Aksi - Greeners.Co https://www.greeners.co/aksi/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 16 Jun 2026 05:22:38 +0000 id hourly 1 Pemadaman Lampu Jakarta 60 Menit Kurangi 60,14 Ton Emisi CO2e https://www.greeners.co/aksi/pemadaman-lampu-jakarta-60-menit-kurangi-6014-ton-emisi-co2e/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemadaman-lampu-jakarta-60-menit-kurangi-6014-ton-emisi-co2e https://www.greeners.co/aksi/pemadaman-lampu-jakarta-60-menit-kurangi-6014-ton-emisi-co2e/#respond Tue, 16 Jun 2026 05:22:38 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48602 Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar Aksi Hemat Energi dan Pengurangan Emisi Karbon pada Sabtu (13/6). Aksi tersebut berlangsung dengan memadamkan lampu selama 60 menit di sejumlah ruas […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar Aksi Hemat Energi dan Pengurangan Emisi Karbon pada Sabtu (13/6). Aksi tersebut berlangsung dengan memadamkan lampu selama 60 menit di sejumlah ruas jalan protokol, gedung, dan ikon ibu kota. Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

Berdasarkan data PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya (PLN Disjaya), aksi yang berlangsung pukul 20.30-21.30 WIB tersebut berhasil menekan emisi karbon hingga 60,14 ton CO2e. Bahkan, bisa menghemat konsumsi listrik sebesar 75,18 MWh, serta menurunkan biaya penggunaan listrik mencapai Rp108.693.752.

Pemadaman berlangsung di sejumlah titik strategis dan ikon Jakarta, seperti Monumen Nasional (Monas), Patung Arjuna Wiwaha, dan Patung Selamat Datang Bundaran Hotel Indonesia (HI). Selain itu, Patung Pemuda, Patung Jenderal Sudirman, hingga kawasan Balai Kota DKI Jakarta juga ikut padam.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi mengatakan, aksi tersebut menjadi bentuk komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam mendorong budaya hemat energi. Ini sekaligus mengajak masyarakat mengambil bagian dalam upaya pengurangan emisi gas rumah kaca.

“Pemadaman lampu selama 60 menit bukan sekadar simbol. Ini adalah pengingat bahwa langkah sederhana yang kita lakukan bersama-sama dapat berdampak nyata bagi lingkungan. Dari kebiasaan kecil, kita bisa menciptakan perubahan besar untuk Jakarta yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ujar Dudi.

Ia menjelaskan, pelaksanaan kegiatan tersebut mengacu pada Instruksi Gubernur Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Pemadaman Lampu dalam Rangka Penghematan Energi dan Pengurangan Emisi Karbon. Aksi ini berlangsung secara berkala di Jakarta.

Hasil yang Terukur 

Menurut Dudi, capaian pengurangan emisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku dalam penggunaan energi dapat memberikan hasil yang terukur. Namun, hal itu akan terwujud apabila konsisten dan melibatkan banyak pihak.

“Keberhasilan ini lahir dari kolaborasi bersama. Mulai dari pengelola gedung, pelaku usaha, komunitas, hingga warga yang ikut mematikan lampu dan perangkat elektronik yang tidak digunakan selama aksi berlangsung,” katanya.

Pemprov DKI Jakarta pun terus mendorong agar perilaku hemat energi tidak berhenti sebagai gerakan sesaat. Namun, aksi ini menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari masyarakat.

Langkah sederhana seperti mematikan perangkat elektronik yang tidak digunakan, memakai lampu hemat energi, hingga menggunakan listrik secara bijak di rumah maupun tempat kerja dinilai dapat memberi kontribusi besar terhadap pengurangan emisi karbon.

“Ketika jutaan warga melakukan langkah kecil yang sama secara konsisten, dampaknya akan sangat besar bagi kualitas lingkungan Jakarta. Karena menjaga bumi dan udara yang lebih bersih bukan hanya tugas pemerintah, tetapi gerakan bersama seluruh masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/pemadaman-lampu-jakarta-60-menit-kurangi-6014-ton-emisi-co2e/feed/ 0
KLH Targetkan Penanaman 2 Miliar Pohon di Seluruh Indonesia https://www.greeners.co/aksi/klh-targetkan-penanaman-2-miliar-pohon-di-seluruh-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klh-targetkan-penanaman-2-miliar-pohon-di-seluruh-indonesia https://www.greeners.co/aksi/klh-targetkan-penanaman-2-miliar-pohon-di-seluruh-indonesia/#respond Tue, 09 Jun 2026 07:47:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48580 Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menargetkan penanaman pohon sebanyak dua miliar di seluruh Indonesia. Hal itu sebagai upaya pencegahan banjir dan ketahanan iklim. Menteri LH/BPLH, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menargetkan penanaman pohon sebanyak dua miliar di seluruh Indonesia. Hal itu sebagai upaya pencegahan banjir dan ketahanan iklim.

Menteri LH/BPLH, Moh Jumhur Hidayat mengatakan bahwa gerakan penanaman pohon secara masif menjadi salah satu langkah nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Menurut Jumhur, program tersebut dapat terlaksana melalui kolaborasi berbagai pihak. Mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, hingga masyarakat luas.

“Penanaman dua miliar pohon untuk memperkuat ketahanan iklim, menjaga ketersediaan air, mengurangi banjir, memulihkan ekosistem, dan menyerap karbon,” kata Jumhur saat konferensi pers dalam kegiatan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sabtu (6/6) di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur.

Jumhur menegaskan bahwa pohon berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Selain membantu menyerap emisi karbon, pohon juga berfungsi meningkatkan daya resap air, mengurangi risiko banjir, dan menjaga kesuburan tanah. Bahkan, bisa mendukung keberlangsungan keanekaragaman hayati.

Sementara itu, target penanaman tersebut juga sejalan dengan berbagai upaya pemerintah dalam memperkuat aksi iklim dan meningkatkan ketahanan lingkungan. Hal itu seiring dengan meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim.

Menanam Pohon

Dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Jumhur juga menanam pohon di area lahan terbuka di kawasan Bumi Perkemahan dan 1 Graha Wisata Pramuka Cibubur. Penanaman ini sebagai simbol mulainya gerakan penanaman pohon secara lebih luas.

Penanaman juga dilakukan bersama Wakil Menteri LH/Kepala BPLH, Diaz Hendropriyono serta bersama duta besar, abang none Jakarta, puteri Indonesia, kreator konten, dan para tamu undangan lainnya.

Melalui gerakan penanaman pohon secara masif, KLH/BPLH berharap dapat mendorong partisipasi seluruh elemen bangsa dalam menjaga lingkungan. Ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang aktif mengambil langkah nyata dalam menghadapi perubahan iklim.

Sebagai informasi, kegiatan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 juga dihadiri oleh ribuan para pekerja sampah mulai dari pemulung hingga petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU). Kegiatan dilakukan dengan minim plastik yakni tidak menyediakan air minum dalam kemasan. Namun, panitia menyediakan ulang air minum sebagai upaya pengurangan botol plastik sekali pakai.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/klh-targetkan-penanaman-2-miliar-pohon-di-seluruh-indonesia/feed/ 0
Warga Siba Klasik Gresik Bawa Wadah Sendiri untuk Ambil Daging Kurban https://www.greeners.co/aksi/warga-siba-klasik-gresik-bawa-wadah-sendiri-untuk-ambil-daging-kurban/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=warga-siba-klasik-gresik-bawa-wadah-sendiri-untuk-ambil-daging-kurban https://www.greeners.co/aksi/warga-siba-klasik-gresik-bawa-wadah-sendiri-untuk-ambil-daging-kurban/#respond Mon, 01 Jun 2026 11:56:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48544 Jakarta (Greeners) – Kampung Siba Klasik RT 02 RW 05 di Kabupaten Gresik menggelar penyembelihan hewan kurban dengan konsep minim plastik. Warga membawa wadah guna ulang masing-masing. Sementara, limbah kurban […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kampung Siba Klasik RT 02 RW 05 di Kabupaten Gresik menggelar penyembelihan hewan kurban dengan konsep minim plastik. Warga membawa wadah guna ulang masing-masing. Sementara, limbah kurban mereka olah menggunakan komposter untuk mengurangi timbulan sampah.

Dalam pelaksanaannya, daging kurban tidak terbungkus plastik sekali pakai. Warga membawa wadah sendiri, seperti ember, baskom, rantang, atau kotak makan. Panitia kemudian menata seluruh wadah tersebut untuk mempermudah proses distribusi daging kepada para penerima kurban.

Ketua RT 02 Saifudin Efendi atau yang akrap dipanggil Ipung mengatakan, warga menyepakati langkah ini sejak awal musyawarah persiapan kurban. Menurut dia, persoalan sampah plastik selalu muncul setiap perayaan Iduladha. 

“Setiap tahun plastik menumpuk setelah pembagian daging. Tahun ini warga sepakat mengganti dengan wadah guna ulang supaya lingkungan tetap bersih,” kata Ipung dalam siaran pers. 

Langkah pengurangan sampah terlihat di area penyembelihan. Panitia tidak menyediakan kantong plastik. Warga penerima datang membawa wadah masing-masing sesuai data yang tercatat sebelumnya.

Siapkan Titik Pemilahan 

Sementara itu, panitia kurban bersama remaja musala, karang taruna, dan kelompok ibu-ibu juga menyiapkan titik pemilahan sampah organik serta non organik. Mereka mengumpulkan daun, sisa pakan ternak, dan limbah organik hasil penyembelihan secara terpisah. Kemudian, mereka mengolahnya menjadi kompos. 

Area penyembelihan tahun ini juga tertata lebih rapih, dibanding pola pembagian daging pada tahun sebelumnya. Peralatan yang dipakai langsung dicuci untuk digunakan kembali. Aktivitas gotong royong berlangsung sepanjang proses penyembelihan, hingga distribusi daging selesai.

Remaja Langgar Maslakul Inayah, turut membantu pengangkutan limbah organik ke tempat pengumpulan sementara. Kelompok ibu-ibu bertugas membersihkan area pembagian daging dan memastikan wadah penerima sesuai daftar panitia.

Karang taruna juga membantu mengatur lalu lintas warga agar distribusi daging berjalan cepat. Sistem pembagian berlangsung secara bergiliran. Hal ini untuk menghindari antrean panjang di area musala.

