virus - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/virus/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 09 Oct 2023 05:48:51 +0000 id hourly 1 Waspada Virus Adenovirus, Kenali Gejala dan Pencegahannya https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-virus-adenovirus-kenali-gejala-dan-pencegahannya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waspada-virus-adenovirus-kenali-gejala-dan-pencegahannya https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-virus-adenovirus-kenali-gejala-dan-pencegahannya/#respond Mon, 09 Oct 2023 05:48:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=41901 Putra kedua Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, Rayyanza Malik Ahmad alias Cipung baru-baru ini dikabarkan terjangkit adenovirus. Melalui video yang diunggah di kanal YouTube RANS Entertainment pada Jumat (6/10), Nagita menceritakan […]]]>

Putra kedua Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, Rayyanza Malik Ahmad alias Cipung baru-baru ini dikabarkan terjangkit adenovirus. Melalui video yang diunggah di kanal YouTube RANS Entertainment pada Jumat (6/10), Nagita menceritakan pengalamannya menginap di rumah sakit untuk menemani anak keduanya tersebut.

Keadaan Rayyanza tersebut bermula dari gejala demam tinggi hingga 40 derajat. Nagita pun segera membawanya ke rumah sakit untuk menjalani rontgen paru-paru. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan paru-paru, dokter menemukan radang di paru-paru akibat infeksi adenovirus. Rayyanza pun harus bermalam di rumah sakit hingga keadaannya membaik.

Seperti apa adenovirus itu? Simak penjelasan gejala, penyebab, dan cara pencegahan adenovirus berikut ini!

Pengertian Adenovirus 

Dilansir Cleveland Clinic, Minggu (8/10), adenovirus merupakan sekelompok virus yang dapat menyebabkan infeksi ringan hingga parah di seluruh tubuh. Infeksi adenovirus yang paling sering ialah memengaruhi sistem pernapasan.  

Virus tersebut dapat memicu beragam infeksi mirip pilek atau flu. Selain itu, adenovirus juga dapat menyerang kelompok masyarakat dari segala usia. Meski begitu, penyakit ini paling sering terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Sementara itu, penyebaran adenovirus pada bayi dan anak kecil sering terjadi di tempat penitipan anak. 

BACA JUGA: Virus Nipah: Kenali Gejala, Penularan, dan Pencegahannya!

Bayi dan anak-anak dalam situasi ini melakukan kontak dekat satu sama lain. Mereka juga lebih cenderung memasukkan benda ke dalam mulutnya dan cenderung tidak sering mencuci tangan. Penyebaran adenovirus pada orang dewasa dapat terjadi di lingkungan yang ramai. Apabila Sobat Greeners memiliki sistem kekebalan yang lemah, kemungkinan besar akan sakit parah akibat infeksi virus tersebut. 

Adenovirus merupakan sekelompok virus yang dapat menyebabkan infeksi ringan hingga parah di seluruh tubuh. Foto: American Thoracic Society

Adenovirus merupakan sekelompok virus yang dapat menyebabkan infeksi ringan hingga parah di seluruh tubuh. Foto: American Thoracic Society

Tanda dan Gejala Adenovirus 

Gejala dari infeksi adenovirus biasanya akan muncul pada kurang lebih 2-14 hari setelah seseorang terpapar virus. Pada orang sehat atau dengan kondisi imunitas yang normal, infeksi virus ini umumnya menyebabkan gejala yang cukup ringan. 

Gejala yang lebih berat biasanya dialami orang dengan kondisi sistem imun yang lemah. Infeksi adenovirus yang paling umum adalah infeksi di saluran pernapasan. Kondisi ini akan mengakibatkan gejala mirip flu. 

Dilansir WebMD, beberapa gejala yang bisa timbul pada infeksi adenovirus di antaranya bronkitis, pilek, krup (Croup), infeksi telinga, mata merah muda, pneumonia, dan sebagainya. Infeksi virus ini jarang menimbulkan dampak yang fatal, seperti komplikasi atau kematian. Sebagian besar orang yang terinfeksi mengalami gejala selama 5-6 hari.

BACA JUGA: Kenali Bahaya ISPA dan Cara Mencegahnya

Pada orang dengan imunitas normal, infeksi adenovirus merupakan self-limited disease, yakni penyakit bisa sembuh dengan sendirinya. Meski begitu, risiko komplikasi cenderung lebih besar dialami oleh orang dengan kelainan sistem imun, penyakit pernapasan kronis, dan gangguan jantung. Dalam kondisi ini, infeksi bahkan bisa memengaruhi sistem saraf.

Penyebab Adenovirus

Adenovirus ialah kelompok virus yang umum menginfeksi manusia dan hewan. Terdapat sekitar 49 jenis adenovirus yang dapat menginfeksi manusia. Virus ini bisa menginfeksi setiap saat dan ada di berbagai belahan dunia.

Tak hanya itu, infeksi virus dari kelompok adenovirus pada manusia bisa memengaruhi berbagai organ dan menimbulkan berbagai penyakit seperti berikut.

1. Gangguan saluran pernapasan atas seperti flu, faringitis (radang tenggorokan), dan pembengkakan kelenjar getah bening.

2. Gangguan saluran pernapasan bawah berupa peradangan di paru-paru seperti bronkitis dan penumonia.

3. Gastroenteritis, yakni peradangan lambung atau usus.

4. Infeksi mata seperti konjungtivitis.

5. Infeksi saluran kemih, tapi lebih jarang terjadi.

Sebagian besar infeksi virus ini bersifat self-limiting atau dapat berhenti dengan sendirinya. Walau demikian, infeksi yang lebih parah umumnya pada orang dengan kondisi sistem imun yang lemah.

Meski begitu, menurut American Thoraic Society, adenovirus di dalam tubuh seseorang yang sudah tidak aktif menginfeksi (laten) bisa mengalami reaktifasi dan memunculkan gejala kembali. Kondisi ini berisiko terjadi pada tubuh dengan sistem kekebalan yang lemah.

