Mulyakarya Kurangi Penderitaan Bumi Melalui Karya Seni

Reading time: 2 menit
Para Seniman Mulyakarya
Para Seniman Mulyakarya. Foto: www.greeners.co/Ridho Pambudi

Jakarta (Greeners) – Banyak cara mengampanyekan isu lingkungan dengan menarik. Salah satunya seperti yang dilakukan seniman asal Yogyakarta melalui Mulyakarya. Mereka menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan dengan karya seni visual.

Mulyakarya merupakan media independen yang dibuat oleh Danang Catur dan Yudha Sandy pada tahun 2007 di Yogyakarta. Nama Mulyakarya terinspirasi dari gabungan dua nama yaitu, Mulyo Diharjo dan Karyadi. Keduanya merupakan pemilik rumah kontrakan yang menjadi basecamp pertama Mulyakarya.

Seiring perkembangan, Mulyakarya menjadi sebuah komunitas yang terdiri dari komikus dan perupa. Mereka aktif melakukan workshop, menggarap proyek publik, hingga pameran. Jumlah anggota aktif sampai saat ini sebanyak 5 orang di antaranya, Erwan Hersi Susanto atau Iwank, Antonius Ipur, Upit Dyoni, Danang Catur, dan Yudha Sandy.

Baca juga: Love Life Studio Bali Beri Sentuhan Artistik pada Botol Bekas

Berbagai tema karya seni mereka terinspirasi dari kegiatan sosial, lingkungan, maupun kesejahteraan masyarakat. Rata-rata terangkum dalam lukisan, daur ulang seni tiga dimensi, atau komik dengan cerita jenaka. Tujuannya agar informasi yang ingin disampaikan mudah diterima oleh masyarakat.

Seniman asal kota budaya ini menampung dan mempublikasikan karya-karya seni rupa alternatif dari para perupa independen. Embrio Mulyakarya adalah komik katalog yang berisi ulasan komik hasil publikasi mandiri (self publish) di Yogyakarta.

Yudha Sandy, pendiri komunitas Mulyakarya.

Yudha Sandy, pendiri komunitas Mulyakarya. Komunitas ini terdiri dari para komikus dan perupa. Foto: www.greeners.co/Ridho Pambudi

Karya terbaru Mulyakarya ialah cerita komik “Boli” yang ditulis oleh Yudha Shandy. Komik tersebut tercipta setelah Yudha melakukan perjalanan wisata ke Labuan Bajo NTT. Ia mengatakan Mulyakarya memang telah lama mengangkat tema-tema lingkungan, misalnya, cerita fiksi berupa komik dengan tema sampah. Yudha dan teman-teman juga memanfaatkan barang bekas plastik yang diubah menjadi kostum untuk dipamerkan di Yogyakarta.

Baca juga: Pameran Seni Hadirkan Sampah Plastik dari Lautan

“Mulyakarya juga pernah membuat kostum dari sampah plastik atau kemasan kopi. Ketertarikan kami adalah bisa menggunakan seni sebagai alat kampanye untuk menjaga lingkungan,” ucap Yudha

Menurut Yudha masalah sampah plastik yang terdapat di seluruh nusantara jika terus dibiarkan nantinya akan bermigrasi kepulau-pulau lain. “Mengerikan jika sampah plastik dimakan oleh ikan, partikelnya juga bahaya. Sebenarnya yang ingin kita kampanyekan sangat luas untuk masalah lingkungan,” kata dia.

Melalui karya seni, informasi yang akan diterima masyarakat lebih cepat dipahami. Sedangkan dengan visual dan ringkasan kata-kata ringan membuat pembaca memahami permasalahan lingkungan yang ada di Indonesia.

“Karya seni ini dapat menginspirasi orang lain ataupun menginspirasi diri kita sendiri. Lama atau tidak harusnya dimulai dari sekarang karena kalau tidak dilaksanakan ya akan menumpuk,” ujar Yudha

Mulyakarya berharap jangan menambahkan penderitaan bumi dengan masalah yang ditimbulkan manusia. “Ini cuma sekadar harapan karena saya tidak bisa memantau dan juga tidak bisa menyuruh orang untuk bertindak apa yang kita mau. Bumi kita cuma satu dan ini ditinggali bersama, tidak bisa 100 persen jadi orang baik karena terkadang kita lupa. Sebisa mungkin aku mengurangi plastik dengan membawa totebag dan tumbler,” ucap Yudha.

Penulis: Ridho Pambudi

Top
You cannot copy content of this page