Pertambahan Populasi Penduduk Ancam Ekosistem Mangrove

Reading time: 3 menit
mangrove
Pertambahan Populasi Penduduk Ancam Ekosistem Mangrove. Foto: Shutterstock.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan luas hutan mangrove terbesar di dunia. Namun, berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sejak tahun 1980 hingga 2020 luas hutan mangrove telah berkurang hingga 6 juta hektar. Dari 9,36 juta hektar (1980) menjadi 3,31 hektar (2020). Menilik jumlah yang ada saat ini, 80,74 persen berstatus baik dan 19,26 persen kritis.

Jakarta (Greeners) – Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Rehabilitasi Hutan, KLHK, Hudoyo, menyebut penurunan luas hutan mangrove merupakan keniscayaan.

Menurutnya, pertambahan populasi penduduk di Indonesia mau tidak mau mengurangi luas lahan bakau yang sifat ruangnya tetap.

Pertambahan populasi, lanjut dia, melahirkan aktivitas yang mengancam ekosistem lahan mangrove. Aktivitas tersebut antara lain alih fungsi lahan menjadi pemukiman dan pabrik.

“Sebab ruang kita sama, lahan (mangrove) kita tetap. Pertambahan penduduk sejak tahun 90-an sampai sekarang naik dua kali lipat. Jumlah tersebut harus ditampung dengan ruang yang sama. Salah satunya yang paling mudah adalah kawasan hutan,” ujar Hudoyo dalam acara Green Talk: Menyelamatkan Hutan Mangrove, Senin, (4/1/2021).

Pemerintah Ajak Semua Pihak Jaga Hutan Mangrove

Hudoyo menilai, pemerintah berkomitmen mencegah berkurangnya luas hutan mangrove di Bumi Pertiwi, meski populasi penduduk terus bertambah.

Salah satu program yang pemerintah tawarkan, lanjut Hudoyo, antara lain memaksimalkan hutan mangrove yang ada saat ini sebagai destinasi ekowisata.

Selain itu, pihaknya juga akan menambah kawasan hutan mangrove melalui penanaman pohon serta restorasi hutan mangrove yang rusak.

Dia menyadari, perlu kolaborasi semua pihak untuk menyelamatkan ekosistem mangrove di Indonesia. Hudoyo mengklaim pemerintah telah menggandeng pegiat lingkungan untuk terlibat dalam program restorasi maupun penanaman mangrove. Adapun metodenya menyesuaikan dengan kondisi spesifik di lapangan.

“Untuk 2020, ada dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara Rp 436 miliar untuk seluruh Indonesia. Target penanaman 16.000 hektar dengan realisasi lebih dari 16.300 hektar,” jelasnya.

mangrove

Perlu kolaborasi semua pihak untuk menyelamatkan ekosistem mangrove di Indonesia. Foto: Shutterstock.

Sinergi Semua Pihak Percepat Restorasi Lahan Mangrove

Sementara itu, pada acara yang sama, Direktur Program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Muhammad Ilman, menilai upaya untuk merestorasi lahan mangove masih lebih lamban dari laju kerusakannya.

Meski begitu, lanjutnya, kepedulian masyarakat terhadap kelestarian hutan mangrove semakin meningkat. Menurutnya, hal tersebut bisa menjadi modal agar program restorasi mangrove semakin baik lagi.

Dia juga mengakui tantangan merestorasi mangrove tidak bisa selesai oleh satu lembaga saja. Untuk itu, pihaknya menginisiasi pembentukan Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) sebagai wadah kolaborasi semua pihak mulai dari pemerintah, swasta, hingga masyarakat.

Ilham menuturkan, aliansi ini merestorasi ekosistem hutan bakau di daerah tertentu sebagai percontohan program restorasi mangrove di Indonesia.

“Selama ini banyak pihak swasta berminat di mangove. Mereka bergerak sendiri-sendiri dengan jangka waktu yang pendek. Jadi, kenapa kita tidak bersama-bersama?” ujar Ilham.

Pakar: Hutan Bakau Mengandung Potensi Ekonomi Berskala Besar

Lebih jauh, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Daniel Murdiyarso, mengingatkan bahwa mangrove merupakan bagian penting dalam adaptasi perubahan iklim.

Dalam kesempatan yang sama, Daniel mereken hutan bakau bisa menjadi sumber ekonomi dengan skala besar.

Menurutnya, investasi di sektor mangrove saat ini bisa mendatangkan keuntungan delapan kali lipat dalam kurun waktu satu dekade.

Daniel menyebutkan beberapa dampak positif dari kelestarian lahan mangrove dalam bidang ekonomi dan geografi.

  • Ekonomi

Dari sektor perikanan, mangrove bisa menambah produksi ikan. Hutan bakau melindungi telur-telur ikan, menjaga mereka hingga menetas.

  • Geografi

Mangrove merupakan pengembang lahan melalui proses sedimentasi. Laju sedimentasi mangrove yaitu 5-7 milimeter per tahun. Angka ini lebih cepat dari laju peningkatan permukaan laut yaitu 2-3 milimeter per tahun.

“Ekonomi terbesar ketika berbicara tentang penghidupan masyarakat. Dengan kembalinya fungsi ekosistem ini, masyarakat yang terlibat dalam restorasi akan kembali pulih penghidupannya,” ujar Daniel.

Penulis: Muhamad Marup

Editor: Ixora Devi

Top
You cannot copy content of this page