editorial trip - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/editorial-trip/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 21 Dec 2023 04:11:35 +0000 id hourly 1 Greeners.Co Gelar Talkshow Teknologi Pengelolaan Sampah di UNSOED https://www.greeners.co/aksi/greeners-co-gelar-talkshow-teknologi-pengelolaan-sampah-di-unsoed/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=greeners-co-gelar-talkshow-teknologi-pengelolaan-sampah-di-unsoed https://www.greeners.co/aksi/greeners-co-gelar-talkshow-teknologi-pengelolaan-sampah-di-unsoed/#respond Thu, 21 Dec 2023 05:00:59 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=42584 Jakarta (Greeners) – Media lingkungan Greeners.Co kembali mengenalkan isu lingkungan pada perjalanan Editorial Trip keempatnya di Kabupaten Banyumas. Kali ini, Greeners.Co menggelar talkshow bertemakan “Tantangan Inovasi Teknologi Pengelolaan Sampah yang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Media lingkungan Greeners.Co kembali mengenalkan isu lingkungan pada perjalanan Editorial Trip keempatnya di Kabupaten Banyumas. Kali ini, Greeners.Co menggelar talkshow bertemakan “Tantangan Inovasi Teknologi Pengelolaan Sampah yang Ramah Lingkungan “dalam rangkaian Campus Visit di Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED).

Penumpukan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) kini tengah menimbulkan banyak masalah yang kompleks bagi lingkungan. Bahkan, pada tahun 2023 ini sebanyak 34 TPA di Indonesia telah terbakar. Sejumlah pemerintah kota dan kabupaten juga sudah menyediakan teknologi pengelolaan sampah atau insinerator sampah. Namun, teknologi ini juga belum menjadi solusi yang konkrit untuk mengolah sampah.

Pada program Editorial Trip ini, Greeners.Co pun menggali persoalan tersebut bersama para narasumber dari berbagai bidang. Di antaranya perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas, dan Fakultas Teknik Universitas Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED).

BACA JUGA: Greeners.Co Gaungkan Hidup Berkelanjutan ke Mahasiswa UNAIR

Bahan dan Komponen Sampah Cepat Berubah

Menurut Akademisi Fakultas Teknik Industri UNSOED, Sugeng Waluyo, menciptakan teknologi pengelolaan sampah tidaklah mudah. Sebab, sampah memiliki bahan dan komponen yang cepat berubah.

Jadi, membuat teknologi yang bisa menjadikan sampah sebagai sesuatu yang berharga atau upcyling itu sulit luar biasa. Sebab, kalau dijadikan industri juga, itu (sampah) bukan standar bahan baku industri. Bahan baku industri itu harus seragam dari segi kualitas, jenis, dan bobotnya,” ujar Sugeng saat Talkshow di Fakultas Teknik UNSOED, Jumat (15/12). 

Sugeng menambahkan, mesin produksi pada sampah tidak ada yang sifatnya fleksibel. Alasannya, sampah berbeda dengan bahan-bahan industri lainnya. Sampah ini terkadang berubah secara tidak menentu waktunya.

“Kadang basah, terus kadang kering, kadang ada asamnya. Ternyata, hal itu menjadi sesuatu yang ingin kita cari solusinya di mana. Kalau mau kelola sampah, kita perlu membuat sistem industrinya . Misalnya, dalam suatu kaidah industri itu ada quality control, ada manajemen produksi, lini produksi, pengecekan bahan baku, dan itu masih dicari,” tambah Sugeng.

Greeners.Co gelar talkshow Teknologi Pengelolaan Sampah di UNSOED. Foto: Dini Jembar Wardani

Greeners.Co gelar talkshow Teknologi Pengelolaan Sampah di UNSOED. Foto: Dini Jembar Wardani

Teknologi Pengelolaan Sampah Belum Bebas Emisi

Sementara itu, teknologi yang kini banyak dipakai untuk pengelolaan sampah belum bisa bebas dari emisi. Padahal, emisi tersebut bisa menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan dan manusia.

“Memang betul yang jadi masalah itu adalah emisi. Enggak bau, tapi kelihatan dari rumah penduduk itu berminyak. Jadi, sangat bermasalah. Ada beberapa metode untuk mengatasinya dengan air. Jadi ditaburkan kalsium, nah kalsium itu bisa menyerap minyaknya kemudian turun, tapi enggak 100 persen. Setidaknya bisa meminimalisir,” imbuh Sugeng.

BACA JUGA: Resan Gunungkidul, Jaga Mata Air dengan Melestarikan Pohon

Sugeng bersama timnya juga telah membuat inovasi pengelolaan sampah, yakni daurulang.id. Dalam inovasinya ini. mereka fokus ke teknologi sampah plastik. Terutama multilayer, pembalut, pampers, kain, dan sepatu. Seluruh sampah tersebut akan mereka buat menjadi bahan kontruksi seperti kusen jendela dan pintu.

“Tetapi, di sini gak cuma teknologi saja karena harus menyiapkan rantai pasok gimana sampah itu bisa terkontrol kondisinya. Jadi, rantai pasok harus berjalan, tapi emisi juga perlu tertangani, kemudian juga soal daya penerimaan masyarakat terhadap barang itu,” ujar Sugeng.

Pengelolaan Sampah di Banyumas Terbaik di Asia Tenggara

Tempat Pemrosesan Akhir Berbasis Lingkungan Edukasi (TPA BLE) di Banyumas menjadi salah satu contoh TPA yang sekaligus mengoperasikan pengelolaan sampah secara efektif. Dalam satu tempat, seluruh sampah yang masuk ke TPA BLE langsung diolah menjadi berbagai macam produk. Misalnya, paving block dan refuse derived fuel (RDF). Kemudian, sampah organiknya menjadi pakan maggot.

Tak sekadar itu, pengelolaan sampah di Kabupaten Banyumas pun beberapa waktu ini telah menjadi sorotan bagi banyak orang. Bahkan, tempat pengelolaan sampah di Banyumas ini menjadi yang terbaik se-Asia Tenggara.

Jadi kenapa bisa menjadi tempat pengelolaan sampah terbaik? Karena ada sebuah sistem yang membedakan kota atau kabupaten lain. Jadi kalau di yang lain itu sampah-sampah yang dikelola itu langsung dari pemerintah dari peraturan daerahnya sendiri ada,” kata Staf TPA BLE Kabupaten Banyumas, Hafidh Fadhulrrohman. 

Tidak hanya didukung oleh teknologi canggih, Banyumas juga berhasil mengelola sampah karena telah menciptakan sebuah sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir yang terstruktur. Keterlibatan dari Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) menjadi garis terdepan dalam memilah sampah di Kabupaten Banyumas. Masyarakat pun bisa menyetorkan sampahnya ke KSM dan mendapatkan insentif lewat aplikasi.

KSM ini tersebar di Kabupaten Banyumas sebanyak 29 KSM. Jadi KSM yang mengelola TPST atau TPS3R. Inovasi di KSM juga ada mesin gibrik. Mesin ini akan otomatis memilah sampah anorganik dan organik,” kata Hafidh. 

