Potensi Pangan dan Obat dari Keanekaragaman Hayati Belum Terungkap

Reading time: 4 menit
biodiversity
Potensi obat dan pangan dari biodiversity sangat potensial jika terungkap. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Potensi kemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia di masa depan atau bioprospeksi belum seluruhnya tersentuh penelitian. Sayangnya, laju kerusakan dan ancaman terhadap kehati bergerak cepat. Padahal satu tumbuhan atau spesies tertentu di alam bisa berkhasiat menjadi sumber pangan dan obat di masa depan.

Pakar keanekaragaman hayati Universitas Nasional Prof Endang Sukara mengatakan, setiap apapun yang berada di alam pasti punya peran penting untuk masa depan kehidupan bumi. Sayangnya pengetahuan terkait hal ini masih minim.

“Di dunia termasuk juga di Indonesia pengetahuan terkait arti penting keanekaragaman hayati masih sangat rendah dan terbatas. Hanya pengetahuan manfaat keanekaragaman hayati untuk obat tradisional dan makanan saja,” katanya kepada Greeners, di Jakarta, Rabu (20/10).

Sebutan Indonesia negara terkaya kehati kedua di dunia juga bisa berubah lebih teratas jika potensi di laut terungkap. Saat ini baru kehati terestrial saja yang diketahui. Itu pun belum masuk pengetahuan mendalam terkait bioprospeksinya.

Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia tahun 2010-2012 ini mencontohkan, ada satu tumbuhan Tapak Liman yang ternyata sudah banyak termuat di jurnal internasional. Bahkan Tiongkok sudah mengembangkan ekstraksinya. Tumbuhan ini punya senyawa aktif untuk obat hipertensi. Bahkan dalam kajian lebih lanjut, tumbuhan yang hidup di tegalan (pinggir parit) ini juga punya potensi senyawa aktif yang bisa menghambat pertumbuhan sel kanker.

“Tumbuhan ini hidup di tegalan dan tidak banyak perhatian di alam dan kerap terabaikan di alam. Banyak kita jumpai di tegalan,” imbuhnya.

orangutan

Orangutan jadi indikator biopropeksi pangan dan obat. Foto: Shutterstock

Orangutan Beri Petunjuk Bioprospeksi

Begitu pula dengan keberadaan orangutan di hutan. Satwa bernaluri ini bisa menjadi rujukan dari berbagai aktivitas dan pola makanannya di alam. Endang menjelaskan, apapun yang orangutan makan bisa ada kajian untuk mengetahui seberapa potensial menjadi sumber pangan, protein, vitamin dan obat masa depan.

“Kita belum belajar dari orangutan sebagai indikator atau petunjuk bagi umat manusia. Jangan sampai ketika padi tidak bisa ditanam karena perubahan iklim, kita belum tahu alternatifnya dari apa yang orangutan konsumsi sebagai karbohidrat,” paparnya.

Namun sayangnya, habitat orangutan terancam dan ada prediksi, satwa ini punah di tahun 2030 jika habitatnya terus terganggu.

Sementara itu lanjutnya, komitmen Indonesia dalam perlindungan keanekaragaman hayati harus meningkat. Apalagi saat ini Indonesia telah memiliki 19 cagar biosfer dari awalnya hanya 6 cagar biosfer. Perlindungan kehati di dalam zona inti cagar biosfer harga mati.

Potensi kehati dari satwa, tumbuhan hingga mikroba di dalamnya bisa sangat potensial menjadi keuntungan buat bangsa Indonesia. Dalam Protokol Nagoya di dalam konferensi biodiversity dunia ada peluang benefit sharing dari potensi keanekaragaman hayati tersebut.

Endang juga mengingatkan, kesadaran perlindungan keanekaragaman hayati jangan sampai tersandera kepentingan yang mengancam keberadaannya. Bahkan rusaknya habitat keanekaragaman bisa memicu meningkatnya penyakit dari satwa liar (zoonosis).

