fesyen berkelanjutan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/fesyen-berkelanjutan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 07 Nov 2024 09:02:09 +0000 id hourly 1 Museum Nasional Indonesia Segera Hadirkan Pameran Fesyen Berkelanjutan https://www.greeners.co/aksi/museum-nasional-indonesia-segera-hadirkan-pameran-fesyen-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=museum-nasional-indonesia-segera-hadirkan-pameran-fesyen-berkelanjutan https://www.greeners.co/aksi/museum-nasional-indonesia-segera-hadirkan-pameran-fesyen-berkelanjutan/#respond Thu, 07 Nov 2024 09:02:09 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45167 Jakarta (Greeners) – Pada pekan depan, Museum Nasional Indonesia di Jakarta akan menjadi panggung perayaan perjalanan 25 tahun desainer tekstil dan fashion, Merdi Sihombing. Akan ada pameran bertajuk The Flying […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pada pekan depan, Museum Nasional Indonesia di Jakarta akan menjadi panggung perayaan perjalanan 25 tahun desainer tekstil dan fashion, Merdi Sihombing. Akan ada pameran bertajuk The Flying Cloth pada 11 hingga 24 November 2024. Pameran ini bukan sekadar menampilkan karya-karya Merdi, tetapi juga merayakan dedikasinya dalam mengangkat kekayaan budaya Indonesia melalui fashion berkelanjutan.

The Flying Cloth menggambarkan perjalanan panjang Merdi yang telah berkeliling ke berbagai pelosok Indonesia, dari Baduy hingga Alor, untuk menghidupkan kembali tradisi tenun dan memberdayakan masyarakat adat.

Dalam pameran ini, Merdi tidak hanya menampilkan koleksi ikoniknya, tetapi juga menyajikan berbagai kegiatan seperti workshop, seminar, dan pertunjukan budaya. Merdi telah merancang dari teknik pewarnaan alami hingga upacara adat Batak yang magis untuk menginspirasi dan menggugah kesadaran generasi muda akan pentingnya fashion yang bukan hanya indah, tetapi juga bermakna.

Menurut Merdi, pameran ini lebih dari sekadar ajang untuk menampilkan karya seni. Ia melihat The Flying Cloth sebagai langkah awal yang kuat untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap fashion.

“Setiap karya di acara ini membawa cerita dan pesan tentang perjalanan panjang saya selama 25 tahun, menjelajah berbagai pelosok Nusantara dan membangun komunitas yang hidup dan berkembang dari warisan budaya mereka sendiri,” ujar Merdi lewat keterangan tertulisnya, Selasa (5/11).

Melalui Yayasan Merdi Sihombing dan Eco Fesyen Indonesia, Merdi telah menyaksikan bahwa gaya hidup dan karya masyarakat adat mencerminkan keselarasan antara manusia dan alam. Pengalaman ini semakin memperkuat keyakinannya bahwa warisan budaya dan prinsip keberlanjutan perlu dihargai dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Kesempatan bagi Generasi Muda

Sementara itu, menurut Merdi, The Flying Cloth juga menjadi kesempatan berharga bagi generasi muda. Mereka bisa terinspirasi oleh semangat pemberdayaan dan keberlanjutan yang ia temui di setiap sudut negeri ini.

Dari keunikan masyarakat Baduy di Banten yang setia menjaga harmoni dengan alam, hingga pesona bawah laut Alor yang memancarkan keindahan warna, pagelaran The Flying Cloth akan membawa pengunjung menyusuri setiap sudut negeri melalui koleksi Merdi. Cerita visual itu membawa cerita tentang keindahan budaya yang melintasi waktu.

“Datanglah, dan saksikan sendiri bagaimana setiap kain bisa menghubungkan kita dengan leluhur. Kemudian, bagaimana pilihan fashion kita hari ini bisa menciptakan masa depan yang lebih baik untuk kita dan generasi mendatang,” ucapnya.

Merajut Tradisi Berkelanjutan

Selain mengawali acara dengan gala reception dan fashion show, The Flying Cloth juga akan menyuguhkan berbagai workshop, seminar dan creative talk. Seluruh kegiatan itu akan berlangsung selama dua pekan. Melalui rangkaian acara ini publik bisa mendapatkan kesempatan untuk mendalami konsep fashion berkelanjutan.

Sejumlah topik yang bisa pengunjung pelajari antara lain, edukasi pewarnaan alami, dampak industri fast fashion terhadap perubahan iklim. Pengunjung juga bisa mempelajari pola desain etnomatematika pada ulos yang sarat makna, film fashion serta fotografi fashion.

Selain itu, The Flying Cloth juga akan menghidupkan suasana yang magis. Hal itu akan mereka wujudkan melalui upacara pernikahan adat Batak Karo dan pertunjukan gondang di bawah sinar bulan purnama. Dalam sesi ini, penyelenggara akan menampilkan Gerdang Simalungun, Gordang Sambilan dan Gondang Sabangunan Toba. Mereka akan menyuguhkan pengalaman budaya yang tak terlupakan.

Melengkapi perayaan ini, terdapat pameran instalasi yang mengisahkan perjalanan visual Merdi selama 25 tahun dari berbagai penjuru Indonesia. Proyek instalasi ini melibatkan seniman Heri Pemad sebagai art director dan Ignatia Nilu sebagai kurator.

Acara yang dipersembahkan oleh Kementerian Kebudayaan, Indonesian Heritage Agency dan Museum Nasional Indonesia ini terbuka untuk umum. Pengunjung dapat membawa wastra lama mereka untuk diperbaiki atau diubah menjadi karya baru. Hal ini sebagai bagian dari upaya mempromosikan konsep upcycle.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/museum-nasional-indonesia-segera-hadirkan-pameran-fesyen-berkelanjutan/feed/ 0
Stella McCartney Memamerkan Fesyen Berkelanjutan di COP28 https://www.greeners.co/gaya-hidup/stella-mccartney-memamerkan-fesyen-berkelanjutan-di-cop28/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=stella-mccartney-memamerkan-fesyen-berkelanjutan-di-cop28 https://www.greeners.co/gaya-hidup/stella-mccartney-memamerkan-fesyen-berkelanjutan-di-cop28/#respond Thu, 14 Dec 2023 04:07:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=42528 Desainer asal Inggris Stella McCartney tengah memamerkan sejumlah aksesoris dan pakaian ramah lingkungan atau berkelanjutan di Konferensi Perubahan Iklim (COP28). Hal itu untuk mendorong industri fesyen bisa lebih memperhatikan aspek […]]]>

Desainer asal Inggris Stella McCartney tengah memamerkan sejumlah aksesoris dan pakaian ramah lingkungan atau berkelanjutan di Konferensi Perubahan Iklim (COP28). Hal itu untuk mendorong industri fesyen bisa lebih memperhatikan aspek lingkungan dalam proses produksinya.

Melalui kemitraan dengan LVMH, perusahaan Stella McCartney mengusung pasar berkelanjutan dengan melibatkan beberapa perusahaan fesyen. Dalam pameran ini terdapat 15 inovator yang terpilih untuk memamerkan hasil produksinya yang menerapkan prinsip berkelanjutan.

Melansir Dezeen, seluruh inovator yang terpilih, mereka terdiri dari merek-merek baru hingga mapan telah menggunakan material yang ramah lingkungan. Misalnya, perusahaan Natural Fiber Welding menghadirkan produk alternatif kulit nabati pada tas Falabella dan Frayme milik Stella McCartney.

BACA JUGA: Stella McCartney Hadirkan Busana Musim Semi Ramah Lingkungan

Pameran yang dibentuk seperti pasar keberlanjutan juga memamerkan contoh produk jadi, termasuk gaun dan tas rajutan karya Stella McCartney. Produk tersebut menggunakan benang Kelsun berbahan dasar rumput laut.

“Industri fesyen menyumbang delapan persen emisi gas rumah kaca secara global. Jika kita dapat bekerja secara kolaboratif untuk mencapai tujuan-tujuan ini, kita sebenarnya dapat mulai melakukan bisnis dengan cara yang meregenerasi planet kita. Bukan hanya mengambil keuntungan darinya,” ujar McCartney.

Stella McCartney tengah memamerkan sejumlah aksesoris dan pakaian ramah lingkungan atau berkelanjutan di COP28. Foto: Dezeen

Stella McCartney tengah memamerkan sejumlah aksesoris dan pakaian ramah lingkungan atau berkelanjutan di COP28. Foto: Dezeen

Pameran Fesyen Berkelanjutan Menginovasi Solusi Masa Depan

Pameran tersebut telah menampikan masa depan inovasi material yang ramah lingkungan. Sebab, ada terobosan baru dalam menggunakan alternatif berbahan dasar bio dan tumbuhan sebagai pengganti plastik, kulit dan bulu hewan, serta serat tradisional.

Pameran juga tampak menarik karena setiap ruangannya bergaya 3D dengan bahan penyerap karbon dari Pure Tech. Bahan tersebut secara aktif menghilangkan partikel berbahaya dari udara.

BACA JUGA: Reclypse, Sepatu Kets dari Limbah Jaring Ikan

Selain itu, salah satu inovasi yang mereka presentasikan pada COP28 adalah alternatif berbahan dasar anggur dari Veuve Clicquot. Perusahaan tersebut menggunakan produk sampingan dari kebun anggur bersejarah milik Champagne Maison di Reims, Prancis. Anggur itu ditanam secara regeneratif di lahan yang dibeli oleh Madame Clicquot sendiri, lebih dari 200 tahun yang lalu.

Selain itu, Stella McCartney juga berkolaborasi dengan Protein Evolution, perusahaan garmen pertama di dunia yang terbuat dari poliester, kemudian mereka daur ulang secara biologis dan tanpa batas.

Stella McCartney Mewakili Industri Fesyen di COP28

Delegasi Stella akan fokus pada tiga tujuan utama. Pertama, mengadvokasi perubahan kebijakan dan peraturan untuk memberi insentif pada bisnis berkelanjutan. Kemudian, Stella menekankan soal dekarbonisasi industri dan para pemimpin bisnis perlu mendukung serta meningkatkan investasi dalam berbagai inovasi material dan proses.

Menurutnya, tanggung jawab untuk menurunkan gas rumah kaca juga ada pada merek fesyen. Mereka perlu bekerja sama dengan para pemimpin swasta dan publik untuk meningkatkan kecepatan dekarbonisasi.

Sementara itu, Stella telah menjadi pionir dalam bidang keberlanjutan dan mode sadar lingkungan selama lebih dari dua dekade. Dirinya telah mengadopsi prinsip-prinsip keberlanjutan yang luas.

Stella pun berhasil memimpin kesadaran fesyen melalui berbagai upaya. Misalnya, berinvestasi pada alternatif yang bebas dari kekejaman, inovasi material dan proses, kemitraan strategis antarindustri. Bahkan, praktik regeneratif dan restorasi alam, ambisi sirkular, transparansi seputar dampak dan komunitas.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/stella-mccartney-memamerkan-fesyen-berkelanjutan-di-cop28/feed/ 0
Tokopedia Hijau Ajak Konsumen Bergaya Hidup Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/aksi/tokopedia-hijau-ajak-konsumen-bergaya-hidup-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tokopedia-hijau-ajak-konsumen-bergaya-hidup-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/aksi/tokopedia-hijau-ajak-konsumen-bergaya-hidup-ramah-lingkungan/#respond Fri, 28 Jul 2023 04:00:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=40969 Jakarta (Greeners) – Tren gaya hidup ramah lingkungan kini semakin ramai berbagai kalangan masyarakat gaungkan. Ecommerce asal Indonesia, Tokopedia juga ikut mendukung hal ini dengan menghadirkan Tokopedia Hijau. Kementerian Lingkungan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tren gaya hidup ramah lingkungan kini semakin ramai berbagai kalangan masyarakat gaungkan. Ecommerce asal Indonesia, Tokopedia juga ikut mendukung hal ini dengan menghadirkan Tokopedia Hijau.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia mengungkap, volume sampah di Indonesia tahun 2022 mencapai 28,7 juta ton. Tokopedia juga ikut berupaya mengurangi sampah dalam “Misi Nol Sampah GoTo 2030”.

