Famous Opinion - Greeners.Co https://www.greeners.co/gaya-hidup/category/famous-opinion/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 25 Nov 2024 04:17:06 +0000 id hourly 1 Merdi Sihombing, 25 Tahun Hidupkan Dunia Fesyen dengan Pewarna Alami https://www.greeners.co/gaya-hidup/merdi-sihombing-25-tahun-hidupkan-dunia-fesyen-dengan-pewarna-alami/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=merdi-sihombing-25-tahun-hidupkan-dunia-fesyen-dengan-pewarna-alami https://www.greeners.co/gaya-hidup/merdi-sihombing-25-tahun-hidupkan-dunia-fesyen-dengan-pewarna-alami/#respond Mon, 18 Nov 2024 07:59:32 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=45262 Merdi Sihombing, desainer berdarah Batak, baru-baru ini merayakan 25 tahun perjalanan karyanya di dunia fesyen. Dalam dua dekade lebih itu, ia tak hanya konsisten meluncurkan koleksi, tetapi juga berkomitmen pada […]]]>

Merdi Sihombing, desainer berdarah Batak, baru-baru ini merayakan 25 tahun perjalanan karyanya di dunia fesyen. Dalam dua dekade lebih itu, ia tak hanya konsisten meluncurkan koleksi, tetapi juga berkomitmen pada keberlanjutan melalui pemilihan material, pewarnaan alami, dan teknik tenun tradisional.

Merdi, yang merupakan lulusan Ilmu dan Desain Mode, memiliki hasrat untuk menafsirkan kembali tekstil tradisional dan pewarnaan alami dalam mode kontemporer. Terinspirasi oleh budaya Bataknya, ia menggabungkan keahlian tradisional dengan desain modern, menciptakan karya yang merayakan warisan budaya Batak sambil tetap berinovasi.

Sejak memulai kariernya, Merdi telah memiliki kedekatan khusus dengan masyarakat desa, bekerja sama untuk menciptakan kain tenun menggunakan pewarna alami berbahan dasar biodiversitas Indonesia. Ia mengakui bahwa banyak orang meragukan pewarnaan alami karena dianggap kurang cerah, namun ia membuktikan sebaliknya.

BACA JUGA: Museum Nasional Indonesia Segera Hadirkan Pameran Fesyen Berkelanjutan

“Tapi Anda lihat semua karya saya. Warna-warnanya bisa cerah dan itu semua diwarnai secara alami. Alam kita luar biasa hebatnya. Jadi, saya berharap industri ini juga mulai menyadari dan bisa mengeksplorasi agar industri fashion Indonesia bisa lebih berkelanjutan,” ujar Merdi.

Pameran The Flying Cloth, di Museum Nasional, menjadi penanda penting dalam perjalanan hidupnya selama 25 tahun. Pameran ini menggabungkan berbagai pelajaran dan cerita dari komunitas-komunitas yang ia temui selama perjalanan kariernya.

“Setiap kain, motif, dan warna yang ada di sini bukan hanya hasil kreativitas, tetapi juga warisan yang kami pelihara dan hargai bersama. Dalam setiap lembar kain yang kami tampilkan, ada cerita tentang pelestarian, kebanggaan budaya, dan upaya untuk menghadirkan fashion yang tidak merusak alam,” tambahnya.

Lebih dari sekadar perjalanan profesional, 25 tahun Merdi di industri fesyen adalah kisah tentang ikatan emosional yang ia bangun dengan para pengrajin dan perempuan di desa-desa terpencil yang setia menjaga tradisi.

Dari Mentawai, Sumatra Barat, hingga Wamena, Papua, melalui Yayasan Merdi Sihombing dan Eco Fesyen Indonesia, ia menggali dan membawa warisan leluhur ke dalam karya-karya kontemporer yang tetap menghormati nilai budaya.

Merdi Sihombing. Foto: Contentro

Model mengenakan pakaian karya Merdi Sihombing di Pameran The Flying ClothMerdi Sihombing. Foto: Contentro

Karya Merdi Sihombing Berhasil Memukau Dunia

Merdi Sihombing juga berhasil memukau dunia dengan menampilkan koleksinya di panggung-panggung fesyen bergengsi, seperti New York Fashion Week dan London Fashion Week.

Karya-karyanya yang mengusung keindahan wastra Nusantara dan semangat keberlanjutan mendapat apresiasi luar biasa di berbagai belahan dunia. Termasuk Kanada, Australia, Bangladesh, dan India. Keberhasilannya ini membuktikan kekuatan kreativitas dan relevansi budaya lokal di kancah mode internasional.

Merdi memiliki visi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat mode bagi masyarakat adat, atau indigenous fashion, di panggung dunia. Ia percaya Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Dengan masyarakat adat yang begitu beragam, masing-masing menyimpan potensi besar yang belum tergali sepenuhnya.

“Dari ujung barat hingga timur Nusantara, tiap suku memiliki warisan tekstil dan seni hias yang unik. Ini dapat kita perkenalkan dan kita persembahkan kepada dunia,” tambahnya.

Dengan warisan keahlian lokal turun-temurun dan visi untuk mode yang berkelanjutan, Merdi yakin bahwa Indonesia tidak hanya mampu merayakan keragaman budayanya. Menurutnya, Indonesia juga berpotensi untuk menjadi pusat ekspor fashion berbasis nilai-nilai lokal.

Bagi Merdi, langkah ini lebih dari sekadar industri dan estetika. Namun, ini tentang membawa identitas dan kebanggaan budaya Indonesia ke tingkat global. Bahkan, ia mengajak dunia untuk lebih menghargai dan memahami nilai luhur dari indigenous fashion Indonesia.

Karya Merdi Sihombing. Foto: Contentro

Karya Merdi Sihombing. Foto: Contentro

Sajikan Visual yang Kreatif

Dengan sentuhan artistik dari Heri Pemad sebagai art director dan Ignatia Nilu sebagai kurator, pameran The Flying Cloth mempersembahkan perjalanan kreatif Merdi yang begitu lengkap. Mereka menggabungkan sajian visual, auditif, diorama, dan elemen interaktif.

Koleksi wastra yang mereka tampilkan dalam pameran ini adalah hasil re-inventing kain tradisional dari berbagai daerah di Nusantara, yang memadukan inovasi benang, pewarnaan alami, serta teknik tenun, sulam, songket, dan manik-manik dengan sentuhan budaya yang kaya.

Instalasi tersebut juga menghadirkan elemen-elemen simbolis dari berbagai wilayah. Bahkan, terdapat bahan-bahan unik yang mencerminkan keindahan dan keunikan setiap daerah yang menjadi inspirasi Merdi.

BACA JUGA: Wajah Baru Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia

Motif-motif khas juga ia presentasikan melalui fotografi. Kemudian, memadukannya dengan berbagai program menarik yang menggabungkan unsur fesyen, teknologi media, seni pertunjukan, seni tradisional, dan wearable art.

Selain itu, Merdi juga menyadari bahwa industri kain tenun di Indonesia perlahan mulai kehilangan perhatian. Beberapa kain yang ia angkat, seperti dari Tanah Karo, merupakan upaya untuk melestarikan kebudayaan yang hampir punah.

“Di Karo, penenun tradisional sudah punah. Jadi, cara saya melestarikan kebudayaan tenun Karo adalah dengan mengangkat ide dasarnya, yaitu teknik celup. Dulu, semua kain ditenun terlebih dahulu, lalu diproses dengan teknik celup untuk pewarnaannya. Karena penenun di sana sudah tidak ada, kain yang mereka gunakan adalah kain jadi. Namun, teknik pewarnaannya tetap menggunakan teknik celup yang sama, seperti dalam tradisi budaya Batak Karo,” ujar Merdi.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/merdi-sihombing-25-tahun-hidupkan-dunia-fesyen-dengan-pewarna-alami/feed/ 0
Chitra Subyakto Selaraskan Fashion dan Kelestarian Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/chitra-subyakto-selaraskan-fashion-dan-kelestarian-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=chitra-subyakto-selaraskan-fashion-dan-kelestarian-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/chitra-subyakto-selaraskan-fashion-dan-kelestarian-lingkungan/#respond Sun, 04 Aug 2024 03:00:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=44320 Mendirikan label tekstil Sejauh Mata Memandang menjadi pilihan Chitra Subyakto untuk membawa keindahan alam dan esensi budaya Indonesia melalui fashion. Label tekstil ini tidak hanya memiliki corak yang indah, tetapi […]]]>

Mendirikan label tekstil Sejauh Mata Memandang menjadi pilihan Chitra Subyakto untuk membawa keindahan alam dan esensi budaya Indonesia melalui fashion. Label tekstil ini tidak hanya memiliki corak yang indah, tetapi kini dikenal sebagai merek yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Chitra memulai mengekspresikan kreativitasnya pada Sejauh Mata Memandang pada tahun 2014. Ia terinspirasi dari para nenek moyang yang sering mengenakan kain.

Melalui Sejauh Mata Memandang, Chitra membuat berbagai pakaian sehari-hari dengan sentuhan motif khas nusantara. Karya-karyanya kini mencerminkan esensi berbagai tradisi Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, Sejauh Mata Memandang menjadi lebih dari sekadar label tekstil. Label tersebut lebih bertanggung jawab dan berkontribusi positif terhadap lingkungan. Komitmen ini Chitra bentuk pada tahun 2018 ketika dirinya menyadari bahaya krisis iklim.

BACA JUGA: Eathink Ajak Konsumen Lebih Bijak Pilih Makanan

“Salah satu yang berkesan itu ada ikan paus yang mati dan itu isinya plastik semua. Dari situ saya menyadari bahwa kita semua belum tahu dan sadar akan isu-isu ini. Saya juga saat itu baru tahu bahwa plastik itu enggak bisa hancur,” kata Chitra kepada Greeners melalui sambungan teleponnya.

Chitra yang merupakan seorang penyayang binatang sangat terharu mendengar kabar tersebut. Dirinya pun terus mencari informasi mengenai isu-isu lingkungan, termasuk plastik dan perubahan iklim. Akhirnya ia semakin terpacu untuk melakukan aksi lingkungan melalui bisnisnya.

Sejauh Menjunjung Tinggi Keindahan dan Kearifan Alam

Sosok perempuan yang berprofesi sebagai perancang busana itu, kini telah membawa Sejauh Mata Memandang menjadi label tekstil yang senantiasa berkreasi dengan menghormati bumi, memuliakan tradisi, dan merawat manusia.

Kini, Sejauh menjadi salah satu label tekstil yang menghadirkan koleksi pakaian seperti kebaya, kain, atasan, outer, rok, dan produk-produk lainnya yang dapat dipakai sehari-hari. Motif itu telah didesain dengan minimalis dipadukan dengan esensi nusantara.

Sejauh memiliki visi untuk menjunjung tinggi keindahan dan kearifan alam. Chitra membawa hubungan mendalam Sejauh dengan lingkungan. Hal itu mendorong mereka untuk melindungi dan melestarikannya untuk generasi mendatang. Visi itu Chitra jalankan bersama Sejauh dengan mengadopsi praktik-praktik yang merangkul dan menghormati esensi alam.

BACA JUGA: Altereco Gerakkan Aksi Pelestarian Lingkungan di Pulau Lombok

Saat ini, Sejauh memiliki lima pilar untuk lebih bertanggung jawab dan harmonis terhadap lingkungan. Di antaranya sirkularitas, transparasi dan ketertelusuran, rantai pasok beretika, memberi kembali, dan aksi iklim.

Berdasarkan laporan oleh Sejauh, sejak September 2021 hingga Mei 2023 sebanyak 5.700 kilogram pakaian terkumpul dalam program daur ulang Sejauh. Lebih dari 2.400 kilogram telah didaur ulang menjadi benang dan bahan insulasi.

Sejauh juga memanfaatkan sisa bahan produksi membuat koleksi pakaian, masker, tas, dan topi dengan menggunakan teknik patchwork. Secara konsisten Sejauh menggunakan bahan baku lebih ramah lingkungan seperti katun organik, rami, linen, dan serat daur ulang, serta pewarna bersertifikat seperti OEKO-TEX STANDARD 100.

Sejauh Mata Memandang. Foto: Instagram/@chitras

Sejauh Mata Memandang. Foto: Instagram/@chitras

Chitra Subyakto Bawa Perubahan dalam Fashion

Di tengah maraknya fast fashion dan limbah pakaian yang terus meningkat, Chitra Subyakto hadir untuk membawa perubahan yang lebih bertanggung jawab pada industri fesyen. Komitmen Chitra terhadap Sejauh ini telah mengubah tren fesyen menjadi lebih berkelanjutan.

Pada bisnisnya ini, ada banyak program yang Chitra buat bersama tim Sejauh untuk mendukung kelestarian lingkungan. Misalnya, daur ulang pakaian, menanam pohon, hingga kampanye isu lingkungan melalui pameran.

Jadi, kami akan pakai perca-perca sisa kain, lalu kami buat menjadi baju, tas, atau benda lain. Kami juga membuat pameran khusus tentang pengolahan sampah. Kami bikin dropbox supaya orang-orang bisa mengumpulkan sampahnya di dropbox itu yang nantinya akan diolah dengan mitra kami,” ungkap Chitra. 

