sepeda - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/sepeda/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 04 Apr 2026 09:55:49 +0000 id hourly 1 Peradaban Kota Tak akan Sehat Tanpa Sepeda https://www.greeners.co/berita/peradaban-kota-tak-akan-sehat-tanpa-sepeda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peradaban-kota-tak-akan-sehat-tanpa-sepeda https://www.greeners.co/berita/peradaban-kota-tak-akan-sehat-tanpa-sepeda/#respond Sat, 04 Apr 2026 09:55:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=48306 Jakarta (Greeners) – Menilik tiga tahun ke belakang, Indonesia sempat mengalami ledakan tren bersepeda. Di masa pandemi Covid-19, sepeda menjadi pelarian banyak orang untuk tetap bergerak dan menjaga kesehatan. Namun, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Menilik tiga tahun ke belakang, Indonesia sempat mengalami ledakan tren bersepeda. Di masa pandemi Covid-19, sepeda menjadi pelarian banyak orang untuk tetap bergerak dan menjaga kesehatan. Namun, euforia itu tak bertahan lama. Kini tren bersepeda menurun akibat beragam faktor, mulai dari kondisi ekonomi hingga banyaknya pilihan olahraga lain yang menarik minat masyarakat.

Dalam konteks penggunaan sehari-hari, sepeda juga belum menempati posisi sebagai alat transportasi utama. Hanya sedikit orang yang memilihnya untuk pulang-pergi kerja atau beraktivitas rutin. Bagi sebagian besar masyarakat, sepeda masih menjadi alat olahraga atau rekreasi, bukan sarana mobilitas yang terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari.

Padahal, jika menengok sejarahnya, sepeda bukan hal baru dalam perjalanan transportasi Indonesia. Jauh sebelum menjadi tren, sepeda telah menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat.

Sepeda mulai populer sejak masa kolonial Belanda. Di Batavia, sepeda pertama hadir pada sekitar 1890. Popularitasnya terus meningkat. Pada 1937, tercatat ada sekitar 70.000 sepeda di Batavia, jumlah ini setara dengan satu sepeda untuk delapan penduduk.

Memasuki era 1960-an, kedudukan sepeda sebagai transportasi kelas atas di kota besar mulai tergerus. Motor dan mobil hadir sebagai simbol kemajuan, sementara pasar kendaraan berbahan bakar fosil tumbuh pesat. Perlahan, pamor sepeda meredup.

Namun, gairah itu kembali muncul pada 1977, ketika “demam” mountain bike yang dipelopori Joe Breeze dan Gary Fisher mulai menjangkau Indonesia. Minat terhadap sepeda modern kembali naik pada pertengahan 1980-an. Tidak hanya mountain bike, jenis sepeda komuter, sepeda anak, dan sepeda lipat yang kini kembali tren, sebenarnya telah lebih dulu populer pada masa itu.

Sejarah panjang ini menunjukkan bahwa eksistensi sepeda telah hidup jauh sebelum hari ini. Sepeda pernah menjadi alat utama masyarakat untuk bergerak, menjelajah, dan berseliweran ke berbagai sudut kota. Sebelum mobil dan motor mendominasi, sepeda bagaikan kawan perjalanan yang menyatukan aktivitas dan kehidupan sehari-hari. 

Infrastruktur Perkotaan Menjadi Kunci

Merosotnya tren masyarakat untuk bersepeda juga tak lepas dari kondisi kota-kota di Indonesia. Eksistensi budaya bersepeda sangat bergantung pada kualitas infrastruktur perkotaannya. Tanpa penataan ruang yang memberi tempat layak bagi pesepeda, sulit bagi masyarakat merasakan kenyamanan dan keamanan saat bersepeda.

Ahli tata kota Nirwono Joga menilai, secara umum kota-kota besar di Indonesia belum dapat dikatakan ramah pesepeda. Infrastruktur yang mendukung aktivitas bersepeda belum terbangun secara serius dan berkelanjutan. 

Menurutnya, ada tiga faktor penting yang harus terpenuhi agar sebuah kota layak disebut ramah pesepeda, yaitu jalur sepeda yang jelas, penanda serta rambu yang memadai, dan rute yang terhubung dari satu titik ke titik lainnya.

“Di Belanda, jalur sepeda berada di pinggir jalan, terpisah dari arus kendaraan bermotor, dan rutenya saling terhubung. Di Indonesia, standar itu belum muncul. Banyak jalur di Jakarta dibangun tapi tidak terpakai, bahkan berubah menjadi parkir mobil. Padahal, anggarannya cukup besar,” ujar Nirwono kepada Greeners.

Ia menegaskan bahwa sepeda harus dilihat sebagai alat transportasi, bukan sekadar aktivitas rekreasi akhir pekan. Masyarakat perlu didorong untuk menjadikan sepeda sebagai moda harian. Mulai dari berangkat dari rumah menuju kantor, stasiun kereta, sekolah, hingga berbagai titik aktivitas lainnya. Model kota yang mendukung bersepeda juga bisa ditunjang dengan penyediaan layanan sepeda sewa.

“Seperti di Inggris, Prancis, atau Amerika. Di kota-kota itu, sepeda sewa tersedia di dekat stasiun, hotel, kampus, dan pusat perkantoran. Kita belum punya sistem pendukung semacam itu,” tambahnya.

Peradaban kota tak akan sehat tanpa sepeda. Foto: Freepik

Peradaban kota tak akan sehat tanpa sepeda. Foto: Freepik

Minimnya Fasilitas Parkir Sepeda

Masalah lain yang turut memperlemah ekosistem bersepeda adalah minimnya fasilitas parkir sepeda. Banyak orang yang masih merasakan betapa minimnya fasilitas parkir sepeda di lingkungan sekitar. 

Di banyak tempat, parkir mobil dan motor justru sangat mudah ditemukan, sementara parkir sepeda hampir tidak tersedia. Berbeda dengan negara lain seperti Tokyo dan Belanda, di mana fasilitas parkir sepeda dibuat khusus, bahkan berlapis dan bertingkat untuk menampung volume yang besar.

Selain parkir, pesepeda juga membutuhkan fasilitas dasar seperti ruang ganti dan loker, terutama bagi mereka yang beraktivitas melalui moda raya terpadi (MRT) atau bekerja di pusat kota. Fasilitas tersebut, sayangnya hingga kini masih jarang disiapkan pemerintah daerah.

Padahal, banyak kota besar di Indonesia justru memiliki ukuran yang relatif kecil dengan jarak tempuh pendek. Kota seperti Makassar, Semarang, dan Yogyakarta bisa dijelajahi dalam waktu singkat. Dalam hal ini, sepeda sebetulnya menjadi moda paling ideal, murah, cepat, bebas polusi, dan dapat mengurangi kemacetan.

Menurut Nirwono, untuk mendorong budaya bersepeda, peran kepala daerah juga sangat penting. Kebijakan kota ramah pesepeda hanya akan berhasil jika dimulai dari kepemimpinan yang kuat dan memberi contoh.

Ia menekankan bahwa infrastruktur transportasi publik seperti MRT atau LRT perlu terintegrasi dengan fasilitas sepeda, ditambah layanan sepeda sewa untuk menjangkau titik akhir perjalanan. 

Menurutnya, pendekatan ini dapat menjadi langkah awal menuju kawasan beremisi rendah (low emission zone). Contohnya Jakarta, kini sudah mulai mencoba konsep ini di Kota Tua dan Blok M dengan membatasi kendaraan pribadi serta mendorong penggunaan transportasi umum dan sepeda.

Ia menilai bahwa bagi kota-kota kecil, peluang terciptanya kawasan tersebut justru lebih besar lagi. Banyak yang berpotensi menjadi kota “15 menit”, di mana warga dapat memenuhi kebutuhan harian dengan berjalan kaki atau bersepeda. 

Meski anggaran transportasi publik kerap terbatas, kota ramah sepeda justru bisa menjadi momentum efisiensi dengan hemat BBM, kualitas hidup meningkat, lingkungan membaik, dan kemacetan berkurang.

Berdampak Baik untuk Kesehatan 

Meskipun pada faktanya penggunaan sepeda masih terbilang masih sedikit untuk digunakan sebagai alat transportasi dalam keseharian, ada individu-individu yang kini pulang pergi dengan memanfaatkan sepeda sebagai alat transportasinya. 

Salah satunya adalah Pei (55), seorang pesepeda asal Tangerang yang kini menggunakan sepedanya untuk menuju tempat kerjanya sehari-hari. Baginya mengayuh pedal adalah bagian dari kehidupannya. 

Kebiasaan baik itu sudah ia mulai sejak lama yakni pada tahun 2012 dan sejak 2017 ia mulai konsisten menjadi pesepeda harian. Setiap hari ia menempuh perjalanan sekitar 30 kilometer dari Pamulang ke Jakarta Pusat dengan jarak tempuh pulang pergi 60 kilometer. 

Bagi Pei, bersepeda sehari-hari bukan hanya sekadar hobi dan membantu mengurangi emisi di kota, tetapi juga memberikan manfaat baik bagi kesehatan tubuhnya. Pei mengakui sejak rutin bersepeda ke kantor, kondisi jantungnya lebih membaik dan tubuhnya jarang terkena sakit. 

“Jadi jarang sakit kayak secara fisik saya juga untuk endurance saya bersepeda juga bisa lebih bagus dari sebelumnya. Bahkan hormon endorfin juga jadi lebih baik ya kalau bersepeda. Pikiran juga lebih kreatif, dan gak mudah stres,” ujar Pei. 

Bersepeda baginya adalah kombinasi antara kebebasan, kesehatan, dan kegembiraan bagi dirinya. Sepeda yang kini bagaikan kawan yang terus ia rangkul ini juga telah membuka banyak pertemuan dan pengalaman baru bagi dirinya.  

Meski sejarah panjang sepeda di Indonesia pernah menempatkannya sebagai tulang punggung mobilitas masyarakat, kenyataannya kini justru berbalik. Sepeda semakin terpinggirkan oleh derasnya arus kendaraan bermotor.

Kisah Pei menjadi contoh kecil bagaimana sepeda masih mampu mengubah cara seseorang bergerak di kota. Namun, di luar pengalaman individu tersebut, terdapat persoalan yang jauh lebih kompleks yaitu polusi yang kian pekat, semakin banyak kemacetan, hingga trotoar sering kali dikuasai kendaraan bermotor.

Dalam situasi seperti ini, gagasan untuk mengembalikan sepeda sebagai alat transportasi bukan hanya untuk bergaya, tetapi justru semakin relevan dan mendesak.

Komunitas Perjuangkan Hak Pesepeda

Kini, bersepeda juga bukan hanya milik individu. Ia sudah berkembang menjadi gerakan. Komunitas-komunitas yang tumbuh bukan sekadar tempat berkumpul memamerkan sepeda, tetapi ruang untuk bersuara memperjuangkan hak-hak pesepeda di jalanan.

Salah satunya adalah Komunitas Bike to Work (B2W), yang sejak lama mewadahi para pesepeda untuk menularkan kebiasaan bersepeda, terutama di kalangan pekerja. Kekuatan komunitas ini membawa dampak besar terhadap dunia pesepedaan di Indonesia. 

Mereka hadir bukan hanya untuk memperbanyak jumlah orang yang menggunakan sepeda ke tempat kerja, tetapi juga untuk memastikan hak-hak pesepeda di kota terus diperjuangkan. 

Salah satunya B2W Bandung yang kini aktif melakukan kegiatan, riset, kampanye, hingga advokasi. Ketua B2W Bandung, Moch Andi Nurfauzi mengatakan bahwa pilar-pilar tersebut menjadi sebuah dorongan agar masyarakat perlahan bisa kembali menjadikan sepeda sebagai alat transportasinya.

“Pada Juli hingga Agustus lalu kami mengadakan audiensi dengan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, untuk membahas kondisi fasilitas jalan, khususnya trotoar, transportasi publik, dan jalur sepeda. Banyak lubang atau jalur yang rusak, bahkan sempat terjadi kecelakaan pesepeda akibat lubang besar. Kami langsung mendatangi lokasi, mendokumentasikan, lalu melaporkannya,” ujar Andi.

Model advokasi seperti inilah yang terus mereka jalankan agar pengguna jalan bisa merasa aman dan nyaman. Karena bagi B2W, bersepeda bukan hanya soal hobi atau aktivitas akhir pekan, tetapi budaya yang harus diperjuangkan.

Di Bandung, B2W bahkan melakukan riset untuk mengembangkan standar parkir sepeda dan menyusun materi sosialisasi berupa flyer untuk sekolah dan ruang publik. Semua ini berkaitan dengan kampanye penggunaan sepeda harian, Bike to Work, dan Bike to School.

Untuk itu, komunitas bersepeda juga mempunyai peranan begitu besar untuk mendorong kebijakan publik agar kebiasaan masyarakat bersepeda bisa tercipta.

