mahasiswa - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/mahasiswa/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 18 Oct 2023 07:02:29 +0000 id hourly 1 Kemendikbudristek: Isu Lingkungan Jadi Prioritas https://www.greeners.co/berita/kemendikbudristek-isu-lingkungan-jadi-prioritas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kemendikbudristek-isu-lingkungan-jadi-prioritas https://www.greeners.co/berita/kemendikbudristek-isu-lingkungan-jadi-prioritas/#respond Tue, 05 Sep 2023 07:42:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=41435 Jakarta (Greeners) – Kemendikbudristek menyatakan isu lingkungan akan menjadi prioritas dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. “Isu lingkungan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kemendikbudristek menyatakan isu lingkungan akan menjadi prioritas dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.

“Isu lingkungan ini menjadi prioritas. Terutama ada juga program-program yang kaitannya dengan perubahan iklim sudah ada. Kemudian, mata kuliah lintas SDGs sudah ada di beberapa perguruan tinggi. Bahkan, sudah ada juga mata kuliah lintas disiplin terhadap isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan,” ungkap Direktur Pembelajaran dan
Kemahasiswaan, Sri Suning Kusumawardani, dalam temu media di Jakarta, Jumat (1/9).

Per 30 Agustus 2023, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia menerbitkan Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.

BACA JUGA: Pendidikan Lingkungan Bersama Sakola Cikapundung

Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi merupakan kegiatan sistemik untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi secara berencana dan berkelanjutan. Penjaminan mutu pada pendidikan tinggi telah melalui penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, dan peningkatan Standar Pendidikan Tinggi (SPT).

Suning pun menambahkan, isu lingkungan dalam Permendikbudristek terus mengalami perkembangan untuk menjadi program di perguruan tinggi dan kalangan mahasiswa.

Diskusi Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. Foto: Dini Jembar Wardani

Diskusi Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. Foto: Dini Jembar Wardani

Skripsi Bukan Satu-satunya Syarat Kelulusan

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah membuat beragam pilihan tugas akhir kepada mahasiswa. Oleh karena itu, skripsi bukan menjadi satu-satunya untuk syarat kelulusan.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbud, Nizam menegaskan bahwa bentuk tugas akhir untuk syarat kelulusan kuliah tidak hanya skripsi. Mahasiswa pun dapat memilih dari banyak jenis tugas akhir yang lebih sesuai dengan bidang keilmuan dan minatnya.

BACA JUGA: Robi Navicula: Diperlukan Pengetahuan Cinta Lingkungan dalam Pendidikan Indonesia

“Jadi, bentuknya itu bisa beragam. Itu kami serahkan pada masing-masing perguruan tinggi dan program studinya. Misalnya, program studi tari. Itu bentuknya akan skripsi atau suatu karya tari, jadi mana yang paling pas untuk mengukur untuk seorang calon sarjana,” kata Nizam.

Nizam mencontohkan, mahasiswa teknik lingkungan bisa mengunjungi ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang untuk melihat aktivitas dan keadaan sampah di sana. Sehingga, mereka bisa memecahkan masalah dari hasil riset di sana melalui sebuah proyek atau bentuk lainnya.

Permendikbudristek ini juga menekankan kompetensi mahasiswa yang sesuai dengan keahliannya. Oleh karena itu, sarjana bisa memiliki kemampuan kerja yang sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya. Iti bisa terwujud melalui skripsi, proyek, capstone design project, dan suatu kasus.

Memerdekakan Mahasiswa dan Perguruan Tinggi

Terbitnya Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 ini menjadi sebuah langkah untuk memerdekakan perguruan tinggi dan mahasiswa. Nizam berharap para mahasiswa dapat lulus bukan dengan dipaksa, melainkan sesuai kompetensinya.

Dalam hal ini, penentuan tugas akhir juga akan diserahkan kepada perguruan tinggi dan mahasiswa. Nizam melanjutkan, kunci utamanya adalah kompetensi yang sesuai dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) level 6.