Bagi Chitra, pameran adalah sebuah platform yang bisa menjembatani kominukasi tentang isu-isu lingkungan kepada banyak orang. Misalnya, pameran “Laut Kita” menjadi salah satu pameran pertama yang Sejauh Mata Memandang buat untuk mendorong orang-orang lebih peduli terhadap kelestarian laut.

Pada pameran itu, mereka menampilkan botol-botol plastik, lalu gambar ikan tercekik plastik. Pameran dengan konsep seperti ini akan menjadi pusat perhatian dan membuat para pengunjung menjadi berpikir bahwa kondisi laut di Indonesia sedang terancam.

Melalui pameran, Chitra bisa menyampaikan pesan dengan cara yang lebih menarik dan kreatif. Menurutnya, dengan adanya pameran ini, pengunjung bisa datang untuk melihat, membaca, bahkan bervisualisasi terhadap instalasi maupun gambar-gambar yang mereka lihat.

“Maka dari itu, kami membuat pameran juga membuat cerita yang menarik orang. Supaya mereka bisa membaca informasinya. Mereka pun mendapatkan pesannya sekaligus pemeran ini menjadi pengingat untuk mereka,” kata Chitra.

Selain itu, setiap ada pembelian satu pakaian oleh konsumen, Sejauh akan menanam satu pohon di Kawasan Konservasi Leuser, Aceh Timur. Penanaman ini merupakan kerja sama dengan Yayasan Haka untuk merestorasi hutan.

Gaya Hidup Berubah Menjadi Lebih Baik

Bagi Chitra, berkontribusi untuk melestarikan lingkungan bukanlah suatu pilihan, namun baginya sudah menjadi kewajiban. Menurut Chitra, setiap orang harus berpikir dua kali sebelum mengambil tindakan agar tidak berdampak terhadap lingkungan.

“Terutama bagi suatu bisnis, sudah saatnya membuat produk secara sirkular, bukan lagi linear. Aku selalu bilang, the future is sircular, artinya masa depan kita itu adalah sirkular,” imbuh Chitra.

Setelah mengetahui kondisi bumi mulai kritis, Chitra tak hanya mengubah bisnisnya menjadi lebih sirkular. Namun, gaya hidupnya semakin berubah menjadi lebih ramah lingkungan.​

Misalnya, membawa wadah guna ulang kini sudah menjadi kebutuhan baginya. Ia juga mulai mengurangi membeli makanan sachet ketika mengetahui bahwa kemasan plastik merupakan ancaman terhadap lingkungan.

“Pas aku tahu sachet itu materialnya enggak bisa didaur ulang, aku langsung berhenti untuk membawa camilan kaya permen, cok3lat yang dibungkus sachet. Itu adalah hal sederhana. Terus aku selalu berusaha membawa kantong belanja sendiri, kalau lupa rasanya itu kaya kesel banget,” ucapnya.

Chitra Subyakto berpesan, kini semua orang bisa menjadi bagian dari solusi, bukannya membuat polusi. Ia mengatakan, semua pihak harus bersama-sama berpartisipasi dalam mengatasi krisis iklim sesuai peran masing-masing.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/chitra-subyakto-selaraskan-fashion-dan-kelestarian-lingkungan/feed/ 0
Panji Sakti Ungkap Rasa Senang Menyanyi di Tengah Pepohonan https://www.greeners.co/gaya-hidup/panji-sakti-ungkap-rasa-senang-menyanyi-di-tengah-pepohonan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=panji-sakti-ungkap-rasa-senang-menyanyi-di-tengah-pepohonan https://www.greeners.co/gaya-hidup/panji-sakti-ungkap-rasa-senang-menyanyi-di-tengah-pepohonan/#respond Fri, 08 Mar 2024 05:00:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=43248 Jakarta (Greeners) – Musisi asal Bandung Panji Siswanto atau Panji Sakti baru-baru ini tampil memukau dalam kegiatan Zero Waste Adventure Camp 2024 di Taman Nasional Gunung Merbabu. Panji mengungkapkan rasa […]]]>

Jakarta (Greeners) – Musisi asal Bandung Panji Siswanto atau Panji Sakti baru-baru ini tampil memukau dalam kegiatan Zero Waste Adventure Camp 2024 di Taman Nasional Gunung Merbabu. Panji mengungkapkan rasa senang saat menyanyi di tengah pepohonan.

“Senang bisa mempersembahkan lagu-lagu di acara dengan penonton yang khidmat. Lebih dari senang lagi, karena audiens umumnya remaja. Mungkin lagu saya bukan lagu-lagu harian mereka, tapi apresiasi mereka begitu baik. Saya juga senang karena udaranya bersih dan segar,” kata Panji kepada Greeners, Selasa (5/3).

BACA JUGA: Sudah Saatnya Pencinta Alam Terlibat Bebaskan Alam dari Sampah

Bernyanyi di alam bebas seperti ini bukan kali pertama bagi Panji. Ia juga sering terlihat di acara-acara di kebun maupun pepohonan yang rindang. Panji juga mempunyai arti tersendiri bagi alam bebas. Ia meyakini, saat ini kita sudah seharusnya menghormati dan merawat alam agar manusia dan alam bisa saling memberikan yang terbaik.

“Kita hidup di bumi, makanan-makanan kita adalah yang keluar dari hasil bumi,” ujar Panji.

Selain itu, penerapan gaya hidup ramah lingkungan juga sudah Panji terapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Kini, ia giat untuk memilah sampah, mengelola sampah secara bijak, dan terus menggunakan air secukupnya.

Musisi Panji Sakti tampil memukau dalam kegiatan Zero Waste Adventure Camp 2024. Foto: Amar Kun Kawakibi

Musisi Panji Sakti tampil memukau dalam kegiatan Zero Waste Adventure Camp 2024. Foto: Amar Kun Kawakibi

Panji Senang Membuat Musikalisasi Puisi

Pria berusia 48 tahun ini adalah penulis lirik sekaligus pembuat lagu. Ia juga kerap menggunakan melodi-melodi indah untuk memusikalisasikan puisi. Salah satunya puisi “Kepada Noor” karya Moh. Syarif Hidayat. Puisi tersebut telah Panji rangkai menjadi musikalisasi puisi yang indah dan merdu. Bahkan, lagu tersebut sempat viral di media sosial pada 2023.

“Puisi Kepada Noor saya jadikan musikalisasi puisi karena kalimat puisinya biasa saja, saya suka,” kata Panji.

Kabar Priangan melansir bahwa bakat menulis Panji bermula saat ia bersekolah di SMA Negeri 1 Cimahi dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di Teater Kacang. Mulai dari bangku SMA, ia pun gemar menulis banyak puisi dan memajangnya di dinding kamar tidurnya.

Panji Mulai Bernyanyi Sejak SMA

Sementara itu, Panji mulai bernyanyi di tahun terakhirnya saat SMA. Ia diajak membuat grup vokal akapela bersama teman-temannya. “Perahu Lilin” adalah karya musikalisasi puisi pertama Panji. Pencipta puisi tersebut adalah sahabatnya, Arip Senjaya.

BACA JUGA: MUI Keluarkan Fatwa Perubahan Iklim, Walhi Beri Catatan Penting

Kurangnya dukungan dan fasilitas rekaman saat itu tidak membuat Panji berhenti menulis lagu. Ia tetap rajin menulis lagu meski tak banyak yang ia selesaikan. Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2007, Panji dilirik oleh salah satu label musik di Malaysia. Ia telah menulis beberapa lirik lagu untuk penyanyi yang tergabung di label musik tersebut.

Selain itu, ia merilis album “Panji Sakti” pada tahun 2020. Karier musiknya di Indonesia pun kian melejit. Ia terus berkarya hingga berhasil mengeluarkan album terbarunya, yaitu “Tanpa Aku” pada tahun 2022. Beberapa lagu Panji Sakti di album ini sukses memikat hati banyak orang.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/panji-sakti-ungkap-rasa-senang-menyanyi-di-tengah-pepohonan/feed/ 0
Jerhemy Owen, Kreator Konten Rutin Pungut Sampah di Sungai https://www.greeners.co/gaya-hidup/jerhemy-owen-kreator-konten-rutin-pungut-sampah-di-sungai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jerhemy-owen-kreator-konten-rutin-pungut-sampah-di-sungai https://www.greeners.co/gaya-hidup/jerhemy-owen-kreator-konten-rutin-pungut-sampah-di-sungai/#respond Fri, 18 Aug 2023 04:00:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=41247 Jakarta (Greeners) – Sosok pemuda asal Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan di negeri kincir angin, Jerhemy Owen rutin memungut sampah di sungai. Saat kegiatan pungut sampah di Sungai […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sosok pemuda asal Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan di negeri kincir angin, Jerhemy Owen rutin memungut sampah di sungai. Saat kegiatan pungut sampah di Sungai Ciliwung pekan lalu, Owen tampak semangat saat memungut sampah di sana.

Saat ini, Owen sedang melanjutkan pendidikannya di Belanda, dengan jurusan Environmental Science of Sustainable Energy Technology. Sejak mempelajari ilmu lingkungan, pria berusia 22 tahun ini telah mempraktikan gaya hidup ramah lingkungan di kehidupan sehari-hari.

Tak perlu ribet, Owen menerapkan gaya hidup ramah lingkungan dengan cara yang sederhana. Misalnya memakai listrik secukupnya dan tidak berlebihan, membawa tas belanja, dan tumbler agar bisa mengurangi sampah.

Selain aktif berkegiatan langsung di alam, Owen juga giat membuat konten edukasi tentang lingkungan di media sosial, bahkan dijuluki sebagai “Environment Content Creator.”

Owen juga memanfaatkan media sosial untuk berbagi informasi tentang lingkungan kepada masyarakat luas. Ia rutin membuat konten terkait gaya hidup ramah lingkungan, kegiatan positifnya di luar negeri, dan berbagai aksi penyelamatan lingkungan.

Aku start dari paling simpel sih. Menurut aku setiap orang punya standar simpel masing-masing. Hal-hal seperti itu yang simpel aja sih menurut aku. Sampah juga aku pilah-pilah di rumah, botol yang dipisahin kita langsung kasih ke pemulung,” kata Owen kepada Greeners baru-baru ini. 

Keputusan awal Owen untuk menjadi pembuat konten lingkungan dimotivasi oleh pendidikan yang dia jalani. Ia juga melihat masih banyak permasalahan lingkungan di Indonesia yang perlu diselesaikan melalui tindakan nyata.

Dengan memiliki bekal ilmu lingkungan, Owen tidak segan-segan membagikan banyak informasi soal lingkungan di media sosialnya secara terus menerus. Dengan potensi pengikut yang banyak di media sosial juga dapat membantu banyak orang melakukan sesuatu yang positif bagi lingkungan, tambah Owen.

Dorong Anak Muda dengan Aksi Nyata

Sebagai pemuda yang giat membuat konten tentang lingkungan, Owen kini berhasil memiliki 12 juta pengikut di media sosial Tik Tok. Namun, untuk membentuk sebuah perubahan bersama dalam penyelamatan Indonesia, Owen juga berikan contoh baik kepada pengikutnya dengan melakukan aksi nyata.

Misalnya, kini Owen rutin memungut sampah di sejumlah sungai Indonesia. Perilaku positif inilah yang bisa mendorong pengikutnya khususnya anak muda melakukan aksi positif.

“Dengan aku membagikan konten di media sosial dengan berlaku positif itu udah salah satu hal yang bisa aku lakuin. Sebab, aku juga kuliah ilmu lingkungan di Belanda jadi aku emang menyuarakan info-info tentang lingkungan,” tambah Owen.

Menurutnya, di Indonesia masih banyak anak muda yang bingung memulai langkahnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Ia melanjutkan, melalui konten dengan sederhana inilah bisa membantu mereka ikut peduli.

Beraksi pungut sampah di sungai. Foto: Dini Jembar Wardani

Harapan Owen untuk Indonesia

Dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke -78 Indonesia, Owen menyampaikan harapan untuk Indonesia. Ia menginginkan Indonesia menjadi negara yang jauh lebih baik, terutama rakyatnya harus bisa maju dari segi ekonomi.

“Pasti jauh lebih baik ya, yang terutama rakyatnya maju dari sisi ekonomi, karena kalau misalnya kita ngomongin sustainability kita ngomongin tentang profit, planned sama, people kan. Jadi hal seperti itulah semuanya harus dikembangin bareng-bareng,” kata Owen. 

Sementara itu, dengan Indonesia memiliki target net zero emission pada tahun 2060, upayanya pun perlu dikuatkan. Seperti regulasi dari pemerintah dengan menyelaraskan undang-undang bisa menjadi pijakan untuk melakukan sebuah upaya demi mencapai target tersebut secara signifikan.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : RIK

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/jerhemy-owen-kreator-konten-rutin-pungut-sampah-di-sungai/feed/ 0
Aurelie Moeremans Tolak Plastik Sekali Pakai https://www.greeners.co/gaya-hidup/aurelie-moeremans-tolak-plastik-sekali-pakai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=aurelie-moeremans-tolak-plastik-sekali-pakai https://www.greeners.co/gaya-hidup/aurelie-moeremans-tolak-plastik-sekali-pakai/#respond Mon, 31 Jul 2023 04:31:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=41008 Jakarta (Greeners) – Aktris sekaligus penyanyi asal Indonesia, Aurelie Alida Marie Moeremans nampak di antara banyak peserta aksi Pawai Bebas Plastik 2023. Ikut berjalan dan bersuara lantang, aktris keturunan Belgia […]]]>

Jakarta (Greeners) – Aktris sekaligus penyanyi asal Indonesia, Aurelie Alida Marie Moeremans nampak di antara banyak peserta aksi Pawai Bebas Plastik 2023. Ikut berjalan dan bersuara lantang, aktris keturunan Belgia berusia 29 tahun ini tak canggung membentangkan tulisan menolak plastik sekali pakai.

