Emisi karbon dari sektor industri dan pembangkit energi berbasis fosil perlu ditekan untuk mengurangi dampak perubahan iklim global. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan solusi untuk persoalan ini, lewat inovasi reaktor penangkap karbon dioksida (CO₂) berbasis cairan dengan desain modular yang fleksibel dan aplikatif.
Menurut BRIN, pengembangan teknologi ini menjadi penting mengingat riset terkait sistem penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) yang khusus untuk karakteristik gas buang industri domestik masih terbatas. Kondisi tersebut selama ini menyebabkan ketergantungan terhadap teknologi impor.
Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE) BRIN, Asep Rachmat mengatakan bahwa penguasaan teknologi dalam negeri merupakan langkah strategis untuk mendukung kemandirian nasional. Hal ini juga berkontribusi pada pencapaian target Net Zero Emissions (NZE) 2060 serta komitmen Indonesia dalam Paris Agreement.
“Inovasi ini mengusung konsep desain modular, yang memungkinkan pembangunan unit-unit reaktor secara terpisah. Kemudian, kami rangkai sesuai kebutuhan kapasitas maupun keterbatasan lahan di fasilitas industri,” ungkap Asep melansir Berita BRIN, Jumat (10/4).
Asep menambahkan bahwa pendekatan ini menawarkan fleksibilitas tinggi daripada sistem konvensional yang cenderung kaku. Alhasil dapat terintegrasi langsung dengan instalasi yang telah beroperasi tanpa memerlukan perubahan besar.
Tak hanya itu, desain ini juga membuka peluang pengembangan sistem hibrida yang mampu mengombinasikan berbagai mekanisme penyerapan CO₂ dalam satu kesatuan proses yang terintegrasi. Selain itu, juga mendorong penggunaan cairan penyerap alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Target Uji Coba 2029
Sementara itu, secara prinsip kerja reaktor memiliki fungsi sebagai penyaring canggih yang memanfaatkan interaksi antara gas dan cairan. Gas buang industri yang mengandung CO₂ teralirkan dari bagian bawah reaktor.
“Kemudian bergerak ke atas dan bertemu dengan cairan penyerap yang dialirkan dari bagian atas. Pada titik pertemuan tersebut terjadi proses penyerapan, di mana CO₂ ‘ditangkap’ oleh cairan sehingga gas yang lepas ke atmosfer memiliki kandungan karbon yang jauh lebih rendah,” urainya.
Riset ini, kata dia, merupakan bagian dari program “Energi Berkelanjutan” dengan skema pendanaan tahun jamak. Pada tahap awal 2025, tim memfokuskan pengembangan pada pembuatan prototipe skala laboratorium untuk unit absorber sebagai komponen utama penangkap CO₂. Ke depan, pihaknya menargetkan teknologi ini dapat melalui uji coba pada skala industri pada 2029.
Dalam pelaksanaannya, BRIN menjalin kolaborasi dengan PT Eksperta Adi Manusa dan Universitas Indonesia. BRIN juga melibatkan tim peneliti lintas keahlian. Asep berharap Inovasi ini tidak hanya memperkuat daya saing industri dalam negeri, tetapi bisa memberikan kontribusi nyata menjaga kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