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/greeners-co-gelar-talkshow-teknologi-pengelolaan-sampah-di-unsoed/feed/ 0
Greeners.Co Gaungkan Hidup Berkelanjutan ke Mahasiswa UNAIR https://www.greeners.co/aksi/greeners-co-gaungkan-hidup-berkelanjutan-ke-mahasiswa-unair/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=greeners-co-gaungkan-hidup-berkelanjutan-ke-mahasiswa-unair https://www.greeners.co/aksi/greeners-co-gaungkan-hidup-berkelanjutan-ke-mahasiswa-unair/#respond Sat, 09 Dec 2023 04:00:26 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=42456 Jakarta (Greeners) – Greeners.Co mengedukasi pemahaman gaya hidup berkelanjutan atau ramah lingkungan kepada mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR). Hal itu dalam rangka Editorial Trip yang ketiga oleh Greeners.Co di Kota Surabaya. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Greeners.Co mengedukasi pemahaman gaya hidup berkelanjutan atau ramah lingkungan kepada mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR). Hal itu dalam rangka Editorial Trip yang ketiga oleh Greeners.Co di Kota Surabaya. Bersama organisasi pecinta alam WANALA UNAIR, Greeners.Co melangsungkan kegiatan Campus Visit bertemakan “Gaya Hidup Ramah Lingkungan Ala Arek Suroboyo” di Student Center Kampus B Unair, Jumat (1/12).

Campus Visit menjadi rangkaian wajib yang Greeners.Co lakukan dalam program Editorial Trip. Lewat kegiatan ini, Greeners.Co memiliki tujuan besar agar mahasiswa bisa mengenal isu lingkungan lebih luas. Sebab, anak muda berperan besar untuk memulai langkah yang peduli terhadap lingkungan.

Sejumlah narasumber hadir dan memberikan banyak perspektif dari berbagai bidang soal gaya hidup ramah lingkungan. Mereka mewakili berbagai sektor, di antaranya dari NGO Dietplastik Indonesia, Danone Indonesia, Eiger Adventure, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

BACA JUGA: 4 Aplikasi Untuk Gaya Hidup Berkelanjutan

Policy Analyst Direktorat Pengurangan Sampah KLHK, Fazri Putrantomo mengatakan gaya hidup berkelanjutan atau ramah lingkungan bisa dimulai pada diri sendiri. Misalnya, dengan melakukan pembatasan kantong plastik. Kemudian, memilih produk yang memiliki material recycle. Khususnya, bagi pecinta alam seperti WANALA UNAIR dapat menggunakan wadah guna ulang untuk membawa perbekalan ke gunung.

Cari hal yang bisa isi ulang atau guna ulang, seperti air pakai tumbler, bahan makanan juga banyak bisa isi ulang. Setelah itu ke pemilahan, identifikasi dulu kira-kira mana yang bisa menghasilkan sampah. Setelah sampah dipilah, harus dibawa, jangan tinggalkan di atas gunung,” ujar Fazri saat Talkshow di Campus Visit UNAIR. 

Fazri menambahkan, sampah organik juga harus kelola sendiri di sumber lewat kompos, maggot, dan lubang biopori. Kemudian, sampah anorganik bisa menjadi sirkular ekonomi untuk membantu beban sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). 

Greeners.Co mengedukasi pemahaman gaya hidup berkelanjutan atau ramah lingkungan kepada mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR). Foto: Dini Jembar Wardani

Greeners.Co mengedukasi pemahaman gaya hidup berkelanjutan atau ramah lingkungan kepada mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR). Foto: Dini Jembar Wardani

Guna Ulang Menjadi Langkah Efektif Kurangi Sampah

Kota Surabaya kini telah melarang penggunaan kantong kresek sekali pakai. Hal ini menjadi momen pengurangan sampah secara signifikan. Konsep guna ulang atau reuse juga bisa menjadi langkah efektif untuk masyarakat lakukan dalam mengurangi sampah.

“Kenapa akhirnya kita harus reuse? Supaya penggunaan ulang ini bisa menjaga masyarakat tidak konsumtif. Selain Surabaya, ada juga kota dan kabupaten lain yang melarang penggunaan kantong plastik, dari situ kami muncul semangat harus menciptakan ekosistem guna ulang. Bagaimana nantinya kita menggunakan barang yang berulang kali,” kata Deputy Director Dietplastik Indonesia, Rahyang Nusantara.

Rahyang menambahkan, guna ulang bukan hanya sekadar berbicara soal produk saja, melainkan suatu sistem yang sirkular.

“Konsumen sebagai pengguna akhir dapat produknya, terus wadahnya itu bisa muter dan digunakan kembali. Contohnya seperti tabung gas dan air mineral galon yang saat ini sudah menerapkan guna ulang. Kita ingin mengadopsi itu dalam produk kosmetik dan rumah tangga,” ujar Rahyang.

Pendaki Perlu Memperhatikan Pengurangan Sampah di Gunung

Pendaki juga penting memperhatikan pengurangan sampah ini. Mereka yang gemar mendaki gunung perlu mengurangi sampah dengan tidak membawa banyak kemasan ke atas gunung. Perbekalan yang pendaki bawa bisa dimasukkan ke dalam wadah agar tak menghasilkan sampah.

BACA JUGA: Green Jaagat Insight, Komunitas yang Dukung Hidup Berkelanjutan

“Eiger coba mengadopsikan soal zero waste mountain itu di Gunung Kembang. Pengelola kami ajak kerja sama, jadi tergagas menjadi program adopsi gunung yang berkaitan dengan zero waste mountain. Mereka saat ini sudah mencatat perbekalan yang akan pendaki bawa ke atas gunung. Kemudian, saat turun ada pemeriksaan. Mereka harus bawa ampah yang mereka hasilkan,” ungkap Eiger Adventure Service Team Manager Galih Donikara.

Menurut Galih, pendaki bisa memulai untuk mengurangi sampah sebelum mendaki. Salah satunya menggunakan wadah guna ulang.

“Jadi makanan seperti sayuran, kopi, dan lainnya bisa masuk ke dalam wadah atau botol-botol. Kami juga sudah uji coba itu ke pendaki dan akhirnya berhasil. Jadi, pengelolanya juga harus tegas dan konsisten,” ujar Galih.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/greeners-co-gaungkan-hidup-berkelanjutan-ke-mahasiswa-unair/feed/ 0
YPCII Dorong Pekerja di Bidang Sampah Miliki Jaminan Kesehatan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ypcii-dorong-pekerja-di-bidang-sampah-miliki-jaminan-kesehatan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ypcii-dorong-pekerja-di-bidang-sampah-miliki-jaminan-kesehatan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ypcii-dorong-pekerja-di-bidang-sampah-miliki-jaminan-kesehatan/#respond Sat, 18 Nov 2023 04:00:15 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=42287 Jakarta (Greeners) – Para pekerja dalam bidang sampah memiliki risiko besar dalam menjalani pekerjaannya. Menyadari hal itu, Non Governmental Organization (NGO) asal Indonesia, Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCII) bergerak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Para pekerja dalam bidang sampah memiliki risiko besar dalam menjalani pekerjaannya. Menyadari hal itu, Non Governmental Organization (NGO) asal Indonesia, Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCII) bergerak memprioritaskan jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan kepada pekerja sampah.

NGO yang berdiri sejak tahun 2008 ini bertujuan memajukan kehidupan masyarakat di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan hidup. Tujuan tersebut akan mereka capai dengan cara meningkatkan kemampuan masyarakat dalam membangun diri sendiri. Hal itu tanpa membedakan suku, agama, ras, dan pandangan politik mereka.

Semua personel dalam perangkat YPCII juga berpengalaman luas dalam program pengembangan masyarakat di bidang kesehatan ibu dan anak. Selain itu, YPCII juga terus mendorong agar masyarakat bisa mengakses air bersih, higienitas, dan sanitasi.