Saat ini, ia memang semakin giat menyuarakan isu lingkungan di kanal media sosialnya. Bahkan aktif terlibat di berbagai kegiatan aksi lingkungan. Misalnya mengikuti aksi memungut sampah di sungai, aktif melibatkan audiens dalam konten edukasi lingkungannya, hingga turut menyuarakan penolakan plastik sekali pakai.

Beberapa organisasi bidang lingkungan pun kini melibatkan Aurelie untuk membantu menyuarakan isu lingkungan yang lebih luas. Sebab, peran Aurelie yang sekaligus sebagai influencer juga bisa membangun kesadaran lingkungan kepada banyak penggemarnya. Khususnya untuk anak-anak muda.

Ia bercerita saat bersama keluarganya tinggal di Belgia, sistem pengelolaan lingkungan di sana cukup baik. Sehingga, dirinya sekarang telah terdidik menjadi seseorang yang peduli lingkungan. Seperti kebiasaan memilah sampah, bukan sesuatu baru bagi Aurelie. Sejak dini ia telah melakukannya.

“Karena aku dulunya tinggal di Belgia jadi sudah biasa melakukan hal-hal ramah lingkungan. Kaya pemilahan itu sudah dilakukan dari dulu. Terus sekarang pun yang terus aku lakukan ya bawa tas belanja, tumbler, menerapkan hidup minimalis, dan terus mengedukasi audiens tentang lingkungan di media sosial,” kata Aurelie kepada Greeners di kegiatan Pawai Bebas Plastik 2023, Minggu (30/7).

Dampak positifnya, hal-hal itu menjadi kebiasaan yang telah Aurelie bangun. Pemilahan sampah, membawa tas belanja guna ulang, dan membawa botol minum ketika berpergian itu sudah menjadi suatu hal yang secara otomatis Aurelie lakukan.

Tolak Plastik Sekali Pakai

Menariknya saat Pawai Bebas Plastik 2023, ia membawa kardus yang bertuliskan “Jangan Ada Plastik Di Antara Kita” untuk menyuarakan penolakan plastik sekali pakai.

“Hari ini aku ikut Pawai Bebas Plastik karena ingin mengambil peranku sebagai masyarakat Indonesia mengubah perilaku kita tolak sekali pakai harus secara bersama-sama,” ucapnya.

Aurelie pun mengajak masyarakat untuk ikut mendorong pemerintah mengambil langkah tegas dalam menangani sampah plastik dengan lebih baik. Mendukung larangan penggunaan plastik sekali pakai dan memperbaiki sistem tata kelola sampah, juga perlu masyarakat lakukan.

Aktris keturunan Belgia ini sejak dini sudah peduli pada lingkungan. Foto: Greeners/Dini Jembar Wardani

Suarakan Perlindungan Satwa

Selain bakatnya yang terkenal di industri kreatif, ia berkecimpung dalam bidang konservasi. Baru-baru ini Aurelie menggencarkan konservasi satwa bersama salah satu organisasi lingkungan, World Wide Fund for Nature.

Aurelie bisa mengedukasi tentang pentingnya perlindungan satwa dan isu lingkungan lainnya kepada audiens secara luas. Sebab, dirinya memiliki banyak pengikut di media sosial.

Selain itu, sejak pindah ke Indonesia tahun 2008, Aurelie melihat masyarakat sekitar masih tidak peduli terhadap lingkungan. Namun, hal tersebut justru mendorong dirinya untuk terus menyuarakan isu lingkungan agar kesadaran masyarakat akan hal tersebut bisa terbangun.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/aurelie-moeremans-tolak-plastik-sekali-pakai/feed/ 0
Puteri Indonesia 2022 Pilah Sampah Sejak Usia 16 Tahun https://www.greeners.co/gaya-hidup/puteri-indonesia-2022-pilah-sampah-sejak-usia-16-tahun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=puteri-indonesia-2022-pilah-sampah-sejak-usia-16-tahun https://www.greeners.co/gaya-hidup/puteri-indonesia-2022-pilah-sampah-sejak-usia-16-tahun/#respond Thu, 22 Jun 2023 04:35:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=40526 Puteri Indonesia 2022, Laksmi Shari DeNeefe Suardana mempraktikkan gaya hidup berkelanjutan sejak umur 16 tahun, salah satunya dengan memilah sampah. Wanita asal Bali ini juga aktif dalam kegiatan peduli lingkungan. […]]]>

Puteri Indonesia 2022, Laksmi Shari DeNeefe Suardana mempraktikkan gaya hidup berkelanjutan sejak umur 16 tahun, salah satunya dengan memilah sampah. Wanita asal Bali ini juga aktif dalam kegiatan peduli lingkungan. Kini ia pun konsisten menyerukan isu perubahan iklim kepada anak muda.

Sebelum tinggal di Bali, gaya hidup ramah lingkungan ia lakukan sebagai bagian dari kepatuhan Laksmi terhadap peraturan pemerintah yang ketat terkait lingkungan di Australia, negara asal ibundanya.

“Karena tinggal di Australia yang memang aturan dari pemerintah itu sangat ketat tentang recycling, jadi umur 16 tahun sudah sering memilah sampah,” katanya saat Greeners temui usai acara di kawasan Cikini, Jakarta, Rabu (21/6).

Perempuan kelahiran tahun 1996 ini menuturkan, dengan memisahkan sampah organik dan anorganik memudahkan proses recycling. Sampah organik yang menjadi kompos bisa digunakan sebagai pupuk.

Tidak hanya memilah sampah, Laksmi pun menerapkan prinsip reuse, reduce, recycle (3R). Dirinya selalu berupaya mengikuti prinsip 3R. Cara ini sangat efektif untuk mempertahankan gaya hidup ramah lingkungan saat ini.

Tidak Gunakan Plastik saat Belanja

Laksmi mengungkapkan, reduce merupakan salah satu cara mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah. Berawal dari prinsip ini, ia tidak lagi menggunakan kantong plastik saat berbelanja di supermarket.

“Jadi kalau saya beli buah di supermarket itu pasti enggak pakai plastik. Walaupun orang lain lihat aneh, kotor tidak higienis, saya tidak peduli,” ungkap Laksmi.

Kini ia juga memiliki keinginan untuk terus mengajak anak muda concern pada kehidupan yang berkelanjutan. Laksmi berharap, gaya hidup yang ramah lingkungan tak sekadar untuk aktivitas sehari-hari.

Gagasan ini perlu meluas, salah satunya mencari peluang bisnis agar konsep sustainable berdampak baik bagi perekonomian.

Puteri Indonesia 2022 Ini Ingin Terus Mengedukasi

Laksmi percaya edukasi atau pendidikan adalah salah satu kunci perubahan lingkungan yang lebih baik. Usai mahkotanya pindah kepada Puteri Indonesia 2023, Laksmi kini fokus mengedukasi pola hidup berkelanjutan.

“Mulai dari sekarang yang saya lakukan akan fokus ke dalam sustainability. Mulai dari fashion hingga business. Apapun yang saya lakukan harus bergerak kepada sustainability,” tegas Laksmi.

Gaya hidup ramah lingkungan saat ini merupakan investasi di masa depan. Ia percaya jika konsep keberlanjutan tidak kita mulai dari sekarang, akan berdampak buruk bagi kehidupan di Bumi.

Sebagai Puteri Indonesia 2022 ia memiliki tanggung jawab untuk mengadvokasi, edukasi dan literasi. Laksmi berkomitmen akan terus mengedukasi tentang isu lingkungan salah satunya yaitu perubahan iklim. Masalah ini harus segera diatasi bersama demi selamatkan Bumi.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/puteri-indonesia-2022-pilah-sampah-sejak-usia-16-tahun/feed/ 0
Bumi Macakal, Ruang Tanti dan Irman Jalani Sustainable Living https://www.greeners.co/gaya-hidup/bumi-macakal-ruang-tanti-dan-irman-jalani-sustainable-living/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bumi-macakal-ruang-tanti-dan-irman-jalani-sustainable-living https://www.greeners.co/gaya-hidup/bumi-macakal-ruang-tanti-dan-irman-jalani-sustainable-living/#respond Sun, 19 Mar 2023 04:00:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=39355 Banyak orang lebih memilih hidup yang serba praktis dan instan karena tuntutan zaman. Namun, beberapa orang lebih menarik diri dari ritme yang cepat, tapi tetap produktif dan sustainable living atau […]]]>

Banyak orang lebih memilih hidup yang serba praktis dan instan karena tuntutan zaman. Namun, beberapa orang lebih menarik diri dari ritme yang cepat, tapi tetap produktif dan sustainable living atau ramah lingkungan. Salah satunya dilakukan oleh pasangan pemilik Bumi Macakal, Tanti dan Irman Yudiana.

Awalnya, pasangan ini menyukai kehidupan praktis. Keduanya merupakan karyawan tapi setelah anak kedua mereka lahir akhirnya Tanti memutuskan untuk membuat usaha newsletter untuk sektor transportasi.

Berawal usahanya ini, ia justru kerap terpapar dengan berbagai permasalahan kompleks terkait isu lingkungan, mulai dari polusi hingga sampah.

“Kekhawatiran dan kesadaran ini mulai tumbuh hingga merembet ke isu lain seperti soal makanan sehat tak mengandung bahan kimia, pengelolaan energi, air sekompleks itu,” katanya saat Greeners temui di kediamannya baru-baru ini.

Demikian pula dengan suaminya, Irman. Pria ini memberanikan diri untuk memutuskan pensiun dini di salah satu perusahaan swasta di bidang migas. Ia menyebut, aspek lingkungan menjadi hal paling diperhatikan dalam pekerjaannya.

“Kebiasaan di kantor seperti memilah sampah, mengelola air ini akhirnya menjadi kultur karyawannya sendiri dan akhirnya menyadarkan saya bahwa kita bisa berkontribusi lebih besar terhadap lingkungan,” ucap lelaki berkacamata ini.

Irman juga menyebut, tantangan terbesar permasalahan lingkungan terletak pada kesadaran lingkungan. Oleh karena itu, dengan adanya Bumi Macakal, ia berharap dapat mendekatkan rumah ramah lingkungan yang ideal pada masyarakat.

“Ada saat di mana kita ingin lebih berkontribusi buat masyarakat umum. Dalam hal ini masalah lingkungan tantangannya terbesarnya adalah rendahnya kesadaran masyarakat,” tutur Irman.

Awal Mula Bumi Macakal

Dari semua alasan itu, pasangan ini kemudian mewujudkan rumah impian Bumi Macakal pada tahun 2018. Bumi Macakal mereka desain khusus menjadi naungan rumah ramah lingkungan secara kompleks. Mulai dari pangan, air, listrik, energi hingga pengelolaan sampahnya.

Rumah di atas tanah seluas 660 m2 ini terlihat sangat sejuk kaya akan berbagai jenis tanaman. Menariknya, tanaman-tanaman ini tak hanya untuk hiasan, tapi juga bermanfaat.

“Mulai yang bermanfaat sebagai pembersih udara seperti lidah mertua. Lalu ada tanaman bunga pukul 4 yang juga sebenarnya bisa kita makan, hingga tanaman obat yang bisa kita manfaatkan seperti kunyit hingga sereh,” papar Tanti.

Menariknya, untuk meminimalisir penggunaan airnya, tanaman-tanaman ini disiram dengan memanfaatkan air kolam yang ada di sekitarnya. Itu artinya tak ada air yang terbuang. “Ya meski baunya sedikit lebih amis. Tapi tidak apa-apa,” ujar perempuan berhijab ini.

Adapun air kolam ini berasal dari sistem irigasi tetes dengan memanfaatkan penampungan air hujan dalam toren air.

Toren air ini mereka manfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kebutuhan mandi, mencuci, hingga mereka minum. Tanti menyebut, air hujan yang mengalir disaring menggunakan filter sehingga dijamin kebersihannya.

“Air hujan yang tidak boleh diminum itu 15 menit pertama, itu kita atur sedemikian rupa melalui pipa-pipa,” kata dia.

Pasutri ini terapkan gaya hidup ramah lingkungan di segala aspek. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Pengelolaan Sampah di Bumi Macakal

Tak hanya itu, pasutri ini pun bijak mengelola sampahnya. Bumi Macakal mengelola sampah sachet menjadi bantalan hingga ecobrick agar sampah-sampah sachetnya tak mencemari TPA. Khusus sampah anorganiknya mereka berikan pada pemulung atau bank sampah terdekat.

Untuk sampah organiknya, yakni berupa sisa makan mereka jadikan makanan ayam hingga maggot di belakang rumah. “Kita bahkan kerap kekurangan sampah organik di rumah,” kata Tanti diselingi tawa.