Salah satu misinya melalui Tokopedia Hijau, sebuah gerakan yang mengajak masyarakat menerapkan prinsip ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Public Affairs Senior Lead Tokopedia, Aditia Grasio Nelwan mengatakan,Tokopedia terus mengedukasi penjual mengenai pentingnya penerapan bisnis yang lebih ramah lingkungan.

“Kami juga mengajak dan membantu masyarakat dalam berperan aktif menjaga lingkungan dengan membeli produk yang lebih ramah lingkungan lewat halaman khusus Tokopedia Hijau,” kata Aditia dalam keterangannya.

Tren pembelian produk ramah lingkungan di Tokopedia pun meningkat drastis. Bahkan, jumlah transaksi lewat Tokopedia Hijau naik lebih dari 3,5 kali. Hal ini terbukti meningkatkan animo masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia untuk membeli produk ramah lingkungan.

Produk Ramah Lingkungan Makin Digemari

Munculnya Tokopedia Hijau telah menghasilkan respon postif dari para penggunanya. Produk ramah lingkungan yang dijual pada laman Tokopedia Hijau pun semakin digemari.

Bengkalis (Riau), Banyuasin (Sumatra Selatan), dan Temanggung (Jawa Tengah) menjadi beberapa daerah dengan kenaikan tertinggi jumlah pembeli melalui halaman khusus Tokopedia Hijau selama Juni 2023, dengan peningkatan rata-rata lebih dari 3 kali lipat.

Masyarakat di berbagai daerah di Indonesia juga terlihat makin sadar dalam memilih produk ramah lingkungan. Sungai Penuh (Jambi), Trenggalek (Jawa Timur) dan Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan) menjadi beberapa daerah dengan kenaikan tertinggi transaksi melalui Tokopedia Hijau selama Juni 2023.

Gaya Hidup Ramah Lingkungan ala Tokopedia Hijau

Masyarakat bisa mengambil andil dalam melestarikan lingkungan dengan mulai menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Tokopedia memiliki lima tips memulai gaya hidup ramah lingkungan ala Tokopedia Hijau dan merekomendasikan UMKM lokal yang menjual produk eco friendly.

Tips pertama yaitu masyarakat bisa memulai pakai tas belanja daur ulang demi mengurangi limbah kantong plastik. Salah satu UMKM lokal di Tokopedia Hijau yang membuat tas lipat ramah lingkungan adalah Recycling Village. Kemudian, dalam mengurangi limbah tekstil Tokopedia menyarankan masyarakat untuk memakai sustainable fashion

KaIND menjadi UMKM lokal pilihan Tokopedia Hijau yang telah menerapkan prinsip ramah lingkungan pada produk fesyennya. Tips selanjutnya, masyarakat bisa menggunakan peralatan makan yang lebih eco friendly.

Cara lain yang Tokopedia sarankan yaitu gunakan produk kecantikan organik yang ramah kulit dan lingkungan. Tak hanya itu, limbah dari produk kecantikan berbahan alami atau organik cenderung lebih ramah lingkungan. Sebab, tidak mengandung bahan kimia berbahaya.

Tips terakhir, masyarakat bisa mengajak anak mengasah kreativitasnya dari barang bekas. Misalnya penggunaan kembali kardus besar menjadi mainan dan berbagai kreasi lain, yang bisa dikerjakan bersama anak.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/tokopedia-hijau-ajak-konsumen-bergaya-hidup-ramah-lingkungan/feed/ 0
Reramban Kenalkan Ecoprint ke Anak Muda https://www.greeners.co/aksi/reramban-kenalkan-ecoprint-ke-anak-muda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=reramban-kenalkan-ecoprint-ke-anak-muda https://www.greeners.co/aksi/reramban-kenalkan-ecoprint-ke-anak-muda/#respond Sat, 15 Jul 2023 04:00:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=40797 Jakarta (Greeners) – Untuk mendekatkan dan mengenalkan eco fashion ke generasi muda, Ramu Reramban membuat kegiatan ecoprint dengan teknik hapazome. Teknik ini memukul media cetak dengan palu dan kain blacu. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Untuk mendekatkan dan mengenalkan eco fashion ke generasi muda, Ramu Reramban membuat kegiatan ecoprint dengan teknik hapazome. Teknik ini memukul media cetak dengan palu dan kain blacu.

Kegiatan ini Reramban gelar selama 10 hari di Begawan Apartement, Malang, Jawa Timur. Sambil membuat karyanya, pengunjung dipandu oleh EDNA Team, kelompok mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Mereka adalah kelompok yang berkolaborasi dengan brand fesyen lokal, Reramban Ecoprint.

Palu, talenan, dan dua lembar kain blacu penyelenggara sediakan bagi pengunjung. Mereka dapat langsung menata sesuka hati beberapa daun dan bunga yang telah disiapkan di atas kain blacu. Kain blacu pun ditutup dan dipukul-pukul dengan palu hingga pola dari daun yang sudah ditata muncul pada kain penutup dan kain alasnya.

Sesudah itu akan muncul dua hasil cetakan yakni pada kain penutup dan juga alas. Uniknya pengunjung juga bisa menyematkan catatan-catatan kecil untuk sahabat, pasangan, atau diri sendiri. Karya yang telah dibuat pun bisa mereka bawa pulang.

Di balik Ecoprint On The Spot

Dari teknik hapazome, warna daun dapat ‘ditransfer’ kepada kain. Sebelumnya kain blacu telah Reramban bersihkan dan rendam dengan air tawas selama satu malam. Kemudian, kain tersebut diangin-anginkan.

Unsur logam pada tawas itulah yang bertugas mengikat zat warna pada daun ke media kain. Hasil juga jadi lebih maksimal jika kain yang digunakan terbuat dari 100% bahan alami. Daun, batang, atau bunga yang digunakan juga tidak dapat sembarangan.

Pewarna alami harus memiliki kadar air yang pas, tidak terlalu banyak, maupun terlalu sedikit. Sedangkan, untuk membuat produk-produk ecoprint dengan kualitas tinggi dan siap jual diperlukan kombinasi zat logam, teknik, dan daun yang sudah diuji.

“Jujur ini pertama kali aku buat ecoprint. Enggak kepikiran sih aku bisa bikin langsung gini,” kesan Putra, salah satu pengunjung Begawan Apartment yang turut mencoba membuat ecoprint on the spot di acara Ramu Reramban.

Berangkat dari Keresahan

Ramu Reramban berangkat dari keresahan owner Reramban Ecoprint akan lemahnya kesadaran anak muda terhadap fesyen berkelanjutan dan ecoprint. Dari hasil riset tim mahasiswa Ilmu Komunikasi kepada 234 anak muda di Malang Raya, 40 % di antaranya masih menganggap ecoprint mudah luntur dan tidak akan bertahan lama.

“Sebetulnya ada banyak cara untuk menjaga lingkungan dari kita berpakaian. Cukup dimulai dengan upcycle baju yang kita miliki dan tidak melulu beli item fashion hanya karena tergiur dengan harga. Hal itu sudah membantu lingkungan kita jadi lebih baik.” jelas Pemilik Reramban Ecoprint Evi Kurni.

Gerakan ini muncul untuk memotivasi masyarakat agar memilih pakaian dengan bahan yang tahan lama, desain tidak lekang oleh waktu, dan menggunakan pakaian lama kembali.

Harapannya, anak muda jadi lebih paham mengenai cara menjaga lingkungan dan menerapkan green living dari sisi berpakaian.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/reramban-kenalkan-ecoprint-ke-anak-muda/feed/ 0
Miss Universe 2022 Suarakan Pentingnya Fesyen Berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/miss-universe-2022-suarakan-pentingnya-fesyen-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=miss-universe-2022-suarakan-pentingnya-fesyen-berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/miss-universe-2022-suarakan-pentingnya-fesyen-berkelanjutan/#respond Mon, 16 Jan 2023 04:32:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=38629 Perhelatan kontes kecantikan tahunan yakni Miss Universe 2022 telah resmi digelar pada Sabtu, 14 Januari 2023, di New Orleans, Amerika Serikat. Pada acara tersebut gelar Miss Universe 2022 resmi jatuh […]]]>

Perhelatan kontes kecantikan tahunan yakni Miss Universe 2022 telah resmi digelar pada Sabtu, 14 Januari 2023, di New Orleans, Amerika Serikat. Pada acara tersebut gelar Miss Universe 2022 resmi jatuh kepada Miss USA, R’Bonney Gabriel.

Kemenangan Gabriel ini menjadi momentum baru bagi Amerika Serikat semenjak kemenangan Olivia Culpo pada tahun 2012 lalu. Menariknya, Gabriel merupakan orang Filipina – Amerika pertama yang memenangkan ajang bergengsi ini dan mengalahkan 83 kontestan lainnya.

Tidak sekadar cantik dan pintar, perempuan yang lahir pada 20 Maret 1994 di Texas ini juga seorang penggerak dalam fesyen berkelanjutan. Gabriel memiliki latar belakang pendidikan dalam bidang fesyen dan minor dalam bidang kain dari University of North Texas. Ia adalah seorang model dan perancang busana berkelanjutan untuk pakaian ramah lingkungan.

Selain itu, Gabriel merupakan CEO dari lini pakaian berkelanjutan yang ia ciptakan sendiri yakni R’Bonney Nola.

“Mimpi saya adalah memiliki merek fesyen besar yang berfokus pada keberlanjutan. Serta menjadi suara terdepan dalam industri yang mendorong praktik lebih ramah lingkungan,” jelas Gabriel.

Keahlian merancang busana berkelanjutan juga ia tampilkan pada rangkaian acara Miss Universe 2022. Pada kesempatannya, Gabriel beberapa kali merancang gaun kedatangan dan gaun wawancaranya sendiri. Selain ramah lingkungan, Gabriel juga menggabungkan dua budaya Filipina dan Texas yang ia terapkan pada desain gaunnya tersebut.

Selain itu, Miss Universe 2022 ini aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Foto: IG@rbonneynola

Aktif Dalam Beberapa Kegiatan Sosial

Tidak hanya itu, Gabriel juga beberapa kali bergabung dengan kegiatan-kegiatan sosial. Seperti membuka kelas menjahit bagi perempuan penyintas perdagangan manusia dan pada anak-anak sekolah. Pada kegiatan tersebut ia juga memberikan materi fesyen di sekolah-sekolah.

“Saya sangat menyukai desain, jadi saya memberikan kelas pendidikan fesyen kepada anak-anak, karena saya percaya pendidikan dapat memberikan kesempatan yang lebih baik bagi setiap orang,” katanya.

Dalam sesi tanya jawab pada tahap terakhir untuk tiga finalis teratas. Gabriel mengatakan hal-hal apa saja yang ia akan kerjakan ketika menjadi Miss Universe 2022. Salah satu jawabannya adalah kegiatan organisasi yang memberdayakan dan progresif.

“Saya akan terus mengadvokasi tentang fesyen berkelanjutan, dan juga bekerja dengan Smile Train yakni organisasi yang berfokus pada bibir sumbing terbesar di dunia, dan Best Bodies,” ucapnya.

Selama tiga tahun terakhir, Gabriel juga bekerja di rumah desain Magpies & Peacocks yang juga menggunakan bahan-bahan bekas daur ulang pada perjalanannya.

Penulis: Zahra Shafira

Sumber :

GMA Network

Washington Post

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/miss-universe-2022-suarakan-pentingnya-fesyen-berkelanjutan/feed/ 0
Inspiratif! 7 Akun YouTube Ini Bertemakan Fesyen Berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/inspiratif-7-akun-youtube-ini-bertemakan-fesyen-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=inspiratif-7-akun-youtube-ini-bertemakan-fesyen-berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/inspiratif-7-akun-youtube-ini-bertemakan-fesyen-berkelanjutan/#respond Sat, 14 Jan 2023 04:00:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=38612 Platform media sosial, YouTube memiliki konten yang sangat bervariasi. Tidak hanya hiburan, kamu juga bisa mencari konten dengan tema edukasi, lho! Sobat Greeners bisa memilih konten edukasi sesuai dengan keinginan […]]]>

Platform media sosial, YouTube memiliki konten yang sangat bervariasi. Tidak hanya hiburan, kamu juga bisa mencari konten dengan tema edukasi, lho! Sobat Greeners bisa memilih konten edukasi sesuai dengan keinginan masing-masing. Mulai dari pendidikan, politik, tips wawancara kerja, hingga lingkungan.