Kompetensi lulusan disusun sesuai dengan deskripsi KKNI level 6, yaitu level yang setara dengan jenjang Sarjana S1. KKNI tersebut meliputi aspek Kemampuan Kerja, Penguasaan Pengetahuan, Kemampuan Manajerial dan Sikap dan Tata Nilai.

“Itu yang paling fundamental. Sebab, di Permendikbudristek 53 ini menuntut para sarjana agar bisa memiliki kompetensi. Boleh tidak ada skripsi, bahkan boleh tidak ada tugas akhir dan kami fokusnya pada mode kompetensi,” ujar Nizam.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/kemendikbudristek-isu-lingkungan-jadi-prioritas/feed/ 0
Greeners.Co Kenalkan Jurnalisme Lingkungan ke Mahasiswa UIN https://www.greeners.co/aksi/greeners-co-kenalkan-jurnalisme-lingkungan-ke-mahasiswa-uin/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=greeners-co-kenalkan-jurnalisme-lingkungan-ke-mahasiswa-uin https://www.greeners.co/aksi/greeners-co-kenalkan-jurnalisme-lingkungan-ke-mahasiswa-uin/#respond Wed, 30 Aug 2023 05:05:03 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=41361 Jakarta (Greeners) – Jurnalisme lingkungan berperan penting dalam mengangkat fakta hingga membentuk solusi bagi permasalahan lingkungan hidup. Dalam edisi Editorial Trip di Bandung, Greeners.co menggelar Campus Visit di UIN Sunan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Jurnalisme lingkungan berperan penting dalam mengangkat fakta hingga membentuk solusi bagi permasalahan lingkungan hidup. Dalam edisi Editorial Trip di Bandung, Greeners.co menggelar Campus Visit di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan mengenalkan jurnalisme lingkungan kepada mahasiswa.

Jurnalisme lingkungan adalah cabang ilmu dari jurnalisme yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Hal itu demi kelangsungan kehidupan saat ini dan masa depan.

Para mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi turut hadir dalam kegiatan campus visit ini. Bersama Dosen Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Bandung, Dono Darsono, Greeners.Co membahas jurnalisme lingkungan dari berbagai perspektif.

Dono mengatakan, jurnalisme lingkungan berperan penting sebagai alat sosial dalam menguatkan dan mengoreksi pemerintah dalam gerakan jurnalisme pembangunan.

BACA JUGA: Walking Tour, Wisata yang Menyehatkan dan Ramah Lingkungan

“Jurnalisme lingkungan dalam jurnalisme pembangunan perlu hadir karena jurnalisme lingkungan itu akan mencoba mengoreksi jurnalisme pembangunan,” ungkap Dono dalam kegiatan Campus Visit Editorial Trip Greeners.Co Bandung, baru-baru ini.

Dono melanjutkan, para pelaku media di Indonesia juga perlu sadar akan kehancuran lingkungan hidup. Apalagi, ke depannya menggali isu lingkungan dan iklim lebih dalam akan menjadi hal yang menarik.

Wartawan Perlu Mencerminkan Peduli Lingkungan

Menurut Dono, profesi wartawan lingkungan tidak hanya berperan menggali informasi dan menghasilkan tulisan tentang lingkungan. Wartawan juga perlu mencerminkan dirinya untuk lebih peduli lingkungan.

“Wartawan yang bekerja di media yang kontennya lebih ke lingkungan, perlu menyadarkan pembacanya, dan juga kepada dirinya. Apalagi kalau wartawannya sadar lingkungan, baru di-explore ke masyarakat,” tambah Dono. 

Oleh karena itu, lanjutnya, wartawan harus memiliki sikap peduli lingkungan. Itu merupakan bukti bahwa wartawan lingkungan tidak sekadar menyuarakan peduli lingkungan kepada para pembaca, melainkan juga perlu mencerminkannya dalam dirinya.