Cara Mencegah Penularan Adenovirus 

Ada beberapa cara yang dapat Sobat Greeners lakukan untuk mencegah risiko penularan virus ini. Di antaranya sebagai berikut.

1. Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir selama 20 detik.

2. Hindari terlalu sering menyentuh wajah dengan tangan yang kotor.

3. Tinggal di rumah atau melakukan karantina diri saat sakit.

4. Menghindari kontak dekat dengan orang yang sakit.

5. Menerapkan etika batuk dan bersin dengan menutup mulut dan hidung.

6. Hindari menggunakan alat makan secara bergantian dengan orang lain.

Apabila kamu mengalami keluhan yang menandakan infeksi adenovirus dan gejala semakin parah, segera konsultasi dengan dokter untuk memperoleh solusi terbaik.

 

Penulis: Maula Sulthoni

Editor: Indiana Malia

 

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-virus-adenovirus-kenali-gejala-dan-pencegahannya/feed/ 0
Virus Nipah: Kenali Gejala, Penularan, dan Pencegahannya! https://www.greeners.co/gaya-hidup/virus-nipah-kenali-gejala-penularan-dan-pencegahannya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=virus-nipah-kenali-gejala-penularan-dan-pencegahannya https://www.greeners.co/gaya-hidup/virus-nipah-kenali-gejala-penularan-dan-pencegahannya/#respond Wed, 27 Sep 2023 04:23:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=41700 Belum usai dunia dilanda pandemi Covid-19, masyarakat kembali heboh dengan kehadiran jenis virus yang mengakibatkan kasus dua kematian warga di Kerala, India. Ya, virus bernama Nipah (NiV) tersebut membuat ratusan […]]]>

Belum usai dunia dilanda pandemi Covid-19, masyarakat kembali heboh dengan kehadiran jenis virus yang mengakibatkan kasus dua kematian warga di Kerala, India. Ya, virus bernama Nipah (NiV) tersebut membuat ratusan orang wajib untuk melakukan tes massal.

Melansir Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, virus Nipah merupakan salah satu jenis virus yang dapat menyerang hewan dan manusia. Keberadaan virus tersebut belum terdeteksi di Indonesia hingga saat ini. Namun, beberapa kasus infeksi virus tersebut sudah terkonfirmasi di negara yang berdekatan dengan Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah meminta masyarakat untuk lebih waspada terhadap virus yang diduga mudah menular ini.

Simak penjelasan gejala, penularan, dan cara pencegahan virus Nipah berikut ini!

Asal-usul Kemunculan Virus Nipah

Virus ini pertama kali teridentifikasi pada tahun 1998-1999. Saat itu, terdapat laporan wabah yang menyerang kalangan peternak babi di sebuah desa di Sungai Nipah, Malaysia. Kemudian, wabah itu berdampak hingga Singapura.

Selain itu, beberapa jenis hewan menunjukkan gejala demam, sulit bernafas, dan kejang. Dari kejadian wabah tersebut, tercatat ada 276 kasus terkonfirmasi dengan 106 kematian.

BACA JUGA: Langkah Antisipasi Paparan Virus Saat Kumpul Bersama

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus tersebut berasal dari kelelawar buah yang menular ke babi saat terjadi penebangan hutan secara besar-besaran. Hal itu menyebabkan populasi kelelawar berpindah mendekati area peternakan. Ternak babi yang telah terinfeksi dapat menularkan virus ke peternak, dan peternak pun dapat menularkannya ke sesama manusia.

Sementara itu, virus tersebut juga menyerang sejumlah warga di Bangladesh pada 2001. Sejak itu, wabah ini hampir setiap tahun menyerang negara setempat, termasuk India yang letaknya berdekatan dengan negara ini.

Ilustrasi kelelawar sebagai penular virus Nipah. Foto: WHO

Ilustrasi kelelawar sebagai penular virus Nipah. Foto: WHO

Tanda dan Gejala Virus Nipah

Virus ini memiliki masa inkubasi sekitar 4-14 hari. Artinya, seseorang dapat mengalami gejala infeksi virus ini setelah virus tersebut masuk ke tubuhnya dalam kurun waktu tersebut.

Infeksi virus ini dapat menimbulkan gejala ringan yang mirip dengan gejala flu, tetapi bisa juga menimbulkan gejala berat yang berisiko menyebabkan kematian. Saat terinfeksi virus tersebut, seseorang dapat mengalami beberapa gejala.

Melansir Kemenkes RI, ada sejumlah gejala dan tanda-tanda infeksi virus Nipah. Di antaranya demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, sesak nafas, dan muntah.

Pada kasus yang parah, infeksi virus ini bisa menyebabkan peradangan pada otak (ensefalitis). Orang yang menderita ensefalitis akibat infeksi virus ini bisa mengalami gejala berupa mudah mengantuk, sulit fokus dan konsentrasi, serta disorientasi atau tidak bisa mengenal waktu, tempat, dan orang lain, termasuk orang terdekatnya.

Cara Penularan Virus Nipah

Virus Nipah merupakan virus jenis RNA yang termasuk dalam golongan Paramyxovirus. Golongan virus ini juga dapat menyebabkan penyakit lain, seperti pneumonia, gondongan, dan campak. Virus Nipah berasal dari hewan liar, seperti kelelawar pemakan buah (Pteropus sp.) dan hewan ternak, seperti domba, kambing, dan babi yang terinfeksi virus tersebut.

Penularan virus ini dapat terjadi ketika manusia bersentuhan langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti air liur, darah, dan urine.

BACA JUGA: Peneliti Siberia Temukan ‘Virus Zombie’, Mengancam Manusia?

Selain itu, beberapa riset juga menunjukkan bahwa seseorang bisa mengalami gejala infeksi virus ini ketika mengonsumsi daging hewan yang terinfeksi virus Nipah, khususnya daging yang kurang matang.

