Ide - Greeners.Co https://www.greeners.co/ide-inovasi/category/ide/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 03 Jan 2026 07:55:44 +0000 id hourly 1 Riset Australia Ungkap Filter Mesin Cuci Mampu Tangkap Mikroplastik Pakaian https://www.greeners.co/ide-inovasi/riset-australia-ungkap-filter-mesin-cuci-mampu-tangkap-mikroplastik-pakaian/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=riset-australia-ungkap-filter-mesin-cuci-mampu-tangkap-mikroplastik-pakaian https://www.greeners.co/ide-inovasi/riset-australia-ungkap-filter-mesin-cuci-mampu-tangkap-mikroplastik-pakaian/#respond Sun, 04 Jan 2026 03:00:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47945 Riset dari para peneliti Australia menguji filter mesin cuci berbahan selulosa dan menemukan bahwa perangkat ini bisa menangkap mikroplastik. Setiap kali mencuci pakaian berbahan sintetis seperti poliester, nilon, atau akrilik, […]]]>

Riset dari para peneliti Australia menguji filter mesin cuci berbahan selulosa dan menemukan bahwa perangkat ini bisa menangkap mikroplastik. Setiap kali mencuci pakaian berbahan sintetis seperti poliester, nilon, atau akrilik, ada ribuan mikrofiber plastik yang lepas ke air limbah. Serat-serat halus ini kerap luput dari sistem penyaringan, lalu mengalir ke sungai, laut, dan akhirnya mencemari ekosistem perairan.

Penelitian terbaru dari Universitas Flinders, Australia, menciptakan solusi untuk mengatasi persoalan ini. Tim peneliti menguji filter mesin cuci berbahan selulosa yang mereka kembangkan di Australia Selatan. Tim menemukan bahwa perangkat ini mampu menangkap mikroplastik, termasuk partikel sintetis yang sangat kecil dan tak kasat mata.

Dalam pengujian laboratorium, filter tersebut terbukti efektif menyaring partikel mikroplastik hingga ukuran 20 mikrometer. Filter tersebut juga menyaring serat poliester yang terkenal sebagai salah satu pencemar plastik paling umum di lingkungan. Bahkan, para peneliti kini mengembangkan pendekatan lanjutan untuk menangkap nanoplastik (partikel plastik yang lebih kecil) dengan melapisi filter selulosa menggunakan polimer plasma.

Anastasiia Snigirova dari Nano and Microplastics Research Consortium (NMRC) Universitas Flinders mengatakan bahwa mikroplastik dari serat poliester sebagian besar berasal dari aktivitas mencuci pakaian sehari-hari, baik di rumah tangga maupun laundry komersial.

Menurutnya, uji coba awal menunjukkan penurunan signifikan jumlah serat dalam air cucian. Hal ini menandakan potensi besar teknologi ini sebagai solusi yang praktis.

Techxplore melansir bahwa pengujian lanjutan di Australian National Fabrication Facility (ANFF) juga menemukan bahwa air cucian biasa mengandung partikel serat berukuran mulai dari 5 milimeter hingga 20 mikrometer. Filter ini mampu menangkap sebagian besar serat poliester dan selulosa tersebut sebelum masuk ke saluran air.

Regulasi untuk Menekan Pencemaran Mikroplastik

Upaya menekan pencemaran mikroplastik juga mulai didorong lewat regulasi. Di Eropa, aturan baru berhasil mencegah ratusan ton serat plastik masuk ke perairan setiap tahun. Sejak Januari 2025, Prancis mewajibkan semua mesin cuci baru dilengkapi filter mikroplastik. Australia pun bergerak melalui Rencana Plastik Nasional.

Respons industri datang dari The Goodside Project, perusahaan lingkungan berbasis di Adelaide, yang merancang filter mesin cuci untuk menahan mikroplastik sebelum mencemari sungai dan laut. Perusahaan ini juga berkolaborasi dengan startup bioteknologi Alkany, yang mengembangkan bakteri untuk menguraikan polimer sintetis menjadi kompos dan biogas.

Ancaman mikroplastik sendiri kini sudah nyata di perairan Australia Selatan. Penelitian Universitas Flinders sebelumnya menemukan bahwa 72 persen mikroplastik di aliran air tawar perkotaan Adelaide berupa serat. Kemudian, mengalir ke Teluk St Vincent. Wilayah tersebut penting bagi taman laut dan perikanan komersial.

Para ilmuwan menegaskan bahwa perhatian kini tak hanya tertuju pada mikroplastik berukuran besar. Namun, juga penting untuk memperhatikan nanoplastik yang berpotensi masuk ke rantai makanan dan menembus membran sel. Temuan ini memperkuat urgensi pengembangan teknologi mitigasi yang lebih efektif, seperti filter mesin cuci, untuk menekan polusi plastik sejak dari sumbernya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/riset-australia-ungkap-filter-mesin-cuci-mampu-tangkap-mikroplastik-pakaian/feed/ 0
Mahasiswa UGM Ciptakan Plastik Ramah Lingkungan dari Kulit Pisang https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-plastik-ramah-lingkungan-dari-kulit-pisang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-ciptakan-plastik-ramah-lingkungan-dari-kulit-pisang https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-plastik-ramah-lingkungan-dari-kulit-pisang/#respond Sun, 05 Oct 2025 09:35:25 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47434 Mahasiswa Universitas Gadjah Mada kembali menciptakan inovasi ramah lingkungan. Kali ini, mereka berhasil mengembangkan plastik biodegradable yang terbuat dari kulit pisang. Inovasi ini lahir dari tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset […]]]>

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada kembali menciptakan inovasi ramah lingkungan. Kali ini, mereka berhasil mengembangkan plastik biodegradable yang terbuat dari kulit pisang.