Greeners.co menggelar Campus Visit di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Foto: Dini Jembar Wardani

Greeners.co mengenalkan jurnalisme lingkungan kepada mahasiswa. Foto: Dini Jembar Wardani

Kenalkan Cap Cukil ke Mahasiswa

Dalam rangka campus visit di Editorial Trip Bandung ini, Greeners.Co tidak hanya mengadakan talkshow. Ada banyak keseruan lainnya, misalnya mengenalkan cap cukil ke mahasiswa. Inisiasi ini untuk memperkenalkan teknik cetak tinggi. 

Cap cukil adalah transfer visual ke media dengan menggunakan bidang dengan bahan karet lino. Karet tersebut menggunakan ukiran dengan desain bernuansa flora dan dicat tekstil yang bisa digunakan berulang kali. Kemudian, karet tersebut bisa ditransfer dengan cara dicap ke media yang digunakan, yaitu totebag. 

BACA JUGA: Atasi Sampah di Bandung, Greeners.co Gelar Bincang Komunitas

Uniknya, cap cukil ini bisa melatih ketelitian dan keselarasan bentuk dalam menghasilkan sebuah gambar dengan proporsi yang baik dari aspek layout.

“Bidang kesenian ini mudah, cuma butuh ketelitian. Dari kegiatan ini juga harapannya para mahasiswa bisa berkreativitas lebih tinggi lagi. Tidak hanya mengenal sablon sebagai teknik transfer gambar ke sebuah media pakai, melainkan ada teknik cap cukil yang mampu menghasilkan gambar lebih terasa handmade. Sebab, keseluruhan proses pembuatannya manual,” ujar Creative Support Greeners.Co, Kalianda Ghulam Besari.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/greeners-co-kenalkan-jurnalisme-lingkungan-ke-mahasiswa-uin/feed/ 0
Temuan Dolina Terbesar di Indonesia Jadi Prestasi Korpala Unhas https://www.greeners.co/sosok-komunitas/temuan-dolina-terbesar-di-indonesia-jadi-prestasi-korpala-unhas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=temuan-dolina-terbesar-di-indonesia-jadi-prestasi-korpala-unhas https://www.greeners.co/sosok-komunitas/temuan-dolina-terbesar-di-indonesia-jadi-prestasi-korpala-unhas/#respond Mon, 29 May 2023 04:29:53 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=40230 Jakarta (Greeners) – Korps Pecinta Alam Universitas Hasanuddin (Korpala Unhas) punya keterlibatan di alam bebas. Komunitas kemahasiswaan ini menitikberatkan kegiatan alam terbuka yang menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan, petualangan dan humanisme. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Korps Pecinta Alam Universitas Hasanuddin (Korpala Unhas) punya keterlibatan di alam bebas. Komunitas kemahasiswaan ini menitikberatkan kegiatan alam terbuka yang menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan, petualangan dan humanisme.

Korpala Unhas awalnya berdiri melalui pendakian ke puncak Bawkaraeng pada tahun 1985. Pendakian tersebut dilakukan oleh 11 orang yang kini mereka tetapkan sebagai pendiri Korpala Unhas.

Kegiatan menantang seperti mendaki gunung, panjat tebing, susur gua serta penelusuran sungai dan laut terus para anggota lakukan hingga saat ini.

Kepala Korpala Unhas, Jum Ma’ruf Bilna Lilhaslam mengatakan, Korpala Unhas rutin melakukan riset di alam setiap tahunnya dan saat ini kegiatan sedang fokus menyalurkan bibit kepada masyarakat dalam misi penghijauan.

“Ada riset yang selalu kami lakukan di antaranya operasi dan ekspedisi. Kalau untuk dedikasi akademis, saat ini sedang melakukan penyaluran bibit kepada masyarakat,” kata Ma’ruf kepada Greeners, baru-baru ini.

Komunitas di Sulawesi ini juga telah berkontribusi dalam kegiatan sosial dan lingkungan di lingkup masyarakat. Kegiatan di bidang kesehatan biasanya berupa penyuluhan kesehatan, donor darah, dan pengobatan gratis.

