manfaat mangrove - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/manfaat-mangrove/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 26 May 2023 06:19:09 +0000 id hourly 1 Suaka Margasatwa Muara Angke Belum Luput dari Sampah https://www.greeners.co/berita/suaka-margasatwa-muara-angke-belum-luput-dari-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=suaka-margasatwa-muara-angke-belum-luput-dari-sampah https://www.greeners.co/berita/suaka-margasatwa-muara-angke-belum-luput-dari-sampah/#respond Fri, 26 May 2023 06:10:53 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40198 Jakarta (Greeners) – Sampah dari aktivitas manusia di perkotaan kerap kali mengepung hutan mangrove, Suaka Margasatwa Muara Angke, Jakarta Utara. Hal ini mengancam kerusakan mangrove dan ekosistem di dalamnya. Kawasan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sampah dari aktivitas manusia di perkotaan kerap kali mengepung hutan mangrove, Suaka Margasatwa Muara Angke, Jakarta Utara. Hal ini mengancam kerusakan mangrove dan ekosistem di dalamnya.

Kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke di Jakarta Utara seluas 25,02 hektare merupakan suaka margasatwa terkecil di Indonesia. Kawasan ini menjadi salah satu ekosistem mangrove yang tersisa di Jakarta.

Namun sampah di perairan memperburuk kualitas air di kawasan tersebut. Organisme yang berada di dalam mangrove pun terancam rusak dan mati.

Direktur Program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Muhammad Ilman mengatakan, sampah merupakan masalah terbesar perusakan mangrove di perkotaan. Sebetulnya mangrove ini bisa menahan sampah. Tetapi memiliki kapasitas dan sekarang sudah terlampaui.

“Sampai saat ini pembersihan pun rutin dilakukan, tapi sayangnya masih banyak ditemukan sampah, bahkan sampai berkarung-karung,” kata Ilman di Suaka Margasatwa Muara Angke, Kamis (25/5).

Upaya penyelamatan mangrove di Jakarta mendesak. Perlu membangun kesadaran masyarakat untuk mengurangi sampah plastik dan tidak membuangnya sembarangan. 

Monyet ekor panjang salah satu satwa yang menghuni Suaka Margasatwa Muara Angke. Foto: Greeners/Dini Jembar Wardani

Penyangga Kehidupan

Keberadaan hutan mangrove di tengah ibu kota memiliki peran penting sebagai penyangga kehidupan. Kawasan tersebut, kini menjadi rumah bagi delapan spesies mangrove, salah satunya yaitu Sonneratia caseolaris atau pohon pidada.

Buah dari pohon pidada juga memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat. Melalui ide-idenya, mereka memanfaatkan buah pidada menjadi sirup.

Suaka Margasatwa Muara Angke tak hanya beri manfaat bagi manusia, tetapi juga menjadi habitat berbagai satwa seperti buaya air asin, kadal, monyet ekor panjang, ular, dan burung. Oleh karena itu, hutan mangrove perlu dilindungi untuk memberikan hidup yang berkelanjutan.

Dalam rangka melestarikan mangrove, YKAN bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta dan sejumlah awak media menggelar aksi penanaman mangrove, Kamis (25/5). Pada kesempatan ini, diadakan diskusi interaktif, penanaman mangrove, pembersihan tumbuhan invasif, dan pembibitan mangrove.

Pembersihan tumbuhan invasif. Foto: Greeners/Dini Jembar Wardani

Komitmen Lindungi Ekosistem Mangrove

Sejak tahun 2018, BKSDA Jakarta dan YKAN berkomitmen melindungi dan merestorasi ekosistem mangrove Suaka Margasatwa Muara Angke. Sebab, mangrove memiliki fungsi penting sebagai penyumbang oksigen, penyerap karbon dioksida, dan polutan. Saat ini, fokus utama restorasi di DKI Jakarta yaitu pembersihan sampah di aliran hidrologinya.

Proses restorasi di kawasan ini juga meliputi pemasangan instalasi penghalang sampah di sepanjang bantaran Sungai Angke, pengendalian tumbuhan invasif, perbaikan hidrologi, hingga penimbunan substrat di area dengan genangan tinggi. Proses restorasi pun telah menunjukkan adanya perbaikan ekosistem.

Ilman menilai, mangrove perlu direstorasi dengan mengetahui penyebab kerusakannya terlebih dahulu. Kemudian, fokus untuk mengatasi penyebabnya agar kerusakan tidak terus terjadi.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/suaka-margasatwa-muara-angke-belum-luput-dari-sampah/feed/ 0
Deforestasi Mangrove Masih Menjadi Ancaman https://www.greeners.co/berita/deforestasi-mangrove-masih-menjadi-ancaman/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=deforestasi-mangrove-masih-menjadi-ancaman https://www.greeners.co/berita/deforestasi-mangrove-masih-menjadi-ancaman/#respond Sat, 09 Apr 2022 06:37:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35832 Jakarta (Greeners) – Penggundulan hutan dan deforestasi mangrove masih menjadi permasalahan di Indonesia. Maraknya deforestasi menyebabkan hilangnya penyerap karbon yang memicu peningkatan emisi gas rumah kaca. Semua elemen masyarakat harus […]]]>

Jakarta (Greeners) – Penggundulan hutan dan deforestasi mangrove masih menjadi permasalahan di Indonesia. Maraknya deforestasi menyebabkan hilangnya penyerap karbon yang memicu peningkatan emisi gas rumah kaca. Semua elemen masyarakat harus mendukung restorasi mangrove.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus pakar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Bambang Hero Saharjo mengatakan, restorasi dan pemanfaatan mangrove dilakukan agar masyarakat merasa memiliki dan menjaga keberlanjutannya.

Mangrove adalah habitat beragam jenis biota dan punya potensi besar, khususnya dalam sektor perikanan. Selain itu, pengembangan ekowisata dapat masyarakat sekitar optimalkan dari ekosistem ini. “Sehingga nantinya kegiatan penyelamatan dan pemulihan mangrove tak hanya bergantung pada BRGM, tapi tanggung jawab kita semua,” katanya di Jakarta, Sabtu (9/4).

