Bunga kemuning ini merefleksikan sifat kebaikan sang puteri kuning yang telah tiada.

kemuning

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kemuning-tidak-sekadar-harum/feed/ 0
Camellia sinensis, Daunnya Simpan Banyak Manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/camellia-sinensis-daunnya-simpan-banyak-manfaat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=camellia-sinensis-daunnya-simpan-banyak-manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/camellia-sinensis-daunnya-simpan-banyak-manfaat/#respond Tue, 05 Dec 2017 08:20:34 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=19471 Ada banyak sekali tanaman yang diolah sebagai teh (seperti dari bunga-bungaan, buah, dan lainnya), namun tetap saja daun dari tanaman teh masih menjadi juara dan paling digemari. Bisa dibilang daun tanaman ini yang paling banyak diseduh di seluruh dunia.]]>

Meminum seduhan teh yang disajikan panas maupun dingin menjadi kebiasaan sebagian dari kita saat menikmati makanan. Aroma teh yang harum secara tidak langsung dapat memberikan efek yang menenangkan jika menghirupnya. Ada banyak sekali tanaman yang diolah sebagai teh (seperti dari bunga-bungaan, buah, dan lainnya), namun tetap saja daun dari tanaman teh masih menjadi juara dan paling digemari. Bisa dibilang daun tanaman ini yang paling banyak diseduh di seluruh dunia.

Camellia sinensis merupakan spesies tanaman yang daun dan pucuk daunnya digunakan untuk membuat teh. Tanaman ini diperkirakan berasal dari daerah pegunungan Himalaya dan pegunungan yang berbatasan dengan RRC, India dan Burma. Jika familiar dengan beberapa jenis teh seperti teh putih, teh hijau, teh oolong, dan teh hitam/teh merah semua jenis tersebut adalah hasil olahan dari daun spesies ini. Proses yang dilakukan pun berbeda-beda untuk memperoleh tingkat oksidasi yang diinginkan.

Pada umumnya tanaman teh (Camellia sinensis) tumbuh di daerah beriklim tropis dan subtropis dengan ketinggian 200 – 2.300 meter dpl, dengan suhu cuaca antara 14°C-25°C atau menuntut cukup sinar matahari dan curah hujan sepanjang tahun. Pada area perkebunan, tanaman teh tumbuh mencapai tinggi 1 meter dengan pemangkasan secara berkala. Bila tidak dipangkas, pohon teh akan tumbuh kecil ramping setinggi 5 – 10 m, dengan bentuk tajuk seperti kerucut. Pemangkasan dilakukan untuk memudahkan pemetikan daun agar diperoleh tunas-tunas daun teh yang cukup banyak (Ghani, 2002).

Tanaman teh merupakan tanaman perdu yang bercabang-cabang dan berbatang bulat. Daun teh berbentuk jorong dengan tepi bergerigi. Helaian daunnya berwarna hijau serta mengkilap. Bunga teh berwarna putih yang berada di ketiak daun, beraroma harum, dengan diameter 2,5 – 4 cm dan biasanya berdiri sendiri atau saling berpasangan dua-dua (Ross, 2005).

Buah tanaman ini berbentuk pipih, bulat, dan terdapat satu biji dalam masing-masing buah dengan ukuran sebesar kacang (Biswas, 2006). Pada saat masih muda, buah berwarna hijau lalu berubah coklat saat sudah masak (Marsito, 2004). Bagian pucuk (daun muda) digunakan untuk pembuatan minuman teh. Perbanyakannya dengan biji, stek, sambungan atau cangkokan (Liestyartie, 1986).

Kiri: buah Camellia sinensis. Kanan: pucuk Camellia sinensis. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Komposisi kimia teh terdiri dari kafein, tanin, protein, gula dan minyak atsiri yang terbentuk setelah fermentasi dan menghasilkan aroma. Daun teh mengandung beberapa zat kimia yang dapat digolongkan menjadi empat golongan. Keempat golongan tersebut adalah substansi fenol (katekin, flavanol), bukan fenol (karbohidrat, pektin, alkaloid, protein, asam amino, klorofil dan asam organik), senyawa aromatis dan enzim (Johnson dan Paterson, 1974).

Ada dua kelompok varietas teh yang terkenal, yaitu varietas assamica yang berasal dari Assam dan varietas sinensis yang berasal dari Cina. Varietas assamica daunnya agak besar dengan ujung yang runcing, sedangkan varietas sinensis daunnya lebih kecil dan ujungnya agak tumpul.

Selain itu, teh dapat dibedakan menjadi tiga kategori utama berdasarkan cara pengolahannya, yaitu teh hijau (tidak mengalami fermentasi), teh oolong (semi fermentasi), dan teh hitam (fermentasi penuh). Teh sebagian besar mengandung ikatan biokimia yang disebut polifenol termasuk di dalamnya flavonoid.

Polifenol sangat menentukan mutu teh karena selama ekstraksi senyawa polifenol akan berubah menjadi senyawa yang menghasilkan warna, rasa, dan aroma yang dikehendaki. Hasil utama oksidasi polifenol akan memberikan warna yang khas pada seduhan teh.

Selain polifenol, kadar tanin teh juga perlu diketahui karena merupakan salah satu faktor penentu mutu minuman teh. Dalam bentuk aslinya, tanin terlibat proses pencoklatan pada tanaman dan memberikan rasa sepat pada minuman teh. Tanin berwarna kehijauan hingga tidak berwarna. Daya larut tanin dalam air sangat baik dan tanin tahan terhadap pemanasan. Semakin tinggi kadar tanin maka rasanya semakin sepat atau pahit, dan semakin rendah kadar tanin maka penampakan produk akan menjadi kurang menarik (Nasution dan Tjiptadi, 1975).

Tanaman teh telah dikenal sebagai sumber antioksidan potensial yang bermanfaat untuk kesehatan. Para peneliti dari University of Kansas menduga bahwa kekuatan antioksidan pada teh adalah sekitar 100 kali lebih besar daripada vitamin C, 25 kali lebih besar daripada vitamin E, dan dua kali lebih efektif dibandingkan antioksidan yang ditemukan pada anggur merah dalam melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.

Menurut sumber ilmiah, manfaat tanaman ini antara lain mengurangi risiko kanker (kanker perut, kanker payudara, kanker kandungan, kanker prostat, kanker rongga mulut), menurunkan kadar kolesterol darah, mencegah tekanan darah tinggi, membunuh bakteri, menurunkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler, hingga mencegah nafas tidak sedap. Teh juga digunakan untuk berbagai produk kecantikan.

Di sisi lain, pemanfaatan tanaman teh tidak hanya digunakan untuk kesehatan tubuh manusia. Adanya tanaman teh dapat menjadi peluang wisata agro/agrowisata. Beberapa destinasi wisata kebun teh antara lain Kebun Teh Gunung Mas Puncak di Bogor dan Kebun Teh Wonosari Lawang Malang di Jawa Timur.

camellia sinensis

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/camellia-sinensis-daunnya-simpan-banyak-manfaat/feed/ 0