Sedangkan di bidang lingkungan fokus pada kegiatan penghijauan di beberapa lokasi. Kemudian mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga dan melindungi lingkungan hidup.

Foto: Korpala Unhas

Temukan Dolina Terbesar di Indonesia

Dalam penelusurannya di alam, mereka pun pernah menemukan dolina terbesar di Indonesia. Penemuan ini menjadi prestasi yang membanggakan bagi Korpala Unhas. Pencapaian ini merupakan hasil kerja keras Tim Operasi Gua Padangguni. Awalnya, misi Tim Padangguni memetakan gua terbesar di Indonesia dan mengumpulkan data flora serta fauna.

Dolin atau sinkhole adalah depresi (lubang di tanah) yang disebabkan oleh beberapa bentuk keruntuhan lapisan permukaan. Dolina terbesar ini berhasil mereka temukan pada tahun 2022 di wilayah Konawe, Sulawesi Tenggara.

Dolina ini berukuran 300×200 meter dengan kedalaman 200×210 meter dan menjadi dolina terbesar yang sebelumnya pernah ada di Kuom, Papua.

Foto: Korpala Unhas

Pendidikan Dasar sebagai Bekal Korpala Unhas

Sementara itu, untuk menjaring anggota yang tangguh, sejak tahun 1987 mereka menerapkan mekanisme seleksi dalam sistem penerimaan anggotanya, untuk mengikuti pendidikan dasar (dikdas). Setelah menyelesaikan dikdas, proses selanjutnya harus diselesaikan untuk mendapatkan nomor keanggotaan tetap.

Selama proses inilah “seleksi alam'” terjadi dan yang tersisa hanya mereka yang benar-benar mampu membentuk karakter tangguh. Hal ini sekaligus sebagai tolak ukur “kualitas” setiap anggota Korpala.

Melalui sistem ini, Korpala akan membantu membentuk kualitas mental dan kepribadian anggota agar dapat berkembang secara optimal.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/temuan-dolina-terbesar-di-indonesia-jadi-prestasi-korpala-unhas/feed/ 0
KPA Arkadia Memulai Kesadaran Lingkungan dari Kampus https://www.greeners.co/sosok-komunitas/kpa-arkadia-memulai-kesadaran-lingkungan-dari-kampus/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kpa-arkadia-memulai-kesadaran-lingkungan-dari-kampus https://www.greeners.co/sosok-komunitas/kpa-arkadia-memulai-kesadaran-lingkungan-dari-kampus/#respond Fri, 02 Sep 2022 04:30:39 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=37218 Jakarta (Greeners) – Kelompok pecinta alam tak sekadar berpetualang ke berbagai destinasi alam tetapi, menjunjung tinggi edukasi nilai-nilai lingkungan hidup dan konservasi. Salah satunya yang Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kelompok pecinta alam tak sekadar berpetualang ke berbagai destinasi alam tetapi, menjunjung tinggi edukasi nilai-nilai lingkungan hidup dan konservasi. Salah satunya yang Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Pecinta Alam Arti Keagungan dan Keindahan Alam (KPA Arkadia) Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta lakukan di kampus.

KPA Arkadia yang berdiri pada 2 Oktober 1989 di Kampus IAIN Jakarta ini memulai kesadaran terhadap lingkungan dari lingkungan kampus. Kelompok yang terdiri dari 13 orang aktivis kampus ini menyukai alam bebas dan peduli terhadap pelestarian lingkungan hidup. Berbagai bidang yang ada di bawah KPA Arkadia, yaitu petualangan, advokasi dan konservasi lingkungan, search and rescue (SAR).

Kodiv Advokasi Lingkungan Hidup KPA Arkadia, Nadiatul Fadhilah mengatakan, pentingnya upaya advokasi lingkungan hidup dan konservasi di lingkungan kampus. “Karena di kampusku sendiri aku sadar masih minim banget soal kesadaran isu lingkungan ini,” katanya dalam Kupas Komunitas bersama Greeners, Rabu (31/8).