Mangrove punya fungsi utama yang mampu menyimpan hingga tiga miliar karbon. Pemerintah Indonesia pun membuat langkah strategis dengan membentuk Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM).

BRGM menargetkan pemulihan ekosistem gambut seluas 1,2 juta hektare (ha) di tujuh provinsi prioritas dan rehabilitasi hutan mangrove 600.000 ha pada sembilan provinsi hingga tahun 2024.

Tak hanya itu, Bambang menilai, perlu optimalisasi penegakan hukum dalam memastikan keberlanjutan hutan mangrove. Hal ini menyusul masih banyaknya kawasan mangrove yang berubah fungsi dan rusak. Kerap ada anggapan kehadiran mangrove di beberapa wilayah mengganggu wilayah usaha hingga akhirnya ada oknum yang menebangnya.

“Kerusakan yang dilakukan seperti mendapat pembenaran karena terjadi pembiaran dan upaya penegakan hukum yang lemah,” imbuhnya.

Kerusakan Mangrove Karena Alih Fungsi

Banyak faktor yang menyebabkan kerusakan lahan mangrove seperti alih fungsi menjadi tambak, pemukiman hingga pembukaan kebun sawit. Imbasnya, luasan kawasan yang rusak bertambah luas dan tak terkendali. Permasalahannya seiring parahnya kerusakan maka perlu upaya yang lebih besar dalam pemulihannya, baik waktu maupun dana.

Kepala Kelompok Kerja Sama, Hukum dan Hubungan Masyarakat BRGM Didy Wurjanto menyatakan, rehabilitasi mangrove merupakan wewenang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

Sementara BRGM memfasilitasi percepatan rehabilitasi melalui penyediaan anggaran. Selain itu juga penting sosialisasi dan koordinasi ke masyarakat penggarap dan monitoring progres penanaman mangrove.

Saat ini capaian rehabilitasi mangrove mencapai 34.000 ha di 32 provinsi. Luasan tersebut melampaui target rehabilitasi tahun 2021, yaitu 33.000 ha.

Kendati demikian ia menyebut potensi kerusakan mangrove cukup serius. Berdasarkan data KLHK 20 % dari 16,53 juta ha luas mangrove di dunia berada di Indonesia. Selain itu, Indonesia memiliki ekosistem mangrove terluas dengan keanekagaraman jenis tertinggi di dunia.

Adapun untuk kerusakan mangrove imbas deforestasi mencapai 328.647 ha. Sementara, menurut World Bank tahun 2021, rata-rata kerusakan mangrove mencapai 50.000 ha.

Deforestasi Mangrove di Luar Kawasan Hutan

Sementara itu, Kepala BRGM Hartono Prawiraatmadja menyebut, deforestasi mangrove akan tetap terjadi di tanah air, utamanya yang ada di luar kawasan hutan. Deforestasi mangrove yang berada di luar kawasan hutan sulit terbendung karena tetap ada peluang konversi hutan untuk kebutuhan lain.

“Dari mangrove yang ada di APL (area luar kawasan hutan) ini, berdasarkan zonasi memang ada yang tidak akan dipertahankan sebagai ekosistem mangrove. Artinya dikonversi menjadi pemukiman dan tambak. Tetapi ada juga yang dipertahankan sebagai mangrove lindung,” paparnya.

Ia menambahkan, BRGM berkomitmen untuk tetap melakukan reforestasi (penanaman hutan) dan aforestasi (pembentukan hutan). Menurutnya penanaman atau pembangunan hutan mangrove pada area-area terbuka akan menambah tutupan yang cukup besar.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/deforestasi-mangrove-masih-menjadi-ancaman/feed/ 0
Forum Peduli Mangrove: Rawat Mangrove Seperti “Anak Sendiri” https://www.greeners.co/aksi/forum-peduli-mangrove-rawat-mangrove-seperti-anak-sendiri/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=forum-peduli-mangrove-rawat-mangrove-seperti-anak-sendiri https://www.greeners.co/aksi/forum-peduli-mangrove-rawat-mangrove-seperti-anak-sendiri/#respond Thu, 03 Feb 2022 05:12:27 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=35179 Bali (Greeners) – Seperti halnya merawat “anak sendiri”, ungkapan tepat untuk Sudira terkait misinya menanam mangrove, merawat dan melindungi kelestariannya melalui Forum Peduli Mangrove Bali. Komunitas yang berdiri 26 Juni […]]]>

Bali (Greeners) – Seperti halnya merawat “anak sendiri”, ungkapan tepat untuk Sudira terkait misinya menanam mangrove, merawat dan melindungi kelestariannya melalui Forum Peduli Mangrove Bali.

Komunitas yang berdiri 26 Juni 2013 ini berpusat di Nusa Dua, Bali. Pulau Dewata dengan beragam kekayaan wisata, alam dan budayanya memiliki kesan personal bagi lelaki asli Bali ini. Demikian pula dengan posisi hutan mangrove di Bali, banyak wisatawan melirik pesonanya. Sebab hutan mangrove ini di kelilingi lokasi wisata populer.

“Hutan mangrove di Bali ini satu-satunya ada di pusat, posisinya strategis, ada di baratnya pantai Nusa Dua, timurnya pantai Kuta dan selatannya pantai Sanur. Sebagai orang Bali, saya berkewajiban untuk menjaganya” katanya kepada Greeners baru-baru ini.

Semangat ini terus ia tularkan agar semakin banyak masyarakat yang peduli dengan ekosistem mangrove. Menurutnya, mangrove sangat berperan bagi ekosistem manusia. Selain mencegah abrasi, mangrove dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dan menyimpan ekosistem perairan.

Namun sayangnya, belum semua masyarakat sadar akan peranan penting mangrove. Sudira sangat mengapresiasi langkah dan kebijakan pemerintah dalam melakukan percepatan rehabilitasi ekologi mangrove. Akan tetapi, belum semua paham dan tahu betul cara budi daya mangrove yang benar.

Mangrove Perlu Perlakuan Khusus

Beberapa hal yang harus masyarakat perhatikan saat budidaya mangrove antara lain jenis mangrove, besar kecilnya ombak, tingkat populasi hama keong, serta zona habitat mangrove. Selama ini, sambungnya, penanaman mangrove kurang memerhatikan kecocokan jenis dan zona mangrove.