Penjualan Sepeda Anjlok

Di balik komunitas yang terus mendorong budaya bersepeda, industri sepeda justru menghadapi penurunan besar dalam tiga tahun terakhir. Ketua Asosiasi Pengusaha Sepeda Indonesia (Apsindo), Eko Wibowo, menyebut penjualan sepeda di Indonesia anjlok hingga 70 persen sejak tren bersepeda mereda pada 2021. 

“Saat pandemi, masyarakat memiliki sedikit aktivitas sehingga banyak yang ikut-ikutan bersepeda. Namun ketika situasi kembali normal dan kondisi ekonomi melemah, daya beli ikut turun dan penjualan sepeda merosot,” ujar Eko. 

Penurunan tren ini juga dipengaruhi cara pandang masyarakat yang masih melihat sepeda sebagai sarana rekreasi, bukan transportasi. Perpindahan tren olahraga membuat minat terhadap sepeda cepat mengikuti arus. 

Ketika bersepeda ramai, efek FOMO muncul, tetapi ketika olahraga lain seperti lari atau tenis naik daun, masyarakat pun bergeser ke sana. Hal ini menunjukkan budaya bersepeda di Indonesia masih sangat dipengaruhi situasi, komunitas, dan gaya hidup.

Eko membandingkan dengan Eropa, di mana sepeda tumbuh pesat karena fungsinya jelas sebagai alat transportasi. Infrastruktur mendukung, kebijakan pemerintah kuat, dan masyarakat memiliki kesadaran tinggi terhadap kesehatan dan lingkungan. 

Berbeda dengan Indonesia, menurutnya negara ini belum sampai pada tahap itu sehingga sepeda masih dianggap sebagai hobi yang “keren” ketimbang kebutuhan harian.

Menurunnya acara dan kegiatan sepeda juga ikut berpengaruh, meski sekarang mulai muncul kembali seiring orang mencari suasana olahraga baru. Kegiatan ini setidaknya memberi ruang bagi industri untuk tetap bertahan. Eko percaya tren bersepeda akan bangkit kembali, meski waktunya belum bisa dipastikan. 

Ia juga menyoroti tren sepeda listrik yang sempat mengangkat industri. Namun, tanpa regulasi seperti SNI, pasar menjadi terlalu bebas dan dibanjiri produk murah berkualitas rendah hingga akhirnya kembali menekan pasar sepeda.

Kolaborasi Hidupkan Budaya Bersepeda

Kompleksitas dunia sepeda kini semakin terlihat, bagaimana satu elemen saling memengaruhi. Padahal perlu disadari bahwa sepeda kini bukan hanya soal gaya hidup, tetapi juga alat transportasi yang mampu membantu mereduksi emisi. Namun, persoalan yang dihadapi ekosistem ini juga tidak kecil.

Untuk membenahi simpul-simpul masalah yang saling terkait, seluruh pihak perlu bergerak bersama. Pemerintah perlu menyediakan fasilitas yang ramah pesepeda, mulai dari parkir sepeda, jalur yang aman, hingga kampanye bersepeda agar masyarakat tertarik menggunakan sepeda sebagai transportasi harian.

Di sisi lain, komunitas juga harus tetap aktif dan kompak dalam mendorong budaya bersepeda. Mereka memegang peran penting dalam edukasi, riset, dan advokasi, termasuk memperjuangkan hak-hak pesepeda kepada pemerintah. Jika ekosistem ini bergerak secara masif, pelaku usaha sepeda pun akan merasakan dampaknya. Industri yang sempat jatuh bisa kembali pulih seiring meningkatnya minat masyarakat.

Mengembalikan budaya sepeda memang bukan perkara mudah, semua tergantung bagaimana individu bisa terpengaruh untuk kembali bersepeda. Butuh proses panjang hingga masyarakat benar-benar sadar manfaat bersepeda bagi kesehatan dan lingkungan. 

Namun, semua upaya itu juga perlu disadari bahwa nantinya akan membawa kehidupan yang lebih sejahtera. Kota-kota di Indonesia juga bisa minim polusi dan warganya bisa hidup lebih sehat. Pada akhirnya, kita perlu mengingat bahwa sebuah kota tidak akan pernah benar-benar sehat tanpa sepeda.

Penulis: Dini Jembar Wardani 

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/peradaban-kota-tak-akan-sehat-tanpa-sepeda/feed/ 0
Pelajar SMP di Kota Bandung Bakal Bike To School https://www.greeners.co/aksi/pelajar-smp-di-kota-bandung-bakal-bike-to-school/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pelajar-smp-di-kota-bandung-bakal-bike-to-school https://www.greeners.co/aksi/pelajar-smp-di-kota-bandung-bakal-bike-to-school/#respond Thu, 30 Jun 2022 05:09:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=36594 Bandung (Greeners) – Pemerintah Kota Bandung terus berkomitmen memastikan pengurangan beban transportasi kendaraan bermotor, termasuk di dunia pendidikan. Sebagai langkah awal, akan ada akselerasi gerakan bersepeda ke sekolah atau bike […]]]>

Bandung (Greeners) – Pemerintah Kota Bandung terus berkomitmen memastikan pengurangan beban transportasi kendaraan bermotor, termasuk di dunia pendidikan. Sebagai langkah awal, akan ada akselerasi gerakan bersepeda ke sekolah atau bike to school pada tingkat SMP di Kota Bandung.

Kabid Pembinaan dan Pengembangan Peserta Didik dan Tenaga Kependidikan (P3TK) Disdik Kota Bandung, Edi Suprjoto mengatakan, saat ini siswa tingkat SMP utamanya sekolah negeri telah melaksanakan pembelajaran 100 persen tatap muka.

“Kegiatan berjalan kaki maupun bersepeda dapat menjadi alternatif solusi agar tubuh semakin sehat. Apalagi seiring dengan penerimaan peserta didik baru (PPDB) bersistem zonasi yang mengedepankan siswa dekat dengan sekolahnya,” katanya dalam Diskusi Terarah Akselerasi Gerakan Bersepeda ke Sekolah Tingkat SMP Kota Bandung di SMPN 13 Bandung, Rabu (29/6).

Acara inisiasi Greeners.co ini, sebagai gerakan awal untuk anak-anak SMP. Apalagi saat ini sudah ada kegiatan bersepeda berbasis komunitas yang berlangsung di sekolah-sekolah di Bandung. Misalnya ‘Pelajar Nyasab’ atau ‘Nyaba Jumpa’.

“Saya ingin mengagendakan kegiatan orienteering sepeda pelajar. Terdiri atas lima orang satu kelompok, dari sekolah-sekolah, ke tempat-tempat wisata Kota Bandung,” imbuhnya.

Setelah pandemi Covid-19 berlalu, ia yakin bisa melibatkan minimal 10 sepeda dari masing-masing SD kelas 6, dan kelas 7, 8, 9 SMP. Pria yang melakukan kunjungan terdekat dari Kantor Disdik Kota Bandung dengan sepeda itu, optimistis kegiatan orienteering akan melibatkan banyak peserta.

Edi juga mengapresiasi diskusi ini. Baginya kegiatan bersepeda itu penuh filosofi. Bersepeda pun, lanjutnya menjadi sikap teladan untuk selalu tough, tangguh, menghadapi cobaan.

B2W Kota Bandung : Guru Jadi Teladan Bike To School

Ketua Bike to Work (B2W) Bandung Wildan Fachdiansyah menyatakan, B2W Bandung telah mengampanyekan bersepeda. Menurutnya sepeda sebagai moda transportasi ramah lingkungan jarak dekat untuk berbagai aktivitas selain ke kantor.

“Intinya adalah bersepeda untuk berbagai aktivitas, untuk mengurangi beban polusi di Kota Bandung. Melalui bersepeda ke sekolah, kami ingin guru-guru menjadi teladan bagi siswanya untuk menggunakan sepeda ke sekolah,” katanya.

B2W, kata Wildan ingin mengajak siswa bersepeda ke sekolah atau bike to school karena dapat menjadi kebiasaan baik yang bisa siswa pertahankan dari sekolah sampai kuliah.

Ia pun merangkum sejumlah manfaat bike to school dari jurnal ilmiah. Mulai dari meningkatkan konsentrasi siswa, meningkatkan kesehatan fisik dan mental siswa dan menurunkan Body Mass Index (BMI).

Selain itu, bersepeda dapat meningkatkan kesehatan kardiovaskular, mengembangkan kemampuan mengatur emosi, mempererat hubungan sosial dan jejaring siswa. Selanjutnya, dapat mengurangi kemacetan di kawasan sekitar sekolah dan menurunkan emisi gas buang.

B2W bekerja sama dengan Lapan telah melakukan studi mengenai hubungan partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2.5 mikron (mikrometer) atau PM2,5 di Bandung. Studi ini ingin melihat kondisi PM2,5 yang buruk dengan kesehatan jantung. Hasilnya dengan menghirup udara yang sama para pesepeda aktif memiliki kualitas bernapas dan jantung lebih baik.

Mengingat segudang manfaat bersepeda, Wildan ingin menambah keterampilan para siswa. Misalnya edukasi siswa dan lingkungan sekitar sekolah, tentang keselamatan dalam bersepeda dan berlalu lintas. Ia juga berharap ke depan dapat tercipta rute selamat sekolah dan membangun lingkungan yang lebih kondusif untuk bersepeda dan jalan kaki.

Para peserta diskusi terarah bersepeda ke sekolah berfoto bersama. Foto: Greeners.co

Kondisi Pencemaran Udara di Bandung Tergolong Buruk

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin menyatakan, jika baru-baru ini Jakarta dikabarkan memiliki cemaran udara yang buruk, bukan berarti Bandung baik-baik saja.

Berdasarkan tren grafiknya, sepanjang tahun warga Bandung lebih banyak mengirup udara dengan PM10 dan yang PM2,5 yang melampaui baku mutu udara ambien (BMUA) nasional. Sesuai hasil riset, rerata konsentrasi paparan dari PM10 dan PM2,5 di Bandung, masing-masing 27,67 µg/m3 dan 27,25 µg/m3.

“Debu halus yang diirup masyarakat itu bisa dihirup dan direspons dengan bersin. Tapi kalau terlalu sering, bisa memasuki tubuh,” kata pria yang akrab disapa Puput ini.

Angka tersebut, di atas batas ambang sehingga mengakibatkan pneumonia. KPBB juga merilis data bahwa konsentrasi CO di Bandung sebagian besar berada di bawah rata-rata tahunan BMUA Nasional (4.000 µg/m3) meskipun untuk sementara waktu juga terlihat (sedikit) di luar baku mutu.

Mendekati Juli, Agustus, September, katanya, udara di Bandung memburuk bisa sampai memicu kanker. Dampak polusi lainnya di Kota Bandung adalah ISPA, broncho pneumonia, pneumonia, Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK), asma dan jantung koroner.

Ia menyebut sumber pencemaran paling besar dari kendaraan bermotor lalu disusul sektor lain seperti debu jalanan, pembakaran sampah terbuka, kayu bakar dan pembakaran sampah domestik.

KPBB mendorong adopsi kendaraan tidak bermotor sebagai bagian moda transportasi. Kemudian meneguhkan bersepeda sebagai budaya. Melakukan kampanye dan pendidikan publik untuk bersepeda lewat bike to school, berjalan kaki dan menggunakan angkutan umum massal.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/pelajar-smp-di-kota-bandung-bakal-bike-to-school/feed/ 0
Rolloe, Roda Sepeda yang Mampu Menyaring Polusi Udara https://www.greeners.co/ide-inovasi/rolloe-roda-sepeda-yang-mampu-menyaring-polusi-udara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rolloe-roda-sepeda-yang-mampu-menyaring-polusi-udara https://www.greeners.co/ide-inovasi/rolloe-roda-sepeda-yang-mampu-menyaring-polusi-udara/#respond Thu, 09 Sep 2021 04:28:39 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=33728 Mengayuh sepeda sambil membersihkan udara sekitar kini bukanlah hal yang mustahil untuk kita lakukan. Kristen Tapping, seorang desainer lulusan London South Bank University, berhasil menciptakan roda sepeda yang mampu menyaring […]]]>

Mengayuh sepeda sambil membersihkan udara sekitar kini bukanlah hal yang mustahil untuk kita lakukan. Kristen Tapping, seorang desainer lulusan London South Bank University, berhasil menciptakan roda sepeda yang mampu menyaring polusi udara. Adapun nama dari roda sepeda tersebut yaitu Rolloe, yang dimana merupakan singkatan dari Roll of Emissions.

Ide pembuatan Rolloe sendiri muncul ketika Kristen sedang berjalan-jalan di Kota London yang sangat berpolusi udara. Prihatin dengan kondisi udara London yang semakin memburuk, Kristen pun berinisiatif untuk menciptakan alat penyaring udara yang ringkas namun tetap efektif dan efisien. Setelah melakukan serangkaian uji coba dan berbagai pengembangan produk, Kristen memutuskan untuk membuat penyaring udara berbentuk roda sepeda karena ia bergerak layaknya penyaring udara konvensional.

