TPA Penuh, Sampah Organik Perlu Dikelola dengan Bijak

Reading time: 2 menit
Ilustrasi sampah organik. Foto: Freepik
Ilustrasi sampah organik. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Sampah organik yang menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) berkontribusi besar terhadap kebakaran di TPA. Pembatasan kiriman sampah tersebut ke TPA dapat berdampak signifikan dalam mencegah kebakaran. Sampah tersebut perlu dikelola secara bijak sejak dari sumbernya.

Jenis sampah organik yang mengandung gas metana yang tinggi ini meliputi sisa makanan, sampah pekarangan, dan bahan biodegradable lainnya. Pengelolaan sampah yang tidak benar bisa merusak lingkungan.

Bahan limbah tertentu, terutama bahan organik, dapat mengalami pembakaran spontan apabila pengelolaannya tidak baik. Hal ini terjadi ketika panas dari penguraian bakteri dan reaksi kimia mencapai titik yang dapat menyulut bahan di sekitarnya.

BACA JUGA: TPA Penuh Cerminan Tata Kelola Sampah Belum Efektif

Founder dan Penasihat Senior Nexus3 Foundation, Yuyun Ismawati mengatakan dengan pemilahan dan penanganan di sumber, emisi gas rumah kaca dari dekomposisi sampah organik dapat dihindari. Kemudian, hal ini juga dapat membantu pemerintah mencapai target pengurangan 30% emisi metana.

“Secara spasial, sampah organik mengambil bagian terbesar ruang sampah di TPA. Dengan mengalihkannya ke fasilitas pengomposan atau penguraian secara anaerobik, kita dapat menghemat ruang atau sel TPA dan memperpanjang umurnya,” ucap Yuyun melalui keterangan tertulis.

Selain itu, hal ini juga akan mengurangi kebutuhan lokasi TPA baru yang sulit dibangun karena kelangkaan lahan dan penolakan masyarakat.

Ilustrasi sampah organik. Foto: Freepik

Ilustrasi sampah organik. Foto: Freepik

Sampah Organik Bisa Menjadi Kompos

Sementara itu, Yuyun menambahkan, sampah organik kaya akan unsur hara. Sampah tersebut dapat menghasilkan kompos. Pengomposan mengembalikan nutrisi berharga ke dalam tanah, meningkatkan kesuburan dan struktur tanah, serta menahan air.

“Penggunaan kompos membantu mengurangi kebutuhan pupuk sintetis, menghemat air, dan mendukung pertanian berkelanjutan,” tambah Yuyun.

Di sisi lain, mempromosikan dan menerapkan praktik pengelolaan sampah di sumber juga dapat membatasi jumlah kiriman sampah organik ke TPA. Kemudian, dapat mendidik individu, dunia usaha, dan komunitas tentang pentingnya pengalihan sampah tersebut.

BACA JUGA: Darurat Sampah, TPA Sarimukti Bandung Terancam Tutup

Tak sekadar itu, penerapan praktik pengelolaan sampah juga bisa menyediakan infrastruktur serta sumber daya untuk pengelolaan sampah organik yang efektif. Selain itu, dapat berkontribusi pada sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

“Untuk itu, pemerintah harus menyediakan fasilitas yang memudahkan dan memampukan masyarakat dalam menerapkan 3R. Sehingga, warga dapat memilah sampah di sumber, lalu mengalokasikan dana pada solusi yang lebih berkelanjutan,” ungkap Yuyun.

Upaya Intensif bisa Atasi Permasalahan Sampah

Upaya intensif dalam pengomposan, pengelolaan sanitary landfill, dan pengembangan controlled landfill juga dapat membantu mengatasi permasalahan sampah domestik.

“Pendekatan ini akan membantu dalam manajemen sampah rumah tangga yang lebih baik. Selain itu, Food Loss Waste (FLW) perlu diatasi dari hulu. Caranya dengan meningkatkan efisiensi pengelolaan produk pertanian dan pangan untuk mengurangi emisi sebesar 56% dari sektor makanan pada tahun 2045,” kata Yuyun.

Menurutnya, upaya-upaya ini merupakan langkah penting dalam mencapai tujuan pengelolaan sampah dan emisi yang lebih berkelanjutan. Tentunya bertujuan untuk mendukung lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan di masa depan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top