“Imbasnya, pasti akan banyak yang mati. Prinsip tanam, rawat, jaga dan hidup ini harus kita tanamkan,” paparnya.

Habitat terdepan mangrove yaitu air asin. Pohon yang mampu menyesuaikan adalah jenis mangrove api-api (Avicenia sp). Selanjutnya, dengan diikuti sistem perakaran lutut, di belakang mangrove api-api cocok untuk habitat jenis Rhizophora.

Sementara di belakang Rhizophora yaitu habitat Bruguiera dan beberapa jenis campuran Candelia. Sementara paling belakang atau mendekati daratan yaitu cocok untuk habitat Tangal, Buta-buta dan Soneratia.

Sudira mengungkapkan, sebenarnya beberapa jenis mangrove bisa ditanam di bagian zona depan. Asalkan harus mendapat perlakuan khusus. Misalnya, pastikan terlebih dahulu memberikannya kotak dekomposer yang berisi pupuk dan timbunan tanah pasir. “Tujuannya agar saat pasang maka bisa bertahan hidup,” imbuhnya.

Jangan Hanya Kejar Kuantitas Penanaman Mangrove

Ia menyebut, saat ini gencar target penanaman mangrove. Bahkan tak jarang banyak yang memburu kuantitas jumlahnya daripada kualitas mangrove yang keberlanjutan. Idealnya penanaman mangrove harus memastikan jarak tanamnya yaitu 1 x 1 meter. “Bukan sekadar asal banyak aja, tapi perlakukan dan rawat agar tak mati. Juga harus melakukan monitornya setiap saat,” katanya.

Selain itu, beragam program sudah Forum Peduli Mangrove lakukan, seperti pembuatan polybag organis dari serat bambu pengganti plastik. Sudira menyebut, sudah menjadi kebiasaan untuk menanam tanpa melepas polybag agar bibit lebih kuat tertanam.

Ia memperkirakan wadah organik itu dapat bertahan hingga sekitar 6 hingga 8 bulan. Waktu tersebut sangatlah cukup agar akar mangrove bisa tertanam. Pemakaian polybag organik harapannya bisa mengurangi wadah plastik yang turut mencemari lingkungan pantai. “Kalau misal kita menanam ribuan mangrove bisa kita bayangkan bukan berapa limbah plastik yang kita hasilkan,” tandasnya.

Ide penggunaan wadah bambu organik pengganti plastik menjadi salah satu terobosan yang Forum Peduli Mangrove Bali terapkan. Tujuannya agar penanaman mangrove tak menghasilkan masalah baru yakni sampah. Akan tetapi, bersinergi menjaga kelestarian lingkungan.

Penulis : Ramadani Wahyu

]]>
https://www.greeners.co/aksi/forum-peduli-mangrove-rawat-mangrove-seperti-anak-sendiri/feed/ 0
Aegiceras Corniculatum, Tanaman Bakau yang Selalu Hijau https://www.greeners.co/flora-fauna/aegiceras-corniculatum-tanaman-bakau-yang-selalu-hijau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=aegiceras-corniculatum-tanaman-bakau-yang-selalu-hijau https://www.greeners.co/flora-fauna/aegiceras-corniculatum-tanaman-bakau-yang-selalu-hijau/#respond Sun, 28 Nov 2021 03:48:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=34531 Aegiceras corniculatum atau bakau hitam adalah spesies tumbuhan semak yang berasal dari famili Primulaceae. Tanaman ini terkenal akan daunnya yang selalu hijau (evergreen), serta memiliki segudang manfaat bagi warga setempat. […]]]>

Aegiceras corniculatum atau bakau hitam adalah spesies tumbuhan semak yang berasal dari famili Primulaceae. Tanaman ini terkenal akan daunnya yang selalu hijau (evergreen), serta memiliki segudang manfaat bagi warga setempat.

Selain bakau hitam, jenis Aegiceras corniculatum publik kenal juga sebagai khalsi atau bakau sungai. Mereka menyebar ke sejumlah wilayah, terutama di daerah India dan Asia Tenggara.

Bakau hitam dapat pula kita temukan di Cina selatan, New Guinea, serta Australia. Mereka ahli golongkan ke dalam genus Aegiceras, sehingga berkerabat dekat dengan spesies kaboa.

Secara klasifikasi, bakau hitam ilmuwan ketahui memiliki empat sinonim binomial. Spesies ini disebut juga sebagai Rhizophora corniculate, A. fragrans, A majus, serta A. malaspinaea.

Morfologi dan Ciri-Ciri Aegiceras Corniculatum

Aegiceras corniculatum berbiak lurus hingga setinggi 7 m. Akarnya menjalar di permukaan tanah, dengan kulit kayu bagian luar berwarna keabu-abuan hingga cokelat kemerahan.

Terdapat sejumlah lentisel (lubang-lubang kecil) pada bagian kulit bakau. Daunnya berwarna hijau cerah dan mengilap di bagian atas, namun tampak hijau pucat pada bagian bawahnya.

Pertumbuhan daun bakau hitam terlihat bersilang dengan bentuk bulat telur terbalik (elips). Ujungnya tampak membundar, serta ada kelenjar pembuangan garam pada permukaannya.

Uniknya, bunga-bunga Aegiceras corniculatum tumbuh bergantung seperti lampion. Masing-masing tangkainya memiliki panjang 8-12 mm, serta terletak di bagian ujung tandan bunga.

Bunga dan mahkotanya berwarna putih sampai hijau. Sedangkan buahnya berwarna hijau hingga kemerahan, dengan bentuk agak membengkok serta memiliki diameter 5-7,5 cm.

Baca juga: Ceriops Tagal, Tengar Kaya Zat Tanin untuk Pewarna Alami

Habitat dan Karakteristik Aegiceras Corniculatum

Bakau hitam terkenal akan toleransinya terhadap salinitas, tanah, serta kondisi cahaya yang beragam. Mereka tumbuh di tepi dataran tergenang oleh pasang surut air yang normal.

Selain itu spesies satu ini juga jamak ahli temukan di tepi jalur air, yang bersifat payau secara musiman. Perbungaannya terjadi sepanjang tahun, sebagian besar diserbuki oleh serangga.

