harimau sumatera - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/harimau-sumatera/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 12 Mar 2024 08:23:31 +0000 id hourly 1 Dua Harimau Sumatra Dilepasliarkan di TN Gunung Leuser https://www.greeners.co/aksi/dua-harimau-sumatra-dilepasliarkan-di-tn-gunung-leuser/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dua-harimau-sumatra-dilepasliarkan-di-tn-gunung-leuser https://www.greeners.co/aksi/dua-harimau-sumatra-dilepasliarkan-di-tn-gunung-leuser/#respond Thu, 14 Mar 2024 05:00:39 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=43299 Jakarta (Greeners) –  Menteri Lingkungan Hidup dan kehutanan (LHK), Siti Nurbaya melepasliarkan dua harimau sumatra ke habitat alaminya di zona inti Taman Nasional (TN) Gunung Leuser, Rabu (6/3). Dua harimau […]]]>

Jakarta (Greeners) –  Menteri Lingkungan Hidup dan kehutanan (LHK), Siti Nurbaya melepasliarkan dua harimau sumatra ke habitat alaminya di zona inti Taman Nasional (TN) Gunung Leuser, Rabu (6/3). Dua harimau itu bernama “Ambar Goldsmith” dan “Beru Situtung”.

Menteri Siti menyematkan tambahan nama pada harimau sumatra bernama Ambar menjadi Ambar Goldsmith. Ia melepasliarkan Ambar Goldsmith bersama Senior Fellow at Bezos Earth Fund, Lord Goldsmith. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai UK Minister of State for Overseas Territories, Commonwelath, Energy, Climate and Environment.

Siti mengatakan satwa tersebut merupakan satu dari sembilan spesies kucing liar (wild cat) yang berperan penting, khususnya dalam mendukung keseimbangan ekosistem dan penyediaan jasa lingkungan.

BACA JUGA: Konservasi Berkelanjutan Satwa Liar Bisa Datangkan Rupiah

“Harimau ini menjadi perhatian internasional. Sebab, dunia menyebutnya flagship species, yaitu jenis satwa strategis sebagai indikator baiknya bentang alam hutan atau lingkungan kita. Di antaranya adalah harimau, badak, gajah, dan orangutan,” terang Siti lewat keterangan tertulisnya.

Pelepasliaran harimau sumatra. Foto: KLHK

Pelepasliaran harimau sumatra. Foto: KLHK

Pelepasliaran Upaya Penyelamatan Satwa

Sementara itu, kegiatan pelepasliaran ini merupakan upaya penyelamatan satwa dari konflik satwa dan manusia.  Satwa yang dilepasliarkan telah melalui proses rehabilitasi untuk mengembalikan sifat keliarannya kembali. Kegiatan pelepasliaran menggunakan tiga helikopter dari Angkatan Udara TNI, Kepolisian Daerah Provinsi Sumatera Utara dan KLHK.

Harimau sumatra Ambar Goldsmith, berjenis kelamin Betina, berumur kurang lebih 5,5 – 6 tahun. Satwa ini berasal dari Desa Bukit Mas, Sumatera Utara. Harimau sumatra Ambar merupakan satu individu satwa harimau sumatra yang ditangkap menggunakan kandang jebak.

Selain itu, harimau sumatra kedua “Beru Situtung” merupakan harimau betina dengan perkiraan umur 3-4 tahun. Pada usia tersebut, satwa ini selamat dari interaksi negatif antara manusia dan harimau sumatra di kawasan Hutan Lindung Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan.

BACA JUGA: WWD 2024: Manusia Perlu Berbagi Ruang dengan Satwa Liar

Harimau Beru Situtung menjalani perawatan dan pemantauan di fasilitas penyelamatan kantor Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tapak Tuan-Aceh Selatan, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) sampai kondisinya pulih dan sehat.  Pada 8 April 2023, Beru Situtung pindah ke Suaka Satwa Harimau Sumtera Barumun untuk observasi atau kajian perilaku. Bahkan, harimau tersebut mendapatkan perawatan intensif hingga siap untuk dilepasliarkan.

TN Gunung Leuser Tempat Hidup 4 Spesies Unggulan

Siti menyebut TN Gunung Leuser terkenal di dunia sebagai keping terakhir di bumi. Ada empat spesies unggulan atau flagship species sekaligus yang hidup di TN Gunung Leuser, yaitu harimau, badak, gajah, dan orangutan.

Topografi lokasi pelepasliaran yang berada pada zona inti kawasan TN Gunung Leuser relatif datar dengan tinggi sekitar 45 meter/dpl dengan tutupan hutan yang masih terjaga. Di sana terdapat jejak beberapa jenis satwa mangsa harimau berupa babi hutan, rusa, kijang, dan terdapat jejak harimau sumatra pada lokasi lepas liar.

“Aktivitas masyarakat sangat jarang di sekitar lokasi lepas liar. Atas pertimbangan-pertimbangan di atas, lokasi tersebut layak untuk menjadi tempat pelepasliaran harimau sumatra,” tambah Siti.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/dua-harimau-sumatra-dilepasliarkan-di-tn-gunung-leuser/feed/ 0
Akhiri Konflik Satwa dan Manusia, Sadari Ruang Berbagi di Bumi https://www.greeners.co/berita/akhiri-konflik-satwa-dan-manusia-sadari-ruang-berbagi-di-bumi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=akhiri-konflik-satwa-dan-manusia-sadari-ruang-berbagi-di-bumi https://www.greeners.co/berita/akhiri-konflik-satwa-dan-manusia-sadari-ruang-berbagi-di-bumi/#respond Thu, 21 Apr 2022 06:51:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35947 Jakarta (Greeners) – Di Indonesia perebutan habitat menjadi salah satu pemicu utama peningkatan konflik manusia dan satwa liar. Perluasan pemukiman masyarakat hingga deforestasi untuk kepentingan industri dan kebun membuat satwa […]]]>

Jakarta (Greeners) – Di Indonesia perebutan habitat menjadi salah satu pemicu utama peningkatan konflik manusia dan satwa liar. Perluasan pemukiman masyarakat hingga deforestasi untuk kepentingan industri dan kebun membuat satwa liar akhirnya turun ke permukiman manusia. Perlu penyadaran konsep berbagi ruang antara manusia dan satwa liar untuk menjaga keberlanjutan ekosistem alam.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor Bambang Hero Saharjo menyatakan, kebaikan bumi bukan hanya monopoli ruang milik manusia sehingga bebas memanfaatkan semaunya. Akan tetapi juga menjadi milik keanekaragaman flora dan satwa yang turut menjaga keberlanjutan ekosistem. “Sehingga manusia bisa hidup berdampingan dengan satwa liar melalui berbagi ruang secara harmonis,” katanya kepada Greeners, Kamis (21/4).

Seperti halnya hubungan yang dijalin sesama manusia, hubungan dengan satwa hendaknya melibatkan berbagai unsur. Misalnya, emosi, moral, hingga kepercayaan. Dengan begitu lanjutnya, seharusnya sudah tak ada lagi kasus harimau memangsa ternak hingga menerkam manusia. Lalu direspon dengan aksi balas dendam dengan penjeratan dan peracunan harimau.

“Imbas konflik ini bukan saja merugikan manusia, tapi akan menyebabkan kepunahan satwa dan berimbas pada ketidakseimbangan ekosistem,” ucapnya.

Pernyataan Bambang sekaligus merespon peringatan Hari Bumi pada 22 April 2022. Bertemakan ‘Invest In Our Planet’, fokus peringatan Hari Bumi tahun ini lebih kepada peningkatan kesadaran tentang populasi, hilangnya keanekaragaman hayati dan penurunan kualitas lingkungan.

Harimau Sumatera Serang Warga dan Terkam Sapi

Sebelumnya, baru-baru ini masyarakat digemparkan oleh kemunculan harimau sumatera yang muncul dalam waktu yang hampir bersamaan di tiga wilayah, yakni Solok, Bengkalis dan Simalungun.

Seekor harimau sumatera di Kabupaten Bengkalis, Riau seekor itu menerkam petani yang sedang memasang jerat rusa hingga tewas di Desa Tasik Tebing Serai, Kecamatan Talang Muandau. Harimau kembali muncul di desa yang sama tapi diserang anjing-anjing warga sekitar.

Selanjutnya, masih di bulan yang sama harimau menerkam dua ekor sapi di perkebunan Kelapa Sawit PT Perkebunan Nusantara IV, Sumatra Utara. Laporan lain, Wali Nagari Kuncir, juga melaporkan harimau menerkam seekor sapi.

Lalu warga kelurahan Kampung Jawa Kecamatan Tanjung Harapan juga melaporkan temuan harimau ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat (Sumbar) pada 6 April 2022 lalu. Selanjutnya BKSDA Sumbar menurunkan tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah III untuk pengecekan langsung ke lokasi.

BKSDA kemudian melakukan upaya indentifikasi pergerakan harimau tersebut. Mereka memutuskan memasang kandang jebak atau box trap di 2 unit titik yang kemungkinan sering harimau lewati.

Populasi satwa harimau sumatera kini telah berstatus kritis (critically endangered) dan telah mengalami penurunan 10 % dalam waktu 10 tahun terakhir.

Habitat Harimau Beralih Fungsi Konflik Satwa Terjadi

Program Manager Sintas Indonesia Foundation Alya Faryanti mengungkapkan, kondisi habitat harimau di hampir seluruh wilayah Sumatra telah beralih menjadi lahan pertanian dan permukiman. Imbas deforestasi menjadikan hutan tidak utuh lagi dan terpotong menjadi beberapa bagian. Daerah-daerah non hutan dapat harimau lintasi menjadi daerah rawan konflik.

Harimau membutuhkan habitat berupa hutan yang utuh dan terdapat keberadaan mangsa yang cukup. Luas jelajah harimau bergantung pada keberadaan satwa mangsanya (harimau jantan dewasa memiliki jelajah sekitar 50-250 km2).

“Jika keberadaan mangsa semakin jarang, maka harimau cenderung memiliki area jelajah yang lebih luas untuk mencari mangsanya,” kata Alya.

Lebih jauh, Alya menyebut makanan harimau yakni satwa besar sebagai mangsa utama, seperti rusa sambar, muncak dan babi hutan. Meski demikian, ternak seperti sapi, kambing dan kerbau juga tidak luput menjadi incaran karena cenderung lebih mudah harimau tangkap daripada satwa liar.

“Pada kasus di Bengkalis beberapa waktu lalu, terdapat jerat rusa yang dipasang warga. Keberadaan rusa yang terjerat inilah yang menarik harimau untuk mendekat,” imbuhnya.

Alya mengaku tak mudah untuk mengakhiri konflik manusia dan satwa jika melihat kondisi populasi harimau dengan kerusakan habitatnya saat ini. Penyadaran akan pentingnya hidup berdampingan antara manusia dan satwa perlu untuk menurunkan potensi konflik satwa manusia. “Manusia dan harimau dapat ko-eksis, hidup berdampingan,” ujar dia.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/akhiri-konflik-satwa-dan-manusia-sadari-ruang-berbagi-di-bumi/feed/ 0
Kamera Trap Ungkap Keberadaan dan Perilaku Satwa Liar di Alam https://www.greeners.co/berita/kamera-trap-ungkap-keberadaan-dan-perilaku-satwa-liar-di-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kamera-trap-ungkap-keberadaan-dan-perilaku-satwa-liar-di-alam https://www.greeners.co/berita/kamera-trap-ungkap-keberadaan-dan-perilaku-satwa-liar-di-alam/#respond Sat, 20 Nov 2021 07:13:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34460 Jakarta (Greeners) – Pemerhati satwa punya cara tersendiri untuk mengamati dan memastikan keberadaan dan perilaku satwa liar di alam salah satunya dengan kamera trap atau kamera jebakan. Upaya ini ternyata […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerhati satwa punya cara tersendiri untuk mengamati dan memastikan keberadaan dan perilaku satwa liar di alam salah satunya dengan kamera trap atau kamera jebakan. Upaya ini ternyata punya manfaat luar biasa untuk mengeksplorasi keragaman hayati.