Nah, bagi Sobat Greeners yang ingin mengetahui isu lingkungan lebih dalam, salah satunya fesyen berkelanjutan atau tips dan trik mengenai isu tersebut. Berikut tujuh akun YouTube yang wajib kamu lihat dan subscribe agar terus menambah pengetahuanmu!

1. Sustainable Lifestyle – Belinda Smetana

Belinda Smetana merupakan seorang pemerhati fesyen dan travel blogger. Dalam konten YouTubenya, Belinda memperlihatkan kehidupan sehari-harinya yang mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan. Beberapa kali ia juga memberikan tips dan trik yang mudah untuk penonton tiru. Seperti tips untuk membeli pakaian yang etis dan ramah lingkungan namun dengan pengeluaran yang lebih minim.

2. Jessica Harumi

YouTuber asal San Diego, Jessica Harumi juga membagikan beberapa tips untuk fesyen berkelanjutan. Ia seringkali memberikan tips mudah untuk membuat lemari kapsul berkelanjutan. Membuat lemari kapsul dapat memudahkan Sobat Greeners untuk mix and match pakaian agar dapat tampil modis tanpa selalu membeli baju baru.

3. Conscious N Chic – Kathleen

Kanal YouTube Conscious N Chic memiliki fokus pada kehidupan etis dan keberlanjutan dalam fesyen, kecantikan, makanan, travelling, dan teknologi. Pada video pertamanya, ia membahas mengenai cara membuat lemari pakaian lebih etis. Serta berinvestasi pada pakaian klasik yang bisa kamu pakai untuk jangka waktu yang lebih lama.

4. Gittemary Johansen

Gittemary Johansen merupakan salah satu YouTuber penggiat lingkungan inspiratif yang membagikan kehidupannya setelah ia memutuskan hidup bebas sampah sejak tahun 2015. Sejak saat itu ia fokus menginspirasi orang lain untuk lebih peduli pada lingkungan. Salah satunya tentang cara untuk mulai mengurangi sampah pakaian.

5. My Green Closet – Verena

My Green Closet merupakan saluran YouTube, blog dan komunitas yang fokus membahas isu slow fashion, green beauty, dan hidup lebih minimalis. Selain memberikan tips edukatif, Verena juga membagikan informasi mengenai fast fashion yang menjadi masalah bagi lingkungan dan kemanusiaan. Ia memberikan gambaran bagaimana industri mode berperan dalam kerja paksa, penggunaan bahan kimia beracun, dan eksploitasi sumber daya bumi.

6. Shelbizleee

Memiliki 318.000 subscriber, Shelbi berfokus pada tips dan trik mengenai eco-minimalism. Pada kanal YouTubenya Sobat Greeners akan menemukan beberapa video tentang kehidupan berkelanjutan, fesyen berkelanjutan, dan minim sampah. Ia juga membagikan tips untuk membuat lemari kapsul dengan mudah untuk beberapa iklim.

7. The Girl Gone Green – Manuela Baron

Lain dari yang lain, pada kanal YouTubenya, Manuela lebih banyak membagikan edukasi dan menginspirasi penontonnya untuk menjadi versi diri yang lebih baik dalam hidup berkelanjutan. Ia fokus pada mode berkelanjutan, eco-travelling, hidup tanpa limbah, daur ulang, dan greenwashing.

Penulis: Zahra Shafira

Editor : Ari Rikin

Sumber:

The Wellness Feed

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/inspiratif-7-akun-youtube-ini-bertemakan-fesyen-berkelanjutan/feed/ 0
Kurangi Sampah, Fanfare Label Luncurkan Denim Daur Ulang https://www.greeners.co/gaya-hidup/kurangi-sampah-fanfare-label-luncurkan-denim-daur-ulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kurangi-sampah-fanfare-label-luncurkan-denim-daur-ulang https://www.greeners.co/gaya-hidup/kurangi-sampah-fanfare-label-luncurkan-denim-daur-ulang/#respond Tue, 15 Nov 2022 03:29:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=37973 Tidak hanya sampah plastik, fesyen juga menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar di dunia. Menurut beberapa sumber, dampak yang dihasilkan tidak main-main. Berdasarkan data dari Our Reworked World, sebanyak 33 […]]]>

Tidak hanya sampah plastik, fesyen juga menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar di dunia. Menurut beberapa sumber, dampak yang dihasilkan tidak main-main. Berdasarkan data dari Our Reworked World, sebanyak 33 juta ton tekstil di Indonesia, satu juta ton di antaranya berakhir menjadi limbah tekstil.

Selain itu, menurut Direktur Asosiasi Daur Ulang Tekstil Inggris Alan Wheeler, industri pakaian berkontribusi sebagai penyumbang polusi terbesar kedua di dunia.

Begitu juga dengan proses pembuatan celana kesayangan kita semua yakni denim. Tidak hanya limbah tekstil, ternyata proses ini bisa mengakibatkan polusi air yang bisa mengancam sungai dan laut menjadi tercemar.

Menjadi pekerja dalam industri fesyen selama beberapa tahun, ternyata Ester Knight juga merasakan kekhawatiran yang sama. Alih-alih meninggalkan industri yang membesarkannya, ia justru membuat brand lokal Inggris berkelanjutan yang fokus pada lingkungan dan sosial bernama Fanfare Label.

Sejalan dengan misinya, Fanfare Label baru saja meluncurkan koleksi denim daur ulang pertamanya yang menggunakan kapas daur ulang pascakonsumsi dan kapas organik. Koleksi ini mereka produksi di pabrik bersertifikat dan terbuat dari 69 % katun organik, 20 % denim daur ulang pascakonsumsi. Kemudian 9 % botol daur ulang dan 2 % poliester daur ulang.

“Kita dapat menggunakan pakaian untuk menekankan perubahan, keadilan, dan kebebasan. Label membuat pakaian unik dengan menggabungkan tekstil lama dan baru,” papar Ester pada situs resmi Fanfare Label.

Denim ini mengantongi sertifikat keberlanjutan dunia. Foto: Fashion United

Denim Kantongi Sertifikat Berkelanjutan Dunia

Fanfare Label juga menggunakan teknologi terbaru untuk mencegah polusi air pada pembuatan denim. Brand lokal Inggris ini menggunakan teknologi laser untuk menentukan warna jeans. Sehingga, hal ini dapat menghemat air hingga 92 % daripada produksi denim secara konvensional pada umumnya.

Karena itu, tidak heran jika denim ini mengantongi empat sertifikat berkelanjutan internasional sekaligus. Seperti Global Organic Textile Standard (GOTS), Global Recycle Standard (GRS), Organic Content Standard (OCS), dan Oeko-Tex.

Meski terbuat dari bahan-bahan daur ulang, jeans keluaran Fanfare Label juga Ester rancang agar memiliki masa waktu pakai yang lama dan mudah untuk didaur ulang. Mereka melepas semua aksesoris dan menggantinya dengan bordir untuk memastikan celana ini dapat mereka daur ulang seluruhnya.

“Fanfare Label menawarkan solusi sederhana untuk masalah fesyen. Koleksi kami menuju perubahan yang positif. Menetapkan standar untuk keberlanjutan dan industri baru yang sangat menghormati manusia dan planet,” jelasnya.

Mereka juga mengurangi jumlah label pada jeans dengan mencetaknya di saku bagian dalam. Bahkan tidak hanya bahan, mereka juga menggunakan kancing dan risleting daur ulang yang dapat konsumen lepas pakai.

Penulis: Zahra Shafira

Sumber:

Situs Resmi Fanfare Label

Fashion United 

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/kurangi-sampah-fanfare-label-luncurkan-denim-daur-ulang/feed/ 0
NoTime “Sulap” Bola Tenis Bekas Menjadi Sepatu Modis https://www.greeners.co/gaya-hidup/notime-sulap-bola-tenis-bekas-menjadi-sepatu-modis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=notime-sulap-bola-tenis-bekas-menjadi-sepatu-modis https://www.greeners.co/gaya-hidup/notime-sulap-bola-tenis-bekas-menjadi-sepatu-modis/#respond Sat, 18 Jun 2022 03:00:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=36481 Perusahaan startup asal Spanyol bernama NoTime berhasil menciptakan produk fesyen menarik dengan memanfaatkan bahan yang tidak biasa. Baru-baru ini, mereka telah menghadirkan koleksi sepatu kets yang hampir seluruh bagiannya terbuat […]]]>

Perusahaan startup asal Spanyol bernama NoTime berhasil menciptakan produk fesyen menarik dengan memanfaatkan bahan yang tidak biasa. Baru-baru ini, mereka telah menghadirkan koleksi sepatu kets yang hampir seluruh bagiannya terbuat dari bola tenis bekas. Perlu Sobat Greeners ketahui, limbah bola tenis merupakan salah satu jenis limbah yang sulit untuk terurai kembali.

“Perlu waktu sekitar 2.500 tahun agar bola tenis dapat terurai sepenuhnya dengan tanah, sedangkan tiap tahunnya terdapat sebanyak 300 juta bola tenis yang terbuang begitu saja. Jika terus dibiarkan, bola-bola tersebut dapat mencemari lingkungan sekitar,” tulis NoTime dalam Kickstarter.

“Bola tenis bekas terbuat dari material yang kuat dan bagus, maka dari itu kami memutuskan untuk mengolahnya kembali menjadi sesuatu yang inovatif. Sepatu adalah salah satunya,” tambah mereka.

NoTime sendiri memanfaatkan bola tenis usang untuk membuat bagian sol dalam pada sepatu. Selain menggunakan bola tenis, mereka juga menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan lainnya seperti kapas organik, rami dan juga botol bekas untuk membuat bagian-bagian lain pada sepatu. Kombinasi dari bahan-bahan tersebut menjadikan sepatu tersebut berbobot ringan, halus dan nyaman untuk digunakan setiap saat. Selain itu, NoTime juga tidak menggunakan pewarna sintetis untuk mewarnai koleksi sepatu mereka.

Selain menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan, NoTime juga menggunakan energi bersih untuk membuat koleksi sepatu mereka. Mereka menggunakan sedikit air dan hanya memanfaatkan energi matahari. Selain itu, seluruh produk yang mereka ciptakan juga dibuat secara handmade atau manual buatan tangan.

“Proses pembuatan sepatu dari bola tenis bekas dibantu oleh para perajin lokal asal Elche, Spanyol. Setiap perajin yang terlibat menerima upah yang adil, memiliki lingkungan kerja yang nyaman dan memiliki jam kerja yang baik,” papar NoTime.

Sepatu dari Bola Tenis Bekas: Sederhana Namun Tetap Modis

Meskipun terbuat dari bola tenis bekas dan botol bekas, sepatu kets kreasi NoTime tetaplah terlihat modis dan menarik. NoTime sendiri membagi koleksi sepatunya ke dalam empat tema, yakni Mountain, Natural, Wood dan Beige.

Seluruh koleksi sepatu yang NoTime hadirkan bersifat uniseks dan memiliki penampilan yang sederhana namun tetap elegan. Mereka mewarnai koleksi sepatunya dengan pilihan warna-warna bernuansa earth tone seperti cokelat, krem, abu-abu dan juga khaki. Setiap pasang sepatu dilengkapi dengan tali dengan warna yang senada.

Sebagai informasi, NoTime juga mengemasi sepatu kreasi mereka dengan kemasan yang juga ramah lingkungan. Mereka menggunakan kemasan dari karton bekas yang dapat kita daur ulang kembali untuk mengemas sepatu dari bola tenis bekas. NoTime menjamin bahwa tidak ada sedikit pun plastik yang mereka gunakan untuk membuat atau mengemas produk-produk mereka.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Kickstarter

Eco Trend Hunter

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/notime-sulap-bola-tenis-bekas-menjadi-sepatu-modis/feed/ 0
Limbah Ikan Berhasil “Naik Kelas” Menjadi Produk Fesyen https://www.greeners.co/ide-inovasi/limbah-ikan-berhasil-naik-kelas-menjadi-produk-fesyen/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=limbah-ikan-berhasil-naik-kelas-menjadi-produk-fesyen https://www.greeners.co/ide-inovasi/limbah-ikan-berhasil-naik-kelas-menjadi-produk-fesyen/#respond Thu, 16 Jun 2022 03:00:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=36456 Seorang pengusaha asal Kenya, Newton Owino, berhasil melakukan sesuatu yang kreatif dan inovatif untuk memanfaatkan kembali limbah ikan. Alih-alih membuangnya begitu saja dan membiarkannya hingga membusuk, Newton memilih untuk mengolah […]]]>

Seorang pengusaha asal Kenya, Newton Owino, berhasil melakukan sesuatu yang kreatif dan inovatif untuk memanfaatkan kembali limbah ikan. Alih-alih membuangnya begitu saja dan membiarkannya hingga membusuk, Newton memilih untuk mengolah kembali limbah tersebut menjadi produk fesyen yang unik.