Roda sepeda Rolloe sendiri memiliki kemampuan untuk menyaring polusi udara baik dalam bentuk partikel maupun gas. Dalam situs resmi mereka, tertulis bahwa Rolloe berfokus pada penyaringan partikel udara PM 2,5 dan PM 10 yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Selain itu, roda canggih tersebut juga mampu menyaring gas berbahaya seperti nitrogen dioksida, karbon dioksida, dan ozon.

Kristen Tapping. Foto : yankodesign.com

Rolloe Saring 79.865 Meter Kubik Polusi Udara Per Hari

Cara kerja Rolloe terbilang cukup sederhana. Setiap gerakan dari roda sepeda akan menangkap polusi udara berupa partikel maupun gas berbahaya. Semakin sering roda tersebut berputar, semakin banyak polusi udara yang tertangkap.

Roda sepeda Rolloe sendiri memiliki ukuran standar layaknya roda sepeda pada umumnya, yakni sekitar 600 x 600 x 60 milimeter. Setiap roda memiliki berat sekitar 1 kilogram, dan terbuat dari material berkualitas seperti nilon dan busa polimer.  Pada bagian pelek sepeda, terdapat filter udara yang terdiri dari serat loofah, karbon aktif, dan juga filter HEPA.

Rolloe dapat menyedot udara melalui rongga pada bagian tengah dan dapat mendorong udara bersih untuk keluar melalui celah menyerupai sirip. Udara yang tertangkap oleh Rolloe akan tersaring oleh filter, dan filter tersebut dapat kita bersihkan dan pakai ulang kembali.

Pada kecepatan rata-rata, roda sepeda Rolloe mampu menyaring polusi udara sebanyak 0,665 meter kubik per kilometer. Menurut Kristen, jika 10 persen dari semua pengendara sepeda di London memasang satu roda Rolloe pada sepeda mereka, mereka dapat menyaring polusi udara sebanyak 79.865 meter kubik per hari. Jumlah tersebut setara dengan 20 kali ukuran Trafalgar Square London.

Sebagai informasi, roda sepeda Rolloe kini terus menjalani proses pengembangan dan pengujian teknik. Kristen berharap bahwa pada tahun 2022, produk roda canggih ciptaannya dapat tersedia secara komersial di pasaran. Perlu kita ketahui juga, saat ini Rolloe bekerja sama dengan beberapa lembaga di London untuk mengubah polutan yang ditangkap menjadi produk baru seperti bahan kostruksi.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Situs Resmi Rolloe

Yanko Design

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/rolloe-roda-sepeda-yang-mampu-menyaring-polusi-udara/feed/ 0
Pesepeda: Kami Memiliki Hak yang Sama di Jalan Raya https://www.greeners.co/aksi/pesepeda-kami-memiliki-hak-yang-sama-di-jalan-raya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pesepeda-kami-memiliki-hak-yang-sama-di-jalan-raya https://www.greeners.co/aksi/pesepeda-kami-memiliki-hak-yang-sama-di-jalan-raya/#respond Sun, 27 Sep 2020 03:30:33 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=28936 Menurut Ketua Bike to Work Indonesia, Poetoet Soedarjanto, selama ini keberadaan pesepeda masih dianggap mengganggu pengguna jalan raya lainnya.]]>

Jakarta (Greeners) – Keberadaan para pesepeda di jalan raya dianggap masih menjadi masalah. Perlakuan yang berbeda hingga diskriminasi tak luput diterima oleh para pengguna kereta angin itu. Hal lain juga terlihat dari fasilitas untuk para pengguna sepeda hingga implementasi regulasi yang ada. Dalam sebuah diskusi virtual bertajuk “Aman di Jalan Menularkan Kebiasaan Baik Bersepeda” yang diadakan pada Jum’at, (25/9) lalu, sejumlah pegiat sepeda memaparkan pendapat mereka.

Acara yang diselenggarakan melalui akun instagram triathlonseries.id itu, juga turut mengundang Poetoet Soedarjanto, Ketua Bike to Work Indonesia,  Tabby Sumendap, Founder Women Cycling Community (WCC), dan pesepeda Fitra Tara Mizar. Mereka prihatin atas kurangnya edukasi dan minimnya fasilitas untuk bersepeda bahkan di saat masa pandemi seperti saat ini.

Baca juga: Komunitas Pesepeda Kritisi Regulasi Keselamatan di Jalan

Menurut Poetoet Soedarjanto, Ketua Bike to Work Indonesia, edukasi yang dimaksud adalah edukasi kepada seluruh pengguna jalan. Menurutnya selama ini keberadaan pesepeda masih dianggap mengganggu pengguna jalan raya lainnya. Jika diibaratkan, kata dia, saat ini sepeda seolah-olah jadi penyakit dan masalah layaknya hama wereng. “Jadi, maksud saya, sepeda juga punya hak yang sama di jalan raya,” ucap Poetoet.

Pesepeda

Pesepeda melakukan sosialisasi dan kampanye edukasi dalam aksi “Yang Bersepeda Yang Istimewa”, di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat, 10 Juli 2020. Foto: www.greeners.co/RidhoPambudi

Ia merasa masih banyak pihak yang menganggap sepeda hanya mengganggu. Padahal menurutnya kendaraan bermotor lebih berperan besar dalam persoalan yang terjadi di jalan raya. Tiga persoalan besar tersebut, kata Poetoet, yakni polusi udara, kemacetan, dan kecelakaan. Merujuk dari data yang ada, ia mengatakan Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan hanya memiliki tiga hari saja yang dinyatakan bersih dari pencemaran udara.

“Kemudian tingginya angka kecelakaan lalu lintas, kalau saya merujuk data Korlantas Polri 2019, ada 23 ribu nyawa sia-sia di jalan raya, penyebabnya siapa? Dominan kendaraan bermotor. Jadi, sesungguhnya kendaraan bermotor ini jadi penyebab tiga persoalan tadi,” ucapnya.

Kondisi Jalan Belum Nyaman untuk Bersepeda

Adapun menurut Tabby Sumendap, waktu dan ruang gerak untuk bersepeda dinilai sangat terbatas ditambah dengan adanya pandemi. Ia menuturkan, saat ini para pesepeda hanya bisa gowes dalam jangka waktu satu jam dan hanya bisa dilakukan pada pagi hari.

Namun, waktu tersebut cukup rawan bagi para wanita. Sebagai pesepeda ia hanya bisa mengikuti peraturan yang telah ada. “Kondisi jalan di Jakarta belum sepenuhnya nyaman buat gowes, ya. Apalagi (sebagai) wanita, aman dan nyaman itu sangatlah penting buat kita,” kata dia.

Baca juga: Gowes Baraya Bandung: Pesepeda Butuh Jalur yang Aman dan Nyaman

Selain itu, menurut Tabby, jalur sepeda bukan satu-satunya persoalan yang dialami pesepda. “Memang benar jalur sepeda, cuma jalur sepeda itu banyak juga yang lainnya di dalam situ, jalanan juga tidak mulus, tapi ya yaudah ikutin aja apa adanya,” ucapnya.

Dengan adanya peraturan terbaru mengenai keselamatan pesepeda, mereka berharap regulasi tersebut bisa disampaikan dengan baik melalui edukasi kepada masyarakat. Dengan begitu masyarakat akan lebih paham mengenai keberadaan sepeda yang seharusnya setara dengan alat transportasi lainnya.

Penulis: Ridho Pambudi

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/aksi/pesepeda-kami-memiliki-hak-yang-sama-di-jalan-raya/feed/ 0
Komunitas Pesepeda Kritisi Regulasi Keselamatan di Jalan https://www.greeners.co/berita/komunitas-pesepeda-kritisi-regulasi-keselamatan-di-jalan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=komunitas-pesepeda-kritisi-regulasi-keselamatan-di-jalan https://www.greeners.co/berita/komunitas-pesepeda-kritisi-regulasi-keselamatan-di-jalan/#respond Mon, 21 Sep 2020 10:48:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=28713 Diperlukan kerja sama dalam untuk membangun infrastruktur bagi pesepeda dengan melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. ]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Perhubungan menerbitkan peraturan baru tentang keselamatan pesepeda di jalan. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 59 Tahun 2020 tersebut resmi diundangkan pada Selasa, 25 Agustus lalu. Menanggapi terbitnya regulasi, Institute Transportation and Development Policy dan Komunitas Bike to Work Indonesia pun memberikan sejumlah catatan bagi pemerintah.

Ketua Umum B2W Indonesia Poetoet Soedarjanto, misalnya, menyoroti tidak dipertimbangkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagai rujukan peraturan. Ia mengutip sejumlah pasal dalam undang-undang yang telah mengatur kemudahan berlalu lintas bagi pesepeda (Pasal 62), keselamatan, dan keamanan para pejalan kaki maupun pesepeda (Pasal 106, Pasal 284, Pasal 106).

“Di UU Nomor 22/2009 ini banyak pasal yang membahas sepeda, tapi tidak dijadikan salah satu rujukan,” ujarnya kepada Greeners, Senin, (21/09/2020).

Baca juga: Kota Besar di Dunia Andalkan Sepeda untuk Tangkal Pencemaran Udara

Menurutnya, Pasal 4 Ayat 1 Permenhub Nomor 59 Tahun 2020 juga tak secara rinci merujuk ke undang-undang tertentu. Ia justru mempertanyakan perundang-undangan yang digunakan pemerintah. Dalam pasal dan ayat yang sama, kata dia, regulasi tersebut mengecualikan sepeda balap, sepeda gunung, dan jenis sepeda lain untuk menggunakan spakbor sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. “Sepeda lipat, sepeda tandem atau sepeda kargo tidak ada undang-undang yang mengatur,” ujarnya.

Pesepeda

Seorang pesepeda melintas di lajur khusus sepeda di Jakarta. Foto: shutterstock

Hal yang sama juga disampaikan oleh Manajer Komunikasi dan Kerja Sama, Institute Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia Fani Rachmita. Ia mengatakan lembaganya mengapresiasi hadirnya Permenhub Nomor 59 Tahun 2020 tersebut. Meski begitu, masih ada beberapa catatan untuk peraturan baru ini. Menurutnya, salah satu aturan mengenai perlengkapan seperti baju dan spakbor yang ditekankan dalam permenhub kurang diperlukan.

Fani mengutip Pasal 2 Ayat 2 Permenhub Nomor 59 Tahun 2020 yang menyebutkan bahwa sepeda harus memenuhi persyaratan keselamatan dengan menyertakan spakbor, bel, sistem rem, dan lampu saat beroperasi di jalan. Selain itu moda transportasi ini juga disebut perlu dilengkapi alat pemantul cahaya berwarna merah, alat pemantul cahaya roda berwarna putih atau kuning, dan pedal. 

“Di beberapa kota di dunia (yang) mewajibkan pesepeda menggunakan perlengkapan tertentu berdampak pada penurunan penggunaan sepeda itu sendiri,” ucapnya ketika dihubungi Greeners, pada Sabtu, (19/09/2020).

Baca juga: Gowes Baraya Bandung: Pesepeda Butuh Jalur yang Aman dan Nyaman

Catatan kedua, yakni kewajiban pembangunan infrastruktur sepeda atau jalur sepeda dibagi berdasarkan wewenang jalan. Menurut Fani, jika pemerintah daerah seperti Jakarta ingin membangun jalur sepeda, hal  itu hanya bisa dilakukan di jalan-jalan kolektor dan tidak bisa di jalan arteri. Penyebabnya karena wewenang berada di Kementerian Perhubungan dan atau Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ).

Ketiga, acuan teknis yang tertera di Permenhub dinilai tidak detail dan kurang mengakomodir pelaksanaan di lapangan. Fani menyebut pada Pasal 13 Permenhub 59/2020, misalnya, jalur sepeda minimal dibuat 1,2 meter dan tidak ada ketentuan proteksi atau pembatas yang memisahkan jalur sepeda dengan jalan kendaraan bermotor.

“Belum lagi masalah ketentuan jalur ketika ada on street parking dan jalur khusus bus di Pasal 13. Hal ini harus dipertimbangkan lagi karena malah menempatkan sepeda di tengah (konflik dengan pengendara),” kata dia.

Baca juga: YLKI Tolak Air Kemasan Galon Sekali Pakai

Ia mengatakan keselamatan pesepeda harus menjadi prioritas para pengambil kebijakan. Sebab, penggunaan sepeda bukan hanya sebagai moda transportasi, tetapi juga alat untuk memutar kegiatan ekonomi. Mewajibkan berbagai atribut tanpa mengidentifikasi isu, kata dia, malah akan menurunkan minat penggunaan sepeda.

“Keselamatan pesepeda wajib dijamin oleh negara, sehingga jalur sepeda terproteksi seharusnya menjadi prioritas kebijakan utama untuk mendorong penggunaan sepeda lebih masif lagi,” ucapnya.

