kemasan pengganti plastik - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/kemasan-pengganti-plastik/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 24 Dec 2022 03:51:44 +0000 id hourly 1 Notpla Alternatif Plastik Berbasis Rumput Laut Raih Hadiah £1 juta https://www.greeners.co/ide-inovasi/notpla-alternatif-plastik-berbasis-rumput-laut-raih-hadiah-1-juta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=notpla-alternatif-plastik-berbasis-rumput-laut-raih-hadiah-1-juta https://www.greeners.co/ide-inovasi/notpla-alternatif-plastik-berbasis-rumput-laut-raih-hadiah-1-juta/#respond Sat, 24 Dec 2022 03:51:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=38372 Sampah plastik masih menjadi persoalan serius. Lebih dari enam miliar ton sampah plastik yang tak terolah dengan baik saat ini mengotori jalan dan lautan. Sayangnya, hanya enam persen dari semua […]]]>

Sampah plastik masih menjadi persoalan serius. Lebih dari enam miliar ton sampah plastik yang tak terolah dengan baik saat ini mengotori jalan dan lautan. Sayangnya, hanya enam persen dari semua sampah plastik yang bisa didaur ulang. Sedangkan 12 persen lainnya dibakar.

Permasalahan ini harus mendorong kesadaran global mencari alternatif lain pengganti plastik yang lebih berkelanjutan.

Para pendiri perusahaan rintisan Notpla yang berbasis di London menjawab tantangan itu. Pierre Paslier dan Rodrigo Garcia Gonzalez memanfaatkan rumput laut dan tanaman sebagai alternatif penggunaan plastik.

Rumput laut dan tanaman merupakan bahan alami yang dapat terurai secara hayati dan dapat mereka gunakan untuk membuat berbagai kemasan. Mulai dari untuk menampung cairan hingga pelapis wadah makanan.

Lalu, dari mana ide untuk Notpla berasal? Paslier menyebut bahwa semua berawal dari percobaan kecil di dapur.

“Kami benar-benar terinspirasi oleh cara alam membuat bentuk-bentuk elegan ini. Menggunakan semua bahan alami ini ke dalam kemasan,” kata Paslier.

Dari situ, akhirnya mereka menemukan rumput laut karena sangat menarik. Begitulah ide di balik Notpla lahir.

Rumput Laut Alternatif Pengganti Plastik

Sejak tahun 2014, mereka telah membuat 36.000 kapsul berisi minuman olahraga. Kapsul ini mereka berikan kepada para pelari di London Marathon 2019.

Mereka juga telah membuat lebih dari satu juta kotak makanan di Just Eat untuk penggunanya bawa pulang. Hal ini berpotensi menggantikan lebih dari 100 juta wadah berlapis plastik di Eropa di masa depan.

Selain itu, rumput laut juga dapat menangkap karbon dua puluh kali lebih cepat daripada pohon. Di samping itu juga meningkatkan populasi ikan, serta menciptakan peluang baru bagi masyarakat setempat.

Foto: Dezeen

Notpla Baru Saja Memenangkan Hadiah Earthshot

Hebatnya, Pendiri Notpla baru saja memenangkan Earthshot Prize dalam kategori ‘Membangun Dunia Bebas Sampah‘.

Didirikan oleh Pangeran William, kompetisi ini memberikan penghargaan kepada lima pemenang atas kontribusi mereka terhadap lingkungan. Masing-masing menerima £1 juta (€1,2 juta) untuk melanjutkan upaya mereka.

Kompetisi ini terinspirasi oleh Moonshot Presiden AS John F Kennedy yang menyatukan jutaan orang dengan tujuan mencapai bulan. Dengan cara yang sama, Earthshot Prize mendorong solusi inovatif untuk krisis iklim.

Notpla akan menggunakan uang tersebut untuk penelitian dan pengembangan serta memperluas komersialisasi mereka.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Sumber : Dezeen

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/notpla-alternatif-plastik-berbasis-rumput-laut-raih-hadiah-1-juta/feed/ 0
EcoplastID Ciptakan Alternatif Pengganti Styrofoam dan Bubble Wrap https://www.greeners.co/ide-inovasi/ecoplastid-ciptakan-alternatif-pengganti-styrofoam-dan-bubble-wrap/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ecoplastid-ciptakan-alternatif-pengganti-styrofoam-dan-bubble-wrap https://www.greeners.co/ide-inovasi/ecoplastid-ciptakan-alternatif-pengganti-styrofoam-dan-bubble-wrap/#respond Fri, 03 Jun 2022 05:06:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=36343 Jakarta (Greeners) – EcoplastID menyadari persoalan sampah plastik harus ada solusinya agar tidak terus membebani dan mencemari lingkungan. Startup ini akhirnya berinovasi menciptakan alternatif pengganti styrofoam dan bubble wrap dari […]]]>

Jakarta (Greeners) – EcoplastID menyadari persoalan sampah plastik harus ada solusinya agar tidak terus membebani dan mencemari lingkungan. Startup ini akhirnya berinovasi menciptakan alternatif pengganti styrofoam dan bubble wrap dari jerami padi. 

