Mudik Gowes, Yuk Intip Persiapan yang Harus Dilakukan!

Reading time: 2 menit
Mudik sambil gowes tentu menyenangkan, ramah lingkungan tapi tetap butuh persiapan matang ya! Foto: Shutterstock

Bandung (Greeners) – Pandemi Covid-19 membuat antusiasme masyarakat terhadap kegiatan bersepeda meningkat. Tak ayal jika kini masyarakat mulai menjadikan sepeda sebagai alat transportasi. Salah satunya sepeda menjadi sarana transportasi mudik ke kampung halaman.

Pengamat transportasi Sony Sulaksono Wibowo menyatakan, mudik menggunakan sepeda bisa menjadi alternatif guna menghindari kemacetan. Ia menyebut, kecepatan rata-rata sepeda bahkan lebih tinggi dibanding mobil di tengah kemacetan perkotaan.

Menurut dia, rata-rata sepeda di perkotaan mencapai 15-18 km/jam. Sementara kecepatan rata-rata mobil di Kota Bandung yaitu 14,3 km/jam. Lalu kecepatan rata-rata kendaraan di Jabodetabek yaitu 19 km/jam. “Artinya bahkan sepeda bisa lebih cepat dibanding mobil karena murni dari tenaga kita, bukan karena kemacetan,” katanya kepada Greeners baru-baru ini.

Sony juga menambahkan, bersepeda dapat mengurangi pencemaran udara. Namun, ia mengingatkan agar para pesepeda memperhatikan pencemaran udara yang kendaraan bermotor hasilkan. “Pencemaran udara ini berimbas pada kesehatan,” ucapnya.

Ia menyebut, para pesepeda atau gowes bisa melakukan beberapa alternatif, mulai dari pemilihan rute yang tak padat lalu lintas. Misalnya melalui jalanan alternatif perdesaan hingga persawahan serta menerapkan pola hidup sehat.

Mudik Bersepeda Perlu Persiapan Matang

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengatakan, kendaraan bermotor berkontribusi terbesar terhadap pencemaran udara di Kota Bandung.

Berdasarkan data KPBB, sumber PM 10 dari kendaraan bermotor yakni sebesar 48,9 %, HC dari kendaraan bermotor yakni sebesar 78 %. PM 2,5 dari kendaraan bermotor sebesar 58,5 %, CO dari kendaraan bermotor yakni sebanyak 76 %. Kemudian NOx kendaraan bermotor sebesar 75,9 % dan SO2 kendaraan bermotor sebesar 75,9 %.

Secara garis besar, pencemaran udara di Kota Bandung telah melampaui baku mutu udara ambien dengan parameter dominan PM 2,5, PM 10 dan O3.

Tak hanya itu, pencemaran udara ini juga berimbas pada penyakit terkait pernapasan yang relatif tinggi di Bandung. Misalnya, ISPA sebesar 26,78 %, pneumonia sebesar 4,90 %, asma sebesar 16,70 % dan jantung koroner sebesar 11,89 %.

“Berdasarkan data Dinas Kesehatan Bandung tahun 2020, pencemaran ini juga berimbas pada pneumonia balita sebanyak 77 % kasus,” ungkapnya.

Kendati demikian, mudik dengan bersepeda jarak jauh membutuhkan persiapan yang matang, baik dari sisi fisik maupun mental.

Siapkan Diri, Mampu dan Terbiasa Bersepeda Jarak Jauh

Dokter Spesialis Jantung Reza Pramayudha menjelaskan, sebelum mudik bersepeda, haruslah terbiasa kegiatan bersepeda dengan intensitas jarak jauh.

Selain itu, ia menyarankan agar pesepeda memeriksakan kesehatan terlebih dahulu untuk memastikan kondisi kesehatan dalam keadaan prima. Penting, sambung dia bagi para pesepeda untuk memperhatikan laju detak jantung saat bersepeda.

Adapun saat bersepeda, jantung akan berdetak lebih cepat karena sedang berusaha memompa darah terus-menerus. Fenomena terkena serangan jantung mendadak saat bersepeda sangat mungkin terjadi.

“Kadang kalau bersepeda terasa ingin mengikuti teman-teman di depan terus ada target juga. Sementara tubuh kita ada batasnya, risiko serangan jantung bisa saja terjadi dan mengancam nyawa,” katanya.

Gunakan Smartwatch untuk Ketahui Detak Jantung

Dokter Reza menyarankan, agar para pesepeda memasang smartwatch yang bisa menghitung detak jantung. Dengan menggunakan parameter penghitungan 220 dikurangi usia seseorang maka bisa tahu maksimal laju detak jantungnya dalam hitungan menit.

“Saat bersepeda dan telah melampaui detak jantung maka harus istirahat. Detak jantung berlebihan dapat merugikan tubuh kita sendiri,” imbuhnya.

Berbagai olahraga seperti kardio, penguatan otot bisa melatih kebugaran sebelum menempuh jarak jauh. Selain itu, Reza juga menyarankan untuk istirahat yang cukup dan memiliki pola makan tinggi protein, rendah garam dan rendah lemak.

“Gaya hidup sehat berupa istirahat dan makanan bergizi juga perlu diterapkan, agar para pegowes tetap bugar dan selamat sampai tujuan,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page