Tidak hanya dari hewan ke manusia, virus Nipah juga dapat menular antarmanusia. Seseorang bisa terinfeksi virus ini apabila pernah kontak dengan pasien yang terinfeksi virus tersebut.

Cara Mencegah Penularan Virus Nipah

Ada beberapa cara yang dapat Sobat Greeners lakukan untuk mencegah dari risiko penularan virus ini. Di antaranya sebagai berikut.

1. Hindari kontak dengan kelelawar atau hewan ternak yang berisiko tertular virus Nipah. Jika perlu, sobat Greeners bisa memasang jaring di sekitar rumah untuk mencegah kelelawar masuk ke dalam rumah.

2. Cuci bersih sayur dan buah sebelum dikonsumsi, serta hindari konsumsi buah atau sayuran yang kotor dan tampak sudah tergigit oleh binatang.

3. Gunakan alat pelindung diri, seperti sarung tangan, sepatu boots, dan pelindung wajah, saat membersihkan kotoran atau urine hewan.

4. Selalu cuci tangan sebelum dan sesudah berinteraksi dengan hewan atau orang yang sedang sakit, terutama yang memiliki gejala infeksi virus ini.

5. Hindari konsumsi daging kelelawar atau daging hewan ternak yang dimasak kurang matang.

Setelah mengetahui penjelasan yang diperlukan mengenai virus Nipah seperti asal-usul, gejala, cara penularan, serta pencegahannya, Sobat Greeners harus tetap waspada dan selalu menjaga kebersihan dan keamanan. Apalagi, virus ini mudah menular dari hewan atau orang yang terinfeksi, sehingga dianggap berpotensi menjadi pandemi.

 

Penulis: Maula Sulthoni

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/virus-nipah-kenali-gejala-penularan-dan-pencegahannya/feed/ 0
Virus Marburg Menyebar, Epidemiolog : Tingkatkan Kewaspadaan https://www.greeners.co/berita/virus-marburg-menyebar-epidemiolog-tingkatkan-kewaspadaan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=virus-marburg-menyebar-epidemiolog-tingkatkan-kewaspadaan https://www.greeners.co/berita/virus-marburg-menyebar-epidemiolog-tingkatkan-kewaspadaan/#respond Fri, 17 Feb 2023 06:04:27 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39024 Jakarta (Greeners) – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memanggil para ahli di seluruh dunia untuk membahas virus Marburg. Hal ini menyusul penyebaran virus mematikan di Guinea hingga ke komune Olamze, Kamerun, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memanggil para ahli di seluruh dunia untuk membahas virus Marburg. Hal ini menyusul penyebaran virus mematikan di Guinea hingga ke komune Olamze, Kamerun, Afrika.

Dua kasus yang diduga terpapar yakni seorang anak laki-laki dan perempuan berusia 16 tahun, sekitar dua mil dari Guinea. Dua orang tersebut tak memiliki riwayat perjalanan ke Guinea tapi mereka mengeluhkan gejala penyakit ini seperti demam dan muntah darah.

Saat ini di Guinea, sebanyak 16 kasus suspek baru terkait virus ini. Sebelumnya sembilan orang meninggal karena virus Marburg dan 200-an orang harus karantina. Mereka juga menunjukkan tanda-tanda penyakit mematikan ini, termasuk muntah darah dan keluarnya darah dari mata.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menyatakan, meski kasus virus Marburg saat ini masih di angka dua digit tapi masyarakat harus meningkatkan kewaspadaannya.

Angka virus Marburg saat ini jauh daripada kasus di Angola, Afrika Tengah pada tahun 2004-2005 yang mencapai 252 kasus. Namun, temuan dua kasus di Kamerun menjadi sinyal penyebaran tak terdeteksi.

“Karena bagaimanapun masa inkubasi virus ini bisa sampai tiga minggu. Dan artinya ini bisa tidak terdeteksi. Ada strain yang fatal sekali terutama kalau terinfeksi dari penularan jarum suntik, bahkan bisa 90 % kematiannya,” katanya kepada Greeners, Jumat (17/2).

Hal ini diperparah dengan kondisi masyarakat di Afrika yang miskin dan berkembang. “Di negara-negara seperti ini deteksi sangat terbatas, masyarakat yang melaporkan pun belum tentu mau,” imbuhnya.

Aktivitas para peneliti di lab. Kegiatan penelitian terhadap virus jadi sesuatu yang penting. Foto: Freepik

Pentingnya Kesiapsiagaan dari Virus Marbrug

Kemudian dengan masa inkubasi yang lama seiring tingginya arus penerbangan baik dari wilayah di dalam Afrika maupun luar negeri, hal ini harus menjadi perhatian. Dicky menekankan pentingnya kesiapsiagaan Indonesia.

“Penguatan pintu masuk negara dengan melihat riwayat perjalanan. Terlebih kalau dari Afrika maka harus wajib lapor atau kita pastikan tak bergejala,” ucapnya.

Virus Marburg masuk ke dalam daftar virus berpotensi pandemi dengan memiliki spektrum klinis yang tumpang tindih alias mirip dengan virus Ebola.

Virus Marburg ini adalah kelompok filovirus yang sangat menular dan mematikan (mirip dengan virus Ebola) yang pertama kali pada tahun 1967 di Marburg dan Frankfurt, Jerman, dan Beograd, Serbia.

Penyakit ini menular melalui kontak dengan cairan tubuh atau jaringan hewan atau manusia yang terinfeksi. Dengan masa inkubasi 2 hingga 21 hari, virus ini menimbulkan gejala seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan muntah.

Sekitar hari kelima setelah timbulnya gejala, ruam, yang paling menonjol di badan (perut, dada, punggung), dapat terjadi. Saat ini tidak ada pengobatan khusus untuk Marburg. Wabah jarang terjadi, relatif kecil, tetapi sangat fatal, dengan tingkat fatalitas kasus berkisar antara 25 % hingga 90 %.