Inovasi ini lahir dari tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Peelution UGM. Ide tersebut muncul karena keprihatinan mereka terhadap penumpukan sampah plastik yang sulit terurai.

Dari keresahan itulah, akhirnya mereka mencari cara untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan memanfaatkan limbah kulit pisang yang biasanya terbuang begitu saja. Ketua tim PKM-RE Peelution UGM, Dwi Ayu Kurniasih mengatakan bahwa dengan menggabungkan dua masalah ini, tim menghadirkan solusi berbasis konsep zero waste, yaitu mengurangi sampah plastik. Ini sekaligus memberi nilai tambah pada limbah organik.

Ia juga mengaku gelisah apabila melihat keberadaan sampah plastik. Menurutnya, sampah ini menjadi sumber utama pencemaran, baik pencemaran di darat maupun pencemaran di laut. Permasalahan pun timbul karena sifat sampah plastik yang tidak mudah terurai, dan butuh ratusan tahun bila terurai secara alami.

“Apalagi sampah plastik berbasis minyak bumi yang begitu sulit terurai, terus menumpuk dan menjadi ancaman serius bagi lingkungan. Di sisi lain, kita juga melihat melimpahnya limbah kulit pisang yang seringkali berakhir sebagai sampah tanpa pemanfaatan. Dua permasalahan inilah yang membuat tim PKM-RE UGM menghadirkan solusi zero waste,” kata Dwi melansir Berita UGM, Sabtu (4/10).

Bioplastik Alami dari Kulit Pisang

Ide inovasi plastik dari kulit pisang ini berbasis Polyhydroxybutyrate (PHB), yaitu bioplastik alami yang memiliki sifat menyerupai plastik konvensional namun dapat terurai secara alami.

Melalui penginsersian gen penghasil PHB (pHAa, pHAb, dan PhaC), Tim PKM-RE Peelution memodifikasi ragi (yeast) spesies Kluyveromyces marxianus agar mampu memproduksi PHB secara lebih efisien. “Strategi ini menjadikan proses produksi lebih cepat, aman, dan ramah lingkungan dibandingkan metode konvensional berbasis bakteri,” tambah Dwi.

Dwi  menambahkan, penelitian ini tidak hanya menawarkan alternatif pengganti plastik, namun juga mengubah limbah organik menjadi produk bernilai, sehingga mendukung penerapan konsep zero waste. Tim PKM-RE Peelution UGM pun optimistis inovasi berbasis rekayasa genetika ini dapat dikembangkan lebih jauh ke skala industri.

Ia berharap upaya ini dapat berkontribusi pada pengurangan sampah plastik. Selain itu juga untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan.

Selain Dwi Ayu Kurniasih (Fakultas Biologi), tim PKM-RE Peelution UGM ini beranggotakan Aulia Berlian Patricia (Fakultas Biologi), Adrianus Dinata (Fakultas Biologi), Syrin Alia Zahra Marin (Fakultas Teknologi Pertanian), dan Muhammad Tegar Prakoso (Fakultas Teknologi Pertanian). Tim ini juga mendapat pendampingan dari Ganies Riza Aristya, selaku dosen pembimbing.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-plastik-ramah-lingkungan-dari-kulit-pisang/feed/ 0
Peneliti BRIN: Bioremediasi Mikroba Bisa Jadi Solusi Tumpahan Minyak di Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-brin-bioremediasi-mikroba-bisa-jadi-solusi-tumpahan-minyak-di-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-brin-bioremediasi-mikroba-bisa-jadi-solusi-tumpahan-minyak-di-laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-brin-bioremediasi-mikroba-bisa-jadi-solusi-tumpahan-minyak-di-laut/#respond Thu, 31 Jul 2025 12:17:39 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47081 Peneliti Pusat Riset Oseanografi Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Lies Indah Sutiknowati, mengungkap harapan baru dalam penanganan tumpahan minyak atau oil spills di laut dengan pendekatan bioremediasi berbasis mikroba. Lies […]]]>

Peneliti Pusat Riset Oseanografi Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Lies Indah Sutiknowati, mengungkap harapan baru dalam penanganan tumpahan minyak atau oil spills di laut dengan pendekatan bioremediasi berbasis mikroba.

Lies memaparkan hasil studi tentang isolasi dan karakterisasi bakteri pendegradasi hidrokarbon minyak bumi baru. Ia menyoroti kemampuan bakteri laut tropis dalam mendegradasi hidrokarbon minyak bumi.

Dalam penelitiannya, Lies menggali potensi bioremediasi menggunakan mikroorganisme laut, sebagai langkah inovatif dalam menangani pencemaran laut akibat minyak tumpah. Dengan menggunakan simulator pantai buatan yang menyerupai akuarium, eksperimen ini berhasil menguji daya degradasi mikroba terhadap minyak mentah jenis Arabian Light.

“Bakteri seperti Thalassospira lucentensis punya potensi besar untuk membantu pulihkan laut yang tercemar. Terutama di daerah tropis seperti Indonesia. Dengan mendegradasi atau menghilangkan pencemaran memang paling baik menggunakan mikroba, bukan dengan bahan kimia,” ujarnya.

Di dalam penelitian ini, untuk mengenal para “pemakan minyak”, ditemukan dua jenis bakteri utama, yaitu bakteri cepat tumbuh (7 hari), contohnya Alcanivorax borkumensis, yang bisa mengurai hingga 70% minyak. Lalu, bakteri lambat tumbuh (21 hari), seperti Thalassospira lucentensis dan Curtobacterium Citreum, dengan kemampuan kuat dalam mengurai senyawa minyak yang lebih kompleks.

