Peneliti: Manusia Berperan dalam Penyebaran Virus Patogen

Reading time: 3 menit
Kelelawar
Foto: shutterstock.com

Jakarta (Greeners) – Satwa liar yang terlihat sehat dapat menjadi sumber penularan penyakit antarhewan maupun ke manusia. Penyebaran penyakit yang berasal dari hewan (zoonotik) terjadi apabila virus patogen dari spesies tertentu berevolusi dengan cara melompat ke inang baru. Hal tersebut diperburuk oleh perdagangan satwa liar, kerusakan habitat, dan krisis iklim.

Virus korona adalah salah satu contoh patogen yang berpindah salah satunya akibat adanya perdagangan satwa liar. Virus tersebut kemudian menular ke manusia dan memunculkan penyakit seperti SARS, MERS, Hendra, Nipah, Ebola, dan flu burung.

Kepala Pusat Penelitian Zoologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi mengatakan beberapa penyakit disebabkan oleh bakteri maupun virus yang dibawa oleh manusia dari habitat alami mereka. Artinya, manusia berperan dalam terjadinya penularan, meskipun transmisi dari satwa liar ke manusia tidak terjadi dengan mudah.

Baca juga: Melindungi Keanekaragaman Hayati Cegah Kemunculan Virus Baru

“Selama manusia tidak mengusik habitat, berinteraksi, dan mengonsumsi satwa liar, penularan kemungkinan kecil. Saat ini banyak terjadi penurunan habitat dan juga perburuan untuk kepentingan banyak hal, sehingga interaksi manusia dengan satwa liar meningkat,” ujar Cahyo kepada Greeners, Senin malam (30/03/2020).

Ia mengatakan untuk menghindari virus, yakni dengan cara membiarkan satwa liar tetap di hutan, tidak mengonsumsi atau memanfaatkan untuk kesenangan maupun obat. “Mau langsung atau tidak, satwa liar tidak semestinya diburu untuk konsumsi. Justru karena kepercayaan bagian (tubuh) satwa liar dianggap bisa menjadi obat sehingga pemanfaatan satwa liar menjadi tinggi. Kalau ditelusuri paling besar permintaan ke China,” ujarnya.

Transmisi Virus

Alur transmisi virus dari hewan ke manusia. Foto: shutterstock.com

Menurut Cahyo, media penularan virus dari satwa ke manusia terjadi melalui berbagai perantara. Urin atau air liur hewan, misalnya, mampu mencemari makanan termasuk mengonsumsi hewan secara langsung. Ia mencontohkan penyakit SARS, Nipah, Hendra ditemukan di kelelawar, meskipun beberapa virus korona juga ditemukan di trenggiling. Ia mengatakan secara alami satwa liar menyimpan berbagai jenis virus, bakteri, dan mikroorganisme. “Jadi sebenarnya bukan hanya kelelawar saja,” ucap Cahyo.

Coronavirus Tersebar Pada Manusia dan Mamalia

Inang atau tempat virus berevolusi atau leluhur virus corona dimungkinkan dari kelelawar. Ketika kelelawar terinfeksi dengan patogen, mereka tidak menunjukkan gejala penyakit yang nyata. Namun, virus yang sifatnya persisten terus menerus dapat terbawa dalam jangka waktu lama.

Coronavirus, misalnya, adalah virus RNA berenvelop yang tidak bersegmen. Organisme ini berasal dari keluarga Coronaviridae dan Ordo Nidovirales. Keberadaannya menyebar secara luas pada manusia dan mamalia lain.

Drh. Tri Satya Putri Naipospos, Ketua Komisi Ahli Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veternier, dan Karantina Hewan, Kementerian Pertanian mengatakan spesies kelelawar merupakan salah satu mamalia tertua dan mewakili 20 persen keanekaragaman mamalia yang ada. Menurutnya, jarang sekali ditemukan gejala sakit pada kelelawar, tetapi mereka memiliki peluang menyebarkan patogen dalam jarak jauh dan luas.

Daging kelelawar secara rutin dijual di sejumlah pasar dan supermarket di Sulawesi Utara. Tri Satya mengestimasi jumlah kelelawar yang diperdagangkan setiap tahun berkisar antara 650 ribu hingga lebih dari satu juta ekor. Terdapat lebih dari 1.300 spesies kelelawar yang terdistribusi di enam benua. Ia mengatakan Indonesia menjadi rumah dari 219 spesies kelelawar. “Ini lebih banyak dari negara lain di mana pun,” kata dia.

Ia menuturkan terdapat ribuan virus yang dikandung oleh spesies kelelawar. Jika kehidupannya diganggu, manusia dapat dengan mudah terpapar. Perilaku manusia yang suka mengonsumsi daging atau menangkap satwa dari alam liar, kata dia, mempermudah virus-virus secara alami persisten. Saat berpindah atau bermutasi dan bertemu reseptor lain seperti manusia, memungkinkan seorang individu menjadi sakit.

“75 persen satwa liar merupakan sumber dari penyakit zoonosis dan menular ke manusia. Jadi kita (manusia) jangan menganggu kehidupan mereka supaya virus dan patogen lain tidak berpindah ke spesies lain termasuk manusia,” ujarnya.

Puncak Gunung Es Virus

Virus-virus corona yang telah diidentifikasi mungkin hanya suatu puncak gunung es. Berbagai potensi dapat menyebabkan lebih banyak zoonosis baru di masa depan. Tri Satya menyampaikan, virus secara alami bermutasi dan saling berkombinasi. Organisme ini juga berbagi komponen yang berbeda untuk menciptakan virus baru. “Virus-virus zoonotik dapat melompati hambatan spesies. Ini berbahaya bagi manusia karena sistem imunitas kita belum mengetahui bagaimana cara memerangi virus baru tersebut,” ujarnya.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

Top