Aksi - Greeners.Co https://www.greeners.co/aksi/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 29 Jul 2026 07:56:30 +0000 id hourly 1 KLH Tanam Sejuta Bibit Mangrove Serentak di 37 Provinsi Indonesia https://www.greeners.co/aksi/klh-tanam-sejuta-bibit-mangrove-serentak-di-37-provinsi-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klh-tanam-sejuta-bibit-mangrove-serentak-di-37-provinsi-indonesia https://www.greeners.co/aksi/klh-tanam-sejuta-bibit-mangrove-serentak-di-37-provinsi-indonesia/#respond Wed, 29 Jul 2026 07:56:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48764 Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) melakukan aksi penanaman mangrove serentak lebih dari satu juta bibit mangrove di 162 titik pada 37 provinsi di Indonesia. Kegiatan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) melakukan aksi penanaman mangrove serentak lebih dari satu juta bibit mangrove di 162 titik pada 37 provinsi di Indonesia. Kegiatan itu dilakukan sebagai bagian dari  peringatan Hari Mangrove Sedunia Tahun 2026.

Penanaman dilakukan di area seluas 364,11 hektare dengan melibatkan lebih dari 25.000 peserta, mulai dari pelajar, komunitas, serikat pekerja, hingga masyarakat. Kegiatan tersebut juga melibatkan kolaborasi KLH/BPLH dengan Kementerian Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta pemerintah daerah.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Lingkungan Hidup, Moh Jumhur hidayat menegaskan bahwa mangrove adalah kunci dalam menjaga keseimbangan ekologis dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

“Mangrove bukan hanya sekumpulan pohon di kawasan pesisir. Mangrove adalah benteng kehidupan yang melindungi daratan, menjaga sumber kehidupan masyarakat pesisir, menyimpan karbon, dan menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, menjaga mangrove berarti menjaga kehidupan dan mengamankan masa depan generasi Indonesia,” kata Jumhur.

Ia menambahkan bahwa saat ini, Indonesia memegang posisi penting secara global dengan kawasan mangrove seluas lebih dari 3,45 juta hektare. Data tersebut berdasarkan Peta Mangrove Nasional Tahun 2025, yang mewakili 20 hingga 25 persen dari total mangrove dunia.

Jumhur menegaskan bahwa kekayaan tersebut menjadi tanggung jawab besar bagi Indonesia untuk memastikan ekosistem mangrove dikelola secara berkelanjutan. Terutama untuk melindungi pesisir, penjaga keanekaragaman hayati, serta penopang kehidupan masyarakat.

Hadapi Ancaman

Sementara itu, meski mangrove memiliki peran yang penting untuk ekosistem, saat ini mangrove masih menghadapi beberapa ancaman. Di antaranya alih fungsi lahan, pencemaran, hingga eksploitasi yang tidak terkendali.

Saat ini, KLH/BPLH telah menetapkan serangkaian kebijakan dan program strategis untuk memperkuat perlindungan pesisir. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove, pemerintah menjamin upaya perlindungan dan pemulihan dapat berjalan terpadu.

Sebagai penguatan langkah pelaksanaan di lapangan dan orkestrasi dengan para pihak, KLH/BPLH juga telah menetapkan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove (RPPEM) Nasional 2026–2055 sebagai pedoman pengelolaan jangka panjang.

Melalui pendekatan Kesatuan Lanskap Mangrove (KLM), fungsi perlindungan alam diselaraskan dengan pemanfaatan berkelanjutan. Sementara di tingkat tapak, program Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM) terus didorong untuk mengubah kebiasaan eksploitasi menjadi pengelolaan lestari. Contohnya ekowisata dan produk berbasis mangrove yang menciptakan lapangan kerja hijau.

KLH/BPLH berharap ke depannya bisa melakukan kolaborasi lintas sektor untuk penguatan kemitraan strategis. Kolaborasi ini dipastikan agar upaya pemulihan ekositem pesisir bisa menjadi gerakan nasional.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/klh-tanam-sejuta-bibit-mangrove-serentak-di-37-provinsi-indonesia/feed/ 0
Simokerto Analisis Karakteristik Sampah untuk Susun Strategi Pengelolaan Sampah https://www.greeners.co/aksi/simokerto-analisis-karakteristik-sampah-untuk-susun-strategi-pengelolaan-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=simokerto-analisis-karakteristik-sampah-untuk-susun-strategi-pengelolaan-sampah https://www.greeners.co/aksi/simokerto-analisis-karakteristik-sampah-untuk-susun-strategi-pengelolaan-sampah/#respond Sat, 25 Jul 2026 11:59:21 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48750 Jakarta (Greeners) – Kelurahan Simokerto, Kota Surabaya telah melakukan Analisis Karakteristik Sampah (AKSA). Hasil analisis tersebut akan menjadi salah satu rujukan untuk menyusun strategi pengelolaan sampah di kampung tersebut. Kegiatan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kelurahan Simokerto, Kota Surabaya telah melakukan Analisis Karakteristik Sampah (AKSA). Hasil analisis tersebut akan menjadi salah satu rujukan untuk menyusun strategi pengelolaan sampah di kampung tersebut.

Kegiatan ini berlangsung selama delapan hari pada 16-23 Juli 2026. Sebanyak 50 rumah tangga berpartisipasi dalam memilah dan mengumpulkan sampah rumah tangga untuk dianalisis komposisi dan karakteristiknya.

AKSA merupakan bagian dari Program Kampung MOZAIK (Mission for Zero Plastic Leakage) hasil inisiasi Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) bersama para mitra. Tujuannya untuk mengurangi kebocoran sampah plastik ke sungai, khususnya di kawasan Kali Tebu.

Melalui kegiatan ini, setiap rumah tangga diminta memilah sampah berdasarkan jenisnya, seperti sampah organik, plastik, kertas, logam, kaca, tekstil, popok sekali pakai, serta residu. Seluruh sampah kemudian ditimbang dan dicatat setiap hari untuk memperoleh data timbulan sampah rumah tangga dan mengetahui potensi pengurangan sampah dari sumber.

Waste Prevention Manager ECOTON, Tonis Afrianto mengatakan bahwa AKSA dilakukan untuk mendukung data awal pengelolaan sampah kawasan. Data yang diperoleh dari AKSA nantinya akan menjadi dasar dalam menyusun strategi pengelolaan sampah yang lebih efektif di tingkat kampung.

“Dengan mengetahui komposisi sampah yang dihasilkan masyarakat, intervensi yang dilakukan dapat lebih tepat sasaran, mulai dari pengomposan sampah organik, pemilahan daur ulang, hingga pengurangan penggunaan kemasan sekali pakai yang memicu timbulan sampah residu,” kata Tonis dalam keterangan tertulisnya.

Sampah Organik Mendominasi

Dari kegiatan ini, sebanyak 354,58 kilogram sampah terkumpul. Sampah organik menjadi komponen terbesar dengan presentase 45,5 persen. Sampah ini umumnya berupa sisa makanan, kulit buah, sayuran, dan material nabati lainnya.

Sementara itu, sebanyak 34,5 persen merupakan sampah yang masih berpotensi didaur ulang, 13,2 persen berupa popok sekali pakai, dan 6,8 persen merupakan sampah residu. Temuan ini menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat sampah rumah tangga masih dapat dikelola melalui pemilahan, pengomposan, dan daur ulang. Dengan demikian, volume sampah yang berpotensi bocor ke Kali Tebu dapat ditekan secara signifikan apabila dikelola sejak dari sumber.

Lurah Simokerto, Arief Insani mengatakan bahwa melalui AKSA bisa mengetahui jenis sampah yang dihasilkan oleh masyarakat dan jenis sampah yang perlu dikurangi. “Semoga tahapan menuju kampung MOZAIK seperti AKSA pilah sampah ini bisa direplikasi oleh kawasan RT/RW sekelurahan Simokerto sehingga bisa menciptakan kali tebu yang lestari dan asri. Jadi, layak dinikmati kembali oleh masyarakat dan bebas dari kebocoran sampah plastik ke sungai,” ujarnya.

Sementara itu, Fasilitator Kelurahan Simokerto, Mujiatiningsih juga mengatakan bahwa aksi pilah sampah di wilayahnya akan terus dilakukan. Pihak kelurahan akan melakukan pengangkutan terpilah dan pemanfaatan sampah organik menjadi kompos melalui sumur kompos.

“Pilah sampah mempermudah masyarakat mengelola sampah sampai tuntas sejak dari sumber untuk mewujudkan kali tebu lestari,” kata dia.

Selain menghitung timbulan dan komposisi sampah, hasil AKSA juga akan digunakan sebagai dasar pelaksanaan brand audit. Kegiatan ini dilakukan dengan mengidentifikasi merek-merek kemasan yang paling banyak ditemukan dalam sampah rumah tangga. Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi produsen sekaligus memperkuat advokasi kebijakan pengurangan plastik sekali pakai.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/simokerto-analisis-karakteristik-sampah-untuk-susun-strategi-pengelolaan-sampah/feed/ 0
Desainer Thailand Buat Meja dari Daur Ulang Thinwall https://www.greeners.co/aksi/desainer-thailand-buat-meja-dari-daur-ulang-thinwall/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=desainer-thailand-buat-meja-dari-daur-ulang-thinwall https://www.greeners.co/aksi/desainer-thailand-buat-meja-dari-daur-ulang-thinwall/#respond Thu, 23 Jul 2026 10:34:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48741 Wadah plastik yang berfungsi sebagai pembungkus makanan, seperti thinwall, sering kali berakhir menjadi sampah. Namun, di tangan desainer asal Bangkok, Thailand, limbah tersebut bisa menjadi meja yang unik. Inovasi ini […]]]>

Wadah plastik yang berfungsi sebagai pembungkus makanan, seperti thinwall, sering kali berakhir menjadi sampah. Namun, di tangan desainer asal Bangkok, Thailand, limbah tersebut bisa menjadi meja yang unik.

Inovasi ini merupakan hasil pengembangan studio desain Thailand TAKEHOMEDESIGN melalui koleksi furnitur bernama RE-UP. Studio yang didirikan oleh Paphop Wongpanich itu telah lebih dari satu dekade memproduksi furnitur yang memadukan keterampilan perajin Thailand dengan pendekatan desain berwawasan global.

