Bunga Pagoda, Tanaman Hias Berbentuk Piramida

Reading time: 2 menit
Bunga Pagoda
Foto: shutterstock.com

Bunga pagoda adalah bunga yang memiliki rasa manis dan termasuk salah satu spesies dari famili Verbenaceae. Dalam penamaan lokal, tanaman bunga raja ini disebut tumbak raja (Bali), singgugu (Sunda), srigunggu (Jawa), tinjau handak (Lampung), punggur tosek (Madura) (Dalimartha, 2008; Hariana, 2008). Dalam bahasa asing tanaman ini dikenal dengan Pagoda flower (Inggris) dan Bai jek hong atau He bao hua (Cina).

Tanaman hias ini biasa dikembangkan di taman, pekarangan rumah, atau di tepi jalan di daerah perkotaan. Di Indonesia, jenis ini tumbuh di tanah yang kaya humus dan cukup air. Sinar matahari yang cukup sangat membantu pertumbuhan yang optimal. Ciri tanaman perdu tahunan ini ditunjukkan dengan tinggi yang bisa mencapai 1-3 meter.

Baca juga: Pewarna Alami dari Tanaman Liar Senggani

Secara morfologi, bunga pagoda memiliki batang yang dipenuhi rambut halus, berdaun tunggal, bertangkai, berbuah bulat, dan terletak berhadapan. Helaian daunnya berbentuk bulat telur melebar dengan pangkal daun seperti jantung dan panjangnya dapat mencapai 30 sentimeter. Bunga pagoda dapat diperbanyak dengan menanam bijinya. Karakteristik bunga berbentuk majemuk berwarna merah, terdiri dari bunga kecil-kecil yang berkumpul membentuk piramid, dan keluar dari ujung tangkai.

 

Bunga Pagoda

Foto: shutterstock.com

Kandungan kimia tanaman ini, yakni alkaloid, glikosida, flavonoida, tanin, saponin, dan triterpenoid/steroid (Hafiz, 2013). Beberapa kajian ilmiah menyebutkan bahwa daun, bunga, dan batang tanaman bunga pagoda mengandung saponin dan polifenol. Selain itu, daun dan batangnya mengandung alkaloida dan flavonoida.

Terdapat banyak khasiat yang dimiliki oleh tanaman ini, misalnya, pada bagian bunga pagoda bermanfaat sebagai sedatif dan menghentikan perdarahan. Selain itu, daun dan akarnya merupakan bagian terpenting dari tanaman yang digunakan sebagai bahan obat.

Baca juga: Rumput Mutiara Berpotensi sebagai Obat Antikanker

Akar pagoda memiliki rasa pahit, bersifat dingin, berdaun asam, agak kelat, bersifat netral, berbunga manis, dan bersifat hangat (Plantamor, 2008). Akarnya juga berfungsi sebagai antiradang, peluruh kencing (diuretik), penghilang bengkak, dan penghancur darah beku.

Sementara daun pagoda berkhasiat sebagai antiradang dan mengeluarkan nanah (Shrivastava Dalimartha, 2008; Iptek, 2005). Untuk pemakaian luar, daun segar bunga pagoda dapat dilumatkan kemudian dibubuhi ke bagian tubuh yang sakit. Selain itu, kajian ilmiah lain juga menyebutkan tanaman bunga pagoda dapat memengaruhi mortalitas dan menghambat perkembangan larva dan pupa Aedes aegypti yang menyebabkan demam berdarah a(Puspita, 2010).

Taksonomi Bunga Pagoda

Penulis: Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page