Ketua Takmir Langgar Maslakul Inayah, Ahmad Efendi mengatakan,konsep ini lahir dari kesadaran bersama menjaga lingkungan kampung. Menurut dia, ibadah kurban juga perlu memperhatikan dampak limbah yang muncul selama kegiatan berlangsung.

“Kami ingin tradisi kurban tetap berjalan dengan lingkungan yang terjaga. Warga juga lebih disiplin, karena membawa wadah sendiri dari rumah,” ujar Efendi.

Kampung Siba Klasik Lebih Bersih 

Sejumlah warga mengaku konsep ini membuat lingkungan kampung terlihat lebih bersih. Tidak terlihat tumpukan plastik bekas di selokan maupun sudut jalan kampung.

Salah satu warga, Nur Aini, mengatakan penggunaan wadah guna ulang membuat pembagian daging terasa lebih praktis. 

“Biasanya habis kurban banyak plastik tercecer. Sekarang lebih rapi karena warga sudah membawa tempat sendiri,” katanya.

Kegiatan kurban minim sampah di Kampung Siba Klasik melibatkan hampir seluruh unsur warga RT 02 RW 05 Sidokumpul Barat. Mulai bapak-bapak, ibu-ibu, karang taruna, hingga remaja musala ikut terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan.

Panitia juga mendata penerima daging sejak beberapa hari sebelumnya. Data tersebut mereka gunakan untuk memastikan jumlah wadah yang warga bawa sesuai kebutuhan distribusi.

Ipung juga mengatakan, konsep minim sampah ini akan mereka pertahankan pada perayaan kurban tahun berikutnya. Warga juga berencana memperluas pengolahan limbah organik menjadi pupuk kompos untuk kebutuhan tanaman di lingkungan kampung.

“Kami ingin warga bisa terus menjalankan kebiasaan kecil seperti membawa wadah sendiri. Dampaknya langsung terlihat pada kebersihan kampung,” ucap Ipung.

Penulis: Dini Jembar Wardani 

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/warga-siba-klasik-gresik-bawa-wadah-sendiri-untuk-ambil-daging-kurban/feed/ 0
DLH DKI Ajak Warga Jaga Kualitas Udara Lewat Gerakan #SatuLangkahDulu https://www.greeners.co/aksi/dlh-dki-ajak-warga-jaga-kualitas-udara-lewat-gerakan-satulangkahdulu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dlh-dki-ajak-warga-jaga-kualitas-udara-lewat-gerakan-satulangkahdulu https://www.greeners.co/aksi/dlh-dki-ajak-warga-jaga-kualitas-udara-lewat-gerakan-satulangkahdulu/#respond Fri, 29 May 2026 03:03:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48533 Jakarta (Greeners) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengajak warga menjaga kualitas udara melalui gerakan kolaboratif #SatuLangkahDulu. Kampanye ini hadir melalui forum Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB) Kluster Udara. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengajak warga menjaga kualitas udara melalui gerakan kolaboratif #SatuLangkahDulu. Kampanye ini hadir melalui forum Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB) Kluster Udara.

Gerakan tersebut mendorong seluruh elemen masyarakat untuk memulai langkah sederhana dari lingkungan masing-masing. Hal itu demi mewujudkan udara Jakarta yang lebih bersih dan sehat.

Berbagai pihak ikut terlibat dalam gerakan ini. Di antaranya pemerintah, komunitas, dunia usaha, akademisi, media, hingga masyarakat luas. Mereka bersama-sama menghadirkan perubahan melalui aksi sehari-hari yang berlangsung secara konsisten. Mulai dari mengurangi sumber emisi, menggunakan transportasi ramah lingkungan, hingga membangun kebiasaan hidup yang lebih peduli terhadap kualitas udara.

Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Purwanti Suryandari mengatakan, kualitas udara masih menjadi salah satu tantangan besar bagi Jakarta. Sebab, berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat dan kualitas hidup warga.

“Melalui kampanye #SatuLangkahDulu, kami ingin membangun semangat satu pesan dengan beragam aksi, baik melalui kampanye media sosial, aksi bersama, praktik baik pengurangan pencemaran udara, maupun challenge untuk warga Jakarta. Setiap langkah sederhana yang berlangsung konsisten dan bersama-sama akan membentuk gerakan kolektif yang mampu menghadirkan perubahan nyata,” ujar Purwanti dalam keterangan tertulisnya, Selasa (26/5).

Menurut Purwanti, mewujudkan udara bersih di Jakarta tidak dapat dilakukan sepihak. Pengendalian pencemaran udara membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar upaya yang berjalan dapat berlangsung efektif dan berkelanjutan.

“Menjelang lima abad Jakarta, kita memiliki tanggung jawab bersama untuk mewariskan kota dengan udara yang lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi generasi mendatang,” tambahnya.

Ia juga mengungkapkan, puncak rangkaian aktivasi #SatuLangkahDulu akan berlangsung melalui Jakarta Eco Future Fest 2026 di Balai Kota DKI Jakarta pada 3–4 Juli 2026. Kegiatan tersebut menjadi ajang kolaborasi berbagai pihak sekaligus festival bertema keberlanjutan terbesar di Jakarta.

Pengendalian Makin Kompleks

Sementara itu, Direktur Layanan Iklim Terapan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Marjuki mengatakan tantangan pengendalian pencemaran udara di Jakarta semakin kompleks. Hal itu akibat laju urbanisasi, pembangunan kota yang masif, serta dampak perubahan iklim global yang berpadu dengan karakteristik iklim perkotaan seperti urban heat island.

Ia menambahkan, BMKG terus berkomitmen menyediakan informasi kualitas udara dan memperkuat literasi iklim kepada masyarakat. Ia berharap informasi tersebut dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan di berbagai sektor, mulai dari transportasi, industri, hingga panduan aktivitas harian masyarakat untuk meminimalkan risiko paparan polusi udara.

“Karena itu, kita membutuhkan aksi bersama seperti #SatuLangkahDulu sebagai pemantik perubahan perilaku masyarakat secara nyata, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Marjuki.

Penulis: Dini Jembar Wardani 

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/dlh-dki-ajak-warga-jaga-kualitas-udara-lewat-gerakan-satulangkahdulu/feed/ 0
Festival Raksha Loka Tekan Timbulan Sampah Lewat Reuse dan Refill https://www.greeners.co/aksi/festival-raksha-loka-tekan-timbulan-sampah-lewat-reuse-dan-refill/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=festival-raksha-loka-tekan-timbulan-sampah-lewat-reuse-dan-refill https://www.greeners.co/aksi/festival-raksha-loka-tekan-timbulan-sampah-lewat-reuse-dan-refill/#respond Tue, 26 May 2026 10:13:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48529 Jakarta (Greeners) – Festival Raksha Loka yang berlangsung pada 22–23 Mei 2026 di M Bloc Space, Jakarta Selatan menerapkan sistem reuse dan refill. Upaya itu untuk menekan timbulan sampah plastik […]]]>

Jakarta (Greeners) – Festival Raksha Loka yang berlangsung pada 22–23 Mei 2026 di M Bloc Space, Jakarta Selatan menerapkan sistem reuse dan refill. Upaya itu untuk menekan timbulan sampah plastik sekali pakai. 

Festival Raksha Loka merupakan ruang kolaborasi, pembelajaran, dan perayaan atas berbagai inisiatif pemulihan ekosistem berbasis masyarakat. Hal ini telah berjalan selama empat tahun terakhir melalui program GEF-SGP Indonesia. Mengusung tema “Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan di Masa Depan”, kegiatan ini mempertemukan banyak orang. Di antaranya komunitas lokal, generasi muda, akademisi, pemerintah, sektor swasta, hingga pegiat lingkungan untuk bersama-sama memperkuat aksi kolektif menjaga bumi.

Selama festival berlangsung, pengunjung melihat beragam kegiatan. Mulai dari dialog inspiratif, musyawarah belajar mitra, pameran dan bazar hijau. Kemudian, pertunjukan seni budaya, hingga showcase inovasi lingkungan dari berbagai daerah di Indonesia.

Festival ini juga menjadi wadah berbagi praktik baik konservasi air, pemulihan pesisir, pertanian alami, dan energi terbarukan. Selain itu, ada juga penguatan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan, termasuk upaya pengurangan timbulan sampah festival.

Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) ikut berkolaborasi dalam kegiatan ini dengan menyediakan sistem reuse dan refill, untuk mengurangi timbulan sampah selama kegiatan berlangsung. Upaya tersebut dapat mencegah 77% timbulan sampah masuk ke TPA, dengan rincian sampah jenis organik 11%, daur ulang bersih 66%, dan residu 23%. 

Tak hanya itu, sebanyak 150 pengunjung juga telah menggunakan layanan refill air sebanyak 304 liter air. Jumlah tersebut setara dengan mengurangi timbulan sampah botol plastik sekali pakai sebanyak 507 keping kemasan 600ml.

Festival Raksha Loka Sediakan Gelas dan Piring Guna Ulang

Koordinator Program Zero Waste Ecoton, Tonis Afrianto mengatakan bahwa dalam menerapkan sistem refill, Ecoton menggandeng Izifill sebagai penyedia dispenser untuk isi ulang air minum. Ecoton juga menyediakan gelas dan piring guna ulang untuk para pengunjung.

“Supaya sampah tidak tercampur, kami juga menyediakan tempat sampah terpilah di dua titik lokasi strategis jalur pengunjung,” kata Tonis dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (23/5). 

Tak hanya itu, Tonis juga membuat buku panduan festival zero waste untuk mereka bagikan ke penyewa dan eksibitor. Di dalam buku tersebut terdapat informasi tentang pemilahan sampah, tips untuk tidak menggunakan wadah plastik sekali pakai, dan berbagai tips lainnya. 

Tonis berharap agar ke depan semangat ini bisa menginspirasi lebih banyak komunitas, penyelenggara acara, hingga masyarakat luas pengurangan sampah dan kepedulian terhadap lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/festival-raksha-loka-tekan-timbulan-sampah-lewat-reuse-dan-refill/feed/ 0
Walhi Bersama Warga Pulau Pari Menanam 7.000 Bibit Mangrove https://www.greeners.co/aksi/walhi-bersama-warga-pulau-pari-menanam-7-000-bibit-mangrove/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=walhi-bersama-warga-pulau-pari-menanam-7-000-bibit-mangrove https://www.greeners.co/aksi/walhi-bersama-warga-pulau-pari-menanam-7-000-bibit-mangrove/#respond Mon, 25 May 2026 10:48:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48521 Jakarta (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Dunia 2026, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) bersama warga Pulau Pari menanam 7.000 bibit mangrove di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jumat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Dunia 2026, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) bersama warga Pulau Pari menanam 7.000 bibit mangrove di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jumat (22/5).

