Jakarta (Greeners) – Riset Ecoton mengungkap temuan terbaru mengenai keberadaan partikel nano dan mikroplastik (NMPs) di dalam sistem peredaran darah manusia. Penelitian terbaru ini melibatkan 30 subjek perempuan. Terdiri dari 20 pekerja sampah dan 10 mahasiswa yang berdomisili di Blitar, Pacitan, Magetan, Lamongan, dan Malang. Peneliti menemukan rata-rata 9 partikel mikroplastik per 1 ml darah.
Menurut Ecoton, temuan ini menjadi sinyal merah bagi kesehatan publik. Jenis polimer yang paling mendominasi adalah polyester (28 persen), material yang menjadi tulang punggung industri pakaian dan tekstil modern.
Penelitian menunjukkan partikel yang peneliti temukan berukuran antara 0,40 hingga 10 mikron. Ukuran ini jauh di bawah diameter pembuluh rambut (kapiler) manusia yang berkisar 5–10 mikron dan pembuluh arteriol 8–100 mikron.
Artinya, partikel plastik ini memiliki kemampuan mekanis untuk menembus jaringan terdalam. Partikel itu juga mengalir tanpa hambatan di arteriol dan berinteraksi langsung dengan sel-sel vital di dalam tubuh.
Selain polyester (28 persen), polimer lain yang terdeteksi meliputi polyisobutylene (24 persen), polyethylene (PE, LDPE, dan HDPE total 32 persen), serta PET (16 persen). Paparan ini berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, mulai dari kerusakan sel hingga meningkatkan risiko stroke.
Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, mengatakan dominasi polyester dalam temuan ini mengarahkan sorotan tajam pada industri pakaian. Serat mikro yang terlepas dari pencucian baju sintetis dan limbah pabrik tekstil kini tidak hanya mencemari sungai. Serat itu juga berpindah ke dalam tubuh manusia.
“Fakta bahwa polimer tekstil menjadi penyumbang terbesar dalam darah subjek penelitian kami. Ini menunjukkan bahwa apa yang kita kenakan setiap hari, berpotensi menjadi racun yang mengalir di dalam nadi,” ungkap Rafika.
Air Ketuban dan Sperma Mengandung Mikroplastik
Keberadaan benda asing sintetis ini di dalam darah memicu rangkaian reaksi biologis yang berbahaya. NMPs berinteraksi langsung dengan membran sel darah merah. Kondisi ini dapat memicu penggumpalan sel yang berisiko menyumbat pembuluh darah, sehingga meningkatkan ancaman stroke dan penyakit kardiovaskular.
Selain itu, paparan mikroplastik juga berpotensi menyebabkan sistem imun kelelahan, gangguan pembekuan darah, hingga penuaan dini sel.
Ecoton juga telah melakukan studi awal dan mengidentifikasi mikroplastik dalam sperma serta air ketuban ibu hamil.
Dalam empat sampel sperma, ada kontaminasi 6–7 partikel mikroplastik jenis polyethylene, yang berpotensi memicu gangguan perkembangan sperma hingga menurunkan tingkat kesuburan.
Sementara itu, penelitian Ecoton yang bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya menemukan bahwa mikroplastik dalam air ketuban dapat memicu gangguan perkembangan janin, penurunan nutrisi, inflamasi, hingga meningkatkan risiko bayi lahir prematur.
Temuan tersebut didasarkan pada keberadaan 3–4 partikel mikroplastik jenis polyethylene dalam amnion ibu hamil, dari 45 sampel air ketuban di Gresik, Jawa Timur.
Peneliti mengimbau masyarakat untuk mengurangi konsumsi pakaian berbahan sintetis, karena serat mikro (microfibers) yang dilepaskan dari bahan tersebut berkontribusi signifikan terhadap pencemaran mikroplastik di lingkungan.
Selain itu, masyarakat juga didorong untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam aktivitas sehari-hari, terutama saat mengonsumsi makanan dan minuman serta ketika berbelanja.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