Melansir Yanko Design, salah satu koleksi yang mencuri perhatian adalah meja samping RE-UP. Bagian dasar meja ini seluruhnya terbuat dari limbah plastik hasil cetakan yang berasal dari dua jenis material, yakni polikarbonat dari limbah industri dan polipropilena pascakonsumsi. Keduanya dikumpulkan dari kemasan makanan serta wadah pengiriman.

Thailand menghasilkan lebih dari 2 juta ton limbah plastik setiap tahun. Sebagian besarnya berasal dari kemasan plastik sekali pakai yang langsung dibuang setelah digunakan.

Melalui inovasi ini, limbah wadah plastik tidak lagi berakhir di tempat pembuangan. Namun, diolah menjadi produk bernilai tambah. Hasil akhirnya pun memiliki karakter yang unik. Alas berbahan polikarbonat menampilkan tampilan menyerupai kaca buram dengan kesan ramping dan modern. Sementara, versi polipropilena memperlihatkan tekstur yang tampak seperti sobekan di bawah permukaannya.

Pada beberapa desain, bagian dasar meja juga dilengkapi pencahayaan internal yang lembut. Cahaya tersebut membuat tekstur plastik semakin menonjol sehingga tampil lebih menyerupai karya seni daripada sekadar furnitur.

Permukaan Meja Kontras

Sementara itu, permukaan meja juga begitu kontras. Pilihannya meliputi kayu karet yang diolah menggunakan teknik pertukangan tradisional Thailand, karton susu UHT daur ulang, kaca tempered bening, hingga marmer.

Kayu karet yang digunakan merupakan produk sampingan dari industri karet Thailand sehingga turut memperkuat konsep keberlanjutan yang diusung koleksi ini. Untuk menghadirkan nuansa yang lebih hangat, TAKEHOMEDESIGN juga memanfaatkan ampas kopi sebagai pewarna alami pada alas meja. Alhasil bisa memberikan sentuhan warna moka.

Berkat perpaduan material daur ulang dan desain yang inovatif, koleksi RE-UP berhasil meraih BIG SEE Product Design Award 2026 pada kategori “Furniture for Living Spaces“. Penghargaan desain asal Eropa tersebut menjadi pengakuan bahwa karya ini mendapat apresiasi di tingkat internasional.

Selain itu, TAKEHOMEDESIGN juga memamerkan koleksi RE-UP dalam ajang HD Expo di Las Vegas. Kehadiran mereka di pameran tersebut menunjukkan keseriusan studio dalam mengembangkan furnitur berkelanjutan.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/desainer-thailand-buat-meja-dari-daur-ulang-thinwall/feed/ 0
Sekolah Perbatasan Indonesia Juara Asia Pasifik Berkat Inovasi Limbah Pisang https://www.greeners.co/aksi/sekolah-perbatasan-indonesia-juara-asia-pasifik-berkat-inovasi-limbah-pisang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sekolah-perbatasan-indonesia-juara-asia-pasifik-berkat-inovasi-limbah-pisang https://www.greeners.co/aksi/sekolah-perbatasan-indonesia-juara-asia-pasifik-berkat-inovasi-limbah-pisang/#respond Thu, 09 Jul 2026 11:20:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48696 Jakarta (Greeners) – SMP IL Kapten Fatubaa di Desa Fatubaa, Nusa Tenggara Timur berhasil mengharumkan nama bangsa di tingkat Asia Pasifik. Sekolah yang terletak di wilayah perbatasan Indonesia itu menjadi […]]]>

Jakarta (Greeners) – SMP IL Kapten Fatubaa di Desa Fatubaa, Nusa Tenggara Timur berhasil mengharumkan nama bangsa di tingkat Asia Pasifik. Sekolah yang terletak di wilayah perbatasan Indonesia itu menjadi Juara Utama AIA Healthiest Schools Competition 2026. Mereka berhasil mengubah limbah kulit pisang menjadi es krim, kompos, dan pupuk cair yang memberikan manfaat bagi lebih dari 1.000 masyarakat.

Prestasi tersebut mereka raih setelah sekolah ini menyisihkan hampir 1.000 peserta dari sembilan negara Asia Pasifik. Dari kemenangan ini, mereka membawa pulang penghargaan senilai US$40.000. Uang tersebut akan mereka gunakan untuk mengembangkan program kesehatan dan keberlanjutan di sekolah.

Prestasi sekolah ini menjadi sesuatu yang istimewa, karena SMP IL Kapten Fatubaa merupakan sekolah yang berada di kawasan perbatasan Indonesia, Timor Leste. Setiap hari, para siswanya harus menempuh perjalanan sekitar 12 kilometer melalui jalan berbatu dan menyeberangi sungai tanpa jembatan untuk mencapai sekolah. Di tengah keterbatasan tersebut, mereka justru melahirkan inovasi berbasis ekonomi sirkular yang kini menjadi inspirasi di tingkat Asia Pasifik.

Melalui Huka Upcycling Project (HUP), para siswa mengolah limbah kulit pisang menjadi tiga produk bernilai ekonomi. Produk tersebut meliputi es krim, kompos, dan pupuk cair.

Selain itu, program ini juga melibatkan guru, orang tua, petani, koperasi, hingga masyarakat di wilayah perbatasan. Bahkan, telah memberikan manfaat kepada lebih dari 1.000 orang.

Generasi Muda sebagai Penggerak

Sementara itu, Head Judge AIA Healthiest Schools Competition sekaligus Group Chief Marketing Officer AIA Group, Stuart A. Spencer, mengatakan bahwa melalui AIA Healthiest Schools Competition, pihaknya telah melihat bagaimana anak-anak muda mampu mengubah pengetahuan menjadi aksi nyata.

“SMP IL Kapten Fatubaa menunjukkan bahwa inovasi sederhana dari komunitas lokal dapat menghasilkan dampak besar bagi kesehatan dan lingkungan,” kata Stuart dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/7).

Di sisi lain, keberhasilan SMP IL Kapten Fatubaa menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari sekolah dengan fasilitas lengkap. Berangkat dari tantangan sehari-hari di wilayah perbatasan, para siswa mampu menghadirkan solusi yang menjawab persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan kesehatan masyarakat.

Prestasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki kapasitas untuk menjadi penggerak perubahan dan membawa inspirasi hingga tingkat regional.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/sekolah-perbatasan-indonesia-juara-asia-pasifik-berkat-inovasi-limbah-pisang/feed/ 0
Warga DKI Kini Bisa Cek Prediksi Kualitas Udara Tiga Hari ke Depan https://www.greeners.co/aksi/warga-dki-kini-bisa-cek-prediksi-kualitas-udara-tiga-hari-ke-depan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=warga-dki-kini-bisa-cek-prediksi-kualitas-udara-tiga-hari-ke-depan https://www.greeners.co/aksi/warga-dki-kini-bisa-cek-prediksi-kualitas-udara-tiga-hari-ke-depan/#respond Mon, 06 Jul 2026 05:07:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48680 Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meluncurkan Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS) pada website udara.jakarta.go.id. Melalui fitur ini, warga bisa memantau kondisi kualitas udara secara real […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meluncurkan Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS) pada website udara.jakarta.go.id. Melalui fitur ini, warga bisa memantau kondisi kualitas udara secara real time. Warga dapat melihat prakiraan kualitas udara hingga tiga hari ke depan.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan kehadiran fitur prediksi kualitas udara ini menjadi langkah penting agar masyarakat memiliki informasi yang lebih lengkap sebelum beraktivitas.

“Kalau sebelumnya masyarakat hanya dapat melihat kondisi kualitas udara pada hari itu, sekarang sudah ada prediksi hingga tiga hari ke depan. Semoga ini dapat menjadi referensi bagi masyarakat untuk selalu mengetahui kondisi kualitas udara Jakarta dan mengambil langkah antisipasi,” ujar Pramono di kegiatan Jakarta Eco Future Festival 2026, Jumat (3/7).

Informasi kualitas udara ini diolah menjadi panduan yang lebih mudah masyarakat pahami. Dengan demikian, bisa bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari warga.

Rujukan Utama Warga

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menjelaskan bahwa pengembangan EWS pada website udara.jakarta.go.id mendapat dukungan beberapa pihak. Di antaranya Breathe Cities, sebuah inisiatif global oleh Bloomberg Philanthropies, Clean Air Fund, dan C40 Cities.

Selain itu, inisiatif ini juga terimplementasi bersama Vital Strategies di Jakarta. Tujuannya untuk mendukung kota-kota dalam mewujudkan udara yang lebih bersih dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Melalui peta interaktif, masyarakat dapat melihat kondisi kualitas udara di berbagai wilayah Jakarta berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Ini termasuk sebaran stasiun pemantau kualitas udara di masing-masing lokasi.

“Fitur Sistem Peringatan Dini ini mengintegrasikan data kualitas udara dari Dinas Lingkungan Hidup, prakiraan kualitas udara dari BMKG, serta rekomendasi aktivitas dan informasi kesehatan dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta dalam satu layanan yang terintegrasi,” ujarnya.

Dudi berharap Sistem Peringatan Dini pada website udara.jakarta.go.id dapat menjadi rujukan utama warga dalam memahami kondisi kualitas udara Jakarta. Dengan informasi aksesnya lebih mudah, masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan sejak dini. Dari inisiatif inilah masyarakat secara bersama-sama mendorong terwujudnya Jakarta dengan udara yang lebih bersih dan sehat.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/warga-dki-kini-bisa-cek-prediksi-kualitas-udara-tiga-hari-ke-depan/feed/ 0
Tekan Timbulan Sampah, JEFF 2026 Terapkan Konsep Less Waste Event https://www.greeners.co/aksi/tekan-timbulan-sampah-jeff-2026-terapkan-konsep-less-waste-event/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tekan-timbulan-sampah-jeff-2026-terapkan-konsep-less-waste-event https://www.greeners.co/aksi/tekan-timbulan-sampah-jeff-2026-terapkan-konsep-less-waste-event/#respond Thu, 02 Jul 2026 07:25:03 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48672 Jakarta (Greeners) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta akan menggelar Jakarta Eco Future Festival (JEFF) 2026 pada 3–4 Juli 2026 di Balai Kota DKI Jakarta. Festival ini mengusung konsep […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta akan menggelar Jakarta Eco Future Festival (JEFF) 2026 pada 3–4 Juli 2026 di Balai Kota DKI Jakarta. Festival ini mengusung konsep less waste event atau penyelenggaraan kegiatan yang minim sampah.