Anggota YPCII sekaligus Program Manager Inclusive Recycling Indonesia, Lydia Fransisca mengatakan YPCII mendukung program pengelolaan sampah. Salah satunya di Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Panggungharjo, Kabupaten Bantul. YPCII mendorong para pekerja di TPS3R memiliki jaminan kesehatan dan jaminan ketenagakerjaan gratis dari pemerintah.

BACA JUGA: Paste Lab Hasilkan Banyak Karya dari Sampah Plastik

“Dengan jaminan kesehatan, mereka bisa mengakses (layanan) kesehatan. Terpenting kami niat saja buatnya, kami mintakan KTP dan kartu keluarganya untuk membuat jaminan kesehatan. Ada juga jaminan kecelakaan kerja, karena mereka rentan mengalami kecelakaan kerja. Lalu, untuk jaminan kami kerja sama dengan BPJS ketenagakerjaan,” ucap Lydia kepada Greeners di TPS3R Panggungharjo.

Lydia menambahkan, melalui jaminan ketenagakerjaan, karyawan bisa mendapatkan tiga benefit dari BPJS ketenagakerjaan. Di antaranya asuransi kecelakaan kerja, jaminan pensiun hari tua, dan jaminan kematian.

“Setidaknya kami mendorong teman-teman di TPS3R atau di collection center punya itu. Kami pelan-pelan mendorong mereka punya BPJS ketenagakerjaan yang kemudian poinnya itu akan ditanggung oleh TPS3R sendiri,” ujar Lydia.

YPCII Dorong Ciptakan Lingkungan Sehat

Menurut Lydia, banyak faktor penyebab masalah kesehatan di Indonesia. Salah satunya penanganan sampah yang kurang tepat.

“Kami paham penanganan sampah yang kurang tepat bisa mencemari lingkungan. Kemudian, mempengaruhi kualitas air yang akan masyarakat konsumsi, yang akhirnya menimbulkan penyakit. Melihat hal seperti itu, kami dari YPCII memang bergerak dalam bidang kesehatan, lalu fokus juga ke lingkungannya supaya bersih dan orang itu sehat,” kata Lydia.

YPCII juga mendorong semua pihak yang terlibat seperti pekerja dalam sektor sampah. Jika karyawan sakit, otomatis sistem pengelolaan sampah juga tidak bisa berjalan efektif. Dengan demikian, kesehatan karyawan sangat penting untuk dijaga.

Pekerja di Bidang Sampah Rentan Terkena Penyakit

Para pekerja di bidang sampah tentu tidak pernah jauh dari tumpukan sampah yang mengandung mikroorganisme. Hal itu mengakibatkan karyawan terserang penyakit lantaran ada banyak bakteri dan virus yang menumpuk di sampah.

“Ingat kemarin saat Covid, bayangkan semua sampah di bawa ke sini, kan kita gak tahu Covid atau enggak. Itu semua ditangani oleh teman-teman di sini. Kami juga terus mengimbau mereka untuk pakai masker dan face shield,” imbuh Lydia.

Tak hanya itu, petugas sampah juga sering mengalami infeksius serta trauma fisik seperti terkena tusuk sate. Kemudian, ada juga petugas yang terkena infeksi berat yang sangat membahayakan.

BACA JUGA: Project B Indonesia, 15 Tahun Buat Produk Bernilai dari Sampah

“Ketika menjadi infeksi dan meluas, itu membahayakan dan mengancam nyawa. Belum lagi terkena beling, kena paku, lalu ada pekerja yang kecelakaan terkena mesin,” tambah Lydia.

Oleh sebab itu,  YPCII terus mendorong agar karyawan di TPS3R memiliki lingkungan kerja yang lebih sehat. Setidaknya, mereka aman dan terlindungi dari kecelakaan kerja. Mendukung hal itu, YPCII mengadakan pelatihan keselamatan kerja kepada para karyawan dan terus menyediakan alat pelindung diri.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ypcii-dorong-pekerja-di-bidang-sampah-miliki-jaminan-kesehatan/feed/ 0
Resan Gunungkidul, Jaga Mata Air dengan Melestarikan Pohon https://www.greeners.co/sosok-komunitas/resan-gunungkidul-jaga-mata-air-dengan-melestarikan-pohon/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=resan-gunungkidul-jaga-mata-air-dengan-melestarikan-pohon https://www.greeners.co/sosok-komunitas/resan-gunungkidul-jaga-mata-air-dengan-melestarikan-pohon/#respond Wed, 08 Nov 2023 04:31:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=42200 Jakarta (Greeners) – Peran pohon atau yang lumrah disebut dengan resan di Gunungkidul memiliki manfaat baik sebagai penjaga mata air. Komunitas Resan Gunungkidul menjadi pendorong sinergi untuk ikut menjaga mata […]]]>

Jakarta (Greeners) – Peran pohon atau yang lumrah disebut dengan resan di Gunungkidul memiliki manfaat baik sebagai penjaga mata air. Komunitas Resan Gunungkidul menjadi pendorong sinergi untuk ikut menjaga mata air di wilayah tersebut lewat pelestarian pohon.

Komunitas yang berdiri sejak tahun 2018 ini berawal dari keresahan akan alam yang kini semakin rusak hingga menimbulkan berbagai kesulitan. Misalnya, bencana alam dan kemarau panjang. Keresahan tersebut menjadi awal mula Resan Gunungkidul terbentuk untuk melakukan penanaman pohon.

BACA JUGA: Operasi Semut Rutin Pungut Sampah demi Lingkungan Bersih

“Saya mencoba berdiskusi tentang keadaan alam ini, banyak teman yang merespons. Ketika ketemu, teman-teman punya keresahan yang sama, terus ngobrol. Akhirnya berkembang dan kami berjejaring jadi Komunitas Resan Gunungkidul,” ungkap Pendiri Komunitas Resan Gunungkidul, Edi Padmo saat Greeners temui di Gunungkidul.

Resan Gunungkidul juga memiliki kegiatan rutin membibit dan menanam bakal resan. Selain itu, mereka juga ikut merawat dan membersihkan sumber air, melaksanakan upacara penghormatan, pemuliaan pohon resan, serta nglangse (menyelimuti) resan.

“Kalau musim kemarau gini melakukan pembersihan sumber air. Kami juga mencatat cerita di balik sumber air itu,” lanjut Edi.

Komunitas Resan Gunungkidul menjadi pendorong sinergi untuk ikut menjaga mata air lewat pelestarian pohon. Foto: Resan Gunungkidul

Komunitas Resan Gunungkidul menjadi pendorong sinergi untuk ikut menjaga mata air lewat pelestarian pohon. Foto: Resan Gunungkidul

Resan Miliki Manfaat Baik

Eksplorasi sumber daya air yang mereka lakukan menjadi hal yang menarik. Sebab, ada latar belakang sejarah dari leluhur di sana. Tak sekadar itu, Resan Gunungkidul juga melihat ada manfaat baik dari resan sehingga perlu dilestarikan.

Misalnya, secara fungsi ekologis, pohon resan bermanfaat untuk menyimpan dan melahirkan air, tempat tinggal para satwa, dan menyuburkan tanah. Resan atau pohon pelindung ini juga bisa menyerap polutan baik di udara, di tanah, maupun suara. Oleh karena itu, masyarakat menghormati pohon-pohon resan dan memuliakannya dengan upacara daur hidup semacam Nyadran dan Rasulan.