“Limbah dari ikan yang terbuang dapat menyebabkan masalah lingkungan jika kita biarkan begitu saja,” ujar Newton dalam How We Made It in Africa. “Maka dari itu, kami memilih untuk mengolah kembali bagian-bagian ikan yang terbuang menjadi produk fesyen.”

Newton sendiri mengolah kembali limbah ikan, khususnya bagian kulit, menjadi ikat pinggang, dompet, jaket, hingga sepatu. Namun sebelum diolah menjadi produk fesyen, kulit ikan harus melewati proses penyamakan terlebih dahulu. Kulit ikan yang telah melewati proses penyamakan akan memiliki tekstur yang kuat dan juga elastis. Selain itu, olahan kulit ikan yang sudah siap pakai juga tidak akan berbau amis.

“Kami melakukan penyamakan hanya dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti ekstrak pisang, ekstrak papaya dan ekstrak singkong. Pewarna serta perekat yang kami gunakan juga berasal dari ekstrak tumbuh-tumbuhan dan kulit ikan itu sendiri,” papar Newton.

Selain memanfaatkan kulit ikan, Newton juga memanfaatkan bagian-bagian terbuang lainnya seperti tulang dan sisik. Ia “menyulap” tulang dan sisik ikan menjadi aksesoris unik seperti anting dan hiasan pada sepatu.

Limbah Ikan Sebabkan Beragam Permasalahan Lingkungan

Seperti yang sudah Newton jelaskan sebelumnya, tumpukan limbah ikan yang terabaikan begitu saja dapat menyebabkan beragam permasalahan lingkungan. Hal tersebut dibenarkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat.

Dalam situs resmi EPA, dijelaskan bahwa bagian-bagian ikan yang terbuang dan menumpuk dapat mengotori lingkungan sekitar dan dapat menimbulkan bau busuk. Selain itu, limbah yang telah membusuk juga dapat mengurangi kadar oksigen di kawasan perairan dan dapat menyebarkan penyakit.

Sebagai informasi, Newton bukanlah satu-satunya orang yang berhasil “menghidupkan kembali” limbah ikan dengan mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat. Di Inggris, seorang desainer bernama Antonia Gillet juga berhasil menghadirkan koleksi produk fesyen berupa dompet dengan memanfaatkan limbah kulit salmon. Selain itu, desainer lain bernama Erik de Laurens juga telah mengolah kembali limbah sisik ikan menjadi ubin yang unik.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

How We Made It in Africa

Classic 105

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/limbah-ikan-berhasil-naik-kelas-menjadi-produk-fesyen/feed/ 0
Unwasted, Tas Unik dari Limbah Kulit Anggur https://www.greeners.co/gaya-hidup/unwasted-tas-unik-dari-limbah-kulit-anggur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=unwasted-tas-unik-dari-limbah-kulit-anggur https://www.greeners.co/gaya-hidup/unwasted-tas-unik-dari-limbah-kulit-anggur/#respond Tue, 14 Jun 2022 04:00:32 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=36433 Tidak banyak orang peduli terhadap keberadaan limbah kulit anggur. Limbah tersebut biasanya terbuang begitu saja dan membusuk dengan sia-sia di tempat sampah. Namun Meng Du, seorang desainer asal Tiongkok, berhasil […]]]>

Tidak banyak orang peduli terhadap keberadaan limbah kulit anggur. Limbah tersebut biasanya terbuang begitu saja dan membusuk dengan sia-sia di tempat sampah. Namun Meng Du, seorang desainer asal Tiongkok, berhasil memberikan kehidupan kedua pada kulit anggur yang terbuang dengan mengolahnya kembali menjadi produk fesyen yang bernilai.

Tangan dingin Meng berhasil “menyulap” kulit anggur menjadi tas menarik bernama Unwasted. Untuk menghadirkan koleksi tas Unwasted, Meng memanfaatkan kulit anggur yang berasal dari sisa produksi minuman anggur. Meng sendiri bekerja sama dengan produsen minuman anggur non-alkohol, OddBird, untuk mendapatkan bahan baku.

“Saya berharap keberadaan tas Unwasted dapat membantu menyelesaikan permasalahan lingkungan yang muncul karena tumpukan limbah makanan,” ujar Meng dalam Dezeen. “Saya juga ingin mengajak orang-orang agar lebih peduli terhadap fesyen berkelanjutan dan penggunaan bahan daur ulang melalui tas ini.”

Untuk membuat tas dari limbah kulit anggur, ada beberapa tahapan proses yang harus Meng lakukan. Setelah terkumpul, kulit anggur melewati proses pengeringan dan dihancurkan hingga menjadi serpihan-serpihan kecil. Serpihan kulit anggur selanjutnya akan dicampurkan dengan bahan-bahan alami dan dibentuk hingga menyerupai lembaran kulit.

Sebelum melewati proses pengolahan hingga menjadi tas, kulit alternatif dari kulit anggur harus kembali dikeringkan. Seluruh proses pembuatan tas memakan waktu sekitar empat hingga lima minggu.

Kulit Alternatif dari Limbah Kulit Anggur: Ringan dan Lentur

Meng menjelaskan, kulit alternatif yang ia gunakan untuk membuat tas Unwasted memiliki tekstur dan kualitas yang tidak kalah bagusnya dengan kulit hewan asli. Kulit alternatif berbahan dasar limbah kulit anggur memiliki sifat yang ringan, lentur dan juga bertekstur halus.

“Siapapun dapat merasakan tekstur asli dari limbah kulit anggur ketika menyentuh tas Unwasted. Hal ini dapat menambah keunikan dari tas itu sendiri,” kata Meng. “Setiap bagian dari tas ini memiliki tampilan yang unik.”

Meskipun terbuat dari limbah kulit anggur, tas kreasi Meng tetaplah terlihat menarik. Meng sendiri menghadirkan koleksi tas Unwasted dalam dua tipe, yakni Merlot dan Chardonnay. Tas dengan tipe Merlot memiliki bentuk yang unik menyerupai botol susu, sedangkan tipe Chardonnay berbentuk menyerupai kaleng minuman. Seluruh desain dari tas Unwasted terinspirasi dari benda-benda yang sering Meng temukan di tempat pembuangan sampah.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Dezeen

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/unwasted-tas-unik-dari-limbah-kulit-anggur/feed/ 0
Singapore Airlines Hadirkan Aksesori dari Jaket Pelampung Bekas https://www.greeners.co/gaya-hidup/singapore-airlines-hadirkan-aksesori-dari-jaket-pelampung-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=singapore-airlines-hadirkan-aksesori-dari-jaket-pelampung-bekas https://www.greeners.co/gaya-hidup/singapore-airlines-hadirkan-aksesori-dari-jaket-pelampung-bekas/#respond Sat, 07 May 2022 04:00:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=36048 Alih-alih mengirimkan jaket pelampung bekas ke tempat pembuangan sampah, maskapai penerbangan Singapore Airlines memilih untuk mendaur ulangnya kembali menjadi produk fesyen menarik. Mereka memberikan kehidupan kedua pada jaket pelampung bekas […]]]>

Alih-alih mengirimkan jaket pelampung bekas ke tempat pembuangan sampah, maskapai penerbangan Singapore Airlines memilih untuk mendaur ulangnya kembali menjadi produk fesyen menarik. Mereka memberikan kehidupan kedua pada jaket pelampung bekas dengan mengubahnya menjadi aksesori berupa tas, dompet dan juga pouch.

Untuk mendaur ulang jaket pelampung bekas menjadi aksesori menarik, Singapore Airlines bekerja sama dengan produsen tas bernama Tocco Toscano. Mereka memanfaatkan jaket pelampung bekas milik Singapore Airlines yang sudah kedaluwarsa dan tidak bisa digunakan lagi. Tidak seperti pelampung biasa, jaket pelampung umumnya memiliki usia pakai yang terbatas demi alasan keamanan.

Selain memanfaatkan jaket pelampung bekas, Singapore Airlines dan Tocco Toscano juga menggunakan kulit alternatif vegan untuk membuat koleksi aksesori. Mereka menggunakan kulit alternatif berbahan dasar kulit apel untuk membuat beberapa bagian dalam aksesori. Selain itu, mereka juga menggunakan bahan lain berupa sabuk pengaman bekas untuk membuat tali pada tas.

“Mendaur ulang jaket pelampung bekas menjadi aksesori merupakan upaya awal kami untuk memulai komitmen berkelanjutan,” tulis Tocco Toscano dalam situs resmi mereka. “Kami juga ingin menyediakan produk fesyen alternatif yang vegan serta ramah lingkungan demi masa depan yang lebih baik.”

Tetap Mempertahankan Desain Asli Jaket Pelampung Singapore Airlines

Singapore Airlines dan Tocco Toscano tetap mempertahankan desain asli dari jaket pelampung yang mereka gunakan untuk membuat koleksi aksesori. Seluruh koleksi aksesori yang mereka ciptakan memiliki penampilan apa adanya. Tidak ada penambahan warna, tidak ada penambahan pernak-pernik yang berlebih dan tidak ada perubahan motif sedikit pun. Meski demikian, hal tersebut menambah keunikan tersendiri pada aksesori-aksesori yang mereka ciptakan.

Masing-masing aksesori kreasi Singapore Airlines dan Tocco Toscano memiliki penampilan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.  Hal ini tentu saja menambah keeksklusifan dari aksesori-aksesori tersebut. Setiap koleksi aksesori didominasi oleh warna kuning cerah yang merupakan warna asli dari jaket pelampung. Apabila Sobat Greeners menyukai produk-produk fesyen yang nyentrik dan lain daripada yang lain, aksesori ini bisa dijadikan pilihan.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Yanko Design

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/singapore-airlines-hadirkan-aksesori-dari-jaket-pelampung-bekas/feed/ 0
Hyundai “Sulap” Limbah Kendaraan Menjadi Produk Fesyen https://www.greeners.co/gaya-hidup/hyundai-sulap-limbah-kendaraan-menjadi-produk-fesyen/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hyundai-sulap-limbah-kendaraan-menjadi-produk-fesyen https://www.greeners.co/gaya-hidup/hyundai-sulap-limbah-kendaraan-menjadi-produk-fesyen/#respond Tue, 03 May 2022 03:00:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=36017 Perusahaan otomotif ternama asal Korea Selatan, Hyundai, kembali menghadirkan koleksi fesyen yang tidak biasa. Setelah meluncurkan koleksi tas dari limbah kendaraan berupa jok dan sabuk pengaman usang, mereka kini menghadirkan […]]]>

Perusahaan otomotif ternama asal Korea Selatan, Hyundai, kembali menghadirkan koleksi fesyen yang tidak biasa. Setelah meluncurkan koleksi tas dari limbah kendaraan berupa jok dan sabuk pengaman usang, mereka kini menghadirkan koleksi busana yang terbuat dari airbag bekas. Adapun koleksi tersebut tergabung dalam seri Re:Style 2021.

Bekerja sama dengan rumah mode L’Eclaireur dan Boontheshop, Hyundai menghadirkan 12 produk fesyen daur ulang yang ramah lingkungan. Selain menggunakan limbah kendaraan berupa airbag bekas, mereka juga memproduksi pakaian dengan memanfaatkan bioplastik dan serat daur ulang. Pada beberapa pakaian, penggunaan sabuk pengaman bekas juga ditambahkan.