“Kelelawar yang habitatnya rusak bisa berpindah dekat permukiman manusia dan sangat potensi menyebarkan penyakit ke manusia,” ucapnya.

Selain itu, jika habitat rusak, serangga penyerbuk tidak akan optimal membantu proses penyerbukan di alam. Ini menjadi ancaman bagi ketersediaan pangan.

Status Keanekaragaman Hayati Indonesia

Mengutip situs Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang saat ini melebur ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional, Indonesia menjadi salah satu pusat agro biodiversitas dunia. Indonesia memiliki hampir 10% spesies dari total spesies tumbuhan dunia.

Flora dan fauna di tujuh pulau utama Indonesia, yaitu Sumtera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Lesser Sunda, Mollucas dan Papua sangat mendominasi. 

Keanekaragaman fauna Indonesia sekitar 12% mamalia dunia (773 spesies) ada di Indonesia. Spesies terbanyak terdapat di Kalimantan dan jenis spesies endemik tertinggi terdapat di Papua dan Sulawesi. Namun status dan tren keberagaman fauna terus berpacu dengan laju kepunahan.

Saat ini terdapat 191 spesies mamalia, 33 spesies burung, 33 spesies amphibi, 30 spesies reptil, 231 spesies ikan, 63 spesies moluska dan 26 spesies kupu-kupu yang terancam keberadaannya. Termasuk tujuh spesies lebah madu dunia yang ditemukan Indonesia, dua jenis di antaranya endemik dan saat berstatus akan punah dan terancam.

Selanjutnya, berdasarkan data kehati Indonesia 2019, terdapat 2.273 spesies fungi yang telah teridentifikasi di Indonesia. Jumlah ini terhitung masih sangat sedikit. Sekitar 1,9% dari fungi yang ada di dunia. Perkiraanya, Indonesia memiliki 86.000 spesies fungi dari 1,5 juta-3 juta fungi dunia. Saat ini baru 120.000 spesies teridentifikasi.

Riset terpadu untuk mengungkap keanekaragaman hayati yang belum teridentifikasi sangat perlu. Kehilangan terus terjadi karena dampak aktivitas manusia dan bencana alam seperti kebakaran hutan, penebangan liar serta eksploitasi hutan.

Harmoni dengan Alam di Tahun 2050

Baru-baru ini dalam pertemuan dunia biodiversity (COP-15) di Kunming, China, Indonesia dan dunia berkomitmen hidup harmoni dengan alam di tahun 2050. Bahkan Indonesia punya target lebih cepat yakni di tahun 2030.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan, Pemerintah Indonesia berkomitmen dan telah memiliki kebijakan pemulihan ekosistem hingga 2030. Selain itu juga memperkuat kawasan hutan bernilai konservasi tinggi di wilayah konsesi.

“Indonesia juga menekankan pentingnya industri pesisir, kelautan berkelanjutan, pengendalian spesies asing dan invasif serta mendorong partisipasi aktif para pemangku kepentingan dalam pengelolaan keanekaragaman hayati melalui skema perhutanan sosial dan kemitraan konservasi,” kata Siti dalam keterangannya, di Jakarta, Selasa (19/10) malam.

Sidang negara-negara anggota Konvensi Keanekaragaman Hayati atau COP 15 Convention on Biological Diversity (CBD) di Kunming, China pelaksanaannya dalam 2 tahap yaitu tahap pertama 11 – 15 Oktober 2021 secara daring dan luring dan tahap kedua 25 April – 8 Mei 2022.

COP-15 yang dihadiri para menteri dari negara anggota CBD ini, juga mengadopsi Deklarasi Kunming yang memuat komitmen para pihak konvensi untuk mengembangkan, mengadopsi dan menerapkan Post-2020 Global Biodiversity Framework. Protokol ini secara efektif akan menempatkan keanekaragaman hayati pada jalur menuju pemulihan pada tahun 2030, serta menuju visi 2050 “Living in Harmony with Nature”.

Penulis : Ari Rikin

Top
You cannot copy content of this page