BACA JUGA: Saling ID Suarakan Isu Lingkungan ke Anak Muda Sukabumi

“Jadi, akar pohon ini menjalankan jalan air. Daun dan ranting pohon memiliki fungsi konservasi yang menyerap air hujan. Lalu, meresapkan daun tanah dan menyimpan itu menjadi cadangan air, nah itu bisa dimanfaatkan,” kata Edi.

Di samping itu, resan merupakan golongan utama unsur kehidupan sasamaning dumadi (sesama ciptaan Tuhan). Bersama dengan pohon resan, satwa, dan aneka tumbuhan lain, masyarakat melaksanakan perikehidupan bebrayan agung (persaudaraan alam raya). Terutama, dalam lingkaran kerukunan, keselamatan, dan kemakmuran.

Saat ini, sudah ada 14 titik sumber air yang Resan Gunungkidul konservasi. Edi menambahkan, dirinya dan masyarakat telah terlibat dalam proses konservasi ini sejak sumber air ditutup hingga air berhasil dikeluarkan. Namun, pada musim kemarau banyak mata air yang kembali kering.

Eksplorasi Sumber Air Lewat Sejarah

Saat Resan Gunungkidul menelusuri sumber air di kawasan Gunungkidul, itu erat kaitannya dengan cerita sejarah desa setempat. Dalam menjalankan misinya, Resan Gunungkidul terus menelusuri sumber air dengan mencari sesepuh atau tokoh masyarakat setempat. Tujuannya untuk mempelajari sejarah dari sumber mata air di wilayah yang mereka kunjungi.

“Sesepuh itu pernah kontak langsung dengan mata air itu, baik dengan air atau upacara adat di situ. Kadang saat ini sumber air itu terabaikan, karena mindset di masyarakat sekarang tentang mendapatkan air mulai menurun,” ujar Edi.

Edi menambahkan, upacara adat biasa mereka lakukan di dekat sumber air. Sebab, kawasan tersebut merupakan titik spiritual bagi warga yang menganggap air sebagai sumber kehidupannya. Oleh karena itu, mereka ingin bersyukur kepada Tuhan, dengan melakukan upacara adat di dekat sumber mata air.

“Namun, seringkali dikira melakukan ritual ini seperti menyembah pohon. Padahal, tempat ini masyarakat gunakan agar merasa dekat dengan Tuhannya sebagai sumber kehidupan,” kata Edi.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/resan-gunungkidul-jaga-mata-air-dengan-melestarikan-pohon/feed/ 0
Project B Indonesia, 15 Tahun Buat Produk Bernilai dari Sampah https://www.greeners.co/ide-inovasi/project-b-indonesia-15-tahun-buat-produk-bernilai-dari-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=project-b-indonesia-15-tahun-buat-produk-bernilai-dari-sampah https://www.greeners.co/ide-inovasi/project-b-indonesia-15-tahun-buat-produk-bernilai-dari-sampah/#respond Sat, 04 Nov 2023 04:00:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=42179 Menjamurnya ecopreneurship atau wirausaha berkelanjutan di Indonesia berdampak baik bagi pengurangan sampah. Salah satunya adalah Project B Indonesia. Sejak tahun 2008, mereka telah mengumpulkan sampah hingga berhasil membuat banyak produk […]]]>

Menjamurnya ecopreneurship atau wirausaha berkelanjutan di Indonesia berdampak baik bagi pengurangan sampah. Salah satunya adalah Project B Indonesia. Sejak tahun 2008, mereka telah mengumpulkan sampah hingga berhasil membuat banyak produk layak jual dari sampah.

Awal mula inisiasi Project B terbentuk berasal dari kekhawatiran sekumpulan mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII). Mereka memulai langkah ini dengan cara mengumpulkan sampah kemasan sachet di warung dan lingkungan sekitar kampus.

“Kemudian, pada tahun 2010 ini karena ingin efeknya lebih jauh, kami mencoba menggandeng masyarakat dengan sosialisasi ke mereka tentang dengan adanya Project B,” ungkap Pengelola dan Trainer Project B Indonesia, Yebi Yuriandala kepada Greeners, Selasa (31/10).

BACA JUGA: Paste Lab Hasilkan Banyak Karya dari Sampah Plastik

Ketika Project B semakin mengembangkan upayanya, masyarakat pun bisa mendonasikan sampah sachet-nya kepada Project B. Kemudian, tim Project B akan membuat sampah tersebut menjadi sebuah produk bernilai seperti goodie bag, beauty kit, wallet, dan sebagainya.

Selama 15 tahun Project B berjalan, kini sebanyak 2.000 donatur sampah terlibat untuk mendonasikan sampah residu, khususnya sachet.

“Tahun 2008 sampai 2010 baru ngumpulin. Cuma, awal tahun 2010 gudangnya penuh. Kemudian, di Yogyakarta banyak hal-hal berbau seni dan ini kami coba buat untuk produk yang kira-kira bisa kami buat dari sampah. Dari 2010 mulai produksi, terus kami pasarkan juga sampai 2023 ini,” tambah Yebi.

Project B Menyediakan Pelatihan Pengelolaan Sampah

Tak sekadar fokus mendaur ulang sampah, Project B juga terus mengembangkan usahanya demi membantu pengurangan sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Ecopreneurhsip yang berbasis di Kabupaten Sleman ini menyediakan jasa pelatihan pengelolaan sampah.

“Jasa seperti pelatihan pengelolaan sampah berbasis masyarakat itu dari tahun 2012 kami sudah mulai. Sejak tahun 2008 kami sudah mulai pelatihan ke masyarakat, tapi kalau 2012 kami terjadwal akan memberikannya. Misalnya, saat ada virus Covid, seminggu dua kali kami adakan webinar untuk sosialisasi sampah,” jelas Yebi.

BACA JUGA: Hyatt BeBot, Robot Canggih Pembersih Pantai

Saat ini, Project B mengolah sampah seberat satu truk sampah sebesar enam meter per kubik. Kini, mereka juga banyak bekerja sama dengan produk tertentu dari sejumlah industri.

“Mereka ingin dibuatkan produk yang dibuat dari brand mereka. Ada dari Batam, Jakarta itu mengirimkan sachet milik mereka atau sampahnya untuk kami buatkan produknya sesuai request,” tambah Yebi.

Pemasaran Menjadi Tantangan

Dalam menjalani usaha ramah lingkungan ini, Project B merasakan pemasaran menjadi tantangannya. Terutama, sebagian besar dari tim Project B saat itu belum mengenal media sosial lebih dalam.

“Terutama tantangannya yang membuat produk ada, tapi pemasaran seperti apa? Kami akhirnya mengubah menjadi leader di depan kami bukan orang tekniknya, tetapi orang pemasarannya,” imbuh Yebi.

Sementara itu, Yebi menyatakan omzet yang Project B dapatkan dalam setahun bisa mencapai Rp200 juta hingga Rp300 juta. Namun, Yebi menegaskan dirinya bersama tim Project B tidak melihat keuntungan tersebut. Sebab, tujuan utamanya ingin menyelamatkan lingkungan dari sampah.

Peminat Tersebar di Berbagai Wilayah Indonesia

Peminat produk yang Project B buat juga tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Bahkan, saat ini Project B memiliki reseller di Aceh, Pekanbaru, Jakarta, dan Surabaya. Namun, peminat masih didominasi di Pulau jawa.

Harapan Project B ke depannya, mereka ingin ada unit pengolahan sampah khusus residu sachet. Kemudian, pengelolaan sampah ini juga akan terus digaungkan kepada banyak orang supaya mereka bergerak untuk peduli mengelola sampah.