Menurutnya diperlukan kerja sama dan visi yang selaras dalam hal pembangunan infrastruktur bagi pesepeda. Koordinasi tersebut, kata dia, dapat dilakukan dengan melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang mempunyai tugas pokok dan fungsi serupa. Hal tersebut bertujuan agar Permenhub Keselamatan Pesepeda di Jalan tersebut dapat diimplementasikan dengan maksimal dan sebaik-baiknya.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/komunitas-pesepeda-kritisi-regulasi-keselamatan-di-jalan/feed/ 0
Kota Besar di Dunia Andalkan Sepeda untuk Tangkal Pencemaran Udara https://www.greeners.co/berita/kota-besar-di-dunia-andalkan-sepeda-untuk-tangkal-pencemaran-udara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kota-besar-di-dunia-andalkan-sepeda-untuk-tangkal-pencemaran-udara https://www.greeners.co/berita/kota-besar-di-dunia-andalkan-sepeda-untuk-tangkal-pencemaran-udara/#respond Thu, 10 Sep 2020 05:17:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=28510 Penyebab tertundanya jalur khusus sepeda di berbagai daerah disebabkan karena pemerintah daerah kebingungan untuk mulai membangun infrastruktur yang ideal.]]>

Jakarta (Greeners) – Berbagai negara menyusun kembali kehidupan akibat pandemi corona. Salah satunya dengan menciptakan lebih banyak ruang untuk bersepeda dan berjalan kaki. Dengan meningkatnya aktivitas bersepeda selama karantina wilayah (lockdown), perluasan infrastruktur bersepeda dinilai akan membantu memenuhi tuntutan era pasca-Covid 19 dan mendukung pemulihan ekonomi yang sehat dan hijau.

Data yang dikumpulkan oleh European Cyclist’s Association mencatat, sebanyak 3.607 kilometer jalur sepeda telah dibuka secara global. Panjang jalur tersebut setara dengan jarak dari London ke Ankara, Turki. Paris menjadi kota dengan rencana paling ambisius karena membuka 650 kilometer jalur sepeda. Sedangkan di Jakarta, pemerintah pusat menargetkan jalur sepeda sepanjang 545,8 kilometer yang akan dilakukan secara bertahap. Target pada tahun ini panjang jalur sepeda yang akan dibuat sepanjang 200 kilometer.

Baca juga: Pemegang IPPKH Diwajibkan Merehabilitasi Daerah Aliran Sungai

Saat ini di Ibu Kota jalur sepeda yang baru tersedia, yakni sepanjang 63 kilometer. Sementara peningkatan volume pesepeda meningkat setiap Minggu. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut bahwa volume tertinggi tercatat pada Minggu ketujuh atau dari 20 Juli sampai dengan 26 Juli 2020 dengan jumlah sebanyak 82.380 pesepeda.

Menurut Manajer Komunikasi dan Kerja Sama Institute Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia Fani Rachmita, pemerintah kota di Indonesia telah menyadari kebutuhan untuk mengakomodir sepeda terutama selama masa pandemi. Meski belum ideal, kota seperti Bandung, Surabaya, dan Salatiga sudah memulai membuat jalur khusus sepeda bahkan sebelum pandemi.

Ia mengatakan penyebab tertundanya jalur khusus sepeda di berbagai daerah disebabkan karena pemerintah daerah kebingungan untuk mulai membangun infrastruktur sepeda yang ideal. Menurutnya, sebagian besar pembangunan kota-kota di Indonesia pada awalnya lebih mengutamakan kendaraan pribadi atau car-oriented sehingga fasilitas dan infrastruktur sepeda belum menjadi prioritas.

“Jalur sepeda yang ada saat ini pun belum sesuai dengan lima prinsip dasar pengembangan fasilitas pesepeda, yaitu keamanan, kelangsungan rute, keterpaduan, kenyamanan, dan menarik,” ujar Fani kepada Greeners, Rabu (09/09/2020).

Pesepeda

Foto: shutterstock

Hal yang sama juga disampaikan oleh Pengamat Transportasi Universitas Katolik Soegijapranata, Djoko Setijowarno. Ia mengatakan secara umum untuk moda transportasi yang memiliki desain, hanya DKI Jakarta yang memiliki peraturan terkait. “Untuk daerah lainnya sangat ngeri dan kurang perhatian apalagi untuk sepeda. Beberapa daerah yang sudah memiliki jalur sepeda, seperti Surabaya, Balikpapan, Batam, Bandung, dan Palembang. Namun, kurang greget pemdanya sehingga implementasi pembuatan jalur sepedanya mandek,” ucapnya.

Pada akhir Agustus 2020, pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan, kata Djoko, akan mengeluarkan pedoman teknis keselamatan pesepeda di jalan. Bahkan pemerintah pusat mulai tahun depan mulai menganggarkan bagi daerah-daerah yang ingin membangun jalur sepeda.

Baca juga: Paus Menyerap Lebih Banyak Karbon Dibanding Pohon

Sementara Ketua Umum Bike to Work Indonesia, Poetoet Soedarjanto mengatakan masih kurangnya jalur sepeda di Indonesia diakibatkan oleh pola pikir sebagian besar pejabat dan masyarakat yang tidak menganggap sepeda sebagai alat transportasi. “Selama ini komitmen kami terus mendorong pembangunan jalur dan atau fasilitas bagi pesepeda dengan advokasi dan kampanye,” ujarnya.

Untuk pembuatan jalur sepeda, Eropa memimpin dunia karena sebanyak 36 kota besarnya menjanjikan pembuatan jalur sepeda sepanjang 2.329 kilometer. Selanjutnya disusul Amerika dengan jalur sepeda sepanjang 1.052 kilometer dan Asia-Pasifik 226 kilometer. Untuk kota-kota besar, yakni Lima 301 kilometer, New York 161 km, Roma 150 km, dan Mexico City 129 km.

Hari Udara Bersih Internasional untuk Langit Biru

Polusi udara ekstrem mendorong upaya global untuk mencanangkan Hari Udara Bersih Internasional pada 7 September 2020. Resolusi Majelis Umum PBB pada 2019 mengadopsi hari penting tersebut yang difasilitasi oleh Program Lingkungan PBB, yaitu UNEP. Hari Udara Bersih Internasional untuk Langit Biru ini bertujuan untuk menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran publik di semua level. Berikutnya untuk mempromosikan juga memfasilitasi tindakan untuk meningkatkan kualitas udara.

PBB menyebut pencemaran udara tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga berdampak negatif pada tumbuhan dan ekosistem. Polusi udara ozon, misalnya, dapat menyebabkan 52 juta ton panen global hilang setiap tahun. Dua per tiga orang yang disurvei di Eropa menyatakan tidak ingin kembali ke situasi polusi udara sebelum pandemi. Sementara 68 persen di antaranya menginginkan kebijakan untuk mengurangi polusi udara termasuk melarang mobil di pusat kota.

Baca juga: Akademisi: RUU Cipta Kerja Mengerdilkan Makna Pembangunan

Orang-orang juga memilih untuk bersepeda dan berjalan kaki secara massal. Pandemi Covid-19 mengakibatkan ledakan kegiatan bersepeda di berbagai negara. Kota-kota di dunia juga memberi ruang bagi pengendara sepeda dan pejalan kaki. Saat ini, ratusan kota di dunia menciptakan lebih banyak ruang untuk bersepeda dan berjalan kaki agar lingkungan terbebas dari pencemaran hingga membantu menjaga jarak sosial.

Proses karantina wilayah (lockdown) yang dilakukan berbagai negara merupakan salah satu cara menekan penyebaran Covid-19 dan secara signifikan berhasil mengurangi pencemaran udara. Perubahan aktivitas juga terjadi di berbagai aspek. Contohnya bukan hanya beralih bekerja dari gedung perkantoran ke rumah, tetapi juga pergeseran transportasi publik yang sebelumnya mengandalkan kendaraan bermotor, kini menjadi bersepeda.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/kota-besar-di-dunia-andalkan-sepeda-untuk-tangkal-pencemaran-udara/feed/ 0
Wheels for Heroes Sumbangkan Sepeda untuk Tenaga Kesehatan https://www.greeners.co/ide-inovasi/wheels-for-heroes-sumbangkan-sepeda-untuk-tenaga-kesehatan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=wheels-for-heroes-sumbangkan-sepeda-untuk-tenaga-kesehatan https://www.greeners.co/ide-inovasi/wheels-for-heroes-sumbangkan-sepeda-untuk-tenaga-kesehatan/#respond Sat, 18 Apr 2020 23:00:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=26865 Sebuah produsen penyewaan sepeda Brompton di London menyumbangkan sepeda lipat ikonik mereka bagi staf NHS yang bekerja menangani pasien Covid-19.]]>

Sebuah produsen penyewaan sepeda Brompton di London menyumbangkan sepeda lipat ikonik mereka bagi staf NHS yang bekerja menangani pasien Covid-19. National Health System sendiri merupakan sebuah layanan kesehatan nasional di Britania Raya, Inggris. Melalui kampanye Wheels for Heroes, Brompton menggalang dana publik yang kemudian digunakan untuk memfasilitasi 1.000 sepeda untuk para tenaga kesehatan. Tujuannya agar mereka dapat pergi bekerja dan pulang ke rumah tanpa harus bergantung pada bus atau kereta.

Donasi yang digagas pada 2 April 2020 itu dipakai untuk menyediakan sepeda-sepeda dengan warna khas NHS. Dalam beberapa jam uag yang telah terkumpul berjumlah lebih dari £40.000, termasuk sumbangan sebesar £ 250 dari selebriti seperti presenter Radio Virgin, Chris Evans, dan penyiar BBC Jeremy Vine.

Baca juga: ICU Alternatif Atasi Covid-19

Melansir forbes.com, CEO Brompton, Will Butler-Adams mengatakan bahwa pihak rumah sakit St. Bart, London, menanyakan apakah Brompton dapat memasok sepeda untuk staf utama. Adams mengatakan, rumah sakit ingin mandiri dan tidak bergantung dengan transportasi umum, yakni dengan cara menggunakan sepeda.

Mulanya 50 sepeda sudah disediakan dan saat ini sudah ada sekitar 500 orang pemesan sepeda. Brompton telah menginvestasikan £100.000, tetapi mereka menyebut bahwa masih membutuhkan bantuan untuk menangani kekurangan. Di tengah pandemi seperti sekarang, pengerjaan sepeda saat dilakukan oleh 160 dari 450 staf.

Wheels for Heroes

Foto: www.crowdfunder.co.uk/wheelsforheroes

Sepeda yang dipasok oleh Brompton ke NHS akan dipinjamkan kepada pekerja secara gratis. Setelah itu, sepeda akan terus digunakan dengan biaya pemeliharaan sebesar £1 per karyawan. Beberapa yang lain akan disumbangkan ke rumah sakit untuk dikelola sebagai armada bagi dokter dan perawat. Produsen tidak mendapat untung dari karyawan atau sepeda yang diproduksi, sebab, setiap uang tambahan yang diperoleh akan disumbangkan ke NHS Charitable.

Pada 15 April, British Cycling, Sport England, dan Department for Digital mengumumkan bahwa sebanyak £ 100.000 telah disumbangkan ke kampanye Wheels for Heroes. Donasi tersebut berasal dari dana investasi Places to Ride sebesar £15 juta yang dibuat pemerintah Amerika Serikat. Dana ini dikelola melalui kemitraan British Cycling, Sport England, dan DCMS.

Baca juga: Biksu di Thailand Ciptakan Masker dari Botol Plastik

Kepala Eksekutif British Cycling, Julie Harrington menuturkan di saat krisis nasional seperti sekarang, donasi Places to Ride mendukung para pekerja di garda terdepan dalam memerangi pandemi virus corona. Menurutnya hal ini sangat membanggakan.

Menteri olahraga setempat, Nigel Huddleston mengungkapkan bahwa olahraga dan aktivitas fisik lain memiliki dampak yang sangat positif pada kesejahteraan. Ia juga menyatakan rasa terima kasihnya kepada pekerja kesehatan dalam membantu menangani pandemi virus corona. Kemitraan Brompton dan British Cycling didukung oleh pemerintah dalam membantu pekerja NHS untuk tetap bugar dan sehat.