Saat ini sampah plastik merupakan salah satu persoalan karena berdampak serius terhadap lingkungan. Ada sekitar 275 juta ton sampah plastik yang seluruh dunia hasilkan. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, sampah plastik berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan karena berbahan dasar minyak bumi terurai sekitar 1.000-10.000 tahun. 

Melihat kenyataan ini, start up EcoplastID, PT Eco Plastica Indonesia melakukan terobosan. Mereka menciptakan alternatif pengganti styrofoam dan bubble wrap yang lebih ramah lingkungan. Inovasi ini mereka beri nama Ecofoam dan jerami serut.

Sebagai alternatif yang ramah lingkungan, Ecofoam dan jerami serut memiliki karakteristik dan keunggulan yang tak kalah dibanding styrofoam dan bubble wrap. Misalnya, terbuat dari bahan alami sehingga aman untuk makanan, tahan panas, penyerap minyak, estetis dan produk yang tangguh.

Cara EcoplastID Proses Kemasan Ramah Lingkungan

Untuk membuat kemasan ramah lingkungan ini ada sejumlah tahapan dan prosesnya. Jerami sebagai bahan utama Ecofoam, mereka giling terlebih dahulu sesuai kebutuhan. Kemudian mereka olah dengan memanfaatkan mesin pres hidrolik jerami.

Tak perlu khawatir, dengan bahan alami berupa jerami, produk ini dapat dikomposkan maksimal tiga bulan pemakaian dengan berbagai media apa pun.

Selain itu, produk ini juga memiliki berbagai keunggulan jika kita bandingkan dengan produk lainnya. Misalnya sangat terjangkau karena menggunakan bahan baku yang murah dari limbah jerami. Selain itu menggunakan bahan alami yang tak berbahaya, serta berimbas positif pada pendapatan tambahan para petani.

Fokus Olah Limbah Pertanian

Saat ini, EcoplastID merupakan startup biotech yang fokus mengembangkan bioplastik dari limbah pertanian. Gabriel Sebastian Butarbutar menjadi founder dari startup yang berpusat di Bandung ini.
EcoplastID telah mendapatkan beberapa penghargaan seperti Second Winner Call For Ideas PPI Dunia, Wildcard Winner Ideas For Now dan Top 30 Ideasinc Ntuitive 2020.

Selain itu, EcoplastID juga mendapatkan pendanaan dari Program Mahasiswa Wirausaha dan Program NRE Business Incubation NWO Belanda. Selanjutnya juga pernah menjadi incubator/accelerator di The Greaterhub SBM ITB, Dslaunchpad by Dailysocial.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/ecoplastid-ciptakan-alternatif-pengganti-styrofoam-dan-bubble-wrap/feed/ 0
Sampah Plastik Akan Tertangani Lewat Plastic Credit ? https://www.greeners.co/berita/sampah-plastik-akan-tertangani-lewat-plastic-credit/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sampah-plastik-akan-tertangani-lewat-plastic-credit https://www.greeners.co/berita/sampah-plastik-akan-tertangani-lewat-plastic-credit/#respond Fri, 25 Feb 2022 06:14:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35409 Jakarta (Greeners) – Alternatif baru upaya penanganan sampah plastik melalui wacana implementasi plastic credit mulai bergaung. Solusi ini hadir seiring penanganan sampah plastik yang belum tertangani secara maksimal. Peningkatan jumlah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Alternatif baru upaya penanganan sampah plastik melalui wacana implementasi plastic credit mulai bergaung. Solusi ini hadir seiring penanganan sampah plastik yang belum tertangani secara maksimal. Peningkatan jumlah timbulan sampah plastik mengalami kenaikan signifikan yakni 6 % dari tahun 2010 hingga 2021.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), jumlah sampah nasional di tahun 2021 mencapai 68,5 ton. Jumlah timbulan sampah plastik mengalami kenaikan yang signifikan yakni 6 % dari tahun 2010 yaitu 11 % menjadi 17 % di tahun 2021.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (B3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, pemerintah telah berusaha mengatasi persoalan sampah dari hulu ke hilir.

Pada bagian hulu, selain merujuk pada kewajiban pemilahan sampah yang individu hasilkan, juga ada kewajiban produsen untuk mengurangi sampah plastik dari produk kemasan yang mereka hasilkan.