“Kami terus meningkatkan kolaborasi dengan berbagai industri di seluruh dunia untuk mengantarkan masa depan yang berkelanjutan,” ujar Thomas Schemera, Kepala Pemasaran Global dan Kepala Divisi Pengalaman Pelanggan dari Hyundai Motor Company, dalam situs resmi Hyundai. “Kehadiran Re:Style 2021 merupakan bukti bahwa limbah kendaraan juga bisa kita gunakan kembali secara kreatif dalam industri fesyen.”

Sebagai informasi, hasil dari penjualan koleksi busana Re:Style 2021 akan Hyundai gunakan untuk berbagai proyek berkelanjutan mereka di masa depan. Perlu kita ketahui, perusahaan otomotif ini berencana untuk menjadi perusahaan dengan nol jejak karbon pada tahun 2045 mendatang.

Re:Style 2021, Fesyen untuk Generasi Milenial dan Gen Z

Hyundai sendiri menghadirkan koleksi Re:Style 2021 yang berfokus pada kenyamanan dan fleksibilitas. Koleksi Re:Style 2021 sendiri terdiri dari berbagai macam jenis pakaian, seperti kaus, hoodies, sweter, celana pendek dan juga celana jogger. Seluruh pakaian bersifat uniseks sehingga dapat digunakan oleh siapapun, baik pria maupun wanita.

Meskipun terbuat dari limbah kendaraan seperti airbag dan sabuk pengaman bekas, koleksi busana Re:Style 2021 tetaplah terlihat modis. Pakaian dalam seri ini memiliki penampilan yang simpel dan kasual namun tetap terkesan modern. Seluruh koleksi pakaian didominasi oleh warna-warna gelap dan netral seperti hitam, abu-abu, serta hijau army.

Hyundai menjelaskan bahwa koleksi Re:Style 2021 mereka rancang secara khusus untuk para fashionista dari generasi milenial dan Gen Z. Mereka menyadari bahwa kedua generasi tersebut memiliki kesadaran fesyen yang tinggi dan lebih menyukai desain pakaian yang nyaman dan sederhana.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Situs Resmi Hyundai

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/hyundai-sulap-limbah-kendaraan-menjadi-produk-fesyen/feed/ 0
Batang Pisang Berhasil “Naik Kelas” Menjadi Pakaian Modis https://www.greeners.co/gaya-hidup/batang-pisang-berhasil-naik-kelas-menjadi-pakaian-modis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=batang-pisang-berhasil-naik-kelas-menjadi-pakaian-modis https://www.greeners.co/gaya-hidup/batang-pisang-berhasil-naik-kelas-menjadi-pakaian-modis/#respond Mon, 25 Apr 2022 04:13:59 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=35972 Perusahaan makanan dan minuman Dole Sunshine telah bermitra dengan rumah fesyen asal Filipina, Musa Fabric, untuk menghadirkan produk fesyen berkelanjutan yang tidak biasa. Baru-baru ini, mereka telah menciptakan pakaian modis […]]]>

Perusahaan makanan dan minuman Dole Sunshine telah bermitra dengan rumah fesyen asal Filipina, Musa Fabric, untuk menghadirkan produk fesyen berkelanjutan yang tidak biasa. Baru-baru ini, mereka telah menciptakan pakaian modis yang sepenuhnya terbuat dari batang pisang pasca panen. Upaya ini mereka lakukan guna mengurangi timbulan limbah perkebunan pisang di Filipina yang terus menumpuk setiap tahunnya.

“Tidak seperti buahnya, batang pisang sering dianggap tidak berguna. Lebih dari 4,4 juta batang pisang terbuang sia-sia setiap tahun di Filipina,” tulis Dole Sunshine dalam situs resmi mereka. “Jika kondisi ini terus kita abaikan, limbah pisang dapat menghasilkan sekitar 258.720 ton emisi setara karbon dioksida (CO2e).”

Meskipun sering dipandang sebelah mata, limbah batang pisang rupanya menyimpan segudang potensi dalam dunia fesyen. Limbah tersebut kaya akan serat yang kuat, kokoh, namun tetap bertekstur lembut setelah melewati proses ekstraksi. Fitur-fitur tersebut menjadikan limbah batang pohon pisang layak untuk dijadikan bahan utama pembuat kain berkelanjutan. Untuk mengolah batang ini menjadi lembaran kain, Dole Sunshine dan Musa Fabric bekerja sama dengan Yayasan Kasilak.

Setelah serat batang tersebut berhasil “naik kelas” menjadi kain, kain tersebut akan melewati proses perancangan sedemikian rupa hingga menjadi produk-produk fesyen yang modis. Dole Sunshine dan Musa Fabric menghadirkan koleksi fesyen seperti pakaian, tas, topi, sepatu dan aksesoris lainnya dari kain limbah pisang. Desainer sekaligus pendiri Musa Fabric, Joy Soo, merupakan “otak” di balik seluruh desain dari pakaian modis tersebut.

“Koleksi pakaian dari serat batang pisang yang kami ciptakan mendapatkan banyak apresiasi di New York Fashion Week 2022,” ujar Joy dalam VegNews. “Kehadiran koleksi ini diharapkan dapat mengajak penikmat mode di seluruh dunia untuk semakin sadar atas pilihan fesyen mereka.”

Ajak Masyarakat Terpinggirkan untuk Berkarya

Dole Sunshine dan Musa Fabric menghadirkan koleksi fesyen dari limbah batang pisang yang beretika bagi lingkungan dan kemanusiaan. Untuk membuat lembaran kain dari serat-serat batang pohon pisang, mereka mengajak masyarakat yang terpinggirkan untuk turut berkarya. Mereka mengajak masyarakat terpinggirkan yang berasal dari dataran tinggi Bukidnon, Filipina. Selain itu, mereka juga mengajak para narapidana wanita dan pria di Lembaga Permasyarakatan Davao del Norte untuk berkreasi.

“Selain ingin menghadirkan koleksi fesyen ramah lingkungan, kami juga ingin menciptakan lapangan pekerjaan yang berkelanjutan bagi masyarakat yang terpinggirkan. Kami juga ingin meningkatkan keterampilan kerja para narapidana agar mereka dapat memperoleh kehidupan yang bermakna setelah bebas nanti,” ujar Christian Wiegele, Presiden Grup Produk Segar dari Dole Sunshine.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Situs Resmi Dole Sunshine

VegNews

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/batang-pisang-berhasil-naik-kelas-menjadi-pakaian-modis/feed/ 0
Junes, Tas Jinjing Ramah Lingkungan dengan Misi Kemanusiaan https://www.greeners.co/gaya-hidup/junes-tas-jinjing-ramah-lingkungan-dengan-misi-kemanusiaan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=junes-tas-jinjing-ramah-lingkungan-dengan-misi-kemanusiaan https://www.greeners.co/gaya-hidup/junes-tas-jinjing-ramah-lingkungan-dengan-misi-kemanusiaan/#respond Wed, 02 Mar 2022 04:24:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=35444 Upaya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai kini semakin gencar dilakukan, termasuk oleh para pelaku industri fesyen. Seorang desainer bernama Janean Mann telah menghadirkan koleksi tas jinjing cantik yang dapat mengurangi […]]]>

Upaya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai kini semakin gencar dilakukan, termasuk oleh para pelaku industri fesyen. Seorang desainer bernama Janean Mann telah menghadirkan koleksi tas jinjing cantik yang dapat mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai. Junes merupakan nama dari tas jinjing tersebut.

“Kami ingin mengajak masyarakat agar selalu semangat dalam upaya mengurangi polusi sampah plastik. Kami berharap kehadiran tas jinjing ini dapat membantu upaya tersebut,” tulis Janean dalam situs resmi Junes.

Tidak seperti tas jinjing pada umumnya, tas jinjing Junes terbuat dari bahan-bahan berkelanjutan yang ramah lingkungan. Mereka menggunakan kain eco-friendly bernama Bio-Knit yang terbuat dari serat plastik daur ulang. Zat khusus bernama CiCLO juga ditambahkan dalam kain Bio-Knit dan zat tersebut dapat mengurai kain hingga sepenuhnya terurai dengan tanah.

Dalam situs resmi Junes, Janean menjelaskan bahwa tas jinjing mereka merupakan tas yang kuat dan dapat bertahan lama. Siapa pun dapat menggunakan tas tersebut untuk berbagai kebutuhan, termasuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Meski memiliki daya tahan yang baik, kain pada tas tersebut akan melunak seiring waktu pada saat kita cuci.

Selain menggunakan kain ramah lingkungan, Janean juga selalu memastikan agar seluruh tas jinjing Junes dapat didistribusikan secara berkelanjutan. Ia memastikan bahwa seluruh proses pembuatan tas jinjing tidak akan berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan, mulai dari hulu hingga ke hilir.

Junes Ajak Wanita untuk Terus Berkarya

Junes merupakan tas jinjing ramah lingkungan yang juga dibekali dengan misi kemanusiaan. Selain berkeinginan untuk menyelamatkan planet bumi dari polusi sampah plastik, Janean juga ingin mengajak para wanita untuk berkarya.

Janean mengajak para wanita di kawasan El Paso dan Juarez untuk terus berkarya dan menjadi semakin mandiri bersama Junes. Selain itu, Janean juga ingin membebaskan wanita di kedua kawasan tersebut dari jeratan human trafficking dan kekerasan.

“Bagi kami, kepedulian terhadap hak-hak perempuan dan masa depan planet ini berjalan beriringan. Sudah menjadi kewajiban kami untuk memastikan setiap hal yang kami bawa ke dunia ini bergerak ke arah yang benar,” ujar Janean. “Kami akan berkomitmen untuk hal itu, selalu.”

Sebagai informasi, tas jinjing Junes terdiri dari berbagai varian warna yang menarik seperti hitam, putih, krem dan masih banyak lagi. Kebanyakan dari tas tersebut bersifat unisex sehingga dapat digunakan oleh siapapun.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Situs Resmi Junes

Inhabitat

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/junes-tas-jinjing-ramah-lingkungan-dengan-misi-kemanusiaan/feed/ 0
Inilah Prediksi Tren Fesyen Berkelanjutan di Tahun 2022 https://www.greeners.co/gaya-hidup/inilah-prediksi-tren-fesyen-berkelanjutan-di-tahun-2022/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=inilah-prediksi-tren-fesyen-berkelanjutan-di-tahun-2022 https://www.greeners.co/gaya-hidup/inilah-prediksi-tren-fesyen-berkelanjutan-di-tahun-2022/#respond Fri, 31 Dec 2021 04:38:21 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=34821 Dalam beberapa tahun terakhir, popularitas fesyen berkelanjutan atau sustainable fashion nampaknya terus mengalami peningkatan. Hal tersebut terbukti dengan semakin banyaknya rumah mode yang berlomba-lomba dalam menawarkan produk fesyen beretika. Selain […]]]>

Dalam beberapa tahun terakhir, popularitas fesyen berkelanjutan atau sustainable fashion nampaknya terus mengalami peningkatan. Hal tersebut terbukti dengan semakin banyaknya rumah mode yang berlomba-lomba dalam menawarkan produk fesyen beretika. Selain itu, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya memegang prinsip quality over quantity dalam memilih produk fesyen juga semakin meningkat.

Tren fesyen berkelanjutan akan terus mengalami perkembangan dan perubahan di setiap tahunnya. Melansir dari The Ethos, inilah beberapa prediksi tren fesyen berkelanjutan yang akan muncul di tahun 2022.

1. Tren Fesyen Berkelanjutan 2022: Ucapkan Selamat Tinggal pada Kulit dan Bulu Hewan

Pada tahun 2022, penggunaan material hewani dalam dunia fesyen akan semakin berkurang karena tidak sejalan dengan prinsip fesyen berkelanjutan. Beberapa rumah mode ternama seperti Valentino dan Prada bahkan telah menghentikan penggunaan kulit dan bulu hewan dalam produk fesyen mereka. Sebagai gantinya, kini para pelaku industri fesyen mulai beralih terhadap penggunaan tekstil berbasis bio.