Penulis: Mega Anisa

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/wheels-for-heroes-sumbangkan-sepeda-untuk-tenaga-kesehatan/feed/ 0
Sepeda Kargo Listrik Bantu Kurangi Emisi Gas Buang https://www.greeners.co/ide-inovasi/sepeda-kargo-listrik-bantu-kurangi-emisi-gas-buang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sepeda-kargo-listrik-bantu-kurangi-emisi-gas-buang https://www.greeners.co/ide-inovasi/sepeda-kargo-listrik-bantu-kurangi-emisi-gas-buang/#respond Sun, 22 Mar 2020 04:34:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=26536 EAV P1 merupakan sepeda kargo listrik yang dibuat di Inggris. Sepeda ini dapat beroperasi sepanjang 6 kilometer hingga 25 kilometer per jam.]]>

Mengantarkan paket barang tanpa emisi bukan lagi menjadi hambatan. Sebuah perusahaan Upper Heyford, Oxfordshire mengembangkan kendaraan listrik bernama Electric Assisted Vehicles. EAV P1 merupakan sepeda yang dibuat secara elektrik di Inggris. Inovasi sepeda kargo yang diklaim ramah lingkungan ini bekerja sama dengan perusahaan jasa pengiriman parsel internasional DPD grup.

Melansir independent.co.uk, sepeda kargo ini diyakini dapat memangkas polusi diesel atau bensin. Kendaraan ini dinilai menghasilkan nol emisi dan sangat cocok diterapkan di berbagai kota agar terbebas dari gas buang diesel.

Electric Assisted Vehicles P1 didesain dengan memperhatikan aspek keamanan. Pemakainnya disebut lebih nyaman dipakai oleh pengendara atau kurir dibandingkan sepeda umum. Kereta angin ini dapat membawa beban 120 kilogram dan memiliki tenaga listrik sebesar 250 watt. EAV P1 dapat beroperasi sepanjang 6 kilometer per jam (3,7 mph) hingga maksimum 25 kilometer per jam (15 mph). P1 dapat menjangkau sampai 60 mil dalam sehari dan lebih dari 100 penghentian paket. Baterainya dapat diisii ulang menggunakan soket plug normal 13 Ampere 240 Volt.

Baca juga: Hydrofoiler XE-1, Sepeda Listrik Hydrofoil Pertama di Dunia

Baterai juga dapat ditukar untuk menjaga performa sepeda dalam penggunaan rutin. Pengisian daya secara penuh memakan waktu kurang dari 6 jam. Dengan menggunakan energi terbarukan, pemenuhan baterai meminimalisir dampak lingkungan yang disebabkan oleh emisi karbon.

EAV didirikan pada 2018 oleh sekelompok mantan insinyur F1, dirgantara dan eksekutif otomotif. Dalam perjalanannya, mereka merancang dan membuat transportasi pribadi serta kendaraan komersil nol emisi.

Sepeda Listrik

EAV P1 dapat beroperasi sepanjang 6 kilometer hingga maksimum 25 kilometer per jam. Foto: www.eavcargo.com

Bagian sepeda EAV P1 terbuat dari material yang canggih, mencakup bahan yang sepenuhnya dapat didaur ulang. Misalnya pada bagian fascia, dibuat dari komposit yang dapat terbiodegradasi. Produsen memanfaatkan serat rami (hemp) yang diikat bersama dengan resin dari minyak kulit kacang mete. Sementara kerangkanya memakai baja ringan agar mudah didaur ulang.

Adam Barmby, pendiri dan direktur teknis di EAV, mengatakan jenis sepeda ini merupakan ‘e-sepeda kargo’ yang diciptakan untuk dapat beroperasi di pasar perkotaan.  “Sangat luar biasa untuk bekerja bersama DPD dan melihat visi kami untuk P1 terwujud. Secara realistis, P1 dapat bergerak lebih cepat ke banyak kota atau lebih cepat daripada van tradisional karena dapat mengambil rute yang berbeda,” kata Adam dalam laman independent.co.uk.

Sedangkan Kepala Eksekutif grup DPD Dwain McDonald menambahkan, P1 adalah kendaraan yang sepenuhnya baru dan dirancang khusus untuk menjawab tantangan perusahaan pengiriman. “Kami sangat bangga menjadi mitra teknis bersama EAV pada proyek unik ini. Uji coba awal menunjukkan P1 berkinerja sangat baik dan jelas berpotensi lebih efisien daripada van tradisional,” ucapnya.

Baca juga: A-Bike, Sepeda Paling Ringan dan Praktis di Dunia

Adam menuturkan, sepeda ini merupakan kendaraan nol-emisi aktif. EAV P1 dapat berjalan melalui jalur sepeda, zona pejalan kaki, dan parkir secara legal di mana saja tanpa khawatir. Inovasi ini juga menjadi solusi kendaraan listrik jangka pendek yang paling layak. Karena infrastruktur yang diperlukan untuk mengisi daya dan biaya operasionalnya sangat kecil.

DPD berencana untuk memperkenalkan beberapa unit sepeda ini di pusat Kota Inggris. Jasa pengiriman ini akan diuji cobak mulai Juli 2019, di beberapa wilayah di Inggris seperti London, Newbury dan York, serta di unit bisnis DPD lain seperti di Irlandia, Spanyol, Jerman, Portugal, dan Perancis.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/sepeda-kargo-listrik-bantu-kurangi-emisi-gas-buang/feed/ 0
Tips Bersepeda di Malam Hari https://www.greeners.co/gaya-hidup/tips-bersepeda-di-malam-hari/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tips-bersepeda-di-malam-hari https://www.greeners.co/gaya-hidup/tips-bersepeda-di-malam-hari/#respond Tue, 14 Jan 2020 04:27:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=25328 Bike to Work Indonesia menyebut kegiatan bersepeda memiliki tiga kategori, yakni untuk mobilitas atau transportasi, olah raga dan gabungan keduanya.]]>

Bersepeda di malam hari memiliki risiko dan tantangan tersendiri. Kecelakaan sepeda di jalan raya membuat kegiatan bersepeda menjadi menakutkan. Padahal bersepeda memiliki segenap manfaat dalam kehidupan.

Bike to Work Indonesia menyebut kegiatan bersepeda memiliki tiga kategori, yakni untuk mobilitas atau transportasi, olah raga dan gabungan keduanya. Untuk menjaga keselamatan saat bersepeda di malam hari, Greeners melansir beberapa tips dari active.com seperti berikut.

1. Menggunakan Lampu Penerangan

Pesepeda di malam hari harus melengkapi lampu penerangan di setiap sisi sepeda. Mulia dari lampu depan, lampu reflektor belakang, dan reflektor kuning pada setiap sisi jari-jari roda.

Di samping itu, pengendara sepeda diutamakan menggunakan lampu belakang berwarna merah dan berkedip. Gunanya untuk mendapatkan perhatian dari pengendara bermotor yang juga melintas di jalan raya.

Tidak disarankan untuk menggunakan lampu strobo sepeda. Karena pancaran sinarnya sangat tinggi di malam hari sehingga dapat menggangu pengendara di belakang.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tips-bersepeda-di-malam-hari/feed/ 0
Menciptakan Jalan yang Aman bagi Pesepeda https://www.greeners.co/aksi/menciptakan-jalan-yang-aman-bagi-pesepeda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menciptakan-jalan-yang-aman-bagi-pesepeda https://www.greeners.co/aksi/menciptakan-jalan-yang-aman-bagi-pesepeda/#respond Wed, 08 Jan 2020 08:31:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=25268 Kecelakaan lalu lintas terhadap pesepeda meningkat seiring dengan bertumbuhnya kegiatan tersebut sehingga diperlukan edukasi bagi pengguna kendaraan lain.]]>

Bandung (Greeners) – Kecelakaan lalu lintas terhadap pesepeda meningkat seiring dengan bertumbuhnya kegiatan tersebut. Desember lalu, tujuh pesepeda mengalami luka-luka usai ditabrak pengemudi Avanza di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, pada pagi hari. Diperlukan edukasi bagi para pengguna kendaraan mobil dan motor agar lebih berhati-hati dalam berbagi ruang dengan pemakai jalan lain.

Ketua Komunitas Bike to Work Indonesia Poetoet Soedarjanto mengatakan, di tahun 2019 jumlah kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan korban meninggal sebanyak 18 orang. Sedangkan jumlah pesepeda yang mengalami kecelakaan dan tidak menyebabkan wafat yakni 20 orang.

“Ini yang kami tahu dan catat, artinya di luar sana mungkin banyak sekali kasus yang kita tidak tahu, tidak terlaporkan, dan tidak terekspos,” ucap Poetoet saat menghadiri diskusi “Ciptakan Jalan yang Aman Bagi Pesepeda, Bersama Kita Bisa” di Bandung, Sabtu, 4 Januari, 2020.

Baca juga: Perjuangan Hak Bagi Pesepeda di Jalan Raya Belum Akan Berhenti

Menurut Poetoet kecelakaan terhadap pesepeda terjadi tidak hanya di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Medan, tetapi juga di daerah kecil seperti Jombang dan Jogjakarta. Untuk itu, Bike to Work melakukan advokasi, kampanye, dan edukasi mengenai keselamatan pesepeda di jalan. “Bike to Work membangun jaringan dengan berbagai koalisi. Hal yang kita alami di jalan kita bagi juga dengan perusahaan dan para pekerja.”

Aktivitas bersepeda menjadi bagian dari mobilitas (transportasi), olahraga, dan gabungan keduanya. Sepeda sebagai alat transportasi digunakan untuk menempuh perjalanan ke suatu lokasi tujuan. Sementara kereta angin diperuntukkan dalam mengisi waktu luang atau berolahraga. Poetoet menyebut mayoritas kecelakaan pada pesepeda hingga berakibat kematian dikarenakan korban ditabrak dari belakang. Ia juga menuturkan kecelakaan banyak terjadi pada pagi hari dibanding siang dan sore. “Waktu kejadian paling banyak di bawah jam 10 pagi,” kata dia.

Grafik Kecelakaan pada Pesepeda

Grafik kecelakaan terhadap pesepeda selama 2017-2019. Sumber: Bike to Work

Kemudahan untuk memiliki kendaraan bermotor melalui angsuran atau kredit memicu peningkatan jumlah kendaraan di jalanan. Akibatnya para pengguna jalan harus berbagi ruang di sarana yang terbatas. Poetoet menuturkan para pesepeda sebenarnya dilindungi oleh beberapa aturan hukum, misalnya, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009, Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2013, dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3 Tahun 2014. Namun, antara undang-undang dan implementasi, kata dia, masih jauh panggang dari api sehingga perlu dikaji ulang.

“Ini yang tidak terfasilitasi di Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009. Karena undang-undang ini didesain hanya untuk mobilitas saja, tidak memfasilitasi olahraga. Sedangkan untuk olahraga berada di velodrome dan fasilitasnya masing-masing hanya ada satu di Jakarta dan Cimahi, Bandung,” ucap Poetoet.

Baca juga: Karavan untuk Pesepeda

Sebagai infomasi, pada kesempatan yang sama, Greeners.co meluncurkan program terbaru bernama “Jurnalis Bersepeda”. Program ini merupakan sebuah sumbangsih Greeners.co dalam menyajikan berita dengan aksi yang ramah lingkungan. Jurnalis Bersepeda bertugas melaporkan masalah lingkungan yang ditemui selama liputan yang dilakukan menggunakan sepeda. Pembaca akan mendapat informasi dalam bentuk foto dan video yang akan ditayangkan berseri di Youtube dan Instagram Greeners.co.

“Diharapkan hasil dari laporan atau berita tersebut nantinya bisa disalurkan kepada pihak-pihak yang memang concern mengenai isu lingkungan di Indonesia untuk ditindaklanjuti,” ujar Pemimpin Redaksi Greeners.co, Syaiful Rochman.

Penulis: Ridho Pambudi

]]>
https://www.greeners.co/aksi/menciptakan-jalan-yang-aman-bagi-pesepeda/feed/ 0
Jalur Sepeda di Jakarta Perlu Evaluasi https://www.greeners.co/aksi/jalur-sepeda-di-jakarta-perlu-evaluasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jalur-sepeda-di-jakarta-perlu-evaluasi https://www.greeners.co/aksi/jalur-sepeda-di-jakarta-perlu-evaluasi/#respond Thu, 28 Nov 2019 23:00:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=24824 Jalur sepeda yang dibangun sekarang belum semuanya sesuai dengan jalur pesepeda sehingga perlu dievaluasi kembali efektivitas pembangunannya.]]>

Jakarta (Greeners) – Kendaraan bermotor di Jakarta semakin bertambah setiap tahunnya. Maraknya kendaraan murah dan promosi ramah lingkungan menyebabkan kepemilikan kendaraan makin meningkat. Motor, salah satunya, merupakan kendaraan yang dianggap efisien sebagai moda transportasi.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta mencatat, kepemilikan mobil di tahun lalu sebanyak 3,99 juta unit. Sedangkan di tahun 2017 jumlahnya sekitar 3,75 juta unit. Sementara untuk kendaraan bermotor jumlahnya lebih dominan yakni, 14,74 juta unit pada tahun 2018.

Jumlah kendaraan yang meningkat berbanding lurus dengan emisi karbon yang dihasilkan. Dilansir dari databoks.co, gas buang kendaraan bermotor di Jakarta sebesar 206 juta ton per tahun. Penyumbangnya terdiri dari sektor transportasi, rumah tangga, dan industri.