“Salah satu jenis unggulan Thalassospira sp. strain 1-1B, walapun lambat dalam pertumbuhannya namun bisa bertahan di suhu panas hingga 32°C, dan sangat cocok untuk kondisi laut tropis. Bakteri ini mampu mengurai berbagai komponen dalam tumpahan minyak, dari yang ringan sampai yang berat,” jelasnya.

Pupuk Bantuk Tingkatkan Keragaman Mikroba

Selain itu, Lies juga menguji efek pemberian pupuk yaitu nitrogen-N dan fosfor-P pada pertumbuhan mikroba. Hasilnya cukup menarik, pupuk ternyata bisa membantu meningkatkan keragaman mikroba, yang berperan penting dalam proses pembersihan laut. 

“Pupuk dapat merangsang pertumbuhan komunitas bakteri tertentu, khususnya setelah hari ke-90. Ini memperlihatkan peluang manipulasi lingkungan mikro untuk mengoptimalkan proses bioremediasi,” tambahnya.

Laut bersih, lanjutnya, menjadi harapan baru melalui riset yang dibangun dan dikembangkannya. “Ini menunjukkan bahwa solusi atas pencemaran laut bisa datang dari alam itu sendiri. Dengan dukungan teknologi dan riset berkelanjutan, bakteri laut bisa menjadi pahlawan tak terlihat dalam menjaga laut Indonesia tetap bersih dan sehat,” ungkapnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-brin-bioremediasi-mikroba-bisa-jadi-solusi-tumpahan-minyak-di-laut/feed/ 0
Mahasiswa UI Ciptakan Inovasi Beton Ramah Lingkungan dari Serat Rami https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ui-lahirkan-inovasi-beton-ramah-lingkungan-dari-serat-rami/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ui-lahirkan-inovasi-beton-ramah-lingkungan-dari-serat-rami https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ui-lahirkan-inovasi-beton-ramah-lingkungan-dari-serat-rami/#respond Wed, 23 Jul 2025 07:16:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47023 Seorang mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dari Program Doktor Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik (FT), Maidina menciptakan inovasi ramah lingkungan dalam bidang konstruksi. Ia memanfaatkan serat rami terpintal sebagai […]]]>

Seorang mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dari Program Doktor Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik (FT), Maidina menciptakan inovasi ramah lingkungan dalam bidang konstruksi. Ia memanfaatkan serat rami terpintal sebagai tulangan alternatif beton lentur ramah lingkungan.

Serat rami merupakan komoditas serat alam yang memiliki potensi besar di Indonesia. Namun, saat ini serat rami masih banyak dimanfaatkan untuk tekstil, kerajinan tangan, dan tali menali, dibandingkan bahan konstruksi.

Maidina mengungkapkan bahwa serat rami yang tersedia melimpah secara lokal, bisa menjadi bahan alternatif untuk memperkuat beton pada proyek-proyek yang tidak membutuhkan struktur berat. Misalnya, jalan lingkungan, elemen taman kota, hingga komponen modular pada perumahan rakyat.

“Potensi ini sejalan dengan tren global dalam penggunaan material terbarukan untuk mengurangi jejak karbon industri konstruksi,” ujar Maidina dalam keterangan tertulisnya.

Dalam penelitiannya, Maidina menyoroti potensi serat rami yang diproses menjadi benang 2 ply dan 3 ply untuk memperkuat beton lentur dalam penelitiannya. Ia menemukan bahwa serat rami 3 ply menunjukkan performa struktural terbaik. Serat ini memiliki daya kuat tarik rata-rata mencapai 123,34 MPa dan elongasi hingga 30,87%. Bahkan, peningkatan deformasi lentur beton yang diperkuat serat ini mencapai 27,29%.

Selain itu, ia juga menganalisis degradasi serat setelah pembenaman dalam beton selama 84 hari. Hasil analisis mikrostruktur, FTIR, dan TGA menunjukkan adanya interaksi kimia antara serat dan semen. Interaksi tersebut menyebabkan penurunan sifat mekanis serat secara bertahap.

Meski demikian, serat rami 3 ply dengan diameter 4–7 mm memperlihatkan ketahanan yang menjanjikan. Terutama untuk aplikasi non-struktural, seperti panel dinding, trotoar, atau elemen arsitektural dekoratif.

Maidina punya harapan besar terhadap temuannya. Ia berharap temuan ini dapat membuka peluang besar untuk diterapkan dalam industri konstruksi. Khususnya untuk mendukung program pembangunan ramah lingkungan di Indonesia.

Raih Gelar Doktor Berkat Serat Rami

Berkat penelitiannya, Maidina meraih gelar Doktor Teknik dengan predikat Sangat Memuaskan dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,92. Ia tercatat sebagai doktor ke-81 dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, sekaligus doktor ke-613 di FTUI, setelah mengikuti sidang terbuka promosi doktor.

Keberhasilan Maidina bukan hanya merupakan capaian akademik, melainkan juga kontribusi nyata dalam memperluas pemanfaatan sumber daya lokal Indonesia. Dekan FTUI, Kemas Ridwan Kurniawan menyebut penelitian ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal dapat menghadirkan solusi inovatif. Terutama dalam tantangan global di bidang konstruksi ramah lingkungan.