2. Penggunaan Kulit Alternatif Berbasis Tumbuhan Semakin Meningkat

Penggunaan kulit alternatif berbasis tumbuhan kemungkinan besar akan terus mengalami peningkatan di tahun 2022. Selain lebih ramah lingkungan, kulit alternatif tersebut juga dibuat secara beretika karena tidak menyakiti hewan. Pelaku industri fesyen berkelanjutan kini mulai beralih terhadap penggunaan kulit alternatif berbahan dasar kaktus, nanas, apel, hingga miselium.

3. Penggunaan Produk Fast Fashion Semakin Tertinggal

Para ahli mode memprediksi bahwa penggunaan produk fesyen berkelanjutan yang awet dan bersifat evergreen akan semakin populer di tahun 2022. Itu berarti, penggunaan produk fesyen cepat atau fast fashion akan semakin tertinggal. Produk fesyen cepat memang memiliki harga yang murah, namun produk tersebut juga berkualitas rendah dan kebanyakan diproduksi secara tidak etis.

4. Munculnya “Paspor” untuk Setiap Profuk Fesyen Berkelanjutan

Kemunculan “paspor” untuk setiap produk fesyen berkelanjutan akan menjadi tren di tahun 2022. Pada masa mendatang, setiap produk fesyen akan memiliki “paspor” berupa kode QR yang memuat beragam informasi mengenai produk tersebut. Dengan adanya “paspor” tersebut, para konsumen dapat mengetahui asal usul pakainnya secara lebih detail dan dapat lebih menghargai kerja keras para pembuat pakaian.

5. Semakin Mengutamakan Keberagaman

Setiap manusia memiliki tubuh dan kebutuhan yang berbeda-beda. Namun sayang, perbedaan tersebut terkadang dapat menimbulkan kesulitan ketika kita harus memilih pakaian. Tapi jangan khawatir, para ahli mode meyakini bahwa tren fesyen berkelanjutan di tahun 2022 akan semakin mengutamakan keberagaman.

Pada tahun 2022, akan tersedia banyak pakaian dalam beragam jenis dan ukuran. Selain itu, pakaian adaptif untuk mereka yang berkebutuhan khusus juga akan semakin mudah ditemukan. Pakaian pada masa mendatang dapat membuat pemakainya merasa lebih menjadi diri sendiri dan semakin mencintai tubuh mereka.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

The Ethos

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/inilah-prediksi-tren-fesyen-berkelanjutan-di-tahun-2022/feed/ 0
KALLA Rona Lahirkan Pakaian Berbahan Dasar Kain Kasa https://www.greeners.co/gaya-hidup/kalla-rona-lahirkan-pakaian-berbahan-dasar-kain-kasa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kalla-rona-lahirkan-pakaian-berbahan-dasar-kain-kasa https://www.greeners.co/gaya-hidup/kalla-rona-lahirkan-pakaian-berbahan-dasar-kain-kasa/#respond Sun, 12 Dec 2021 03:00:39 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=34641 Jakarta (Greeners) – Sebuah brand fesyen asal Jakarta, KALLA rona menunjukkan komitmennya dalam fesyen berkelanjutan. Brand fesyen yang baru lahir pada 2021 ini menyulap kain kasa menjadi wearable art. KALLA […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sebuah brand fesyen asal Jakarta, KALLA rona menunjukkan komitmennya dalam fesyen berkelanjutan. Brand fesyen yang baru lahir pada 2021 ini menyulap kain kasa menjadi wearable art. KALLA rona merupakan brand pakaian wanita. Kata kalla memiliki arti paling cantik dan rona adalah warna.

Bagi kamu penikmat fesyen pasti sangat suka melihat koleksi pertama mereka, yang tidak hanya mengusung konsep ramah lingkungan. KALLA rona juga merancang produk mereka dengan gaya kontemporer yang sedang naik daun belakangan ini.

Founder KALLA rona, Pindo Saraswati mengatakan bahwa inisiasinya terbentuk berdasarkan kekhawatirannya terhadap kondisi bumi saat ini. Ia juga menyayangkan sikap produsen yang hanya mementingkan keuntungan pribadi dari pada keadaan lingkungan yang menjadi sumber kehidupan bagi manusia.

“Keadaan lingkungan kita tuh semakin memburuk belakangan ini karena banyak limbah mulai dari padat, cair, gas dan lainnya yang merusak lingkungan salah satunya itu penyebabnya karena fast fashion,” kata Pindo kepada Greeners, baru-baru ini.

Dengan itu, ia mendirikan KALLA rona dengan harapan dapat mengurangi dampak limbah yang akan alam terima. Lebih lanjut, KALLA rona juga memiliki misi untuk menjangkau dan mengedukasi anak muda untuk bijak memilih pakaian dengan bahan yang lebih ramah lingkungan.

”Misi KALLA rona itu untuk menginspirasi generasi muda untuk lebih memperhatikan peduli dan ikut menjaga lingkungan melalui pesan yang disampaikan dalam setiap desainnya,” ungkapnya.

Bahan Kain Kasa Cocok dengan Iklim Indonesia

Sebagai penerapan konsep sustainable fesyen, KALLA rona sangat memperhatikan jenis kain yang akan menjadi bahan pokok untuk produk mereka. Alih-alih menggunakan kain ramah lingkungan yang sudah umum, pilihan Pindo jatuh kepada kain kasa.

Kain kasa biasanya masyarakat gunakan untuk menutup luka agar terhindar dari kontaminasi bakteri. Namun, setelah melakukan riset dan pengembangan, kain kasa tersebut sukses ia jadikan pakaian yang dapat menarik minat konsumen.

“KALLA rona menggunakan bahan material utama yang tidak biasa, itu kain kasa. Jadi kain kasa itu banyak manfaatnya ternyata selain untuk pengobatan luka dan lain-lain, setelah sempat aku coba-coba oh ini bisa nih jadi baju. Jadi kayak awalnya trial and error aja terus kemudian oh ini bisa jadi pakaian,” ucapnya.

Tidak hanya mudah untuk menyerap keringat yang sesuai dengan iklim di Indonesia. Kain kasa juga terbuat dari benang gelatin yang berasal dari ekstrak rumput laut coklat, sehingga kain kasa dapat terurai dengan mudah di tanah. “Karena dia memang bahan organik jadi gampang terurai dan bisa di recycle juga,” tuturnya.

Untuk mengubah kain kasa menjadi pakaian, menurut Pindo hal itu memerlukan waktu yang lama karena terdapat campur tangan alam pada prosesnya. Dalam hal ini, KALLA rona bekerja sama dengan pengrajin di Yogjakarta untuk mengolah kain kasa hingga menjadi kain yang sudah siap untuk dipola.

Gunakan Pewarna Alami dari Tumbuhan

Sesuai dengan arti namanya, yakni warna yang paling cantik, KALLA rona fokus terhadap penggunaan pewarna alami tumbuhan. Karena KALLA rona ingin membuktikan bahwa pewarna tumbuhan tidak kalah cantik dengan pewarna tekstil berbahan kimia.

Warna-warna alami tumbuhan tersebut antara lain secang untuk warna pink dan ungu. Kemudian indigo untuk warna biru, tegeran untuk warna kuning dan orange. Lalu daun jenitri untuk warna hijau, dan tingi yang digunakan untuk warna peach.

Pindo mengungkapkan untuk proses pemberian warna pada kain kasa akan memakan waktu dua hingga tiga minggu pengerjaan. Hal itu bergantung pada alam karena proses pengeringan bergantung pada cuaca dan matahari.

“Setiap warna yang kita keluarin itu di bulan berikutnya mungkin bisa berbeda sedikit. Hal ini karena memang warnanya itu dipengaruhi oleh sinar matahari juga jadi nggak bisa sama 100 %,” jelas Pindo.

Setelah proses pengolahan dan pewarnaan selesai, kain tersebut akan dikirim ke Jakarta dan masuk ke dalam tahap desain serta proses menjahit. Sehingga panjang waktu produksi pakaian KALLA rona secara total yaitu selama kurang lebih satu bulan lamanya. Hal ini juga menjadi faktor pertimbangan Pindo untuk memproduksi satu model hanya sebanyak satu lusin saja. Karena ingin menghindari produk sisa dan sisa kain pada saat proses produksi.

KALLA Rona Ajak Konsumen Jaga Keindahan Laut

Sebagai koleksi perdana, KALLA rona mengeluarkan koleksi bertajuk ”euphoric of the sea”. Rancangan desain ini terinspirasi oleh keindahan laut Indonesia. Terdapat 3 desain produk pada koleksi pertama ini, yakni ombak seamless top, samudera seamless shirt dan tepi laut reversible bralette.

Selain bahan dasar kain, pewarna alami dan desain, KALLA rona juga memakai kemasan yang sudah 100 % terhindar dari plastik sekali pakai. Tag dan greeting card bawaan dari produk KALLA rona juga merupakan plantable paper atau kertas yang sudah memiliki bibit bayam. Sobat Greeners dapat segera menanam dan merawatnya hingga bayam tersebut tumbuh.

“Masalah lingkungan lebih dari sekadar desain untuk kita, dari produksi hingga kemasan. Kami sudah mempertimbangkan dampak terbaik dalam membuat brand kami ramah lingkungan,” tuturnya.

Untuk menyebarkan edukasinya kepada konsumen, KALLA rona mengadakan kampanye dengan tagar #akusuKALLAut. Tagar ini dapat konsumen gunakan dan sebarkan sebagai pengingat bahwa telah berpartisipasi untuk tidak mencemari air ke laut setelah pembelian produk KALLA rona.

“Lewat #akusuKALLAut itu berarti kayak setiap ada yang memakai atau membeli itu udah ikut berpartisipasi untuk peduli sama lingkungan laut dengan tidak mencemari air dengan pewarna tekstil kimia berbahaya,” katanya.

Penulis : Zahra Shafira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/kalla-rona-lahirkan-pakaian-berbahan-dasar-kain-kasa/feed/ 0
Sertifikasi Hutan Dorong Hadirnya Fesyen Berkelanjutan https://www.greeners.co/aksi/sertifikasi-hutan-dorong-hadirnya-fesyen-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sertifikasi-hutan-dorong-hadirnya-fesyen-berkelanjutan https://www.greeners.co/aksi/sertifikasi-hutan-dorong-hadirnya-fesyen-berkelanjutan/#respond Fri, 10 Dec 2021 07:06:26 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=34532 Jakarta (Greeners) – Geliat dunia fesyen perlu dicermati. Sebab tidak semua fesyen yang muncul punya jejak berkelanjutan. Berkembangnya kebutuhan pakaian, menjadikan industri ini sebagai kontributor utama mikroplastik yang berakhir di […]]]>

Jakarta (Greeners) – Geliat dunia fesyen perlu dicermati. Sebab tidak semua fesyen yang muncul punya jejak berkelanjutan. Berkembangnya kebutuhan pakaian, menjadikan industri ini sebagai kontributor utama mikroplastik yang berakhir di lautan. Selain itu menghasilkan 20 % air limbah dunia, meningkatkan emisi gas rumah kaca dan pemanasan global. Insiasi sertifikasi hutan lahir untuk mendorong lahirnya dunia fesyen yang ramah lingkungan.

Industri fesyen berkelanjutan memiliki tantangan. Untuk menjawab tantangan tersebut, Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC) dan Indonesian Forestry Certification Cooperation–Kerja sama Sertifikasi Kehutanan (IFCC-KSK) melihat hutan berperan mendorong fesyen berkelanjutan.

Keduanya menerapkan sistem sertifikasi hutan sebagai pengelolaan hutan berkelanjutan dan pelacakan bahan dasar dari sumber. Pengelolalaan hutan ini menghasilkan serat hutan alam yang terbarukan dan memiliki potensi besar untuk membuat industri fesyen lebih berkelanjutan.

Sustainable Fashion Consultant, Deepa Hingorani menyebut sebuah brand harus memiliki tanggung jawab dan mencari peluang untuk menciptakan fesyen yang berkelanjutan. Selain itu, industri fesyen seharusnya juga dapat memberikan kesejahteraan ekonomi bagi mereka yang terlibat di dalamnya.

“Sebuah brand dapat menggunakan bahan yang berdampak minimal dan juga kita bisa menghormati batasan planet. Juga, setidaknya kita bisa membayar pekerja kita dengan upah hidup layak dan juga menerapkan standar sosial yang kuat,” kata Deepa pada webinar Fashion Change, Forest stay, baru -baru ini. 