“Sebenarnya, produk kami ini hanya menunda masuk ke TPA. Nah, bagaimana ketika itu tidak digunakan lagi  dengan cara sudah ada alat mengolahnya kembali. Apalagi, di Yogyakarta isunya sudah menyebar soal TPA Piyungan tutup. Lalu, kami juga ingin mengembangkan pemasaran. Kami juga perlu berpikir dampak baik untuk lingkungan harus semakin besar,” ujar Yebi.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/project-b-indonesia-15-tahun-buat-produk-bernilai-dari-sampah/feed/ 0
Greeners.Co Ajak Mahasiswa UGM Mengenal Ecopreneurship https://www.greeners.co/aksi/greeners-co-ajak-mahasiswa-ugm-mengenal-ecopreneurship/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=greeners-co-ajak-mahasiswa-ugm-mengenal-ecopreneurship https://www.greeners.co/aksi/greeners-co-ajak-mahasiswa-ugm-mengenal-ecopreneurship/#respond Wed, 01 Nov 2023 04:26:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=42135 Jakarta (Greeners) – Ecopreneurship atau wirausaha ramah lingkungan kian menjamur di sektor bisnis. Greeners.Co lewat program Campus Visit Editorial Trip Yogyakarta mengajak mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengenal lebih dekat tentang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ecopreneurship atau wirausaha ramah lingkungan kian menjamur di sektor bisnis. Greeners.Co lewat program Campus Visit Editorial Trip Yogyakarta mengajak mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengenal lebih dekat tentang ecopreneurship.

Acara yang digelar pada Jumat (27/10) di Taman Timur Fakultas Kehutanan ini bertemakan Eco Culture Business Initiatives-Bisnis Ramah Lingkungan dengan Pendekatan Budaya. Kota Yogyakarta menjadi kota kedua yang Greeners kunjungi.

Pada kesempatan ini, sejumlah narasumber hadir memaparkan konsep ecopreneurship yang berdampak pada pengurangan sampah. Di antaranya Kepala Subdirektorat Tata Laksana Produsen Direktorat Pengurangan Sampah KLHK, Ujang Solihin Sidik, Analis Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, Yuke Djulianti.

Kemudian, Packaging Circularity-Upstream Manager Danone Indonesia, Dian Savita Putri dan Senior Social Education Lead Dietplastik Indonesia, Sarah Rauzana pun turut hadir.

BACA JUGA: Ekonomi Sirkular Dorong Industri Minimalisir Kerusakan Alam

Ujang Solihin atau Uso mengatakan aktor yang bertanggung jawab akan sampah yaitu seluruh elemen masyarakat. Bukan lagi pemerintah dan pihak-pihak tertentu saja. Satu hal yang paling penting untuk dilakukan yaitu menggencarkan pengurangan sampah di hulu terlebih dahulu.

“Urusan sampah kita kebanyakan di penanganan. Kalau hanya fokus pada penanganan, itu hanya menunggu adanya sampah. Ya, akhirnya persoalan TPA–misalnya Piyungan–akan jadi bom waktu. Harus kurangi dulu sebanyak-banyaknya, nanti lebih mudah di penanganannya,” ujar Uso.

Lewat ecopreneurship dengan konsep guna ulang juga bisa diterapkan. Sehingga, ada peluang bisnis dari sebuah kebijakan yang menekan persoalan pengurangan sampah.

“Banyak startup yang bergerak dalam bidang pengurangan sampah. Temen startup ini memanfaatkan isu pengurangan sampah, itu jadi bisnis dan usaha. Di Jogja, ini bisa diadaptasi dengan culture dan budaya yang berkembang. Ketika diterjemahkan sesuai dengan karaktristik budaya yang berkembang juga,” ucap Senior Social Education Lead Dietplastik Indonesia, Sarah Rauzana.

Greeners.Co mengajak mahasiswa UGM mengenal lebih dekat tentang ecopreneurship. Foto: Dini Jembar Wardani

Greeners.Co mengajak mahasiswa UGM mengenal lebih dekat tentang ecopreneurship. Foto: Dini Jembar Wardani

Yogyakarta Miliki Program Pengurangan Sampah

Sementara itu, Yuke dari DLH Kota Yogyakarta menyatakan bahwa Kota Yogyakarta telah menjadi trend center saat TPA Piyungan tutup. Menanggapi peristiwa tersebut, DLH Kota Yogyakarta sigap membentuk sejumlah program untuk mengurangi penumpukan sampah ke TPA.

“Kami membentuk gerakan zero sampah organik (GZSA) melalui surat edaran yang keluar pada bulan Desember tahun 2022. GZSA ini merupakan upaya mengurangi sampah organik dan melarang sampah anorganik dibawa ke tempat pembuangan sementara atau TPS,” ucap Yuke.

DLH Kota Yogyakarta menyarankan warga untuk mengelola sampahnya secara mandiri. Kemudian, mengarahkan warga untuk membuang sampah anorganiknya ke bank sampah terdekat.

“Di kota Yogyakarta ada 600 bank sampah, jadi kami harap warga dapat menyalurkan sampah anorganiknya ke bank sampahnya. Nah, untuk pelaku usaha ini membentuk bank sampah khusus atau kerja sama dengan bank sampah di sekitar wilayahnya,” ujar Yuke.

Greeners.Co mengajak mahasiswa UGM mengenal lebih dekat tentang ecopreneurship. Foto: Dini Jembar Wardani

Greeners.Co mengajak mahasiswa UGM mengenal lebih dekat tentang ecopreneurship. Foto: Dini Jembar Wardani

Greeners.Co Kunjungi TPS3R Panggungharjo

Dalam perjalanan Editorial Trip Kota Yogyakarta ini, Greeners.Co juga turut mengunjungi Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Kelurahan Panggungharjo, Kabupaten Bantul. TPS3R ini juga telah menjadi lokasi pendampingan Danone Indonesia dalam program Inclusive Recycle Indonesia (IRI) sejak tahun 2019.

“Kami bersama desa mengoptimalkan TPS3R ini sebagai fasilitas pengelolaan sampah di desa. Hal ini tentu tujuannya untuk mengurangi sampah yang masuk ke TPA,” ujar Packaging Circularity-Upstream Manager Danone Indonesia, Dian Savita Putri.

BACA JUGA: Derasnya Informasi dan Teknologi Dorong Geliat Bisnis Minim Sampah

Selain itu, Danone Indonesia juga berkontribusi untuk terus mengembangkan sumber daya manusia yang bekerja di TPS3R Panggungharjo. Khususnya memberi pelatihan keselamatan kerja. Kemudian, mendorong agar para pekerja di sana bisa memiliki jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan.

“Karena mereka harus punya pekerja itu dengan aman, jadi harus mengenali potensi-potensi berbahaya. Nah, itu kami juga support,” tambah Vita.

Pihak Danone bersama pengelola TPS3R Panggungharjo juga memberikan sebuah lapangan pekerjaan yang lebih luas dengan memanfaatkan SDM yang dekat dengan kawasan tersebut.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/greeners-co-ajak-mahasiswa-ugm-mengenal-ecopreneurship/feed/ 0
Greeners.Co Kenalkan Jurnalisme Lingkungan ke Mahasiswa UIN https://www.greeners.co/aksi/greeners-co-kenalkan-jurnalisme-lingkungan-ke-mahasiswa-uin/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=greeners-co-kenalkan-jurnalisme-lingkungan-ke-mahasiswa-uin https://www.greeners.co/aksi/greeners-co-kenalkan-jurnalisme-lingkungan-ke-mahasiswa-uin/#respond Wed, 30 Aug 2023 05:05:03 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=41361 Jakarta (Greeners) – Jurnalisme lingkungan berperan penting dalam mengangkat fakta hingga membentuk solusi bagi permasalahan lingkungan hidup. Dalam edisi Editorial Trip di Bandung, Greeners.co menggelar Campus Visit di UIN Sunan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Jurnalisme lingkungan berperan penting dalam mengangkat fakta hingga membentuk solusi bagi permasalahan lingkungan hidup. Dalam edisi Editorial Trip di Bandung, Greeners.co menggelar Campus Visit di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan mengenalkan jurnalisme lingkungan kepada mahasiswa.