Penanaman bibit mangrove ini juga melibatkan mahasiswa dari 20 kelompok mahasiswa pencinta alam, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Kelompok Perempuan Pulau Pari (KPPP), serta Forum Peduli Pulau Pari (FPPP). Tak hanya menanam, kegiatan juga mencakup kajian sosial-ekologi pra-penanaman, pelatihan rehabilitasi, penanaman, dan monitoring.

Pengkampanye Perlindungan Laut dan Pesisir Eksekutif Nasional Walhi, Mida Saragih menegaskan bahwa aksi rehabilitasi mangrove ini merupakan kerja bersama warga dan orang muda dalam menjaga keanekaragaman hayati pesisir. Menurutnya, upaya tersebut juga penting untuk membangun ketangguhan ekosistem pulau kecil terhadap perubahan iklim.

“Bagi kami, menanam mangrove juga berarti menjaga ruang hidup, serta biota pesisir dan kekayaan hayati Pulau Pari,” kata Mida dalam keterangan tertulisnya.

Pulau Pari, salah satu dari 113 pulau di Kepulauan Seribu Jakarta. Pulau ini memiliki luas sekitar 41,32 hektare dan termasuk kategori pulau kecil (BIG, 2020). Namun, sayangnya Pulau Pari telah lama terdampak alih fungsi kawasan dan krisis iklim, termasuk abrasi pantai yang semakin parah. Walhi mencatat bahwa kerusakan mangrove di Pulau Pari telah mengancam penghidupan warga serta meningkatkan kerentanan terhadap bencana iklim.

Kajian Sosial-Ekologi

Sementara itu, Walhi bersama tim akademisi juga melakukan kajian sosial-ekologi pra penanaman. Dalam kajian ini, mereka menemukan tujuh jenis mangrove yang tersebar di Pulau Pari. Jenis mangrove tersebut di antaranya Avicennia marina (Api-api), Bruguiera cylindrica (Lindur), Excoecaria agallocha (Buta-buta), Lumnitzera racemosa (Teruntum putih), Rhizhophora stylosa (bakau kecil), Sonneratia alba (Pedada), dan Cylocarpus moluccensis (Nyirih batu).

Kemudian, penanaman mangrove menggunakan metode rumpun berjarak, dengan 20–30 propagul dalam satu rumpun. Jenis yang mereka tanam adalah bakau kecil (Rhizophora stylosa), yang merupakan spesies dominan di Pulau Pari. Metode ini mereka pilih berdasarkan kajian karena lebih efisien, mempercepat proses penanaman, serta meningkatkan ketahanan bibit terhadap gelombang laut.

Selain penanaman, Walhi bersama warga mengembangkan sistem monitoring berbasis citizens science. Sistem ini memiliki basis data sederhana untuk mencatat pertumbuhan mangrove. Warga Pulau Pari dan peserta mahasiswa juga mendapatkan pelatihan terkait identifikasi jenis mangrove, teknik penanaman, dan pemantauan.

“Gerakan dan aksi rehabilitasi mangrove ini adalah pertemuan antara gerakan moral kemanusiaan dan gerakan perlindungan lingkungan,” tambah Mida.

Di sisi lain, Ketua Kelompok Perempuan Pulau Pari, Asmania menegaskan pentingnya perlindungan wilayah kelola rakyat. “Pulau Pari adalah ruang hidup kami. Pemerintah perlu menghentikan perusakan mangrove dan memastikan perlindungan bagi pulau kecil serta hak masyarakat pesisir,” ujarnya.

Warga Pulau Pari juga berharap kementerian dan lembaga terkait, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan, mengambil kebijakan yang lebih kuat untuk melindungi ekosistem Pulau Pari. Mereka menekankan bahwa keberlanjutan ekonomi lokal sangat bergantung pada kondisi pesisir yang sehat dan terjaga.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/walhi-bersama-warga-pulau-pari-menanam-7-000-bibit-mangrove/feed/ 0
Wamen LH Resmikan Program Pengelolaan Sampah di Area Stasiun Kereta Api https://www.greeners.co/aksi/wamen-lh-resmikan-program-pengelolaan-sampah-di-stasiun-kereta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=wamen-lh-resmikan-program-pengelolaan-sampah-di-stasiun-kereta https://www.greeners.co/aksi/wamen-lh-resmikan-program-pengelolaan-sampah-di-stasiun-kereta/#respond Fri, 22 May 2026 10:31:07 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48507 Jakarta (Greeners) – Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono meresmikan program pengelolaan sampah di area stasiun kereta api. Fasilitas yang tersedia meliputi pemilahan sampah, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono meresmikan program pengelolaan sampah di area stasiun kereta api. Fasilitas yang tersedia meliputi pemilahan sampah, pengumpulan terintegrasi, TPS3R, pengolahan sampah organik, hingga digitalisasi data sampah.

Peresmian tersebut berlangsung dalam acara kick-off Program Pengelolaan Sampah KAI Group 2026 melalui proyek percontohan di Stasiun Gambir, Kamis (21/5). Diaz meminta PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) untuk segera mengimplementasikan program pengelolaan sampah ke seluruh stasiun kereta api di Indonesia.

“Saya sangat apresiasi yang KAI lakukan, termasuk membangun dan aktifkan TPS3R di DKI dan luar DKI. Ini sejalah dengan visi misi KLH. Jadi, KAI sangat membantu dalam menyelesaikan permasalahan sampah sesuai yang kita inginkan dengan strategi aktivasi TPS3R,” kata Diaz di Jakarta, Kamis (21/5).

Ia juga mengarahkan PT KAI untuk tidak hanya menyediakan fasilitas pengelolaan sampah. Namun, juga perlu aktif memberikan edukasi dan sosialisasi. Ini guna mendorong perubahan perilaku penumpang serta masyarakat yang tinggal di sekitar jalur rel kereta api.

“Saya dengar tadi, PT KAI memiliki 600 stasiun dan 7.000 KM rel kereta. Itu sampahnya tidak sedikit, di bagian-bagian tertentu juga masih ada yang buang sampah ke rel. Makanya, itu bukan hanya menyediakan fasilitasnya tapi juga bagaimana membangun kesadaran tentang pemilahan ke para penumpang, pekerja KAI dan masyarakat luas,” ujarnya.

Kolaborasi Tangani Sampah

Dalam mendukung program ini, Diaz menyatakan bahwa KLH/BPLH siap berkolaborasi untuk mewujudkan stasiun kereta api yang bersih dan bebas sampah di seluruh Indonesia.

Diaz mengungkapkan bahwa KLH/BPLH bisa memberikan modul atau pendampingan dalam peningkatan kesadaran pemilahan, bantuan arahan dalam reaktivasi TPS3R dan bank sampah. Selain itu, mereka juga bisa mencarikan offtaker. Kendati demikian, kolaborasi dalam bentuk apa pun bisa dilakukan bersama.

Menurutnya, program pengelolaan sampah ini menjadi sangat penting. Sebab, presiden telah memberikan arahan untuk segera menangani krisis sampah nasional. Arahan ini juga telah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Target pengelolaan sampah tersebut sebesar 100% pada tahun 2029.

“Gubernur DKI sudah deklarasi pilah sampah 100% untuk bulan Agustus. Ini termasuk dalam target besar presiden melalui RPJMN yaitu pada 2029 nanti 100% sampah terkelola. Caranya dengan pemilahan sampah ini,” tutupnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/wamen-lh-resmikan-program-pengelolaan-sampah-di-stasiun-kereta/feed/ 0
KELANA Jadi Ruang Anak Muda Belajar dan Aksi Lingkungan https://www.greeners.co/aksi/kelana-jadi-ruang-anak-muda-belajar-dan-aksi-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kelana-jadi-ruang-anak-muda-belajar-dan-aksi-lingkungan https://www.greeners.co/aksi/kelana-jadi-ruang-anak-muda-belajar-dan-aksi-lingkungan/#respond Mon, 18 May 2026 11:28:52 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48480 Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) meluncurkan program KELANA (Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda). Program ini menjadi wadah untuk memperluas edukasi lingkungan kepada generasi muda melalui […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) meluncurkan program KELANA (Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda). Program ini menjadi wadah untuk memperluas edukasi lingkungan kepada generasi muda melalui kegiatan langsung di lapangan.

Program KELANA episode 1 sudah dirilis dengan diikuti oleh anak muda dari berbagai wilayah Indonesia. Melalui program ini, mahasiswa dan pelajar diajak turun langsung ke lapangan. Mereka berinteraksi dengan masyarakat, serta mengolah pengalaman tersebut menjadi narasi yang dapat menggerakkan kesadaran publik.

Menteri LH/Kepala BPLH, Moh. Jumhur Hidayat, menyampaikan bahwa launching program KELANA menjadi momentum penting kolaborasi antara pemerintah dan generasi muda dalam mendorong aksi lingkungan yang lebih luas.

“Peluncuran program ini menjadi kebahagiaan bagi kita karena inisiasi pemerintah dan berkolaborasi dengan anak-anak muda. Isu lingkungan ini memang tidak bisa lepas dari peran generasi muda, sehingga kita harus mampu memfasilitasi ruang-ruang partisipasi mereka secara lebih luas,” ujar Jumhur di Jakarta, Rabu (13/5).

Jumhur mengatakan bahwa akan ada ragam topik dalam program ini. Di antaranya seperti sampah, mangrove, lahan gambut, dan lainnya.

Penuh Antusiasme

Sementara itu, Puteri Indonesia Lingkungan 2024, Sophie Kirana, yang turut mendampingi peserta KELANA Episode 1 di Jambi. Pada episode 1 ini, topik untuk pembelajaran terkait ekosistem gambut dan mangrove.

Menurut Sophie, anak muda begitu antusias ketika turun langung ke lapangan mengenali lingkungan. Baginya, program ini menjadi salah satu cara bagi teman-teman yang terlibat bersama Kementerian Lingkungan Hidup untuk menyosialisasikan sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan dari generasi muda.