Mengacu Peraturan Menteri LHK Nomor 75 Tahun 2019 Tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen, pemerintah memerintahkan agar produsen sampah berkewajiban membatasi timbulan sampah. Selain itu juga wajib mendaur ulang sampah melalui penarikan dan memanfaatkan sampah kembali.

“Harus ada kebijakan dan upaya luar biasa untuk mengatasi persoalan ini. Bukan sebatas cara business as usual saja ,” katanya dalam Webinar bertema Plastic Credit, Gagasan Baru Solusi Pengurangan Sampah Plastik?” di Jakarta, Kamis (24/2).

Komposisi Sampah Plastik Alami Peningkatan

Sementara itu berdasarkan data KLHK, tren komposisi sampah plastik kondisi business as usual mengalami kenaikan yang signifikan. Misalnya, di tahun 2005 yang masih 10 % kemudian naik menjadi 15 % di tahun 2015. Prediksinya angka tersebut akan semakin naik hingga pada tahun 2035 menyentuh angka 60 %.

“Dikhawatirkan kalau kita tidak melakukan penanganan militan peningkatannya akan melonjak tajam,” kata Direktur Pengurangan Sampah KLHK Sinta Saptarina.

Peningkatan jumlah sampah plastik juga bersumber dari sektor rumah tangga. Hal ini seiring dengan perilaku gaya hidup serba praktis melalui peningkatan bisnis online juga berkontribusi pada peningkatan sampah plastik. Misalnya, sambung dia pemakaian kemasan, pembungkus bubble wrap dan kantong plastik saat pengemasan barang.

KLHK memastikan sangat terbuka dalam upaya melakukan berbagai terobosan penanganan sampah, khususnya sampah plastik. Salah satunya wacana plastic credit.

Plastic credit telah berkembang di dunia internasional dan secara global perusahaan-perusahaan di bidang persampahan kembangkan. Plastic credit merupakan unit yang dapat mewakili jumlah plastik yang industri kumpulkan dan berpotensi mereka daur ulang.

Industri yang tak dapat sepenuhnya mengurangi emisi plastik yang mereka hasilkan hingga nol atau mencapai kondisi plastic neutral dapat membeli plastic credit ini.

Plastic neutral, industri capai saat membeli plastic credit dengan volume yang sama dengan jejak plastik yang mereka hasilkan. Mereka mendanai proyek yang mendaur ulang volume limbah plastik yang setara dengan jejak plastik industri.

Industri wajib mengelola sampah kemasannya bisa dengan menariknya kembali dan mendaur ulangnya. Foto: Shutterstock

Waspada Sisi Negatif Plastic Credit

Associate Systemiq Eric Chocat menyatakan, industri dan pemerintah daerah perlu berkolaborasi dalam implementasi plastic credit. Berbagai risiko dan mitigasi harus jadi perhatian. Di antaranya belum adanya kebijakan pemerintah secara nasional terkait plastic credit, risiko perbedaan angka kredit tiap negara, hingga risiko dan kekhawatiran terkait pemalsuan.

Pendanaan dari plastic credit perlu perhatian serius, sebab bukan hanya pembiayaan operasional yang telah industri keluarkan.

Pakar pengelolaan sampah dan limbah dari Institut Teknologi Bandung Enri Damanhuri pesimistis terkait gagasan konsep plastic credit. Ia mengkhawatirkan justru dengan adanya sertifikat dan klaim green sekadar formalitas bagi industri untuk kemudian bisa melakukan business as usual.

“Karena mereka sudah punya punya plastic credit, malah industri bisa pasang target dua kali lipat dalam business as usual diikuti label produk sudah “green,” katanya.

Sementara itu Direktur Utama Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup Djoko Hendratto menyatakan, regulasi dan ekosistem market harus pasti dalam kebijakan ini. “Ekosistemnya perlu dibentuk termasuk di dalamnya pelaku pasar, pihak-pihak penunjang lembaga hukum, serta marketnya, apakah bursa atau over the counter,” imbuhnya.

Menurutnya konsep plastic credit mirip dengan carbon credit yang juga menerapkan model volunteer market. Ia mengingatkan kegagalan carbon credit karena yang ditandai dengan lahirnya kesepakatan baru, Konvensi Kerangka Kerja Perubajan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC) harus memberi pelajaran akan implementasi plastic credit nanti.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/sampah-plastik-akan-tertangani-lewat-plastic-credit/feed/ 0
Kemasan Plastik Sekali Pakai Terus Menambah Timbulan Sampah Baru https://www.greeners.co/berita/kemasan-plastik-sekali-pakai-terus-menambah-timbulan-sampah-baru/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kemasan-plastik-sekali-pakai-terus-menambah-timbulan-sampah-baru https://www.greeners.co/berita/kemasan-plastik-sekali-pakai-terus-menambah-timbulan-sampah-baru/#respond Thu, 18 Nov 2021 06:38:05 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34439 Jakarta (Greeners) – Kemasan plastik atau pun galon sekali pakai harus mulai konsumen kurangi dan tinggalkan. Rendahnya daur ulang di Indonesia hanya akan menambah beban pengelolaan sampah. Sebab kemasan sekali […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kemasan plastik atau pun galon sekali pakai harus mulai konsumen kurangi dan tinggalkan. Rendahnya daur ulang di Indonesia hanya akan menambah beban pengelolaan sampah. Sebab kemasan sekali pakai ini akan menjadi timbulan sampah plastik baru ke lingkungan.