“Ini sejalan dengan komitmen FTUI untuk terus mendorong riset multidisipliner yang berdampak nyata bagi masyarakat dan industri. Saya berharap inovasi yang dihasilkan Maidina dapat mendorong lebih banyak riset dan kolaborasi industri untuk mengoptimalkan serat rami sebagai material konstruksi masa depan,” kata Kemas.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ui-lahirkan-inovasi-beton-ramah-lingkungan-dari-serat-rami/feed/ 0
BRIN dan UI Kembangkan Sistem Inovatif untuk Keselamatan Reaktor Nuklir https://www.greeners.co/ide-inovasi/brin-dan-ui-kembangkan-sistem-inovatif-untuk-keselamatan-reaktor-nuklir/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-dan-ui-kembangkan-sistem-inovatif-untuk-keselamatan-reaktor-nuklir https://www.greeners.co/ide-inovasi/brin-dan-ui-kembangkan-sistem-inovatif-untuk-keselamatan-reaktor-nuklir/#respond Fri, 20 Jun 2025 10:08:18 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=46829 Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Indonesia (UI) berhasil mengembangkan desain sistem pendingin pasif inovatif berbasis termosifon dua fase. Teknologi ini mereka rancang untuk meningkatkan keselamatan reaktor nuklir […]]]>

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Indonesia (UI) berhasil mengembangkan desain sistem pendingin pasif inovatif berbasis termosifon dua fase. Teknologi ini mereka rancang untuk meningkatkan keselamatan reaktor nuklir dan efisiensi pembuangan panas sisa pada reaktor Light Water Reactor (LWR) berdaya 300 MW termal.

Energi nuklir dinilai memainkan peran strategis dalam penyediaan listrik bersih dan andal secara global. Salah satu jenis reaktor yang banyak digunakan adalah LWR karena teknologi dan fitur keselamatannya yang telah teruji. Namun, peningkatan keselamatan tetap menjadi fokus utama. Terutama untuk menghadapi situasi tak terduga seperti pemadaman listrik total (station blackout).

BACA JUGA: Indonesia Belum Mampu Kelola Limbah Radioaktif PLTN

Peneliti Utama BRIN, Anhar Riza Antariksawan mengatakan bahwa tujuan utama dari riset ini adalah mengkaji kinerja termosifon dua fase dalam lingkungan uap PRHR. Selain itu, riset juga untuk menilai efektivitasnya dalam mengekstraksi panas langsung dari pembangkit uap.

“Sehingga, hal tersebut dapat mengurangi ukuran peralatan penukar panas yang dibutuhkan,” ujar Anhar dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/6).

Menurut Anhar, sistem PRHR konvensional umumnya hanya mampu bekerja efektif selama 72 jam setelah reaktor dimatikan tanpa intervensi operator. Dalam kondisi darurat berkepanjangan seperti pada insiden PLTN Fukushima Dai-ichi, sistem ini menjadi tidak memadai. Oleh karena itu, tim peneliti BRIN dan UI menawarkan solusi berbasis termosifon dua fase yang bekerja tanpa listrik eksternal dan memiliki efisiensi perpindahan panas tinggi.

Keunggulan utama dari sistem ini terletak pada penempatan evaporator termosifon langsung di jalur uap PRHR. Penempatan ini memungkinkan perpindahan panas laten secara efisien. “Ini adalah langkah penting dalam meningkatkan keselamatan dan keandalan sistem pendingin pasif untuk reaktor generasi lanjut,” tambahnya.

Pentingnya Riset dan Simulasi Nuklir

Selain itu, inovasi ini juga untuk mengurangi ukuran dan kompleksitas sistem penukar panas tambahan. Sistem bekerja dalam dua mode, di antaranya menggunakan air untuk tiga hari pertama, dan udara setelahnya. Ini memungkinkan operasi otonom dalam masa pendinginan berkepanjangan. Desain adaptif ini sangat relevan untuk reaktor masa depan yang mengedepankan keselamatan pasif.

Anhar mengungkapkan, penelitian ini melalui pengujian eksperimental menggunakan Passive System Condensation Experimental Loop (PASCONEL), dan validasi numerik dengan perangkat lunak RELAP5. Hasilnya menunjukkan bahwa satu unit tabung termosifon mampu membuang panas hingga 5 kW. Untuk menjaga keselamatan reaktor secara pasif pasca 72 jam, butuh sekitar 60 unit termosifon.

“Langkah selanjutnya adalah mengkarakterisasi perpindahan panas di sisi kondensor dengan menggunakan udara sebagai media pendingin, guna meningkatkan efisiensi termal,” ujar Anhar.

Penelitian ini memperlihatkan pentingnya integrasi antara riset eksperimental dan simulasi numerik dalam merancang sistem keselamatan reaktor yang lebih baik. Proyek ini melibatkan kolaborasi antara Anhar Riza Antariksawan, Surip Widodo (BRIN dan UI), Nandy Putra (UI), dan Mulya Juarsa (BRIN).

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/brin-dan-ui-kembangkan-sistem-inovatif-untuk-keselamatan-reaktor-nuklir/feed/ 0
Buat Desain Gedung Tahan Gempa, Mahasiswa UI Sabet Penghargaan https://www.greeners.co/ide-inovasi/buat-desain-gedung-tahan-gempa-mahasiswa-ui-sabet-penghargaan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=buat-desain-gedung-tahan-gempa-mahasiswa-ui-sabet-penghargaan https://www.greeners.co/ide-inovasi/buat-desain-gedung-tahan-gempa-mahasiswa-ui-sabet-penghargaan/#respond Fri, 06 Jun 2025 05:03:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=46733 Lima Mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Universitas Indonesia (UI) membuat inovasi desain gedung tahan gempa. Mereka membuat desain “Tenchi Tower,  sebuah model struktur gedung 19 lantai yang seluruhnya terbuat dari material […]]]>

Lima Mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Universitas Indonesia (UI) membuat inovasi desain gedung tahan gempa. Mereka membuat desain “Tenchi Tower,  sebuah model struktur gedung 19 lantai yang seluruhnya terbuat dari material kayu balsa.