“Harapannya, ini bisa menjadi budaya untuk terus menjaga lingkungan,” ungkap Sophie.

Selain itu, KELANA juga mendorong lahirnya generasi muda sebagai digital ambassadors yang mampu menerjemahkan isu lingkungan menjadi pesan yang relevan, kreatif, dan berdampak luas.

Pendekatan ini menjadi penting untuk menjawab fenomena eco-anxiety di kalangan generasi muda. Hal ini mengubah kekhawatiran menjadi aksi nyata berbasis pengalaman dan pemahaman.

Hadirkan Dokumenter Mangrove

Selain meluncurkan program KELANA, KLH/BPLH juga menghadirkan video dokumenter “Menjaga Akar Negeri: Mangrove Indonesia untuk Dunia” yang mengangkat peran strategis ekosistem mangrove Indonesia.

Dokumenter ini diproduksi melalui kolaborasi KLH/BPLH dengan National Geographic Indonesia. Dokumenter menampilkan kisah nyata masyarakat pesisir di Tarakan, Kalimantan Utara, dan Palu, Sulawesi Tengah, dalam menjaga dan merawat ekosistem mangrove.

Editorial Team National Geographic Indonesia, Viennanda Nur Ikhwalfi, menilai video dokumenter ini menunjukkan praktik nyata keberpihakan manusia terhadap alam yang dapat direplikasi seluruh wilayah Indonesia.

“Ini adalah contoh besar upaya keberpihakan manusia kepada alam. Harapannya, praktik ini bisa dicontoh dan diaplikasikan oleh seluruh masyarakat yang tinggal di pesisir Indonesia, sehingga mangrove dapat menjadi benteng awal kita untuk menjaga hamparan laut yang cukup luas,” ungkap Viennanda.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/kelana-jadi-ruang-anak-muda-belajar-dan-aksi-lingkungan/feed/ 0
Sampah Popok Sekali Pakai Cemari Kali Tebu Surabaya https://www.greeners.co/aksi/sampah-popok-sekali-pakai-cemari-kali-tebu-surabaya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sampah-popok-sekali-pakai-cemari-kali-tebu-surabaya https://www.greeners.co/aksi/sampah-popok-sekali-pakai-cemari-kali-tebu-surabaya/#respond Mon, 18 May 2026 11:19:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48483 Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama Komunitas Tretan Kali Tebu (Tekat) melakukan aksi bersih-bersih sampah di Kali Tebu, Surabaya, Jawa Timur pada Rabu (13/5). Dari aksi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama Komunitas Tretan Kali Tebu (Tekat) melakukan aksi bersih-bersih sampah di Kali Tebu, Surabaya, Jawa Timur pada Rabu (13/5). Dari aksi tersebut, tim relawan banyak menemukan sampah popok sekali pakai.

Direktur Ecoton, Daru Setyorini mengatakan bahwa sebanyak 45 persen dari 2,4 ton sampah dari Kali Tebu adalah jenis sampah popok sekali pakai. Tim ekskavasi sampah Kali Tebu ini melakukan aksi bersih sampah di kali tersebut selama tiga hari sejak Senin (11/5).

“Sebanyak 218 keping merupakan sampah popok. Selain mengangkut sampah, tim relawan Ecoton dan Tekat juga melakukan brand audit sampah popok,” kata Daru dalam keterangan tertulisnya.

Hasil audit menunjukkan bahwa sampah popok sekali pakai dari merek Sweety (PT Softex Indonesia) paling banyak tim temukan dengan persentase 31 persen. Posisi berikutnya adalah MamyPoko (PT Unicharm) sebesar 24 persen dan Momo (Momohouse) sebesar delapan persen. Selain itu, popok dari berbagai merek lain tercatat sebesar 14 persen. Sementara, 15 persen lainnya berasal dari merek yang tidak terlihat atau rusak.

Daru menambahkan bahwa kegiatan ekskavasi popok ini tim lakukan setelah program MOZAIK memasang trash barrier atau penghalang sampah bernama Barakuda di Kali Tebu pada Minggu (10/5).

MOZAIK (Mission for Zero Plastic Leakage) adalah program lingkungan gagasan Ecoton dan Pemerintah Kota Surabaya. Program ini mendapat dukungan dari United Nations Development Programme (UNDP) dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Tujuan dari program Mozaik ini untuk mengurangi kebocoran sampah plastik di sungai, khususnya Kali Tebu melalui pemasangan penghalang sampah. Program ini berfokus pada kolaborasi multipihak untuk sinergi penanganan sampah.

Tanggung Jawab Produsen

Menurut Daru, kini sampah popok menjadi masalah utama dalam penanganan sampah di Kali Tebu. Dengan demikian, butuh kolaborasi pemerintah melalui pengawasan, pengelolaan sampah di tempat pembuangan sementara (TPS), dan masyarakat agar tidak membuang sampah plastik ke Kali Tebu. Ia juga berharap agar industri bisa melaksanakan Extended Producer Responsibility (EPR). 

“EPR adalah kebijakan lingkungan yang mewajibkan produsen bertanggung jawab atas seluruh siklus hidup produk, terutama pengelolaan sampah pasca-konsumsi,” tambah Daru.

Daru menegaskan bahwa produsen mempunyai tanggung jawab mengumpulkan, mendaur ulang, atau memproses limbah produk/kemasannya. Hal ini penting untuk mengurangi volume sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) dan mendukung ekonomi sirkular. Maka, sampah popok yang ada di sungai juga menjadi tanggung jawab produsen.

Sebagai informasi, Kali Tebu merupakan sumber aliran sampah plastik yang bermuara ke Selat Madura, maka perlu pengendalian agar sampah plastik tidak masuk ke perairan laut. Kali Tebu juga menjadi saluran pembuangan dari enam kelurahan di antaranya Kelurahan Kapas Madya, Simokerto, Tanah Kali Kedinding, Sidotopo Wetan, Bulan Banteng, dan Tambak Wedi.

Salah satau upaya untuk mencegah sampah dari Kali Tebu agar tidak bocor ke laut, tim relawan akan melakukan proses penirisan sampah secara rutin. Penirisan tersebut berlangsung setiap dua hari sekali.

“Setelah penirisan, tim akan melakukan brand audit untuk mengidentifikasi sumber sampah plastik. Lokasi brand audit ini tim lakukan di TPS3R Kedung Cowek, Bulak,” kata Manager Program MOZAIK, Amiruddin Muttaqin.

Amiruddin mengajak masyarakat untuk menjaga Kali Tebu dan tidak membuang sampah sembarangan di kali tersebut. Ia meminta kepada seluruh masyarakat untuk mengembalikan kelestarian Kali Tebu.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/sampah-popok-sekali-pakai-cemari-kali-tebu-surabaya/feed/ 0
100 Bibit Mangrove Ditanam dalam Aksi Garden of Memory di Jakarta https://www.greeners.co/aksi/100-bibit-mangrove-ditanam-dalam-aksi-garden-of-memory-di-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=100-bibit-mangrove-ditanam-dalam-aksi-garden-of-memory-di-jakarta https://www.greeners.co/aksi/100-bibit-mangrove-ditanam-dalam-aksi-garden-of-memory-di-jakarta/#respond Wed, 13 May 2026 10:28:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48472 Jakarta (Greeners) – Semangat memperingati Hari Kemenangan (Victory Day) 9 Mei terwujud dalam aksi menanam mangrove. Kegiatan “Garden of Memory: From Moscow To Jakarta” berlangsung di Kawasan Hutan Lindung Angke […]]]>

Jakarta (Greeners) – Semangat memperingati Hari Kemenangan (Victory Day) 9 Mei terwujud dalam aksi menanam mangrove. Kegiatan “Garden of Memory: From Moscow To Jakarta” berlangsung di Kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta, Minggu (10/5).

Kegiatan ini merupakan kerja sama Generasi Energi Bersih Indonesia bersama Yayasan Indonesia Bebas Emisi dan Russian House Jakarta, dengan dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Melalui kegiatan ini, peserta menanam 100 bibit mangrove. Para peserta terdiri dari perwakilan pemerintah, komunitas muda, organisasi lingkungan, hingga misi diplomatik. Penanaman mangrove menjadi simbol kolaborasi lintas negara dalam menghadapi tantangan krisis iklim yang semakin nyata.

Bagi penyelenggara, peringatan Victory Day tidak hanya menjadi seremoni sejarah, tetapi juga pengingat bahwa perubahan besar dapat dimulai dari aksi kolektif. Semangat tersebut diterjemahkan melalui penanaman mangrove sebagai “monumen hidup” yang diharapkan dapat memberi manfaat bagi generasi mendatang.

Direktur Russian House Jakarta, Nikita S. Shilikov mengatakan bahwa kegiatan ini memberikan dampak ganda, yaitu membantu menyelamatkan bumi sekaligus melestarikan pohon-pohon langka. 

“Menurut pandangan saya, sangat penting bagi kita semua untuk bekerja sama dalam menciptakan tempat yang benar-benar ingin kita sebut sebagai rumah, sekaligus membangun dunia yang lebih baik,” ujar Nikita. 

Ruang Kolaborasi

Kegiatan “Garden of Memory: From Moscow To Jakarta” juga menjadi ruang kolaborasi bagi generasi muda. Mereka bisa terlibat langsung dalam aksi iklim. Selain penanaman mangrove, acara turut menghadirkan pertunjukan budaya Betawi Palang Pintu sebagai simbol penyambutan dan persahabatan lintas budaya.

Peserta juga menerima Sertifikat Penyerapan Karbon dari Jejakkarbonku.id sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka terhadap lingkungan. Keterlibatan komunitas muda penting untuk mempercepat transisi menuju target net zero emissions Indonesia pada 2060 atau lebih cepat.