Perwakilan Fauna dan Flora International – Indonesia Programme Wido Albert membagikan ceritanya terkait pemasangan kamera jebakan untuk memantau harimau sumatra di Taman Nasional Kerinci Seblat. Sebelum menentukan lokasi pemasangan kamera, survei terlebih dahulu ia lakukan.

“Kalau di Kerinci Seblat kebetulan hutannya perbukitan dan pegunungan. Jadi yang utama kita mencari tanda-tanda keberadaan. Kita survei dulu dimana misalnya keberadaan tapak harimau atau kotoran-kotorannya. Kalau untuk umum, kita pasang di pematang bukit. Karena umumnya jalur satwa itu di pematang-pematang bukit yang terjal,” jelas Wido kepada Greeners di Jakarta, Jumat (19/11).

Wido mengungkapkan, sebanyak 200 titik kamera trap perlu terpasang di setiap blok pemantauan. Kamera harus terpasang ganda pada setiap jalur lintasan satwa. Pemasangan kamera jebak biasanya membutuhkan waktu 6-8 hari. Hal ini bergantung seberapa jauh lokasi titik pemasangan kamera jebak tersebut. Setelah 40-60 hari kamera jebakan akan ia dan tim ambil kembali.

“Karena di hamparan hutan, jarang hari pertama langsung pasang. Biasanya hari pertama masih jalan lalu hari kedua baru masang titik pertama. Itu periode pertama, kalau periode kedua harus agak ke tengah. Bisa hari ke tiga atau ke empatnya baru masang. Ada juga yang jauh, hari ke empatnya baru kita bisa masang,” paparnya.

Pemasangan Kamera Trap Untuk Macan Tutul

Manajer Operasional Sintas Indonesia Erwin Wilianto yang juga menjelaskan pengalamannya memasang kamera jebakan di Pulau Jawa untuk macan tutul. Erwin menjelaskan kesulitan ketika akan memasang kamera jebakan ini adalah akurasi lokasi penempatan kamera. Karena ukuran petak survei macan tutul yang hanya sekitar 2×2 km persegi.

“Jalur di hutan itu banyak dan ukuran petak survei macan tutul sekitar 2×2 km persegi. Ini tantangan bagi kami untuk bisa menempatkan satu kamera ini di sebelah mana. Kita perlu tahu perilaku, kebutuhannya dan pentingnya bagi kami mempunyai kemampuan navigasi darat atau membaca peta. Dan untuk kucing itu, lebih cenderung menggunakan jalan yang sudah terbuka, ini juga jadi memudahkan kami,” ungkap Erwin.

Seperti halnya untuk harimau sumatra, butuh dua unit kamera trap untuk macan tutul yang terpasang saling berhadapan. Hal ini untuk membantu mempermudah identifikasi dari jenis macan tutul apa yang terekam oleh kamera jebak tersebut.

“Kita juga biasa menggunakan kamera trap sepasang di satu stasiun, dipasang berhadapan. Dengan harapan kita bisa memotret sisi kanan dan sisi kiri macan tutul tersebut. Karena setiap individu memiliki totol macan yang unik, jadi ini bisa kita gunakan sebagai penanda atau ciri-ciri dari individu itu,” tuturnya.

Bagian dari Eksplorasi Keragaman Hayati

Erwin pun berharap kamera trap ini dapat membantu mengenali keragaman hayati yang masih belum terindentifikasi dan masyarakat ketahui keberadaannya. Selain untuk mencari tahu jumlah populasi satwa. Kemudian keberadaan kamera ini dapat membuat kita lebih mengenali perilaku satwa.

“Sebenarnya masih banyak sekali keragaman hayati yang masih belum tereksplor. Harapannya kamera trap ini bisa membantu untuk menemukan hal tersebut. Tidak hanya untuk populasi tetapi juga masih banyak satwa yang perilakunya belum dapat dipahami terutama satwa-satwa yang jarang orang temui,” harapnya.

Erwin kembali berharap masyarakat dan komunitas peduli keberadaan satwa bisa mengakses kamera trap. Dengan begitu dapat membantu mengindentifikasi keragaman hayati yang ada di Indonesia.

“Mungkin karena alat kamera trap ini mahal. Harapan kami orang-orang yang memiliki perhatian terhadap isu ini dapat mengakses alat-alat seperti ini untuk mengetahui keragaman hayati seperti macan tutul ini,” pungkasnya.

Penulis : Fitri Annisa

]]>
https://www.greeners.co/berita/kamera-trap-ungkap-keberadaan-dan-perilaku-satwa-liar-di-alam/feed/ 0
3,12 Juta Hektare Sawit Ilegal Ancam Kepunahan Satwa Endemik https://www.greeners.co/berita/312-juta-hektare-sawit-ilegal-ancam-kepunahan-satwa-endemik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=312-juta-hektare-sawit-ilegal-ancam-kepunahan-satwa-endemik https://www.greeners.co/berita/312-juta-hektare-sawit-ilegal-ancam-kepunahan-satwa-endemik/#respond Thu, 21 Oct 2021 08:17:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34153 Jakarta (Greeners) – Greenpeace Indonesia dan The Tree Map menemukan 3,12 juta hektare (ha) perkebunan sawit ilegal berada dalam kawasan hutan hingga akhir tahun 2019. Dalam laporan terbarunya itu, terdapat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Greenpeace Indonesia dan The Tree Map menemukan 3,12 juta hektare (ha) perkebunan sawit ilegal berada dalam kawasan hutan hingga akhir tahun 2019.

Dalam laporan terbarunya itu, terdapat 600 perusahan perkebunan di dalam kawasan hutan. Sekitar 90.200 ha perkebunan kelapa sawit berada di kawasan hutan konservasi.

Letak perkebunan kelapa sawit dalam kawasan hutan paling luas berada di pulau Sumatera (61,5%) dan Kalimantan (35,7%). Dari kedua pulau tersebut, terdapat dua provinsi ekspansi besar yaitu provinsi Riau 1.231.614 ha dan Kalimantan Tengah 821.862 ha. Kedua provinsi ini menyumbang dua pertiga dari total nasional.

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Arie Rompas mengatakan, temuan ini membuktikan bahwa perkebunan kelapa sawit beroperasi di hampir semua kategori kawasan hutan. Kawasan itu mulai dari taman nasional, suaka margasatwa, bahkan di situs UNESCO.

Ia menambahkan, kawasan itu tersebar di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Sekitar 186.687 ha kebun sawit dalam kawasan hutan, teridentifikasi sebagai habitat orangutan. Lalu di 148.839 ha lainnya sebagai habitat harimau Sumatra. Hal ini jelas mendorong kepunahan jenis satwa endemik milik Indonesia.

“Kawasan konservasi ditetapkan karena mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, artinya haram hukumnya untuk ditanami sawit,” tegas Arie Rompas, dalam diskusi virtual Sawit Ilegal Dalam Kawasan Hutan: Karpet Merah Oligarki, di Jakarta, Kamis (21/10).

Tata Kelola Hutan Indonesia

Ia prihatin, berbagai kawasan yang seharusnya dapat perlindungan justru habis dibabat untuk perkebunan kelapa sawit.

“Sebut saja kasus Gunung Melintang di Kalimantan Barat dan kasus Suaka Margasatwa Bakiriang, Sulawesi Tengah, ratusan hektare digunduli demi menguntungkan segelintir kelompok,” ungkapnya.

Rusaknya hutan Indonesia tidak terlepas dari buruknya tata kelola kehutanan, tidak adanya transparansi, lemahnya pengawasan dan tumpulnya penegakan hukum.

Persoalan ini lanjutnya menyebabkan perkebunan sawit illegal menjamur di berbagai wilayah. Perusahaan dan elit kata Arie, terus mengeruk keuntungan karena mudah lolos dari jeratan hukum tanpa perlu membayar pajak.

Bahkan kini melalui UU Cipta Kerja, pemerintah memberikan serangkaian pemutihan bagi perusahaan-perusahaan untuk ‘melegalisasi’ perkebunan ilegal dan menghindari jerat hukum.

Berdasarkan kajian Komisi Pemberantasan Korupsi tahun 2018, kerugian negara akibat penebangan ilegal mencapai Rp 35 triliun per tahun. Sementara itu potensi pajak di sektor sawit mencapai Rp 40 triliun. Namun pemerintah hanya mampu memungut pajak sebesar Rp 21,87 triliun dari sektor tersebut.

“Potensi hilangnya penerimaan negara dari pajak kebun sawit tersebut tentunya tak sebanding dengan dampak sosial dan lingkungan yang masyarakat sekitar alami,” ucapnya.

Masyarakat adat dan warga yang tinggal di sekitar hutan kehilangan sumber pendapatan. Masyarakat kerap menjadi korban bencana asap akibat kebakaran lahan, serta berisiko menghadapi amukan satwa liar akibat meningkatnya konflik manusia dan satwa liar.

Deforestasi sawit

Lahan sawit ilegal sumbang kenaikan emisi karbon. Foto: Shutterstock

Perusahaan Bersertifikat di Sawit Ilegal

Di antara perusahaan-perusahaan tersebut, Greenpeace Indonesia juga mengidentifikasi hampir 100 perusahaan anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Masing-masing memiliki lebih dari 100 ha yang konsesinya di dalam kawasan hutan. Sementara terdapat delapan perusahaan dengan masing-masing memiliki lebih dari 10.000 ha.

Kendati Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) merupakan inisiatif lebih baru, perusahaan bersertifikasi ISPO secara total memiliki 252.000 ha berkonsesi di dalam kawasan hutan. Padahal kedua mekanisme sertifikasi ini secara jelas harus mematuhi hukum yang berlaku.

Keberadaan signifikan dari perkebunan-perkebunan bersertifikasi RSPO dan ISPO di dalam kawasan hutan membahayakan komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Dalam Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) tahun 2021, “code red for humanity,” menyatakan bahwa setelah penggunaan energi fosil, perubahan fungsi lahan, termasuk kegiatan seperti konversi kawasan hutan untuk perkebunan kelapa sawit, merupakan penyumbang kedua terbesar terhadap perubahan iklim yang dipicu oleh manusia.

Emisi Karbon dari Sawit Ilegal

Sepanjang tahun 2001-2019, Greenpeace Indonesia menemukan 870.995 Ha hutan primer dalam kawasan hutan telah berubah menjadi kebun sawit. Aktivitas ini telah melepas sekitar 104 juta metrik ton karbon.

Jumlah ini setara dengan 33 kali emisi karbon tahunan konsumsi listrik oleh semua rumah di Jakarta, atau 60% dari emisi tahunan penerbangan internasional.

Oleh sebab itu, Greenpeace mendorong pemerintah Indonesia untuk menegakkan transparansi dan keadilan untuk melindungi hutan dan hak-hak masyarakat adat.

“Perusahaan yang secara ilegal mengoperasikan perkebunan kelapa sawit di dalam kawasan hutan harus mendapat sanksi yang tegas, tidak hanya administratif tetapi juga sanksi pidana, alih-alih menikmati pemutihan,” tegas Arie.

Menurut Arie sanksi tegas ini patut terimplementasi, sebab upaya memulai pembenahan sawit dalam kawasan hutan sudah hampir satu dekade lalu. Selain itu, pertimbangan dampak ekologi perlu masuk ke dalam rencana tata ruang.

Sementara itu pekebun swadaya perlu penguatan, sehingga Indonesia bisa memastikan ekonomi yang berkelanjutan. Hal itu juga harus berjalan seirama dengan perlindungan keanekaragaman hayati dan mempertahankan kenaikan suhu bumi di bawah 1,5 derajat Celcius untuk mengurangi dampak krisis iklim.

Dalam ikut serta melindungi hutan dari kerusakan, Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) bersama dengan High Carbon Stock Approach (HCSA) melakukan sebuah pendekatan bagi pekebun sawit swadaya dalam perencanaan pengelolaan perlindungan hutan.

Sekretaris Jenderal Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Mansuetus Darto mengatakan, para petani sawit juga mencoba melakukan konservasi hutan yang ada. Ia menegaskan tidak semua petani maupun pelaku usaha sawit melakukan praktek ilegal karena masih ada petani sawit kecil yang melakukan praktek terbaiknya di lapangan.