Manajer Kampanye Energi dan Perkotaan Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Dwi Sawung mengatakan, hal tersebut saat ini sudah terjadi. Galon sekali pakai lanjutnya hanya menjadi timbulan sampah karena daur ulang tidak berjalan. Sebagian besar galon sekali pakai tidak didaur ulang, paling hanya menjadi guna pakai.

“Ini harusnya pemerintah koreksi untuk melarang penggunaan galon sekali pakai. Sebelum ada galon sekali pakai saja tidak semua plastik yang bisa didaur ulang. Apalagi ditambah galon sekali pakai,” katanya kepada Greeners, baru-baru ini.

Sawung menegaskan, peta jalan pengurangan sampah plastik harus mendorong tanggung jawab produsen lewat extended producer responsibility (EPR).

“Harusnya semua produsen menyetor peta jalan mereka. Tampaknya masih sangat sedikit sekali yang menyetorkan. KLHK ditanya enggak tahu berapa jumlah produsennya mesti tanya ke Kemenperin dan Kemendag. Produsen kalau tidak menarik lagi kemasan seharusnya menyediakan dropbox,” ungkapnya.

Sampah Persoalan Bersama, Produsen dan Konsumen Perlu Berkomitmen

Sementara itu, Pakar Lingkungan Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa mengungkapkan, ada dua hal yang menjadi tantangan bagi pemerintah dalam mengatasi permasalahan sampah tersebut. Tantangan tersebut yaitu jumlah penduduk yang semakin banyak dan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat yang terus meningkat.

Pertama, penduduk kita semakin bertambah. Menurut perhitungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), satu orang menghasilkan sekitar 0,7 kg atau hampir 1 kg sampah dalam sehari.

“Jadi, kalau penduduknya bertambah, kurang lebih sampahnya juga akan bertambah. Tantangan kedua, pendapatan meningkat dan kesejahteraan meningkat maka sampah juga meningkat,” ungkap Mahawan kepada Greeners.

Mahawan menyebut, pemilahan sampah juga menjadi hal penting dalam mengatasi sampah. Pemilahan sampah ini tidak hanya pada kalangan rumah tangga namun juga ketika pengangkutan sampah perlu perhatian serius agar sampah tetap terpisah dan tidak tercampur.

“Pemerintah daerah dengan masyarakat juga harus bekerja sama. Masyarakat memilah tetapi yang mengangkut juga dipilah. Jika perlu sekat truknya. Kalau masyarakat memilah sampah dari rumah, truk bercampur, bukan solusi. Atau truk tersekat tetapi dari rumah sampah tidak dipilah, tukang sampah juga enggan memisahkannya,” paparnya.

Mahawan menambahkan, Indonesia juga memerlukan teknologi yang lebih canggih dalam pengelolaan sampah. Teknologi ini akan berfungsi untuk mempermudah dan mempercepat pengolahan sampah di Indonesia. Sehingga sedikit demi sedikit sampah yang ada ini mulai teratasi.

Konsumen harus mulai meninggalkan kemasan plastik dan galon sekali pakai. Foto: Shutterstock

Produsen dan Konsumen Perlu Bersinergi Atasi Kemasan Plastik

Selain itu, kemasan sekali pakai  berbahan plastik juga menambah beban permasalahan sampah. Untuk mengatasi hal tersebut, menurutnya perlu ada pengubahan kemasan menjadi lebih ramah lingkungan.

Mahawan mengatakan, produsen dan konsumen juga perlu bersinergi dalam mendorong kemasan ramah lingkungan. Ketika produsen telah menyiapkan kemasan ramah lingkungan, maka konsumen perlu bersedia membelinya meskipun dengan harga yang sedikit lebih mahal.

“Harus bergerak bersama antara konsumen dan produsen. Kalau harganya mahal, konsumen tidak mau membeli, produsen juga tidak mau memproduksi, karena menjadi beban. Tetapi jika masyarakat mau beli namum tidak ada produksi, juga tidak bisa. Jadi memang harus ada sinergi antara produsen dan konsumen,” tegas Mahawan.