Berkat inovasinya, kelima mahasiswa ini meraih penghargaan “Most Improved Team” pada ajang 22nd Annual Undergraduate Seismic Design Competition (SDC) oleh Earthquake Engineering Research Institute (EERI) Student Leadership Council.

Terinspirasi dari mitologi Jepang Floating Bridge of Heaven, rancangan ini menggabungkan efisiensi struktural dan keindahan arsitektural dalam satu desain gedung tahan gempa.

Inovasi utamanya meliputi penerapan desain koridor diagonal sebagai elemen kekakuan struktur, penggunaan tiga tipe denah lantai berbeda, serta teknologi seismic damper modular berbasis fluida viskos yang dirancang secara snap-fit. Sehingga, dapat dipasang dengan mudah tanpa memerlukan alat berat.

Salah seorang anggota tim EERI SDC UI, Juan Valensi Ridwan Ramadhan mengatakan bahwa Tenchi Tower menggabungkan beberapa komponen. Di antaranya filosofi, efisiensi, dan inovasi struktural dalam satu kesatuan desain.

“Kami ingin menciptakan sesuatu yang bukan hanya tahan gempa. Namun, juga estetis dan aplikatif untuk kebutuhan urban masa kini,” ujar Juan

Selain Juan, Tim EERI SDC UI 2025 terdiri atas Alvin Marcelino Setiawan, Audean Roderick Samuel Kumontoy, Arecta Eghalion Pangemanan, dan Muhammad Rakan Firzatullah. Tim tersebut mendapat pendampingan dari dua dosen pembimbing, yaitu Josia Irwan Rastandi dan Widjojo Adi Prakoso. Mereka yang memberikan dukungan akademik dan teknis selama proses persiapan hingga pelaksanaan kompetisi.

Mambawa Kebanggaan FTUI

Kompetisi ini telah berlangsung pada 31 Maret hingga 3 April 2025 di University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Ada 53 tim dari berbagai universitas dunia yang ikut pada ajang ini. Tim EERI SDC UI Team 2025 menunjukkan peningkatan performa signifikan daripada tahun sebelumnya.

Tim ini meraih peringkat 2 untuk proposal score, peringkat 5 untuk communication score, dan peringkat 8 untuk presentation score. Capaian ini mencerminkan kemampuan teknis dan komunikasi yang sangat baik dalam menghadapi tantangan simulasi perancangan struktur tahan gempa.

Dekan FTUI, Kemas Ridwan Kurniawan mengatakan bahwa prestasi ini juga membanggakan seluruh keluarga besar FTUI. “Ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas disiplin, kerja keras, dan dukungan akademik yang solid mampu menghasilkan inovasi di tingkat global. Kami berharap pencapaian ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berani berkarya dan berkompetisi di dunia internasional,” ungkap Kemas.

Kemas menambahkan, keikutsertaan dan keberhasilan tim FTUI dalam ajang ini menegaskan pentingnya kolaborasi multidisipliner dalam menciptakan solusi inovatif untuk tantangan infrastruktur. Khususnya, dalam desain struktur tahan gempa.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/buat-desain-gedung-tahan-gempa-mahasiswa-ui-sabet-penghargaan/feed/ 0
Mahasiswa ITB Buat Drone Ramah Lingkungan, Juara di Kompetisi Nasional https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-itb-buat-drone-ramah-lingkungan-juara-di-kompetisi-nasional/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-itb-buat-drone-ramah-lingkungan-juara-di-kompetisi-nasional https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-itb-buat-drone-ramah-lingkungan-juara-di-kompetisi-nasional/#respond Thu, 22 May 2025 07:53:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=46648 Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin 2022 Institut Teknologi Bandung (ITB), Gravin Hotasi Zakhari membuat inovasi drone ramah lingkungan. Dari inovasi tersebut, ia berhasil meraih juara 1 dalam ajang SalidWorks Design Competition […]]]>

Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin 2022 Institut Teknologi Bandung (ITB), Gravin Hotasi Zakhari membuat inovasi drone ramah lingkungan. Dari inovasi tersebut, ia berhasil meraih juara 1 dalam ajang SalidWorks Design Competition “Mechanical Engineering Battle (ME-B) 2025” di Universitas Pertamina.

Kompetisi tingkat nasional ini berfokus pada inovasi desain teknik dengan tema besar “Sustainable Mobility”. Peserta kompetisi ini berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Gravin memukau dewan juri dengan karya inovatif berjudul “LAIKA: Solar Powered Joined Wing UAV with Tricopter VTOL Capability for Wildlife Conservation”. Inovasi ini menawarkan solusi berkelanjutan untuk pengawasan daerah konservasi satwa liar di Indonesia menggunakan drone ramah lingkungan dari energi surya. Teknologi ini menggantikan peran helikopter konvensional, yang selama ini dianggap kurang efisien dan tidak ramah lingkungan.

BACA JUGA: Desainer India Ciptakan Drone Ramah Lingkungan dari Bambu

Desain LAIKA menggabungkan berbagai elemen teknologi mutakhir, di antaranya berikut ini.

1. Desain joined wing untuk meningkatkan efisiensi aerodinamika dan menaikkan permukaan efektif untuk pemasangan panel surya.
2. Tricopter VTOL (Vertical Take-Off and Landing) yang memungkinkan manuver di medan sulit tanpa landasan panjang.
3. Integrasi sel surya (PV cells) untuk memperpanjang waktu terbang tanpa bahan bakar fosil.
4. LAIKA difungsikan dalam upaya konservasi dengan mengintegrasikan kamera resolusi tinggi untuk kebutuhan pemantauan dan dokumentasi satwa secara real-time.