Pertumbuhan biji Aegiceras corniculatum terjadi secara semi vivipar, di mana embrio keluar melalui kulit buah. Saat buah mulai rontok, bibitnya akan tumbuh di bawah pohon dewasa.

Sebagai agen reproduksi, buah dan biji bakau hitam beradaptasi dengan baik di wilayah lain. Mereka terdistribusi berkat bantuan serangga, burung, atau penyebaran melalui perairan.

Menurut IUCN Red List, status konservasi Aegiceras corniculatum berada pada level berisiko rendah (least concern). Tren populasinya makin menurun akibat aktivitas alih fungsi lahan.

Kegunaan dan Manfaat Aegiceras Corniculatum

Sejak dahulu, mangrove dikenal sebagai sumber pangan, bangunan, hingga obat-obatan. Ia juga bertugas menjaga ekosistem perairan, sehingga bermanfaat bagi berbagai jenis biota.

Bakau hitam sendiri mempunyai saponin tinggi, sehingga sangat efektif kita gunakan sebagai racun ikan. Sedangkan, bunganya berguna sebagai hiasan karena memiliki aroma semerbak.

Di sejumlah wilayah, daun muda Aegiceras corniculatum bahkan khalayak konsumsi sebagai lalapan. Kayunya merupakan bahan baku arang yang baik sehingga bernilai ekonomi tinggi.

Berbicara soal kayu, kualitas olahan kayu bakau hitam terbilang cukup mumpuni. Karena itu, material ini sering masyarakat manfaatkan sebagai konstruksi rumah, jalan dan sebagainya.

Dalam sebuah studi, diketahui pula bahwa Aegiceras corniculatum memiliki sifat analgesik. Maka itu, tidak heran jika ilmuwan mulai memanfaatkan ekstraknya sebagai obat diabetes.

Baca juga: Bakau Minyak, Penjaga Ekologis dan Sumber Ekonomi Warga

Taksonomi Spesies Tumbuhan Bakau Hitam

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/aegiceras-corniculatum-tanaman-bakau-yang-selalu-hijau/feed/ 0
Xylocarpus Granatum, Spesies Bakau yang Kaya Manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/xylocarpus-granatum-spesies-bakau-yang-kaya-manfaat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=xylocarpus-granatum-spesies-bakau-yang-kaya-manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/xylocarpus-granatum-spesies-bakau-yang-kaya-manfaat/#respond Thu, 07 Oct 2021 03:00:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=33667 Xylocarpus granatum (Cannonball Mangrove) adalah sejenis bakau yang paling umum pakar temukan di dunia. Peta persebarannya terbilang sangat luas karena dapat kita jumpai mulai dari benua Afrika, Asia, Australasia sampai […]]]>

Xylocarpus granatum (Cannonball Mangrove) adalah sejenis bakau yang paling umum pakar temukan di dunia. Peta persebarannya terbilang sangat luas karena dapat kita jumpai mulai dari benua Afrika, Asia, Australasia sampai Kepulauan Pasifik.

Sebagian besar kawasan pantai Indonesia memang didominasi oleh hutan mangrove. Area tersebut biasanya terdiri dari berbagai jenis flora, salah satunya cannonball mangrove.

Hampir semua tanaman mangrove sejatinya ahli temukan di nusantara. Selain Xylocarpus granatum, spesies X. moluccensis dan X. rumphii juga pakar jumpai di berbagai daerah.

Ketiganya merupakan tanaman asli wilayah tropis dan subtropis. Mereka tergabung dalam kelas Magnoliopsida dan famili Meliaceae, dengan klasifikasi ordo tumbuhan Sapindales.

Karakterisitik dan Ciri-Ciri Xylocarpus Granatum

Tanaman bakau Xylocarpus granatum dapat tumbuh setinggi 10-20 cm. Ia memiliki akar papan yang melebar ke samping, meliuk-liuk hingga membentuk rongga atau celahan.

Saat usia tua, batang pohon ini terlihat memiliki sejumlah lubang. Kulit kayunya berwarna cokelat muda kekukingan, mempunyai permukaan yang tipis hingga rentan mengelupas.

Daunnya tebal dan tampak berpasangan dengan ujung membundar. Ukuran daun berkisar 4,5-17 cm x 2,5-9 cm, serta memiliki bentuk elip hingga bulat telur yang terbalik.

Tidak cuma itu, Xylocarpus granatum juga mempunyai tandan daun sepanjang 2-7 cm. Munculnya dari ketiak tangkai daun dan tangkai bunga, yang memiliki panjang 4-8 mm.

Bunga pohon tersebut terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. Dalam satu tangkai umumnya terdapat 8-20 helai bunga dengan formasi bergerombol atau agak acak.

Buah cannonball mangrove disebut sebagai Puzzle Fruit. Bentuknya bulat seberat 1-2 kg, berkulit hijau kecokelatan, serta tergantung pada bagian dahan di dekat permukaan tanah.

Baca juga: Pedada Merah, Mangrove yang Tahan Hidup di Air Tawar

Distribusi dan Habitat Bakau Xylocarpus Granatum

Di Tanah Air, ekosistem bakau Xylocarpus granatum menyebar ke hampir seluruh wilayah, meliputi Pulau Jawa, Madura, Bali, Kepulauan Karimun Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi.

Pohon buah berbiji acak tersebut juga bisa kita temukan di Kalimantan, Maluku, Sumba dan Papua. Karena itu, jangan heran jika julukannya terhitung beragam di sejumlah daerah.

Banang-Banang, Nyirih, Siri, Nilyh, Nyirih Bunga, Nyuru, Jombok Gading, Buli, Buli Hitam, Inggili, Kira-Kira, Nipa, Niumeri Kara, Mokmof, Kabau, dan Niri adalah nama lokal spesies ini.

Selain cannonball mangrove, masyarakat dunia bahkan menyebut jenis bakau Xylocarpus granatum sebagai Cedar Mangrove atau Puzzlenut Tree – merujuk pada bijinya yang acak.

Secara ekologi bakau berbiak di tepi sungai pasang surut, serta daerah bersalinitas rendah agak pedalaman. Ia juga ahli temukan tumbuh di lingkungan payau yang tidak terlalu asin.