Ketua Nasional Generasi Energi Bersih Indonesia, Ilham Maulana, mengatakan aksi iklim harus dilakukan tanpa memandang batas negara. “Dari Moscow hingga Jakarta, kami mengirimkan satu pesan kepada dunia: aksi iklim tidak mengenal batas negara. Setiap mangrove yang kita tanam hari ini bukan hanya menjadi kenangan atas masa lalu, tetapi juga janji untuk masa depan,” ungkap Ilham. 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/100-bibit-mangrove-ditanam-dalam-aksi-garden-of-memory-di-jakarta/feed/ 0
Ecoton Pasang Alat Penjaring Sampah di Kali Tebu Surabaya https://www.greeners.co/aksi/ecoton-pasang-alat-penjaring-sampah-di-kali-tebu-surabaya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ecoton-pasang-alat-penjaring-sampah-di-kali-tebu-surabaya https://www.greeners.co/aksi/ecoton-pasang-alat-penjaring-sampah-di-kali-tebu-surabaya/#respond Tue, 12 May 2026 08:30:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48465 Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama komunitas di Surabaya melakukan aksi pengangkutan sampah plastik di aliran Kali Tebu, Surabaya pada Senin (11/5). Dalam kegiatan ini, mereka […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama komunitas di Surabaya melakukan aksi pengangkutan sampah plastik di aliran Kali Tebu, Surabaya pada Senin (11/5). Dalam kegiatan ini, mereka juga memasang alat penjaring sampah “Barakuda” yang terpasang secara permanen.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, M Fikser menilai proses evakuasi ini menjadi penting. Sebab, persoalan sampah sungai telah berkembang menjadi struktural yang tidak bisa selesai hanya lewat aksi komunitas. Menurutnya, upaya penjaringan sampah menggunakan Barakuda juga mampu memperlihatkan secara nyata volume sampah plastik yang selama ini mengalir di sungai perkotaan.

“Pekerjaan yang Ecoton dan Pekat lakukan tentu ada batas waktunya. Namun, yang terpenting adalah bagaimana pemerintah kota dapat menindaklanjuti gerakan ini menjadi kebijakan dan kerja jangka panjang,” ujar Fikser dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Fikser, Pemerintah Kota Surabaya tengah menyiapkan langkah lanjutan, termasuk pemasangan penahan sampah di setiap RW yang dilintasi aliran Kali Tebu agar proses pengawasan dan pengendalian lebih mudah dilakukan.

“Selama ini yang terjadi warga di hilir merasa disalahkan karena sampah menumpuk. Kami akan mengambil langkah memasang penahan sampah di tiap RW yang dialiri Kali Tebu,” katanya.

Selain itu, Pemerintah Kota Surabaya juga mendorong penyusunan Peraturan Wali Kota (Perwali) terkait pengelolaan dan perlindungan Kali Tebu. Regulasi tersebut dapat menjadi dasar pengendalian pencemaran sungai sekaligus memperkuat tanggung jawab lintas wilayah dalam pengelolaan sampah.

Sarana Wisata

Ketua Komunitas Pemuda Kali Tebu (Pekat), Muhammad Isomudin mengatakan bahwa ia ingin Kali Tebu Moncer menjadi sungai yang bersih. Ia berharap sungai ini bisa menjadi sarana wisata.

“Sebagai warga Suroboyo kami terpanggil untuk ikut mewujudkan sungai-sungai di Surabaya bebas sampah plastik. Saya ingin aksi nyata membersihkan Kali Tebu,” kata Isomudin.

Tim Pekat mencatat, sampah yang terjaring paling banyak plastik sekali pakai. Di antaranya styrofoam, kemasan makanan, dan limbah rumah tangga lain yang terbawa arus dari kawasan permukiman padat. Temuan itu memperlihatkan masyarakat masih memperlakukan sungai sebagai saluran pembuangan terbuka. Selama bertahun-tahun, penanganan lebih banyak berfokus pada membersihkan timbunan sampah di hilir ketimbang memutus sumber pencemaran dari kawasan permukiman.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ecoton-pasang-alat-penjaring-sampah-di-kali-tebu-surabaya/feed/ 0
Jejak Wallacea Rekam Upaya Warga Pesisir Menjaga Laut Indonesia Timur https://www.greeners.co/aksi/jejak-wallacea-rekam-upaya-warga-pesisir-menjaga-laut-indonesia-timur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jejak-wallacea-rekam-upaya-warga-pesisir-menjaga-laut-indonesia-timur https://www.greeners.co/aksi/jejak-wallacea-rekam-upaya-warga-pesisir-menjaga-laut-indonesia-timur/#respond Mon, 11 May 2026 13:23:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48459 Jakarta (Greeners) – Wallacea merupakan kawasan biogeografis unik di Indonesia bagian tengah yang mencakup Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Kekayaan alam serta cara masyarakat adat menjaga kawasan ini terekam dalam […]]]>

Jakarta (Greeners) – Wallacea merupakan kawasan biogeografis unik di Indonesia bagian tengah yang mencakup Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Kekayaan alam serta cara masyarakat adat menjaga kawasan ini terekam dalam film dokumenter Jejak Wallacea yang rilis pada Mei 2026.

Film Jejak Wallacea menceritakan berbagai upaya masyarakat pesisir dalam melindungi ekosistem laut dari praktik penangkapan ikan yang merusak lingkungan, seperti penggunaan bom dan racun ikan, hingga perburuan penyu dilindungi.

Wallacea memiliki kekayaan hayati laut yang luar biasa dan menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan kehidupan masyarakat. Kawasan ini memiliki beragam ekosistem pesisir, seperti terumbu karang, hutan mangrove, dan padang lamun. Ekosistem tersebut menjadi habitat ribuan spesies laut, termasuk spesies endemis.

Namun, wilayah ini masih menghadapi berbagai ancaman, terutama dari praktik perikanan destruktif yang menjadi persoalan di sektor perikanan skala kecil. Selain itu, masih ada penggunaan bom ikan dan racun di sejumlah wilayah. Bahkan, aktivitas penangkapan ikan juga terjadi di zona inti kawasan konservasi laut.

Selain itu, ancaman terhadap satwa pesisir dan habitatnya pun masih terus berlangsung. Di tengah berbagai tantangan tersebut, masyarakat Wallacea terus bergerak menjaga dan mengelola wilayah pesisir mereka.

Berangkat dari kondisi itulah dokumenter Jejak Wallacea tercipta. Terrestrial Program Specialist Burung Indonesia, Angga Yoga, menjelaskan bahwa pembuatan film ini menggunakan pendekatan populer agar masyarakat luas lebih mudah memahami isu konservasi.

“Isu konservasi sering disampaikan dengan bahasa yang terlalu teknis sehingga terasa jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena itu, film dikemas dalam format perjalanan (journey) yang menampilkan dampak nyata konservasi bagi masyarakat pesisir,” ungkap Angga.

Angga menambahkan, program kemitraan Wallacea bertujuan memperkuat peran masyarakat sipil dalam konservasi berbasis komunitas. Karena itu, film lebih menonjolkan masyarakat lokal yang telah lama menjaga alam melalui adat dan cara hidup mereka sendiri.

Rekam Empat Provinsi di Indonesia Timur

Sementara itu, produser sekaligus sutradara film Jejak Wallacea, SAM August Himmawan, mengatakan proses produksi dilakukan oleh lima personel inti bersama sejumlah kru lapangan. Mereka mendokumentasikan kehidupan masyarakat pesisir di empat provinsi di Indonesia Timur selama 22 hari perjalanan.

Perjalanan dalam film dimulai dari Larantuka dan Pulau Solor di Nusa Tenggara Timur, kemudian berlanjut ke Pulau Langkai, Pulau Lanjukang, dan Makassar di Sulawesi Selatan. Tim produksi lalu melanjutkan perjalanan ke Desa Wabula, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, hingga berakhir di Salakan dan Pulau Bungin, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah.

Menurut August, pesan utama film ini sederhana, yakni konservasi berkaitan langsung dengan kehidupan manusia. Melalui film tersebut, ia ingin menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, organisasi nonpemerintah, atau Burung Indonesia, melainkan tanggung jawab bersama.

“Lokasinya cukup menantang. Untuk mendapatkan dokumentasi yang diperlukan, tim harus menyeberang ke pulau-pulau kecil menggunakan perahu nelayan, menyelam di beberapa area konservasi, hingga mendaki bukit terjal menuju desa adat,” kata August dalam Diskusi Film Jejak Wallacea di Jakarta, Rabu (6/5).

Susuri Wallacea

Dalam film dokumenter Jejak Wallacea, Alfira Naftaly atau Abex hadir sebagai pencerita yang membawa penonton mengikuti perjalanan menyusuri kawasan Wallacea. Ia juga membagikan pengalaman pribadinya selama proses produksi film tersebut.

Menurut Abex, Indonesia memiliki kekayaan alam luar biasa yang perlu eksplorasi lebih jauh oleh masyarakat. Ia mengajak generasi muda untuk tidak hanya menghabiskan waktu di kamar atau kafe, tetapi juga mengenal langsung alam Indonesia.

Saat pertama kali ada ajakan bergabung dalam proyek ini, Abex mengungkapkan bahwa dirinya langsung menerima tawaran tersebut tanpa banyak pertanyaan. Menariknya, sebelum keberangkatan ia menemukan kembali buku lama yang telah ia simpan sejak 2016.

“Dalam buku itu, aku pernah menulis keinginannya menyusuri Wallacea, mengenal Alfred Wallace, dan mengunjungi berbagai wilayah di kawasan tersebut. Keinginan itu akhirnya terwujud melalui proyek Jejak Wallacea pada 2024,” kata Abex.

Bagi Abex, Wallacea bukan sekadar tentang Alfred Wallace atau keanekaragaman hayati, tetapi juga tentang kehidupan manusia. Jika alam di kawasan itu rusak, dampaknya akan dirasakan semua orang, baik masyarakat pesisir maupun mereka yang tinggal di perkotaan.

Pengalaman melihat langsung kondisi di lapangan membuatnya kerap merasa sedih, marah, sekaligus terdorong untuk berkontribusi lebih besar terhadap upaya pelestarian lingkungan. Sebagai informasi, film ini merupakan produksi Burung Indonesia bersama Arise! Indonesia dengan dukungan Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) melalui Program Kemitraan Wallacea II.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/jejak-wallacea-rekam-upaya-warga-pesisir-menjaga-laut-indonesia-timur/feed/ 0
Pekerja Sampah di Bali Sampaikan Aspirasi di Hari Buruh https://www.greeners.co/aksi/pekerja-sampah-di-bali-sampaikan-aspirasi-di-hari-buruh/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pekerja-sampah-di-bali-sampaikan-aspirasi-di-hari-buruh https://www.greeners.co/aksi/pekerja-sampah-di-bali-sampaikan-aspirasi-di-hari-buruh/#respond Mon, 04 May 2026 10:47:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48437 Jakarta (Greeners) – Dalam momentum peringatan Hari Buruh Sedunia (May Day) 2026, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali membuka ruang dialog bersama para pekerja di bidang persampahan. Kegiatan ini juga […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam momentum peringatan Hari Buruh Sedunia (May Day) 2026, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali membuka ruang dialog bersama para pekerja di bidang persampahan. Kegiatan ini juga menjadi wadah untuk mendengarkan aspirasi para pekerja yang memiliki peran penting dalam pengelolaan sampah di Bali.