Sebagai organisasi intra, kampus merupakan lingkup terkecil yang harus dipastikan terlebih dahulu terkait dengan upaya kesadaran isu lingkungan ini. Oleh karenanya, UKM ini kerap kali terlibat aktif dalam gerakan lingkungan di sekitar kampus.

“Misalnya, kita beberapa bulan lalu bekerja sama dengan himpunan mahasiswa Biologi UIN untuk menanam kurang lebih 100 hingga 200 pohon di kampus,” kata dia.

Kegiatan KPA Arkadia di alam. Foto: KPA Arkadia

Gerakan Arkadia di Luar Kampus

Selain itu, program lain yang mereka lakukan di luar kampus yakni sosialisasi terkait pembuatan lubang biopori di Tangerang Selatan. Program lain yakni kegiatan ekspedisi untuk penelitian penyu dan kehidupan sosial budaya masyarakat. Program tersebut terkait dengan konservasi dan pemberdayaan masyarakat.

Mahasiswa angkatan 2021 ini menceritakan pengalamannya sebagai perempuan anggota KPA Arkadia. Berbeda dengan pecinta alam tempo dulu yang didominasi oleh laki-laki. Menurut perempuan yang akrab disapa Sagon ini, perempuan saat ini setara untuk bisa mendaki seperti halnya laki-laki. “Bersyukur aja saat ini bisa mendaki,” ujar dia.

Ia juga menceritakan pengalaman menariknya selama bergabung menjadi anggota KPA Arkadia. Seperti saat berkegiatan pelatihan dasar di Gunung Salak yang semakin memacunya untuk mantap bergabung di UKM ini.

Berbagai program tersebut mengacu pada visi dan misi KPA Arkadia. Di antaranya yakni menjadi organisasi dengan kualitas tingkat nasional dan internasional sesuai dengan nilai-nilai kecintaan alam.

Khusus untuk misinya di antaranya meningkatkan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia dan pengetahuan dalam kemampuan pencinta alam yang berkesinambungan dan terukur. Selain itu, turut mengintegrasikan kecintaan alam dengan leader mark perguruan tinggi.

Sagon juga mengungkap, KPA Arkadia sangat terbuka untuk bisa melakukan kerja sama dengan berbagai organisasi pencinta alam lain, termasuk di luar kampus. Sementara untuk pendaftaran anggota baru KPA Arkadia akan mereka lakukan pada Desember 2022 hingga Januari 2023.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/kpa-arkadia-memulai-kesadaran-lingkungan-dari-kampus/feed/ 0
30 Tahun IMTLI Konsisten Suarakan Kesadaran Lingkungan Berkelanjutan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/30-tahun-imtli-konsisten-suarakan-kesadaran-lingkungan-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=30-tahun-imtli-konsisten-suarakan-kesadaran-lingkungan-berkelanjutan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/30-tahun-imtli-konsisten-suarakan-kesadaran-lingkungan-berkelanjutan/#respond Fri, 27 May 2022 06:50:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=36281 Jakarta (Greeners) – Masalah lingkungan merupakan masalah bersama yang membutuhkan sinergi dari berbagai elemen masyarakat, termasuk kontribusi dan aksi dari civitas akademika. Salah satunya Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia (IMTLI) […]]]>

Jakarta (Greeners) – Masalah lingkungan merupakan masalah bersama yang membutuhkan sinergi dari berbagai elemen masyarakat, termasuk kontribusi dan aksi dari civitas akademika. Salah satunya Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia (IMTLI) telah konsisten selama 30 tahun menyuarakan tentang kesadaran lingkungan berkelanjutan.

IMTLI merupakan organisasi mahasiswa yang mewadahi seluruh mahasiswa teknik lingkungan se-Indonesia yang berfokus pada bidang lingkungan. Kiprahnya ada di tingkat regional, nasional hingga global. Berdiri sejak tahun 1992, organisasi ini memiliki solidaritas yang sangat kuat.