Mengusung konsep tersebut, JEFF 2026 mengajak peserta mengurangi sampah sejak dari sumber, pemilahan sampah, hingga penerapan sistem guna ulang selama festival berlangsung.

Sebagai bagian dari penerapan konsep tersebut, JEFF 2026 akan menyediakan 13 set tempat sampah pilah di seluruh area festival. Tempat sampah tersebut terdiri atas tiga kategori, yakni sampah organik, anorganik, dan residu.

“Setiap sampah akan kami kelola sesuai jenisnya. Satpel LH Gambir akan mengolah sampah organik menjadi kompos dan pakan maggot, sampah anorganik kami kumpulkan melalui Waste Station Balai Kota. Sementara, sampah residu akan kami angkut ke TPST Bantargebang,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin.

Selain itu, JEFF 2026 juga menerapkan protokol guna ulang yang bekerja sama dengan Dietplastik Indonesia. Melalui sistem ini, tenant makanan dan minuman akan menggunakan wadah guna ulang. Dengan demikian, timbulan sampah selama acara dapat berkurang secara signifikan.

Untuk mendukung sistem tersebut, panitia menyediakan titik pengembalian wadah atau drop point di area festival. Wadah yang telah pengunjung akan dikumpulkan, dibersihkan oleh tim teknis di fasilitas pencucian khusus. Kemudian, wadah tersebut akan dikembalikan kepada tenant untuk digunakan kembali.

Dudi berharap JEFF 2026 dapat menjadi contoh praktik baik bagi penyelenggaraan berbagai kegiatan lain di Jakarta. Menurutnya, semakin banyak acara yang menerapkan prinsip minim sampah dan guna ulang, semakin kuat pula budaya baru yang tumbuh di tengah masyarakat.

Mengacu pada Pedoman

Sementara itu, penerapan konsep less waste event juga mengacu pada pedoman penyelenggaraan kegiatan minim sampah. Pedoman tersebut diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta.

Pedoman tersebut menjadi dasar dalam memastikan setiap tahapan penyelenggaraan JEFF 2026 berjalan dengan prinsip ramah lingkungan. Ini sekaligus dapat menjadi contoh bagi kegiatan publik lainnya.

Dudi menyampaikan bahwa penerapan less waste event merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Komitmen tersebut untuk menghadirkan acara publik yang tidak hanya meriah, tetapi juga edukatif dan memberi dampak positif bagi lingkungan.

“Upaya pengurangan sampah tidak hanya dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam berbagai kegiatan yang melibatkan banyak orang, termasuk festival dan acara publik. Melalui JEFF 2026, kami ingin menunjukkan bahwa acara besar pun bisa terselenggara dengan lebih bijak, tertib, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ujar Dudi.

Menurutnya, JEFF 2026 menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah yang baik bukan hanya urusan pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi semua pihak.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/tekan-timbulan-sampah-jeff-2026-terapkan-konsep-less-waste-event/feed/ 0
Periset BRIN Ubah Limbah Sawit Jadi Minyak Biomassa https://www.greeners.co/aksi/periset-brin-ubah-limbah-sawit-jadi-minyak-biomassa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=periset-brin-ubah-limbah-sawit-jadi-minyak-biomassa https://www.greeners.co/aksi/periset-brin-ubah-limbah-sawit-jadi-minyak-biomassa/#respond Thu, 02 Jul 2026 06:59:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48660 Jakarta (Greeners) – Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Melihat potensi tersebut, tim periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memanfaatkan teknologi pirolisis untuk mengkonversi limbah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Melihat potensi tersebut, tim periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memanfaatkan teknologi pirolisis untuk mengkonversi limbah tandan kosong kelapa sawit menjadi produk bernilai tambah, yakni minyak biomassa.

Ketua dari tim riset pirolisis minyak biomassa dari Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Dieni Mansur, menjelaskan bahwa pemanfaatan limbah biomassa menjadi energi dan bahan kimia berbasis hayati merupakan salah satu langkah penting. Khususnya, untuk mengurangi ketergantungan energi nasional terhadap bahan bakar fosil.

“Minyak pirolisis digunakan untuk mendukung diversifikasi bahan bakar di Indonesia. Di sisi lain, tandan kosong kelapa sawit merupakan limbah yang jumlahnya sangat besar sehingga perlu ditanggulangi secara optimal,” ujar Dieni melansir Berita BRIN, Senin (29/6).

Dieni menjelaskan bahwa proses pirolisis dapat dilakukan melalui metode pemanasan lambat, cepat, maupun sangat cepat. Fasilitas reaktor yang dimiliki BRIN saat ini memungkinkan pengolahan tandan kosong kelapa sawit melalui pirolisis lambat dengan waktu proses sekitar dua hingga empat jam.

Hasilkan Tiga Produk Utama

Teknologi ini menghasilkan tiga produk utama, yaitu asap cair, minyak biomassa (bio-oil), dan arang hayati (bio-char). Produk asap cair juga memiliki berbagai potensi aplikasi.

Asap cair dapat diformulasikan sebagai pelapis alami untuk memperpanjang masa simpan buah-buahan. Bahkan, berpotensi diformulasikan menjadi material berbentuk film untuk membantu penyembuhan luka pada rongga mulut.

Sementara itu, minyak biomassa dan asap cair hasil pirolisis tandan kosong kelapa sawit mengandung berbagai senyawa organik. Di antaranya fenol, asam asetat, keton, dan metanol yang banyak dimanfaatkan dalam industri kimia.

Menurut Dieni, saat ini minyak biomassa dari tandan kosong kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler industri. Meskipun belum dapat digunakan secara langsung sebagai bahan bakar tunggal kendaraan bermotor, minyak biomassa mengandung senyawa kimia yang berpotensi sebagai aditif untuk bahan bakar cair seperti bensin.

“Potensi tersebut membuka peluang pemanfaatan limbah sawit sebagai sumber energi alternatif dan bahan kimia berbasis hayati yang lebih berkelanjutan,” tambahnya.

Menurut Dieni, hasil penelitian ini penting. Sebab, telah menawarkan solusi terhadap dua tantangan sekaligus, yakni pengelolaan limbah pertanian dan penyediaan sumber energi terbarukan.

Dengan mengubah limbah menjadi produk yang bernilai ekonomi, pendekatan ini mendukung penerapan ekonomi sirkular yang mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien dan berkelanjutan.

Ke depannya, para periset berharap pirolisis tandan kosong kelapa sawit dapat membantu mengatasi permasalahan limbah sawit. Hal ini sekaligus menjadi salah satu alternatif diversifikasi energi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/periset-brin-ubah-limbah-sawit-jadi-minyak-biomassa/feed/ 0
300 Santri di Jember Ikuti Edukasi Lingkungan dan Praktik Eco Enzyme https://www.greeners.co/aksi/300-santri-di-jember-ikuti-edukasi-lingkungan-dan-praktik-eco-enzyme/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=300-santri-di-jember-ikuti-edukasi-lingkungan-dan-praktik-eco-enzyme https://www.greeners.co/aksi/300-santri-di-jember-ikuti-edukasi-lingkungan-dan-praktik-eco-enzyme/#respond Wed, 01 Jul 2026 09:00:14 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48664 Jakarta (Greeners) – Kegiatan edukasi lingkungan kini mulai masuk ke ruang belajar para santri di pesantren. Salah satunya berlangsung di Pondok Pesantren Jalaluddin Ar-Rumi, Jember, Jawa Timur, yang diikuti sekitar […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kegiatan edukasi lingkungan kini mulai masuk ke ruang belajar para santri di pesantren. Salah satunya berlangsung di Pondok Pesantren Jalaluddin Ar-Rumi, Jember, Jawa Timur, yang diikuti sekitar 300 santri.

Edukasi tersebut diselenggarakan oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton). Para santri tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui materi di kelas, tetapi juga mengikuti praktik langsung sebagai bagian dari pembelajaran. Salah satu praktik yang diberikan adalah pembuatan eco enzyme.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran santri terhadap krisis lingkungan sekaligus membekali mereka dengan keterampilan mengelola sampah secara berkelanjutan.

Peneliti Ecoton, Sofi Azilan Aini memaparkan materi mengenai bahaya deforestasi dan ancaman mikroplastik terhadap lingkungan serta kesehatan manusia kepada para santri.

“Kerusakan hutan dan pencemaran plastik menjadi dua persoalan lingkungan yang saling berkaitan dan membutuhkan kepedulian semua pihak, termasuk generasi muda di lingkungan pesantren,” kata Sofi dalam keterangan tertulisnya, Selasa (30/6).

Membuat Eco Enzyme 

Sementara itu, praktisi zero waste Ecoton Tonis Afrianto menyampaikan berbagai solusi pengelolaan sampah yang dapat diterapkan di lingkungan pondok pesantren.

Tonis mengedukasi para santri tentang pentingnya pemilahan sampah dari sumber, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, dan pengolahan sampah organik. Ia juga mengedukasi pentingnya membangun budaya minim sampah (zero waste) sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari para santri.

Selain itu, ia juga mengajarkan para santri membuat eco enzyme. Dalam praktik tersebut, peserta  belajar mengolah limbah organik dapur menggunakan perbandingan bahan yang tepat.

Eco enzyme dapat dimanfaatkan sebagai cairan pembersih alami, pupuk cair, maupun pendukung pengelolaan sampah organik di lingkungan pesantren,” kata Tonis.

Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Jalaluddin Ar-Rumi berharap para santri tidak hanya memahami isu lingkungan secara teori, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dengan menerapkan perilaku ramah lingkungan di pesantren, keluarga, dan masyarakat.

Salah satu santri, Masruro mengungkapkan rasa senang  karena dirinya bisa mengetahui  cara membuat eco enzyme dan pupuk kompos organik.