Jurnalisme lingkungan adalah cabang ilmu dari jurnalisme yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Hal itu demi kelangsungan kehidupan saat ini dan masa depan.

Para mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi turut hadir dalam kegiatan campus visit ini. Bersama Dosen Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Bandung, Dono Darsono, Greeners.Co membahas jurnalisme lingkungan dari berbagai perspektif.

Dono mengatakan, jurnalisme lingkungan berperan penting sebagai alat sosial dalam menguatkan dan mengoreksi pemerintah dalam gerakan jurnalisme pembangunan.

BACA JUGA: Walking Tour, Wisata yang Menyehatkan dan Ramah Lingkungan

“Jurnalisme lingkungan dalam jurnalisme pembangunan perlu hadir karena jurnalisme lingkungan itu akan mencoba mengoreksi jurnalisme pembangunan,” ungkap Dono dalam kegiatan Campus Visit Editorial Trip Greeners.Co Bandung, baru-baru ini.

Dono melanjutkan, para pelaku media di Indonesia juga perlu sadar akan kehancuran lingkungan hidup. Apalagi, ke depannya menggali isu lingkungan dan iklim lebih dalam akan menjadi hal yang menarik.

Wartawan Perlu Mencerminkan Peduli Lingkungan

Menurut Dono, profesi wartawan lingkungan tidak hanya berperan menggali informasi dan menghasilkan tulisan tentang lingkungan. Wartawan juga perlu mencerminkan dirinya untuk lebih peduli lingkungan.

“Wartawan yang bekerja di media yang kontennya lebih ke lingkungan, perlu menyadarkan pembacanya, dan juga kepada dirinya. Apalagi kalau wartawannya sadar lingkungan, baru di-explore ke masyarakat,” tambah Dono. 

Oleh karena itu, lanjutnya, wartawan harus memiliki sikap peduli lingkungan. Itu merupakan bukti bahwa wartawan lingkungan tidak sekadar menyuarakan peduli lingkungan kepada para pembaca, melainkan juga perlu mencerminkannya dalam dirinya.

Greeners.co menggelar Campus Visit di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Foto: Dini Jembar Wardani

Greeners.co mengenalkan jurnalisme lingkungan kepada mahasiswa. Foto: Dini Jembar Wardani

Kenalkan Cap Cukil ke Mahasiswa

Dalam rangka campus visit di Editorial Trip Bandung ini, Greeners.Co tidak hanya mengadakan talkshow. Ada banyak keseruan lainnya, misalnya mengenalkan cap cukil ke mahasiswa. Inisiasi ini untuk memperkenalkan teknik cetak tinggi. 

Cap cukil adalah transfer visual ke media dengan menggunakan bidang dengan bahan karet lino. Karet tersebut menggunakan ukiran dengan desain bernuansa flora dan dicat tekstil yang bisa digunakan berulang kali. Kemudian, karet tersebut bisa ditransfer dengan cara dicap ke media yang digunakan, yaitu totebag. 

BACA JUGA: Atasi Sampah di Bandung, Greeners.co Gelar Bincang Komunitas

Uniknya, cap cukil ini bisa melatih ketelitian dan keselarasan bentuk dalam menghasilkan sebuah gambar dengan proporsi yang baik dari aspek layout.

“Bidang kesenian ini mudah, cuma butuh ketelitian. Dari kegiatan ini juga harapannya para mahasiswa bisa berkreativitas lebih tinggi lagi. Tidak hanya mengenal sablon sebagai teknik transfer gambar ke sebuah media pakai, melainkan ada teknik cap cukil yang mampu menghasilkan gambar lebih terasa handmade. Sebab, keseluruhan proses pembuatannya manual,” ujar Creative Support Greeners.Co, Kalianda Ghulam Besari.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/greeners-co-kenalkan-jurnalisme-lingkungan-ke-mahasiswa-uin/feed/ 0
Atasi Sampah di Bandung, Greeners.co Gelar Bincang Komunitas https://www.greeners.co/aksi/atasi-sampah-di-bandung-greeners-co-gelar-bincang-komunitas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=atasi-sampah-di-bandung-greeners-co-gelar-bincang-komunitas https://www.greeners.co/aksi/atasi-sampah-di-bandung-greeners-co-gelar-bincang-komunitas/#respond Thu, 24 Aug 2023 03:00:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=41255 Bandung (Greeners) – Permasalahan sampah di Kota Bandung hingga kini belum teratasi secara tuntas. Sebagai upaya menemukan solusi bersama, Greeners.co menggelar Bincang Komunitas. Hal itu untuk menggali sudut pandang berbagai […]]]>

Bandung (Greeners) – Permasalahan sampah di Kota Bandung hingga kini belum teratasi secara tuntas. Sebagai upaya menemukan solusi bersama, Greeners.co menggelar Bincang Komunitas. Hal itu untuk menggali sudut pandang berbagai pihak terhadap kondisi pengelolaan sampah di Bandung.

Program Bincang Komunitas yang diselenggarakan pada Jumat (18/8) ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Greeners.Co Editorial Trip. Tim kegiatan ini akan mengunjungi satu kota/kabupaten setiap bulan. Kondisi kepedulian lingkungan hidup dalam kehidupan kota tersebut akan dikupas secara tuntas.

Pada Editorial Trip di Kota Bandung, Greeners.Co melangsungkan kegiatan diskusi Ngariung Kanggo Bandung dengan mengusung tema “Darurat Sampah? Hayu Rempug Meresan”. Sejumlah komunitas di Kota Bandung pun turut hadir pada kegiatan ini.

Hadir pula narasumber dalam diskusi. Di antaranya Ratna Ayu Wulandari selaku Koordinator Manajer Kota ZWC, Adi Panuntun selaku Ketua Bandung Creative City Forum (BCCF), dan Fazri Putrantomo selaku Policy Analyst Direktorat Pengurangan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Dalam diskusi, Ratna mengungkapkan permasalahan sampah di Kota Bandung sangat kritis. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti pun terancam tutup pada Desember 2023.

“Jadi, saat ini yang terjadi potensi krisis sampah akan terulang lagi. Akan ada krisis sampah pada Desember, bahkan lebih cepat,” kata Ratna dalam Kegiatan Ngariung Kanggo Bandung, Jumat (18/8).

BACA JUGA: Darurat Sampah, TPA Sarimukti Bandung Terancam Tutup

Forum Bandung Juara Bebas Sampah (BJBS) memberikan beberapa rekomendasi kepada pemerintah untuk mengatasi permasalahan sampah. Mereka meminta pemerintah untuk segera menangani sampah di kawasan komersil, pasar, dan taman.

Dari sisi industri kreatif, Adi Panuntun menilai edukasi tentang sampah pun dapat dilakukan melalui animasi dan film pendek. Sehingga, hal tersebut bisa mengubah pola pikir masyarakat untuk bijak terhadap sampah yang dihasilkannya.