Menurut IUCN Red List, status konservasi puzzlenut tree sendiri berisiko rendah atau Least Concern. Meski begitu, tren populasinya makin menurun akibat masifnya alih fungsi lahan.

Kandungan dan Manfaat Xylocarpus Granatum

Kulit kayu, buah dan biji Xylocarpus granatum tenyata memiliki segudang manfaat. Flora ini menyimpan beragam nutrisi, sehingga sering masyarakat gunakan sebagai obat tradisional.

Kandungan protein niri bahkan lebih besar dibandingkan sebagian spesies bakau. Sedangkan zat asam askorbatnya, ahli ketahui lebih tinggi daripada tumbuhan Lenggadai atau Sundari.

Melansir berbagai sumber, kulit kayu tersebut pakar sinyalir kaya akan zat tanin. Material ini jamak publik manfaatkan dalam kebutuhan industri, seperti penguat tali dan kain pengering.

Pada dasarnya kayu Xylocarpus granatum tergolong kuat dan tahan lama. Namun pohonnya sendiri cenderung membengkok dan berlubang, sehingga hanya dijual dalam potongan kecil.

Kayu-kayu tersebut khlayak olah sebagai gagang perkakas atau kerajinan. Ini juga bisa kita manfaatkan sebagai kayu bakar, meski relatif lebih cepat hangus daripada kayu lainnya.

Itu dia beberapa manfaat cannonball mangrove bagi kehidupan manusia. Walau berstatus risiko rendah, kelestarian flora penjaga ekosistem perairan ini penting untuk kita jaga.

Baca juga: Menggali Keunggulan Kehadiran Mangrove di Indonesia

Taksonomi atau Klasifikasi Tanaman Bakau Niri

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/xylocarpus-granatum-spesies-bakau-yang-kaya-manfaat/feed/ 0
Building with Nature, Bentuk Adaptasi Perubahan Iklim di Daerah Pesisir https://www.greeners.co/berita/building-with-nature-bentuk-adaptasi-perubahan-iklim-di-daerah-pesisir/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=building-with-nature-bentuk-adaptasi-perubahan-iklim-di-daerah-pesisir https://www.greeners.co/berita/building-with-nature-bentuk-adaptasi-perubahan-iklim-di-daerah-pesisir/#respond Wed, 02 Dec 2020 03:00:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=30289 Pesisir Indonesia merupakan salah satu wilayah paling terdampak perubahan iklim. Kenaikan permukaan laut jadi faktor penyebab bencana pesisir seperti erosi atau abrasi dan banjir pesisir. Bencana tersebut juga berdampak pada […]]]>

Pesisir Indonesia merupakan salah satu wilayah paling terdampak perubahan iklim. Kenaikan permukaan laut jadi faktor penyebab bencana pesisir seperti erosi atau abrasi dan banjir pesisir. Bencana tersebut juga berdampak pada kehidupan masyarakat pesisir. Pengelolaan wilayah pesisir di Tanah Air perlu opsi lain khususnya menangani masalah abrasi, rehabilitasi mangrove, dan peningkatan ekonomi masyarakat. Salah satu pilihan pembangunan daerah pesisir adalah Building with Nature (BwN).

Jakarta (Greeners) – Project Coordinator Building with Nature Indonesia, Apri Susanto, menjelaskan program Membangun dari Alam atau Building with Nature (BwN) bisa jadi salah satu metode pembangunan wilayah pesisir. Menurutnya, ekosistem lahan basah di wilayah pesisir memiliki manfaat untuk perubahan iklim. Untuk itu, pembangunan wilayah pesisir harus mempertimbangkan lahan basah yang ada.

“Kawasan ekosistem mangrove ataupun gambut, dapat menyimpan karbon dalam jumlah besar, sehingga bisa menekan pemanasan global. Dan ketika ada gangguan atau alih fungsi ekosistem lahan basah tersebut, maka karbon akan terlepas ke atmosfer,” ujar Apri kepada Greeners.co, Selasa (1/12).

Rehabilitasi Mangrove Tingkatkan Ekonomi Masyarakat Pesisir

Pada kesempatan yang sama, Apri membabarkan tentang program BwN di wilayah pesisir utara Jawa Tengah khususnya di Kabupaten Demak. Program tersebut telah berjalan dalam kurun waktu lima tahun. Pihaknya membangun sekitar 9 kilometer struktur semi-permeabel (semi-tembus) menyerupai bendungan di pantai yang terkena abrasi. Ini bertujuan untuk memerangkap sedimen serta mengembalikan lahan yang sesuai agar mangrove tumbuh dan berkembang secara alami.

Apri menjelaskan BwN juga bertujuan untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Pihaknya menggandeng kelompok masyarakat untuk menerapkan budidaya mangrove ramah lingkungan tanpa menggunakan bahan kimia. Penggunaan bahan mencakup kompos dan Mikro Organisme Lokal (MoL). Selain itu, pihaknya juga mendorong kelompok masyarakat mengembangkan kawasan eko-wisata mangrove.

Banyak tantangan dalam program BwN selama lima tahun berjalan. Tantangan terbesar menurut Apri adalah penurunan muka tanah di Kabupaten Demak. Mengingat, metode rehabilitas bertujuan untuk mengembalikan lahan melalui pemerangkapan sedimen. Mengatasi hal tersebut, pihaknya mendorong pemerintah baik pusat maupun daerah untuk lebih serius dalam upaya pengurangan penurunan muka tanah, khususnya di wilayah Kabupaten Demak.

“Setelah lima tahun, beberapa lokasi rehabilitasi mangrove sudah menunjukkan sedimentasi serta pertumbuhan mangrove secara alami. Sementara kegiatan budidaya perikanan di tambak dan usaha ekonomi kelompok mulai menunjukkan peningkatan hasil panen. Secara tidak langsung juga meningkatkan pendapatan anggota kelompok,” jelasnya.

Building with Nature

Penerapan Building with Nature sekaligus menggandeng kelompok masyarakat untuk menerapkan budidaya mangrove ramah lingkungan tanpa menggunakan bahan kimia. Foto: Kuswantoro.