“Saya dan teman-teman akan pilah sampah dan buat pupuk kompos di pondok pesantren Jalaludin Arumi setelah ini,” kata Masruro.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/300-santri-di-jember-ikuti-edukasi-lingkungan-dan-praktik-eco-enzyme/feed/ 0
Blok M Bakal Jadi Percontohan Kawasan Rendah Emisi https://www.greeners.co/aksi/blok-m-bakal-jadi-percontohan-kawasan-rendah-emisi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=blok-m-bakal-jadi-percontohan-kawasan-rendah-emisi https://www.greeners.co/aksi/blok-m-bakal-jadi-percontohan-kawasan-rendah-emisi/#respond Sat, 27 Jun 2026 06:59:59 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48643 Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Breathe Cities meluncurkan laporan “Kawasan Rendah Emisi Terpadu Jakarta: Dari Ambisi Menuju Aksi”. Laporan ini menjadi peta jalan kebijakan yang memuat arah, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Breathe Cities meluncurkan laporan “Kawasan Rendah Emisi Terpadu Jakarta: Dari Ambisi Menuju Aksi”. Laporan ini menjadi peta jalan kebijakan yang memuat arah, strategi, serta tahapan implementasi Kawasan Rendah Emisi di Jakarta.

Melalui pendekatan ini, upaya pengurangan emisi tidak hanya berfokus pada sektor transportasi. Namun, juga menyasar berbagai sumber emisi lain secara lebih menyeluruh. Hal itu mulai dari pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular, bangunan, energi, industri dan manufaktur, hingga perencanaan tata guna lahan.

Laporan ini mengidentifikasi lima klaster prioritas untuk implementasi Kawasan Rendah Emisi, yaitu Kota Tua, GBK–Senayan, Medan Merdeka, Dukuh Atas, dan Blok M. Dari lima kawasan tersebut, Blok M direkomendasikan sebagai kawasan percontohan pertama.

Blok M memiliki karakteristik yang mendukung penerapan kebijakan secara bertahap. Kawasan ini memiliki konektivitas transportasi publik yang kuat, aktivitas ekonomi yang dinamis, serta fungsi kawasan campuran atau mixed-use yang beragam.

Dengan karakter tersebut, Blok M dapat menjadi lokasi awal untuk menguji berbagai intervensi terintegrasi sebelum diterapkan secara lebih luas di wilayah Jakarta lainnya.

Implementasi Kawasan Rendah Emisi akan berlangsung secara bertahap pada periode 2026–2029. Implementasi tersebut dilakukan melalui pendekatan adaptif, berbasis data, dan mempertimbangkan kesiapan masyarakat serta ekosistem pendukung di setiap kawasan.

Hak Dasar

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menegaskan bahwa udara bersih merupakan hak dasar setiap warga. Karena itu, Pemprov DKI Jakarta terus berupaya menghadirkan kebijakan yang tidak hanya visioner. Namun, juga dapat dijalankan secara bertahap, terukur, dan berdampak langsung bagi masyarakat.

“Udara bersih merupakan hak dasar setiap warga dan fondasi penting bagi kota yang sehat dan layak huni. Pemprov DKI Jakarta berkomitmen mengubah ambisi menjadi aksi nyata melalui tata kelola yang lebih kuat, regulasi yang jelas, serta kolaborasi lintas sektor agar seluruh warga dapat menikmati kualitas udara yang lebih baik,” ujar Dudi.

Dudi menjelaskan, Jakarta masih menghadapi tantangan pencemaran udara yang cukup tinggi, terutama dari emisi kendaraan bermotor. Karena itu, pengembangan Kawasan Rendah Emisi menjadi salah satu langkah strategis Pemprov DKI Jakarta dalam mempercepat pembangunan rendah karbon. Upaya ini sekaligus memperkuat perlindungan terhadap kesehatan masyarakat.

Menurutnya, Pemprov DKI Jakarta saat ini juga tengah menyiapkan Peraturan Gubernur tentang Kawasan Rendah Emisi sebagai landasan kebijakan. Peraturan ini untuk memastikan pelaksanaan program berjalan lebih terarah, transparan, dan akuntabel.

“Kawasan Rendah Emisi merupakan isu lintas sektor yang membutuhkan kolaborasi kuat antar-organisasi perangkat daerah serta dukungan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari komunitas, akademisi, dunia usaha, hingga media. Dengan kerja sama tersebut, kita dapat mempercepat upaya mewujudkan udara yang lebih bersih dan sehat bagi seluruh warga Jakarta,” tutur Dudi.

Beri Manfaat Kesehatan dan Ekonomi

Analisis dalam laporan menunjukkan bahwa sektor transportasi merupakan salah satu sumber utama pencemaran udara di Jakarta. Dalam skenario implementasi paling ambisius, kerangka Kawasan Rendah Emisi berpotensi menurunkan konsentrasi PM2.5 lebih dari 14,3 persen di seluruh kawasan prioritas. Kemudian penurunannya mencapai 20,7 persen di kawasan GBK–Senayan.

Peningkatan kualitas udara tersebut diperkirakan dapat menghasilkan manfaat kesehatan dan kesejahteraan sekitar Rp1,9 triliun per tahun. Manfaat ini berasal dari berkurangnya biaya kesehatan, menurunnya paparan terhadap polusi udara berbahaya, serta berkurangnya risiko kematian dini akibat pencemaran udara.

Bagi Pemprov DKI Jakarta, temuan ini menjadi dasar penting untuk memperkuat kebijakan publik yang berorientasi pada perlindungan masyarakat.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/blok-m-bakal-jadi-percontohan-kawasan-rendah-emisi/feed/ 0
Sunset di Kebun Padukan Musik, Konservasi, dan Budaya untuk Keluarga https://www.greeners.co/aksi/sunset-di-kebun-padukan-musik-konservasi-dan-budaya-untuk-keluarga/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sunset-di-kebun-padukan-musik-konservasi-dan-budaya-untuk-keluarga https://www.greeners.co/aksi/sunset-di-kebun-padukan-musik-konservasi-dan-budaya-untuk-keluarga/#respond Fri, 26 Jun 2026 09:26:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48640 Jakarta (Greeners) – Gelaran Sunset di Kebun sukses berlangsung di Istana Anak, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pada 20–21 Juni 2026. Acara yang berlangsung di ruang terbuka hijau ini tidak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Gelaran Sunset di Kebun sukses berlangsung di Istana Anak, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pada 20–21 Juni 2026. Acara yang berlangsung di ruang terbuka hijau ini tidak hanya menghadirkan penampilan para musisi, tetapi juga mengajak pengunjung mengenal dunia konservasi dan budaya melalui berbagai aktivitas edukatif.

Acara ini mengusung tema Music Show with Green, Conservation and Culture Movement. Sunset di Kebun Series jugs menjadi platform yang memadukan musik, budaya, ruang terbuka hijau, dan kepedulian terhadap lingkungan dalam satu pengalaman yang dapat dinikmati seluruh anggota keluarga. Program ini dikembangkan oleh PT Mitra Natura Raya, mitra Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Managing Director PT Mitra Natura Raya, Marga Anggrianto, mengatakan bahwa sebagai pengelola Kebun Raya, pihaknya memiliki tanggung jawab untuk menjaga sekaligus memperkenalkan nilai-nilai konservasi kepada masyarakat.

“Sunset di Kebun Series menjadi cara kami menyampaikan pesan tersebut melalui pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat, yaitu melalui musik dan pengalaman langsung di alam,” Marga dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (20/6).

Setiap seri dalam Sunset di Kebun Series menawarkan karakter yang berbeda. Sunset di Kebun menghadirkan pengalaman festival di ruang terbuka hijau dengan konsep piknik yang dipadukan dengan edukasi konservasi. Sementara itu, Sunset di Pantai menawarkan suasana pesisir yang santai. Kemudian, Jazz di Kebun menjadi format baru yang lebih intim dan terkurasi bagi para penikmat musik jazz.

Ketiga program tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan generasi muda dan keluarga yang mencari pengalaman rekreasi yang lebih bermakna. Pengunjung tidak hanya menikmati pertunjukan musik. Mereka juga dapat berinteraksi, mengeksplorasi budaya, mengikuti aktivitas kreatif, serta menikmati ruang publik yang nyaman.

Edukasi Lingkungan

Sementara itu, komitmen terhadap lingkungan juga terwujud melalui berbagai inisiatif selama penyelenggaraan festival. Upaya tersebut meliputi pengelolaan sampah, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan penggunaan material yang lebih bertanggung jawab. Bahkan, terdapat edukasi konservasi yang dikemas secara interaktif.

General Manager Event PT Mitra Natura Raya, Abi Irawan, mengatakan bahwa Sunset di Kebun bukan sekadar tempat menikmati musik. Menurutnya, festival ini menjadi ruang yang mempertemukan keluarga, komunitas kreatif, pelaku ekonomi kreatif, dan masyarakat. Mereka bisa merasakan pengalaman yang menyenangkan sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan.

“Festival ini menjadi ruang untuk merayakan musik, budaya, kreativitas, dan kebersamaan dalam satu pengalaman,” ujar Abi.

Perkembangan Sunset di Kebun Series menunjukkan tren yang positif. Sepanjang 2025, rangkaian festival ini berhasil hadir di enam lokasi, yaitu Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi, Kebun Raya Bali, TMII Jakarta, dan Pantai Indah Kapuk, dengan total 52.439 pengunjung.

