Pewarna Alami dari Tanaman Liar Senggani

Reading time: 2 menit
Senggani
Di Jawa, senggani disebut dengan berbagai nama seperti sengganen, kluruk, harendong, dan kemanden. Foto: shutterstock.com

Senggani merupakan salah satu tanaman di Indonesia yang dapat digunakan sebagai obat tradisional. Dalam bahasa latin, Melastoma malabathricum L. atau senggani ialah sejenis gulma yang bermanfaat. Buah, bunga, dan daunnya dimanfaatkan untuk pengobatan dan pewarna alami makanan.

Selain sebagai pengawet alami, tanaman ini juga termasuk alternatif baru untuk menghasilkan pewarna makanan alami karena tidak berbahaya bagi kesehatan. Biji senggani menghasilkan warna hitam dan akarnya menciptakan rona pink.

Baca juga: Rumput Mutiara Berpotensi sebagai Obat Antikanker

Senggani termasuk ke dalam famili Melastomataceae dan genus Melastoma. Tanaman perdu ini tumbuh liar pada tempat yang cukup sinar matahari, seperti lereng gunung, pinggir hutan, tepi jurang, semak belukar, dan lapangan yang tidak terlalu gersang. Di berbagai daerah, tumbuhan ini memiliki nama yang berbeda, misalnya, senduduk di Sumatera. Sedangkan di Jawa dikenal dengan nama senggani, sengganen, kluruk, harendong, dan kemanden (Heyne,1987).

Senggani

Senggani merupakan tanaman perdu yang dapat tumbuh di lereng gunung, pinggir hutan, hingga tepi jurang. Foto: shutterstock.com

Tanaman berbentuk pohon kecil ini memiliki batang kayu berwarna cokelat dan berdiri tegak setinggi 1,5-5 meter. Daunnya tunggal, bertangkai, dan terletak berhadapan seperti bersilang. Helai daun senggani berwarna hijau, berbentuk bulat telur dengan panjang 2-20 sentimeter dan lebar 1-8 sentimeter. Bagian ujung dan pangkal daunnya meruncing dengan tepi daun rata. Masing-masing memiliki tiga tulang daun yang melengkung dengan panjang tangkai (petioles) daun 5-12 milimeter (Starr dan Loope, 2003).

Catatan Kementerian Kesehatan (1995) menyebut, tumbuhan senggani mengandung senyawa flavonoid, tanin, steroida/triterpenoida. Senyawa kimia yang sudah diidentifikasi antara lain saponin, flavonoid, dan tanin ( Arief, 2011). Berdasarkan Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati (2009) yang dipublikasikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, senggani telah digunakan untuk mengobati luka dan borok, diare, disentri, sakit-gigi, obat kumur hingga hipertensi dengan memanfaatkan seluruh bagian tanaman.

Baca juga: Saga, Tanaman Tropis Antibakteri

Daun muda dapat dimakan sebagai lalapan atau direbus untuk obat rematik, radang sendi (artritis) dan untuk relaksasi pada kaki. Selain itu, daun, buah, biji dan akar senggani dapat digunakan untuk menetralkan racun dengan cara direbus dan diminum airnya. Daunnya berguna untuk mengembangbiakan ulat sutera sebagai bahan makanan. Daging buah (pulp) di sekeliling bijinya dapat dimakan.

Taksonomi Senggani

Penulis: Sarah R. Megumi

Top