Solusi ini tidak hanya menjawab kebutuhan konservasi di lapangan, tetapi juga menekan emisi karbon secara signifikan. Selain itu, inovasi juga sejalan dengan visi transportasi berkelanjutan dan konservasi lingkungan.

Lalui Seleksi Ketat

Pada kompetisi ini, Gravin telah melalui  beberapa tahap seleksi ketat. Seleksi tersebut mulai dari pengumpulan sketsa awal hingga simulasi animasi dan presentasi final.

Dalam proses tersebut, peserta wajib menguasai perangkat lunak SolidWorks dalam merancang, menguji, dan mempresentasikan desainnya secara teknis dan visual. Penilaian mencakup aspek orisinalitas, fungsionalitas, penggunaan fitur perangkat lunak, serta efektivitas desain dalam menjawab tantangan nyata.

BACA JUGA: Upaya Penghijauan di India Terbantu oleh Drone Ramah Lingkungan

Gravin berhasil meraih peringkat tertinggi berkat detail teknis, kemampuan presentasi, dan dampak potensial dari inovasinya terhadap konservasi lingkungan. Dalam keterangannya, ia menyampaikan bahwa motivasinya datang dari keprihatinan terhadap tingginya emisi transportasi konvensional dan pentingnya menjaga kekayaan hayati Indonesia.

“Teknologi harus jadi solusi, bukan sumber masalah baru,” tutur Gravin melansir Berita ITB, Kamis (22/5).

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-itb-buat-drone-ramah-lingkungan-juara-di-kompetisi-nasional/feed/ 0
Mahasiswa ITB Kembangkan Ide Bisnis Pembalut dari Limbah Pelepah Pisang https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-itb-kembangkan-ide-bisnis-pembalut-dari-limbah-pelepah-pisang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-itb-kembangkan-ide-bisnis-pembalut-dari-limbah-pelepah-pisang https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-itb-kembangkan-ide-bisnis-pembalut-dari-limbah-pelepah-pisang/#respond Mon, 07 Apr 2025 03:00:52 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=46312 Sekelompok mahasiswa dari Program Studi Rekayasa Pertanian Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil meraih juara tiga dalam ajang kompetisi bisnis antarkampus. Mereka menciptakan ide bisnis […]]]>

Sekelompok mahasiswa dari Program Studi Rekayasa Pertanian Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil meraih juara tiga dalam ajang kompetisi bisnis antarkampus. Mereka menciptakan ide bisnis ramah lingkungan, yakni pembalut dari limbah pelepah pisang.

Ajang Business Plan Competition ini merupakan bagian dari kompetisi Agricultural Food Competition (AFC) Season 16. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman.

Tim dari ITB yang bernama The Bananabees ini terdiri dari tiga anggota, yaitu Salwa Salsadila, Kezia Wira Keren, dan Diola Suprapti. Dalam kompetisi tersebut, The Bananabees memilih subtema Utilization of Agriculture Waste and Material.

Ide bisnis mereka fokus pada pengelolaan limbah secara berkelanjutan. Maka dari itu, The Bananabees mengusung ide inovatif berupa pembalut biodegradable. Pembalut dari limbah pelepah pisang itu mereka beri nama Mennapads.

BACA JUGA: Peneliti BRIN Ubah Pelepah Pisang Jadi Wadah Makanan

Mereka merancang Mennapads dengan lapisan awal dan akhir yang terbuat dari bioplastik. Mereka juga memastikan produk ini dapat terurai secara alami 100 persen. Selain itu, kemasannya juga menggunakan bioplastik agar bisa terurai dan tidak mencemari lingkungan.

Kompetisi AFC Season 16 ini berlangsung dari 1 Januari hingga 23 Februari 2025. Kompetisi tersebut mengusung tema The Actualization of Sustainable Development Goals through Agricultural Innovation in the Society 5.0 Era. Tujuan dari kompetisi ini adalah untuk mendorong generasi muda dalam mengembangkan ide bisnis inovatif di bidang pertanian yang berkelanjutan.

Mahasiswa ITB mengembangkan ide bisnis pembalut dari limbah pelepah pisang. Foto: Berita ITB

Mahasiswa ITB mengembangkan ide bisnis pembalut dari limbah pelepah pisang. Foto: Berita ITB

Atasi Dua Permasalahan Utama

Mennapads, produk pembalut ramah lingkungan ini dirancang untuk mengatasi dua permasalahan utama. Pertama, produk ini bertujuan untuk mengurangi limbah plastik yang dihasilkan oleh pembalut konvensional.

Saat ini, sekitar 95 persen wanita di Indonesia menggunakan pembalut sekali pakai yang berkontribusi pada timbunan sampah plastik hingga 26 ton setiap harinya. Dengan hadirnya Mennapads, penggunaan pembalut berbahan plastik bisa berkurang sehingga membantu mengurangi pencemaran lingkungan.

Kedua, Mennapads memanfaatkan limbah pertanian, khususnya pelepah pisang sebagai bahan baku utama. Pelepah pisang tersebut mereka olah menjadi lapisan penyerap alami yang menggantikan bahan sintetis dalam pembalut.

BACA JUGA: Ilmuwan Ciptakan Ubin dari Jamur, Bikin Bangunan Lebih Sejuk!

Salwa, salah satu anggota Tim The Bananabees, menjelaskan bahwa dalam sistem produksi pisang, satu pohon hanya menghasilkan satu tandan pisang sebelum akhirnya ditebang. Akibatnya, limbah pelepah pisang terus meningkat, dengan perkiraan produksi mencapai 640.000 batang per tahun. Limbah ini sering terabaikan dan berakhir sebagai sampah organik.