Tingginya antusiasme juga terlihat pada penyelenggaraan tahun 2026. Tiket Sunset di Kebun Bali yang akan berlangsung pada 25 Juli 2026 telah habis terjual sebelum hari pelaksanaan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/sunset-di-kebun-padukan-musik-konservasi-dan-budaya-untuk-keluarga/feed/ 0
Pemadaman Lampu Jakarta 60 Menit Kurangi 60,14 Ton Emisi CO2e https://www.greeners.co/aksi/pemadaman-lampu-jakarta-60-menit-kurangi-6014-ton-emisi-co2e/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemadaman-lampu-jakarta-60-menit-kurangi-6014-ton-emisi-co2e https://www.greeners.co/aksi/pemadaman-lampu-jakarta-60-menit-kurangi-6014-ton-emisi-co2e/#respond Tue, 16 Jun 2026 05:22:38 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48602 Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar Aksi Hemat Energi dan Pengurangan Emisi Karbon pada Sabtu (13/6). Aksi tersebut berlangsung dengan memadamkan lampu selama 60 menit di sejumlah ruas […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar Aksi Hemat Energi dan Pengurangan Emisi Karbon pada Sabtu (13/6). Aksi tersebut berlangsung dengan memadamkan lampu selama 60 menit di sejumlah ruas jalan protokol, gedung, dan ikon ibu kota. Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

Berdasarkan data PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya (PLN Disjaya), aksi yang berlangsung pukul 20.30-21.30 WIB tersebut berhasil menekan emisi karbon hingga 60,14 ton CO2e. Bahkan, bisa menghemat konsumsi listrik sebesar 75,18 MWh, serta menurunkan biaya penggunaan listrik mencapai Rp108.693.752.

Pemadaman berlangsung di sejumlah titik strategis dan ikon Jakarta, seperti Monumen Nasional (Monas), Patung Arjuna Wiwaha, dan Patung Selamat Datang Bundaran Hotel Indonesia (HI). Selain itu, Patung Pemuda, Patung Jenderal Sudirman, hingga kawasan Balai Kota DKI Jakarta juga ikut padam.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi mengatakan, aksi tersebut menjadi bentuk komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam mendorong budaya hemat energi. Ini sekaligus mengajak masyarakat mengambil bagian dalam upaya pengurangan emisi gas rumah kaca.

“Pemadaman lampu selama 60 menit bukan sekadar simbol. Ini adalah pengingat bahwa langkah sederhana yang kita lakukan bersama-sama dapat berdampak nyata bagi lingkungan. Dari kebiasaan kecil, kita bisa menciptakan perubahan besar untuk Jakarta yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ujar Dudi.

Ia menjelaskan, pelaksanaan kegiatan tersebut mengacu pada Instruksi Gubernur Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Pemadaman Lampu dalam Rangka Penghematan Energi dan Pengurangan Emisi Karbon. Aksi ini berlangsung secara berkala di Jakarta.

Hasil yang Terukur 

Menurut Dudi, capaian pengurangan emisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku dalam penggunaan energi dapat memberikan hasil yang terukur. Namun, hal itu akan terwujud apabila konsisten dan melibatkan banyak pihak.

“Keberhasilan ini lahir dari kolaborasi bersama. Mulai dari pengelola gedung, pelaku usaha, komunitas, hingga warga yang ikut mematikan lampu dan perangkat elektronik yang tidak digunakan selama aksi berlangsung,” katanya.

Pemprov DKI Jakarta pun terus mendorong agar perilaku hemat energi tidak berhenti sebagai gerakan sesaat. Namun, aksi ini menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari masyarakat.

Langkah sederhana seperti mematikan perangkat elektronik yang tidak digunakan, memakai lampu hemat energi, hingga menggunakan listrik secara bijak di rumah maupun tempat kerja dinilai dapat memberi kontribusi besar terhadap pengurangan emisi karbon.

“Ketika jutaan warga melakukan langkah kecil yang sama secara konsisten, dampaknya akan sangat besar bagi kualitas lingkungan Jakarta. Karena menjaga bumi dan udara yang lebih bersih bukan hanya tugas pemerintah, tetapi gerakan bersama seluruh masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/pemadaman-lampu-jakarta-60-menit-kurangi-6014-ton-emisi-co2e/feed/ 0
KLH Targetkan Penanaman 2 Miliar Pohon di Seluruh Indonesia https://www.greeners.co/aksi/klh-targetkan-penanaman-2-miliar-pohon-di-seluruh-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klh-targetkan-penanaman-2-miliar-pohon-di-seluruh-indonesia https://www.greeners.co/aksi/klh-targetkan-penanaman-2-miliar-pohon-di-seluruh-indonesia/#respond Tue, 09 Jun 2026 07:47:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48580 Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menargetkan penanaman pohon sebanyak dua miliar di seluruh Indonesia. Hal itu sebagai upaya pencegahan banjir dan ketahanan iklim. Menteri LH/BPLH, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menargetkan penanaman pohon sebanyak dua miliar di seluruh Indonesia. Hal itu sebagai upaya pencegahan banjir dan ketahanan iklim.

Menteri LH/BPLH, Moh Jumhur Hidayat mengatakan bahwa gerakan penanaman pohon secara masif menjadi salah satu langkah nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Menurut Jumhur, program tersebut dapat terlaksana melalui kolaborasi berbagai pihak. Mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, hingga masyarakat luas.

“Penanaman dua miliar pohon untuk memperkuat ketahanan iklim, menjaga ketersediaan air, mengurangi banjir, memulihkan ekosistem, dan menyerap karbon,” kata Jumhur saat konferensi pers dalam kegiatan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sabtu (6/6) di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur.

Jumhur menegaskan bahwa pohon berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Selain membantu menyerap emisi karbon, pohon juga berfungsi meningkatkan daya resap air, mengurangi risiko banjir, dan menjaga kesuburan tanah. Bahkan, bisa mendukung keberlangsungan keanekaragaman hayati.

Sementara itu, target penanaman tersebut juga sejalan dengan berbagai upaya pemerintah dalam memperkuat aksi iklim dan meningkatkan ketahanan lingkungan. Hal itu seiring dengan meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim.

Menanam Pohon

Dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Jumhur juga menanam pohon di area lahan terbuka di kawasan Bumi Perkemahan dan 1 Graha Wisata Pramuka Cibubur. Penanaman ini sebagai simbol mulainya gerakan penanaman pohon secara lebih luas.

Penanaman juga dilakukan bersama Wakil Menteri LH/Kepala BPLH, Diaz Hendropriyono serta bersama duta besar, abang none Jakarta, puteri Indonesia, kreator konten, dan para tamu undangan lainnya.

Melalui gerakan penanaman pohon secara masif, KLH/BPLH berharap dapat mendorong partisipasi seluruh elemen bangsa dalam menjaga lingkungan. Ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang aktif mengambil langkah nyata dalam menghadapi perubahan iklim.

Sebagai informasi, kegiatan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 juga dihadiri oleh ribuan para pekerja sampah mulai dari pemulung hingga petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU). Kegiatan dilakukan dengan minim plastik yakni tidak menyediakan air minum dalam kemasan. Namun, panitia menyediakan ulang air minum sebagai upaya pengurangan botol plastik sekali pakai.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/klh-targetkan-penanaman-2-miliar-pohon-di-seluruh-indonesia/feed/ 0
Warga Siba Klasik Gresik Bawa Wadah Sendiri untuk Ambil Daging Kurban https://www.greeners.co/aksi/warga-siba-klasik-gresik-bawa-wadah-sendiri-untuk-ambil-daging-kurban/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=warga-siba-klasik-gresik-bawa-wadah-sendiri-untuk-ambil-daging-kurban https://www.greeners.co/aksi/warga-siba-klasik-gresik-bawa-wadah-sendiri-untuk-ambil-daging-kurban/#respond Mon, 01 Jun 2026 11:56:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48544 Jakarta (Greeners) – Kampung Siba Klasik RT 02 RW 05 di Kabupaten Gresik menggelar penyembelihan hewan kurban dengan konsep minim plastik. Warga membawa wadah guna ulang masing-masing. Sementara, limbah kurban […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kampung Siba Klasik RT 02 RW 05 di Kabupaten Gresik menggelar penyembelihan hewan kurban dengan konsep minim plastik. Warga membawa wadah guna ulang masing-masing. Sementara, limbah kurban mereka olah menggunakan komposter untuk mengurangi timbulan sampah.

Dalam pelaksanaannya, daging kurban tidak terbungkus plastik sekali pakai. Warga membawa wadah sendiri, seperti ember, baskom, rantang, atau kotak makan. Panitia kemudian menata seluruh wadah tersebut untuk mempermudah proses distribusi daging kepada para penerima kurban.

Ketua RT 02 Saifudin Efendi atau yang akrap dipanggil Ipung mengatakan, warga menyepakati langkah ini sejak awal musyawarah persiapan kurban. Menurut dia, persoalan sampah plastik selalu muncul setiap perayaan Iduladha. 

“Setiap tahun plastik menumpuk setelah pembagian daging. Tahun ini warga sepakat mengganti dengan wadah guna ulang supaya lingkungan tetap bersih,” kata Ipung dalam siaran pers. 

Langkah pengurangan sampah terlihat di area penyembelihan. Panitia tidak menyediakan kantong plastik. Warga penerima datang membawa wadah masing-masing sesuai data yang tercatat sebelumnya.

Siapkan Titik Pemilahan 

Sementara itu, panitia kurban bersama remaja musala, karang taruna, dan kelompok ibu-ibu juga menyiapkan titik pemilahan sampah organik serta non organik. Mereka mengumpulkan daun, sisa pakan ternak, dan limbah organik hasil penyembelihan secara terpisah. Kemudian, mereka mengolahnya menjadi kompos. 

Area penyembelihan tahun ini juga tertata lebih rapih, dibanding pola pembagian daging pada tahun sebelumnya. Peralatan yang dipakai langsung dicuci untuk digunakan kembali. Aktivitas gotong royong berlangsung sepanjang proses penyembelihan, hingga distribusi daging selesai.

Remaja Langgar Maslakul Inayah, turut membantu pengangkutan limbah organik ke tempat pengumpulan sementara. Kelompok ibu-ibu bertugas membersihkan area pembagian daging dan memastikan wadah penerima sesuai daftar panitia.

Karang taruna juga membantu mengatur lalu lintas warga agar distribusi daging berjalan cepat. Sistem pembagian berlangsung secara bergiliran. Hal ini untuk menghindari antrean panjang di area musala.

Ketua Takmir Langgar Maslakul Inayah, Ahmad Efendi mengatakan,konsep ini lahir dari kesadaran bersama menjaga lingkungan kampung. Menurut dia, ibadah kurban juga perlu memperhatikan dampak limbah yang muncul selama kegiatan berlangsung.

“Kami ingin tradisi kurban tetap berjalan dengan lingkungan yang terjaga. Warga juga lebih disiplin, karena membawa wadah sendiri dari rumah,” ujar Efendi.