Kemandirian Energi untuk Sustainable Living

Untuk energi listrik, Bumi Macakal memanfaatkan instalasi panel surya. “Sebenarnya ini belum semua mencukupi kebutuhan kita. Tapi yang penting kita berusaha memanfaatkan energi terbarukan,” kata Irman.

Bumi Macakal turut menggunakan energi dari sinar matahari sebagai solar oven-nya. Saat keadaan kemarau, solar oven mampu memanggang sale pisang dalam waktu satu hingga dua hari.

Tak hanya sebagai rumah mereka berdua, Bumi Macakal juga kerap kali mengadakan workshop hingga house tour untuk masyarakat dan anak-anak sekolah. “Ini menjadi salah satu target kami agar selalu bermanfaat bagi masyarakat secara luas,” tandas Irman.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bumi-macakal-ruang-tanti-dan-irman-jalani-sustainable-living/feed/ 0
Nadia Mulya, Lakukan Guna Ulang Hingga Dijuluki “Wanita Gembolan” https://www.greeners.co/gaya-hidup/nadia-mulya-lakukan-guna-ulang-hingga-dijuluki-wanita-gembolan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nadia-mulya-lakukan-guna-ulang-hingga-dijuluki-wanita-gembolan https://www.greeners.co/gaya-hidup/nadia-mulya-lakukan-guna-ulang-hingga-dijuluki-wanita-gembolan/#respond Thu, 02 Mar 2023 04:00:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=39146 Dekat dengan isu lingkungan, Presenter Nadia Mulya mengaku kebiasaan menggunakan produk-produk guna ulang telah mengakar di dalam keluarganya. Nadia menularkan kepeduliaannya untuk mengurangi produk plastik sekali pakai.  “Turun temurun dari […]]]>

Dekat dengan isu lingkungan, Presenter Nadia Mulya mengaku kebiasaan menggunakan produk-produk guna ulang telah mengakar di dalam keluarganya. Nadia menularkan kepeduliaannya untuk mengurangi produk plastik sekali pakai

“Turun temurun dari orang tua saya selalu mengajarkan dari konsep-konsep seperti jangan beli karena ingin tapi beli karena butuh,” katanya kepada Greeners usai acara di Jakarta baru-baru ini.

Gaya hidup guna ulang merupakan gaya hidup yang menekankan prinsip pakai-habiskan kembalikan. Misalnya, penggunaan tumbler hingga galon pakai ulang.

Perempuan berusia 43 tahun ini menyebut, kebiasaannya memakai produk guna ulang ia lakukan saat masih tinggal di luar negeri.

Ia bersama ibunya membawa tas geret untuk belanja. Mereka juga terbiasa menghabiskan apapun yang dibeli. “Jadi apapun yang kita konsumsi maka kita habiskan,” imbuhnya.

Bahkan teman-teman kuliahnya kala itu menyebutnya “wanita gembolan”. Sebab, ia selalu menenteng tas yang berisi berbagai produk guna ulang seperti tumbler, eat cutlery dan sedotan guna ulang.

Nadia Mulya Tularkan ke Buah Hati

Kebiasaan kecilnya yang sederhana inilah, kini ia tularkan juga pada anak-anaknya. “Meski aku juga sering dijuluki ribet tapi kalau sudah terbiasa maka ya mau bagaimana lagi kan,” tuturnya.

Bahkan, Nadia juga menerapkan gaya hidup guna ulang ke berbagai hal, termasuk laundry pakaian. Kerap kali laundry pakaian memanfaatkan plastik sebagai pembungkusnya. Nadia bahkan mencari laundry khusus yang tak menggunakan plastik pembungkus.

“Jadi laundry itu dalam hari-hari tertentu ke kompleks dan langsung ambil banyak pakaian tanpa plastik juga saat mengembalikan,” paparnya.

Dengan cara tersebut, Nadia Mulya sudah berkontribusi mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat laundry pakaian.

Nadia juga bersyukur, saat ini di Jakarta sudah banyak vendor produk rumah tangga yang mendukung gaya hidup guna ulang.

Alhasil, masyarakat yang ingin memulai gaya hidup ini terbantu dengan keberadaan para vendor tersebut. “Sudah banyak vendor yang menjual produk sehari-hari keperluan rumah tangga, seperti minyak goreng, bumbu dapur, detergen, hingga sabun cuci piring dengan kemasan guna ulang,” paparnya.

Biasanya ia membeli produk tersebut baik melalui toko online maupun dijemput gratis setelah produk habis terpakai.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/nadia-mulya-lakukan-guna-ulang-hingga-dijuluki-wanita-gembolan/feed/ 0
Adinia Wirasti, Pemain AADC Pilah Sampah Demi Jaga Bumi https://www.greeners.co/gaya-hidup/adinia-wirasti-pilah-sampah-demi-menjaga-bumi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=adinia-wirasti-pilah-sampah-demi-menjaga-bumi https://www.greeners.co/gaya-hidup/adinia-wirasti-pilah-sampah-demi-menjaga-bumi/#respond Wed, 01 Mar 2023 04:00:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=39147 Artis Adinia Wirasti memiliki concern yang besar terhadap masalah sampah. Ia percaya bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil seperti memilah sampah dapat berkontribusi dalam menjaga bumi. Perempuan kelahiran 19 Januari 1987 ini rupanya […]]]>

Artis Adinia Wirasti memiliki concern yang besar terhadap masalah sampah. Ia percaya bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil seperti memilah sampah dapat berkontribusi dalam menjaga bumi.

Perempuan kelahiran 19 Januari 1987 ini rupanya telah membiasakan memilah sampah di rumah. Ia biasa memilah sampah agar tak menimbulkan bau.

“Kalau aku pribadi, I can’t say for other houses ya. Cuma kalau rumahku pribadi yang jelas jauh lebih tidak bau gitu rumahnya karena sampahnya tidak campur,” katanya baru-baru ini, saat Greeners temui usai acara di kawasan Sarinah.

Bahkan, salah satu pemain Ada Apa dengan Cinta (AADC) ini tak membuang langsung sampah anorganik seperti sampah plastik. Tapi ia cuci terlebih dahulu.

“Jadi kalau plastik itu tidak langsung dibuang tapi paling tidak di dalamnya dikeluarkan dulu karena ada food waste yang harus kita pisah,” ujar dia.

Konsep Pilah Sampah ala Adinia Wirasti

Meski terkesan ribet, tapi pemeran Mendua telah terbiasa dengan hal ini. Bahkan, kebiasaannya ini telah berlangsung sejak tahun 2017 lalu. Pada kesempatan itu, Adinia membagikan momen awal kesulitannya dalam memilah sampah.

“Dua tahun pertama sakit kepala sih, kayak bingung begitu,” imbuhnya.

Namun adik dari Sara Wijayanto ini tetap berusaha memilah sampah sebagai wujud tanggung jawab memberikan hal-hal baik yang berdampak untuk kehidupan bumi.

Kini, ia telah memilah sampah menjadi lima bagian, seperti plastik, kardus, kertas, residu, hingga sisa makanan.

Adinia Wirasti bahkan menyiapkan lima bak sampah khusus, seperti bak sampah untuk sampah non organik khusus untuk plastik, lalu sampah organik berupa sisa makanan dan daun kering. Kemudian juga sampah kertas, sampah B3 (baterai, botol spray).

Ia berharap kebiasaan kecilnya ini juga mendorong para generasi muda untuk memilah sampah.

“Kerasa rumah enggak ada bau aneh karena terpisah semua. It’s a legacy yang nantinya akan dipindahin ke anak cucu,” tandasnya.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/adinia-wirasti-pilah-sampah-demi-menjaga-bumi/feed/ 0
Peduli Lingkungan, Luna Maya Terjun Kelola Sampah https://www.greeners.co/gaya-hidup/peduli-lingkungan-luna-maya-terjun-kelola-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peduli-lingkungan-luna-maya-terjun-kelola-sampah https://www.greeners.co/gaya-hidup/peduli-lingkungan-luna-maya-terjun-kelola-sampah/#respond Sun, 12 Feb 2023 04:00:15 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=38945 Jakarta (Greeners) – Aktris cantik sekaligus pengusaha Ibukota, Luna Maya kini resmi menjadi bagian dari perjalanan Waste4Change Indonesia. Luna secara langsung mengumumkan partisipasinya dalam pengelolaan sampah melalui kerja samanya dengan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Aktris cantik sekaligus pengusaha Ibukota, Luna Maya kini resmi menjadi bagian dari perjalanan Waste4Change Indonesia. Luna secara langsung mengumumkan partisipasinya dalam pengelolaan sampah melalui kerja samanya dengan Waste4Change, baru-baru ini.

Kerja sama ini berupa bentuk pendanaan atau investasi yang harapannya dapat menciptakan sinergi antar kedua belah pihak. Salah satunya mendorong penanganan sampah yang lebih optimal dan bertanggung jawab di Indonesia.

Memiliki kesadaran akan kelestarian lingkungan, Luna berusaha dapat memilah sampah dari sumbernya. Bahkan sebelum resmi bergabung dan menjadi investor, ia merupakan pelanggan tetap dari layanan pengelolaan sampah Waste4Change.

Layanan ini menawarkan jasa angkut sampah langsung dari rumah. Program ini memastikan sampah dapat terpilah dan diproses secara bertanggung jawab agar dapat mengurangi jumlah sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA).

“Isu permasalahan sampah adalah urusan bersama, termasuk kita sebagai masyarakat biasa. Saya juga ingin tumbuh dan tua di tempat yang nyaman. Maka dari itu saya ingin ikut mendukung terciptanya ekosistem pengelolaan sampah yang lebih baik dan lebih sehat di Indonesia,” kata Luna.

Luna Maya saat kunjungi lokasi pengelolaan sampah. Foto: Waste4Change

Luna Maya: Pengelolaan Sampah Saat ini Belum Optimal

Luna mengungkapkan, keterlibatannya menjadi investor Waste4Change tidak terlepas dari kegelisahannya terhadap sistem pengelolaan sampah saat ini. Ia menilai, pengelolaan sampah belum optimal dan masih terdapat sampah yang terbuang dengan tidak tepat bahkan mengkontaminasi rantai makanan yang kita konsumsi.

Hal ini juga tercermin berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2021 lalu. Data ini menunjukkan bahwa tingkat daur ulang di Indonesia hanya mencapai tingkat 11 – 12 % saja.

“Sebagai salah satu pelanggan layanan Waste4Change, saya harap keterlibatan saya di Waste4Change dapat mendorong terwujudnya sistem yang lebih baik. Tidak hanya untuk kami semua tetapi juga bagi alam Indonesia,” ujarnya.

CEO Waste4Change, Mohamad Bijaksana Junerosano mengatakan, bergabungnya Luna Maya dengan Waste4Change akan mendorong pertumbuhan layanan di beberapa sektor. Seperti kerja sama terkait pengelolaan sampah dengan berbagai developer. Baik perumahan, properti, kawasan komersial, serta pengelola pariwisata.

“Bergabungnya Luna Maya dengan kami dapat memberikan contoh yang besar dan luas kepada masyarakat. Terutama tentang pentingnya pemilahan sampah dan terwujudnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” ucapnya.

Penulis: Zahra Shafira

Editor : Ari Rikin 

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/peduli-lingkungan-luna-maya-terjun-kelola-sampah/feed/ 0
Gaya Hidup Ramah Lingkungan Ala Emma Watson https://www.greeners.co/gaya-hidup/gaya-hidup-ramah-lingkungan-ala-emma-watson/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gaya-hidup-ramah-lingkungan-ala-emma-watson https://www.greeners.co/gaya-hidup/gaya-hidup-ramah-lingkungan-ala-emma-watson/#respond Sun, 29 Jan 2023 04:00:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=38770 Bagi Sobat Greeners penikmat film Harry Potter pasti sudah tidak asing dengan salah satu pemeran utamanya yakni Emma Charlotte Duerre Watson. Mengawali karir sejak berusia sembilan tahun, kini Emma banyak […]]]>

Bagi Sobat Greeners penikmat film Harry Potter pasti sudah tidak asing dengan salah satu pemeran utamanya yakni Emma Charlotte Duerre Watson. Mengawali karir sejak berusia sembilan tahun, kini Emma banyak membintangi berbagai judul layar lebar dan sukses menjadi aktris ternama dunia.

Tidak hanya meniti karir yang cemerlang, Emma ternyata cukup aktif dalam bidang sosial dan lingkungan Sobat Greeners. Ia terkenal sebagai duta PBB, aktivis perempuan, praktisi gaya hidup ramah lingkungan hingga fesyen berkelanjutan. Perempuan kelahiran Inggris ini seringkali terlihat menggunakan pakaian daur ulang pada acara-acara besar yang ia hadiri.

Menurut Emma, untuk memulai gaya hidup lebih sehat dan ramah lingkungan, Sobat Greeners bisa memulainya dengan membuat sebuah rutinitas sederhana. Emma sendiri juga memiliki rutinitas-rutinitas sederhana yang membuatnya tetap konsisten dalam gaya hidup sehat dan ramah lingkungan. Yuk kita simak!