“Tidak semua para petani sawit itu melakukan praktek yang ilegal. Lalu tidak semua Indonesia itu berpraktek melakukan deforestasi atau unsustainable,” tegasnya.

Penulis : Fitri Annisa

]]>
https://www.greeners.co/berita/312-juta-hektare-sawit-ilegal-ancam-kepunahan-satwa-endemik/feed/ 0
Tuan Tigabelas, Memaknai Harimau Sumatera Melalui Karya https://www.greeners.co/gaya-hidup/tuan-tigabelas-memaknai-harimau-sumatera-melalui-karya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tuan-tigabelas-memaknai-harimau-sumatera-melalui-karya https://www.greeners.co/gaya-hidup/tuan-tigabelas-memaknai-harimau-sumatera-melalui-karya/#respond Thu, 05 Aug 2021 04:46:15 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=33453 Jakarta (Greeners) – Dalam memperingati Hari Harimau Sedunia 2021 yang jatuh pada setiap tanggal 29 Juli. Greeners berkesempatan untuk berdiskusi dengan Tuan Tigabelas, salah satu musisi muda Indonesia yang menaruh […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam memperingati Hari Harimau Sedunia 2021 yang jatuh pada setiap tanggal 29 Juli. Greeners berkesempatan untuk berdiskusi dengan Tuan Tigabelas, salah satu musisi muda Indonesia yang menaruh perhatian besar kepada Sang Raja Hutan tersebut.

Tuan Tigabelas mengawali karirnya sebagai solo rapper di Industri Musik Indonesia sejak tahun 2017. Pada kesempatannya, Laki-laki dengan nama asli Upi ini menceritakan bagaimana ia memakai nama Tuan Tigabelas sebagai nama panggungnya.

Sederhananya, Tuan adalah laki-laki sedangkan Tigabelas merupakan tanggal kelahiran Upi sendiri. Namun ia menyebut terdapat arti filosofis dari nama panggungnya tersebut.

“Tigabelas tuh punya image buruk di mata masyarakat kita ya aku mau coba merubah itu jadi hal yang positif lewat musik yang aku kasih gitu. Supaya nextnya mungkin kalau orang dengar tigabelas jadi nggak seram, tigabelas itu edukatif, tigabelas itu positif karena ada Tuan Tigabelas,” jelas Upi kepada Greeners, Kamis (29/07/2021).

Selain nama Tuan Tigabelas, Upi juga memaknai Harimau Sumatera sebagai metafora dirinya dalam proses bermusik. Satwa endemik tersebut menarik perhatian Upi atas keperkasaan dan kekuatannya. Selagi menggunakan image Harimau Sumatera, Upi mempelajari Harimau Sumatera lebih lanjut. Pada saat itu ia menemukan bahwa keadaan Sang Raja Hutan sedang tidak baik-baik saja.

Last Roar, Auman Terakhir si Raja Hutan

Harimau Sumatera merupakan subspesies terakhir di Indonesia setelah Harimau Jawa dan Bali yang telah dinyatakan punah. Menurut kajian populasi dan habitat terbaru, saat ini hanya terdapat sekiranya 400 ekor Harimau Sumatera. Tentunya jumlah ini akan semakin berkurang jika kita terus merenggut habitatnya dengan tidak bijaksana.

Memiliki daerah asal yang sama yakni Sumatera, Upi merasa ia mempunyai sebuah ikatan dan kewajiban untuk menyuarakan hal tersebut. Sebagai musisi, Upi menilai bahwa menyebarkan awareness lewat musik adalah hal yang pertama yang bisa ia lakukan.

Berdasarkan hal tersebut, Upi merilis album pertamanya, yaitu “Harimau Soematra” dengan track list sebanyak 13 lagu. Pada  albumnya, terdapat lagu “Last Roar” sebagai bentuk dedikasinya terhadap Harimau Sumatera.

“Aku orang Sumatera jadi ini ada di rumahku kejadiannya, kalau bukan orang rumah yang ngomong mau orang siapa lagi yang bicara,” tegas Upi.

Upi menjelaskan bahwa Last Roar menggambarkan tentang Harimau Sumatera yang habitatnya banyak manusia hancurkan melalui pembabatan hutan atau eksploitasi lahan sawit. Sebagai subspesies terakhir, mereka meminta tolong kepada kita Manusia untuk berhenti melakukan hal tersebut.

Dalam pembuatan liriknya, Tuan Tigabelas mencoba metode baru yaitu memposisikan diri sebagai Harimau.

“Aku mencoba berkhayal kalau aku adalah seekor Harimau yang rumah saya dibakar anak-anaknya ikut terbakar Nggak punya tempat untuk kabur apa yang yang akan saya bicarakan kepada manusia” ucapnya.

Tuan Tigabelas merilis album pertamanya, yaitu “Harimau Soematra”. Foto: @tuantigabelas.

Tuan Tigabelas: Jika Selamatkan Rumahnya, Populasi Harimau Pasti Akan Selamat

Selain itu, pada kesempatannya Upi juga mengatakan bahwa, selain membahas mengenai Harimau, pada lagu Last Roar ia juga menyampaikan mengenai keselamatan Hutan. Ia menyebut bahwa menurunnya populasi Harimau Sumatera tidak hanya disebabkan oleh perburuan liar. Faktor lain yang berkontribusi adalah alih fungsi lahan, deforestasi, dan kebakaran hutan.

Upi menambahkan bahwa Harimau bukan satwa yang hidup berkelompok, ia merupakan pemain tunggal. Pemecahan masalah pada menurunnya populasi Harimau bukan semata-mata hanya menambahkan jumlah. Harimau merupakan satwa yang hidup di alam liar, apabila rumah mereka terus dibabat, mereka tidak akan mempunyai tempat tinggal yang layak.

“Ini bukan tentang bagaimana caranya menambah populasi harimau tapi kita harus menyelamatkan rumahnya dulu kalau rumahnya beres populasinya beres itu hal yang paling fundamental,” ujarnya.

Sebagai lanjutan aksinya, Upi mempersembahkan semua royalti dari penjualan album Harimau Soematra, CD dan juga merchandise ia alokasikan untuk konservasi hutan dan Harimau.

“Dengan hal kecil ini saya mengajak teman-teman kalau kalian dengerin lagu ini kalian udah nyumbang buat hutan sama Harimau. Jadi aku mau menyediakan platform biar teman-teman bisa berpartisipasi tanpa perlu turun ke hutan langsung karena kita semua punya kapasitasnya masing-masing untuk bergerak,” harapnya.

Tuan Tigabelas: Generasi Muda Tonggak Perubahan

Lewat hasil karyanya, Tuan Tigabelas banyak menaruh harapan, kepada masyarakat dan Pemerintah. Kepada Pemerintah ia berharap agar dapat menangani permasalahan ini dengan tegas, menindak segala tindakan buruk terhadap hutan. Serta tentunya, Upi berharap agar Pemerintah menggandeng Non-Governmental Organization (NGO) atau organisasi masyarakat untuk bersama-sama melestarikan hutan.

“Aku rasa semua pihak pasti bekerja sangat keras untuk hal ini khususnya untuk hutan. Harapanku pemerintah lebih terbuka untuk kolaborasi dengan NGO atau organisasi masyarakat. Jadi teman-teman NGO itu bisa ikut andil dalam melestarikan hutan kita dan akhirnya meringankan kerja pemerintah” tuturnya.

Selain Pemerintah, harapannya pada masyarakat terutama pada generasi muda, agar dapat menyebarkan awareness terhadap kepedulian lingkungan. Menurutnya peran generasi muda sangat penting untuk menyebarkan awareness khususnya pada dunia digital pada saat ini.

“Karena kita sekarang yang megang tongkat estafet untuk menentukan keberadaan harimau atau hutan 10 tahun atau 20 tahun lagi ke depan. Kita yang punya kuncinya sekarang, jadi anak muda adalah tonggak perubahan saya percaya itu,” tutupnya.

Penulis: Zahra Shafira

 

 

 

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tuan-tigabelas-memaknai-harimau-sumatera-melalui-karya/feed/ 0
Harimau Sumatra, Satwa Endemik yang Tersingkirkan https://www.greeners.co/flora-fauna/harimau-sumatra/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=harimau-sumatra https://www.greeners.co/flora-fauna/harimau-sumatra/#respond Wed, 30 Dec 2020 00:00:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20189 Harimau sumatra termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered). Kucing besar ini merupakan sub-spesies harimau terakhir di Indonesia.]]>

Menurut data World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, saat ini hanya ada sekitar 400 ekor harimau sumatra yang hidup di habitatnya. Jumlah ini terus merosot seiring meningkatnya aktivitas perburuan di alam liar.

Terdapat sembilan jenis harimau (Panthera tigris) yang ada di dunia; enam di antaranya para pakar nyatakan masih hidup, sedang tiga lainnya telah punah. Salah satu sub-spesies yang masih eksis hingga saat ini adalah Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang berasal dari Indonesia.

Di tanah air, sebenarnya ada dua jenis harimau lain yang dulu masih bisa kita temukan di dua daerah berbeda, yakni Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dan Harimau Bali (Panthera tigris balica).

Namun, sayangnya kedua sub-spesies tersebut sudah masuk dalam kelompok satwa punah. Hanya kucing besar dari Sumatra yang mampu bertahan hidup dengan jumlah yang sangat terbatas.

Menurut data WWF Indonesia, saat ini hanya ada sekitar 400 ekor harimau sumatra yang hidup di habitatnya. Jumlah ini terus merosot seiring meningkatnya aktivitas perburuan di alam liar.

Habitat dan Persebaran Harimau di Dunia

Mulanya, Panthera tigris hanya hidup di benua Asia yakni mulai dari Turki, India hingga Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu hewan tersebut mulai tersebar sampai ke Amerika dan juga Rusia.

Berbeda dengan singa, harimau dewasa adalah satwa soliter. Tipe lokasi yang biasa menjadi habitat fauna tersebut meliputi daerah-daerah berketinggian 0-3.000 m di atas permukaan laut.

Itu sebabnya, jangan heran jika kucing besar ini dapat kita temukan di hutan hujan tropis, hutan primer dan sekunder (dataran tinggi dan rendah), hutan savana, hutan terbuka, mangrove dan sebagainya.

Mengacu pada kawasan biogeografinya, harimau sumatra bisa saja hidup di Pulau Jawa dan Bali. Sehingga, para ilmuwan menyebutnya juga sebagai Harimau Sunda atau Panthera tigris sondaica.

Ada fakta unik terkait harimau dan habitatnya, jika sudah mendapatkan lokasi nyaman untuk menetap hewan ini biasanya mencakar pohon atau tanah di sekitarnya untuk menandai daerah kekuasaan.

Cakaran ini mereka buat setelah melakukan urinasi. Pada saat urinasi, harimau tersebut menyemprotkan urine untuk menimbulkan bebauan serta meninggalkan bekas kotorannya.

Morfologi dan Ciri-Ciri Harimau Sumatra

Harimau adalah jenis terbesar dari 36 spesies kucing yang ada di dunia, namun harimau sumatra merupakan kucing besar terkecil dari keseluruhan sub-spesises yang tersedia.

Bagaimana tidak, panjang rerata harimau ini hanya 2,4 m untuk pejantan dan 2,2 m untuk betina. Jika diukur dari kaki ke tengah, maka tinggi rerata hewan tersebut berkisar 75-95 cm saja.

Menurut berbagai sumber, fauna yang tergolong sebagai top predator atau predator puncak ini dapat tumbuh hingga seberat 120 kg untuk pejantan dan 90 kg untuk sang betina.

Panthera tigris sumatrae memiliki belang yang paling banyak di antara sub-spesies lainnya. Satwa ini mempunyai warna tubuh lebih gelap, serta garis yang lebih jelas daripada sub-spesies berbeda.

Meski begitu, warna dasar dari spesies harimau sumatra sebenarnya adalah jingga (oranye) dengan garis-garis belang berwarna hitam dan cokelat tua, yang lebih serta lebar lebih jarang.

Tidak main-main lho, menurut para ahli belang yang terdapat pada tubuh hewan tersebut berfungsi sebagai kamuflase. Air liurnya juga berguna sebagai antiseptik untuk mengobati luka.