Sampah yang tak terolah akan memberikan dampak buruk terhadap lingkungan. Salah satunya tercemarnya laut oleh sampah plastik. Apalagi jumlah penduduk Indonesia yang semakin meningkat sehingga sampah plastik pun semakin banyak.

“Sampah plastik itu kurang lebih 15 % dari total sampah yang ada. Kalau cara membuangnya sembarangan, kena angin, kemudian masuk ke air atau sungai dan akhirnya ke laut,” imbuhnya.

Perkuat Regulasi Atasi Sampah Hingga Level Daerah

Untuk mengatur permasalahan sampah ini, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2017 Tentang Kebijakan dan Strategi Nasional (Jakstranas) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota.

“Jakstranas ini mengatur bagaimana melakukan perbaikan pengelolaan sampah. Jadi ada pengurangan produksi sampah dan penanganan sampahnya. Jakstranas pada tahun 2025 menginginkan sudah bisa memangkas sampah 30 % dan penanganan sampah 70 %,” paparnya.

Meski begitu, Mahawan menambahkan perlu ada regulasi yang mengatur permasalahan sampah ini di tingkat pemerintah daerah. Menurutnya, sampah bukan hanya permasalahan di perkotaan yang jumlah penduduknya banyak. Sampah juga perlu terkelola dengan baik mulai dari tingkat pemerintah daerah.

“Sepertinya sampah seolah-olah menjadi permasalahan di perkotaan yang penduduknya banyak. Ini menjadi kelemahan di provinsi dan kabupaten/kota yang masih berkembang, penduduknya sedikit seolah-olah sampah tidak menjadi masalah,” tandas Mahawan.

Penulis : Ari Rikin dan Fitri Annisa

]]>
https://www.greeners.co/berita/kemasan-plastik-sekali-pakai-terus-menambah-timbulan-sampah-baru/feed/ 0
Holly Grounds Ciptakan Kemasan Mi yang Bisa Anda Makan https://www.greeners.co/ide-inovasi/holly-grounds/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=holly-grounds https://www.greeners.co/ide-inovasi/holly-grounds/#respond Tue, 30 Mar 2021 12:00:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=32214 Inovasi Holly Grounds akan menjadi temuan favorit anak-anak indekos.]]>

Kali ini kita kembali akan membahas inovasi dalam teknologi kemasan ramah lingkungan. Bagi Anda pecinta mi instan yang sering merasa bersalah karena sampah kemasannya, inovasi dari Holly Grounds berikut membuka peluang kemasan mi instan yang lebih berkelanjutan di masa depan. 

Untuk anak-anak indekos atau Anda yang senang berhemat, pasti sudah akrab dengan mi instan. Makanan satu ini sering kali menjadi pilihan asupan ketika tanggal tua.

Namun, menyediakan banyak stok mi instan sama saja dengan menimbun sampah plastik. Produknya bisa Anda masak dan makan dalam waktu kurang dari 10 menit, tetapi kemasannya bisa memakan waktu 8 dekade untuk terurai. Solusinya? Kemasan mi yang dapat larut dan Anda makan dari Holly Grounds.

Mahasiswa desain produk, Holly Grounds, menggeser peran bungkus plastik dengan membuat invensi bungkus mi instan yang sudah berisi bumbu. Kemasannya terbuat dari bioplastik berbasis pati yang rasanya tawar dan larut dalam air mendidih, lalu dapat Anda makan.

holly grounds

Kemasan ini terbuat dari bioplastik berbasis pati yang rasanya tawar dan larut dalam air mendidih, lalu dapat Anda makan. Foto: Holly Grounds.

Terbuat dari bahan-bahan yang mudah ditemukan

Kemasan ini terbuat dari bahan-bahan yang mudah tersedia seperti tepung kentang, gliserin, dan air. Setelah tersegel dengan panas, film tersebut dapat menjaga mi kering tetap segar. Tetapi begitu bersentuhan dengan air mendidih, bungkusnya larut dalam waktu kurang dari satu menit.

Dengan bumbu dan perasa yang sudah ada di dalam kemasan itu sendiri, bungkusnya akan larut sebagai saus. Sedangkan bahan yang lebih besar seperti udang kering tersimpan di dalam bungkusan kertas terluar yang berlapis lilin.

“Saya dapat melakukan semua pengujian dan pembuatan di dapur saya karena prosesnya sangat sederhana,” jelas Grounds, yang baru saja lulus dari Universitas Ravensbourne, London.

holly grounds

Dengan bumbu dan perasa yang sudah ada di dalam kemasan itu sendiri, bungkusnya akan larut sebagai saus. Foto: Holly Grounds.

“Bahan-bahannya diblender dan dipanaskan sampai adonan memiliki ketebalan yang tepat. Pada tahap ini, saya menambahkan bumbu dan penyedap sebelum menuangkannya ke dalam cetakan yang diatur selama 24 jam.”