1. Jadikan Perawatan Diri Sebagai Prioritas

Sebagai public figure, Emma tentu memiliki jadwal yang sibuk dan padat. Maka dari itu, ketika memiliki waktu luang ia akan melakukan perawatan tubuh atau self pampering. Seperti membersihkan diri (creambath, lulur atau relaksasi), berolahraga, hingga melakukan meditasi.

2. Mencari Tahu Hal Baru

Memiliki minat yang sama dengan karakter Hermione Granger di Harry Potter, Emma Watson ternyata memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan gemar membaca buku. Sobat Greeners pasti dapat melihat kebiasaan ini dalam media sosial pribadi Emma, ia kerap membagikan kegiatannya sedang membaca buku di Instagram.

3. Kenali Apa yang Kamu Gunakan

Sebagai salah satu aktivis dalam mode berkelanjutan, Emma sering mengingatkan pentingnya menggunakan kain dan bahan yang bersumber secara lokal dan organik dalam pakaian.

Pada beberapa waktu, Emma juga sering menggunakan pakaian lamanya ataupun pakaian daur ulang. Salah satunya pada penampilannya ketika sedang mempromosikan film Beauty and the Beast.

“Ini bukan hanya tentang apa yang kamu beli, tapi tentang kegunaan dan berapa kali kamu akan memakai pakaian tersebut? Pertanyaan itu yang akan membuat sesuatu menjadi etis dan berkelanjutan,” papar Emma.

4. Menggunakan Produk Alami

Untuk mencapai hidup lebih sehat dan ramah lingkungan, Emma juga berusaha untuk selalu menggunakan produk alami dalam rutinitasnya. Salah satunya produk perawatan kulit dan make up.

“Sebagian besar barang yang saya beli, saya usahakan sebisa mungkin untuk bebas bahan kimia. Tetapi ada beberapa hal yang belum bisa kamu temukan, seperti maskara alami yang tahan air. Saat ini saya masih berusaha untuk menggantinya dengan produk mengandung bahan alami,” jelasnya.

Penulis: Zahra Shafira

Editor : Ari Rikin

Sumber:

Well and Good

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/gaya-hidup-ramah-lingkungan-ala-emma-watson/feed/ 0
Miss Universe 2022 Suarakan Pentingnya Fesyen Berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/miss-universe-2022-suarakan-pentingnya-fesyen-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=miss-universe-2022-suarakan-pentingnya-fesyen-berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/miss-universe-2022-suarakan-pentingnya-fesyen-berkelanjutan/#respond Mon, 16 Jan 2023 04:32:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=38629 Perhelatan kontes kecantikan tahunan yakni Miss Universe 2022 telah resmi digelar pada Sabtu, 14 Januari 2023, di New Orleans, Amerika Serikat. Pada acara tersebut gelar Miss Universe 2022 resmi jatuh […]]]>

Perhelatan kontes kecantikan tahunan yakni Miss Universe 2022 telah resmi digelar pada Sabtu, 14 Januari 2023, di New Orleans, Amerika Serikat. Pada acara tersebut gelar Miss Universe 2022 resmi jatuh kepada Miss USA, R’Bonney Gabriel.

Kemenangan Gabriel ini menjadi momentum baru bagi Amerika Serikat semenjak kemenangan Olivia Culpo pada tahun 2012 lalu. Menariknya, Gabriel merupakan orang Filipina – Amerika pertama yang memenangkan ajang bergengsi ini dan mengalahkan 83 kontestan lainnya.

Tidak sekadar cantik dan pintar, perempuan yang lahir pada 20 Maret 1994 di Texas ini juga seorang penggerak dalam fesyen berkelanjutan. Gabriel memiliki latar belakang pendidikan dalam bidang fesyen dan minor dalam bidang kain dari University of North Texas. Ia adalah seorang model dan perancang busana berkelanjutan untuk pakaian ramah lingkungan.

Selain itu, Gabriel merupakan CEO dari lini pakaian berkelanjutan yang ia ciptakan sendiri yakni R’Bonney Nola.

“Mimpi saya adalah memiliki merek fesyen besar yang berfokus pada keberlanjutan. Serta menjadi suara terdepan dalam industri yang mendorong praktik lebih ramah lingkungan,” jelas Gabriel.

Keahlian merancang busana berkelanjutan juga ia tampilkan pada rangkaian acara Miss Universe 2022. Pada kesempatannya, Gabriel beberapa kali merancang gaun kedatangan dan gaun wawancaranya sendiri. Selain ramah lingkungan, Gabriel juga menggabungkan dua budaya Filipina dan Texas yang ia terapkan pada desain gaunnya tersebut.

Selain itu, Miss Universe 2022 ini aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Foto: IG@rbonneynola

Aktif Dalam Beberapa Kegiatan Sosial

Tidak hanya itu, Gabriel juga beberapa kali bergabung dengan kegiatan-kegiatan sosial. Seperti membuka kelas menjahit bagi perempuan penyintas perdagangan manusia dan pada anak-anak sekolah. Pada kegiatan tersebut ia juga memberikan materi fesyen di sekolah-sekolah.

“Saya sangat menyukai desain, jadi saya memberikan kelas pendidikan fesyen kepada anak-anak, karena saya percaya pendidikan dapat memberikan kesempatan yang lebih baik bagi setiap orang,” katanya.

Dalam sesi tanya jawab pada tahap terakhir untuk tiga finalis teratas. Gabriel mengatakan hal-hal apa saja yang ia akan kerjakan ketika menjadi Miss Universe 2022. Salah satu jawabannya adalah kegiatan organisasi yang memberdayakan dan progresif.

“Saya akan terus mengadvokasi tentang fesyen berkelanjutan, dan juga bekerja dengan Smile Train yakni organisasi yang berfokus pada bibir sumbing terbesar di dunia, dan Best Bodies,” ucapnya.

Selama tiga tahun terakhir, Gabriel juga bekerja di rumah desain Magpies & Peacocks yang juga menggunakan bahan-bahan bekas daur ulang pada perjalanannya.

Penulis: Zahra Shafira

Sumber :

GMA Network

Washington Post

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/miss-universe-2022-suarakan-pentingnya-fesyen-berkelanjutan/feed/ 0
Melanie Putria : Berlari, Pungut Sampah Kampanyekan Isu Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/melanie-putria-berlari-pungut-sampah-kampanyekan-isu-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=melanie-putria-berlari-pungut-sampah-kampanyekan-isu-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/melanie-putria-berlari-pungut-sampah-kampanyekan-isu-lingkungan/#respond Fri, 30 Sep 2022 05:15:15 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=37494 Jakarta (Greeners) – Puteri Indonesia tahun 2002 Melanie Putria kini aktif berlari. Bahkan ia punya kebiasaan unik saat berlari. Memungut sampah yang ada di sekitarnya. Kebiasaan ini ia jalankan secara […]]]>

Jakarta (Greeners) – Puteri Indonesia tahun 2002 Melanie Putria kini aktif berlari. Bahkan ia punya kebiasaan unik saat berlari. Memungut sampah yang ada di sekitarnya. Kebiasaan ini ia jalankan secara konsisten dimana pun ia berlari. Lewat aktivitasnya ini, ia ingin menebarkan kesadaran menjaga dan melestarikan lingkungan.

Melanie Putria yang juga fitness influencer ini mengatakan, minimnya kesadaran masyarakat terhadap kerusakan lingkungan akan berdampak buruk pada keberlanjutan generasi mendatang.

“Mungkin efek dari kerusakan lingkungan tidak sekarang, tidak hari ini. Tapi mungkin nanti saat anak cucu kita sudah besar, mereka akan terdampak. Ini yang kurang banyak dipahami, bagaimana kita harus tahu dampak buruknya ke kita,” katanya saat Greeners temui di Jakarta baru-baru ini.

Tak hanya menyehatkan baginya, olahraga lari merupakan salah satu olahraga murah meriah sehingga sangat cocok untuk mengkampanyekan isu-isu lingkungan. Terutama jika aktivitas lari di outdoor sehingga mudah terhubung dengan alam.

Berlari Sebarkan Kebaikan pada Lingkungan

Perempuan kelahiran Jakarta, 17 April 1982 ini menilai, olahraga lari juga sangat efisien menyebarkan kebaikan lingkungan mengingat anggota-anggota yang tergabung dalam komunitas lari telah memiliki kesadaran yang masif tentang isu lingkungan.

“Karena pelari punya pendekatan kekeluargaan, jadi kalau temannya lari buat charity mereka akan mendukung karena kuatnya komunitas. Jadi kalau dikolaborasikan antara lari dan isu lingkungan ini kawin banget karena pasti sangat berdekatan dengan pelari di alam terbuka,” paparnya.

Ia mengungkapkan, saat berlari di area car free day di tengah kota atau pantai, sering ia temukan banyaknya sampah plastik. “Saya punya kebiasaan, saat berlari biasanya juga sambil memunguti sampah sampai tas saya penuh. Bagi saya, masalah lingkungan adalah masalah kita bersama, mengenai masa depan kita,” imbuhnya.

Enam kali ikut maraton internasional, Melanie Putria sudah mulai rutin berlari sejak tahun 2011. Baginya berlari bukan sekadar aktivitas fisik, tapi juga membangun mental dan kebahagiaan. Bahkan Melanie pernah berlari dengan jarak tempuh paling jauh yaitu 42,195 kilometer (km).

Jika mendekati event lari maraton, ia mempunyai kebiasaan lari minimal 10 km (lima hingga enam kali seminggu). Namun untuk menjaga kebugaran, ia berlari dua hingga tiga kali seminggu sejauh lima hingga 10 km.

Selain berlari, Melanie pun ikut mendukung gerakan konservasi ekosistem laut. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Melanie Putria Terlibat Dalam Misi Lestari Ekosistem Laut

Kepedulian menjaga lingkungan dengan olahraga lari inilah yang membuat Melanie Putri tertarik untuk terlibat dalam kegiatan yang akan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) gelar lewat kegiatan Misi Lestari melalui olahraga lari.

Kegiatan Misi Lestari mengusung konsep empat pilar, yaitu environment, educate, engage, dan entertain. Hal ini menjadi salah satu cara YKAN mengajak masyarakat luas terlibat dalam upaya konservasi ekosistem laut.

Tahun ini, dengan mengangkat tema #MissionOfTheOcean (MOTO), YKAN mengajak masyarakat untuk peduli laut dan menjaga kelestarian keanekaragaman biota laut Indonesia.

“Saya senang dengan adanya kegiatan ini, selain olahraga kita juga akan disuguhi dengan keindahan alam dan kawasan konservasi alam di Pulau Bali,” ucap Melanie.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/melanie-putria-berlari-pungut-sampah-kampanyekan-isu-lingkungan/feed/ 0
Denny Frust, Kampanye Lingkungan Dalam Irama Musik Kebaikan https://www.greeners.co/gaya-hidup/denny-frust-kampanye-lingkungan-dalam-irama-musik-kebaikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=denny-frust-kampanye-lingkungan-dalam-irama-musik-kebaikan https://www.greeners.co/gaya-hidup/denny-frust-kampanye-lingkungan-dalam-irama-musik-kebaikan/#respond Sun, 26 Sep 2021 04:34:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=33839 Jakarta (Greeners) – Musisi Indonesia, Denny Frust memiliki cara yang sederhana untuk menemukan inspirasi nya dalam berkarya dan bermusik. Untuk menciptakan karya, ia fokus terhadap apa yang berada di sekelilingnya, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Musisi Indonesia, Denny Frust memiliki cara yang sederhana untuk menemukan inspirasi nya dalam berkarya dan bermusik. Untuk menciptakan karya, ia fokus terhadap apa yang berada di sekelilingnya, baik keluarga, maupun teman-teman.

Seringkali, ia juga mengambil beberapa pelajaran dari kehidupannya, yang turut ia tuangkan dalam sebuah lagu. Denny juga menjelaskan, sebagian besar lagu yang ia ciptakan mengandung energi positif agar dapat diresapi dengan baik oleh pendengar.

“Kalau aku fokusnya lebih ke memotivasi atau menguatkan untuk banyak orang sih konsennya. Karena aku juga butuh energi itu, jadi kalau aku nulis ya pasti seperti itu tentang sesuatu yang memang memotivasi, karena nanti begitu mereka termotivasi aku juga menyerap energi positif dari mereka,” jelasnya pada saat Greeners wawancara, Kamis (09/09/2021).

Selain itu, ia juga menunjukkan rasa kepeduliannya terhadap lingkungan. Denny Frust beberapa kali bergabung dengan gerakan-gerakan sosial, budaya, dan lingkungan. Salah satunya adalah, melakukan konser amal untuk menghasilkan tong sampah yang tersebar di sepanjang pantai Sanur.

Edukasi Peduli Lingkungan dimulai dari Keluarga

Denny bercerita, sejak kecil ia sudah belajar untuk menghargai dan peduli terhadap lingkungan dari kedua orang tuanya. Edukasi tersebut juga ia tularkan kepada anak-anaknya.

Ia menyebut, semua proses edukasi seharusnya berawal dari rumah atau keluarga. Agar, sejak usia dini anak mulai terbiasa untuk melakukan hal-hal kecil seperti buang sampah pada tempatnya, dan menghargai lingkungan. Harapnya, hal tersebut akan terus terbawa hingga dewasa.