Penglihatan, pendengaran serta penciuman harimau pun terbilang sangat baik. Selain bermanfaat saat berburu, keistimewaan ini biasanya ia gunakan untuk menghindari musuh saat malam hari.

Ukuran tubuhnya yang kecil memudahkan mereka menjelajahi rimba. Spesies hewan yang satu ini tergolong cukup gesit, bahkan dapat berlari dengan kecepatan prima yakni sekitar 35 mil per jam.

harimau sumatra

Panthera tigris sumatrae memiliki belang yang paling banyak di antara sub-spesies lainnya. Foto: Shutterstock.

Penyebab Kelangkaan Harimau Sumatra

Berdasarkan penelitian Departemen Kehutanan Republik Indonesia (2007), ada beberapa faktor yang menyebabkan populasi harimau sumatra semakin langka di habitatnya, yakni:

1. Deforesasi dan Degradasi

Deforestasi dan degradasi hutan di Pulau Sumatra merupakan salah satu ancaman besar terhadap kelestarian keanekaragaman hayati di pulau ini, terutama bagi mamalia besar seperti harimau.

Hasilnya, harimau yang punya ruang gerak terbatas lantas masuk ke pemukiman warga untuk mencari makan. Warga yang merasa terganggu memburu hewan tersebut karena dianggap membahayakan.

2. Perburuan dan Perdagangan

Bukan karena sekadar warga anggap mengganggu, hewan yang satu ini juga menjadi objek perburuan karena bagian tubuhnya yang berharga tinggi. Sebut saja seperti kulit dan tulang, yang bisa terjual seharga jutaan dolar di pasar internasional.

Malangnya, permintaan akan barang ilegal tersebut juga sangat banyak. Bahkan, masyarakat Tiongkok kuno kerap menggunakan bagian tubuh harimau sebagai bahan obat tradisional.

3. Konflik antara Harimau dan Manusia

Dalam beberapa tahun terakhir ini, konflik antara harimau dan manusia akibat alih fungsi perhutanan para pakar percayai menjadi salah satu ancaman utama bagi kelestarian harimau sumatra.

Melansir kajian TRAFFIC (2002), setidaknya ada 35 ekor harimau yang telah terbunuh selama kurun waktu 1998-2002. Tentu saja, angka ini terus melonjak hingga dewasa kini.

4. Faktor Kemiskinan Masyarakat

Secara mengejutkan faktor kemiskinan dan kurangnya lapangan kerja bagi warga sekitar menjadi salah satu pendorong menipisnya populasi harimau sumatra di habitatnya.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Sebagian masyarakat tradisional memanfaatkan daging fauna ini untuk kebutuhan pangan, sebagian lagi memburu hewan tersebut untuk dijual dan mendapatkan uang.

Cara Melestarikan Harimau Sumatra

Langkah pelestarian harimau sumatra sebenarnya sudah berbagai kalangan laksanakan, mulai dari organisasi pemerintah sampai dengan non-pemerintah baik lokal maupun internasional.

Bahkan, pemerintah Indonesia secara khusus telah mencantumkan harimau sebagai satwa dilindungi berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Namun, langkah tersebut nampaknya belum cukup untuk menekan laju penurunan populasi satwa ini. Sehingga, perlu adanya langkah kongkrit untuk mengoptimalkan kebijakan yang sudah ada, seperti:

  • Hentikan perambahan hutan secara masif dalam rangka alih fungsi lahan.
  • Edukasi terhadap masyarakat sekitar terhadap pentingnya pelestarian harimau.
  • Optimalkan pengawasan kawasan lindung untuk menjaga habitat satwa di dalamnya.
  • Berlakukan sanki tergas, tidak pandang bulu terhadap oknum perambah hutan serta perburuan liar sesuai undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Menjaga kelestarian harimau sumatra tidak hanya tugas segelintir orang namun seluruh masyarakat. Yuk, aplikasikan cara melestarikan hewan ini demi keseimbangan ekosistem alam di masa depan!

Taksonomi Harimau Sumatra

harimau sumatera

Referensi:

Rut Priskila Nainggolan, Universitas Sumatera Utara

Laporan WWF Indonesia

Laman WWF Indonesia

Laporan Departemen Kehutanan 2007

Oki Hadian Hadadi, dkk., Universitas Gajah Mada

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/harimau-sumatra/feed/ 0
Perburuan Satwa Liar Masih Terjadi di Tengah Pandemi https://www.greeners.co/berita/perburuan-satwa-liar-masih-terjadi-di-tengah-pandemi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perburuan-satwa-liar-masih-terjadi-di-tengah-pandemi https://www.greeners.co/berita/perburuan-satwa-liar-masih-terjadi-di-tengah-pandemi/#respond Wed, 15 Apr 2020 00:00:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=26822 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengonfirmasi kasus terbaru mengenai seekor harimau Sumatera yang ditemukan terjerat karena ulah pemburu.]]>

Jakarta (Greeners) – Di tengah wabah Covid-19 di seluruh dunia kegiatan perburuan satwa liar masih terus terjadi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengonfirmasi kasus terbaru mengenai seekor harimau Sumatera yang ditemukan terjerat karena ulah pemburu. Akibatnya,  semua otot di kaki harimau betina bernama Corina itu rusak.

Setelah mendapat laporan dari manajemen PT RAPP, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau beserta tim menuju Teluk Meranti, di Kabupaten Riau, pada Minggu, 29 Maret 2020 untuk menyelamatkan harimau yang berusia sekitar tiga sampai lima tahun itu.

Usai berkoordinasi dengan BKSDA Sumatera Barat, Corina dibawa ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD), Sumatera Barat. Sesampainya di lokasi, ia mendapatkan perawatan intensif karena luka jeratnya dinilai sangat serius.

Kepala Balai Besar KSDA Riau Suharyono mengatakan luka jerat tidak selalu bisa disembuhkan. Tak jarang, harimau juga menjadi cacat akibat diamputasi. Luka kaki yang parah, kata dia, sangat sulit disembuhkan.

Baca juga: Ancaman Rawan Pangan di Tengah Pandemi Covid-19

Menurut Suharyono, jerat yang dipasang pemburu berdampak sangat serius bagi kehidupan satwa liar. Termasuk harimau Sumatera yang yang dilindungi undang-undang dan sering menjadi korban. “Satwa tidak mengenal apakah jerat yang bertebaran dilantai hutan tersebut berbahaya sehingga patut dihindari atau dilewati,” ucapnya.

Kondisi terkini harimau Sumatera Corina berdasarkan laporan dari tim Medis PRHSD, Drh. Saruedi Simamora, secara umum cukup bagus. Ia mengatakan, Corina juga cukup aktif di dalam kandang rawat dan sering terpantau berendam di dalam bak air yang disiapkan. “Corina masih memiliki naluri alami yang ditunjukkan dengan seringnya menjilati lukanya untuk dibersihkan,” kata dia.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indra Exploitasia menjelaskan, kondisi luka Corina memang sangat parah. Menurutnya jerat pemburu diperkirakan terjadi dua sampai tiga hari sebelumnya hingga menempel ke bagian tulang kaki. Meski semua otot sudah rusak, kata dia, tendonnya cukup baik sehingga peluang sembuh masih ada selama proses penyembuhan tepat dan tidak terjadi infeksi sekunder.

“Kita berharap luka Corina bisa sembuh dan setelah melewati masa rehabilitasi serta habituasi bisa dilepasliarkan kembali ke habitat alamnya,” ujarnya pada rilis resmi, Senin, (13/04/2020).

Harimau Corina

Harimau Corina. Foto: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Terganggunya Ekosistem Meningkatkan Penyakit Zoonosis

Indikasi adanya perburuan satwa liar di tengah pandemi covid-19 ini juga disampaikan oleh Ahli Ekologi Satwa Liar Wildlife Ecologist World Wildlife Fund (WWF)  Indonesia, Sunarto, menuturkan, bahwa indikasi kegiatan perburuan dan perdagangan masih terus berlangsung di tengah wabah ini. Selain perdagangan secara fisik dan bertatap muka, kata dia, yang mulai marak adalah jalur perdagangan daring (online).

Ia mengatakan, perburuan dan perdagangan satwa liar yang tidak terkontrol berdampak sangat luas. Kedua kegiatan tersebut merupakan faktor penyebab utama terjadinya penurunan populasi berbagai jenis satwa. Turunnya populasi satwa tertentu, kata Sunarto, akan menimbulkan gangguan pada ekosistem di habitat.

“Peran yang dilakukan satwa tersebut dapat lowong. Misalnya satwa predator, mangsanya tidak akan ada yang mengendalikan lagi. Ini dapat berdampak pada keseimbangan komunitas dan ekosistem,” ujarnya.

Baca juga: BPOM Terbitkan Buku Informasi Obat untuk Penanggulangan Covid-19

Menurutnya, penangkapan satwa juga meningkatkan risiko munculnya penyakit zoonosis. Satwa liar yang stres dan terganggu sangat berpotensi menularkan virus sehingga dapat membahayakan manusia maupun satwa lain. Sunarto mengatakan, jika tidak ditangani segera, kerusakan ekosistem habitat satwa maupun tumbuhan bisa berdampak sangat luas dan mengancam keberlangsungan hidup manusia.

“Peristiwa ini dapat kita jadikan momentum untuk menata kembali hubungan dengan alam. Khususnya dalam mengelola dan melindungi satwa liar agar mereka dapat menjalankan fungsinya,” ujar Sunarto.

Sebelum kasus harimau Corina, terdapat lima kasus serupa dalam dua tahun terakhir. Kasus pertama, pada 21 Januari 2020 yang mengakibatkan harimau Sumatera Enim di Muara Enim Sumatera Selatan direhabilitasi di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung. Kedua, kasus harimau Sumatera Batua di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Lampung, pada 2 Juli 2019, yang saat ini direhabilitasi di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung.

Ketiga, harimau Sumatera Sopi Rantang di Kabupaten Agam Sumatera Barat (18 April 2018). Keempat, harimau Sumatera Bujang Ribut di Lubuk Kilangan Padang Sumatera Barat (28 Agustus 2018). Kelima, harimau Sumatera Dara di Subulussalam Aceh (6 Maret 2020) yang diperangkap akibat konflik, tetapi langsung dilepasliarkan kembali ke dalam Kawasan Taman Nasioanal Gunung Leuser.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/perburuan-satwa-liar-masih-terjadi-di-tengah-pandemi/feed/ 0
Hari Harimau Sedunia; Melawan Ancaman Jerat https://www.greeners.co/berita/hari-harimau-sedunia-melawan-ancaman-jerat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hari-harimau-sedunia-melawan-ancaman-jerat https://www.greeners.co/berita/hari-harimau-sedunia-melawan-ancaman-jerat/#respond Thu, 01 Aug 2019 01:05:45 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=23894 Jakarta (Greeners) – Hari Harimau Sedunia atau Global Tiger Day (GTD) menjadi peringatan tahunan pada setiap akhir bulan Juli. GTD menjadi sebuah momentum untuk merefleksikan dan memperkuat upaya konservasi harimau […]]]>

Jakarta (Greeners) – Hari Harimau Sedunia atau Global Tiger Day (GTD) menjadi peringatan tahunan pada setiap akhir bulan Juli. GTD menjadi sebuah momentum untuk merefleksikan dan memperkuat upaya konservasi harimau di Indonesia khususnya harimau sumatera.

Sayangnya, upaya konservasi Harimau Sumatera ini masih banyak memiliki kendala dan ancaman, salah satunya jerat yang digunakan para pemburu liar untuk menangkap Harimau Sumatera.

Berdasarkan Population Viability Analysis (PVA) 2016, populasi harimau sumatera di habitatnya berjumlah lebih dari 600 ekor, tersebar di 23 kantong habitat.

BACA JUGA : Harimau Sumatera, Kucing Besar Penguasa Hutan Sumatera

Namun keberadaannya semakin terancam oleh berbagai tekanan terhadap populasinya, seperti konflik satwa dengan manusia, perburuan, fragmentasi habitat, penyakit, semakin berkurangnya pakan alami, serta banyaknya jerat yang pada umumnya dipasang pada batas-batas wilayah kebun masyarakat maupun di dalam kawasan hutan.

Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wiratno, menyampaikan bahwa dukungan para mitra dalam bekerjasama dengan UPT sangat penting untuk menanggulangi permasalahan jerat.

harimau sumatra

Harimau sumatra. Foto: wikimedia common

Salah satu upaya dalam mencegah kasus jerat adalah dengan membentuk tim Smart Patroli atau SMART-RBM (Spatial Monitoring and Reporting Tools – Resort Based Management) yakni tim berjumlah 7 orang berunsur masyarakat, mitra, dan staff BKSDAE selama 15 hari/bulan di dalam hutan (selama 12 bulan) untuk memasang camera trap, membersihkan jerat dan kejahatan kehutanan lainnya.

“Sistem smart patroli ini merupakan satu sistem yang sangat efektif untuk mengurangi kasus ancaman Jerat ini, serta patroli untuk illegal logger dan para pemburu” ujar Wiratno saat konferensi pers dalam rangka Hari Harimau Sedunia di Ruang Rimbawan I, Manggala Wanabhakti, Jakarta, Rabu (31/07/2019).

BACA JUGA : KLHK Gelar SWTS, Populasi Harimau Sumatera Diharapkan Meningkat

Berdasarkan data yang dikumpulkan melalui SMART-RBM dan patroli rutin oleh tim patroli Direktorat Jenderal KSDAE, tercatat 3.285 jerat telah diamankan oleh UPT maupun mitra pada saat berpatroli dari tahun 2012 hingga 2019.

“Kasus perburuan Harimau Sumatera ini masih tinggi karena permintaan pasar tinggi, serta faktor ekonomi dari masyarakat yang mencari uang dari pemburuan harimau ini. Karena, perburuan harimau dengan cara Jerat ini merupakan cara yang mudah dan murah untuk para pemburu,” lanjut Wiratno.

Pada tahun 2017 sampai dengan Juli 2019, aparat penegak hukum telah berhasil melakukan 536 operasi pengamanan/penangkapan terhadap pelaku peredaran illegal satwa liar. Dari kasus tersebut, 797 pelaku berhasil diamankan dan 380 pelaku diantaranya telah dijatuhi vonis oleh hakim berupa hukuman penjara dan denda.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/hari-harimau-sedunia-melawan-ancaman-jerat/feed/ 0
KLHK Gelar SWTS, Populasi Harimau Sumatera Diharapkan Meningkat https://www.greeners.co/berita/klhk-gelar-swts-populasi-harimau-sumatera-diharapkan-meningkat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klhk-gelar-swts-populasi-harimau-sumatera-diharapkan-meningkat https://www.greeners.co/berita/klhk-gelar-swts-populasi-harimau-sumatera-diharapkan-meningkat/#respond Fri, 15 Mar 2019 11:09:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=22800 KLHK bersama dengan mitra kerjanya kembali melaksanakan kegiatan Sumatra Wide Tiger Survey (SWTS). Kegiatan ini bertujuan agar target peningkatan jumlah harimau sumatera sebanyak dua kali lipat pada 2022 dapat tercapai.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama dengan mitra kerjanya melakukan pemantauan efektivitas konservasi harimau sumatera melalui kegiatan Sumatra Wide Tiger Survey (SWTS). Kegiatan yang dilakukan secara berkala dan sistematik ini bertujuan agar target peningkatan jumlah harimau sumatera sebanyak dua kali lipat pada 2022 dapat tercapai.

Koordinator SWTS Hariyono Wibisono mengatakan SWTS tahun 2018-2019 ini merupakan survei kedua, sebelumnya SWTS pertama sudah dilakukan tahun 2007-2009 dan menghasilkan data bahwa 72% wilayah di Indonesia masih dihuni harimau sumatera. Hariyono mengatakan bahwa data yang didapat sepuluh tahun lalu ini perlu ditinjau kembali untuk mengetahui efektivitas intervensi konservasi selama rentang waktu tersebut melalui kegiatan SWTS kedua.

“SWTS kedua ini merupakan kegiatan survei satwa liar terbesar di dunia dengan cakupan 712 petak survei seluas 12,9 juta ha. Sebelumnya SWTS pertama hanya 394 petak survei seluas 11 juta ha. Teknisnya, proporsi petak wilayah ini akan diuji terhadap faktor kunci misalnya gangguan manusia, hilangnya habitat, peralihan fungsi lahan, atau perambahan. Dengan cara ini pemerintah dan mitranya bisa mengalokasikan sumber dayanya (SDM dan atau dana) secara lebih efisien dan tepat sasaran,” ujar Hariyono kepada Greeners melalui telepon, Kamis, (14/03/2019).

harimau sumatra

Lokasi implementasi Sumatra Wide Tiger Survey (SWTS) periode 2018-2019.
Sumber: Harimau Kita

Selain itu, SWTS II ini membantu pemerintah dalam mengidentifikasi kesenjangan konservasi, merumuskan strategi konservasi yang efektif dan tindakan prioritas, dan mengarahkan dana pada kebutuhan prioritas untuk mempertahankan dan memulihkan populasi harimau sumatra secara keseluruhan. Hasil SWTS secara berkala akan menjadi tolak ukur implementasi dan pemenuhan target National Tiger Recovery Program (NTRP).

BACA JUGA: Tertangkap Kamera, Dua Generasi Keluarga Harimau Sumatera Berhasil Berkembang Biak

Menurut Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Tandya Tjahjana, habitat dan kantong populasi harimau banyak berkurang pada periode 1985 -2008 akibat adanya perubahan tutupan hutan dan perubahan fungsi. Selain itu, perburuan dan perdagangan ilegal serta terjadinya konflik manusia dengan harimau juga merupakan ancaman bagi kelestarian satwa dilindungi tersebut.

“Hasil kajian populasi dan habitat terbaru menunjukkan terdapat sekitar 604 ekor harimau yang hidup di alam liar. Harimau-harimau tersebut hidup di habitat yang tersisa di seluruh Sumatera. Inilah yang menjadi tantangan bagi kita semua dalam mempertahankan satu-satunya spesies harimau yang tersisa di Indonesia,” kata Tandya.

Kegiatan SWTS II ini melibatkan sektor privat, khususnya di bidang kehutanan, dalam upaya mendukung konservasi harimau sumatera di luar kawasan konservasi yang terintegrasi pada skala lanskap. Upaya ini dapat memberi peluang harimau sumatera untuk bertahan hidup lebih lama dan terhindar dari kepunahan. Kerjasama ini diwakili oleh Asosiasi Pengusahan Hutan Indonesia (APHI).

BACA JUGA: Analisis DNA Jadi Upaya Baru Penegakan Hukum dan Perlindungan Satwa Liar 

Terkait hal ini, Direktur Eksekutif APHI Purwadi Soeprihanto mengatakan 68,82 juta hektare atau 57% hutan di Indonesia merupakan kawasan Hutan Produksi. Untuk mendukung program SWTS ini, APHI memiliki program Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) yakni melakukan kegiatan konservasi di luar kawasan konservasi fauna dan satwa karena hampir 50% keberadaan harimau sumatera ada di wilayah konsesi.

“Jelajah areal harimau di kawasan konservasi 30%, berarti di luar konservasi ada 70% di mana pasti di hutan produksi. Artinya banyaknya satwa itu berada di hutan produksi. Hal ini yang harus kita jaga bahwa konservasi itu juga bisa dilakukan di hutan produksi melalui KEE ini,” ujar Purwadi.

Sebagai informasi, mitra kerja yang mendukung SWTS II ini tercatat ada 15 unit pelaksana teknis (UPT) KLHK, lebih dari 10 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), 21 LSM nasional dan internasional, 2 universitas, 2 perusahaan, dan 13 lembaga donor.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/klhk-gelar-swts-populasi-harimau-sumatera-diharapkan-meningkat/feed/ 0
Tertangkap Kamera, Dua Generasi Keluarga Harimau Sumatera Berhasil Berkembang Biak https://www.greeners.co/berita/tertangkap-kamera-dua-generasi-keluarga-harimau-sumatera/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tertangkap-kamera-dua-generasi-keluarga-harimau-sumatera https://www.greeners.co/berita/tertangkap-kamera-dua-generasi-keluarga-harimau-sumatera/#respond Mon, 30 Jul 2018 10:22:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=21008 WWF Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan merilis seri video langka yang menunjukkan harimau sumatera sukses berkembang biak di alam liar.]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam perayaan Global Tiger Day atau Hari Harimau Sedunia pada 29 Juli 2018, WWF Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia merilis seri video langka yang menunjukkan harimau sumatera sukses berkembang biak di alam liar.

Sebagai predator utama pada rantai makanan, harimau di alam berperan penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem yang mendukung kelangsungan hidup spesies lainnya dan juga untuk manusia. Namun saat ini harimau berstatus kritis. Diperkirakan hanya tersisa 3.900 individu harimau liar di dunia.

“Dari jumlah 3.900 individu tersebut, 400 hingga 600 individu berada di Indonesia tepatnya di seluruh Pulau Sumatera. Hanya bisa ditemukan sekitar 5 persen dari jangkauan mereka jika dibandingkan dengan seabad lalu,” ujar Diah R. Sulistiowati, koordinator kampanye Hutan, Spesies dan Air Bersih WWF Indonesia, saat dihubungi oleh Greeners, Minggu (29/07/2018).

BACA JUGA: Flash, Bayi Harimau Benggala Putih Lahir di Maharani Zoo Lamongan

Diah mengatakan, perdagangan ilegal tetap menjadi salah satu ancaman terbesar dan paling cepat terhadap harimau di alam liar. Menurut Diah, dibutuhkan inisiati-inisiatif yang bertujuan mengubah perilaku untuk mengurangi permintaan terhadap bagian-bagian tubuh harimau dan produk-produknya.

“Permintaan yang tinggi, proteksi yang lemah, dan rendahnya hukuman membuat tidak ada efek jera, apalagi regulasi UU Nomor 5 Tahun 1990 masih lemah untuk ditegakkan,” ujar Diah.

harimau sumatera

Tahun 2015 lalu, Rima pernah tertangkap kamera berjalan bersama tiga anak harimau. Sumber: WWF Indonesia

Dari rekaman video resmi yang diterima oleh Greeners, terlihat seekor harimau sumatera betina bernama Rima beserta tiga ekor anaknya berjalan di dalam hutan. Video menunjukkan tahun 2015. Pada rekaman selanjutnya terlihat Rima berjalan diikuti empat ekor anak harimau dengan tahun video menunjukkan 2017.

Diah menyatakan, video tersebut menjadi bukti yang mengagumkan sekaligus membuktikan bahwa harimau dapat berkembang biak dengan baik jika mereka memiliki habitat yang terlindungi, memiliki cukup mangsa dan tidak diburu.

BACA JUGA: KLHK Gagalkan Perdagangan 2.000 Ekor Burung Dilindungi di Jambi

Direktur Sumatera dan Wildlife WWF-Indonesia Suhandri mengatakan, adanya video ini membuktikan harimau sumatera yang sehat ini dapat berkembang biak dengan baik di Sumatera Tengah. Hal ini juga menunjukkan komitmen yang kuat dari pemerintah Indonesia serta dukungan dari mitra komunitas dan pemerintah lokal maupun komunitas internasional untuk menyelamatkan harimau dan habitatnya.

“Pemulihan populasi harimau adalah kunci untuk manusia agar dapat hidup dengan ketersediaan sumber daya alam,” ujar Suhandri.

Menurut Suhandri, WWF-Indonesia dan Pemerintah Indonesia telah bekerjasama dengan banyak pihak termasuk masyarakat lokal untuk memastikan masyarakat lokal adalah penerima manfaat bersamaan dengan konservasi harimau. WWF-Indonesia juga bekerjasama dengan berbagai pendukung dari seluruh dunia yang dapat memainkan peran kunci dalam meningkatkan populasi harimau dan juga mendorong agar publik dapat memilih dan membeli produk-produk yang berasal dari praktik produksi yang bertanggungjawab dan tidak terlibat dalam pengrusakan habitat harimau.