Film yang dihasilkan kemudian menjadi pembungkus balok mi kering. Holly Grounds menata mi dalam bentuk donat agar bisa matang lebih merata dan lebih pas jika masuk ke dalam mangkuk.

Untuk tujuan kebersihan, setiap paket tersimpan dalam kertas berlapis lilin.

Motivasinya membuat bungkus ini karena banyaknya siang dan malam yang ia habiskan untuk belajar sambil mengonsumsi ramen instan yang sering kali mengandung lebih banyak plastik daripada mi.

Dia menjadi sangat sadar akan ironi bahwa sebuah hidangan yang dirancang cepat saji namun berbalut kemasan yang membutuhkan waktu berabad-abad untuk terurai.

holly grounds

Film yang dihasilkan kemudian menjadi pembungkus balok mi kering. Foto: Holly Grounds.

Holly Grounds Menghindari Greenwashing

Bungkusnya yang dapat larut menjadi  alternatif plastik sekali pakai; serta pengganti bioplastik lain yang menurut Grounds sering kali tidak sesuai dengan gembar-gembor produsennya.

“Sementara alternatif plastik berbasis bio lain mengklaim dapat menjadi kompos atau biodegradable, dari sudut pandang konsumen tidak selalu sesederhana itu,” kata Grounds kepada Dezeen.

“Banyak dari film berbasis bio yang muncul hanya terurai dalam komposter industri pada suhu 50 derajat Celcius, sehingga sering berakhir di tempat yang salah tanpa konsumen benar-benar tahu bahwa film tersebut menyebabkan kerusakan pada planet ini.”

Untuk menghindari potensi greenwashing, Grounds membuat kemasan yang benar-benar menghilang di depan mata pengguna dan memberi mereka bentuk pertanggung jawaban yang nyata.

holly grounds

Bungkus ini dapat menjadi  alternatif plastik sekali pakai. Foto: Holly grounds.

Baca juga: Halo Baba: Beeswax Wraps untuk Kurangi Plastik Sekali Pakai

Waktu Penyajian Bungkus Holly Grounds yang Lebih Cepat

Grounds juga melakukan uji kecepatan memasak, untuk menantang gagasan bahwa plastik selalu menjadi pilihan yang lebih ramah pengguna.

Dia menemukan bahwa mi yang terbungkus plastik membutuhkan waktu satu menit lebih lama untuk proses persiapannya daripada yang terkemas dalam biofilmnya, karena proses yang memakan waktu untuk membuka dan mengosongkan saset bumbu yang terpisah-pisah.

“Kenyamanan telah menjadi bagian yang tak terhindarkan dari kehidupan sehari-hari, tetapi seringkali mengorbankan lingkungan,” katanya.

holly grounds

Holly Grounds menata mi dalam bentuk donat agar bisa matang lebih merata dan lebih pas jika masuk ke dalam mangkuk. Foto: Holly Grounds.

“Masalahnya adalah dunia tidak hanya menghadapi tumpukan plastik yang tumbuh pesat tetapi juga sikap apatis yang bertumbuh lebih besar. Itulah mengapa penting bagi saya untuk membuat pilihan yang nyaman menjadi pilihan yang berkelanjutan. Jika pilihan cepat untuk makanan atau camilan ramah lingkungan, konsumen dapat membantu planet ini bahkan mungkin tanpa menyadarinya.”

Semoga makin banyak opsi alternatif untuk menggantikan sampah yang memuncak di tempat pembuangan sampah dan tumpah ke lautan, ya.

Penulis: Agnes Marpaung

Sumber:

Dezeen

Website Holly Grounds

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/holly-grounds/feed/ 0
Biopac, Inovasi Kemasan Pengganti Plastik dari Rumput Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/biopac/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=biopac https://www.greeners.co/ide-inovasi/biopac/#respond Tue, 29 Dec 2020 08:00:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=30757 Indonesia menempati peringkat dua dunia sebagai negara penghasil sampah plastik ke laut. Ini mendorong terciptanya Biopac, kemasan dari rumput laut.]]>

Noryawati Mulyono, seorang doktor di bidang kimia pangan, menciptakan Biopac, inovasi kemasan ramah lingkungan dari rumput laut.

Apakah Anda peduli dengan lingkungan? Jangan mengaku iya jika Anda masih mengonsumsi makanan atau minuman dengan kemasan plastik sekali pakai. Sebab, Indonesia menempati peringkat dua dunia sebagai negara penghasil sampah plastik ke laut terbanyak setelah China.

Hal ini membuat Noryawati Mulyono, seorang doktor di bidang kimia pangan, menciptakan Biopac. Pengalamannya selama dua puluh tahun sebagai praktisi di perusahaan manufaktur makanan, akademisi, dan kewirausahaan membuatnya terdorong menghentikan pencemaran plastik.