Negara Kawasan Asia Berencana Replikasi Praktik Baik Building with Nature

Lebih jauh, Apri mengatakan pihaknya akan mereplikasi dan membagi pengalaman BwN Indonesia ke wilayah tingkat Asia. Meski begitu, seluruh konsepnya tidak serta merta bisa diterapkan di lokasi lain. Bahkan dalam penerapannya, BwN tidak hanya berlaku untuk kawasan pesisir, tapi bisa juga untuk sistem yang lain seperti daerah aliran sungai, pantai berpasir, perkotaan, atau pelabuhan.

“Saat ini kami sedang menginisiasi BwN Asia. Kami sedang merencanakan penerapan BwN untuk sistem yang berbeda di 5 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, India dan China,” ucapnya.

Perlu diketahui, program BwN dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Pembangunan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta konsorsium Wetlands International dan Ecoshape bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Demak. Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP, Hendra Yusran Siry, berharap BwN dan model lainnya dapat memberikan kontribusi nyata terhadap ambisi Indonesia terkait dengan adaptasi perubahan iklim. Selain itu, program tersebut juga dapat meningkatkan ketangguhan masyarakat pesisir.

Hendra menjelaskan pihaknya telah mereplikasi pendekatan Membangun bersama Alam di 13 kabupaten dengan total panjang 23,5 kilometer. Sementara Kementerian PUPR telah membuat panduan terkait rekayasa sipil. Program ini juga telah melakukan pelatihan terhadap delapan universitas dan institusi pengetahuan di Indonesia, untuk membangun kapasitas generasi baru para insinyur, ahli ekologi, pemerintah dan institusi investasi.

“Kami mengundang komunitas global, khususnya investor global dan regional serta institusi finansial. Ini memberikan dukungan hijau dalam mengembangkan dan melaksanakan pendekatan pembangunan yang lebih ramah lingkungan dan multi-manfaat. Sehingga dapat melakukan percepatan adaptasi secara global,” pungkasnya.

Penulis Muhamad Ma’rup

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/berita/building-with-nature-bentuk-adaptasi-perubahan-iklim-di-daerah-pesisir/feed/ 0
500 Hektare Mangrove Akan Direhabilitasi Tahun Ini https://www.greeners.co/berita/500-hektare-mangrove-direhabilitasi-tahun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=500-hektare-mangrove-direhabilitasi-tahun https://www.greeners.co/berita/500-hektare-mangrove-direhabilitasi-tahun/#respond Sun, 23 Apr 2017 10:23:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=16813 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyatakan bahwa pemerintah tahun 2017 ini akan merehabilitasi mangrove pada areal seluas 500 hektare. Jumlah ini terus meningkat dari tahun ke tahun.]]>

Jakarta (Greeners) – Luas hutan mangrove di Indonesia saat ini tersisa 3,49 juta Ha yang tersebar di 257 kabupaten/kota. Namun, hanya 48 persen yang kondisinya masih dalam keadaan baik, sisanya dalam kondisi sedang atau rusak. Oleh karena itu, memperingati Hari Bumi tahun ini, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya bersama-sama dengan masyarakat melakukan penanaman mangrove di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Demak, Jawa Tengah, pada Sabtu, 22 April 2017.

Siti menjelaskan bahwa pemerintah tahun 2017 ini akan merehabilitasi mangrove pada areal seluas 500 hektare. Sebelumnya, pada tahun 2015 pemerintah telah melakukan rehabilitasi mangrove seluas 430 hektare, kemudian 497 hektare pada tahun 2016. Menurut Siti jumlah ini akan bertambah signifikan dengan adanya keterlibatan berbagai pihak.

BACA JUGA: Global Mangrove Alliance Targetkan Pemulihan 20 Persen Habitat Mangrove

Ia menjelaskan bahwa setiap tahunnya, sebanyak 200 ribu hektare mangrove di Indonesia mengalami penurunan kualitas. Penyebabnya antara lain adalah deforestasi ekosistem pesisir, reklamasi, penurunan kualitas air, polusi, praktik budidaya yang tidak berkelanjutan serta eksploitasi kehidupan laut.

“Pemerintah terus berupaya mengatasi kerusakan mangrove dengan merehabilitasi mangrove dan pantai,” katanya seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Minggu (23/04).

Ia meyakini bahwa ekosistem mangrove sangat penting untuk dijaga kelestariannya karena mangrove adalah ekosistem pesisir yang memiliki peran paling produktif di dunia. Mangrove dapat mendukung sektor perikanan, mengurangi erosi dan banjir, menjaga dan mengkonservasi keanekaragaman hayati.

Mangrove juga menyimpan karbon sehingga tidak merusak struktur atmosfer. Ini berarti mangrove turut berperan dalam mencegah kenaikan suhu cuaca dan abrasi pantai.

BACA JUGA: Setiap Tahun Indonesia Kehilangan 52 Ribu Hektar Ekosistem Mangrove

Menteri Siti turut prihatin terkait abrasi pantai yang terjadi di desa Bedono. Desa Bedono dahulu adalah daerah persawahan, tambak, dan kehidupan nelayan. Namun, sejak abrasi pantai, warga tidak dapat lagi hidup dari pertanian, tambak, dan nelayan.

Sampai saat ini, empat dukuh (dusun) telah menghilang di Desa Bedono akibat abrasi. “Saya sangat prihatin dengan kondisi abrasi di pantai dan itu terjadi hampir di seluruh Indonesia,” ujar Siti.