“Ini kabar baik bahwa ada perkembangan baik karena kita juga punya target meningkatkan populasi harimau di antara 25 satwa terancam punah hingga 10 persen sesuai dengan Indikator Kinerja Pemerintah seperti dimandatkan oleh Dirjen KSDAE,” kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Suharyono.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/tertangkap-kamera-dua-generasi-keluarga-harimau-sumatera/feed/ 0
Hari Harimau Sedunia, Forum HarimauKita Ajak Masyarakat Peduli Harimau Sumatera https://www.greeners.co/aksi/hari-harimau-sedunia-forum-harimaukita-ajak-masyarakat-peduli-harimau-sumatera/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hari-harimau-sedunia-forum-harimaukita-ajak-masyarakat-peduli-harimau-sumatera https://www.greeners.co/aksi/hari-harimau-sedunia-forum-harimaukita-ajak-masyarakat-peduli-harimau-sumatera/#respond Thu, 03 Aug 2017 12:56:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=17985 Diadakannya acara peringatan Global Tiger Day diharapkan dapat menjadi pembuka wawasan dan pemicu kepedulian masyarakat terhadap harimau Sumatera.]]>

Hari Harimau Sedunia atau Global Tiger Day merupakan hari perayaan tahunan yang diadakan setiap tanggal 29 Juli. Diperingati pertama kali sejak tahun 2010, Hari Harimau Sedunia rutin dirayakan di berbagai negara dengan tema yang berbeda setiap tahunnya, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, Global Tiger Day diperingati secara serentak di 10 kota, dan Jakarta adalah salah satunya. Di Jakarta, peringatan hari tersebut diselenggarakan oleh Forum HarimauKita, pada hari Minggu (30/7) di area car free day Bundaran Hotel Indonesia (HI).

Acara peringatan Global Tiger Day ini bertujuan untuk memberi tahu masyarakat bahwa populasi satu-satunya harimau endemik di Indonesia, harimau Sumatera, sudah sangat terancam. Selain itu, kepedulian masyarakat terhadap harimau Sumatera juga diharapkan dapat meningkat setelah mengikuti acara peringatan Global Tiger Day ini.

“Tahun ini, Global Tiger Day mengusung tema ‘Time for Tigers’. Tujuan kami (Forum HarimauKita) mengadakan perayaan Global Tiger Day di area car free day Jakarta adalah untuk memberi tahu masyarakat bahwa populasi harimau Sumatera sudah terancam punah. Harimau Sumatera merupakan harimau endemik satu-satunya di Indonesia yang masih tersisa. Sayangnya, banyak masyarakat Indonesia yang masih tidak peduli dan masih menganggap harimau adalah ‘hama’, hewan perusak,” ujar Ahmad Rizal alias Rizal, ketua pelaksana peringatan Global Tiger Day di Jakarta (30/7).

hari harimau sedunia

Foto: greeners.co/Anggi Rizky Firdhani

“Harimau Sumatera sendiri saat ini populasinya hanya tersedia sebanyak kurang lebih 400 ekor. Lama kelamaan, jumlah ini bisa terus berkurang. Sudah waktunya bagi harimau, khususnya harimau Sumatera, untuk mendapat perhatian dan perlindungan lebih dari berbagai pihak. Melalui kegiatan ini, kami berupaya untuk menjaga 400 ekor harimau Sumatera yang tersisa untuk tetap bisa bertahan hidup,” tambahnya.

Acara peringatan Global Tiger Day di Jakarta diawali dengan melakukan kegiatan long march, lalu dilanjutkan dengan aksi teatrikal, storytelling, pameran foto, hingga lukis wajah. Aksi teatrikal merupakan ‘magnet’ dari acara peringatan Global Tiger Day ini. Aksi teatrikal ini menggambarkan kisah seekor harimau Sumatera yang terus diburu manusia demi memenuhi kepuasan mereka sendiri.

Diadakannya acara peringatan Global Tiger Day di kawasan car free day Jakarta sendiri diharapkan dapat menjadi pembuka wawasan dan pemicu kepedulian masyarakat terhadap harimau Sumatera. Harimau Sumatera merupakan satwa yang patut dijaga kelestariannya, karena harimau Sumatera adalah ‘warisan’ asli dari Indonesia. Rizal sendiri berharap bahwa Global Tiger Day terus diperingati di Indonesia di masa mendatang,

“Kedepannya, kami akan terus berusaha supaya Global Tiger Day terus diperingati di Indonesia. Melalui kegiatan seperti ini, kami sudah bisa berupaya untuk melakukan usaha perlindungan terhadap harimau Sumatera, meskipun usahanya belum bisa dibilang besar. Semoga kegiatan seperti ini akan terus berlangsung dan dapat semakin mengundang antusiasme masyarakat terhadap harimau Sumatera,” pungkas Rizal.

Sebagai informasi, Global Tiger Day juga diperingati di Banda Aceh, Medan, Padang, Bengkulu, Pekanbaru, Palembang, Jambi, Sungai Penuh, Bukit Tigapuluh, Kampar, Bandar Lampung, dan Purwokerto.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/aksi/hari-harimau-sedunia-forum-harimaukita-ajak-masyarakat-peduli-harimau-sumatera/feed/ 0
BBKSDA Jatim Evakuasi Harimau Sumatera dari Pondok Pesantren di Pasuruan https://www.greeners.co/berita/bbksda-jatim-evakuasi-harimau-sumatera-pondok-pesantren-pasuruan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bbksda-jatim-evakuasi-harimau-sumatera-pondok-pesantren-pasuruan https://www.greeners.co/berita/bbksda-jatim-evakuasi-harimau-sumatera-pondok-pesantren-pasuruan/#respond Thu, 30 Mar 2017 09:06:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=16496 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) dan Pemerintah Kabupaten Pasuruan mengevakuasi seekor Harimau Sumatera dari Pondok Pesantren Metal Muslim di Pasuruan, Jawa Timur.]]>

Pasuruan (Greeners) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) dan Pemerintah Kabupaten Pasuruan mengevakuasi seekor Harimau Sumatera dari Pondok Pesantren Metal Muslim di Desa Rejoso, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Langkah cepat dilakukan setelah adanya laporan masyarakat bahwa kondisi satwa dilindungi tersebut sangat memprihatinkan.

“Kondisinya sakit dan tak terawat, badannya kurus seperti kurang makan,” kata Kepala BBKSDA Jatim Ayu Dewi Utari kepada Greeners.co, Rabu (29/03/2017).

Harimau Sumatera berjenis kelamin jantan berusia 16 tahun itu ditempatkan di kandang yang berlokasi di tengah pesantren. Harimau ini sudah berada di pesantren sejak 2002 lalu.

Evakuasi dilakukan sejumlah petugas dari BBKSDA, Taman Safari Prigen dibantu pihak kecamatan. Meski kondisi sakit, proses evakuasi tetap sesuai prosedur keamanan. Kucing besar tersebut dibius kemudian dimasukkan ke dalam kandang yang sudah disediakan.

“Kami evakuasi dan langsung kami bawah ke Taman Safari Prigen. Harimau ini pemberian Taman Safari 2002 lalu. Kita kembalikan ke sana biar diobati dan dipulihkan dulu. Saat ini sudah di kandang karantina,” terang Ayu.

BACA JUGA: Pemelihara Satwa Liar Dilindungi Secara Ilegal Belum Ditindak Tegas

Di Taman Safari Prigen, terdapat rumah sakit satwa yang memiliki fasilitas memadai dan alat kesehatan sesuai standar dan memiliki sekitar lima dokter hewan. Rumah sakit ini memiliki ruang pembedahan bangkai, ruang rontgen, laboratorium kering, laboratorium basah, ruang operasi hingga kamar perawatan pasca operasi bahkan memiliki apotek yang berisi obat-obatan lengkap.

Proses pemulihan, lanjut Ayu, akan membutuhkan waktu lama karena kondisinya sudah memprihatinkan. Setelah pulih pihaknya akan mengambil keputusan terkait nasib satwa tersebut.

“Dari kondisinya, mungkin pemulihan membutuhkan sebulan. Setelah itu nanti kami akan putuskan akan dibawa kemana. Kemungkinan tak dikembalikan lagi ke pesantren karena pihak pesantren sepertinya tak sanggup lagi merawat dan memberi makan,” terang mantan Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini.

Ayu menyebut, evakuasi satwa mulus dilakukan atas kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Bupati Pasuruan HM Irsyad Yusuf mendukung penuh upaya penyelamatan dan membantu mediasi dengan pihak pesantren.

“Bupati Pasuruan mendukung penuh. Beliau sangat konsen dengan perlindungan satwa. Mendapat informasi dari warganya keadaan harimau yang tidak terawat langsung berkoordinasi dengan kami,” jelasnya.

BACA JUGA: Empat Ekor Macan Tutul Ditemukan di Suaka Margasatwa Cikepuh

Harimau Sumatera tersebut selama bertahun-tahun berada di kandang yang berada di tengah pesantren dan bisa dilihat bebas para santri dan pengunjung pesantren. Selama bertahun-tahun harimau tersebut mendapat perawatan dengan baik dan makanan yang cukup.

Dua tahun terakhir, semenjak pengasuh pesantren meninggal dunia, harimau ini mulai terabaikan dan tak terawat. Sejumlah warga yang datang ke pesantren yang dihuni para anak yatim, anak jalanan bahkan orang gila ini, mengaku prihatin dengan kondisi harimau.

Kabar kondisi harimau yang memprihatinkan akhirnya sampai ke Bupati Irsyad Yusuf. “Pak Bupati koordinasi dengan kami karena prihatin. Beliau ingin harimau mendapat pengobatan dan perawatan,” pungkas Ayu.

Penulis: MA/G12

]]>
https://www.greeners.co/berita/bbksda-jatim-evakuasi-harimau-sumatera-pondok-pesantren-pasuruan/feed/ 0
Habitat Harimau Sumatera Dalam Kondisi Terancam https://www.greeners.co/berita/habitat-harimau-sumatera-kondisi-terancam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=habitat-harimau-sumatera-kondisi-terancam https://www.greeners.co/berita/habitat-harimau-sumatera-kondisi-terancam/#respond Tue, 02 Aug 2016 08:00:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=14386 Ancaman terhadap semakin menurunnya populasi harimau sumatera masih terus berlanjut. Populasi mamalia dengan nama latin Phantera tigris sumatrae ini diprediksikan tidak sampai 3.871 individu di seluruh dunia.]]>

Jakarta (Greeners) – Ancaman terhadap semakin menurunnya populasi harimau sumatera masih terus berlanjut. Populasi mamalia dengan nama latin Phantera tigris sumatrae ini diprediksikan tidak sampai 3.871 individu di seluruh dunia. Di pulau Sumatera sendiri, besaran populasi harimau sumatera diperkirakan tersisa 371 individu yang tersebar dari Aceh sampai Lampung.

Soenarto dari Wildlife Biologist and Landscape Ecologist WWF-Indonesia mengatakan, saat ini ada 8 kawasan konservasi dan taman nasional yang menjadi habitat harimau sumatera. Beberapa di antaranya, menurut Sunarto, ada dalam kondisi terancam. Contohnya seperti di Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh; Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi; Taman Nasional Batang Gadis, Sumatera Utara; Taman Nasional Bukit Tiga Puluh di Riau dan Jambi; Taman Nasional Berbak, Jambi dan beberapa lokasi lainnnya.

“Secara khusus, WWF-Indonesia akan mendorong pembentukan unit Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) di kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling (SMBRBB) di Provinsi Riau. SMBRBB diketahui sebagai salah satu kantong populasi penting harimau sumatera dan beberapa satwa langka lainnya. Kawasan ini juga memiliki nilai penting bagi masyarakat salah satunya sebagai menara air di Bumi Lancang Kuning,” katanya, Jakarta, Selasa (02/08).

BACA JUGA: Perlu Kerjasama Banyak Pihak Hadapi Kejahatan Terhadap TSL

Ancaman semakin berkurangnya populasi harimau sumatera juga disebabkan karena harimau sumatera merupakan salah satu satwa yang permintaannya tinggi dalam perburuan dan perdagangan satwa ilegal. WWF-Indonesia mencatat dalam kurun waktu tahun 2010 sampai 2014, terjadi kematian 19 individu harimau karena kematian alamiah, konflik dengan manusia maupun perburuan.

“Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan populasi harimau ini menjadi fokus dalam peringatan Hari Harimau Sedunia yang jatuh setiap tanggal 29 Juli setiap tahunnya. Bila tidak segera dilakukan usaha yang lebih serius dalam menyelamatkan harimau, diperkirakan dunia akan kehilangan seluruh populasi harimau di dunia dalam lima tahun ke depan,” tambahnya.

Dihubungi terpisah, Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rasio Ridho Sani mengatakan bahwa kurangnya keberadaan Polisi Hutan (Polhut) juga masih menjadi kendala dalam memberantas kejahatan terhadap tumbuhan dan satwa liar dilindungi (wildlife crime). Dari 120 juta hektar luasan hutan yang menjadi habitat harimau, terangnya, hanya ada sekitar 7.500 sampai 8.000 Polhut yang menjaga. Jumlah itu pun termasuk unit SPORC (Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat).

“Itu jumlah yang sangat sedikit. Minimal 3 kali lipatnya lah. Sudah kami ajukan penambahan personel pengawasan ini ke KemenPAN/RB,” jelasnya melanjutkan.

BACA JUGA: Harimau Bercumbu Tertangkap Kamera, Pemerintah Diminta Peduli Populasi Harimau

Lebih jauh, upaya untuk merevisi UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya juga masih terus dilakukan. Pasalnya, selama ini para pedagang dan pemburu ilegal yang ditangkap pihak berwajib dan menjalani proses persidangan hanya dihukum 1-2 tahun. Soenarto berharap hukuman tersebut ditingkatkan menjadi minimal 5 tahun penjara dengan denda paling rendah Rp 100 juta.

Soenarto mengingatkan bahwa publik dapat membantu pemerintah mengatasi wildlife crime dengan melapor melalui aplikasi “Gakkum” milik Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan hidup dan Kehutanan. Aplikasi ini dapat diunduh oleh pengguna iOS maupun Android. Aplikasi ini membantu pengguna iOS maupun Android untuk mengidentifikasi, melaporkan, dan mengendalikan baik hewan ataupun bagian dari hewan liar yang dikoleksi atau diperjualbelikan secara ilegal.

“Selain aplikasi Gakkum, masyarakat juga bisa menggunakan aplikasi buatan Freeland Foundation bernama WildScan. Aplikasi ini dibuat secara khusus untuk mendeteksi kejadian penjualan hewan liar secara ilegal,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/habitat-harimau-sumatera-kondisi-terancam/feed/ 0
Kondisi Harimau “Giring” Mulai Membaik di Taman Safari Indonesia https://www.greeners.co/berita/kondisi-harimau-giring-mulai-membaik-taman-safari-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kondisi-harimau-giring-mulai-membaik-taman-safari-indonesia https://www.greeners.co/berita/kondisi-harimau-giring-mulai-membaik-taman-safari-indonesia/#respond Sat, 11 Jun 2016 09:00:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13943 Direktur Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Tahrir Fathoni mengatakan, kondisi Giring sudah lebih baik dari sebelumnya setelah mendapat perawatan dari dokter-dokter ahli di Taman Safari.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memastikan kondisi terkini Giring, seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang ditemukan terluka akibat terkena jerat warga yang dititipkan di Pusat Pelatihan Gajah (PPG) Seblat Bengkulu Utara, sudah lebih baik dan berada di Taman Safari Indonesia.

Direktur Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Tahrir Fathoni mengatakan, kondisi Giring sudah lebih baik dari sebelumnya setelah mendapat perawatan dari dokter-dokter ahli di Taman Safari. Kakinya yang diduga terkena infeksi juga telah pulih.

“Giring sudah pulih. Hari ini kan Ibu Menteri LHK mengunjungi Taman Safari. Selain memberi beberapa nama (pada satwa), ia juga akan melihat langsung kondisi Giring,” katanya, Jakarta, Sabtu (11/06).

Setelah ini, lanjut Tahrir, beberapa pihak akan memantau dan mendiskusikan apakah Giring akan kembali dilepasliarkan ke alam habitatnya atau tidak. Namun, sebelumnya akan ada pengujian fisik dan mental. Fathoni menjelaskan bahwa hal tersebut harus menunggu hasil uji dari tim dokter dan tim ahli.

“Nanti akan diuji apakah bisa untuk dilepasliarkan. Namun jika tidak bisa, Giring akan tetap di Taman Safari dan menjadi indukan bersama harimau yang lain,” katanya.

Sebagai informasi, Giring merupakan seekor harimau sumatera jantan yang diselamatkan oleh BKSDA Bengkulu saat terkena jaring yang dipasang warga di Kabupaten Seluma, Bengkulu pada Februari 2015. Warga menjaring harimau ini setelah sebelumnya terlibat konflik dengan warga desa setempat yang menyebabkan korban jiwa. Salah satu warga meninggal dalam konflik tersebut.

Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk segera memindahkan Giring karena kondisi harimau ini sudah mulai tidak sehat dan dikhawatirkan mati.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/kondisi-harimau-giring-mulai-membaik-taman-safari-indonesia/feed/ 0
Sudah Diputuskan, “Giring” Akan Dipindah ke Taman Safari Bogor https://www.greeners.co/berita/sudah-diputuskan-giring-dipindah-taman-safari-bogor/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sudah-diputuskan-giring-dipindah-taman-safari-bogor https://www.greeners.co/berita/sudah-diputuskan-giring-dipindah-taman-safari-bogor/#respond Wed, 01 Jun 2016 09:20:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13835 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah memutuskan lokasi pemindahan Giring, seekor harimau sumatera yang ditemukan terluka akibat terkena jerat warga yang dititipkan di Pusat Pelatihan Gajah (PPG) Seblat Bengkulu Utara.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah memutuskan lokasi pemindahan Giring, seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang ditemukan terluka akibat terkena jerat warga yang dititipkan di Pusat Pelatihan Gajah (PPG) Seblat Bengkulu Utara.

Direktur Konservasi dan Keaneragaman Hayati KLHK, Bambang Dahono Adji mengatakan bahwa hasil rapat antara Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu bersama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) telah diputuskan bahwa Giring akan dipindah ke Taman Safari Bogor.

“Secepatnya akan kita pindah. Terakhir sudah dikirimkan dokter dari Lembaga Konservasi Taman Safari Bogor,” katanya kepada Greeners, Jakarta, Rabu (01/06).

BACA JUGA: KLHK Sedang Mencari Lokasi Pemindahan “Giring” Si Harimau Sumatera

Sebagai informasi, Giring merupakan seekor harimau sumatera jantan yang diselamatkan oleh BKSDA Bengkulu saat terkena jaring yang dipasang masyarakat di Kabupaten Seluma, Bengkulu pada Februari 2015. Warga menjaring harimau ini setelah sebelumnya terlibat konflik dengan warga desa setempat yang menyebabkan korban jiwa. Salah satu warga meninggal dalam konflik tersebut.

Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk segera memindahkan Giring karena kondisi harimau ini sudah mulai tidak sehat dan dikhawatirkan mati.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/sudah-diputuskan-giring-dipindah-taman-safari-bogor/feed/ 0
KLHK Sedang Mencari Lokasi Pemindahan “Giring” Si Harimau Sumatera https://www.greeners.co/berita/klhk-sedang-mencari-lokasi-pemindahan-giring-si-harimau-sumatera/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klhk-sedang-mencari-lokasi-pemindahan-giring-si-harimau-sumatera https://www.greeners.co/berita/klhk-sedang-mencari-lokasi-pemindahan-giring-si-harimau-sumatera/#respond Tue, 31 May 2016 11:09:30 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13828 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan akan segera memindahkan Giring, seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang dititipkan di Pusat Pelatihan Gajah (PPG) Seblat Bengkulu Utara.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan akan segera memindahkan Giring, seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang dititipkan di Pusat Pelatihan Gajah (PPG) Seblat Bengkulu Utara.

Menurut Direktur Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Tahrir Fathoni, saat ini masih dicarikan lokasi pemindahan yang sesuai dan tidak terlalu jauh dari lokasi Giring saat ini.

“Karena kondisi sekarang ada luka di kakinya akibat jerat, maka ada saran alternatif kalau Giring dipindahkan dahulu ke Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Lampung. Saat ini sudah ada dokter juga kok yang merawat,” katanya kepada Greeners, Jakarta, Selasa (31/05).

Tahrir menyatakan, sebelumnya Direktur Konservasi pernah mengusulkan untuk memindahkan Giring ke Taman Safari. Hanya saja lokasi Taman Safari terlalu jauh dan kapasitas jumlah harimau di Taman Safari sudah terlalu banyak.

“Hari ini saya bertemu dengan Kepala Taman Safari. Saya harap akan ada informasi lanjutan tentang Giring ini,” ujarnya.

Sebagai informasi, Giring merupakan seekor harimau sumatera jantan yang diselamatkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu saat terkena jaring yang dipasang masyarakat di Kabupaten Seluma, Bengkulu pada Februari 2015.

Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk segera memindahkan Giring karena kondisinya sudah mulai tidak sehat dan dikhawatirkan mati.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/klhk-sedang-mencari-lokasi-pemindahan-giring-si-harimau-sumatera/feed/ 0
Perlu Pemutakhiran Data untuk Selamatkan Populasi Harimau https://www.greeners.co/berita/perlu-pemutakhiran-data-untuk-selamatkan-populasi-harimau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perlu-pemutakhiran-data-untuk-selamatkan-populasi-harimau https://www.greeners.co/berita/perlu-pemutakhiran-data-untuk-selamatkan-populasi-harimau/#respond Sun, 02 Aug 2015 02:30:44 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=10579 Jakarta (Greeners) – Pada akhir tahun 1970-an, diyakini populasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) berkisar sekitar 1.000 inidividu hingga kemudian menurun menjadi sekitar 400-500an individu pada awal tahun 1990-an. Harimau […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pada akhir tahun 1970-an, diyakini populasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) berkisar sekitar 1.000 inidividu hingga kemudian menurun menjadi sekitar 400-500an individu pada awal tahun 1990-an. Harimau sumatera sendiri merupakan sub spesies terakhir dari jenis harimau yang pernah ada di Indonesia.

Sedangkan dua kerabatnya, harimau bali (P. t. balica) dan harimau jawa (P.t. sondaica) sudah lama hilang jejaknya dari alam tempat mereka hidup. Harimau Bali telah dinyatakan punah sejak tahun 1940-an, sedangkan saudaranya yaitu harimau jawa dinyatakan sudah tak terlihat lagi sejak tahun 1980-an.

Guna memperingati hari Harimau Internasional kelima sejak ditetapkan pada 23 November 2010 lalu di St. Petersburg, Rusia, Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI) melalui program Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA-Sumatera) mendorong penguatan dukungan dan keterlibatan secara aktif di masyarakat, pemerintah, dan juga swasta agar harimau tetap terjaga keberadaannya di alam.

Menurut Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, M.S Sembiring, untuk memastikan populasi harimau sumatera bukan hal yang mudah karena memerlukan cara dan peralatan tertentu, termasuk menggunakan camera trap.

“Untuk menjawab penyelamatan harimau sumatera dari kepunahan, terlebih dahulu harus dilakukan pemutakhiran data dan informasi. Bagaimana status dan sebaran harimau sumatera terkini? Apa dan bagaimana tingkatan ancaman saat ini? Apa yang telah dan dapat dilakukan para pemangku kepentingan untuk menyelamatkan Si Belang? Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus bisa dijawab untuk membuat suatu tindakan yang tepat bagi penyelamatan harimau sumatera,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Jumat (31/07).

Selain itu, lanjutnya, Yayasan KEHATI beserta mitra yang bekerja di lapangan mengidentifikasi paling tidak ada lima hal penting yang harus dilakukan untuk mencapai target peningkatan populasi harimau sumatera. Kelima hal tersebut yaitu perlunya perlindungan dan pemulihan kawasan yang berfungsi sebagai habitat dan penghubung antar habitat, penataan ruang yang lebih memperhatikan aspek-aspek lingkungan, dilakukannya patroli anti perburuan liar oleh Polisi Hutan dan masyarakat, dan melakukan penanganan konflik antara harimau dengan manusia.