“Karena semuanya berawal dari keluarga, even kalau kita makan di fast food restaurant ya itu yang aku ajarin ke anak-anak adalah begitu kita selesai makan, nggak kita tinggalin tapi kita buang di tempat sampah dulu baru taro tempat yang sudah disediakan, dari hal-hal kecil seperti itu kita bisa tau bahwa kita sayang sama lingkungan,” ucapnya.

Denny Frust dalam Kampanye Bike to Work Indonesia

Tidak hanya dalam mendidik anak dan ikut serta dalam kampanye lingkungan. Rasa cinta lingkungannya juga ia tunjukkan dalam perannya menjadi Bike to Work Indonesia Ambassador. B2W merupakan sebuah pergerakan sipil yang mengedepankan kegiatan bersepeda untuk mengurangi polusi di Ibukota. Tidak hanya itu, mereka juga turut mengkampanyekan beberapa gerakan sosial, pilar advokasi dan edukasi.

Denny menyampaikan, alasan ia menjalin kerjasama dan bersinergi dengan pergerakan tersebut adalah visi-misi yang sejalan. Juga, dapat menjadi wadah untuk dapat menyebarkan awareness mengenai kegiatan bersepeda kepada masyarakat.

Rasa cinta lingkungannya juga ia tunjukkan dalam perannya menjadi Bike to Work Indonesia Ambassador. Foto: Denny Frust.

“Ini adalah wadah pergerakan untuk sesuatu yang memang lebih baik, untuk udara yang lebih baik, untuk kesehatan yang lebih baik. Jadi memang harus aku dukung karena sesuatu yang baik memang harus di support,” katanya.

Dalam kampanye yang ia lakukan bersama Bike to Work Indonesia, Denny tidak ingin terlalu keras dalam memberikan edukasi. Ia berfokus pada mengurangi ketergantungan dengan mobil atau motor sebagai kendaraan untuk mendukung kegiatan sehari-hari. Menurutnya, jika jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh dan memiliki waktu yang cukup, masyarakat dapat menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi.

“Jadi kita sesuai sama kemampuan kita aja dalam artian paling nggak kita mengurangi ketergantungan lah, karena kalau makin banyak orang seperti itu paling nggak itu juga mengurangi banyaknya polusi gitu,” tutur Denny.

Denny Frust: Segala Kebutuhan Manusia Berasal dari Bumi

Lebih jauh, pada kesempatannya, Denny mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan tempat tinggal manusia, yaitu “Bumi”. Ia menuturkan sudah selayaknya manusia memperhatikan segala sesuatu yang terjadi pada lingkungan.

Apa yang terjadi pada Bumi sudah menjadi tanggung jawab yang mutlak bagi manusia.  Semua sumber kehidupan manusia, mulai dari makanan, air, udara, merupakan bagian dari “lingkungan” yang harus kita jaga keberlangsungannya.

“Karena kalau kita banyak sampah gabisa ngapa-ngapain juga, gabisa nanem apa kalau tanahnya banyak sampahnya, kalau kita nggak ngejaga pohon udara juga nggak bersih, kalau kita nggak ngejaga air nanti kita mau minum apa terus abis itu ntar malah keracunan, jadi tanah air dan udara memang harus kita jaga,” pungkasnya.

Dengan segala kebutuhan manusia tersebut, ia berharap, masyarakat dapat lebih menghargai lingkungan dan tidak merusak apa apa yang ada di dalamnya.

“Jadi manusia yang lebih baik, lebih ramah dengan lingkungan, dan jadi manusia yang memang menjaga lingkungan,” tutupnya.

Penulis: Zahra Safira

 

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/denny-frust-kampanye-lingkungan-dalam-irama-musik-kebaikan/feed/ 0
Tasya Kamila: Limbah Medis Ancaman Baru Krisis Iklim https://www.greeners.co/gaya-hidup/tasya-kamila-limbah-medis-ancaman-baru-krisis-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tasya-kamila-limbah-medis-ancaman-baru-krisis-iklim https://www.greeners.co/gaya-hidup/tasya-kamila-limbah-medis-ancaman-baru-krisis-iklim/#respond Tue, 31 Aug 2021 04:42:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=33676 Tasya Kamila yang sering menyalurkan sampah melalui bank sampah, merasa belum ada sebuah fasilitas tingkat warga yang bisa mengelola limbah medis.]]>

Jakarta (Greeners) – Pengelolaan limbah medis Covid-19 dinilai bisa menjadi ancaman baru krisis iklim. Tidak hanya terbatas pada level nasional dan di fasyankes, problematika limbah medis juga terjadi di level domestik. Keprihatinan ini dialami oleh Tasya Kamila, figur publik yang juga seorang pegiat lingkungan.

Tasya yang selama ini sering melakukan pengumpulan sampah melalui bank sampah, merasa belum ada sebuah fasilitas yang bisa digunakan untuk mengelola limbah medis, terutama masker, yang ia gunakan.

“Aku sering bingung harus diapain masker bekas. aku sampai cari tahu di internet harus diapain sampah masker. Di rumah aku udah mulai melakukan pilah sampah, dan sampah dijemput langsung lewat aplikasi. Tapi ternyata aplikasi dan bank sampah belum mau menerima sampah masker. Di satu sisi mau melindungi diri, tapi di sisi lain aku mau mengurangi sekali pakai,” ceritanya dalam diskusi online bertajuk ‘Diskusi Bareng Anak Muda: Darurat Limbah Medis, Kita Bisa Apa?’ pada Selasa (24/8/2021).

Limbah medis merupakan ancaman baru yang harus segera diselesaikan. Bukan hanya masker, semua bahan sekali pakai yang dihasilkan dari rumah sakit, termasuk Alat Perlindungan Diri (APD) yang digunakan oleh tenaga kesehatan, harus berakhir menjadi limbah medis yang seharusnya dikelola dengan benar agar tidak menimbulkan efek negatif bagi lingkungan.

Menurut Tasya Kamila, krisis iklim bukan sekadar teori atau cerita belaka, melainkan fakta yang akhirnya menyebabkan banyak dampak negatif bagi lingkungan dan manusia, seperti gagal panen, kebakaran hutan, cuaca yang tidak menentu, banjir, ketahanan pangan terganggu, hingga badai yang sudah terjadi di beberapa negara.

“Dulu tahun 2005 pernah ada kejadian tsunami tetapi tsunami sampah di TPA Leuwigajah yang menewaskan ratusan orang. Ternyata sampah yang ditumpuk itu bakalan menghasilkan gas metan dan gas metannya bisa meledak dan bisa menyebabkan kayak tsunami. Gas metan ini merupakan salah satu golongan gas rumah kaca yang berkontribusi juga terhadap pemanasan global, perubahan iklim atau yang kita sebut dengan climate crisis,” kata Tasya.

Tasya Kamila: Hati Hati Timbulan Limbah Masker

Untuk mencegah krisis iklim yang semakin parah akibat jumlah limbah medis yang bertambah banyak, Tasya menyarankan sebaiknya menerapkan pola cegah, pilah, dan olah tiap bahan dan alat sekali pakai yang digunakan. Meski hal ini belum banyak diterapkan dalam mengelola limbah medis seperti masker, dirinya mengatakan, tidak masalah untuk menerapkan pinsip tersebut.

“Kalau memang kita belum bisa mengolahnya sendiri atau belum bisa menemukan lembaga atau fasilitas apa yang benar-benar bisa mengolah limbah medis kita di rumah tangga kita mungkin yang bisa kita lakukan adalah cegah (timbulan sampah) terus kita pilah,” ujarnya.

Masker merupakan kebutuhan wajib yang harus digunakan saat ke luar rumah dan penggunaannya tidak bisa dicegah. Namun, Tasya menuturkan, cara mencegah jumlah masker bekas yang terus bertambah adalah dengan mengurangi aktivitas di luar rumah. Ia mengatakan, sebaiknya jangan ke luar rumah bila kegiatan tersebut bisa dilakukan dirumah. Hal itu menurutnya dapat mencegah jumlah masker yang akan berakhir menjadi limbah medis.

“Jadi kita tidak perlu boros masker. Jangan lupa pilah juga, jangan lupa buang masker yang telah dipakai bertanggung jawab. Dipilah, dikumpulkan jadi satu, disinfeksi, digunting-gunting, dan buang dalam wadah yang tertutup,” kata Tasya.

Tasya Kamila Ajak Anak Muda Bersuara

Tasya mengatakan, para anak muda Indonesia sangat bisa menggunakan platform untuk menyuarakan keluhannya terhadap keadaan lingkungan Indonesia. Selain itu, ia juga mengharapkan, sebaiknya keluhan yang disampaikan bersama solusi yang diinginkan supaya kita tetap bisa sehat menjaga kesehatan tetapi juga bertanggung jawab sama lingkungan.

Salah satu suara anak muda Indonesia yang baru-baru ini digerakan adalah petisi online di laman Change.org yang dibuat oleh DETALKS dan Doctors for XR Indonesia untuk mendesak Pemerintah untuk memastikan dan menjamin pengelolaan limbah medis yang transparan, cepat, dan ramah lingkungan. Petisi tersebut telah berhasil didukung oleh lebih dari 29.000 orang.

“Kalau gerakan ini juga jawaban dari dilema dan ke-galauan kita untuk menjaga kesehatan sembari menjaga kelestarian lingkungan, pastinya aku akan dukung dan tentunya aku juga mau ajak teman-teman semua untuk gunakan platform dan suara yang kita punya, social media kita untuk raise the conversation, untuk raise the concern dan juga untuk offering the solution,” pungkasnya.

Penulis: Dewi Purningsih               

BACA JUGA : Pemerintah Siapkan 13 Triliun Untuk Sarana Pengelolaan Limbah B3 Medis Covid 19                                                      

 

 

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tasya-kamila-limbah-medis-ancaman-baru-krisis-iklim/feed/ 0
Tuan Tigabelas, Memaknai Harimau Sumatera Melalui Karya https://www.greeners.co/gaya-hidup/tuan-tigabelas-memaknai-harimau-sumatera-melalui-karya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tuan-tigabelas-memaknai-harimau-sumatera-melalui-karya https://www.greeners.co/gaya-hidup/tuan-tigabelas-memaknai-harimau-sumatera-melalui-karya/#respond Thu, 05 Aug 2021 04:46:15 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=33453 Jakarta (Greeners) – Dalam memperingati Hari Harimau Sedunia 2021 yang jatuh pada setiap tanggal 29 Juli. Greeners berkesempatan untuk berdiskusi dengan Tuan Tigabelas, salah satu musisi muda Indonesia yang menaruh […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam memperingati Hari Harimau Sedunia 2021 yang jatuh pada setiap tanggal 29 Juli. Greeners berkesempatan untuk berdiskusi dengan Tuan Tigabelas, salah satu musisi muda Indonesia yang menaruh perhatian besar kepada Sang Raja Hutan tersebut.

Tuan Tigabelas mengawali karirnya sebagai solo rapper di Industri Musik Indonesia sejak tahun 2017. Pada kesempatannya, Laki-laki dengan nama asli Upi ini menceritakan bagaimana ia memakai nama Tuan Tigabelas sebagai nama panggungnya.

Sederhananya, Tuan adalah laki-laki sedangkan Tigabelas merupakan tanggal kelahiran Upi sendiri. Namun ia menyebut terdapat arti filosofis dari nama panggungnya tersebut.

“Tigabelas tuh punya image buruk di mata masyarakat kita ya aku mau coba merubah itu jadi hal yang positif lewat musik yang aku kasih gitu. Supaya nextnya mungkin kalau orang dengar tigabelas jadi nggak seram, tigabelas itu edukatif, tigabelas itu positif karena ada Tuan Tigabelas,” jelas Upi kepada Greeners, Kamis (29/07/2021).

Selain nama Tuan Tigabelas, Upi juga memaknai Harimau Sumatera sebagai metafora dirinya dalam proses bermusik. Satwa endemik tersebut menarik perhatian Upi atas keperkasaan dan kekuatannya. Selagi menggunakan image Harimau Sumatera, Upi mempelajari Harimau Sumatera lebih lanjut. Pada saat itu ia menemukan bahwa keadaan Sang Raja Hutan sedang tidak baik-baik saja.

Last Roar, Auman Terakhir si Raja Hutan

Harimau Sumatera merupakan subspesies terakhir di Indonesia setelah Harimau Jawa dan Bali yang telah dinyatakan punah. Menurut kajian populasi dan habitat terbaru, saat ini hanya terdapat sekiranya 400 ekor Harimau Sumatera. Tentunya jumlah ini akan semakin berkurang jika kita terus merenggut habitatnya dengan tidak bijaksana.

Memiliki daerah asal yang sama yakni Sumatera, Upi merasa ia mempunyai sebuah ikatan dan kewajiban untuk menyuarakan hal tersebut. Sebagai musisi, Upi menilai bahwa menyebarkan awareness lewat musik adalah hal yang pertama yang bisa ia lakukan.

Berdasarkan hal tersebut, Upi merilis album pertamanya, yaitu “Harimau Soematra” dengan track list sebanyak 13 lagu. Pada  albumnya, terdapat lagu “Last Roar” sebagai bentuk dedikasinya terhadap Harimau Sumatera.