Mengatasi dampak sosial dan lingkungan juga harus berjalan secara bersamaan. Melalui sertifikasi ini, konsumen fesyen juga dapat mendukung konservasi hutan serta keanekaragaman hayatinya.

Lindungi Hutan Dengan Sertifikasi Hutan

Hutan memberikan banyak manfaat bagi kehidupan makhluk hidup, selain sumber oksigen hutan juga merupakan sumber bahan baku kebutuhan manusia. Sejalan dengan Undang-Undang Republik Indonesia No 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan, terdapat tiga fungsi penting dari hutan. Fungsi tersebut yakni fungsi konservasi, perlindungan dan fungsi produksi. 

Berdasarkan hal tersebut, PEFC dan IFCC mengembangkan skema sertifikasi hutan di Indonesia, untuk mendorong pengelolaan hutan lestari. PEFC merupakan sistem global yang mendorong 48 sistem sertifikasi hutan nasional, salah satu anggota nasional di Indonesia yakni IFCC. Saat ini, jumlah hutan yang telah bersertifikasi di Indonesia mencakup 74 perusahaan dengan luas sebanyak  3,99 juta hektare.

Sertifikasi ini berguna bagi pengelola hutan, memastikan rantai pasok bahan baku produk pakaian dari hutan. Hal ini juga membantu pelacakan untuk menghubungkan pengelolaan hutan yang baik dengan produk hasilnya.

Marketing PEFC, Julia Kozlik mengatakan, mereka bekerja sama dengan berbagai industri dan produk, seperti mebel, kemasan kertas dan tekstil. Menurutnya, penggunaan dan pemanfaatan serat kayu pada pakaian masih terus akan berkembang.

“karena itu kami merasa penting sekali bekerja sama pada industri fesyen untuk memasok secara berkelanjutan dan bagaimana kita memberikan kontribusi tersebut kembali pada alam,” jelas Julia.

Lebih lanjut, sertifikasi hutan ini juga mempunyai tujuan yaitu melindungi, menjaga keragaman hayati yang berada di dalamnya. Sertifikasi juga menjamin sumber daya hutan dan memastikan tidak adanya bahan kimia yang masuk ke dalam tanah atau air agar hutan tersebut tidak rusak. 

“Selain itu ini juga terkait dengan masyarakat. Kita berusaha mendorong perlindungan hak masyarakat hutan dan pekerja hutan,” imbuhnya.

Dorong Terciptanya Fesyen Berkelanjutan

Dengan adanya sertifikasi ini, membuat segala produk yang bersumber dari hutan mempunyai kualitas yang tinggi. Salah satunya adalah kain rayon viscose, serat kain ramah lingkungan ini bersumber dari kayu pulp yang ditanam pada hutan tanaman industri atau (HTI) hutan berkelanjutan. Kawasan HTI ini merupakan hutan yang memiliki fungsi untuk produksi. Untuk menghasilkan rayon viscose bersertifikasi, harus bersumber dari hutan yang bersertifikasi PEFC.

Promotions and Institutional Relations IFCC, Ragita Wirastri mengungkapkan, IFCC juga mendukung fesyen berkelanjutan dengan meningkatkan awareness masyarakat. Penyadartahuan ini salah satunya pada kain batik yang terbuat dari kain viscose rayon yang berkelanjutan yang dihasilkan dari hutan berkelanjutan.

“Bagaimana kita tahu bahwa ini dipasok dari hutan berkelanjutan caranya dengan melihat sertifikasi chain of custody (COC) jadi perjalanannya yang bisa kita lacak,” papar Ragita.

Melalui program sertifikasi ini, memudahkan produsen dan konsumen dapat melacak sumber bahan baku dan bagaimana bahan-bahan pakaian tersedia. 

Penulis : Zahra Shafira

]]>
https://www.greeners.co/aksi/sertifikasi-hutan-dorong-hadirnya-fesyen-berkelanjutan/feed/ 0
TAN’S Label, Fesyen Pengusung Keberlanjutan Lingkungan dan Sosial https://www.greeners.co/gaya-hidup/tans-label-fesyen-pengusung-keberlanjutan-lingkungan-dan-sosial/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tans-label-fesyen-pengusung-keberlanjutan-lingkungan-dan-sosial https://www.greeners.co/gaya-hidup/tans-label-fesyen-pengusung-keberlanjutan-lingkungan-dan-sosial/#respond Sun, 21 Nov 2021 04:16:18 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=34347 Jakarta (Greeners) – Sobat Greeners, saat ini telah banyak brand lokal yang sudah mengarah kepada fesyen berkelanjutan lho. Untuk kamu yang saat ini ingin atau telah menerapkan pola hidup ramah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sobat Greeners, saat ini telah banyak brand lokal yang sudah mengarah kepada fesyen berkelanjutan lho. Untuk kamu yang saat ini ingin atau telah menerapkan pola hidup ramah lingkungan, fesyen berkelanjutan dapat menjadi pilihan. Seperti brand lokal TAN’S Label yang mengusung produk ramah lingkungan, mulai dari bahan dan kemasan.

Tan’s Label merupakan brand pakaian wanita asal Jakarta yang berdiri pada Februari tahun 2020. Produknya antara lain atasan kemeja dan blouse, celana, rok dan dress. Sebelum mendirikan TAN’S Label, Nicole Latip inisiator TAN’S memang sudah tertarik dengan fesyen industri dan mendesain pakaiannya sendiri. Namun setelah mendalami hal tersebut, Nicole menemukan beberapa fakta bahwa limbah pakaian sangat berkontribusi besar terhadap kerusakan lingkungan.

Sejak saat itu, ia mencari beberapa opsi bahan pakaian yang lebih ramah lingkungan dan mendirikan TAN’S Label. Sadar dengan edukasi dan informasi limbah pakaian yang masih minim di Indonesia, ia ingin TAN’S Label juga dapat terbuka pada konsumen mengenai bahan dan proses produksinya. Nicole mendirikan brand ini dengan beberapa prinsip utama, yakni slow fashion dan ethical fashion.

“Dampak industri fesyen tidak hanya bagi lingkungan, ini dampaknya juga terhadap manusia-manusia yang bersangkut paut dengan industri fesyen. Jadi kita ingin melakukan upaya berkelanjutan terhadap lingkungan dan juga manusia-manusia yang memakai dan juga memproduksi baju-baju tersebut,” kata Nicole kepada Greeners, baru-baru ini.

Material Kain dan Kemasan yang Ramah Lingkungan

Dalam membangun sebuah brand berkelanjutan, Nicole menyadari terdapat beberapa sisi yang tidak dapat ia kendalikan. Karena itu, ia berusaha untuk meminimalisir sisi negatif dan menghindari pemakaian material yang tidak ramah lingkungan seperti polyester.

Sebagai bahan utama, TAN’S Label memilih menggunakan kain linen dan katun dalam produk koleksi mereka. Nicole memilih linen dan katun karena bahan tersebut dapat terurai dengan baik ketika sudah tidak lagi digunakan. Bahkan, kain linen merupakan kain yang lebih ramah lingkungan daripada katun karena terbuat dari tanaman rami dan tidak memakai bahan kimia dalam produksinya.

Selain material utama, TAN’S Label juga memilih aksesori pakaian ramah lingkungan. Seperti mengganti pemakaian kancing plastik dengan kancing batok kelapa.

“Aku tidak mengatakan ini 100% green, tapi tetap saya berupaya untuk membangun satu brand yang bisa untuk berkelanjutannya itu dalam arti kalau bisa dikurangin hal-hal sisi buruknya kenapa tidak gitu,” jelasnya.

Pada kemasannya, sejak bulan Juni 2020, TAN’S Label sudah berkomitmen untuk menghilangkan unsur plastik dan 100% biodegradable. Sebagai langkah menghindari penumpukan limbah kemasan plastik, mereka menggantinya dengan cassava bag atau kantong singkong untuk membungkus produk. Serta kantung berbahan dasar karton yang juga dapat terurai sebagai pembungkus akhir.

Produk TAN’S Label punya konsep tak lekang musim. Foto: TAN’S Label

Upaya TAN’S Label Pada Ethical dan Slow Fashion

Selain mempertimbangkan dampak apa yang akan alam terima, TAN’S Label juga sangat memperhatikan kesejahteraan bagi para pekerjanya atau biasa disebut dengan ethical fashion. Konsep ini  berorientasi pada bagaimana suatu perusahaan memperlakukan para pekerjanya seperti gaji, jam kerja dan tidak mempekerjakan anak di bawah umur.

TAN’S Label bekerja sama dengan tiga penjahit rumahan untuk memproduksi koleksi mereka. Nicole menyebut, kerja sama ini sangat ia perhatikan agar dapat menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Hal itu juga tercermin dalam penentuan harga pada proses produksi. Karena TAN’S Label tidak mempekerjakan penjahit secara langsung, melainkan kerja sama. Pihak TAN’S Label tidak menentukan harga apalagi menawar harga yang penjahit tawarkan. Hal tersebut merupakan kewenangan dan hak para penjahit, sehingga TAN’S Label akan membayar sesuai dengan harga yang telah pihak penjahit tetapkan.

“Dari sisi etikanya aku merasa industri fesyen itu juga peduli dengan lingkungan, tetapi masih kurang peduli terhadap sumber daya manusianya. Jadi aku merasa kalau mau dibilang sustainable harus 360° ke semuanya gitu ya kita harus melihat dari segala sisinya gitu,” tuturnya.

Sejalan dengan kesejahteraan pekerja, TAN’S Label juga mengusung konsep slow fashion, yakni tidak berorientasi pada kuantitas, melainkan kualitas. Nicole mengungkapkan, dalam jarak tiga bulan ia hanya mengeluarkan satu koleksi, satu koleksi tersebut terdapat delapan model dengan banyaknya per model yakni satu lusin. Ia menambahkan, keadaan tersebut juga dapat menguntungkan, karena dapat meminimalisir produk sisa karena tidak habis terjual.

Penerapan Zero Waste pada Proses Produksi TAN’S Label

Pada alur produksinya, awal proses berada pada tangan Nicole sendiri, ia bertugas untuk membuat desain produk. Setelah itu ia bekerja sama dengan pattern maker agar tidak ada bahan yang tersisa atau terbuang. Lalu setelahnya, baru ia serahkan pada penjahit untuk melakukan eksekusi terakhir.

Apabila terdapat sisa kain pada prosesnya, Nicole menyebut kain tersebut tidak akan mereka buang begitu saja. Melainkan akan mereka olah kembali menjadi scrunchy, masker dan hair clip berbahan dasar kain yang akan mereka hadiahkan secara cuma-cuma pada konsumen. Sehingga tidak ada kain yang terbuang sia-sia atau berpotensi menambahkan limbah kain pada lingkungan.

Selain itu, TAN’S Label juga mendorong upaya zero waste dalam penyediaan warna pada koleksi produk. Rata-rata produk mereka hanya tersedia dari satu hingga tiga koleksi warna.

“Kalo semakin banyaknya opsi warna menurut aku tuh kesempatan untuk wastenya tuh lebih banyak lagi. Jadi aku meminimalisir dampak-dampaknya terhadap SDM dan terhadap lingkungan itu aku minimalisir aja gitu,” ucapnya.

Lebih lanjut, Nicole juga mengatakan ia mendesain produk TAN’S Label dengan fokus pada fungsi setiap koleksi. Menghindari sikap konsumerisme konsumen, TAN’S Label mempunyai terobosan seasonless pieces atau pakaian yang dapat digunakan pada setiap musim, baik musim hujan maupun musim panas.

“Jadi kita bukan hanya zero waste tapi bahkan baju-baju yang kita produksi itu juga kita mau upayakan orang tidak membuangnya begitu saja. Orang akan appreciate mereka akan merasa nyaman memakai baju-baju yang TAN’S Label produksi,” ungkapnya.

TAN’S Label Ajak Gaya Hidup Berkelanjutan

Melihat antusiasme dan inisiatif yang sudah produsen berikan, Nicole berharap begitu pula dengan kenaikan tingkat awareness konsumen. Tidak hanya berorientasi atau melihat pada harga, namun konsumen juga harus melihat kualitas serta makna atau filosofi yang produk berikan.