Pada penyelenggaraan kegiatan ini, PPLH Bali bekerja sama dengan Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA) dan Aliansi Zero Waste Indonesia. Selain itu, juga ada dukungan dari Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali dan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Kegiatan yang bertemakan “Menguatkan Suara Pekerja Sampah Menuju Transisi yang Adil” ini berlangsung di TPA Suwung, Denpasar Selatan. Sebanyak 200 pekerja sampah dan pemulung di kawasan tempat pemrosesan akhir (TPA) Suwung ikut hadir. 

Direktur PPLH Bali, Catur Yudha Hariani, menyampaikan bahwa momentum Hari Buruh menjadi pengingat penting bahwa pekerja informal, termasuk pemulung dan pekerja sampah, juga perlu mendapatkan perhatian dalam proses perubahan sistem pengelolaan sampah.

“Transisi menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, harus berlangsung secara adil dan tidak meninggalkan kelompok masyarakat yang selama ini turut berkontribusi menjaga lingkungan, khususnya di TPA Suwung,” ujar Catur dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (2/5). 

Rangkaian kegiatan selama tiga jam ini meliputi talkshow, permainan edukatif, pemeriksaan kesehatan, serta pameran mengenai bahaya mikroplastik, paparan gas metana, pembuatan kompos, budidaya maggot, dan pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD).

Dilema Penutupan TPA

Sri Rahayu dan Jefri merupakan kalangan pekerja sampah yang ikut dalam kegiatan ini. Sri mengaku telah bekerja di TPA Suwung sejak usia 12 tahun mengikuti jejak orang tuanya sebagai pemulung. Sementara Jefri, perantau asal Situbondo, mulai bekerja sebagai pemulung di Bali sejak pandemi COVID-19 untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Keduanya menyampaikan harapan agar TPA Suwung tidak tutup karena pekerjaan tersebut menjadi sumber penghidupan utama mereka. Para pemulung yang hadir juga turut mengamini aspirasi tersebut. “Kalau bisa mohon untuk tidak menutup TPA. Kami bingung harus mencari pekerjaan ke mana lagi,” tutur Jefri.

Namun, di sisi lain Kementerian Lingkungan Hidup mengarahkan agar tidak ada aktivitas pemulung di area TPA. Tujuannya untuk menghindari risiko kecelakaan kerja dan hambatan operasional.

Untuk itu, Kepala UPTD Persampahan DKLH Provinsi Bali, Made Doni mengatakan bahwa pemerintah perlu mulai mempersiapkan alternatif pekerjaan bagi para pekerja sampah dan pemulung. Salah satunya peluang bekerja di TPST maupun TPS 3R di wilayah Denpasar.

Sementara itu, berdasarkan hasil dari pemeriksaan tekanan darah dan gula darah, sebagian besar peserta menunjukkan gejala kecemasan. Gejala tersebut berkaitan dengan tekanan pekerjaan dan kekhawatiran terhadap masa depan mereka.

PPLH Bali berharap proses transisi menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan dapat dilakukan secara inklusif dan berkeadilan. Kelompok masyarakat juga harus dilibatkan, sebab mereka selama ini berada di garis depan pengelolaan sampah. 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/pekerja-sampah-di-bali-sampaikan-aspirasi-di-hari-buruh/feed/ 0
Peringati Hari Bumi, Sunset di Kebun Gelar Aksi Bersih-Bersih Ciliwung https://www.greeners.co/aksi/peringati-hari-bumi-sunset-di-kebun-gelar-aksi-bersih-bersih-ciliwung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peringati-hari-bumi-sunset-di-kebun-gelar-aksi-bersih-bersih-ciliwung https://www.greeners.co/aksi/peringati-hari-bumi-sunset-di-kebun-gelar-aksi-bersih-bersih-ciliwung/#respond Thu, 30 Apr 2026 12:00:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48427 Jakarta (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Bumi pada 22 April, festival musik dan konservasi Sunset di Kebun menginisiasi kegiatan “Bersih-Bersih Ciliwung” di kawasan Kebun Raya Bogor. Aksi bebersih ini […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Bumi pada 22 April, festival musik dan konservasi Sunset di Kebun menginisiasi kegiatan “Bersih-Bersih Ciliwung” di kawasan Kebun Raya Bogor. Aksi bebersih ini merupakan bagian dari program Sunset di Kebun, khususnya subprogram Lesstari yang menjadi rangkaian pra-acara Sunset di Kebun.

Kegiatan diselenggarakan oleh PT Mitra Natura Raya (MNR) selaku mitra Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam pengelolaan kawasan Kebun Raya Bogor ini. Kegiatan juga diikuti oleh penikmat musik, masyarakat umum, komunitas, dan pemangku kepentingan. Melalui aksi bersih-bersih ini, mereka ikut berkontribusi langsung dalam menjaga kebersihan dan kelestarian ekosistem sungai, khususnya Sungai Ciliwung.

Aksi lingkungan ini tidak hanya berfokus pada pengumpulan sampah. Namun, juga bertujuan meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga lingkungan hidup secara berkelanjutan.

Sungai Ciliwung sebagai salah satu aliran sungai penting memiliki peran vital bagi kehidupan masyarakat dan ekosistem sekitarnya. Area Sungai Ciliwung ini juga melintasi kawasan Kebun Raya Bogor. Sayangnya, Sungai Ciliwung masih tercemar oleh sampah yang tidak terlihat dan sulit dijangkau. Area ini mencerminkan adanya kerusakan lingkungan yang serius.

Mendorong Kolaborasi

Menurut General Manager Event Sunset di Kebun, Abi Irawan, melalui rangkaian kegiatan ini, Sunset di Kebun berharap dapat mendorong kolaborasi yang lebih luas antara berbagai pihak dalam upaya pelestarian lingkungan. Selain itu, harapannya juga bisa menginspirasi pengunjung dan masyarakat luas untuk menjadikan gaya hidup ramah lingkungan sebagai bagian dari keseharian.

“Momentum Hari Bumi menjadi pengingat bahwa isu sampah di perkotaan masih menjadi tantangan nyata, baik yang terlihat maupun yang tak kasat mata. Di sisi lain, keterlibatan langsung masyarakat dalam aksi lingkungan masih tergolong rendah,” ujar Abi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (25/4).

Sunset di Kebun menegaskan bahwa kehadiran acara ini bukan hanya sekadar sebagai hiburan. Namun, juga sebagai medium untuk mendorong perubahan perilaku melalui pengalaman yang nyata dan partisipatif.

“Kita ingin pengunjung tidak sekadar tahu soal isu lingkungan. Mereka harus merasakannya secara emosional,” tegas Abi.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/peringati-hari-bumi-sunset-di-kebun-gelar-aksi-bersih-bersih-ciliwung/feed/ 0
Warga Kota Batu Rayakan Hari Bumi, Manfaatkan Sampah Jadi Pupuk Organik https://www.greeners.co/aksi/warga-kota-batu-rayakan-hari-bumi-manfaatkan-sampah-jadi-pupuk-organik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=warga-kota-batu-rayakan-hari-bumi-manfaatkan-sampah-jadi-pupuk-organik https://www.greeners.co/aksi/warga-kota-batu-rayakan-hari-bumi-manfaatkan-sampah-jadi-pupuk-organik/#respond Wed, 29 Apr 2026 10:53:27 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48420 Jakarta (Greeners) – Peringatan Hari Bumi pada 22 April menjadi momentum bagi masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Warga Kota Batu merayakannya dengan memanfaatkan pupuk organik secara bersama-sama untuk mendukung […]]]>

Jakarta (Greeners) – Peringatan Hari Bumi pada 22 April menjadi momentum bagi masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Warga Kota Batu merayakannya dengan memanfaatkan pupuk organik secara bersama-sama untuk mendukung pertanian yang ramah lingkungan.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh TPS3R Jalibar Berseri Desa Oro-Oro Ombo, berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu dan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton).

Dalam perayaan tersebut, ada sosialisasi bertema “Transformasi Sampah Organik Menjadi Nutrisi Pangan Organik di Kota Batu”. Kegiatan ini juga diisi dengan penyerahan simbolis pupuk organik cair (POC) hasil olahan rumah kompos, serta penanaman pohon turi.

Kepala Desa Oro-Oro Ombo, Wiweko, mengatakan para petani mulai tertarik mengembangkan pertanian organik. “Kami memberikan POC kepada petani dan hasilnya baik untuk pertumbuhan tanaman. Harapannya ini bisa terus dimanfaatkan,” ujarnya.

Ketua TPS3R Jalibar Berseri, Titik Setyowati, menambahkan bahwa momentum Hari Bumi penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah, khususnya sampah organik.

“Saya setiap hari menanam sayur menggunakan kompos dan pupuk cair dari hasil pemilahan sampah di TPS3R. Kegiatan ini untuk menunjukkan bahwa organik memiliki manfaat besar bagi kehidupan dan bumi,” tegasnya.

Kurangi Ketergantungan Pupuk Kimia

Di lokasi yang sama, Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Limbah B3 Kota Batu, Endang Ari Setyorini, menyebut kegiatan ini menjadi sarana edukasi bahwa POC dapat dimanfaatkan dalam sektor pertanian.

“Selama ini sampah organik di TPS3R diolah menjadi kompos. Padahal, lindi yang dihasilkan bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair. Sebagai kota pertanian, Kota Batu punya potensi besar untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia,” jelasnya.

Sementara itu, seluruh sajian dalam kegiatan ini disajikan tanpa plastik sekali pakai. Panitia menerapkan sistem prasmanan dengan wadah guna ulang seperti gelas dan piring, sehingga tidak menghasilkan sampah tambahan. Sampah organik yang dihasilkan pun langsung diolah di rumah kompos milik TPS3R Oro-Oro Ombo.