Kampung Siba Klasik Lebih Bersih 

Sejumlah warga mengaku konsep ini membuat lingkungan kampung terlihat lebih bersih. Tidak terlihat tumpukan plastik bekas di selokan maupun sudut jalan kampung.

Salah satu warga, Nur Aini, mengatakan penggunaan wadah guna ulang membuat pembagian daging terasa lebih praktis. 

“Biasanya habis kurban banyak plastik tercecer. Sekarang lebih rapi karena warga sudah membawa tempat sendiri,” katanya.

Kegiatan kurban minim sampah di Kampung Siba Klasik melibatkan hampir seluruh unsur warga RT 02 RW 05 Sidokumpul Barat. Mulai bapak-bapak, ibu-ibu, karang taruna, hingga remaja musala ikut terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan.

Panitia juga mendata penerima daging sejak beberapa hari sebelumnya. Data tersebut mereka gunakan untuk memastikan jumlah wadah yang warga bawa sesuai kebutuhan distribusi.

Ipung juga mengatakan, konsep minim sampah ini akan mereka pertahankan pada perayaan kurban tahun berikutnya. Warga juga berencana memperluas pengolahan limbah organik menjadi pupuk kompos untuk kebutuhan tanaman di lingkungan kampung.

“Kami ingin warga bisa terus menjalankan kebiasaan kecil seperti membawa wadah sendiri. Dampaknya langsung terlihat pada kebersihan kampung,” ucap Ipung.

Penulis: Dini Jembar Wardani 

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/warga-siba-klasik-gresik-bawa-wadah-sendiri-untuk-ambil-daging-kurban/feed/ 0
DLH DKI Ajak Warga Jaga Kualitas Udara Lewat Gerakan #SatuLangkahDulu https://www.greeners.co/aksi/dlh-dki-ajak-warga-jaga-kualitas-udara-lewat-gerakan-satulangkahdulu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dlh-dki-ajak-warga-jaga-kualitas-udara-lewat-gerakan-satulangkahdulu https://www.greeners.co/aksi/dlh-dki-ajak-warga-jaga-kualitas-udara-lewat-gerakan-satulangkahdulu/#respond Fri, 29 May 2026 03:03:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48533 Jakarta (Greeners) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengajak warga menjaga kualitas udara melalui gerakan kolaboratif #SatuLangkahDulu. Kampanye ini hadir melalui forum Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB) Kluster Udara. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengajak warga menjaga kualitas udara melalui gerakan kolaboratif #SatuLangkahDulu. Kampanye ini hadir melalui forum Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB) Kluster Udara.

Gerakan tersebut mendorong seluruh elemen masyarakat untuk memulai langkah sederhana dari lingkungan masing-masing. Hal itu demi mewujudkan udara Jakarta yang lebih bersih dan sehat.

Berbagai pihak ikut terlibat dalam gerakan ini. Di antaranya pemerintah, komunitas, dunia usaha, akademisi, media, hingga masyarakat luas. Mereka bersama-sama menghadirkan perubahan melalui aksi sehari-hari yang berlangsung secara konsisten. Mulai dari mengurangi sumber emisi, menggunakan transportasi ramah lingkungan, hingga membangun kebiasaan hidup yang lebih peduli terhadap kualitas udara.

Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Purwanti Suryandari mengatakan, kualitas udara masih menjadi salah satu tantangan besar bagi Jakarta. Sebab, berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat dan kualitas hidup warga.

“Melalui kampanye #SatuLangkahDulu, kami ingin membangun semangat satu pesan dengan beragam aksi, baik melalui kampanye media sosial, aksi bersama, praktik baik pengurangan pencemaran udara, maupun challenge untuk warga Jakarta. Setiap langkah sederhana yang berlangsung konsisten dan bersama-sama akan membentuk gerakan kolektif yang mampu menghadirkan perubahan nyata,” ujar Purwanti dalam keterangan tertulisnya, Selasa (26/5).

Menurut Purwanti, mewujudkan udara bersih di Jakarta tidak dapat dilakukan sepihak. Pengendalian pencemaran udara membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar upaya yang berjalan dapat berlangsung efektif dan berkelanjutan.

“Menjelang lima abad Jakarta, kita memiliki tanggung jawab bersama untuk mewariskan kota dengan udara yang lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi generasi mendatang,” tambahnya.

Ia juga mengungkapkan, puncak rangkaian aktivasi #SatuLangkahDulu akan berlangsung melalui Jakarta Eco Future Fest 2026 di Balai Kota DKI Jakarta pada 3–4 Juli 2026. Kegiatan tersebut menjadi ajang kolaborasi berbagai pihak sekaligus festival bertema keberlanjutan terbesar di Jakarta.

Pengendalian Makin Kompleks

Sementara itu, Direktur Layanan Iklim Terapan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Marjuki mengatakan tantangan pengendalian pencemaran udara di Jakarta semakin kompleks. Hal itu akibat laju urbanisasi, pembangunan kota yang masif, serta dampak perubahan iklim global yang berpadu dengan karakteristik iklim perkotaan seperti urban heat island.

Ia menambahkan, BMKG terus berkomitmen menyediakan informasi kualitas udara dan memperkuat literasi iklim kepada masyarakat. Ia berharap informasi tersebut dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan di berbagai sektor, mulai dari transportasi, industri, hingga panduan aktivitas harian masyarakat untuk meminimalkan risiko paparan polusi udara.

“Karena itu, kita membutuhkan aksi bersama seperti #SatuLangkahDulu sebagai pemantik perubahan perilaku masyarakat secara nyata, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Marjuki.

Penulis: Dini Jembar Wardani 

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/dlh-dki-ajak-warga-jaga-kualitas-udara-lewat-gerakan-satulangkahdulu/feed/ 0
Festival Raksha Loka Tekan Timbulan Sampah Lewat Reuse dan Refill https://www.greeners.co/aksi/festival-raksha-loka-tekan-timbulan-sampah-lewat-reuse-dan-refill/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=festival-raksha-loka-tekan-timbulan-sampah-lewat-reuse-dan-refill https://www.greeners.co/aksi/festival-raksha-loka-tekan-timbulan-sampah-lewat-reuse-dan-refill/#respond Tue, 26 May 2026 10:13:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48529 Jakarta (Greeners) – Festival Raksha Loka yang berlangsung pada 22–23 Mei 2026 di M Bloc Space, Jakarta Selatan menerapkan sistem reuse dan refill. Upaya itu untuk menekan timbulan sampah plastik […]]]>

Jakarta (Greeners) – Festival Raksha Loka yang berlangsung pada 22–23 Mei 2026 di M Bloc Space, Jakarta Selatan menerapkan sistem reuse dan refill. Upaya itu untuk menekan timbulan sampah plastik sekali pakai. 

Festival Raksha Loka merupakan ruang kolaborasi, pembelajaran, dan perayaan atas berbagai inisiatif pemulihan ekosistem berbasis masyarakat. Hal ini telah berjalan selama empat tahun terakhir melalui program GEF-SGP Indonesia. Mengusung tema “Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan di Masa Depan”, kegiatan ini mempertemukan banyak orang. Di antaranya komunitas lokal, generasi muda, akademisi, pemerintah, sektor swasta, hingga pegiat lingkungan untuk bersama-sama memperkuat aksi kolektif menjaga bumi.

Selama festival berlangsung, pengunjung melihat beragam kegiatan. Mulai dari dialog inspiratif, musyawarah belajar mitra, pameran dan bazar hijau. Kemudian, pertunjukan seni budaya, hingga showcase inovasi lingkungan dari berbagai daerah di Indonesia.

Festival ini juga menjadi wadah berbagi praktik baik konservasi air, pemulihan pesisir, pertanian alami, dan energi terbarukan. Selain itu, ada juga penguatan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan, termasuk upaya pengurangan timbulan sampah festival.

Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) ikut berkolaborasi dalam kegiatan ini dengan menyediakan sistem reuse dan refill, untuk mengurangi timbulan sampah selama kegiatan berlangsung. Upaya tersebut dapat mencegah 77% timbulan sampah masuk ke TPA, dengan rincian sampah jenis organik 11%, daur ulang bersih 66%, dan residu 23%. 

Tak hanya itu, sebanyak 150 pengunjung juga telah menggunakan layanan refill air sebanyak 304 liter air. Jumlah tersebut setara dengan mengurangi timbulan sampah botol plastik sekali pakai sebanyak 507 keping kemasan 600ml.

Festival Raksha Loka Sediakan Gelas dan Piring Guna Ulang

Koordinator Program Zero Waste Ecoton, Tonis Afrianto mengatakan bahwa dalam menerapkan sistem refill, Ecoton menggandeng Izifill sebagai penyedia dispenser untuk isi ulang air minum. Ecoton juga menyediakan gelas dan piring guna ulang untuk para pengunjung.

“Supaya sampah tidak tercampur, kami juga menyediakan tempat sampah terpilah di dua titik lokasi strategis jalur pengunjung,” kata Tonis dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (23/5). 

Tak hanya itu, Tonis juga membuat buku panduan festival zero waste untuk mereka bagikan ke penyewa dan eksibitor. Di dalam buku tersebut terdapat informasi tentang pemilahan sampah, tips untuk tidak menggunakan wadah plastik sekali pakai, dan berbagai tips lainnya. 

Tonis berharap agar ke depan semangat ini bisa menginspirasi lebih banyak komunitas, penyelenggara acara, hingga masyarakat luas pengurangan sampah dan kepedulian terhadap lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/festival-raksha-loka-tekan-timbulan-sampah-lewat-reuse-dan-refill/feed/ 0
Walhi Bersama Warga Pulau Pari Menanam 7.000 Bibit Mangrove https://www.greeners.co/aksi/walhi-bersama-warga-pulau-pari-menanam-7-000-bibit-mangrove/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=walhi-bersama-warga-pulau-pari-menanam-7-000-bibit-mangrove https://www.greeners.co/aksi/walhi-bersama-warga-pulau-pari-menanam-7-000-bibit-mangrove/#respond Mon, 25 May 2026 10:48:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48521 Jakarta (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Dunia 2026, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) bersama warga Pulau Pari menanam 7.000 bibit mangrove di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jumat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Dunia 2026, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) bersama warga Pulau Pari menanam 7.000 bibit mangrove di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jumat (22/5).