“Aku orang Sumatera jadi ini ada di rumahku kejadiannya, kalau bukan orang rumah yang ngomong mau orang siapa lagi yang bicara,” tegas Upi.

Upi menjelaskan bahwa Last Roar menggambarkan tentang Harimau Sumatera yang habitatnya banyak manusia hancurkan melalui pembabatan hutan atau eksploitasi lahan sawit. Sebagai subspesies terakhir, mereka meminta tolong kepada kita Manusia untuk berhenti melakukan hal tersebut.

Dalam pembuatan liriknya, Tuan Tigabelas mencoba metode baru yaitu memposisikan diri sebagai Harimau.

“Aku mencoba berkhayal kalau aku adalah seekor Harimau yang rumah saya dibakar anak-anaknya ikut terbakar Nggak punya tempat untuk kabur apa yang yang akan saya bicarakan kepada manusia” ucapnya.

Tuan Tigabelas merilis album pertamanya, yaitu “Harimau Soematra”. Foto: @tuantigabelas.

Tuan Tigabelas: Jika Selamatkan Rumahnya, Populasi Harimau Pasti Akan Selamat

Selain itu, pada kesempatannya Upi juga mengatakan bahwa, selain membahas mengenai Harimau, pada lagu Last Roar ia juga menyampaikan mengenai keselamatan Hutan. Ia menyebut bahwa menurunnya populasi Harimau Sumatera tidak hanya disebabkan oleh perburuan liar. Faktor lain yang berkontribusi adalah alih fungsi lahan, deforestasi, dan kebakaran hutan.

Upi menambahkan bahwa Harimau bukan satwa yang hidup berkelompok, ia merupakan pemain tunggal. Pemecahan masalah pada menurunnya populasi Harimau bukan semata-mata hanya menambahkan jumlah. Harimau merupakan satwa yang hidup di alam liar, apabila rumah mereka terus dibabat, mereka tidak akan mempunyai tempat tinggal yang layak.

“Ini bukan tentang bagaimana caranya menambah populasi harimau tapi kita harus menyelamatkan rumahnya dulu kalau rumahnya beres populasinya beres itu hal yang paling fundamental,” ujarnya.

Sebagai lanjutan aksinya, Upi mempersembahkan semua royalti dari penjualan album Harimau Soematra, CD dan juga merchandise ia alokasikan untuk konservasi hutan dan Harimau.

“Dengan hal kecil ini saya mengajak teman-teman kalau kalian dengerin lagu ini kalian udah nyumbang buat hutan sama Harimau. Jadi aku mau menyediakan platform biar teman-teman bisa berpartisipasi tanpa perlu turun ke hutan langsung karena kita semua punya kapasitasnya masing-masing untuk bergerak,” harapnya.

Tuan Tigabelas: Generasi Muda Tonggak Perubahan

Lewat hasil karyanya, Tuan Tigabelas banyak menaruh harapan, kepada masyarakat dan Pemerintah. Kepada Pemerintah ia berharap agar dapat menangani permasalahan ini dengan tegas, menindak segala tindakan buruk terhadap hutan. Serta tentunya, Upi berharap agar Pemerintah menggandeng Non-Governmental Organization (NGO) atau organisasi masyarakat untuk bersama-sama melestarikan hutan.

“Aku rasa semua pihak pasti bekerja sangat keras untuk hal ini khususnya untuk hutan. Harapanku pemerintah lebih terbuka untuk kolaborasi dengan NGO atau organisasi masyarakat. Jadi teman-teman NGO itu bisa ikut andil dalam melestarikan hutan kita dan akhirnya meringankan kerja pemerintah” tuturnya.

Selain Pemerintah, harapannya pada masyarakat terutama pada generasi muda, agar dapat menyebarkan awareness terhadap kepedulian lingkungan. Menurutnya peran generasi muda sangat penting untuk menyebarkan awareness khususnya pada dunia digital pada saat ini.

“Karena kita sekarang yang megang tongkat estafet untuk menentukan keberadaan harimau atau hutan 10 tahun atau 20 tahun lagi ke depan. Kita yang punya kuncinya sekarang, jadi anak muda adalah tonggak perubahan saya percaya itu,” tutupnya.

Penulis: Zahra Shafira

 

 

 

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tuan-tigabelas-memaknai-harimau-sumatera-melalui-karya/feed/ 0
Cabrini Asteriska, Rilis Mini Album Bertemakan Alam https://www.greeners.co/gaya-hidup/cabrini-asteriska-rilis-mini-album-bertemakan-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cabrini-asteriska-rilis-mini-album-bertemakan-alam https://www.greeners.co/gaya-hidup/cabrini-asteriska-rilis-mini-album-bertemakan-alam/#respond Tue, 27 Jul 2021 03:41:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=33399 Jakarta (Greeners) – Cabrini Asteriska Widiantini, vokalis Barasuara resmi merilis mini album solonya yang bertajuk “Rumah Kita” pada Jumat, 23 Juli 2021. Mini album yang sudah dapat dinikmati dalam berbagai […]]]>

Jakarta (Greeners) – Cabrini Asteriska Widiantini, vokalis Barasuara resmi merilis mini album solonya yang bertajuk “Rumah Kita” pada Jumat, 23 Juli 2021. Mini album yang sudah dapat dinikmati dalam berbagai platform digital ini memuat 4 lagu yang seluruhnya bertemakan alam. Dalam mini album ini terbagi 2 sub tema pada lagu yang ia ciptakan, yaitu Daratan dan Lautan.

Lagu-lagu yang berada pada sub tema Daratan yaitu Ibu Pertiwi dan When Earth Speaks. Sedangkan, lagu yang berada pada sub tema Lautan adalah Cerita Laut serta The Waves and The Grey. Asteriska menyebut inisiasi dalam pembuatan mini album ini, berawal dari pertanyaan dalam dirinya tentang kontribusi apa yang sudah ia lakukan untuk alam.

“Akhirnya suatu pagi bangun tidur tuh tiba-tiba kayak pengen deh bikin sesuatu yang apa ya membuat aku at least lebih berguna sedikit lah sebagai manusia gitu karena apa sih sebenarnya yang sudah aku lakukan buat bumi gitu kan,” kata Cabrini Asteriska kepada Greeners, Kamis (22/07/2021).

Sebagai musisi, Asteriska mengatakan bahwa lewat lagu ia dapat menuangkan segala sesuatu apa yang ia ingin sampaikan. Mini album ini merupakan cerminan dari rasa pilu dan keprihatinannya dengan keadaan Bumi pada saat ini.

Menilik Makna yang Terkandung Pada Mini Album “Rumah Kita”

Kisah dalam lagu “Ibu Pertiwi” salah satu track list dari mini album tersebut, merupakan keresahan dan kekhawatiran Asteriska terhadap perubahan iklim, kebakaran hutan yang melanda Bumi, terutama Indonesia. Lebih jauh, ia mengkhawatirkan keadaan Bumi yang akan bertambah buruk pada kehidupan generasi selanjutnya, jika saat ini manusia masih tidak merawat Bumi dengan baik.

“Ibu Pertiwi ini keresahan aku pada 2021 karena memikirkan kedepannya anak kita masih bisa kayak gini apa nggak gitu, jadi kayak seakan-akan aku juga memohon ke Ibu Pertiwi memang sih ini kesalahan kita tapi ya boleh nggak sih kasih keringanan,” jelasnya.

Track list sub tema Daratan ke-dua adalah When Earth Speaks, berbeda dengan yang lainnya, ia merupakan sebuah karya instrumental. Asteriska berharap, instrumental ini dapat memberikan ketenangan serta dapat menemani pendengar ketika sedang berada di alam.

“Aku membayangkan musik yang seakan-akan itu bumi lagi ngobrol sama aku kalau aku lagi duduk memejamkan mata di alam terbuka yang dibisikin sama alam semesta tuh itu,” ujarnya.

Selanjutnya, sub tema Lautan, pada Cerita Laut dan The Waves and The Grey. Asteriska mengaku, dua lagu tersebut ia ciptakan pada waktu yang berdekatan. 

“Pada dua lagu ini aku memposisikan jadi dua posisi, sebagai manusia sama sebagai si makhluk lautnya. Dan ternyata lebih memudahkan aku karena ketika aku jadi makhluk laut ternyata sesakit itu kayak gila rumah gue dihancurin lo ya, bikin lagunya jadi semudah itu karena aku menempatkan diri sebagai si makhluk lautnya,” jelasnya lagi.

Foto: Instagram @hastosa_

Program Donasi

Harapan Asteriska, lewat lagunya ia dapat memberikan sesuatu untuk alam dan membantu meningkatkan awareness masyarakat.

Selain itu, tujuan lain dari mini album “Rumah Kita” adalah untuk menggalang donasi melalui kampanye “Lindungi Bumi, Rumah Kita”. Penggalangan dana ini, nantinya akan diserahkan kepada dua lembaga non-profit, yaitu North Bali Reef Conservation dan Lindungi Hutan.

“Dengan aku nantinya bantu galang dana bareng temen-temen yang nanti ikut donasi ini kan otomatis kita sebenarnya bantuin bumi kita bantu melestarikan bumi kan tapi melalui tangan-tangan mereka mereka yang memang lebih capable,” harapnya.

Asteriska menjelaskan, kedua Lembaga tersebut mempunyai program yang berbeda. North Bali Reef Conservation mempunyai fokus terhadap penangkaran penyu dan pembuatan terumbu karang. Sedangkan Lindungi Hutan memiliki program penanaman pohon.

Cabrini Asteriska: Step Kecil Itu Penting

Sejalan dengan pesan dalam mini album yang ia rilis, perempuan yang akrab disapa Icil ini mengatakan bahwa alam merupakan hal yang sangat dekat dengan manusia. Sadar dengan hal tersebut, langkah yang ia lakukan dalam menyelamatkan bumi adalah menerapkan pola hidup ramah lingkungan pada kehidupannya sehari-hari.

Menurutnya, langkah tersebut memang tidak mudah untuk dilakukan. Tetapi, masyarakat wajib untuk belajar dan memulai pola hidup ramah lingkungan walaupun hanya langkah-langkah kecil.

Baginya, langkah kecil merupakan hal yang sangat penting. Apabila langkah kecil tersebut dilakukan oleh banyak masyarakat, hal itu akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap bumi.

“Itu part of salah satu keinginan dan yang aku upayakan ya. Walaupun aku tahu sih sesusah itu karena aku juga berasal dari keluarga yang bukan 100% ramah lingkungan. Ketika sekarang aku udah mulai melek mata memang masih susah juga sebenarnya tapi menurut aku lebih baik aku aware dan mencoba mulai step kecil kecil daripada nggak sama sekali,” tuturnya.

Dalam penerapannya, Asteriska mengaku sudah mengganti beberapa penggunaan plastik sekali pakai dengan produk yang lebih ramah lingkungan. Seperti menggunakan plastik biodegradable yang mampu terurai dengan cepat, dan sikat gigi serta tissue yang menggunakan bahan bambu. Lalu, ia juga sudah tidak mengkonsumsi daging merah dalam satu tahun terakhir.

Lebih lanjut, Asteriska juga berpesan untuk saling menjaga makhluk hidup yang ada di Bumi dan keadaan Bumi itu sendiri. Ia mengingatkan, bahwa manusia merupakan satu-satunya harapan yang bisa menyelamatkan Bumi.

“Kita ini kan tinggal di bumi, bumi adalah rumah kita kalau bukan kita yang jaga siapa lagi yang mau jaga karena kita yang tinggal di dalamnya,” tutupnya.

Penulis: Zahra Shafira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/cabrini-asteriska-rilis-mini-album-bertemakan-alam/feed/ 0
Teddy Adhitya: Alam Berikan Ketenangan dan Kebebasan Dalam Bermusik https://www.greeners.co/gaya-hidup/teddy-adhitya-alam-berikan-ketenangan-dan-kebebasan-dalam-bermusik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=teddy-adhitya-alam-berikan-ketenangan-dan-kebebasan-dalam-bermusik https://www.greeners.co/gaya-hidup/teddy-adhitya-alam-berikan-ketenangan-dan-kebebasan-dalam-bermusik/#respond Fri, 11 Jun 2021 03:00:47 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=33011 Bagi Teddy Adhitya, alam tidak hanya tempat manusia untuk hidup. Namun, juga merupakan tempat untuk berbagi keluh kesah.]]>

Jakarta (Greeners) – Gemar berpetualang di alam, membuat musisi Teddy Adhitya memiliki begitu banyak kenangan berkesan. Sedari kecil, Teddy terbiasa mendaki gunung atau menjelajah hutan bersama orangtuanya tiap minggu. Kebiasaan itulah yang menumbuhkan rasa cinta akan alam di dirinya.

Bagi penyanyi dan penulis lagu kelahiran Yogyakarta ini, alam tidak hanya tempat manusia untuk hidup. Namun, juga merupakan tempat untuk berbagi keluh kesah. Menurutnya, alam menjadi tempat yang tepat untuk menenangkan hati maupun pikiran.

“Arti alam buat gue adalah kehidupan, kaya nyokap kali ya. Kadang kalau lagi ada masalah kita nggak usah cerita ke ibu, cuma datang, peluk, terus nangis. Selesai masalah lo,” ucap Teddy Adhitya kepada Greeners, Kamis, (03/06/2021).