Ancaman penyakit ini sebagai wabah, cepat atau lambat pasti terjadi. “Saat ini menurut saya belum, namun pada gilirannya, cepat atau lambat bila strategi pengendalian lemah, vaksin dan obat tidak tersedia maka ancaman makin besar untuk dunia,” tandasnya.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/virus-marburg-menyebar-epidemiolog-tingkatkan-kewaspadaan/feed/ 0
Tangkal Kemunculan Virus Baru dengan Konsep One Health https://www.greeners.co/berita/tangkal-kemunculan-virus-baru-dengan-konsep-one-health/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tangkal-kemunculan-virus-baru-dengan-konsep-one-health https://www.greeners.co/berita/tangkal-kemunculan-virus-baru-dengan-konsep-one-health/#respond Sun, 22 May 2022 05:00:21 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36240 Jakarta (Greeners) – Meski pandemi Covid-19 belum berakhir, kewaspadaan terhadap merebaknya ancaman zoonotic virus atau lompatan virus baru dari hewan ke manusia perlu masyarakat tingkatkan. Pola hidup bersih dan sehat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Meski pandemi Covid-19 belum berakhir, kewaspadaan terhadap merebaknya ancaman zoonotic virus atau lompatan virus baru dari hewan ke manusia perlu masyarakat tingkatkan.

Pola hidup bersih dan sehat yang mengarah pada keseimbangan kesehatan manusia, hewan dan lingkungan menjadi penting.

Ahli Kesehatan Lingkungan dan Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan, merebaknya berbagai ancaman virus dari hewan ke manusia mengindikasikan ketidakseimbangan ekosistem alam.

Ia menyebut sudah saatnya masyarakat mengambil banyak pelajaran dari Covid-19 yakni melalui perilaku pola hidup bersih dan sehat. Hal tersebut mengarah pada keseimbangan kesehatan manusia, hewan dan lingkungan.

“Karena tanpa itu dan semakin buruknya ekosistem maka akan membuat potensi lompatan-lompatan virus dari hewan ke manusia. Atau bisa terjadi zoonotic virus hingga menjadi wabah,” katanya kepada Greeners, Sabtu (21/5).

One Health Pendekatan Keseimbangan Manusia, Alam beserta Isinya

Guna mencegah penyebaran virus ke manusia, ia menyarankan menggunakan pendekatan one health. Pendekatan ini mengarah pada keseimbangan kesehatan, hewan, manusia serta lingkungan. Berbagai zoonotic virus mengancam manusia karena eratnya kontak keduanya. Padahal virus dengan mudah menular, baik melalui cairan maupun suplai makanan dari hewan yang terinfeksi.

Ia mendesak pemerintah harus aktif melakukan langkah koordinasi baik di tingkat global maupun nasional untuk memastikan health security. Khususnya terkait potensi zoonotic virus.

Pemerintah juga harus mulai memastikan terkait dengan pemetaan keberadaan virus, perubahan karakter virus, pemetaan kesehatan dan lokasi hewan. Hal yang tak kalah penting yakni edukasi, utamanya pada peternak hingga masyarakat yang sering kontak erat dengan hewan liar.

“Adanya virus baru, penyakit baru ini umumnya adanya kontak antara hewan yang memang rentan dengan manusia, seperti peternak. Harus ada pemberian literasi yang rutin,” ungkapnya.

Jangan Sampai Pandemi Berulang karena Virus Baru

Sebelumnya, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University Prof. Srihadi Agungpriyono mengatakan, konsep one health menjadi kunci penting dalam mengantisipasi sebaran penyakit menular. Penyakit menular bisa terjadi antarmanusia maupun dari hewan ke manusia.

“Keseimbangan antara manusia, hewan, lingkungan dan semesta menjadi faktor utama dalam menciptakan kesehatan masyarakat sebuah negara bahkan dunia atau global health,” katanya.

Di era globalisasi, lalu lintas manusia, hewan hingga barang dengan mudah keluar masuk ke setiap negara. Kondisi itu, secara tidak langsung membuka lalu lintas penyakit menular. Penyebarannya bisa melalui manusia ataupun hewan seperti SARS, MERS, H1N1 dan Covid-19.

Srihadi meyakini akan ada penyakit menular lain dan bisa menjadi pandemi seperti yang terjadi sekarang. Namun hal itu tentunya bisa diantisipasi dengan kolaborasi dengan berbagai ilmu. Semua negara pun harus mengimplementasikan one health.

“Penyakit seperti ini (penyakit menular, virus dan lain-lain) tidak akan berhenti hanya sampai saat ini. Pasti akan ada lagi dan lagi di kemudian hari. Tidak bisa dokter yang berperang sendiri,” imbuhnya.

Ia mengungkapkan, one health ini bukan hal baru. Sejak zaman dahulu banyak yang ingin pemecahan masalah tidak lagi terpilah. Sejak marak penularan SARS, MERS, flu babi, flu burung dan lain-lain sampai saat ini Covid-19. Jadi Perserikatan Bangsa-Bangsa memformalkan istilah itu.

Oleh sebab itu, semua negara harus mengimplementasikan konsep one health jika ingin dunia kembali sehat.

Penulis : Ramadani Wahyu dan Sol

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/tangkal-kemunculan-virus-baru-dengan-konsep-one-health/feed/ 0
Tips Mencegah Virus Corona https://www.greeners.co/gaya-hidup/tips-mencegah-virus-corona/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tips-mencegah-virus-corona https://www.greeners.co/gaya-hidup/tips-mencegah-virus-corona/#respond Sat, 25 Jan 2020 00:41:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=25551 Pencegahan virus corona dapat dilakukan dengan cara mencuci tangan, menggunakan antiseptik, menghindari sentuhan langsung, dan menggunakan masker.]]>

Wabah virus Corona yang terjadi di Kota Wuhan Tiongkok Cina pada 31 Desember 2019 membuat negara-negara di dunia termasuk Indonesia waspada. Corona virus menyebabkan penyakit pernapasan seperti SARS, MERS, atau pneumonia. Penyakit tersebut dapat menyerang siapa pun, tetapi kasus terbanyak terjadi pada balita dan lanjut usia.