Ketua Umum IMTLI Rahma Khusniawati mengatakan, latar belakang berdirinya organisasi ini berawal dari gabungan lima himpunan universitas. Dengan visi yang sama, yakni berfokus pada lingkungan berkelanjutan. Lalu mereka menamakan organisasi ini Ikatan Mahasiswa Teknik Penyehatan Lingkungan Indonesia (IMTPLI).

Akan tetapi, pada kongres tahun 2001 namanya berganti menjadi Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia (IMTLI). “Latar belakang organisasi ini untuk mewadahi dan berbagi program kerja sesama mahasiswa teknik lingkungan di Indonesia,” katanya dalam Kupas Komunitas bersama Greeners, baru-baru ini.

Berawal dari hanya lima kumpulan himpunan universitas, kini IMTLI mempunyai 48 himpunan universitas. Mereka terbagi menjadi enam regional masing-masing wilayah. Misalnya, untuk regional I yaitu gabungan dari universitas-universitas dari Sumatra. Regional II yaitu gabungan dari universitas di wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Regional III merupakan gabungan dari universitas yang ada di Yogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya.

Selanjutnya, regional IV merupakan gabungan dari universitas yang ada di Jawa Timur. Regional V merupakan universitas yang ada di wilayah Kalimantan, serta terakhir regional VI merupakan gabungan dari universitas yang ada di Indonesia Timur.

Salah satu aktivitas IMTLI untuk Indonesia yang berkelanjutan. Foto: IMTLI

Miliki Visi Mewujudkan Lingkungan Berkelanjutan

Rahma yang berasal dari Universitas Brawijaya ini menyatakan, visi IMTLI yakni mewujudkan organisasi profesional independen untuk mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan. Sementara untuk misinya yaitu memastikan dari banyaknya anggota mahasiswa teknik lingkungan ini dapat berkontribusi nyata terhadap lingkungan.

“Karena kita terdiri banyak anggota maka harus merangkul satu anggota dan lainnya. Melalui agenda kerja kita dapat berkontribusi nyata terhadap lingkungan,” jelasnya.

Berbagai kegiatan dan program sudah IMTLI lakukan seperti saat peringatan hari keanekaragaman hayati pada 22 Mei lalu. Selanjutnya aksi peduli lingkungan serentak di semua regional, serta program kegiatan yang terintegrasi. Misalnya, pada tahun ini mengupas tuntas tentang poin 15 dalam Sustainable Development Goals (SDGs) tentang ekosistem darat.

Selain itu, dalam waktu dekat memperingati dies natalis IMTLI pada September 2022, mereka akan menggelar Indonesia Environmental Summit. Acara ini buah kerja sama dengan seluruh mahasiswa dari program studi lintas lingkungan.

“Kalau selama ini kita kan hanya berdiskusi sesama orang dengan latar belakang lingkungan maka tahun ini kita coba lintas program studi,” imbuhnya.

Sebagai generasi muda, sudah menjadi kewajiban bagi mahasiswa yang tergabung dalam IMTLI untuk meningkatkan kesadaran lingkungan kepada masyarakat sekitar. Utamanya kata Rahma harus dilakukan dari diri sendiri baru kemudian mengajak masyarakat sekitar hingga media sosial.

Rachma percaya langkah ini tidak sekadar memicu orang untuk sadar akan lingkungan, tapi juga mengubah perilaku seseorang.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/30-tahun-imtli-konsisten-suarakan-kesadaran-lingkungan-berkelanjutan/feed/ 0
Mahasiswa Untan Peringati Hari Penyu Sedunia https://www.greeners.co/berita/mahasiswa-untan-peringati-hari-penyu-sedunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-untan-peringati-hari-penyu-sedunia https://www.greeners.co/berita/mahasiswa-untan-peringati-hari-penyu-sedunia/#respond Fri, 24 May 2013 03:14:17 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3574 Pontianak – Hujan lebat yang mengguyur Kota Pontianak pada Kamis (23/5) sore, tidak menghalangi puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Biologi, Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura memperingati Hari Penyu Sedunia. […]]]>

Pontianak – Hujan lebat yang mengguyur Kota Pontianak pada Kamis (23/5) sore, tidak menghalangi puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Biologi, Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura memperingati Hari Penyu Sedunia. Mereka mengelilingi Tugu Digulis Universitas Tanjungpura sambil membawa spanduk, poster, serta membagikan leaflet berisi ajakan dan imbauan terkait Hari Penyu Sedunia.