Lebih jauh, ia juga mengatakan bahwa hal ini bukan hanya mengenai pakaian. Tetapi juga merambah ke gaya hidup, agar terciptanya perbaikan lingkungan dari segala aspek yang manusia lakukan.

“Harapannya untuk ke depan adalah peningkatan awareness, aku juga berharap Indonesia bisa mengejar lah dari skala upaya sustainabilitynya, bukan hanya terhadap industri fesyen, tapi terhadap gaya hidup karena aku merasa ini dampaknya itu lebih ke gaya hidup juga gitu bukan hanya produk-produk baju,” harapnya.

Penulis : Zahra Shafira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tans-label-fesyen-pengusung-keberlanjutan-lingkungan-dan-sosial/feed/ 0
Fesyen Berkelanjutan Pilihan Produsen Mode Untuk Cintai Bumi https://www.greeners.co/aksi/fesyen-berkelanjutan-pilihan-produsen-mode-untuk-cintai-bumi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=fesyen-berkelanjutan-pilihan-produsen-mode-untuk-cintai-bumi https://www.greeners.co/aksi/fesyen-berkelanjutan-pilihan-produsen-mode-untuk-cintai-bumi/#respond Tue, 09 Nov 2021 05:46:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=34311 Jakarta (Greeners) – Sobat Greeners, tahukah kamu? Jika pakaian yang kita gunakan sehari-hari juga bisa menjadi kontribusi buruk terhadap lingkungan. Pakaian dapat berbahaya bagi lingkungan, meningkatkan polusi air, tanah dan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sobat Greeners, tahukah kamu? Jika pakaian yang kita gunakan sehari-hari juga bisa menjadi kontribusi buruk terhadap lingkungan. Pakaian dapat berbahaya bagi lingkungan, meningkatkan polusi air, tanah dan meningkatkan gas emisi rumah kaca, serta memperburuk perubahan iklim. Hal ini dapat terjadi apabila kita menggunakan pakaian dengan bahan dasar yang berbahaya bagi lingkungan, salah satunya poliester. Fesyen berkelanjutan harus menjadi pilihan.

Poliester berasal dari bahan baku fosil dan ketika dicuci akan menimbulkan serat mikro yang akan meningkatkan jumlah sampah plastik. Sayangnya, poliester merupakan bahan baku yang banyak industri fashion gunakan pada pakaian.

Ancaman perubahan iklim yang sedang dunia hadapi saat ini, sebagian besar berasal dari aktivitas manusia. Melansir dari laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC, 2007), aktivitas manusia berkontribusi terhadap perubahan iklim sebesar 90%.

Guna mengurangi dampak yang akan alam terima, pada saat ini banyak industri mode yang berkontribusi dalam komitmen fesyen berkelanjutan dan ramah lingkungan. Beberapa dari mereka telah menunjukkan aksinya pada pengembangan dan menerapkan kebijakan tentang kapas dan bahan baku lainnya.

Aksi ini merupakan proses, praktik dan cara nyata bisnis mode beradaptasi, menerapkan pilihan ramah lingkungan dan berkembang. Bisnis mode punya tujuan menjadi agen dalam mencegah perubahan iklim, keberlanjutan lingkungan dan tanggung jawab yang etis.

Topiku Angkat Ekonomi, Sosial dan Budaya Indonesia

Selain itu, komitmen produsen dalam menangani limbah juga semakin bertumbuh, tak terkecuali di Tanah Air, Indonesia. Topiku brand aksesoris topi yang berdiri tahun 2015 menekuni komitmen fesyen berkelanjutan ini.   

Founder Topiku, Monty Hasan mengusung brand premium yang terbuat hanya menggunakan tangan dengan metode upcycled dan recycled material. Seperti kain katun organik bersertifikat global organic textile standard (GOTS) yang sudah tidak terpakai. Untuk bagian pinggiran (brim), Topiku menggunakan daur ulang ember plastik high destiny polyethylene (HDPE).

Dalam proses produksi, Topiku bekerja sama dengan pengrajin, setiap produk jahitannya menggunakan tangan pengrajin di Cigondewah, Jawa Barat, Indonesia. Dengan hanya menggunakan bahan yang sudah tidak terpakai sebagai bahan utama.

Topiku ingin menunjukkan bahwa sampah bukan hanya masalah, tetapi juga solusi. Selain itu, karena hanya memanfaatkan bahan daur ulang, Topiku meninggalkan jejak karbon yang jauh lebih kecil daripada metode produksi berbasis pabrik.

“Komitmen kami terhadap ekologi industri akan menjadi dasar bagi pertumbuhan lingkungan, sosial dan ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan di masyarakat yang sedang berkembang ini,” tutur Monty pada webinar MVB Indonesia’s Sustainable Fashion, di Jakarta, baru-baru ini.

Selain sosial dan ekonomi, Topiku juga mengangkat unsur budaya pada produknya. Mereka membeli kelebihan potongan batik dari pengrajin batik di Solo dan memasukkannya ke dalam topi. Melihat banyaknya produsen yang mulai mempertimbangkan fesyen berkelanjutan, Monty berpendapat fesyen berkelanjutan akan terus berkembang pada perjalanannya.

“Fesyen keberlanjutan bukan hanya tren, ini adalah standar masa depan yang tak terhindarkan,” katanya.

Closed Loop Fashion, Fesyen Berkelanjutan dan Ekonomi Sirkular

Tidak hanya produsen yang mulai sadar melindungi bumi, saat ini terdapat perusahaan yang menjadi ‘penunjuk arah’ bagi mereka yang ingin terarah ke bisnis berkelanjutan. Untuk menuju fesyen berkelanjutan butuh pengetahuan yang mumpuni dan siklus yang tepat.

Closed Loop Fashion (CLF) merupakan sebuah perusahaan layanan konsultasi fesyen berkelanjutan khusus dalam bidang pakaian dan produksi tekstil. Mereka merancang proyek dan strategi untuk mendorong perubahan melalui implementasi praktik bisnis sirkular ekonomi.

Secara sederhana, Founder Closed Loop Fashion, Marina Chahboune menjelaskan, CLF memberikan bantuan bagi produsen mode yang ingin lebih terarah kepada fesyen berkelanjutan.

“Kita tidak menangani limbah tekstil, jadi kita konsultan, yang kami lakukan adalah membantu produsen untuk mengintegrasikan sistem manajemen limbah tekstil,” kata Marina.

Dalam hal CLF membantu pengumpulan, pemisahan, penggunaan lanjutan, pelacakan, pemantauan dan penyimpanan. Harapannya, limbah benar-benar mencapai nilai lebih tinggi untuk tujuan penjualan dan penggunaan kembali.

CLF beroperasi dalam empat segmen berbeda dalam menangani produsen mode, yakni understand, train, plan dan create. Langkah pertama yaitu understand adalah untuk menganalisis operasi bisnis untuk memahami langkah efektifnya. Selanjutnya adalah train, langkah ini merupakan langkah pelatihan dan meningkatkan pengetahuan tim produsen tentang fesyen berkelanjutan dan ekonomi sirkular.

CLF perlu menemukan solusi yang cocok agar langkah train berjalan sukses. Maka selanjutnya masuki  proses plan. Proses ini merancang perubahan dan strategi untuk transisi ke praktik bisnis fesyen berkelanjutan dan sirkular. Langkah akhir yaitu create, penerapan menuju proses produksi yang berkelanjutan.

Pada kesempatan itu, Marina menyebut beberapa tantangan yang CLF hadapi, salah satunya adalah kurangnya teknologi. Menurutnya, teknologi saat ini berperan penting dalam mengolah bahan atau komposisi bahan baku pakaian atau fesyen berkelanjutan, serta desain yang mendukung.

“Kita harus mendesain dengan cara yang sangat berbeda ke depannya agar desain tersebut benar-benar cocok untuk digunakan kembali dalam prosesnya,” ucapnya.

Penulis : Zahra Shafira

]]>
https://www.greeners.co/aksi/fesyen-berkelanjutan-pilihan-produsen-mode-untuk-cintai-bumi/feed/ 0
Fossil Hadirkan Koleksi Tas Vegan dari Kaktus https://www.greeners.co/gaya-hidup/fossil-hadirkan-koleksi-tas-vegan-dari-kaktus/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=fossil-hadirkan-koleksi-tas-vegan-dari-kaktus https://www.greeners.co/gaya-hidup/fossil-hadirkan-koleksi-tas-vegan-dari-kaktus/#respond Mon, 20 Sep 2021 02:22:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=33685 Perusahaan mode ternama asal Amerika Serikat, Fossil, kini mencoba untuk terjun ke dalam dunia fesyen vegan. Beberapa waktu lalu, rumah mode tersebut telah meluncurkan koleksi tas terbaru yang sepenuhnya terbuat […]]]>

Perusahaan mode ternama asal Amerika Serikat, Fossil, kini mencoba untuk terjun ke dalam dunia fesyen vegan. Beberapa waktu lalu, rumah mode tersebut telah meluncurkan koleksi tas terbaru yang sepenuhnya terbuat dari kaktus. Adapun koleksi tas tersebut tergabung dalam seri Kier Cactus Leather Tote.

Untuk menghadirkan koleksi tas berbahan kaktus, Fossil bermitra dengan perusahaan kulit vegan asal Meksiko, Desserto. Desserto sendiri merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang fesyen berkelanjutan, dan selama ini berfokus terhadap pembuatan kulit vegan dari kaktus. Mereka membuat kulit vegan dengan menggunakan kaktus organik yang mereka budidaya secara khusus.

“Setelah menyaksikan secara langsung dampak dari penggunaan kulit hewan terhadap lingkungan, kami berusaha untuk menciptakan alternatif kulit vegan yang lebih hijau. Fossil dan Desserto berusaha untuk menghadirkan koleksi produk fesyen yang lebih minim jejak karbon, namun tetap berkualitas tinggi,” ujar Marte Cázarez, salah satu pendiri Desserto, dalam Livekindly.

Peluncuran koleksi tas vegan Kier Cactus Leather Tote merupakan wujud dari komitmen Fossil untuk menjadi perusahaan fesyen yang lebih berkelanjutan. Sejak tahun 2019, mereka berkomitmen untuk mengurangi penggunaan kulit hewan dan mengurangi produksi emisi gas rumah kaca sebesar 30 persen.

“Tas vegan Kier Cactus Leather Tote merupakan bukti bahwa kami tidak akan pernah berhenti untuk bertumbuh, memimpin industri, dan menciptakan produk yang bermanfaat bagi Anda dan lingkungan,” tulis Fossil dalam situs resmi mereka.

Diproses Secara Berkelanjutan

Dalam situs resmi mereka, Fossil menjelaskan bahwa tas vegan kreasi mereka dibuat dengan proses yang berkelanjutan. Mereka tidak menggunakan bahan lain seperti poliuretan (PU) yang berbahaya dan hanya menggunakan 100 persen kaktus. Kaktus yang mereka gunakan merupakan kaktus organik yang tumbuh tanpa bantuan zat pestisida maupun zat beracun lainnya. Mereka membuat tas vegan dengan menggunakan kaktus organik yang telah melewati proses pengeringan selama tiga hingga enam hari.

“Pembuatan tas vegan Kier Cactus Leather Tote membutuhkan sumber daya yang jauh lebih sedikit. Tanamah kaktus hanya membutuhkan air hujan dan mineral alami untuk tumbuh. Kami mampu menghemat sekitar 7,5 liter air setiap membuat satu tas ini, dan dapat menghemat penggunaan 15.500 mililiter air per tahun,” tulis Fossil.

“Selain itu, kami juga mampu menyerap kembali 8.100 ton karbondioksida per tahun. Ini dikarenakan kaktus memiliki kemampuan sebagai penyerap karbon alami,” mereka menambahkan.

Sebagai informasi, tas vegan Kier Cactus Leather Tote merupakan tas jinjing simpel dengan desain klasik yang elegan. Tas tersebut terdiri dilengkapi dengan beragam detail dan embossing khas Fossil yang menarik dan mewah. Terdapat empat varian warna tas yang tersedia, yakni hitam, cokelat, hijau moss, dan wine.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Situs Resmi Fossil

Livekindly

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/fossil-hadirkan-koleksi-tas-vegan-dari-kaktus/feed/ 0