Akar penyebab banjir di Jakarta setiap musim hujan ini menggugahnya untuk mengubah ide penelitian menjadi skala komersial.

Latar Belakang Pembuatan Biopac

“Biopac merupakan hasil penelitian dari seorang perempuan yang terpanggil menjadi dosen di tengah kenyamanannya sebagai profesional yang berkarir di industri pangan untuk memenuhi panggilan mencerdaskan generasi muda Indonesia, ” kisah Noryawati yang juga adalah tenaga pendidik di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, sejak 2009.

“Memilih bioplastic menjadi fokus saya berdasarkan  pengalaman pribadi mengalami banjir tahunan sejak tinggal di Jakarta tahun 2000. Menurut pengamatan saya, penyebab utamanya bukan derasnya air hujan, tetapi lebih karena tersumbatnya saluran-saluran air, gorong-gorong, pendangkalan sungai, oleh adanya sampah,” lanjutnya.

Selain pengalamannya di Jakarta, Noryawati pun menceritakan masa kecilnya ketika tinggal di daerah Pekalongan Selatan, Jawa Tengah, 4 km dari lokasi sekolah di Pekalongan Utara. Saat itu, Noryawati kecil sering bangun kesiangan dan hanya sempat sarapan mi instan.

Sesuai namanya, mi instan seharusnya cepat saji. Namun, karena banyaknya saset, persiapan memasaknya seringkali lebih lama dari memasaknya.

Pengalaman masa lalu inilah yang menjadikannya fokus melakukan penelitian di bidang bioplastik. Hingga akhirnya dia berinovasi dengan menawarkan Biopac.

Lebih jauh, dia mencoba menghasilkan sesuatu yang tidak hanya berhenti di tahap penelitian, tetapi dapat menjadi sebuah bisnis, sehingga berdampak nyata bagi masyarakat.

Noryawati menuturkan, hal ini tidak mudah, mengingat banyak faktor yang menjadi pertimbangan seperti mutu produk, biaya produksi, ketersediaan bahan baku, dan skala bahan. Selain fokus pada produknya, tim yang solid juga tak kalah penting.

biopac rumput laut

Noryawati memilih bioplastic menjadi fokusnya berdasarkan  pengalaman pribadi mengalami banjir tahunan sejak tinggal di Jakarta tahun 2000.

Kerja sama Tim

Dalam mencetuskan ide ramah lingkungan ini, perjalanan Noryawati tidak selamanya mulus. Sebelum produknya bergulir, dia pernah berada di masa yang galau. Saat itu, produknya sudah layak jual, dukungan dana hibah pun tersedia, namun dia merasa timnya belum benar-benar solid.

Kendala tim yang belum solid membuat Noryawati hampir melalukan pivot, banting setir, karena menilai tim yang teguh esensial di dalam keberhasilan perusahaan. Untungnya, Noryawati tidak patah arang. Kala itu dia melakukan pembenahan dan membangun kembali usahanya di atas dasar yang benar. 

“Akhirnya, jadilah Biopac, yang dibentuk oleh tim yang tidak memiliki keinginan mendapatkan keuntungan ekonomi semata-mata. Tetapi ingin berkontribusi untuk mengatasi masalah lingkungan, yang sekarang sudah merambah menjadi masalah sosial dan juga kesehatan,” tutur Noryawati.

Noryawati mendirikan Biopac bersama komisarisnya, Lie Tham Tjhun, yang merupakan pemilik perusahaan manufaktur makanan yang sukses di Indonesia. 

Lie Tham Tjhun memulai usahanya pada tahun 1984 di sebuah toko rumahan kecil. Namun, 2020 ini dia telah memiliki dua pabrik dan kantor pemasaran di beberapa kota di Indonesia, dan memasarkan produknya untuk lokal dan ekspor.

Dia melanjutkan, semua penelitian Biopac memiliki dua ciri utama. Pertama, memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia, berkelanjutan, dan tidak menimbulkan risiko kelaparan dan kekeringan. Kedua, akhir masa pakai produk harus aman bagi lingkungan.

Alasan Penggunaan Rumput Laut

Noryawati lalu mengingat masa ketika dia memutuskan untuk berinovasi dengan rumput laut. Pada 2004, Noryawati mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S2. Saat itu dia melakukan pengolahan damar untuk tugasnya.

Ketika riset, dia fokus meneliti antibakteri. Tetapi ternyata lewat penelitian itu, dia melihat bahwa damar memiliki aktivitas untuk membentuk film atau lapisan tipis.

