Percepat Kesiapsiagaan Kebakaran Hutan dan Lahan di 2023

Reading time: 3 menit
Curah hujan tahun 2023 bakal turun. Waspadai potensi karhutla. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Sebagai pemilik hutan tropis terbesar ketiga di dunia kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak signifikan bagi Indonesia, termasuk emisi yang berkontribusi pada perubahan iklim.

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar memperingatkan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla tahun 2023.

Dalam periode 1-19 Januari 2023 sudah ada sebanyak 31 titik panas atau hot spot di seluruh Indonesia. Angka tersebut naik 29 % dari periode yang sama tahun lalu.

Pakar karhutla dari IPB Bambang Saharjo mengatakan, emisi gas yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan presentasenya cukup besar.

Dalam Laporan Pembaruan Dua Tahunan ke-3 NDC Indonesia tahun 2022 UNFCCC, terjadi peningkatan tingkat emisi menjadi 1.845 GtCO2-eq pada tahun 2019. Emisi terbesar berasal kebakaran gambut adalah 50,13 %.

“Ini artinya peran emisi gas dari akibat terjadinya kebakaran hutan dan lahan sangat signifikan khususnya kebakaran gambut,” katanya kepada Greeners, Minggu (22/1).

Selain itu, dampak terjadinya karhutla adalah timbulnya asap yang bisa manusia hirup. Pada kisaran tertentu dapat mengakibatkan penyakit mulai dari yang sederhana maupun yang kompleks.

Berdampak pada Global Climate Change

Dampak lain yang mungkin tidak terasa adalah bertambahnya akumulasi gas di atmosfer dengan gas yang sudah ada sebelumnya. “Inilah yang membuat persoalan karena dapat mengakibatkan global climate change. Salah satunya peningkatan suhu rata-rata yang telah disepakati dalam beberapa kali pertemuan COP yang UNFCCC selenggarakan yaitu maksimum 1,5° Celcius,” jelas dia.

Dampak lain juga adalah terjadinya pembukaan tutupan vegetasi yang membuat permukaan tanah menjadi sensitif terhadap gangguan. Hal inilah kemudian yang berimplikasi terhadap peluang bencana seperti banjir dan longsor.

Rapat koordinasi khusus penanggulangan karhutla 2023. Foto: KLHK

Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan Tak Bisa Instan

Senada dengannya, Pengkampanye Pantau Gambut Wahyu A. Perdana menyatakan, pencegahan bukan sesuatu yang instan. Ia menyebut, kerap kali pelibatan aparatur negara hanya dalam konteks tanggap darurat karhutla. “Aspek pencegahan harusnya menyentuh pada evaluasi terhadap konsesi yang lahannya terbakar,” kata dia.

Berdasarkan tren kebakaran hutan yang berulang sepanjang 2015 hingga 2019 data areal bekas terbakar KLHK, hasilnya terakumulasi seluas 1,46 juta hektare (ha) area gambut terbakar. “Area gambut terbakar dengan komposisi 70 % berada di area konsesi,” ujarnya.

Selain itu, dari total 1,4 juta ha, sekitar 36 % atau 527.980,73 ha lahan gambut telah terbakar lebih dari satu kali.

Bahkan pada tahun 2021, hasil analisis pantau gambut menemukan hal lain yang spesifik. “Sebaran titik panas di lahan gambut ternyata makin luas pada kurun waktu Januari hingga Juli 2021 daripada periode yang sama tahun 2020,” ungkapnya.

Curah Hujan 2023 Turun

Sebelumnya dalam Rapat Koordinasi Khusus (Rakorsus) Penanggulangan karhutla Kepala Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, memprediksi curah hujan tahun 2023 akan mengalami penurunan. Kewaspadaan yang pertama pada bulan Februari.

“Meskipun sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami hujan, tetapi di wilayah Riau, sebagian Jambi dan sebagian Sumatra Utara memasuki kemarau. Jadi kemarau yang pertama. Yang kedua nanti di pertengahan tahun,” kata dia.

Pada Mei, BMKG memprediksi mulai terdeteksi terjadinya penurunan curah hujan, yang hingga mendekati di bawah 150 mm. Itu terjadi terutama di wilayah Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian Jawa Tengah, Jawa Barat, dan sebagian Sumatra.

Sementara untuk Kalimantan, penurunan curah hujan pada Mei. Waspadai potensi karhutla. Lalu Juni wilayah yang mengalami penurunan curah hujan semakin meluas hingga Juli meliputi seluruh wilayah Sumatra, hampir seluruh Jawa, dan Nusa Tenggara.

Sementara itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan menyiapkan strategi pencegahan bencana karhutla seperti teknologi modifikasi cuaca (TMC).

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page