Baca juga: Cina Membangun Jalur Sepeda Terpanjang di Dunia

Melalui Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 128 Tahun 2019, pemerintah ibu kota mempersiapkan lajur untuk pesepeda di beberapa titik. Sebelumnya wacana infrastruktur khusus sepeda sudah digarap di tahun 2011. Namun karena beberapa faktor pembuatan jalur tersebut tidak berfungsi.

Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti Nirwono Yoga mengatakan efektivitas jalur sepeda hanya berfungsi jika jalur sepeda dibangun sesuai rute yang digunakan oleh komunitas pesepeda. “Jalur sepeda yang dibangun sekarang ini belum semuanya sesuai dengan jalur pesepeda sehingga perlu dievaluasi kembali efektivitas pembangunan jalur sepeda,” kata Nirwono, di Jakarta, (27/11).

Ia menjelaskan infrastruktur sepeda sebaiknya dibagi menjadi tiga jenis. Pertama bike path yang lebarnya 1,5 meter dibuat terpisah, bike line yang sedang dibangun sekarang, dan bike road atau rute sepeda yang berada di persimpangan dilengkapi dengan marka serta lampu.

Baca juga: Lebih Cepat Sepeda dari pada Motor

Putut Soedarjanto, Ketua Bike to Work Indonesia mendorong agar kebijakan Jakarta ramah sepeda dapat menjadi fokus kebijakan transportasi. Ia berharap penggunaan kendaraan bermotor pribadi juga turun. “Kita ingin menyadarkan masyarakat karena polusi sudah cukup parah sekali. Mari ciptakan Jakarta dan kota-kota lain sebagai kota yang ramah manusia bukan mesin, sehingga semua akan happy menghirup udara segar,” ujar Putut.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan untuk menjalankan kebijakan jalur sepeda di Jakarta bukan sesuatu yang mudah. “Karena Jakarta kotanya sudah jadi, infrastrukturnya sudah jadi, ada seni tersendiri,” ucap Anies, di Balai Kota, Jakarta Pusat.

Penulis: Ridho Pambudi

]]>
https://www.greeners.co/aksi/jalur-sepeda-di-jakarta-perlu-evaluasi/feed/ 0
Cina Membangun Jalur Sepeda Terpanjang di Dunia https://www.greeners.co/ide-inovasi/cina-membangun-jalur-sepeda-terpanjang-di-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cina-membangun-jalur-sepeda-terpanjang-di-dunia https://www.greeners.co/ide-inovasi/cina-membangun-jalur-sepeda-terpanjang-di-dunia/#respond Mon, 11 Nov 2019 05:00:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=24626 Di kota Xiamen, Cina, dibuat jalan layang khusus sepeda sejauh 7,6 kilometer dan menjadi jalur sepeda terpanjang di dunia.]]>

Cina menjadi sepuluh negara dengan populasi terbesar di dunia saat ini, menurut internetworldstats. Akses transportasi beberapa wilayah di Cina masih sangat bergantung dengan kendaraan bermotor seperti mobil. Untuk bisa bepergian dari suatu tempat ke tempat lain menjadi sangat sulit, dan terkadang dapat membahayakan pengendara lain. Belum lagi dengan permasalahan polusi udara yang ada di negeri “Tirai Bambu” ini.

Dikutip pada laman worldpopulationreview, pada tahun 2018, Komisi Eropa dan Badan Kajian Lingkungan Hidup Belanda merilis basis data EDGAR, yang melacak emisi fosil CO2 yang dihasilkan suatu negara. Data yang dikeluarkan pun menyebutkan emisi tertinggi berasal dari Cina.

Walaupun demikian, telah muncul skema untuk mengurangi kemacetan jalan, juga mengatasi krisis polusi udara di Cina. Tepatnya di kota Xiamen, Cina. Di Xiamen, Anda dapat bersepeda 5 meter diatas kota untuk menghindari kemacetan. Jalan layang khusus sepeda ini dibuat sejauh 7,6 kilometer. Jalur ini menjadi jalur pengendara sepeda terpanjang di dunia, seperti dilansir weforum.org.

Adanya jalur ini membuat perjalanan lebih cepat dibandingkan mengemudikan mobil. Selain itu, upaya tersebut pun sebagai cara untuk menumbuhkan kembali kecintaan penduduk Cina yang dulu gemar bersepeda, bahkan negara inipun sempat dijuluki sebagai Kingdom of Bicycles atau “Kerajaan Sepeda”.

Cina Membangun Jalur Sepeda Terpanjang di Dunia di kota Xiamen

Cina Membangun Jalur Sepeda Terpanjang di Dunia di kota Xiamen. Foto : www.weforum.org

Terobosan inovasi ini dirancang dan dibuat oleh arsitektur Denmark yaitu Dissing+Weitling. Jalur sepeda Xiamen merupakan projek terbaru Dissing+Weitling yang selesai dalam waktu enam bulan. Sebelumnya, arsitektur asal Denmark ini telah menyelesaikan “The Bicycle Snake”, yaitu jalur sepeda di Copenhagen pada tahun 2014. Jalur sepeda ini menghubungkan area pelabuhan Copenhagen ke kota sejauh 230 meter. Jalur ini dibuat untuk mengurangi kemacetan dan polusi udara.

Copenhagen sendiri telah mengukuhkan statusnya sebagai kota ramah sepeda. Jalur-jalur sepeda yang akan dibangun di kota ini dapat mengurangi pengeluaran publik sebesar 40.3 juta Euro pertahun, dan meningkatkan kesehatan, seperti yang dilansir weforum.org.

Lebih lanjut, jalur sepeda udara Xiamen ini berada di bawah jalur jalan transportasi bus. Jalur ini menghubungkan perumahan utama dan sektor bisnis perkotaan. Jalur inipun menghubungkan 11 stasiun bus dan dua stasiun kereta bawah tanah. Selain itu, terdapat ruang untuk memarkir sepeda, dan juga terdapat penyewaan sepeda bagi yang tidak membawa sepeda atau tidak memiliki sepeda. Dengan lebar jalan 4,8 meter, maka jalur sepeda ini dapat menampung kapasitas 2000 sepeda per jam pada saat jam sibuk.

Melihat langkah Cina ini, tentunya Cina telah melakukan investasi besar dalam membangun transportasi hijau. Sebagai tambahan, Cina telah memiliki sekitar total 421.000 atau 99% total bus listrik di dunia. Apakah kita siap untuk menyusul kesuksesan Cina dan Denmark sebagai negara ramah sepeda? Semoga saja!

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/cina-membangun-jalur-sepeda-terpanjang-di-dunia/feed/ 0
Cyclo, Helm Yang Dapat Dikemas Terbuat Dari Daur Ulang Sampah Plastik https://www.greeners.co/ide-inovasi/helm-dari-daur-ulang-sampah-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=helm-dari-daur-ulang-sampah-plastik https://www.greeners.co/ide-inovasi/helm-dari-daur-ulang-sampah-plastik/#respond Wed, 21 Aug 2019 00:55:52 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=23986 Sebuah kabar baik datang bagi para pecinta sepeda. Sebuah perusahaan asal Inggris, Cyclo Technology telah menciptakan sebuah helm khusus untuk bersepeda yang dapat dikemas dan terbuat dari hasil daur ulang […]]]>

Sebuah kabar baik datang bagi para pecinta sepeda. Sebuah perusahaan asal Inggris, Cyclo Technology telah menciptakan sebuah helm khusus untuk bersepeda yang dapat dikemas dan terbuat dari hasil daur ulang sampah plastik.

Dilansir dari Fast Company, helm ini diciptakan oleh beberapa orang yang telah memiliki pengalaman bekerja di dunia desain dan terkenal sebagai insinyur di perusahaan Aston Martin dan Boeing. Selain digunakan untuk keselamatan saat bersepeda, helm Cyclo diciptakan dengan desain portable agar mudah disimpan dan dibawa kemana saja.

Ide untuk membuat helm ini tercipta ketika Josh Cohen, co-founder Cyclo Technology bersepeda di London. Menurut Coshen banyak orang merasa tidak nyaman, malas dan repot saat menggunakan helm karena ukurannya yang cukup besar. Dari situlah ia terpicu untuk menciptakan helm portable yang mudah dikemas dan dapat mendorong orang-orang untuk menggunakan helm.

“Helm sangat penting tetapi bisa merepotkan, terutama bagi pengendara kota. Kami telah menciptakan sesuatu yang akan membantu lebih banyak orang untuk bersepeda lebih sering dan melindungi diri mereka sendiri dan planet kita dalam proses tersebut. ” ujar Dom Cotton, CEO Cyclo Technology sebagaimana dikutip dari Inhabitat.

Untuk bahan bakunya, helm ini terbuat plastik daur ulang. Cyclo Technology memutuskan untuk menggunakan bahan berkelanjutan karena masalah limbah plastik sudah menjadi topik hangat di setiap industri.

Cyclo, Helm Dapat Dikemas Terbuat Dari Daur Ulang Sampah Plastik

Foto : www.cyclotechnology.com/

Bekerjasama dengan Plastic Oceans U.K., Cyclo mendukung upaya untuk membersihkan polusi plastik yang signifikan di lautan dan untuk setiap satu helm cyclo, mewakili 20 botol air yang dikeluarkan dari ekosistem laut.

Bentuk helm Cyclo memiliki desain unik yang menyerupai sarang lebah, mudah dikemas dan bisa dimasukan ke dalam tas. Meskipun terbuat dari plastik daur ulang, konstruksinya tetap menghadirkan gaya, keamanan, dan kenyamanan saat dipakai. Selain itu, helm ini memiliki ketahanan yang melebihi semua standar helm di AS, Eropa, dan Kanada.

Helm ini juga dapat dikenakan saat mengendarai skuter, skateboard atau segway. Dengan desainnya yang ringkas, helm ini mudah dimasukkan ke dalam ransel, tas olahraga, atau tas kerja.

Saat ini Cyclo Technology menerima pesanan dengan jumlah produksi yang terbatas dan mulai dijual pada awal 2020. Untuk pengiriman batch pertama akan dikirim pada musim semi berikutnya. Harga untuk setiap helm Cyclo ini dijual via Indiegogo senilai $ 52 per unit.

Penulis : Diki Suherlan

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/helm-dari-daur-ulang-sampah-plastik/feed/ 0
Peringati HPSN 2019, Seratus Pelajar Kota Bandung Ikuti Kegiatan Nyasab https://www.greeners.co/aksi/peringati-hpsn-2019-seratus-pelajar-kota-bandung-ikuti-kegiatan-nyasab/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peringati-hpsn-2019-seratus-pelajar-kota-bandung-ikuti-kegiatan-nyasab https://www.greeners.co/aksi/peringati-hpsn-2019-seratus-pelajar-kota-bandung-ikuti-kegiatan-nyasab/#respond Mon, 25 Feb 2019 11:47:08 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=22638 Memperingati HPSN 2019, pelajar dari lima sekolah di kota Bandung mengikuti Pelajar Nyasab (Nyapedah Sabtu Babarengan). Acara ini bertujuan untuk mengedukasi seratus pelajar yang hadir untuk memilah dan mengolah sampah.]]>

Bandung (Greeners) – Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2019, pelajar dari lima sekolah di kota Bandung, yakni SMPN 55, SMPN 21, SMPN34, SMPN36, dan SMP Swadaya mengikuti Pelajar Nyasab (Nyapedah Sabtu Babarengan) dan diskusi bersama dengan tema “Kelola Sampah yang Mudah dan Berkah”. Tujuan dari acara ini untuk mengedukasi seratus pelajar yang hadir untuk memilah dan mengolah sampah.

Koordinator Pelajar Nyasab Windu Mulyana mengatakan bahwa dalam mendukung dan berpartisipasi pada peringatan HPSN 2019, program Nyasab yang dikelola oleh komunitas Eco Transport bekerjasama dengan beberapa komunitas ini melakukan kegiatan bersepeda dan edukasi lingkungan tentang pengelolaan sampah kepada para pelajar bagaimana menjaga dan merawat lingkungan khususnya masalah sampah.

“Untuk HPSN 2019 ini, kami dengan beberapa komunitas dan Greeners melakukan acara edukasi lingkungan tentang pengelolaan sampah untuk menambah ilmu para pelajar terhadap lingkungan. Kami mencoba untuk memberikan pemahaman dan arahan kepada mereka untuk menjadi penerus generasi yang bisa merawat bumi dengan baik dari hal kecil, seperti tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah, dan mengurangi emisi dengan cara bersepeda,” ujar Windu kepada Greeners seusai acara di Work Coffee, Bandung, Sabtu (23/02/2019).