Teddy Adhitya: Alam Sebagai Sumber Inspirasi

Bergabung dengan industri musik sejak 2008, Teddy menyebut alam mempunyai andil besar dalam karya yang selama ini ia ciptakan. Berbanding terbalik dengan hiruk pikuk dan kesibukan Jakarta, Teddy menilai alam membantunya lebih fokus. Alam, kata dia, juga memberikan ketenangan dan kebebasan dalam bermusik.

Di album pertamanya, sebagian besar lagunya dibuat ketika sedang melakukan kegiatan yang dekat dengan alam. Namun, pada album kedua tidak hanya sebagian besar. Teddy memproduksi seluruh album tersebut mulai dari proses menulis hingga rekaman. Ia melakukannya di beberapa vila yang berada dekat dengan hutan.

“Di situ gue bisa menyadari, bahwa ternyata sumber inspirasi, berdialog sama diri sendiri secara murni tanpa melibatkan ego, memang ketika gue berdekatan dengan alam,” kata Teddy.

Teddy Adhitya

Teddy Adhitya. Foto: Instagram @teddyadhitya

Tidak hanya sebagai sumber inspirasi, tahun lalu pria berusia 29 tahun ini memanfaatkan alam sebagai latar mini konsernya. Pertunjukan daring bertajuk “This Is Not A Concert (Question Mark) Live Session” tersebut tayang di Youtube pada 14 September 2020.

Mengambil latar di Ranca Upas, Teddy dan kawan-kawan ingin menghibur masyarakat yang saat itu terimbas peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Selain itu, ia juga ingin merealisasikan album kedua yang seluruh produksinya berlangsung di alam.

“Idenya sebenarnya satu, gimana caranya kita bikin live yang supaya ngga keliatan tembok lagi. Kedua give back aja untuk musiknya bahwa produksi dari album kedua ini semuanya gue lakukan juga di alam,” ujarnya.

Manusia Tak Boleh Lupa Berterima Kasih Terhadap Alam

Melihat kondisi Bumi saat ini, Teddy Adhitya menyayangkan sikap manusia yang masih tidak peduli dengan lingkungan. Ia mengatakan sebaiknya manusia memperlakukan Bumi sebagai rumah yang ditinggali. Tempat yang selalu dibersihkan ketika kotor, bebas sampah, agar rumah tersebut terlihat baik dan bersih.

Teddy melanjutkan, Bumi tidak hanya menjadi sumber kehidupan bagi manusia saja. Bersama tumbuhan dan satwa, manusia selalu bersinggungan dan mempunyai hubungan yang kuat satu sama lain. Oleh karena itu segala perilaku yang kita lakukan terhadap lingkungan pada saat ini akan berdampak di masa depan maupun kehidupan generasi selanjutnya.

“Kalau bukan kita yang ngerawat buat ke depannya ya siapa yang bisa merawat,” ucapnya.

Lebih jauh, Teddy berharap agar manusia tidak lupa untuk menunjukkan rasa terima kasihnya terhadap Bumi. Rasa syukur itu tercermin atas udara yang masih bisa terhirup hingga sumber-sumber makanan yang masih bisa dinikmati. Tak lupa, manusia juga perlu menanamkan kesadaran dari diri sendiri untuk menjaga sumber kehidupan yang ada.

“Menurut gue kita manusia tidak boleh lupa berterima kasih. Bahwa kita makan nasi, ikan, sapi, ayam, yang semua adalah hasil dari alam. Kadang-kadang kita lupa berterima kasih sama alam sendiri. Bahkan kita sering kali memperlakukan alam seperti tidak peduli, padahal kita selalu hidup dari situ,” kata dia.

Penulis: Zahra Shafira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/teddy-adhitya-alam-berikan-ketenangan-dan-kebebasan-dalam-bermusik/feed/ 0
Andini Effendi: Polusi Udara Jakarta Bahayanya Setara Covid-19 https://www.greeners.co/gaya-hidup/andini-effendi-polusi-udara-jakarta-bahayanya-setara-covid-19/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=andini-effendi-polusi-udara-jakarta-bahayanya-setara-covid-19 https://www.greeners.co/gaya-hidup/andini-effendi-polusi-udara-jakarta-bahayanya-setara-covid-19/#respond Sun, 09 May 2021 01:25:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=32673 Jakarta (Greeners) – Andini Effendi, seorang model dan presenter Indonesia menunjukkan perhatiannya terhadap kondisi lingkungan ibukota Jakarta, ia menyoroti bahwa polusi udara tengah menjadi salah satu masalah utama di Jakarta. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Andini Effendi, seorang model dan presenter Indonesia menunjukkan perhatiannya terhadap kondisi lingkungan ibukota Jakarta, ia menyoroti bahwa polusi udara tengah menjadi salah satu masalah utama di Jakarta.

Ia mengatakan bahwa masih banyak masyarakat yang kurang menyadari besarnya bahaya polusi yang bisa membuat harapan hidup menjadi berkurang bahkan membunuh manusia secara perlahan.

“Gak usah jauh-jauh deh. Kalau lihat di jendela sekarang aja langit biru udah gak ada lagi kan? Bahkan aku bisa ngeliat matahari karena mataharinya udah ketutup polusi kalau di Jakarta. Hebatnya Jakarta ya gitu, matahari aja bisa dia silaukan dengan polusi,” kata Andini dalam Conservation Talks – YKAN Bersuara #Untuk​Indonesia Lestari, Kamis (22/04/2021).

Kebiasaan baru memakai masker selama pandemi covid-19 merupakan salah satu hal baik. Namun, menurut Andini, masker seharusnya tidak hanya digunakan saat pandemi terjadi.

“Kita kan takut banget sama covid, tapi kita tidak merasa kalau sebenarnya ada hal lain yang sudah membunuh kita secara perlahan,” ujarnya.

Polusi udara menjadi hal yang sangat mengganggu. Jika dilihat, bukan hanya masalah seberapa banyak kendaraan yang melintas di jalan raya, namun juga bahan bakar yang digunakan. Misalnya, bahan bakar premium dan pertalite yang hasil proses pembakarannya dinilai tidak ramah lingkungan.

Andini Effendi: Masih Banyak Warga Yang Bakar Sampah

Masalah lainnya adalah pembakaran sampah secara sembarangan. Menurutnya, masyarakat banyak yang belum mengerti cara memilah sampah serta fungsi-fungsinya. Lalu, berujung dengan menimbunnya lalu membakarnya.

“Oh enggak kok, cuma sekali kali aja ngebakarnya, tapi 6,7 juta warga lainnya juga mengatakan hal yang sama. Jadi kebayang kan gimana rasanya,” tuturnya.

Penyebab polusi yang terakhir menurut Andini Effendy adalah keberadaan bengkel aki ilegal. Penting untuk mengganti aki kendaraan pada bengkel resmi. Membawa kendaraan ke bengkel yang tidak resmi bisa membuat masalah baru terjadi, yaitu peleburan aki ilegal yang menyebabkan banyak zat bahaya keluar.

“Membayangkan zat-zat dari aki yang keluar di udara ditambah dengan masalah polusi dari kendaraan dan pembakaran sampah seperti masalah yang tidak kunjung selesai. Jadi, seperti “lingkaran setan” terkait polusi udara ini. Makin parah dan orang makin tidak menyadari,” ujar wanita berusia 38 tahun itu.

Secara pribadi, dirinya merasakan efek negatif dari polusi tersebut ketika berolahraga di pagi hari. Polusi udara yang dihasilkan sepanjang malam akan naik di pagi hari dan bisa dihirup ketika manusia memulai aktivitasnya.

Gaya Hidup dan Lingkungan yang Saling Terkait

Gaya hidup dan lingkungan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Hal-hal kecil seperti sampah, makanan yang dikonsumsi, sampah makanan, mematikan lampu, dan mencabut pengisi daya adalah kebiasaan sehari-hari yang menurut Andini sangat berpengaruh bagi lingkungan.

Selain itu, Andini menuturkan bahwa segala sesuatu yang dikeluarkan langsung dari kantongnya sendiri pasti memiliki harga dan dampak untuk lingkungan.

“Tapi kemudian jadi berpikir “apakah aku memerlukannya?” Sepertinya aku punya yang lain. Ditambah juga tekstil atau fashion industry merupakan penyebab polusi kedua terbesar setelah oil dan gas. Kamu gak bisa mendaur ulang, kamu bisa menggunakannya kembali, tapi aku sepertinya bisa menguranginya. Pemikiran-pemikiran itu yang harusnya kita renungi sebagai konsumen,” tutup wanita yang bernama lengkap Andini Weningtyas Effendi.

Penulis: Dewi Purningsih

 

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/andini-effendi-polusi-udara-jakarta-bahayanya-setara-covid-19/feed/ 0
Melissa Karim Terapkan Prinsip Zero Waste di Usaha Kulinernya https://www.greeners.co/gaya-hidup/melissa-karim-terapkan-zero-waste-di-usaha-kulinernya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=melissa-karim-terapkan-zero-waste-di-usaha-kulinernya https://www.greeners.co/gaya-hidup/melissa-karim-terapkan-zero-waste-di-usaha-kulinernya/#respond Tue, 04 May 2021 04:11:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=32628 Jakarta (Greeners) – Presenter sekaligus aktris Melissa Karim menerapkan gaya hidup minim sampah melalui usaha kulinernya dengan cara pemanfaatan bahan makanan yang maksimal. Sejak kecil, dirinya sudah dididik bagaimana caranya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Presenter sekaligus aktris Melissa Karim menerapkan gaya hidup minim sampah melalui usaha kulinernya dengan cara pemanfaatan bahan makanan yang maksimal.

Sejak kecil, dirinya sudah dididik bagaimana caranya harus makan tanpa meninggalkan sisa sama sekali. Sehingga, Melissa menerapkan kebiasaan tersebut dalam usaha kulinernya.

Melissa yang bersama Suami tengah fokus menekuni usaha kuliner Burger ini menuturkan, sebisa mungkin ia meminimalkan sampah makanan yang diproduksi per hari. Dari lima bahan yang digunakan, misalnya, ia berkreasi menjadikannya 8 varian menu sehingga tidak terlalu banyak jenis bahan makanan yang tersisa.

“Aku kan punya usaha F&B kebetulan. Jadi, dalam usaha yang kita lakukan itu tidak menambah nambahi sampah, itu menjadi hal dasar yang aku lakukan. Bukan hanya di rumah makanan itu harus abis, tapi dalam usaha aku, aku berusaha menerapkan zero waste,” katanya pada Conservation Talks – YKAN Bersuara #Untuk​IndonesiaLestari, Kamis (22/04/2021) lalu.

Food waste atau sampah makanan merupakan permasalahan yang serius karena kebiasaan kita yang seringkali membuang buang sisa makanan ternyata memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap lingkungan.

Fakta yang didapat dari Food and Agricultural Organization (FAO) menyebutkan bahwa secara global, satu per tiga makanan yang diperkirakan totalnya adalah 1,3 miliar ton terbuang dengan sia-sia setiap tahunnya. Sedangkan, menurut data yang disampaikan oleh Economist Intelligence Unit (EIU) Indonesia diketahui menyumbang sampah makanan 300 kilogram per orang per tahun.

Melissa mengaku harus kreatif dalam berbisnis makanan dengan memikirkan lingkungan. Walaupun, dirinya tak menampik bila dalam pemanfaatan bahan masakannya memang masih ada sampah yang dihasilkan, namun tidak banyak.

Ia pun mengingatkan tentang pentingnya snowbolling effects yakni proses yang dimulai dari keadaan awal, kecil namun signifikan dan dibangun di atas dirinya sendiri, lalu berkembang menjadi lebih besar. Hal ini ia terus terapkan dalam upaya memperbaiki lingkungan.

“Yang namanya conversation itu harus, we have to keep conversation going, supaya mengingatkan orang-orang, semoga bukan cuma yang participate di acara ini, tapi juga orang-orang yang terlibat di acara ini bisa jadi virus yang positif in a good way for they surrondings jadi bisa snowbolling effects,” Melissa menekankan.

Berharap Keberadaan Mangrove Lebih Dikenal Oleh Masyarakat

Perempuan yang aktif sebagai penyiar radio ini juga turut menyampaikan keprihatinannya terhadap hutan mangrove yang kurang disukai oleh masyarakat terutama anak-anak muda. Walaupun manfaatnya yang sangat membantu alam menjaga bumi. Namun, hutan mangrove kurang dipedulikan karena rupanya yang tidak sebagus objek alam lainnya.

“Hutan mangrove itu kurang instagramable. Lightsnya pasti kurang banyak. Ya karena its really not sexy enough untuk di highlight. Jadi, kalau orang gak tau betapa pentingnya kita melestarikan itu kayaknya gak jadi pilihan utama untuk orang pergi ke tempat alam,” ujarnya.

Oleh karenanya, kedepannya Melissa Karim berharap masyarakat bisa mengetahui manfaat dari mangrove ini melebihi apa yang hanya terlihat dari luarnya.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/melissa-karim-terapkan-zero-waste-di-usaha-kulinernya/feed/ 0