Selain sosialisasi, perayaan Hari Bumi ini juga diramaikan dengan fashion show dari para pekerja TPS3R serta lomba kreasi daur ulang yang diikuti kader lingkungan. Kegiatan ini menghasilkan karya-karya yang bermanfaat dengan prinsip reuse.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/warga-kota-batu-rayakan-hari-bumi-manfaatkan-sampah-jadi-pupuk-organik/feed/ 0
Alfamidi Ajak Nasabah Bank Sampah Olah Sampah Sachet dan Galon Bekas https://www.greeners.co/aksi/alfamidi-ajak-nasabah-bank-sampah-olah-sampah-sachet-dan-galon-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=alfamidi-ajak-nasabah-bank-sampah-olah-sampah-sachet-dan-galon-bekas https://www.greeners.co/aksi/alfamidi-ajak-nasabah-bank-sampah-olah-sampah-sachet-dan-galon-bekas/#respond Tue, 28 Apr 2026 11:17:37 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48413 Jakarta (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Bumi 2026, Bank Sampah Sakura bersama Alfamidi menggelar kegiatan lingkungan melalui program Kampung Merdeka Alfamidi di kawasan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Sebanyak 65 […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Bumi 2026, Bank Sampah Sakura bersama Alfamidi menggelar kegiatan lingkungan melalui program Kampung Merdeka Alfamidi di kawasan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Sebanyak 65 nasabah Bank Sampah Sakura ikut berpartisipasi

Para peserta melakukan kegiatan menanam tanaman menggunakan galon plastik bekas sebagai wadah tanam. Mereka juga membuat anyaman tikar dari ratusan sampah sachet seperti bungkus kopi dan deterjen.

Kegiatan ini menjadi bentuk edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya mengelola sampah. Selain itu, juga menunjukkan bahwa limbah plastik masih bisa masyarakat manfaatkan menjadi barang yang berguna. Puluhan galon bekas menjadi media tanam berbagai tanaman pangan seperti cabai dan tomat yang dapat warga manfaatkan.

Ketua Bank Sampah Sakura, Sudi Asmoro, mengatakan ia berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kepedulian nasabah terhadap lingkungan.

“Harapannya sederhana, nasabah jadi makin peduli sama lingkungan. Dari kegiatan ini kita ingin menunjukkan kalau botol plastik bekas itu masih bisa kita pakai lagi jadi sesuatu yang bermanfaat, seperti pot tanaman. Jadi selain menanam, juga sekalian belajar mengurangi sampah,” ujarnya (17/4).

Ia menambahkan, pengolahan sampah menjadi barang kreatif juga menjadi pesan penting yang ingin ia sampaikan kepada para nasabah.

“Kami ingin menyampaikan kalau sampah plastik itu nggak harus langsung dibuang. Kalau diolah, bisa jadi barang yang berguna, contohnya kemarin kita bikin tikar. Harapannya nasabah jadi lebih kreatif dan mulai terbiasa buat pilah sampah dari rumah,” jelasnya.

Menurut Sudi, kegiatan serupa sebenarnya sudah pernah dilakukan sebelumnya, namun hanya melibatkan pengurus bank sampah. Pada peringatan Hari Bumi tahun ini, kegiatan kian luas dengan melibatkan langsung para nasabah agar manfaatnya bisa makin terasa.

Dorong Masyarakat Peduli Lingkungan

Corporate Communication Manager Alfamidi, Retriantina Marhendra, mengatakan bahwa melalui program Kampung Merdeka Alfamidi, perusahaan terus mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dengan menerapkan gaya hidup ramah lingkungan atau go green, serta mendukung upaya pengurangan sampah menuju konsep zero waste.

Sebagai informasi, Bank Sampah Sakura merupakan salah satu bank sampah binaan Alfamidi dari lima bank sampah binaan lainnya yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, seperti Manado, Makassar, Medan, Palu, dan Kendari. Kegiatan ini dapat menjadi contoh sederhana bahwa pengelolaan sampah tidak selalu sulit, dan bisa masyarakat mulai dari kebiasaan sehari-hari di lingkungan sekitar.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/alfamidi-ajak-nasabah-bank-sampah-olah-sampah-sachet-dan-galon-bekas/feed/ 0
Bandung On Bike Kembali Hidupkan Semangat Bersepeda di Kota Bandung https://www.greeners.co/aksi/bandung-on-bike-kembali-hidupkan-semangat-bersepeda-di-kota-bandung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bandung-on-bike-kembali-hidupkan-semangat-bersepeda-di-kota-bandung https://www.greeners.co/aksi/bandung-on-bike-kembali-hidupkan-semangat-bersepeda-di-kota-bandung/#respond Mon, 27 Apr 2026 13:14:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48402 Jakarta (Greeners) – Acara bersepeda Bandung On Bike sukses terselenggara pada Sabtu (25/4) di Balai Kota Bandung. Kegiatan ini menghadirkan pameran, talkshow, serta aktivitas bersepeda, sekaligus menerapkan konsep less waste […]]]>

Jakarta (Greeners) – Acara bersepeda Bandung On Bike sukses terselenggara pada Sabtu (25/4) di Balai Kota Bandung. Kegiatan ini menghadirkan pameran, talkshow, serta aktivitas bersepeda, sekaligus menerapkan konsep less waste event, termasuk penggunaan sistem guna ulang untuk makanan dan minuman.

Bandung On Bike menjadi ajang silaturahmi, edukasi, sekaligus selebrasi untuk menghidupkan kembali semangat bersepeda di Kota Bandung. Kegiatan ini juga membawa misi menciptakan kota yang sehat, masyarakat yang kuat, serta kehidupan yang lebih berkelanjutan.

Acara ini juga mengajak peserta menikmati Kota Bandung dari atas sepeda melalui dua opsi jalur, yakni jalur petualangan (trail adventure) 100 kilometer dan jalur lintas kota (city tour) 60 kilometer. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Bumi 22 April, dengan mengintegrasikan olahraga bersepeda, upaya pencegahan polusi, serta penerapan konsep acara minim sampah.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Bike to Work (B2W) Bandung bersama Greeners, serta didukung berbagai pihak, termasuk Diet Plastik Indonesia yang menerapkan protokol guna ulang tanpa kemasan sekali pakai. Pengelolaan sampah selama acara juga dilakukan bersama Ngadaur dan Plastavfall.

Ketua Pelaksana Bandung on Bike, Moch Andi Nurfauzi, mengatakan bahwa konsep ini diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas. “Melalui konsep ini, kami berharap kegiatan bersepeda tidak hanya berdampak pada kualitas udara, tetapi juga mendorong pengelolaan sampah yang lebih baik di Kota Bandung,” ujar Andy di Bandung, Sabtu (25/4).

Ia menambahkan, sekitar 70–100 komunitas diundang dalam kegiatan ini, dengan kehadiran awal mencapai 500–600 peserta. Area parkir sepeda yang telah disediakan pun terlihat penuh.

“Hal ini menunjukkan bahwa budaya bersepeda di Bandung masih kuat dan akan terus berkembang menuju kota yang ramah sepeda,” tambahnya.

Bandung On Bike kembali hidupkan semangat bersepeda di Kota Bandung. Foto: Greeners.Co

Bandung On Bike kembali hidupkan semangat bersepeda di Kota Bandung. Foto: Greeners.Co

Perbaikan Infrastruktur

Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan juga mengapresiasi komitmen panitia dalam mengelola sampah secara bertanggung jawab selama acara berlangsung. Ia menyebut bahwa saat ini Kota Bandung masih menghadapi tantangan dalam mengelola sampah.

Di sisi lain, kini Pemerintah Kota Bandung tengah fokus melakukan pembenahan infrastruktur sebagai fondasi kota ramah pejalan kaki dan pesepeda.

“Mulai bulan ini kami akan melakukan perbaikan jalan secara merata untuk memastikan kualitas jalan di seluruh Kota Bandung, termasuk menyelesaikan galian-galian. Setelah itu, trotoar juga akan diperbaiki agar pejalan kaki merasa aman dan nyaman,” kata Farhan.

Menurutnya, prioritas utama pembangunan adalah keselamatan dan kenyamanan pejalan kaki sebagai kelompok paling rentan di jalan. Setelah itu, ia berkomitmen mengembangkan fasilitas yang lebih ramah bagi pesepeda.

Farhan juga mengakui bahwa membangun kota ramah sepeda tidak bisa dilakukan secara instan.  “Mengubah jalan yang sudah ada menjadi ramah pesepeda itu tidak semudah memberi garis hijau. Kami harus membereskan dulu persoalan dasar seperti galian jalan yang menjadi tantangan bagi pesepeda,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemerintah membuka ruang dialog dengan komunitas sepeda, termasuk Bike to Work. Ruang dialog ini untuk memberikan masukan teknis terkait pembangunan jalur sepeda yang lebih aman dan terintegrasi.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/bandung-on-bike-kembali-hidupkan-semangat-bersepeda-di-kota-bandung/feed/ 0
DXI 2026 Resmi Dibuka, Perkuat Ekosistem Olahraga Petualangan https://www.greeners.co/aksi/dxi-2026-resmi-dibuka-perkuat-ekosistem-olahraga-petualangan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dxi-2026-resmi-dibuka-perkuat-ekosistem-olahraga-petualangan https://www.greeners.co/aksi/dxi-2026-resmi-dibuka-perkuat-ekosistem-olahraga-petualangan/#respond Mon, 27 Apr 2026 12:26:08 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48400 Jakarta (Greeners) – Memasuki penyelenggaraan ke-18, Deep and Extreme Indonesia (DXI) 2026 kembali diselenggarakan pada 23–26 April 2026 di Hall B Jakarta International Convention Center (JICC). Acara ini menggelar pameran […]]]>

Jakarta (Greeners) – Memasuki penyelenggaraan ke-18, Deep and Extreme Indonesia (DXI) 2026 kembali diselenggarakan pada 23–26 April 2026 di Hall B Jakarta International Convention Center (JICC). Acara ini menggelar pameran kegiatan luar ruangan (outdoor) dalam memperkuat ekosistem olahraga petualangan.