Windu mengatakan bahwa program Pelajar Nyasab ini rutin dilakukan pada hari Sabtu setiap minggu dan sudah berjalan selama dua bulan. Program ini bertujuan untuk mengajak para pelajar menggunakan sepeda dalam aktivitas sehari-hari dan wahana rekreasi.

pelajar nyasab

Foto: greeners.co/Dewi Purningsih

Program Pelajar Nyasab ini juga didukung oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung. Kepala Dishub Didi Ruswandi mengatakan bersepeda merupakan bagian dari aktivitas peduli lingkungan. Menurut Didi, kegiatan bersepeda di Bandung ingin dijadikan budaya yang populer di kalangan anak muda.

“Di SDGs saja bersepeda masuk dalam 17 tujuan, hal ini menandakan sepeda merupakan program multisektor. Maka itu, kita ingin buat bersepeda ini menjadi budaya populer dengan pendekatan yang asyik, seperti mendatangi suatu tempat edukasi untuk menambah ilmu pengetahuan. Salah satunya mendatangi acara edukasi tentang sampah sekaligus untuk memperingati HPSN 2019,” kata Didi.

Rahmat, salah satu guru yang ikut mendampingi acara Pelajar Nyasab, mengatakan bahwa acara Pelajar Nyasab ini sangat bagus karena memberikan pembelajaran dan pemahaman tentang hidup ramah lingkungan dengan tidak memberikan polusi di bumi.

“Sekolah yang hadir pada acara ini merupakan sekolah peraih Adhiwiyata, sekolah yang peduli terhadap lingkungan. Dengan mengikuti acara ini, mindset anak-anak semakin terbentuk dengan edukasi memilah dan mengolah sampah dari Greeners, jadi anak-anak mengetahui seberapa membahayakannya persoalan sampah ini,” ujar Rahmat.

Sebagai informasi, acara Pelajar Nyasab digelar untuk memperingati HPSN 2019. Acara ini didukung oleh komunitas dan pemerintah di antaranya Gerakan Pungut Sampah, Cleanaction, #DisiplinSukajadi, Work Coffee, Dinas Perhubungan Kota Bandung, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta Greeners.co.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/peringati-hpsn-2019-seratus-pelajar-kota-bandung-ikuti-kegiatan-nyasab/feed/ 0
Bersepeda sambil Berkebun? Bisa! https://www.greeners.co/ide-inovasi/bersepeda-sambil-berkebun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bersepeda-sambil-berkebun https://www.greeners.co/ide-inovasi/bersepeda-sambil-berkebun/#comments Sat, 16 Sep 2017 11:48:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=18610 Menyiasati ruang terbuka hijau yang kian terbatas, sebuah firma arsitektur di Beijing mendesain kebun berjalan menggunakan sepeda untuk menciptakan komunitas yang saling berbagi tanggung jawab atas perkembangan bibit tanaman mereka.]]>

Menyiasati ruang terbuka hijau yang kian terbatas, firma arsitektur Beijing, People’s Industrial Design Office (PIDO) telah mendesain kebun berjalan menggunakan sepeda untuk menciptakan komunitas yang saling berbagi tanggung jawab atas perkembangan bibit tanaman mereka.

Dilansir Dezeen, kebun berjalan bernama Bike Share Farm ini diciptakan untuk menyiasati kekurangan ruang terbuka yang dialami kota-kota besar – termasuk Beijing, khususnya untuk ruang untuk menumbuhkan tanaman yang bisa dikonsumsi.

berkebun

Bike Share Farm rancangan People’s Industrial Design Office (PIDO). Foto: Dezeen.com

Kebun ini memakai sistem hidroponik dengan rangka baja berbentuk segitiga yang ditopang oleh dua sepeda. Pipa-pipa diurutkan mengikuti rangka, lengkap dengan lubang tempat bibit akan ditanam. Tidak lupa panel surya juga disematkan guna memberi energi kepada pompa yang akan mengaliri air ke seluruh sistem hidroponik.

Rangkanya juga dibuat fleksibel, sepeda yang menjadi penopang bisa diganti dan dilepas dengan tujuan banyak pesepeda baru yang turut terlibat dan bertanggung jawab membawa kebun ini mengelilingi kota.

“Kebun kota memang tersedia di kota-kota besar, namun hanya segelintir orang yang memiliki akses kepada kebun tersebut,” ujar co-founder PIDO James Shen seperti dikutip Dezeen. “Bike Share Farm menggabungkan kegiatan bersepeda dan berkebun di kota. Kebun vertikal dan bergerak sangat dibutuhkan di kota-kota padat seperti Seoul dan Beijing.”

berkebun

Bike Share Farm rancangan People’s Industrial Design Office (PIDO). Foto: Dezeen.com

Dengan struktur yang ringan dan mudah dikendarai, Shen berharap Bike Share Farm bisa mendorong komunitas-komunitas kota untuk lebih terlibat dalam kegiatan berkebun dan menawarkan kesempatan kepada orang-orang untuk terlibat.

“Kami membayangkan, orang akan bersepeda ke lokasi Bike Share Farm, mengaitkan sepeda mereka dan membawa kebun tersebut ke lokasi berbeda. Hal tersebut akan membuat Bike Share Farm tersebar di seluruh kota,” tutup Shen.

Penulis: MFA/G41

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/bersepeda-sambil-berkebun/feed/ 1
Sepeda Penyedot Polusi https://www.greeners.co/ide-inovasi/sepeda-penyedot-polusi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sepeda-penyedot-polusi https://www.greeners.co/ide-inovasi/sepeda-penyedot-polusi/#respond Sun, 04 Jun 2017 15:21:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=17182 Daan Roosegaarde telah mendorong banyak orang untuk menemukan solusi yang inovatif memerangi polusi udara melalui Smog Free Project hasil inisiatifnya. Inovasi terbarunya kali ini adalah sepeda penyedot polusi udara.]]>

Daan Roosegaarde telah berkeliling di Cina bersama proyeknya Smog Free Project. Selama di sana dia juga memamerkan Smog Free Tower dan mendorong banyak orang untuk menemukan solusi yang inovatif memerangi polusi udara.

Tidak berhenti pada menara buatannya, Daan Roosegaarde masih memiliki banyak ide lainnya, salah satunya adalah sepeda penyedot polusi udara. Sepeda-sepeda ini berfungsi seperti proyek Smog Free Towernya, menyedot udara kotor, membersihkannya kemudian mengeluarkan kembali udara yang sudah bersih.

Bersepeda di kota yang penuh dengan polusi udara tidaklah menyehatkan, sehingga orang semakin malas menggunakan sepeda dan makin terikat dengan mobil sebagai alat transportasi. Alat buatan Daan Roosegaarde adalah sebuah jawaban untuk permasalahan itu, sebuah sepeda yang bisa menyedot udara kotor, membersihkannya dan kemudian mengalirkan udara bersih di sekitar pesepeda.

sepeda penyedot polusi

Foto: Studio Roosegaarde via Inhabitat.com

Dalam pernyataannya seperti dilansir Inhabitat.com, Roosegaarde berkata bahwa Beijing tadinya merupakan ikon kota sepeda. “Kami ingin mengembalikan kembali sepeda sebagai bagian dari ikon budaya di Cina dan satu langkah lebih maju menuju kota bebas polusi udara.”

Konsep sepeda ini sejalan dengan meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap program berbagi sepeda di Cina, salah satunya bernama Mobike, yang telah memiliki satu juta sepeda yang bisa disewa di sekitar Beijing. Walau masih jauh perjalanan untuk mengurangi polusi udara dan mengurangi kemacetan di ibukota negara tersebut, namun sepeda penyedot polusi ini bisa menawarkan pendekatan yang kreatif terhadap masalah tersebut.

Sepeda Smog Free buatan studio Roosegaarde bermula dari kegiatan yang dilakukan di museum seni kontemporer M Woods di Beijing. Kegiatan tersebut menghadirkan Profesor Yang dari Universitas Tsinghua bersama seniman Matt Hope, yang bekerjasama untuk mewujudkan ide sepeda yang dilengkapi dengan pembersih udara sekitar 4 tahun yang lalu.

Menurut studio Roosegaarde, sepeda Smog Free ini masih baru di tahap pertama namun ditujukan agar menjadi media untuk kota yang bebas polusi. Menciptakan udara bersih hanya dengan bersepeda dan menciptakan dampak dalam skala urban yang lebih besar.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/sepeda-penyedot-polusi/feed/ 0
Hotel Khusus untuk Sepeda https://www.greeners.co/ide-inovasi/hotel-khusus-sepeda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hotel-khusus-sepeda https://www.greeners.co/ide-inovasi/hotel-khusus-sepeda/#respond Thu, 29 Dec 2016 08:33:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=15537 Eropa adalah negeri yang memanjakan para pesepedanya. Salah satu ikon untuk pesepeda terbaru kini terdapat di Norwegia, yaitu dengan adanya hotel khusus untuk sepeda Lilestrom Bicycle Hotel.]]>

Eropa adalah negeri yang memanjakan para pesepedanya. Salah satu ikon untuk pesepeda terbaru kini terdapat di Norwegia. Sebuah hotel baru bernama Lilestrom Bicycle Hotel didirikan di seberang stasiun kereta di Lillestrom, tak jauh dari kota Oslo. Hotel ini menambah datar petualangan bersepeda di Norwegia.

Norwegian National Railways merupakan pemilik Bicycle Hotel. Hotel ini tidak dimaksudkan untuk komunitas eksklusif, melainkan ditujukan sebagai ruang publik. Mereka menyediakan sekitar 460 meter per segi tempat penyimpanan sepeda yang terlindung dari cuaca.

sepeda

Foto: Ibrahim Elhayawan and Dawid Nowak/inhabitat.com

Tujuan dibangunnya hotel tersebut tentu saja agar kegiatan bersepeda semakin nyaman dilakukan oleh mereka yang berkomuter di sekitar kota tersebut. Fasilitas serupa bahkan semakin banyak ditemukan di dekat stasiun kereta di negara yang ramah pesepeda ini. Lillestrom Bicycle Hotel dibuka di kota yang sudah berkali-kali disebut sebagai kota untuk pesepeda terbaik di Norwegia.

Proyek hotel untuk sepeda ini dirancang oleh Various Architects AS, berkolaborasi dengan ROM Eiendom AS dan Norwegian National Railways. Selain sebagai tempat menginap untuk sepeda, hotel ini juga menawarkan ruang terbuka hijau di bagian atapnya lengkap dengan ram dan kursi-kursi untuk duduk dan menikmati pemandangan kota di bawahnya. Taman atap ini juga tersambung dengan lapangan utama di depan stasiun kereta.

sepeda

Bagian atap dari Lillestrom Bicycle Hotel dirancang sedemikian rupa untuk memberikan insulasi dan menyerap air hujan. Foto: Ibrahim Elhayawan and Dawid Nowak/inhabitat.com

Dari luar bangunan ini terlihat sederhana. Lillestrom Bicycle Hotel dirancang sebagai sebuah kotak kaca dengan bagian atap terbuat dari kayu. Bangunan dengan dinding kaca yang transparan ini memungkinkan cahaya alami memenuhi interior bangunan sepanjang hari tanpa cahaya tambahan elektronik. Di antara panel kaca di dinding terdapat celah yang memungkinkan penghawaan alami tanpa sistem yang rumit. Oleh karenanya, Lillestrom Bicycle Hotel menjadi sebuah bangunan yang akrab namun terbuka dan dilengkapi ruang terbuka untuk publik.

Pada bagian taman di atapnya ditanam semak-semak berbunga yang menyerap air hujan dan memberikan insulasi dari temperatur di luar bangunan. Solusi tersebut diterapkan untuk menekan efek cuaca ekstrim baik panas maupun dingin. Pemakaian dinding kaca di bangunan serta penghawaannya yang alami, konsumsi energi bangunan ini sangat rendah dan hanya membutuhkan sedikit energi untuk pencahayaan di malam hari.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/hotel-khusus-sepeda/feed/ 0
Sepeda untuk Isi Ulang Daya Gawai Hadir di Bandung https://www.greeners.co/ide-inovasi/sepeda-isi-ulang-daya-gawai-hadir-bandung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sepeda-isi-ulang-daya-gawai-hadir-bandung https://www.greeners.co/ide-inovasi/sepeda-isi-ulang-daya-gawai-hadir-bandung/#respond Tue, 27 Dec 2016 07:58:29 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=15524 Setelah Paris dan Amsterdam, kini Bandung memiliki Bike for Charge. Sepeda yang dibuat khusus untuk menghasilkan daya listrik ini resmi diluncurkan di Taman Film Bandung.]]>

Bandung (Greeners) – Dewasa ini penggunaan gawai seperti telepon pintar, komputer jinjing, atau tablet, sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Tidak jarang, pengguna gawai kesulitan untuk mengisi ulang daya listrik pada gawai ketika berada di ruang publik yang minim ketersediaan port listrik saat tidak membawa baterai atau penyimpan daya tambahan.