Gejala yang biasanya muncul pada penderita di antaranya demam, lemas, batuk kering, sesak hingga kesulitan bernapas. Namun, risiko penyakit lebih tinggi ditemukan pada orang lanjut usia yang memiliki riwayat penyakit lain. Berikut empat cara mencegah penularan virus corona.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tips-mencegah-virus-corona/feed/ 0
Virus Corona Berasal dari Hewan dan Berbeda dengan SARS https://www.greeners.co/berita/virus-corona-berasal-dari-hewan-dan-berbeda-dengan-sars/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=virus-corona-berasal-dari-hewan-dan-berbeda-dengan-sars https://www.greeners.co/berita/virus-corona-berasal-dari-hewan-dan-berbeda-dengan-sars/#respond Fri, 24 Jan 2020 08:24:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=25544 Infeksi virus corona pada manusia disebabkan oleh penularan melalui hewan. Ini termasuk virus baru tidak sama dengan SARS]]>

Jakarta (Greeners) – Dunia saat ini sedang digemparkan oleh virus baru bernama Novel 201 Coronavirus (2019-nCoV). Virus tersebut dapat menular ke tubuh manusia dan mengakibatkan penyakit ringan seperti pilek dan penyakit serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARS). Kontak erat dengan hewan diduga menjadi penyebabnya.

Ketua Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia juga Ketua Pokja Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr. dr. Erlina Burhan, MSc, Sp.P(K) mengatakan virus corona biasanya ditemukan pada hewan.

“Karena sesuatu dan lain hal bisa hidup di manusia, tentunya ada kontak erat antara hewan tersebut dan manusia. Ini termasuk virus baru tidak sama dengan SARS,” ujar Erlina ketika dihubungi melalui telepon oleh Greeners, Kamis malam (23/01/2020).

Baca juga: 5 Cara Tetap Sehat Selama Musim Hujan

Erlina menduga penularan ini terjadi melalui makanan yang mengandung daging hewan. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia mengatakan dalam rilisnya, berdasarkan investigasi beberapa institusi di Wuhan, penyebab pasien virus corona dirawat karena bekerja di pasar dan menjual ikan, unggas, serta berbagai daging seperti kambing, sapi, babi, rubah, ular, dan kelelawar.

Virus Corona, kata Erlina, bisa memunculkan gejala di antaranya demam, lemas, batuk kering, dan sesak atau kesulitan bernapas. Beberapa kondisi bahkan ditemukan lebih berat. Pada orang lanjut usia atau dengan penyakit penyerta lain, memiliki risiko lebih tinggi untuk memperberat kondisi kesehatan.

Pasar Hewan di Tomohon, Sulawesi

Pasar tradisional di Tomohon, Sulawesi Utara menjual daging kelelawar, babi, sapi, dan berbagai hewan liar lainnya. Foto: shutterstock.com

“Sampai saat ini belum ada laporan anak-anak muda terjangkit Coronavirus. Karena biasanya yang terjangkit yang usianya sudah rentan 40 tahun ke atas. Karena sistem imunitasnya sudah lemah. Apalagi jika memiliki komplikasi penyakit bisa mengakibatkan kematian. Karena sejatinya, Coronavirus 2019 ini tingkat kematiannya 4 sampai 5 persen, berbeda dengan SARS yang tingkat kematiannya di atas 50 persen,” ujar Erlina.

Melansir nst.com.my, Gao Fu, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, mengatakan para pihak berwenang meyakini virus berasal dari “binatang liar di pasar makanan laut (seafood)” meskipun sumber pastinya masih belum ditentukan. Cina telah melarang perdagangan sejumlah spesies liar dan menerapkan lisensi khusus, tetapi peraturan masih bersifat longgar untuk beberapa spesies jika ingin dibudidayakan secara komersial.

Baca juga: Waspada, Penyakit dari Hewan Domestik Tak Bertuan

Banyak spesies masih dikonsumsi di Cina atau negara-negara Asia lain. Karena dianggap sebagai makanan lezat, misalnya, musang, tikus, atau kelelawar. Beberapa juga dimanfaatkan sebagai pengobatan, meskipun belum terbukti secara ilmu pengetahuan.

Christian Walzer, Direktur Eksekutif Program Kesehatan Masyarakat Konservasi Margasatwa Amerika Serikat menuturkan sebanyak 70 persen dari semua penyakit menular baru berasal dari satwa liar. Perambahan habitat satwa juga meningkatkan kemungkinan penyebaran patogen. “Pasar satwa liar menawarkan peluang unik bagi virus untuk menyebar dari inang satwa liar,” kata Christian.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia menyarankan kepada masyarakat untuk tidak panik dan selalu waspada bila mengalami gejala demam, batuk disertai kesulitan bernapas. Masyarakat diharap segera mencari pertolongan ke rumah sakit terdekat. Pencegahan dapat dilakukan dengan membersihkan tangan dengan air dan sabun secara rutin, terutama sebelum memegang mulut, hidung, mata maupun setelah menyentuh instalasi publik.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/virus-corona-berasal-dari-hewan-dan-berbeda-dengan-sars/feed/ 0
PPHI: Kasus Hepatitis A di IPB Diduga Bukan yang Pertama https://www.greeners.co/berita/pphi-kasus-hepatitis-a-ipb-diduga-bukan-pertama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pphi-kasus-hepatitis-a-ipb-diduga-bukan-pertama https://www.greeners.co/berita/pphi-kasus-hepatitis-a-ipb-diduga-bukan-pertama/#respond Thu, 17 Dec 2015 14:15:43 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12272 Otoritas kampus IPB bersama Dinas Kesehatan kabupaten Bogor dan Kementerian Kesehatan telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) hepatitis A di wilayahnya. ]]>

Jakarta (Greeners) – Beberapa waktu lalu, otoritas kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama Dinas Kesehatan kabupaten Bogor dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) hepatitis A di wilayahnya. Kejadian ini ditandai dengan adanya 28 mahasiswa yang terjangkit hepatitis A sejak minggu ke-2 November 2015 sampai dengan 10 Desember 2015. Namun, dalam periode tersebut tidak ditemukan adanya kasus kematian akibat penyakit hepatitis A.