“Pola pikir ini perlu dipupuk sejak usia dini. Misalnya, edukasi melalui media kreatif seperti inilah yang bisa membangun pola pikir anak-anak soal kepedulian terhadap sampah,” ujar Adi.

Ajak Komunitas Realisasikan Kepedulian Nyata

Program Editorial Trip Greeners.Co juga mendukung dan mendorong implementasi keberlanjutan kota (sustainable cities) dan partisipasi berbagai pihak. Masyarakat, komunitas anak muda, pengusaha, pemerintah daerah, akademisi, serta media bisa turut serta mewujudkan semangat merealisasikan kepedulian nyata.

Sejumlah komunitas juga telah hadir dalam Ngariung Kanggo Bandung. Di antaranya River Cleanup Indonesia, Bike To Work Bandung, Federal Bandung Indonesia, dan lainnya.

Editorial Trip Greeners. Foto: Dini Jembar Wardani

Editorial Trip Greeners. Foto: Dini Jembar Wardani

Melalui perwakilan komunitas yang hadir, Editorial Trip Greeners.co telah menjadi wadah bagi mereka untuk mengetahui permasalahan lingkungan di Kota Bandung saat ini. Penyampaian narasumber juga dapat membuka pikiran para partisipan untuk ikut merealisasikan kepeduliannya dalam mengatasi permasalahan sampah di Bandung.

Adi Panuntun sebagai pegiat kreatif menambahkan, laju sampah akan terus berlanjut hingga menumpuk. Menurut dia, Bincang Komunitas bisa menjadi momen untuk mengajak masyarakat merealisasikan kepeduliannya terhadap lingkungan.

Realisasi tersebut pun perlu terencana, terarah, dan terukur agar bisa menghasilkan sebuah dampak yang siginifikan dari permasalahan sampah ini.

BACA JUGA: Pilah dari Sumbernya, Bandung Coba Pecahkan Masalah Sampah

Dekatkan Komunitas dengan Informan

Peserta Ngariung Kanggo Bandung sekaligus anggota dari BJBS, Hisyam mengatakan, melalui kegiatan seperti ini, media bisa menemani para komunitas untuk bertemu para informan yang lebih dekat.

“Kegiatan Editorial Trip adalah salah satu contoh yang oke untuk media menemani kami bertemu kreator dan informan di lapangan lebih dekat. Dari sudut pandang kreatif ada, regulator pemerintah ada, forum komunitas ada. Jadi, lengkap semuanya,” kata Hisyam.

Policy Analyst Direktorat Pengurangan Sampah (KLHK), Fazri Putrantomo juga mengatakan bahwa permasalahan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Seluruh masyarakat, komunitas, dan pemerintah harus ikut dalam menangani hal ini.

“Pemerintah memiliki regulasi dalam mengatur pengelolaan sampah. Kemudian, di dalam Undang-Undang tercatat bahwa manusia harus tanggung jawab terhadap sampahnya. Tidak bisa hanya pemerintah yang lakukan sendirian,” ungkap Fazri.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/atasi-sampah-di-bandung-greeners-co-gelar-bincang-komunitas/feed/ 0
Walking Tour, Wisata yang Menyehatkan dan Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/walking-tour-wisata-yang-menyehatkan-dan-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=walking-tour-wisata-yang-menyehatkan-dan-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/walking-tour-wisata-yang-menyehatkan-dan-ramah-lingkungan/#respond Wed, 23 Aug 2023 05:22:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=41283 Tren wisata ramah lingkungan dengan konsep berjalan kaki (walking tour) kini semakin marak terjadi di kota-kota besar. Ada banyak manfaat dari konsep wisata jalan kaki ini. Wisatawan dapat berwisata dengan […]]]>

Tren wisata ramah lingkungan dengan konsep berjalan kaki (walking tour) kini semakin marak terjadi di kota-kota besar. Ada banyak manfaat dari konsep wisata jalan kaki ini. Wisatawan dapat berwisata dengan lebih sehat, rendah emisi, dan terhubung dekat bersama masyarakat lokal.

Sobat Greeners, siapa sih yang tidak suka berwisata? Tentu saja, sebagian besar dari kalian pasti senang berpergian wisata ke suatu tempat. Namun, kamu perlu coba wisata walking tour, ya. Konsep wisata ini tidak hanya sehat, melainkan juga bebas emisi. Dengan cara ini, kamu bisa menjaga lingkungan bebas dari polusi.

Pemandu Wisata Bandung Good Guide, Rifqi mengungkapkan konsep walking tour merupakan wisata ramah lingkungan dan berkelanjutan. Sebab, dalam wisata ini pihak penyelenggara menerapkan konsep jalan kaki selama kegiatan wisata berlangsung.

Mereka juga mengajak peserta untuk membawa tumbler air minum dan merekomendasikan menggunakan transportasi umum untuk sampai ke titik pertemuan wisata walking tour.

Misalnya, ajak teman-teman membawa tumbler di undangan kita. Kemudian, kita ajak untuk pakai transportasi umum dan kita juga kerja sama bareng komunitas yang bergiat dalam lingkungan,” kata Rifqi kepada Greeners saat walking tour di Kota Bandung baru-baru ini. 

BACA JUGA: Lebih Sehat dengan Berjalan Kaki di Pagi Hari

Selain ramah lingkungan, jalan kaki juga mendekatkan pengunjung dengan lingkungan. Mereka pun memiliki kesempatan untuk mengenal masyarakat lokal secara langsung. 

Melansir bandungwalkingtour.id, dengan mengikuti walking tour, peserta dapat merasakan kehidupan sehari-hari penduduk lokal, mengeksplorasi sudut-sudut tersembunyi dari destinasi wisata, dan mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang budaya setempat.

Tim Greeners berkunjung ke Pabrik Tahu Talaga.

Tim Greeners berkunjung ke Pabrik Tahu Talaga. Foto: Stanly Pondaag

Sejak masa pandemi, wisata walking tour telah menjadi tren yang berkembang bagi wisatawan domestik maupun macanegara. Berdasarkan pengamatan salah satu operator wisata jalan kaki di Indonesia, Bandung Good Guide menyimpulkan, wisatawan kini menginginkan pengalaman yang lebih mendalam, menjauh dari tempat-tempat wisata konvensional, dan mencoba sesuatu yang lebih otentik.

Wisata Menyehatkan

Tidak sekadar ramah lingkungan, wisata berjalan kaki atau walking tour ini juga menyehatkan. Oleh karena itu, sangat cocok bagi Sobat Greeners yang ingin berolahraga sambil berwisata.

Wisata jalan kaki adalah cara yang bagus untuk menjaga kebugaran tubuh. Kegiatan tersebut seperti berolahraga yang sekaligus menyajikan pemandangan menarik dan menambah wawasan pada saat yang bersamaan.

Manfaat jalan kaki juga dapat meningkatkan kesehatan jantung, menurunkan risiko penyakit kronis, meningkatkan kesehatan mental, meningkatkan kekuatan otot dan keseimbangan, dan meningkatkan kebugaran umum.

Saat mengikuti tur jalan kaki, wisatawan dapat menggabungkan manfaat kesehatan fisik dan mental dari jalan kaki dengan pengalaman perjalanan yang mendalam.

Mereka dapat menikmati keindahan ruang terbuka kota, merasakan kenyamanan perjalanan yang lambat, serta merasakan keunikan budaya dan fakta-fakta menarik di sekitar mereka.