Hal ini menjadi latar belakang para mahasiswa dari tim laboratorium Information and Autonomous Control System Laboratory (INACOS) Telkom University bekerjasama dengan Schneider Electric Campus Ambassador, untuk menciptakan sebuah pusat pengisian ulang baterai berkonsep sepeda kayuh di taman kota dengan nama Bike for Charge. Ide tersebut secara resmi diluncurkan di Taman Film Bandung, pada Minggu (18/12) lalu, dengan nama proyek Bandung Park Charging Station.

Proyek Bandung Park Charging Station ini bertujuan untuk membuat satu alat yang dapat menghasilkan listrik dengan memanfaatkan energi kinetik yang dihasilkan dari kegiatan bersepeda atau pemanfaatan panel surya.

“Selama ini masyarakat menggunakan listrik itu sesuka hatinya, kita pakai dan kita bayar. Padahal diluar itu, sebenarnya listrik perlu di manage dengan bijak. Alat ini akan memberikan pesan bahwa untuk dapat listrik itu susah dan perlu ada usaha,” ujar Zanuar Galang, Ketua Panitia Grand Launching Bandung Park Charging Station saat ditemui Greeners usai acara.

bike for charge

Pengunjung Taman Film Bandung kini dapat mengisi daya listrik untuk gawai mereka dengan memanfaatkan Bike for Charge. Foto: greeners.co/ANP

Dalam acara tersebut, tim laboratorium INACOS memaparkan cara kerja Bike for Charge yang terinspirasi dari proyek yang sama dan diterapkan di Paris dan Amsterdam tersebut.

Seperti layaknya bersepeda, pengguna gawai mengayuh pedal Bike for Charge. Secara otomatis energi kinetik yang dihasilkan diubah menjadi listrik yang mampu mengisi ulang baterai telepon pintar atau gawai lainnya. Bike for Charge memiliki kapasitas dua tempat duduk dengan satu pedal kayuhan yang dapat menghasilkan tenaga listrik pada kapasitas 1 hingga 2,1 Ampere.

Selama alat dikayuh, listrik akan teraliri sesuai energi yang dikeluarkan. Saat berhenti mengayuh, sisa listrik hasil energi kinetik tersebut akan tersimpan dalam penyimpan energi, walaupun dalam waktu yang tidak cukup lama.

“Bike for Charge masih berupa prototipe dan perlu langkah penyempurnaan, selain itu biaya pembuatannya sendiri masih di kisaran 4 juta rupiah per unit. Semoga pengembangan berikutnya dapat mengurangi biaya produksi dan dibuat secara massal di kemudian hari,” kata Galang.

Dengan proyek ini, Galang berharap alat ini mendapat dukungan dari masyarakat dan masyarakat dapat memanfaatkan alat tersebut dengan baik karena alat ini nantinya akan mengedukasi publik terhadap pentingnya manajemen energi dalam kehidupan sehari-hari.

“Masyarakat dapat menikmati fasilitas charging station ini secara gratis dengan syarat mereka sendirilah yang menyediakan listriknya dengan cara mengayuh, sehingga ada kesan bahwa butuh usaha untuk menghasilkan energi listrik sekalipun untuk mencharge baterai smartphone,” kata Galang.

Salah satu pengunjung, Astrid Khairunisa Pramanda, mahasiswa Telkom University jurusan Ilmu Komunikasi, mengapresiasi karya tersebut. Menurutnya, Bike for Charge dapat memotivasi masyarakat untuk berkunjung ke ruang publik seperti taman kota.

“Biasanya kan orang-orang pada malas ke taman-taman salah satunya karena enggak ada tempat buat charge gadget. Dengan adanya ini (Bike for Charge) kan bisa jadi fasilitas tambahan buat tempat nongkrong, sambil ngecharge juga bisa sambil olahraga,” ujar Astrid.

Ia juga berharap Bike for Charge dapat diaplikasikan di berbagai ruang publik lainnya agar masyarakat memiliki keinginan untuk menikmati ruang publik selain pusat perbelanjaan.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/sepeda-isi-ulang-daya-gawai-hadir-bandung/feed/ 0
Program BOSEH Dorong Transportasi yang Lebih Humanis https://www.greeners.co/aksi/program-boseh-dorong-transportasi-lebih-humanis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=program-boseh-dorong-transportasi-lebih-humanis https://www.greeners.co/aksi/program-boseh-dorong-transportasi-lebih-humanis/#respond Tue, 27 Sep 2016 11:44:34 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=14822 Lebih dari 800 pesepeda memeriahkan peluncuran program BOSEH “Bike On The Street, Everybody Happy” yang diselenggarakan pada Jumat (23/9) di Kota Bandung.]]>

Bandung (Greeners) – Lebih dari 800 pesepeda memeriahkan peluncuran program BOSEH “Bike On The Street, Everybody Happy” yang diselenggarakan pada Jumat (23/9). Peserta datang dari berbagai lapisan masyarakat mulai dari pemerintah, komunitas, korporasi, dan sekolah di Kota Bandung.

Kegiatan ini diawali dengan parade bersepeda dengan titik awal di Pendopo Walikota Bandung menuju ke Terminal Leuwi Panjang yang dipimpin oleh Istri Walikota Bandung Atalia Ridwan Kamil. Perjalanan dengan jarak 3 kilometer ini ditempuh hanya dalam waktu 15 menit. Selain bersepeda, rombongan BOSEH juga mengajak warga untuk menjadikan sepeda sebagai opsi moda transportasi di dalam kota.

“Program BOSEH ini menunjukan bahwa bersepeda itu tidak hanya bisa dilakukan pribadi, tapi juga massal. Ini membuat semua orang bahagia,” katanya.

Atalia juga menjelaskan bahwa antusiasme masyarakat sangat tinggi dilihat dari keterlibatan berbagai elemen masyarakat yang ikut turun bersepeda di jalan dan sepakat bahwa bersepeda menjadi salah satu solusi membuat Bandung menjadi kota yang nyaman.

Komitmen Pemerintah Kota Bandung untuk mendorong lebih luasnya penggunaan moda transportasi nol emisi ini ditunjukan dengan konsistensi para pemimpin di lingkup pemerintahan untuk menjadi teladan dan selalu menyuarakan kampanye bersepeda ini. “Pak Ridwan Kamil dan segenap jajarannya telah secara kontinyu menggunakan sepeda,” tambah Atalia.

program boseh

Foto: greeners.co/Gede Surya Marteda

Komite Bandung Ecotransport, Cucu Hambali, menjelaskan bahwa program BOSEH ini merupakan bagian dari cita-cita Kota Bandung menuju transportasi yang lebih humanis. “Ini juga persiapan untuk kota Bandung menjadi kota wisata sepeda,” ujarnya.

Kota Bandung memang menargetkan untuk bisa memulai wisata sepeda di akhir tahun 2016 ini. Menurut Cucu, sudah ada beberapa obyek wisata dan perhotelan yang tertarik untuk menjadi bagian dari program tersebut. “Tahun ini sudah siap untuk dimulai,” katanya.

Penambahan Infrastruktur Persepedaan

Terkait infrastruktur sepeda di Kota Bandung, Cucu mengatakan bahwa perubahan positif mulai terlihat. Jalur sepeda telah dibangun di beberapa ruas jalan utama kota Bandung walaupun penggunaannya masih belum optimal. “Dinas Perhubungan rencananya akan membangun beberapa infrastruktur seperti shelter dan bike share,” tambah Cucu.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung, Didi Ruswandi. “Tahun ini kita akan menambah shelter sepeda di 30 titik dari rencana penambahan 100 titik di Kota Bandung,” ujar Didi. Masing-masing shelter akan diisi dengan sekitar 10 sepeda sehingga jumlah sepeda baru yang akan ditambahkan di tahun ini mencapai 360 unit sepeda.

Program BOSEH ini merupakan salah satu mata acara dari gelaran Bandung Transport Festival (BTF) yang diselenggarakan tanggal 23 – 25 September 2016. BTF adalah gelar aksi teladan, kebersamaan, gotong royong dengan kolaborasi berbagai elemen masyarakat sebagai sarana komunikasi intensif menuju transportasi humanis di Kota Bandung, dengan spektrum keselamatan dan pelayanan.

Berbagai teknologi dan inovasi di bidang transportasi ditampilkan pada sesi pameran BTF. Mulai dari transportasi publik ramah lingkungan, teknologi manajemen transportasi, hingga moda transportasi terkini dipamerkan dalam 3 hari rangkaian kegiatan yang diselenggarakan di Terminal Leuwi Panjang ini.

Penulis: Gede Surya Marteda

]]>
https://www.greeners.co/aksi/program-boseh-dorong-transportasi-lebih-humanis/feed/ 0
Program Berbagi Sepeda Bawa Dampak Positif Bagi Portland https://www.greeners.co/ide-inovasi/program-berbagi-sepeda-bawa-dampak-positif-bagi-portland/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=program-berbagi-sepeda-bawa-dampak-positif-bagi-portland https://www.greeners.co/ide-inovasi/program-berbagi-sepeda-bawa-dampak-positif-bagi-portland/#respond Tue, 20 Sep 2016 10:52:21 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=14762 Saat sepeda dari program Biketown siap dipakai bulan lalu, orang-orang yang tadinya sangsi bersepeda akhirnya mencoba, lagi dan lagi.]]>

Pada awalnya sama sekali tidak terlintas dalam pikiran masyarakat di Portland bahwa program berbagi sepeda akan muncul di kota mereka. Sampai kemudian raksasa peralatan olahraga Nike datang ke kota Portland dan menjadi sponsor kegiatan Biketown, program berbagi sepeda di Portland yang kemudian mulai berjalan.

Saat sepeda dari program Biketown yang berwarna oranye terang itu siap dipakai bulan lalu, orang-orang yang tadinya sangsi bersepeda akhirnya mencoba, lagi dan lagi. Berikut ini lima fakta mengejutkan dari program berbagi sepeda yang lama diwujudkan namun sudah menciptakan dampak yang besar.

1. Hanya dalam tempo satu bulan, sepeda tersebut telah digunakan sebanyak 59.000 kali oleh turis maupun penduduk sekitarnya dengan total jarak yang dijelajahi sebanyak 218.000 km. Hal ini sangat menarik mengingat Portland sendiri terkenal karena memiliki banyak komuter bersepeda sehingga diasumsikan punya sepeda sendiri. Saat ini sudah ada 2.000 warga Portland yang terdafar sebagai anggota pemakai Biketown dengan biaya $12 tiap bulannya.

berbagi sepeda

Foto: April Streeter/Treehugger.com

2. Walaupun disponsori oleh Nike, namun merk sponsornya tidak dicantumkan secara besar-besaran. Banyak perusahaan besar yang menjadi sponsor kegiatan berbagi sepeda, bukan hanya sebagai pemberi dana awal untuk kegiatan tersebut namun juga untuk menjaga agar kegiatan ini tetap ada.

Portland telah menghabiskan sekitar 26 miliar rupiah dalam bentuk bantuan pemerintah untuk membeli sepedanya namun bantuan dari Nike sebesar 130 miliar rupiah dalam bentuk sponsor selama 5 tahun yang membuat program ini bisa menambah jumlah sepeda dan memperluas jaringan pelayanannya. Namun logo khas Nike hanya bisa dilihat di sekitar 10 persen dari jumlah total sepeda tersebut.

3. Turis dan non-komuter juga menggunakan sepeda. Kontras dengan beberapa program berbagi sepeda, aplikasi Biketown di gawai sangat memudahkan kita untuk mulai memakai sepeda tersebut, dengan hanya membayar 32 ribu rupiah untuk sekali jalan atau 150 ribu untuk meminjam seharian. Warna sepeda yang mencolok adalah sebuah magnet untuk turis juga penduduk yang tadinya enggan bersepeda.

berbagi sepeda

Foto: April Streeter/Treehugger.com

4. Popularitas Biketown berhasil mengangkat pamor Portland. Di kota yang berkembang dengan jumlah rumah yang selalu kurang dibanding jumlah penduduk dan lalu lintas yang padat, kepopuleran Portland sebagai tempat yang nyaman untuk bersepeda mulai terancam. Dua tahun lalu saat kota Minneapolis mengambil “tahta” Portland sebagai kota yang paling nyaman untuk bersepeda, kenyataan itu sangat menyakitkan. Namun sekarang keadaannya berbalik lagi.

5. Teknologi yang mempermudah pesepeda. Tidak mengagetkan bahwa program berbagi sepeda banyak yang kurang matang perencanaannya. Kadang aplikasi di gawainya yang bermasalah, kadang juga sepedanya yang bermasalah. Namun Biketown sangat berbeda, aplikasinya berjalan baik dan sepedanya sangat menyenangkan untuk dikendarai. Layar bertenaga surya di bagian belakang sepeda sangat memudahkan kita dalam mengatur pemakaiannya. Dengan warna yang mencolok, sehingga keberadaannya di sekitar tempat makan/cafe/tempat istirahat lainnya sangat terlihat dan menjadi sesuatu yang bernilai lebih untuk masyarakat.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/program-berbagi-sepeda-bawa-dampak-positif-bagi-portland/feed/ 0