Nah, kami melihat limbah pertanian yang sering terbuang sia-sia sebagai peluang besar dan ingin mengolahnya menjadi produk yang lebih bernilai,” ucap Salwa dalam keterangan tertulisnya.

Kezia, anggota lainnya, menambahkan bahwa Mennapads juga berkontribusi pada ekonomi sirkular dengan memberdayakan petani lokal. Bahkan, bisa membuka peluang ekonomi baru di sektor pertanian.

Utamakan Isu Keberlanjutan

Selama kompetisi, The Bananabees mendapatkan bimbingan dari dosen Kelompok Keahlian (KK) Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk SITH ITB, Indrawan Cahyo Adilaksono. Dengan bimbingan dari Indrawan, tim berhasil meningkatkan kualitas konsep bisnis dan pengembangan produk agar memenuhi kriteria inovasi pertanian yang berkelanjutan.

Menurut mereka, isu keberlanjutan dalam pertanian harus menjadi perhatian utama. Sebab, kesehatan dan kesuburan tanah berperan penting dalam menjaga produktivitas pertanian jangka panjang. Tanah yang terdegradasi akibat pencemaran dan praktik pertanian yang tidak ramah lingkungan dapat mengancam ketahanan pangan serta kesejahteraan petani di masa depan.

Melihat inovasi ini, Indrawan berharap lebih banyak inovasi yang memanfaatkan limbah pertanian sebagai bahan baku industri dapat mendukung keberlanjutan lingkungan. Ke depannya, Tim The Bananabees juga berharap dapat mengembangkan Mennapads lebih lanjut. Dengan demikian, produksi massal Mennapads bisa menjadi solusi dalam mengatasi masalah limbah plastik serta mendukung kesehatan wanita.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-itb-kembangkan-ide-bisnis-pembalut-dari-limbah-pelepah-pisang/feed/ 0
Peneliti UGM Kembangkan Alat Deteksi Dini Penyakit TBC Pakai Teknologi AI https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ugm-kembangkan-alat-deteksi-dini-penyakit-tbc-pakai-teknologi-ai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-ugm-kembangkan-alat-deteksi-dini-penyakit-tbc-pakai-teknologi-ai https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ugm-kembangkan-alat-deteksi-dini-penyakit-tbc-pakai-teknologi-ai/#respond Fri, 04 Apr 2025 04:34:32 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=46294 Tim peneliti Universitas Gadjah Mada kini tengah mengembangkan alat deteksi dini penyakit tuberkolosis (TBC) berbasis Artificial Intelligence (AI). Peneliti berharap inovasi ini bisa menjadi solusi bagi Indonesia yang kini masih […]]]>

Tim peneliti Universitas Gadjah Mada kini tengah mengembangkan alat deteksi dini penyakit tuberkolosis (TBC) berbasis Artificial Intelligence (AI). Peneliti berharap inovasi ini bisa menjadi solusi bagi Indonesia yang kini masih mengandalkan teknologi impor dalam pelaksanaan pencarian kasus TBC secara aktif.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2022, ada lebih dari 724.000 kasus TBC baru di Indonesia. Jumlahnya pun meningkat menjadi 809.000 kasus pada tahun 2023. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dengan kasus sebelum pandemi, yang rata-rata penemuan kasus di bawah 600.000 per tahun.

Peneliti Pusat Kedokteran Tropis UGM, Antonia Morita I. Saktiawati mengungkapkan, bahwa timnya sedang merancang perangkat lunak berbasis AI, bernama computer-aided detection (CAD). Teknologi ini dapat  membantu tenaga kesehatan dalam menganalisis hasil rontgen dada. Tujuannya untuk meningkatkan efektivitas skrining TBC secara lebih cepat dan akurat.

BACA JUGA: Mahasiswa UI Ciptakan Bahan Bakar Alkohol Ramah Lingkungan

”Kita sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi ini sendiri, apalagi dengan jumlah kasus yang tinggi,” ujar Morita di TropmedTalk, Selasa (25/3).

Ia menambahkan bahwa penelitian ini telah berlangsung cukup lama dengan keterbatasan pendanaan. Namun, kini mendapatkan dukungan dari program KONEKSI yang diinisiasi oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia.

Tidak hanya UGM, sejumlah institusi turut berkolaborasi dalam penelitian ini. Beberapa di antaranya University of Melbourne, Monash University, dan Universitas Sebelas Maret.

Selain itu, beberapa organisasi kesehatan dan advokasi juga ikut serta. Organisasi tersebut meliputi Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua (YPKMP), serta Sentra Advokasi Perempuan, dan Difabel dan Anak (SAPDA).

Peneliti UGM mengembangkan alat deteksi dini penyakit TBC pakai teknologi AI. Foto: Freepik

Peneliti UGM mengembangkan alat deteksi dini penyakit TBC pakai teknologi AI. Foto: Freepik

Pemerataan Akses Kesehatan

Berita UGM melansir bahwa selain bertujuan meningkatkan akurasi diagnosis, penelitian ini juga berfokus pada pemerataan akses layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat. Morita menyoroti bahwa kelompok rentan, seperti perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas, serta masyarakat di daerah terpencil, masih menghadapi tantangan besar dalam memperoleh layanan TBC yang memadai.

Di banyak daerah di Indonesia, budaya patriarki juga masih menjadi hambatan bagi perempuan dalam mengakses layanan kesehatan. Hal itu termasuk dalam pemeriksaan dan diagnosis TBC.

Sementara itu, kelompok lain seperti penyandang disabilitas, sering kali mengalami kendala baik dari segi fisik maupun sosial, dalam mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang dibutuhkan.