Sebagai informasi, tanggal 18-21 April 2017 lalu, Bali menjadi tuan rumah Konferensi Mangrove Internasional. Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah dikarenakan luas mangrove di Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Konferensi ini bertujuan untuk menghasilkan suatu protokol atau peraturan mengenai pelestarian hutan mangrove yang dapat diimplementasikan di seluruh dunia.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/500-hektare-mangrove-direhabilitasi-tahun/feed/ 0
Global Mangrove Alliance Targetkan Pemulihan 20 Persen Habitat Mangrove https://www.greeners.co/berita/global-mangrove-alliance-targetkan-pemulihan-20-persen-habitat-mangrove/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=global-mangrove-alliance-targetkan-pemulihan-20-persen-habitat-mangrove https://www.greeners.co/berita/global-mangrove-alliance-targetkan-pemulihan-20-persen-habitat-mangrove/#respond Sat, 25 Feb 2017 05:03:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=16027 The Nature Conservancy, Conservation International, dan WWF meluncurkan sebuah gerakan tingkat dunia bertajuk 'Global Mangrove Alliance' untuk pemulihan 20 persen habitat mangrove pada 2030.]]>

Bali (Greeners) – The Nature Conservancy, Conservation International, dan World Wide Fund For Nature (WWF) meluncurkan sebuah gerakan tingkat dunia bertajuk ‘Global Mangrove Alliance’ untuk pemulihan 20 persen habitat mangrove pada 2030. Peluncuran yang dilakukan di acara World Ocean Summit 2017 di Bali ini dilakukan untuk membangun aliansi global dengan memanfaatkan keahlian, dana, pengetahuan, sumber daya, keterampilan yang beragam dan meningkatkan perhatian pada peran penting mangrove sebagai ekosistem pesisir.

Maria Damanaki, global managing director, oceans dari The Nature Conservancy, mengatakan, saat ini aliansi sedang mengembangkan rencana kerja berdasarkan konsultasi bersama dengan para ahli. Nantinya, gerakan ini akan diperluas secara lokal, regional dan global bersama dengan masyarakat, pemerintah dan pemimpin dari tiap sektor swasta yang bersedia memberikan komitmennya untuk menghentikan dan mengembalikan hutan mangrove yang telah hilang 50 persen dari habitat dunia selama setengah abad terakhir.

BACA JUGA: Setiap Tahun Indonesia Kehilangan 52 Ribu Hektar Ekosistem Mangrove

“Saat ini memang terlihat hanya orang-orang yang hidup di dalam dan sekitar hutan mangrove yang merasakan manfaatnya. Tetapi penting diketahui bahwa orang-orang di seluruh dunia pun sudah cukup sadar akan dampak positif dari habitat mangrove yang terjaga bagi planet ini,” katanya, Bali, Jumat (24/02).

Hutan mangrove, katanya, berfungsi sebagai transisi antara laut dan lingkungan darat, menyediakan perlindungan dari dampak perubahan iklim dengan menyerap energi dari gelombang laut dan gelombang badai, beradaptasi dengan naiknya permukaan laut dan menstabilkan garis pantai dari erosi.

BACA JUGA: 90 Persen Terumbu Karang Dunia Diprediksi Akan Punah pada 2050

Senior vice-president, oceans dari World Wide Fund for Nature (WWF) Brad Ack menambahkan, meskipun mangrove telah lama dianggap penting bagi masyarakat pesisir, namun kenyataan yang terjadi, hutan mangrove terus tergerus dan diperkirakan sebanyak satu persen hutan mangrove di dunia hancur setiap tahun. Jika tingkat kehilangan terus berlangsung dan tidak dihentikan, terusnya, maka seluruh habitat mangrove bisa hilang dalam 100 tahun ke depan.

“Ini pekerjaan yang penting untuk dilakukan. Oleh karena itu fokus pada peningkatan kesadaran akan pentingnya peran mangrove sebagai investasi global dalam ketahanan pesisir dan pengelolaan pesisir terpadu sangat penting,” kata Brad Ack.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/global-mangrove-alliance-targetkan-pemulihan-20-persen-habitat-mangrove/feed/ 0
Pusat Studi Mangrove, Harapan Pelestarian Lingkungan di Kawasan Pesisir https://www.greeners.co/berita/pusat-studi-mangrove-harapan-pelestarian-lingkungan-di-kawasan-pesisir/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pusat-studi-mangrove-harapan-pelestarian-lingkungan-di-kawasan-pesisir https://www.greeners.co/berita/pusat-studi-mangrove-harapan-pelestarian-lingkungan-di-kawasan-pesisir/#respond Mon, 05 Jan 2015 07:30:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6989 Pasuruan (Greeners) – Secercah harapan muncul ketika berkunjung ke Pusat Studi Mangrove yang dibangun Kementerian Kelautan dan Perikanan di pesisir Desa Pulokerto, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Pusat studi tanaman bakau […]]]>

Pasuruan (Greeners) – Secercah harapan muncul ketika berkunjung ke Pusat Studi Mangrove yang dibangun Kementerian Kelautan dan Perikanan di pesisir Desa Pulokerto, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Pusat studi tanaman bakau pertama di dunia ini dirancang menjadi pusat penyadaran masyarakat betapa pentingnya menjaga ekosistem pantai. Lahan seluas 22,5 hektare tersebut dijadikan pelatihan bagi masyarakat bagaimana bertambak dengan mengutamakan pelestarian lingkungan.

“Pasuruan memiliki potensi luar biasa di sektor pesisir. Daerah ini memiliki garis pantai yang panjang dan kualitas tanah yang baik untuk hutan bakau. Atas dasar itu, Pasuruan dipilih sebagai lokasi Pusat Studi Mangrove. Ini persembahan dari Desa Pulokerto bagi dunia karena pusat studi ini yang pertama ada di dunia,” kata Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Suseno Sukoyono, Rabu (31/12/2014) lalu.

Menurut Suseno, pusat studi ini juga dijadikan stasiun praktek lapangan Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo. “Pusat studi ini digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam upaya mendukung pengelolaan sumber daya pesisir dan laut secara terpadu dan berkelanjutan. Pengelolaan sumber daya pesisir harus memperhatikan keseimbangan habitat atau ekosistem tempat hidup ikan serta interaksi dengan organisme akuatik lainnya. Ini yang pertama di dunia,” terang Suseno.

Pusat Studi Mangrove di Pasuruan yang dirintis sejak tahun 2006 menjadi pusat studi mangrove pertama di dunia. Kawasan ini memadukan budidaya mangrove dan tambak sebagai upaya melatih masyarakat bertambak dengan mengutamakan pelestarian lingkungan. Foto: greeners.co

Pusat Studi Mangrove di Pasuruan yang dirintis sejak tahun 2006 menjadi pusat studi mangrove pertama di dunia. Kawasan ini memadukan budidaya mangrove dan tambak sebagai upaya melatih masyarakat bertambak dengan mengutamakan pelestarian lingkungan. Foto: greeners.co

Pusat studi yang sudah dirintis sejak tahun 2006 dan diresmikan pada Juli 2014 ini memiliki luas 22,5 hektare, meliputi kawasan budidaya mangrove, 24 petak tambak alas, serta kawasan penyangga yang ditanami mangrove. Di areal ini pula tertanam 100.000 pohon mangrove berusia 3-7 tahun meliputi 8 jenis dominan dan 10 jenis minor dengan ketinggian 2-6 meter.