Andi, salah seorang mahasiswa menuturkan, tingginya angka perburuan dan perdagangan telur penyu di kalimantan barat membuat Himabio khawatir akan keberlangsungan hidup penyu dan habitatnya. “Sampai saat ini, masih banyak dijumpai pedagang yang menjual telur penyu secara terbuka,” kata Andi. Menurut dia, hal itu menggambarkan rendahnya kesadaran masyarakat dan kontrol pemerintah dalam upaya menekan angka perburuan.

Ia melanjutkan, telur penyu sebenarnya juga tidak lebih baik dari telur ayam. Kandungan kolesterol yang tinggi di telur penyu juga dapat menyebabkan stroke. “Belum lagi kandungan racun dan bakteri yang terkandung ditelurnya akibat dari pencemaran laut,” kata Andi.

Sementara mahasiswa lainnya, Aris mengatakan, selain melakukan aksi damai, Himabio juga akan mengirimkan surat kepada pihak terkait terutama penegak hukum. “Kami selaku mahasiswa, ingin menyampaikan imbauan mereka kepada pihak terkait untuk bersama-sama melakukan pengawasan perdagangan penyu, telur dan habitatnya,” ujar Aris. Ia berharap, melalui aksi tersebut, penyu dihabitatnya dapat terselamatkan dari ancaman kepunahan. Namun, lanjut dia, Kalbar bisa menjadi rumah yang ramah bagi penyu dan telur-telurnya. “Masyarakat Kalbar akan menjadi pelopor konservasi penyu di mata dunia. Stop! Perburuan dan perdagangan telur penyu,” kata Aris.

Himabio FMIPA Untan menyampaikan tiga himbauan kepada masyarakat dan pihak berwenang. Yakni, mahasiswa meminta masyarakat luas untuk menghentikan perburuan dan konsumsi telur penyu. Kedua, mereka juga meminta pihak berwenang untuk berperan aktif dalam pengawasan perdagangan penyu, telur dan habitatnya. Ketiga, meminta masyarakat luas untuk menjaga dan melestarikan penyu serta habitatnya.

Menurut Dwi Suprapti, Koordinator Kelautan WWF Indonesia Program Kalimantan Barat, salah satu lokasi utama tempat penyu membuat sarang dan bertelur terletak di Paloh, Kecamatan Sambas. Jaraknya hampir 300 kilometer dari Kota Pontianak, di sebelah utara Kalbar. Namun kini, rata-rata telah terjadi penurunan dari jumlah penyu yang menempatkan sarang di Pantai Paloh. “Rata-rata dari tahun ke tahun di Paloh, terjadi penurunan jumlah penyu yang bertelur,” kata dia.

Ia menambahkan, saat ini terjadi penyusutan dari jumlah sarang yang terdapat di  pantai berpasir putih itu. “Penurunan itu, berkisar 200 sarang. Artinya mengalami penurunan 40 penyu – 60 ekor penyu per tahun,” kata Dwi Suprapti. Ia menjelaskan, ada sejumlah hal sehingga terjadi penurunan jumlah penyu yang bertelur di Pantai Paloh. Menurut Dwi Suprapti, penyu membutuhkan tempat yang relatif aman untuk bertelur.

“Penyebab pertama sehingga terjadi penurunan penyu yang bertelur di Pantai Paloh, diantaranya karena gangguan dari lalu lintas aktifitas masyarakat di sekitar pantai yang menjadi lintasan atau tempat penyu bertelur. Kemudian, beberapa tahun silam, sebagian besar telur penyu di Pantai Paloh diburu sehingga generasinya makin berkurang.