Tahun ini, DXI mengusung tema #DAREtoXPLORE: Waves of Collaboration. Pameran ini merupakan bentuk kerja sama Dyandra Event Solutions (DES) dengan ADEX 360 (Asia Dive Expo). Tak hanya menyasar pencinta olahraga laut dan ekstrem, pameran ini juga menyasar penyuka aktivitas outdoor. 

Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono resmi membuka DXI 2026. Acara ini juga menggaet masyarakat awam yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai apa saja wisata petualangan yang ada di Indonesia.

“Kami juga turut mendukung dan mengawal kerja sama DXI dengan ADEX. Kami harap kolaborasi ini mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pariwisata bahari dan petualangan kelas dunia, sekaligus membuka peluang lebih luas bagi promosi potensi maritim nasional di kancah global,” ucapnya dalam acara pembukaan DXI 2026 di JICC Senayan, Jakarta, Kamis (23/4).

Agus menambahkan, butuh promosi lokal guna mendukung dan memperkuat posisi Indonesia . Ini menjadi salah satu pilar utama dalam mendorong pertumbuhan 17 subsektor ekonomi kreatif melalui DXI.

Selain itu, upaya ini juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di tingkat nasional maupun global. Bahkan, bisa melahirkan destinasi baru lainnya selain Bali dan Labuan Bajo.

Sarana Promosi Wisata Bahari

Sementara itu, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki lebih dari 17.000 pulau. Wilayah laut mencakup lebih dari 70 persen dari total wilayah nasional. Kondisi tersebut menjadikan Indonesia memiliki keunggulan komparatif sekaligus kompetitif dalam pengembangan wisata bahari dan wisata petualangan.

Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ni Luh Puspa mengatakan bahwa DXI memiliki peran strategis sebagai sarana promosi dan pemasaran wisata bahari. DXI juga dapat menjadi katalisator dalam memperkuat ekosistem pariwisata bahari yang berdaya saing global.

“Kami harap DXI dapat memberikan dampak positif dalam memperkuat positioning Indonesia sebagai destinasi unggulan wisata bahari dan adventure di tingkat global,” ungkapnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/dxi-2026-resmi-dibuka-perkuat-ekosistem-olahraga-petualangan/feed/ 0
KLH Bentuk Satgas untuk Kendalikan Karhutla https://www.greeners.co/aksi/klh-bentuk-satgas-untuk-kendalikan-karhutla/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klh-bentuk-satgas-untuk-kendalikan-karhutla https://www.greeners.co/aksi/klh-bentuk-satgas-untuk-kendalikan-karhutla/#respond Thu, 23 Apr 2026 09:40:22 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48394 Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian Kebakaran Lahan Tahun 2026. Inisiatif ini sebagai bagian dari strategi nasioanl dalam menghadapi peningkatan risiko […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian Kebakaran Lahan Tahun 2026. Inisiatif ini sebagai bagian dari strategi nasioanl dalam menghadapi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring proyeksi musim kemarau dan potensi El Nino pada 2026.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa pendekatan pengendalian karhutla harus berfokus pada pencegahan yang terstruktur dan terpadu.

“Kita harus bergerak cepat, terstruktur, dan tanpa kompromi karena ini menyangkut keselamatan masyarakat, lingkungan, dan masa depan bangsa,” ujar Hanif di Jakarta, Rabu (22/4).

Data menunjukkan peningkatan signifikan kejadian karhutla pada awal tahun 2026, dengan jumlah titik panas mencapai 3.609. Angka ini meningkat tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Luas kebakaran hingga Februari 2026 juga tercatat meningkat tajam, mencapai lebih dari 32 ribu hektare. Wilayah Sumatra dan Kalimantan menjadi daerah yang paling terdampak.

Menghadapi kondisi tersebut, KLH/BPLH menetapkan Satgas Pengendalian Kebakaran Lahan Tahun 2026 yang terdiri dari beberapa tim. Di antaranya tim pendamping, tim sekretariat, dan tim klarifikasi.

Satgas tersebut bertugas memperkuat koordinasi pusat dan daerah. Mereka juga akan memastikan langkah pencegahan dan penanganan dilakukan secara cepat dan efektif hingga tingkat tapak.

Salah satu fungsi utama Satgas diarahkan untuk memperkuat early fire response melalui aktivasi posko pengendalian karhutla di daerah rawan hingga tingkat desa. Selain itu, kesiapsiagaan sumber daya manusia, sarana prasarana, serta dukungan dari pemerintah daerah dan pelaku usaha menjadi fokus utama dalam pelaksanaan pengendalian.

Kuatkan Infrastruktur

Sementara itu, KLH/BPLH juga mendorong penguatan infrastruktur pengendalian karhutla, khususnya di wilayah gambut, melalui perbaikan tata kelola air, pembangunan sekat kanal, serta penyediaan sumber air seperti sumur bor dan embung. Upaya ini berlangsung secara kolaboratif bersama pemerintah daerah, dunia usaha, serta aparat TNI/Polri dan masyarakat.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung lebih kering dan panjang. Indikasi El Nino berstatus lemah hingga moderat. Kondisi ini diperkirakan meningkatkan potensi kebakaran. Terutama di wilayah rawan seperti Riau dan Kalimantan Barat, sehingga kesiapsiagaan harus diperkuat sejak dini.

Hanif menegaskan bahwa pengendalian karhutla tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi penuh lintas sektor. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, aparat keamanan, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan risiko kebakaran.

Melalui pembentukan Satgas Pengendalian Kebakaran Lahan Tahun 2026, KLH/BPLH berharap upaya pencegahan dapat dilakukan lebih sistematis dan respons terhadap kebakaran dapat dilakukan lebih cepat. Langkah ini diharapkan mampu meminimalkan dampak karhutla terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, serta perekonomian nasional.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/klh-bentuk-satgas-untuk-kendalikan-karhutla/feed/ 0
Ribuan Fans K-pop Kembali Tekan Hana Bank Hentikan Pendanaan Energi Fosil https://www.greeners.co/aksi/ribuan-fans-k-pop-kembali-tekan-hana-bank-hentikan-pendanaan-proyek-pltu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ribuan-fans-k-pop-kembali-tekan-hana-bank-hentikan-pendanaan-proyek-pltu https://www.greeners.co/aksi/ribuan-fans-k-pop-kembali-tekan-hana-bank-hentikan-pendanaan-proyek-pltu/#respond Mon, 20 Apr 2026 10:47:39 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48384 Jakarta (Greeners) – Ribuan penggemar K-pop menandatangani petisi mendesak Hana Bank menghentikan pembiayaan proyek PLTU batu bara. Petisi dibuat setelah Hana Bank merespons surat terbuka yang dikirim sebelumnya dengan pernyataan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ribuan penggemar K-pop menandatangani petisi mendesak Hana Bank menghentikan pembiayaan proyek PLTU batu bara. Petisi dibuat setelah Hana Bank merespons surat terbuka yang dikirim sebelumnya dengan pernyataan samar tanpa adanya tindak lanjut yang jelas.

Penandatanganan petisi merupakan lanjutan dari kampanye “Hana, Bring K-pop Not Coal”. Petisi digaungkan melalui acara talkshow “No K-pop on a Dead Planet: Aksi Penggemar K-pop untuk Penghentian Pendanaan Hana Bank ke Energi Fosil”. Acara ini termasuk dalam rangkaian PE5TA WARGI K-POP di Jakarta, yakni perayaan lima tahun Kpop4Planet menggerakan aksi iklim global.

Hana Bank merupakan salah satu bank dari Korea Selatan. Mereka berkolaborasi dengan idol K-Pop seperti G-dragon Bigbang dan An Yujin IVE.

Pada 2022, Hana Bank telah mendanai proyek nikel oleh Grup Harita yang ditenagai PLTU batu bara baru sebesar US$ 84 juta. Padahal, pada 2021, Hana Financial Group menyatakan akan berhenti membiayai proyek terkait batu bara di dalam dan luar negeri.

Namun, Grup Harita sampai saat ini sedang membangun dan mengoperasikan pembangkit listrik tenaga batu bara. Kapasitasnya mencapai 1,6 gigawatt (GW) di Pulau Obi. Rencananya, grup tersebut akan memperluasnya menjadi lebih dari 4 GW.

Juru kampanye Kpop4Planet di Indonesia, Nurul Sarifah mengatakan dampak akibat proyek nikel tersebut sudah terbukti jelas merusak dan merugikan masyarakat dan lingkungan sekitar di Pulau Obi.

“Namun, jawaban Hana Bank yang kian naif menunjukkan bahwa mereka tidak sungguh-sungguh ingin mencari solusi dan menunjukkan aksi nyata,” kata Nurul.

Emisi Karbon Meningkat

Pada Februari lalu, Kpop4Planet bersama 12 basis penggemar K-pop di Indonesia mengirimkan surat terbuka langsung ke Hana Bank di Seoul. Melalui kampanye “Hana, Bring K-pop Not Coal”, mereka meminta Hana Bank berhenti mendanai perusahaan yang bergantung pada PLTU batu bara.

Hana Bank menyatakan akan mengembangkan kebijakan untuk mendukung pengurangan karbon melalui penguatan manajemen risiko terkait batu bara. Namun, belum ada rencana jelas untuk keluar dari pendanaan sektor tersebut.

Senior Asia Energy Finance Campaigner Market Forces, Binbin Mariana juga menyoroti kerusakan Pulau Obi. Menurutnya, pendanaan bank di proyek nikel Harita di Pulau Obi turut berkontribusi pada peningkatan karbon emisi dan kerusakan lingkungan sekitar.

“Emisi karbon Harita hampir meningkat tiga kali lipat, dari 3,74 megaton emisi karbon pada 2022 menjadi 10,87 megaton pada 2024. Jumlah ini setara dengan hampir 1% total emisi Indonesia dan mengemudikan 2,5 juta mobil berbahan bakar fosil selama 1 tahun,” ungkap Binbin.

Sejak 9 April, petisi “Hana Bring K-pop Not Coal” telah mengumpulkan lebih dari 1.000 penggemar K-pop. Mereka mendesak Hana Bank untuk segera berhenti memberikan pendanaan ke perusahaan tersebut selama masih bergantung pada PLTU batu bara baru.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ribuan-fans-k-pop-kembali-tekan-hana-bank-hentikan-pendanaan-proyek-pltu/feed/ 0