“24 petak tambak itu yang menjadi lokasi uji coba. Mulai dari tambak yang tak ditanami mangrove, tambak yang ditanami mangrove tapi jumlahnya sedikit, hingga tambak yang ditanami mangrove dalam jumlah besar. Kemudian kita bandingkan hasil produksinya,” terang dia.

Dengan ditanami mangrove, lanjut dia, tambak akan semakin produktif. Semakin banyak mangrove yang ditanam di tambak, kualitas air dan udara akan semakin baik untuk ikan. Selain jadi tempat bertelur, mangrove juga menyediakan makanan alami.

“Dari sisi ekonomi ini akan membantu petambak,” katanya.

Selain nilai ekonomis, penanaman mangrove akan menjaga kelestarian ekosistem laut dan mencegah bencana karena memiliki akar yang kuat dan bisa memecah ombak besar yang datang. Sementara dari sisi sosial, kawasan hutan mangrove akan menjadi identitas yang bisa dibanggakan, termasuk bisa jadi lokasi ekowisata dan eduwisata.

Direktur Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, Endang Suhaedy, mengatakan, pusat studi mangrove tersebut sudah berhasil mengembangkan tambak dengan pola 50 banding 50. “Maksudnya, 50 persen mangrove dan 50 persen tambak. Hasilnya sangat menggembirakan,” kata dia.

Selama ini, kata Endang, tambak warga masih menggunakan pola 10 persen mangrove dan 90 persen tambak. Sedangkan pihak perhutani memakai pola 20 persen mangrove dan 80 persen tambak. “Dengan tenaga penyuluh, pola 50 banding 50 ini akan kita sampaikan ke warga lainnya. Bagaimanapun, itu butuh kerja keras,” terangnya.

Endang menerangkan, selain keuntungan ekomoni pada hasil produksi tambak, keuntungan ekologi dan keuntungan sosial, mangrove juga punya nilai ekonomi lainnya melalui produk olahan, diantaranya berbagai macam sirup, jajanan basah, kripik, hingga batik dengan pewarna mangrove.

(G12)

]]>
https://www.greeners.co/berita/pusat-studi-mangrove-harapan-pelestarian-lingkungan-di-kawasan-pesisir/feed/ 0
Wana Tirta Lestarikan Pasir Mendit Dengan Mangrove https://www.greeners.co/berita/wana-tirta-lestarikan-pasir-mendit-dengan-mangrove/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=wana-tirta-lestarikan-pasir-mendit-dengan-mangrove https://www.greeners.co/berita/wana-tirta-lestarikan-pasir-mendit-dengan-mangrove/#respond Thu, 12 Jun 2014 08:00:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=4874 Yogyakarta (Greeners) – Mangrove adalah satu tumbuhan alami yang dapat mengatasi abrasi bibir pantai. Menangani abrasi di pesisir pantai memerlukan tindakan yang serius. Seperti halnya abrasi yang terjadi di pesisir […]]]>

Yogyakarta (Greeners) – Mangrove adalah satu tumbuhan alami yang dapat mengatasi abrasi bibir pantai. Menangani abrasi di pesisir pantai memerlukan tindakan yang serius. Seperti halnya abrasi yang terjadi di pesisir pantai selatan. Terakhir, tahun 2013 lalu, tanah puluhan meter dekat bibir pantai Pasir Mendit hilang akibat abrasi.

“Termasuk lahan tambak udang sepanjang 10 meter juga hilang,” kata Warso, Ketua Kelompok Tani Pelestari Mangrove dan Pesisir Pantai ‘Wana Tirta’ di sekretariat Wana Tirta, usai melakukan penanaman mangrove, Minggu (08/06).

Salah satu langkah yang dilakukan Warso bersama kelompoknya adalah menanam mangrove. Menanam mangrove dilakukan Warso dan kelompoknya bekerja sama dengan beberapa kelompok yang peduli dengan lingkungan di Pesisir Pantai Pasir Mendit, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kulonprogo.

Warso menambahkan, selain mengurangi abrasi, pihaknya berkeinginan untuk mengurangi luasan tambak udang yang berada di dekat pantai Pasir Mendit. Saat ini, luas tambak udang di sana mencapai 20 hektar. Sedangkan, luas bibir pantai yang ditanami mangrove baru 8 hektar.

“Usaha tambak dan mangrove memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mau saya, masyarakat perlahan bisa memilih melestarikan mangrove meskipun perlu waktu puluhan tahun untuk memperoleh keuntungan,” ujarnya seusai penanaman mangrove.

Beberapa manfaat dari tanaman mangrove selain menahan abrasi dan ramah lingkungan adalah dapat menambah populasi jenis udang, ikan, serta kepiting. “Buahnya juga bisa dibuat makanan,” pungkasnya.

Penanam Mangrove Wana Tirta bekerjasama dengan beberapa komunitas diseputar Yogyakarta diantaranya, Mountain Train Bike (MTB) Federal Indonesia, KeMANGTEER Jogja, Jogja Morning Bike (JMB), Filantropi, Komunitas Menoreh Bikers, Basen Cycling Club (BCC), dan Komunitas Pitpitan Kadipaten (KPK).

Ketua Panitia penanaman mangrove, Bagas Triaji menyatakan keprihatinannya akan terjadinya abrasi di pesisir pantai selatan. Untuk itu, kata Bagas, sangat diperlukan adanya tindakan langsung untuk segera dilakukan.

“Penanaman mangrove ini diharapkan paling tidak bisa mengurangi terjadinya abrasi,” ujar Bagas yang juga anggota MTB Federal Indonesia.

(G35)

]]>
https://www.greeners.co/berita/wana-tirta-lestarikan-pasir-mendit-dengan-mangrove/feed/ 0