Penanaman bibit mangrove ini juga melibatkan mahasiswa dari 20 kelompok mahasiswa pencinta alam, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Kelompok Perempuan Pulau Pari (KPPP), serta Forum Peduli Pulau Pari (FPPP). Tak hanya menanam, kegiatan juga mencakup kajian sosial-ekologi pra-penanaman, pelatihan rehabilitasi, penanaman, dan monitoring.

Pengkampanye Perlindungan Laut dan Pesisir Eksekutif Nasional Walhi, Mida Saragih menegaskan bahwa aksi rehabilitasi mangrove ini merupakan kerja bersama warga dan orang muda dalam menjaga keanekaragaman hayati pesisir. Menurutnya, upaya tersebut juga penting untuk membangun ketangguhan ekosistem pulau kecil terhadap perubahan iklim.

“Bagi kami, menanam mangrove juga berarti menjaga ruang hidup, serta biota pesisir dan kekayaan hayati Pulau Pari,” kata Mida dalam keterangan tertulisnya.

Pulau Pari, salah satu dari 113 pulau di Kepulauan Seribu Jakarta. Pulau ini memiliki luas sekitar 41,32 hektare dan termasuk kategori pulau kecil (BIG, 2020). Namun, sayangnya Pulau Pari telah lama terdampak alih fungsi kawasan dan krisis iklim, termasuk abrasi pantai yang semakin parah. Walhi mencatat bahwa kerusakan mangrove di Pulau Pari telah mengancam penghidupan warga serta meningkatkan kerentanan terhadap bencana iklim.

Kajian Sosial-Ekologi

Sementara itu, Walhi bersama tim akademisi juga melakukan kajian sosial-ekologi pra penanaman. Dalam kajian ini, mereka menemukan tujuh jenis mangrove yang tersebar di Pulau Pari. Jenis mangrove tersebut di antaranya Avicennia marina (Api-api), Bruguiera cylindrica (Lindur), Excoecaria agallocha (Buta-buta), Lumnitzera racemosa (Teruntum putih), Rhizhophora stylosa (bakau kecil), Sonneratia alba (Pedada), dan Cylocarpus moluccensis (Nyirih batu).

Kemudian, penanaman mangrove menggunakan metode rumpun berjarak, dengan 20–30 propagul dalam satu rumpun. Jenis yang mereka tanam adalah bakau kecil (Rhizophora stylosa), yang merupakan spesies dominan di Pulau Pari. Metode ini mereka pilih berdasarkan kajian karena lebih efisien, mempercepat proses penanaman, serta meningkatkan ketahanan bibit terhadap gelombang laut.

Selain penanaman, Walhi bersama warga mengembangkan sistem monitoring berbasis citizens science. Sistem ini memiliki basis data sederhana untuk mencatat pertumbuhan mangrove. Warga Pulau Pari dan peserta mahasiswa juga mendapatkan pelatihan terkait identifikasi jenis mangrove, teknik penanaman, dan pemantauan.

“Gerakan dan aksi rehabilitasi mangrove ini adalah pertemuan antara gerakan moral kemanusiaan dan gerakan perlindungan lingkungan,” tambah Mida.

Di sisi lain, Ketua Kelompok Perempuan Pulau Pari, Asmania menegaskan pentingnya perlindungan wilayah kelola rakyat. “Pulau Pari adalah ruang hidup kami. Pemerintah perlu menghentikan perusakan mangrove dan memastikan perlindungan bagi pulau kecil serta hak masyarakat pesisir,” ujarnya.

Warga Pulau Pari juga berharap kementerian dan lembaga terkait, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan, mengambil kebijakan yang lebih kuat untuk melindungi ekosistem Pulau Pari. Mereka menekankan bahwa keberlanjutan ekonomi lokal sangat bergantung pada kondisi pesisir yang sehat dan terjaga.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/walhi-bersama-warga-pulau-pari-menanam-7-000-bibit-mangrove/feed/ 0
Wamen LH Resmikan Program Pengelolaan Sampah di Area Stasiun Kereta Api https://www.greeners.co/aksi/wamen-lh-resmikan-program-pengelolaan-sampah-di-stasiun-kereta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=wamen-lh-resmikan-program-pengelolaan-sampah-di-stasiun-kereta https://www.greeners.co/aksi/wamen-lh-resmikan-program-pengelolaan-sampah-di-stasiun-kereta/#respond Fri, 22 May 2026 10:31:07 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48507 Jakarta (Greeners) – Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono meresmikan program pengelolaan sampah di area stasiun kereta api. Fasilitas yang tersedia meliputi pemilahan sampah, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono meresmikan program pengelolaan sampah di area stasiun kereta api. Fasilitas yang tersedia meliputi pemilahan sampah, pengumpulan terintegrasi, TPS3R, pengolahan sampah organik, hingga digitalisasi data sampah.

Peresmian tersebut berlangsung dalam acara kick-off Program Pengelolaan Sampah KAI Group 2026 melalui proyek percontohan di Stasiun Gambir, Kamis (21/5). Diaz meminta PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) untuk segera mengimplementasikan program pengelolaan sampah ke seluruh stasiun kereta api di Indonesia.

“Saya sangat apresiasi yang KAI lakukan, termasuk membangun dan aktifkan TPS3R di DKI dan luar DKI. Ini sejalah dengan visi misi KLH. Jadi, KAI sangat membantu dalam menyelesaikan permasalahan sampah sesuai yang kita inginkan dengan strategi aktivasi TPS3R,” kata Diaz di Jakarta, Kamis (21/5).

Ia juga mengarahkan PT KAI untuk tidak hanya menyediakan fasilitas pengelolaan sampah. Namun, juga perlu aktif memberikan edukasi dan sosialisasi. Ini guna mendorong perubahan perilaku penumpang serta masyarakat yang tinggal di sekitar jalur rel kereta api.

“Saya dengar tadi, PT KAI memiliki 600 stasiun dan 7.000 KM rel kereta. Itu sampahnya tidak sedikit, di bagian-bagian tertentu juga masih ada yang buang sampah ke rel. Makanya, itu bukan hanya menyediakan fasilitasnya tapi juga bagaimana membangun kesadaran tentang pemilahan ke para penumpang, pekerja KAI dan masyarakat luas,” ujarnya.

Kolaborasi Tangani Sampah

Dalam mendukung program ini, Diaz menyatakan bahwa KLH/BPLH siap berkolaborasi untuk mewujudkan stasiun kereta api yang bersih dan bebas sampah di seluruh Indonesia.

Diaz mengungkapkan bahwa KLH/BPLH bisa memberikan modul atau pendampingan dalam peningkatan kesadaran pemilahan, bantuan arahan dalam reaktivasi TPS3R dan bank sampah. Selain itu, mereka juga bisa mencarikan offtaker. Kendati demikian, kolaborasi dalam bentuk apa pun bisa dilakukan bersama.

Menurutnya, program pengelolaan sampah ini menjadi sangat penting. Sebab, presiden telah memberikan arahan untuk segera menangani krisis sampah nasional. Arahan ini juga telah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Target pengelolaan sampah tersebut sebesar 100% pada tahun 2029.

“Gubernur DKI sudah deklarasi pilah sampah 100% untuk bulan Agustus. Ini termasuk dalam target besar presiden melalui RPJMN yaitu pada 2029 nanti 100% sampah terkelola. Caranya dengan pemilahan sampah ini,” tutupnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/wamen-lh-resmikan-program-pengelolaan-sampah-di-stasiun-kereta/feed/ 0
KELANA Jadi Ruang Anak Muda Belajar dan Aksi Lingkungan https://www.greeners.co/aksi/kelana-jadi-ruang-anak-muda-belajar-dan-aksi-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kelana-jadi-ruang-anak-muda-belajar-dan-aksi-lingkungan https://www.greeners.co/aksi/kelana-jadi-ruang-anak-muda-belajar-dan-aksi-lingkungan/#respond Mon, 18 May 2026 11:28:52 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48480 Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) meluncurkan program KELANA (Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda). Program ini menjadi wadah untuk memperluas edukasi lingkungan kepada generasi muda melalui […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) meluncurkan program KELANA (Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda). Program ini menjadi wadah untuk memperluas edukasi lingkungan kepada generasi muda melalui kegiatan langsung di lapangan.

Program KELANA episode 1 sudah dirilis dengan diikuti oleh anak muda dari berbagai wilayah Indonesia. Melalui program ini, mahasiswa dan pelajar diajak turun langsung ke lapangan. Mereka berinteraksi dengan masyarakat, serta mengolah pengalaman tersebut menjadi narasi yang dapat menggerakkan kesadaran publik.

Menteri LH/Kepala BPLH, Moh. Jumhur Hidayat, menyampaikan bahwa launching program KELANA menjadi momentum penting kolaborasi antara pemerintah dan generasi muda dalam mendorong aksi lingkungan yang lebih luas.

“Peluncuran program ini menjadi kebahagiaan bagi kita karena inisiasi pemerintah dan berkolaborasi dengan anak-anak muda. Isu lingkungan ini memang tidak bisa lepas dari peran generasi muda, sehingga kita harus mampu memfasilitasi ruang-ruang partisipasi mereka secara lebih luas,” ujar Jumhur di Jakarta, Rabu (13/5).

Jumhur mengatakan bahwa akan ada ragam topik dalam program ini. Di antaranya seperti sampah, mangrove, lahan gambut, dan lainnya.

Penuh Antusiasme

Sementara itu, Puteri Indonesia Lingkungan 2024, Sophie Kirana, yang turut mendampingi peserta KELANA Episode 1 di Jambi. Pada episode 1 ini, topik untuk pembelajaran terkait ekosistem gambut dan mangrove.

Menurut Sophie, anak muda begitu antusias ketika turun langung ke lapangan mengenali lingkungan. Baginya, program ini menjadi salah satu cara bagi teman-teman yang terlibat bersama Kementerian Lingkungan Hidup untuk menyosialisasikan sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan dari generasi muda.

“Harapannya, ini bisa menjadi budaya untuk terus menjaga lingkungan,” ungkap Sophie.