Seperti yang diutarakan oleh Dr. Rino Alvani Gani, Sp.PD-KGEH, dokter ahli penyakit dalam, hepatitis adalah peradangan pada hati dengan berbagai macam virus penyebabnya seperti virus hepatitis A, B, C, D dan E.

Menurut Rino, apa yang terjadi di IPB bukanlah kasus hepatitis A yang kali pertama terjadi. Hal ini dikarenakan selama ini di banyak tempat yang pernah mengalami kasus hepatitis A, penyakit ini tidak pernah benar-benar hilang atau muncul tiba-tiba tanpa ada kasus awal sebelumnya. Setiap tahun, di lokasi yang pernah mengalami kasus serupa pasti pernah atau akan terjadi lagi. Mengenai jumlah orang yang terjangkit, lanjutnya, tergantung dari bagaimana lokasi tersebut melakukan antisipasi terhadap virus hepatitis A tersebut.

“Kasusnya itu tidak pernah dari nol tiba-tiba muncul dalam jumlah banyak seperti itu. Saya kira di IPB juga pasti pernah mengalami masalah ini sebelumnya. Hanya saja memang mungkin yang kemarin itu jumlah yang terjangkitnya jauh lebih banyak dari sebelumnya. Seingat saya, sekitar empat atau lima tahun yang lalu, di IPB juga pernah ada sampai seratusan mahasiswa yang dilaporkan terkena virus hepatitis A,” tegasnya kepada Greeners, Jakarta, Rabu (16/12).

Virus hepatitis A sendiri, katanya, mampu menular melalui makanan dan air yang tercemar. Sedangkan virus hepatitis B menular melalui kontak dengan darah yang terinfeksi, hubungan seksual dan tukar menukar jarum suntik atau peralatan medis lain yang tidak steril. Virus ini dapat juga ditularkan dari ibu yang terinfeksi hepatitis B kepada bayinya saat hamil ataupun proses persalinan.

Lalu, virus hepatitis C (disebut juga HCV atau Hep C) adalah salah satu virus hepatitis paling berbahaya. Di dunia, ada sekitar 130-180 juta orang yang terinfeksi hepatitis C. Hepatitis C kebanyakan ditularkan melalui kontak dengan darah, misalnya melalui kontak dengan darah atau produk darah yang terinfeksi hepatitis C, memakai peralatan suntik narkoba secara bergantian, tato dan tindik yang tidak steril, penggunaan alat-alat medis yang tidak steril atau bekas, penggunaan pisau cukur yang dapat memiliki sejumlah kecil darah, berhubungan seks tanpa pengaman dan penularan dari ibu ke bayinya, selama kehamilan atau saat melahirkan.

“Kalau hepatitis D dan E belum terlalu umum. Namun belum ada vaksin untuk mencegah keduanya,” terang pria yang juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) ini.

Hepatitis sudah menjadi momok di tengah masyarakat sejak lama. Menurut Rino, untuk virus hepatitis B saja, tercatat lebih dari 1 juta orang meninggal di seluruh dunia per tahun. Sementara itu, ada sekitar 200 sampai 300 ribu orang per tahun yang meninggal karena hepatitis C. Meski Indonesia belum memiliki data resminya, tetapi kematian yang dihubungkan dengan kedua infeksi virus tersebut cukup tinggi.

“Dalam kasus hepatitis A sendiri sangat jarang ditemukan yang berujung kematian, biasanya 0,5 persen dari kasus. Kalau (penanganan) hepatitis B sudah ada vaksin yang mampu mencegahnya dan obat-obatan yang bisa di dapat di rumah sakit,” tuturnya.

Untuk Hepatitis C, lanjutnya, saat ini sudah ada jenis obat bernama Sofosbuvir yang tingkat keberhasilannya dikatakan sampai 95 persen dengan sedikit efek samping. Namun, saat ini ketersediaannya masih harus melalui spesial akses di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

“Kita sudah mendapatkan spesial akses untuk memasukkan obat yang relatif memiliki efek samping cukup aman dan bisa diberikan dalam jangka waktu yang cukup pendek. Sayangnya masih belum bisa masuk dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) karena tahapan registrasinya masih belum selesai di Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pphi-kasus-hepatitis-a-ipb-diduga-bukan-pertama/feed/ 0
Waspada, Penyakit dari Hewan Domestik Tak Bertuan https://www.greeners.co/berita/waspada-penyakit-dari-hewan-domestik-tak-bertuan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waspada-penyakit-dari-hewan-domestik-tak-bertuan https://www.greeners.co/berita/waspada-penyakit-dari-hewan-domestik-tak-bertuan/#respond Thu, 19 Mar 2015 13:34:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8252 Jakarta (Greeners) – Jumlah hewan domestik dinilai mulai mengkhawatirkan. Peningkatan ini pun menyebabkan banyaknya hewan terlantar yang tidak diawasi dan berpotensi menyebarkan penyakit. Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner, Badan Litbang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Jumlah hewan domestik dinilai mulai mengkhawatirkan. Peningkatan ini pun menyebabkan banyaknya hewan terlantar yang tidak diawasi dan berpotensi menyebarkan penyakit.

Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner, Badan Litbang Pertanian, Dr. Hardiman, mengatakan, beberapa jenis penyakit yang berpotensi menjangkit hewan-hewan terlantar seperti anjing dan kucing adalah rabies dan toxoplasma. Menurutnya, penyakit yang mampu menularkan virus melalui gigitan dan bulu yang terhirup oleh manusia tersebut cukup berbahaya dan mampu menyebabkan kematian.

