Tak Sekadar Green Building Sekolah, Perlu Ubah Laku Juga

Reading time: 2 menit
Bangunan hijau bisa menekan emisi karbon. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Pembangunan green building sekolah di Jakarta berdampak signifikan terhadap pengurangan emisi. Namun, keberhasilan pembangunan green building sekolah ini harus diikuti oleh perubahan perilaku penghuni sekolah secara berkelanjutan.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga menilai, penerapan green building pada bangunan publik seperti sekolah, kantor pemerintahan, rusun, pasar memiliki dampak signifikan terhadap pengurangan emisi karbon. Program ini bukanlah hal baru karena pernah Gubernur DKI Jakarta sebelumnya Fauzi Bowo inisiasi.

“Namun penerapan green building tidak akan berhasil tanpa ada perubahan perilaku penghuni sekolahnya,” katanya kepada Greeners, Sabtu (1/10).

Misalnya, kebiasaan hemat air (green water), memilah dan mengolah sampah (green waste), hemat energi (green energy). Kemudian memastikan datang ke sekolah dengan jalan kaki atau naik sepeda dan angkutan umum (green transportation). Serta pemeliharaan taman atau kebun sekolah (green open space).

Langkah tersebut, sambungnya sekaligus sebagai edukasi gaya hidup ramah lingkungan yang bisa berlaku di jenjang pendidikan TK, SD, SMP, hingga SMA. Serta melibatkan semua penghuni sekolah.

“Mulai dari guru pengajar, kepala sekolah, petugas sekolah, hingga edukasi ke seluruh orang tua siswa,” imbuhnya.

Pembangunan green building sekolah-sekolah di Jakarta tak sekadar mengurangi emisi karbon. Tapi juga ke depan mampu melahirkan generasi muda yang mampu mendorong perubahan gaya hidup hijau di masyarakat.

Pergub Atur Green Building di Jakarta

Pembangunan green building mengacu pada Peraturan Gubernur Nomor 38 Tahun 2012 Tentang Bangunan Gedung Hijau. Pemprov DKI Jakarta dapat mensyaratkan seluruh bangunan baru wajib menerapkan bangunan gedung hijau dalam memberikan perizinannya. Selain itu juga melakukan retrofit untuk bangunan lama agar sesuai standar bangunan gedung hijau.

Sebelumnya, sebagai komitmen mewujudkan kegiatan beremisi rendah, Pemprov DKI Jakarta meresmikan empat sekolah sebagai pilot project berkonsep green building.

Dalam peresmian Sekolah Net Zero Carbon, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan, bangunan sekolah merupakan bangunan paling banyak yang Pemprov DKI Jakarta miliki. Bangunan berkontribusi sebesar 39 % emisi karbon global dan mengkonsumsi 36 % dari total energi global.

“Kita sering kali kalau melihat dekarbonisasj yang dipandang adalah kendaraan bermotor saja. Tidak, sesungguhnya bangunan itu menyedot energi 36 % kontribusi kepada emisi karbon global 39 %,” kata Anies dalam keterangannya, baru-baru ini.

Adapun empat bangunan sekolah tersebut yaitu SDN Duren Sawit 14 Jakarta Timur, SDN Grogol Selatan 09 Jakarta Selatan, SDN Ragunan 08 Pagi, 09 Pagi, 11 Petang Jakarta Selatan dan SMAN 96 Jakarta, Jakarta Barat.

Sekolah berkonsep green building bisa beri pemahaman tentang perilaku ramah lingkungan ke siswa. Foto: Shutterstock

Memahami Bangunan Ramah Lingkungan

Anies meresmikan Sekolah Net Zero Carbon ini sekaligus menyerahkan Sertifikat Greenship Net Zero Healthy dari Green Building Council (GBC) Indonesia kepada empat sekolah tersebut belum lama ini.
Menurutnya, bangunan sekolah berkonsep green building ini menjadi media edukasi anak memahami bangunan ramah lingkungan.

Ke depan, rehabilitasi bangunan sekolah negeri di Jakarta secara keseluruhan mengarah ke konsep bangunan hijau. Mulai dari transisi energi dengan solar panel, penggunaan lampu hemat energi, hingga pengelolaan air limbah.

“Kita berharap, pembangunan Sekolah Net Zero Carbon ini juga dapat mendorong Jakarta mencapai target net zero emission atau nol emisi karbon pada tahun 2050. Kita sedang berupaya menjadikan kota ini sebagai kota yang berkelanjutan di masa depan,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top