Walking Tour di Kota Bandung

Dalam agenda Greeners.Co Editorial Trip, Greeners.Co berkeliling Kota Bandung dengan mengunjungi beberapa spot pilihan bersama Bandung Good guide. Selain itu, kota ini juga terkenal akan surga kuliner yang banyak diincar oleh para wisatawan.

Tim Greeners.Co pun ikut kegiatan walking tour untuk mengenal berbagai kuliner legendaris di Kota Bandung. Koffie Fabriek Aroma atau Kopi Aroma menjadi tempat pertama yang Greeners.Co kunjungi.

Berdiri pada tahun 1930, kedai kopi ini berada di Jalan Banceuy No.51, Kota Bandung. Kedai kopi yang didirikan oleh Tan Houw Sian hanya menjual kopi dalam bentuk biji dan bubuk kopi.

BACA JUGA: GeoAdvenTour, Wisata Menjaga Taman Bumi dengan Ilmu Kebumian

Greeners.Co kemudian mengunjungi Tahu Yun Sen atau dikenal juga dengan Tahu Talaga. Pabrik sekaligus toko tahu ini berdiri sejak tahun 1923. Uniknya, ampas atau sisa dari proses pembuatan tahu telah dikelola secara bertanggung jawab agar tidak berujung merusak lingkungan.

“Limbah atau ampas tahu ini sudah ada pengepulnya di kami. Kemudian, biasanya dibuat menjadi pupuk atau pakan ternak,” kata pemilik Tahu Talaga, Hendra Gunawan kepada Greeners.co baru-baru ini.

Saat menuju ke lokasi selanjutnya, pemandu wisata menyuguhkan banyak cerita sejarah kepada tim Greeners.Co selama walking tour. Kegiatan ini telah menjadi ajang jalan-jalan yang menarik untuk menambah wawasan sejarah dan melihat Kota Bandung lebih dekat.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/walking-tour-wisata-yang-menyehatkan-dan-ramah-lingkungan/feed/ 0
32 Seniman Botani Kenalkan Ragam Flora Melalui Lukisan https://www.greeners.co/aksi/32-seniman-botani-kenalkan-ragam-flora-melalui-lukisan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=32-seniman-botani-kenalkan-ragam-flora-melalui-lukisan https://www.greeners.co/aksi/32-seniman-botani-kenalkan-ragam-flora-melalui-lukisan/#respond Mon, 21 Aug 2023 04:05:33 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=41258 Bandung (Greeners) – NuArt Sculpture Park dan Indonesian Society of Botanical Artist (IDSBA) kembali menggelar Pameran Ragam Flora Indonesia (RFI) yang keempat. Sebanyak 32 seniman botani memamerkan 60 karya di NuArt […]]]>

Bandung (Greeners) – NuArt Sculpture Park dan Indonesian Society of Botanical Artist (IDSBA) kembali menggelar Pameran Ragam Flora Indonesia (RFI) yang keempat. Sebanyak 32 seniman botani memamerkan 60 karya di NuArt Sculpture Park, Bandung.

Pada pameran ini, tumbuhan menjadi subjek utama. Para seniman mencitrakan tumbuhan tersebut ke dalam lukisan untuk mengungkap keberadaan, kompleksitas, fungsi, dan keindahan yang ada pada setiap tumbuhan.

Selain aspek kecakapan teknis dan kepiawaian mengolah komposisi pada bidang karya, akurasi dalam menggambarkan serta melukiskan tumbuh-tumbuhan merupakan aspek utama yang menjadi landasan seniman botani dalam berkarya. Hal inilah yang membedakan praktik kesenian oleh seniman botani dengan praktik kesenian lainnya. 

Founder IDSBA, Eunike Nugroho mengatakan seni botani yang dipamerkan memiliki makna seperti pesan konservasi yang lebih kuat ke hati.

Sayangnya, seni dan kepaduan sains ini tidak dikenal meski sudah panjang, termasuk di Indonesia. Namun, ada makna seperti pesan konservasi yang lebih kuat ke hati. Ragam flora keempat ini pertanda baik bagi saya buat dapat tempat di sini,” kata Eunike saat pembukaan Pameran Seni Botani Ragam Flora Indonesia 4, Sabtu, (19/8). 

Karya-karya yang digubah menggunakan berbagai media pada pameran ini juga telah melalui proses seleksi yang teliti. Sebanyak tiga juri turut dilibatkan dengan pendekatan disiplin ilmu berbeda, yakni seni botani, ilmu botani, dan seni rupa. Parameter utama dalam penilaian meliputi akurasi, keterampilan, komposisi, dan kekayaan informasi botani.

BACA JUGA: Perpaduan Sains dan Seni di Pameran Seni Botani Pertama di Indonesia

Sebanyak 60 karya dari 32 seniman botani dipamerkan di NuArt Sculpture Park, Bandung. Foto: Dini Jembar Wardani

Sebanyak 60 karya dari 32 seniman botani dipamerkan di NuArt Sculpture Park, Bandung. Foto: Dini Jembar Wardani

Seniman Botani Tunjukkan Relasi Emosi

Kurator Fahmy Al Ghiffari Siregar mengatakan, sejumlah karya yang tampil pada pameran ini menunjukkan relasi emosi para seniman botani dengan tumbuhan. Karya-karya tersebut dapat mengungkap secara subtil keindahan yang tersembunyi pada tumbuhan.

Misalnya, karya yang menampilkan citra belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L), tumbuhan asli Sulawesi dan Maluku. Dengan menjalin relasi emosi dengan tumbuhan tersebut, ketakjuban atas keindahan yang tersembunyi menjadi mungkin untuk dilihat. 

Keseluruhan karya pada pameran ini dapat memberi pengalaman atas keindahan tumbuhan yang diungkap oleh seniman botani melalui perjalanan oleh rasa dan relasi emosi. Kedua rasa itu telah dibangun dengan tumbuhan yang dipilih.

Selain itu, pameran ini dapat menggugah kontemplasi batin tentang kesadaran untuk melestarikan kekayaan hayati, khususnya dalam menelusuri relasi sejati manusia dengan alam. 

BACA JUGA: Mulyakarya Kurangi Penderitaan Bumi Melalui Karya Seni

Butuh Proses Panjang untuk Hasilkan Lukisan

Demi menghasilkan sebuah lukisan flora, butuh sebuah proses yang panjang. Karya seni yang memanjakan mata ini perlu banyak perhatian khusus.

Botanical Artist, Prima Milawati mengemukakan ada banyak tahapan dalam melukis tumbuhan. Seniman perlu mencari asal-usul tumbuhannya terlebih dahulu sebelum melukis.

“Sebenarnya, proses yang oke itu kita mencari tahu sendiri tumbuhannya. Kita lihat sendiri tumbuhannya, spesimennya kita bawa pulang untuk kita lukis. Kita butuh bantuan foto juga karena melukis tumbuhan itu bukan pekerjaan yang instan, tapi perlu banyak gabungan,” ungkap Prima kepada Greeners disela-sela melukis.

Menurut Prima, seluruh seniman juga perlu mempelajari terlebih dahulu tumbuhan yang akan dilukis. Misalnya, karakteristik, morfologi, dan tekstur tumbuhan dari para ilmuwan taksonomi. Selain itu, seniman harus bisa menerjemahkannya ke dalam lukisan.

Penulis: Dini Jembar Wardani

]]>
https://www.greeners.co/aksi/32-seniman-botani-kenalkan-ragam-flora-melalui-lukisan/feed/ 0