“Ada banyak virus yang bisa menyerang hewan domestik tersebut. Pengaruhnya pun cukup berbahaya,” katanya kepada Greeners, Jakarta, Kamis (19/03).

Meski demikian, Hardiman mengakui bahwa hingga saat ini pihaknya masih belum pernah melakukan penelitian terkait jumlah dan ancaman virus yang menjangkit hewan domestik. Namun ia menyatakan, jika memang dibutuhkan pihaknya siap untuk melakukan penelitian terkait hewan domestik tersebut.

“Kami belum pernah ada penelitiannya. Tapi melihat tingkat pertumbuhan yang tinggi, sepertinya memang diperlukan ya,” katanya.

Sebagai informasi, di sebagian besar negara di Asia termasuk Indonesia, penyebaran penyakit rabies yang endemik banyak terjadi di kalangan populasi anjing tak bertuan.

Pada tahun 2008, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti perdagangan anjing untuk konsumsi manusia yang kebanyakan diambil dari anjing-anjing jalanan yang tidak memiliki tempat tinggal dan menjadi faktor penyebaran rabies pada manusia.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/waspada-penyakit-dari-hewan-domestik-tak-bertuan/feed/ 0
Suspek Madiun dan Kediri Negatif Ebola https://www.greeners.co/berita/suspek-madiun-dan-kediri-negatif-ebola/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=suspek-madiun-dan-kediri-negatif-ebola https://www.greeners.co/berita/suspek-madiun-dan-kediri-negatif-ebola/#respond Mon, 03 Nov 2014 09:19:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6330 Jakarta (Greeners) – Kementerian Kesehatan memastikan kalau dua suspek ebola, yaitu M, 29 tahun dari Madiun dan GN, 46 tahun dari Kediri adalah negatif dan kemungkinan besar kedua pasien tersebut […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Kesehatan memastikan kalau dua suspek ebola, yaitu M, 29 tahun dari Madiun dan GN, 46 tahun dari Kediri adalah negatif dan kemungkinan besar kedua pasien tersebut mengalami malaria.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan hasil uji laboratorium sampel darah dari kedua pasien yang diduga terserang ebola asal Madiun dan Kediri tersebut adalah negatif.

Ia menyampaikan bahwa pemeriksaan telah dilakukan terhadap sampel darah yang diambil oleh petugas tim kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur selama tiga hari berturut-turut, yakni mulai Jumat hingga Minggu kemarin.

“Ada 8 sampel yang diperiksa, masing-masing mencakup sampel EDTA (ethylenediaminetetraacetic acid atau asam etilenadiaminatetraasetat) dan sampel serum. Dari pembacaan hasil PCR (polymerase chain reaction) dengan elektroforesis itu, jadi semua dilaporkan ‘no band‘ atau semua sampel dari kasus Madiun dan Kediri hasilnya negatif ebola,” terangnya, Jakarta, Senin (03/11).

Selain itu, Yoga juga menambahkan sesuai dengan apa yang dikatakan Menteri Kesehatan, Nila Moloek, bahwa proses pencegahan sudah dilakukan di Kantor Karantina Pelabuhan. Para Warga Negara Indonesia (WNI) dan Warga Negara Asing (WNA) yang baru datang ke Indonesia harus melalui proses karantina selama dua minggu di pelabuhan untuk memastikan bahwa WNA dan WNI tersebut tidak membawa masuk virus berbahaya seperti ebola ke Indonesia.

Seperti diketahui, sebelumnya, M, warga Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, mulai dirawat di RSUD dr Soedono sejak Jumat, 31 Oktober 2014. Saat pertama kali masuk RSUD, kondisi pria yang baru saja pulang dari Liberia, salah satu negara endemis ebola, tersebut mengalami penurunan trombosit, demam tinggi, dan gangguan fungsi ginjal. Oleh tim dokter, ia divonis menderita malaria dan sakit lever. M sempat menjalani perawatan di Liberia selama sepekan.

Sedangkan untuk TKI berinisal GN (46) di Kediri dirawat di RSUD Pare dengan keluhan demam. Diagnosis yang didapatkan adalah Acute Febrile Illness atau demam akut, namun pasien harus diisolasi karena punya riwayat bepergian ke daerah terjangkit ebola, yakni Liberia.

Termasuk GN dan M, ada sebanyak 28 TKI pula yang tiba di Indonesia pada 26 Oktober 2014 telah menyelesaikan pekerjaannya di Liberia. Sebelum pulang, para TKI menjalani masa karantina selama 6 hari. Sesampainya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pemeriksaan tidak menunjukkan ada TKI yang sakit.

Serangan virus ebola sampai saat ini terus meluas. WHO menyebut, kematian akibat penyebaran virus ebola di Afrika Barat diketahui telah mencapai 3.000 orang, di mana diperkirakan lebih dari 6.500 orang sudah terinfeksi virus di wilayah tersebut. Dari serangan tersebut, Liberia diketahui sebagai negara yang terkena dampak terburuk, dengan korban tewas mencapai 1.830 orang.

Penyebaran virus ebola cukup cepat. Penyakit ini diketahui muncul dari hutan terpencil di daerah Guinea dan mulai menyebar ke Liberia, Sierra Leone dan Nigeria. Virus ini dicurigai berasal dari kelelawar hutan dan bisa ditularkan ke manusia dengan menyentuh korban atau melalui cairan dalam tubuh, seperti air liur dan darah.

Virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1976 di daerah yang saat ini kita kenal dengan nama Republik Demokratik Kongo. Sampai saat ini diketahui belum ada vaksin atau obat untuk penyakit ini.