“Serta melakukan peningkatan kesadaran masyarakat dan penguatan efektivitas penegakan hukum, misalnya dengan pembentukan tim penanggulangan pemburuan dan perdagangan liar harimau, program-program peningkatan kapasitas SDM di bidang tindak pidana kehutanan dan satwa liar dan penyuluhan,” tutupnya.

Sebagai informasi, dalam The St. Petersburg Declaration on Tiger Conservation, telah dibuat kesepakatan bersama bahwa dunia akan berupaya untuk meningkatkan populasi harimau yang ada sekarang hingga dua kali lipat di tahun 2022. Peran penting harimau dalam ekosistem disebutkan jelas dalam deklarasi tersebut, bahwa predator ini adalah salah satu indikator penting ekosistem yang sehat.

Rusaknya ekosistem tidak hanya berdampak pada kepunahan harimau, tetapi juga hilangnya keanekaragaman hayati. Indonesia termasuk sebagai salah satu negara yang menandatangani Deklarasi Konservasi Harimau di St. Petersburg, Rusia pada 2010. Bahkan Kementerian Kehutanan pada 2007 lalu sudah membuat Rencana Aksi Konservasi yang masih berlaku hingga 2017.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/perlu-pemutakhiran-data-untuk-selamatkan-populasi-harimau/feed/ 0
Narsis Bersama Satwa Dilindungi, Bukti Ketidakpastian Hukum Perlindungan Satwa https://www.greeners.co/berita/narsis-bersama-satwa-dilindungi-bukti-ketidakpastian-hukum-perlindungan-satwa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=narsis-bersama-satwa-dilindungi-bukti-ketidakpastian-hukum-perlindungan-satwa https://www.greeners.co/berita/narsis-bersama-satwa-dilindungi-bukti-ketidakpastian-hukum-perlindungan-satwa/#respond Thu, 02 Jul 2015 04:23:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=10081 Jakarta (Greeners) – Belum selesai dengan kehebohan yang ditimbulkan oleh pemilik akun facebook bernama Polo Panitia Hari Kiamat yang mengunggah foto orangutan yang dibakar untuk dijadikan santapan beberapa waktu lalu. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Belum selesai dengan kehebohan yang ditimbulkan oleh pemilik akun facebook bernama Polo Panitia Hari Kiamat yang mengunggah foto orangutan yang dibakar untuk dijadikan santapan beberapa waktu lalu. Kini, masyarakat pengguna media sosial (netizen) kembali mengecam seorang calon pegawai negeri sipil bernama Novtamaputra karena mengunggah foto diri sedang menggendong seekor bekantan, salah satu hewan yang masuk kategori terancam punah di Indonesia. Melalui akun instagramnya pula ia mengatakan bahwa bekantan tersebut adalah hasil dari berburu.

Legal Advisor dari Wildlife Conservation Society (WCS), Irma Hermawati kepada greeners mengungkapkan bahwa fenomena narsis atau penyalahgunaan sosial media seperti yang dilakukan oleh Novtamaputra dan Polo Panitia Hari Kiamat merupakan satu reaksi yang dihasilkan dari tidak adanya penegakan hukum yang tegas bagi pelaku penyiksaan hewan langka.

Pemilik akun Novtamaputra narsis bersama bekantan yang merupakan satwa dilindungi dan terancam punah. Sumber: Ist.

Pemilik akun Novtamaputra narsis bersama bekantan yang merupakan satwa dilindungi dan terancam punah. Sumber: Ist.

Menurutnya, ketidakpastian penegakan hukum ini membuat para pelaku penyiksaan hewan dengan bangga mengunggah aksi penyiksaan hewan, baik yang dilindungi oleh negara mapun yang tidak dilindungi. Padahal, untuk bekantan saja, populasinya saat ini hanya kurang dari 25.000 ekor di seluruh dunia.

“Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 Pasal 21 ayat 2 itu kan telah jelas kalau siapa pun yang membawa, menangkap, membunuh, dan menjual satwa bisa dikenai denda Rp 100 juta dan 5 tahun penjara. Penyiksaan terhadap hewan juga bisa dikenai hukuman berdasarkan Pasal 302 KUHP. Seharusnya hal ini bisa menjadi satu kekuatan untuk petugas melakukan penindakan hukum,” jelasnya, Jakarta, Rabu (01/07).

Sekelompok warga Desa Sibide, Kecamatan Silaen, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara, menjerat harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Sumber: Ist.

Sekelompok warga Desa Sibide, Kecamatan Silaen, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara, menjerat harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Sumber: Ist.

Selain itu, Irma juga mengatakan bahwa polisi harus mulai serius menangani kasus kriminal terhadap satwa di dunia maya, baik penjualan maupun penyiksaan. Menurut Irma, selama ini polisi belum menganggap serius kasus penyiksaan pada satwa.

“Polisi kan punya tim Cyber Crime, jadi tolonglah tim tersebut berperan juga dalam isu perlindungan satwa ini,” tukasnya.

Sebagai informasi, selain Polo Panitia Hari Kiamat dan Novtamaputra, diketahui juga bahwa pada Februari 2015 lalu, Manullang Adisutomo mengunggah potret sekelompok warga Desa Sibide, Kecamatan Silaen, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara, menjerat harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Dalam foto tersebut, terlihat beberapa warga menungganggi seekor harimau, sementara si harimau terlihat tak berdaya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/narsis-bersama-satwa-dilindungi-bukti-ketidakpastian-hukum-perlindungan-satwa/feed/ 0
Harimau Bercumbu Tertangkap Kamera, Pemerintah Diminta Peduli Populasi Harimau https://www.greeners.co/berita/harimau-bercumbu-tertangkap-kamera-pemerintah-diminta-peduli-populasi-harimau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=harimau-bercumbu-tertangkap-kamera-pemerintah-diminta-peduli-populasi-harimau https://www.greeners.co/berita/harimau-bercumbu-tertangkap-kamera-pemerintah-diminta-peduli-populasi-harimau/#respond Wed, 13 May 2015 08:10:27 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=9004 Jakarta (Greeners) – Penangkapan momen langka terhadap sepasang harimau yang sedang saling mendekati untuk bercumbu oleh kamera jebak milik World Wide Fund (WWF) Indonesia yang terpasang di Taman Nasional Bukit […]]]>

Jakarta (Greeners) – Penangkapan momen langka terhadap sepasang harimau yang sedang saling mendekati untuk bercumbu oleh kamera jebak milik World Wide Fund (WWF) Indonesia yang terpasang di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Lampung, Sumatera merupakan pengingat bagi pemerintah untuk menjaga dan meningkatkan perlindungan yang lebih komprehensif di wilayah taman nasional dan sekitarnya.

Menurut keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Yob Charles, Project Leader WWF Program Bukit Barisan Selatan mengatakan bahwa momen langka tersebut seharusnya membuat pemerintah mau menjamin populasi harimau agar tetap stabil di wilayah tersebut. Selama tahun 2014 saja, tim gabungan WWF – TNBBS telah menyapu 80 jerat harimau dan dua senjata api ilegal di dalam wilayah TNBBS.

“Momen ini seharusnya meningkatkan kepedulian pemerintah dalam menjaga populasi harimau yang ada saat ini,” jelasnya, Jakarta, Rabu (13/05).

Di samping itu, anggota Forum Harimau Kita, Hariyo T Wibisono juga mengingatkan bahwa momen tertangkapnya gambar sepasang harimau tersebut bukanlah alasan untuk mengklaim kalau jumlah harimau sumatera mengalami peningkatan, baik dari sebaran maupun populasinya.

Menurutnya, populasi Raja Rimba tersebut cenderung malah mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Menurut catatan Forum Harimau Kita, pada tahun 1978 jumlah hewan dengan nama latin Panthera tigris sumatrae itu mencapai 1.000 ekor, kemudian tahun 1987 berkurang menjadi 500 ekor. Pun pada tahun1992, lanjutnya, populasi harimau sumatra hanya mampu bertahan sekitar 500 ekor dan terakhir pada tahun 2010 jumlahnya hanya tersisa 250 ekor.

“Populasinya itu terus menurun, jadi tidak tepat kalau momen penangkapan gambar sepasang harimau itu dikaitkan dengan jumlahnya yang membaik,” katanya.

Sebagai informasi, sebelumnya kamera jebak milik WWF yang terpasang di Lampung, Sumatera, menangkap momen langka dimana sepasang harimau sumatera sedang saling mendekati untuk bercumbu. Adegan yang terekam kamera pada pertengahan Desember 2014 lalu itu menunjukkan harimau sumatera jantan yang bertubuh lebih besar sedang mendekati harimau sumatera betina.

Dari perilaku keduanya yang masih malu-malu, bisa diindikasikan bahwa sepasang harimau ini baru saja bertemu. Perilaku ini, seperti mengeluarkan suara khusus merupakan sinyal positif untuk mengundang interaksi lebih lanjut.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/harimau-bercumbu-tertangkap-kamera-pemerintah-diminta-peduli-populasi-harimau/feed/ 0
Panthera Nilai Usaha Konservasi Harimau di Indonesia Berhasil https://www.greeners.co/berita/menhut-alam-kehilangan-wibawa-tanpa-harimau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menhut-alam-kehilangan-wibawa-tanpa-harimau https://www.greeners.co/berita/menhut-alam-kehilangan-wibawa-tanpa-harimau/#respond Thu, 17 Jul 2014 09:57:27 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5205 Jakarta – Organisasi konservasi kucing besar liar internasional Panthera memberikan penghargaan kepada Indonesia atas keberhasilan konservasi harimau sumatera dalam pertemuan tahunan “Tigers Forever” di Jakarta. Panthera memberikan penghargaan kepada Menteri […]]]>

Jakarta – Organisasi konservasi kucing besar liar internasional Panthera memberikan penghargaan kepada Indonesia atas keberhasilan konservasi harimau sumatera dalam pertemuan tahunan “Tigers Forever” di Jakarta.

Panthera memberikan penghargaan kepada Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Pemerintah Provinsi Lampung, Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya, Kepala Badan Nasional untuk Perubahan Iklim Rachmat Witoelar, dan Yayasan Artha Graha Peduli -Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC).

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan keberadaan harimau harus dilestarikan karena hutan dan alam akan kehilangan wibawanya bila sudah tidak ada lagi binatang tersebut.

“Kalau rusa engkau bunuh, harimau akan kehilangan mangsanya. Kalau hutan kehilangan harimau, hutan akan kehilangan wibawanya,” kata Zulkifli Hasan berpantun saat menerima penghargaan dari Panthera di Jakarta, Rabu (16/06).

Zulkifli mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki tiga subspesies harimau, yaitu harimau jawa, harimau bali dan harimau sumatera.

“Namun, harimau jawa dan harimau bali sudah punah karena perburuan yang tidak bertanggung jawab dan perkembangan penduduk. Para pemangku kepentingan yang ada harus bersama-sama melindungi subspesies yang tersisa, yaitu harimau sumatera,” katanya.

Secara khusus, Zulkifli juga menyampaikan terima kasih kepada pengusaha Tomy Winata yang bersama Artha Graha Peduli telah mengelola Tambling Wildlife Nature Conservation sebagai kawasan konservasi dan rehabilitasi harimau sumatra.

Sementara itu, Presiden dan CEO Panthera Alan Rabinowitz mengatakan, Sumatera adalah kawasan dengan wilayah terbesar untuk harimau. Menurut dia, kolaborasi antara pemangku kepentingan di Sumatera sangat unik karena melibatkan swasta dan pemerintah.

“Panthera juga bermitra dengan 20 organisasi untuk bekerja secara strategis dan efektif dalam melindungi harimau dan kucing besar liar yang ada di dunia. Indonesia bisa menjadi model untuk konservasi alam liar bagi dunia,” tuturnya.

(G34)

]]>
https://www.greeners.co/berita/menhut-alam-kehilangan-wibawa-tanpa-harimau/feed/ 0