Selain itu, KELANA juga mendorong lahirnya generasi muda sebagai digital ambassadors yang mampu menerjemahkan isu lingkungan menjadi pesan yang relevan, kreatif, dan berdampak luas.

Pendekatan ini menjadi penting untuk menjawab fenomena eco-anxiety di kalangan generasi muda. Hal ini mengubah kekhawatiran menjadi aksi nyata berbasis pengalaman dan pemahaman.

Hadirkan Dokumenter Mangrove

Selain meluncurkan program KELANA, KLH/BPLH juga menghadirkan video dokumenter “Menjaga Akar Negeri: Mangrove Indonesia untuk Dunia” yang mengangkat peran strategis ekosistem mangrove Indonesia.

Dokumenter ini diproduksi melalui kolaborasi KLH/BPLH dengan National Geographic Indonesia. Dokumenter menampilkan kisah nyata masyarakat pesisir di Tarakan, Kalimantan Utara, dan Palu, Sulawesi Tengah, dalam menjaga dan merawat ekosistem mangrove.

Editorial Team National Geographic Indonesia, Viennanda Nur Ikhwalfi, menilai video dokumenter ini menunjukkan praktik nyata keberpihakan manusia terhadap alam yang dapat direplikasi seluruh wilayah Indonesia.

“Ini adalah contoh besar upaya keberpihakan manusia kepada alam. Harapannya, praktik ini bisa dicontoh dan diaplikasikan oleh seluruh masyarakat yang tinggal di pesisir Indonesia, sehingga mangrove dapat menjadi benteng awal kita untuk menjaga hamparan laut yang cukup luas,” ungkap Viennanda.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/kelana-jadi-ruang-anak-muda-belajar-dan-aksi-lingkungan/feed/ 0
Sampah Popok Sekali Pakai Cemari Kali Tebu Surabaya https://www.greeners.co/aksi/sampah-popok-sekali-pakai-cemari-kali-tebu-surabaya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sampah-popok-sekali-pakai-cemari-kali-tebu-surabaya https://www.greeners.co/aksi/sampah-popok-sekali-pakai-cemari-kali-tebu-surabaya/#respond Mon, 18 May 2026 11:19:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48483 Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama Komunitas Tretan Kali Tebu (Tekat) melakukan aksi bersih-bersih sampah di Kali Tebu, Surabaya, Jawa Timur pada Rabu (13/5). Dari aksi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama Komunitas Tretan Kali Tebu (Tekat) melakukan aksi bersih-bersih sampah di Kali Tebu, Surabaya, Jawa Timur pada Rabu (13/5). Dari aksi tersebut, tim relawan banyak menemukan sampah popok sekali pakai.

Direktur Ecoton, Daru Setyorini mengatakan bahwa sebanyak 45 persen dari 2,4 ton sampah dari Kali Tebu adalah jenis sampah popok sekali pakai. Tim ekskavasi sampah Kali Tebu ini melakukan aksi bersih sampah di kali tersebut selama tiga hari sejak Senin (11/5).

“Sebanyak 218 keping merupakan sampah popok. Selain mengangkut sampah, tim relawan Ecoton dan Tekat juga melakukan brand audit sampah popok,” kata Daru dalam keterangan tertulisnya.

Hasil audit menunjukkan bahwa sampah popok sekali pakai dari merek Sweety (PT Softex Indonesia) paling banyak tim temukan dengan persentase 31 persen. Posisi berikutnya adalah MamyPoko (PT Unicharm) sebesar 24 persen dan Momo (Momohouse) sebesar delapan persen. Selain itu, popok dari berbagai merek lain tercatat sebesar 14 persen. Sementara, 15 persen lainnya berasal dari merek yang tidak terlihat atau rusak.

Daru menambahkan bahwa kegiatan ekskavasi popok ini tim lakukan setelah program MOZAIK memasang trash barrier atau penghalang sampah bernama Barakuda di Kali Tebu pada Minggu (10/5).

MOZAIK (Mission for Zero Plastic Leakage) adalah program lingkungan gagasan Ecoton dan Pemerintah Kota Surabaya. Program ini mendapat dukungan dari United Nations Development Programme (UNDP) dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Tujuan dari program Mozaik ini untuk mengurangi kebocoran sampah plastik di sungai, khususnya Kali Tebu melalui pemasangan penghalang sampah. Program ini berfokus pada kolaborasi multipihak untuk sinergi penanganan sampah.

Tanggung Jawab Produsen

Menurut Daru, kini sampah popok menjadi masalah utama dalam penanganan sampah di Kali Tebu. Dengan demikian, butuh kolaborasi pemerintah melalui pengawasan, pengelolaan sampah di tempat pembuangan sementara (TPS), dan masyarakat agar tidak membuang sampah plastik ke Kali Tebu. Ia juga berharap agar industri bisa melaksanakan Extended Producer Responsibility (EPR). 

“EPR adalah kebijakan lingkungan yang mewajibkan produsen bertanggung jawab atas seluruh siklus hidup produk, terutama pengelolaan sampah pasca-konsumsi,” tambah Daru.

Daru menegaskan bahwa produsen mempunyai tanggung jawab mengumpulkan, mendaur ulang, atau memproses limbah produk/kemasannya. Hal ini penting untuk mengurangi volume sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) dan mendukung ekonomi sirkular. Maka, sampah popok yang ada di sungai juga menjadi tanggung jawab produsen.

Sebagai informasi, Kali Tebu merupakan sumber aliran sampah plastik yang bermuara ke Selat Madura, maka perlu pengendalian agar sampah plastik tidak masuk ke perairan laut. Kali Tebu juga menjadi saluran pembuangan dari enam kelurahan di antaranya Kelurahan Kapas Madya, Simokerto, Tanah Kali Kedinding, Sidotopo Wetan, Bulan Banteng, dan Tambak Wedi.

Salah satau upaya untuk mencegah sampah dari Kali Tebu agar tidak bocor ke laut, tim relawan akan melakukan proses penirisan sampah secara rutin. Penirisan tersebut berlangsung setiap dua hari sekali.

“Setelah penirisan, tim akan melakukan brand audit untuk mengidentifikasi sumber sampah plastik. Lokasi brand audit ini tim lakukan di TPS3R Kedung Cowek, Bulak,” kata Manager Program MOZAIK, Amiruddin Muttaqin.

Amiruddin mengajak masyarakat untuk menjaga Kali Tebu dan tidak membuang sampah sembarangan di kali tersebut. Ia meminta kepada seluruh masyarakat untuk mengembalikan kelestarian Kali Tebu.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/sampah-popok-sekali-pakai-cemari-kali-tebu-surabaya/feed/ 0
100 Bibit Mangrove Ditanam dalam Aksi Garden of Memory di Jakarta https://www.greeners.co/aksi/100-bibit-mangrove-ditanam-dalam-aksi-garden-of-memory-di-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=100-bibit-mangrove-ditanam-dalam-aksi-garden-of-memory-di-jakarta https://www.greeners.co/aksi/100-bibit-mangrove-ditanam-dalam-aksi-garden-of-memory-di-jakarta/#respond Wed, 13 May 2026 10:28:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48472 Jakarta (Greeners) – Semangat memperingati Hari Kemenangan (Victory Day) 9 Mei terwujud dalam aksi menanam mangrove. Kegiatan “Garden of Memory: From Moscow To Jakarta” berlangsung di Kawasan Hutan Lindung Angke […]]]>

Jakarta (Greeners) – Semangat memperingati Hari Kemenangan (Victory Day) 9 Mei terwujud dalam aksi menanam mangrove. Kegiatan “Garden of Memory: From Moscow To Jakarta” berlangsung di Kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta, Minggu (10/5).

Kegiatan ini merupakan kerja sama Generasi Energi Bersih Indonesia bersama Yayasan Indonesia Bebas Emisi dan Russian House Jakarta, dengan dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Melalui kegiatan ini, peserta menanam 100 bibit mangrove. Para peserta terdiri dari perwakilan pemerintah, komunitas muda, organisasi lingkungan, hingga misi diplomatik. Penanaman mangrove menjadi simbol kolaborasi lintas negara dalam menghadapi tantangan krisis iklim yang semakin nyata.

Bagi penyelenggara, peringatan Victory Day tidak hanya menjadi seremoni sejarah, tetapi juga pengingat bahwa perubahan besar dapat dimulai dari aksi kolektif. Semangat tersebut diterjemahkan melalui penanaman mangrove sebagai “monumen hidup” yang diharapkan dapat memberi manfaat bagi generasi mendatang.

Direktur Russian House Jakarta, Nikita S. Shilikov mengatakan bahwa kegiatan ini memberikan dampak ganda, yaitu membantu menyelamatkan bumi sekaligus melestarikan pohon-pohon langka. 

“Menurut pandangan saya, sangat penting bagi kita semua untuk bekerja sama dalam menciptakan tempat yang benar-benar ingin kita sebut sebagai rumah, sekaligus membangun dunia yang lebih baik,” ujar Nikita. 

Ruang Kolaborasi

Kegiatan “Garden of Memory: From Moscow To Jakarta” juga menjadi ruang kolaborasi bagi generasi muda. Mereka bisa terlibat langsung dalam aksi iklim. Selain penanaman mangrove, acara turut menghadirkan pertunjukan budaya Betawi Palang Pintu sebagai simbol penyambutan dan persahabatan lintas budaya.

Peserta juga menerima Sertifikat Penyerapan Karbon dari Jejakkarbonku.id sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka terhadap lingkungan. Keterlibatan komunitas muda penting untuk mempercepat transisi menuju target net zero emissions Indonesia pada 2060 atau lebih cepat.

Ketua Nasional Generasi Energi Bersih Indonesia, Ilham Maulana, mengatakan aksi iklim harus dilakukan tanpa memandang batas negara. “Dari Moscow hingga Jakarta, kami mengirimkan satu pesan kepada dunia: aksi iklim tidak mengenal batas negara. Setiap mangrove yang kita tanam hari ini bukan hanya menjadi kenangan atas masa lalu, tetapi juga janji untuk masa depan,” ungkap Ilham. 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/100-bibit-mangrove-ditanam-dalam-aksi-garden-of-memory-di-jakarta/feed/ 0