Gejala penyakit ini menyerupai flu dengan rasa sakit di dalam dan luar organ tubuh. Penyakit ini diketahui dengan gejala demam yang disertai dengan pendarahan yang bisa memicu gagal ginjal dan hati dengan tingkat kematian hingga 90 persen.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/suspek-madiun-dan-kediri-negatif-ebola/feed/ 0
Antisipasi Ebola, Kemenkes Bangun Laboratorium Setaraf Kualifikasi WHO https://www.greeners.co/berita/antisipasi-ebola-kemenkes-bangun-laboratorium-setaraf-kualifikasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=antisipasi-ebola-kemenkes-bangun-laboratorium-setaraf-kualifikasi https://www.greeners.co/berita/antisipasi-ebola-kemenkes-bangun-laboratorium-setaraf-kualifikasi/#respond Wed, 06 Aug 2014 07:55:44 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5387 Jakarta (Greeners) – Guna mengantisipasi masuknya virus ebola ke Indonesia, Kementrian Kesehatan (Kemenkes) telah mempersiapkan laboratorium khusus milik Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes Republik Indonesia. Kepala Badan Penelitian dan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Guna mengantisipasi masuknya virus ebola ke Indonesia, Kementrian Kesehatan (Kemenkes) telah mempersiapkan laboratorium khusus milik Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes Republik Indonesia.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama menjelaskan bahwa Laboratorium Balitbangkes tersebut telah memiliki kualifikasi BSL 3 (Bio Safety Level 3).

“Kualifikasi laboratorium kita setara dengan laboratorium rujukan milik Badan Kesehatan Dunia (WHO)”, Jelas Prof. Tjandra, Jakarta, Rabu (06/08).

Prof. Tjandra juga menerangkan beberapa metode yang bisa digunakan untuk mendeteksi virus ebola ini, yaitu pertama dengan menggunakan sistem PCR (Polymerase Chain Reaction). Untuk sistem ini, lanjut Prof. Tjandra, Laboratorium Balitbangkes telah memiliki kelengkapan alat, petugas dan prosedurnya sehingga sangat mumpuni untuk melakukan pemeriksaan ebola.

Selain itu, lanjut Prof. Tjandra, ada pula pemeriksaan dengan cara Antibody-capture enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), Antigen detection tests, Serum neutralization test, Reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) assay atau Electron microscopy dan Evirus isolation dengan kultur sel.

“Laboratorium kita sudah cukup mumpuni jika sewaktu-sewaktu virus ebola ini terdeteksi,”tambahnya.

Ditanya tentang penyebaran virus Ebola di Asia, Prof Tjandra menerangkan bahwa pada tahun 1980an dan 1990an, di Filipina pernah ditemukan genus ebola bernama RESTV pada jenis monyet Macaque (Macaca fascicularis). Kemudian, pada tahun 2008 virus ebola genus RESTV juga ditemukan pada babi.

“Sejauh ini sih baru Filipina dan Tiongkok yang melaporkan ebola jenis RESTV ini, namun masyarakat mesti tahu karena genus RESTV ini hanya menular pada binatang dan tidak menimbulkan masalah kesehatan bagi manusia,” tegas Prof. Tjandra.

Sebagai informasi, genus ebola virus, dikatakan oleh Prof. Tjandra, ada lima, yakni Bundibugyo ebolavirus (BDBV), Zaire ebolavirus (EBOV), Reston ebolavirus (RESTV), Sudan ebolavirus (SUDV), dan Tai Forest ebolavirus (TAFV). Untuk BDBV, EBOV, dan SUDV adalah jenis virus yang menyebabkan wabah ebola di Afrika dan mengakibatkan angka kematian yang sangat tinggi pada manusia yang terjangkit.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/antisipasi-ebola-kemenkes-bangun-laboratorium-setaraf-kualifikasi/feed/ 0
Kemenkes: Indonesia Masih Aman Dari Virus Ebola https://www.greeners.co/berita/indonesia-masih-aman-dari-virus-ebola/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-masih-aman-dari-virus-ebola https://www.greeners.co/berita/indonesia-masih-aman-dari-virus-ebola/#respond Wed, 06 Aug 2014 06:52:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5385 Jakarta (Greeners) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia yakin hingga saat ini penduduk Indonesia masih tetap aman dari ancaman virus ebola. Keyakinan tersebut dikarenakan tidak adanya jalur penerbangan langsung dari […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia yakin hingga saat ini penduduk Indonesia masih tetap aman dari ancaman virus ebola. Keyakinan tersebut dikarenakan tidak adanya jalur penerbangan langsung dari Indonesia menuju keempat negara di kawasan Afrika Barat yang menjadi negara endemik virus ebola tersebut.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama menjelaskan bahwa sangat sedikit orang Indonesia yang melakukan perjalanan menuju empat negara tersebut.

“Hingga saat ini kita memang masih terus waspada meskipun sebenarnya kita masih cukup aman karena kita tidak memiliki jalur penerbangan ke Liberia, Sierra Leone, Nigeria, Guinea dan beberapa negara endemik di Afrika itu,” jelas Tjandra, Jakarta, Rabu (06/08).

Kementrian Kesehatan juga menghimbau pada seluruh rakyat Indonesia yang jika memang akan bepergian kenegara-negara endemik tersebut untuk lebih berhati-hati terhadap penularan virus Ebola.

“Kita berikan pemberitahuan yang mau ke sana kalau penularannya itu melalui cairan tubuh, sehingga diharapkan lebih berhati-hati,” tambahnya.

Namun, meski merasa aman, Kemenkes juga tetap melakukan tindakan antisipasi jikalau nanti virus ebola masuk ke Indonesia. Prof. Tjandra mengatakan bahwa Kementrian Kesehatan telah mempersiapkan Laboratorium guna memeriksa virus yang telah menewaskan lebih dari 700 orang tersebut.

“Kita sudah siagakan laboratoriumnya, jadi jika nanti ada yang memiliki gejala bisa langsung kita periksa,” tutup Prof. Tjandra.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-masih-aman-dari-virus-ebola/feed/ 0