]]>
https://www.greeners.co/berita/mahasiswa-untan-peringati-hari-penyu-sedunia/feed/ 0
Kendaraan Listrik Dari UGM Untuk Difabel Dan Lansia https://www.greeners.co/berita/kendaraan-listrik-dari-ugm-untuk-difabel-dan-lansia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kendaraan-listrik-dari-ugm-untuk-difabel-dan-lansia https://www.greeners.co/berita/kendaraan-listrik-dari-ugm-untuk-difabel-dan-lansia/#respond Sat, 07 Apr 2012 08:44:42 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2647 Yogyakarta (Greeners) – eSemar Xperimental merupakan kendaraan listrik ramah lingkungan karya mahasiswa jurusan Teknik Mesin dan Teknik Industri Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogya. Kendaraan yang baru seminggu diluncurkan itu akan […]]]>

Yogyakarta (Greeners) – eSemar Xperimental merupakan kendaraan listrik ramah lingkungan karya mahasiswa jurusan Teknik Mesin dan Teknik Industri Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogya. Kendaraan yang baru seminggu diluncurkan itu akan dipergunakan sebagai sarana transportasi lingkungan kampus.

Sebagai kendaraan listrik berkonsep ramah lingkungan, eSemar tidak mengeluarkan suara maupun asap saat pengoperasiannya. Menurut Ketua Tim Riset Otomotif UGM, Jayan Sentanuhady, eSemar dirancang rendah emisi karena menggunakan tenaga listrik. Mesin mobil menggunakan air conditioner (AC) yang memungkinkan 80 persen lebih efisien dalam penggunaan energi. “100 persen desain oleh mahasiswa (UGM), dengan kapasitas enam kursi,” ujar Jayan, di UGM, Yogyakarta, pekan lalu.

Mengenai komponen kendaraan, eSemar menggunakan 30 persen komponen lokal. Kedepan, kata Jayan, peningkatan penggunaan komponen lokal akan dilakukan dengan target hingga 50 persen. Saat ini, Tim Riset konsisten untuk mengembangkan mobil listrik meski diakui masih memiliki kelemahan.

Kelemahan komponen yang dimaksud antara lain penggunaan dengan jarak tempuh pendek, menggunakan baterai dengan harga mahal, dan infrastruktur pengisian baterai terbatas. Sebagai mobil riset, eSemar menghabiskan dana sekitar Rp200 juta dalam pembuatannya.

Salah satu pengemudi eSemar, Hanafi mengatakan, untuk sementara eSemar ditempatkan kompleks parkir khusus gedung pusat UGM. Penggunaannya diperuntukkan bagi difabel, warga lanjut usia, dan tamu VIP di UGM. “SOP (standard operating procedure) sementara untuk lingkungan terdekat belum perjalanan jauh karena belum dilengkapi spion juga,” kata Hanafi.

Mobil listrik tersebut, katanya, baru dapat digunakan untuk perjalanan antara 60 kilometer hingga 80 kilometer dengan kecepatan rendah. Selain itu, penggantian atau pengisian ulang baterai listrik harus dilakukan tiga jam hingga enam jam sekali tergantung penggunaan.

Mengenai karya mahasiswa itu, Rektor UGM Sudjarwadi menyampaikan, kendaraan listrik menjadi salah satu bukti bahwa mahasiswa sebagai kaum muda bisa berkarya, setidaknya untuk lingkungan sekitarnya. Dengan komponen listrik rendah emisi, Sudjarwadi berharap kedepan akan tercipta model-model sama yang mendukung lingkungan asri di civitas akademika UGM dan sekitarnya. “Peningkatan kualitas mahasiswa kedepan akan terus diupayakan, salah satu dukungannya dengan menciptakan kenyamanan lingkungan,” katanya.

Saat ini kendaraan listrik yang dioperasikan secara aktif baru satu unit. Kedepan UGM segera mengoperasikan lagi tiga unit. (G-18)

]]>
https://www.greeners.co/berita/kendaraan-listrik-dari-ugm-untuk-difabel-dan-lansia/feed/ 0