Namun, eksplorasi yang terus dia lakukan ternyata menunjukkan bahwa sifat mekanik dari damar kurang bagus. Dia pun melanjutkan pencariannya dalam menemukan biomaterial lain yang melimpah di Indonesia. Noryawati mencari bahan dengan sifat mekanik yang lebih bagus dari damar dan juga memberikan keuntungan ekologis.

Pencarian ini mencapai titik terang pada 2012. Ketika itu, perjalanannya membawa Noryawati pada rumput laut. Dia menilai, dengan melakukan budidaya rumput laut dirinya tidak sekadar membuat inovasi produk ramah lingkungan, namun juga ikut serta menjaga kelestarian biota laut.

“Kalau kita budidaya rumput laut, membutuhkan laut yang bersih. Karena rumput laut itu pertumbuhannya butuh penetrasi sinar matahari. Artinya, petani rumput laut akan berpartisipasi menjaga kebersihan laut,” tuturnya.

Lebih jauh, Noryawati menuturkan dengan menggunakan rumput laut Biopac juga tidak melakukan deforestasi. Menggunakan rumput laut, alih-alih tanaman darat, juga menjauhkan Biopac dari penggunaan pestisida dan pupuk yang masih melibatkan bahan kimia yang berbahaya bagi lingkungan.

Dengan tekad dan kerja kerasnya, tidak heran bila Noryawati mendapat berbagai pengakuan. Penelitiannya pun menerima bantuan dana dari L’Oreal melalui program L’Oreal for Women in Science. 

biopac rumput laut

Dengan melakukan budidaya rumput laut, Biopac tidak sekadar membuat inovasi produk ramah lingkungan, namun juga ikut serta menjaga kelestarian biota laut. Foto: Biopac.

Jenis Produk Biopac

Awalnya fokus Biopac hanya produksi kemasan sekali pakai berukuran kecil, yang tidak akan didaur ulang atau digunakan kembali karena alasan teknologi atau ekonomi, dan jumlahnya besar.

“Jadi, produk yang pertama kali kami luncurkan adalah lembaran sebagai bungkus burger dan nasi, untuk menggantikan kertas burger atau nasi, yang sebenarnya merupakan kertas laminasi plastik. Lembaran tersebut juga bisa digunakan untuk bungkus sabun batang, sampo batang, pasta gigi tablet, dan produk-produk padat sejenisnya,” kisah Noryawati.

Produk kedua yang Biopac jual adalah saset, dengan segel samping atau tengah. Kemasan ini bisa berguna untuk saset kopi, tusuk gigi, dan sebagainya.

Biopac sangat terbuka dengan masukan dari pelanggan. Pengembangan produk pun sudah mereka lakukan karena banyaknya timbal balik dari pembeli.

Tak hanya lembaran pembungkus dan saset, kini mereka juga memproduksi dan menjual gusset, tas belanja dengan tali serut, dan rol segel untuk kantong buah.

biopac kemasan rumput laut

Tak hanya lembaran pembungkus dan saset, kini mereka juga memproduksi dan menjual gusset, tas belanja dengan tali serut, dan rol segel untuk kantong buah. Foto: Biopac.

Baca juga: Kertas Kemasan dari Ampas Tebu dan Kulit Jagung

Keistimewaan Biopac

Konsumen dapat menghemat waktu saat persiapan untuk mengonsumsi makanan dengan kemasan Biopac, karena kemasan saset Biopac dapat Anda konsumsi bersama dengan makanan di dalamnya.

Namun, apabila tidak Anda makan, konsumen juga dapat membuangnya ke tempat sampah organik, atau ke tanah, saluran air,  bahkan ke kloset.

Biopac akan menambah nutrisi tanah dan cepat larut dalam air. Biopac juga halal. Produknya tidak mengandung bahan-bahan yang dapat menimbulkan efek alergi bagi kalangan tertentu, seperti halnya kacang-kacangan, makanan laut, telur, atau terigu.

Biopac dapat Anda beri warna, tulisan atau logo, menyegelnya dengan panas, dan memesannya dengan ketebalan tertentu sesuai kebutuhan pelanggan. Kemasan ini juga ramah lingkungan.

“Ramah lingkungan bagi kami adalah sebuah syarat mutlak. Tidak hanya dapat terurai di alam, namun harus dapat terurai di alam secara alami oleh lingkungan, baik air maupun mikroba yang sudah tersedia di alam. Tanpa perlu bantuan pengaturan suhu atau penambahan mikroba tertentu. Bahkan, aman bagi semua makhluk hidup, yang makro maupun mikro, di darat, maupun laut, sustainable (terjamin keberlanjutannya). Baik dari segi bahan baku, proses pembuatan, produk, maupun akhir dari Biopac,” pungkas Noryawati.

Penulis: Agnes Marpaung

Editor: Ixora Devi

Website Biopac

 

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/biopac/feed/ 0