Morita pun menyambut baik langkah Kementerian Kesehatan, dalam menerapkan active case finding (ACF) di 25 kabupaten dan kota, yang telah meningkatkan angka deteksi kasus TBC sebesar 2-7 persen pada tahun 2024.

BACA JUGA: Mahasiswa UGM Ciptakan Pemecah Gelombang, Juara di Kompetisi Nasional

Ia berharap program ini dapat meluas hingga ke daerah terpencil. Sehingga, seluruh masyarakat, terutama kelompok rentan, dapat memperoleh layanan kesehatan yang setara.

Morita juga berharap Teknologi computer-aided detection (CAD) berbasis AI yang tengah dikembangkan, mampu membantu tenaga kesehatan dalam menganalisis hasil rontgen dada dengan lebih efisien. Khususnya, di wilayah dengan keterbatasan tenaga medis seperti radiolog.

“Saya yakin dengan dukungan inovasi teknologi serta kebijakan yang inklusif, target eliminasi TBC di Indonesia dapat lebih cepat tercapai,” tambahnya.

World Health Organization (WHO) juga menargetkan cakupan deteksi mencapai 100 persen dengan memanfaatkan teknologi seperti CAD. Tanpa deteksi yang tepat waktu, penderita TBC berisiko tidak mendapatkan pengobatan yang diperlukan. Akibatnya bisa berujung pada kematian serta meningkatkan penyebaran penyakit ke orang lain.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ugm-kembangkan-alat-deteksi-dini-penyakit-tbc-pakai-teknologi-ai/feed/ 0
Mahasiswa UI Ciptakan Bahan Bakar Alkohol Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ui-ciptakan-bahan-bakar-alkohol-yang-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ui-ciptakan-bahan-bakar-alkohol-yang-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ui-ciptakan-bahan-bakar-alkohol-yang-ramah-lingkungan/#respond Sun, 16 Mar 2025 03:00:37 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=46153 Tiga mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Universitas Indonesia (UI) berhasil mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional. Mereka meraih Juara Tiga dalam 2024 Southeast Asian Division of The ISETS-ESCAP Youth Voice Competition […]]]>

Tiga mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Universitas Indonesia (UI) berhasil mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional. Mereka meraih Juara Tiga dalam 2024 Southeast Asian Division of The ISETS-ESCAP Youth Voice Competition di United Nations ESCAP Headquarters, Bangkok, Thailand. Mereka memenangkan kompetisi ini dengan karya inovatifnya yang menciptakan bahan bakar ramah lingkungan dari alkohol.

Pada kompetisi yang diikuti oleh 77 tim dari 33 negara ini, mereka menawarkan solusi energi berkelanjutan bernama CACA SOPAN (Carbon Capture and Storage–Solar Panel Biotechnology).

Mereka yang tergabung dalam Tim Go Green Sustainable (GGS) ini terdiri dari Josafat Pasaribu, Renanda Wafi Fakhri, dan Efraim Yunus. Mereka mengusung konsep sistem terpadu yang menggabungkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS), energi surya, dan bioteknologi.

BACA JUGA: Mahasiswa UI Temukan Senyawa Aktif Tetracera untuk Obat Antioksidan

Inovasi yang mereka cetuskan tidak hanya mampu menangkap emisi karbon dioksida (CO2), tetapi juga mengubahnya menjadi bahan bakar alkohol ramah lingkungan seperti butanol dan heksanol. Selain itu, proyek ini mendukung target Net Zero Emission 2060 dan sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Salah satu tim GGS, Josafat menjelaskan bahwa sistem ini memiliki kapasitas produksi 12.900 mol alkohol per jam, dengan efisiensi tinggi dan nilai investasi awal sebesar Rp164,5 miliar. Proyek ini memiliki tingkat pengembalian investasi (ROI) sebesar 33,33 persen dan periode balik modal sekitar 4,5 tahun.

“Selain mengurangi emisi karbon, proyek ini berpotensi menciptakan lapangan kerja baru. Ini sejalan dengan kebutuhan pembangunan ekonomi hijau di Indonesia,” kata Josafat dalam keterangan tertulisnya.

Mahasiswa UI menciptakan bahan bakar alkohol ramah lingkungan. Foto: Freepik

Mahasiswa UI menciptakan bahan bakar alkohol ramah lingkungan. Foto: Freepik

Ajang Bergengsi

Kompetisi ini diadakan oleh International Society for Energy Transition Studies (ISETS) bekerja sama dengan United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP). Kompetisi bergengsi yang berlangsung pada Desember 2024 ini melibatkan 300 peserta dari seluruh dunia. Setelah melewati seleksi daring selama enam bulan, para finalis mempresentasikan proyek mereka di Kantor Pusat PBB di Bangkok.

Keberhasilan tim GGS juga tidak terlepas dari bimbingan intensif dari Dosen Teknik Metalurgi dan Material FTUI, Adam Febriyanto Nugraha. Pendampingan akademik ini menunjukkan pentingnya sinergi antara mahasiswa dan dosen dalam menciptakan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat.

BACA JUGA: Peneliti BRIN Ubah Pelepah Pisang Jadi Wadah Makanan

Dekan FTUI, Kemas Ridwan Kurniawan menyampaikan apresiasinya atas pencapaian ini. Menurutnya, prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa UI tidak hanya unggul dalam kompetisi akademik. Namun, mereka juga mampu menghasilkan solusi inovatif yang relevan dengan tantangan global.

“Kami berharap keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi nyata dalam mendukung transisi energi berkelanjutan di Indonesia,” ujar Kemas.

Ia menambahkan, pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara kreativitas mahasiswa dan dukungan akademik mampu menghasilkan inovasi berdaya guna. Ini juga sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam mewujudkan masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ui-ciptakan-bahan-bakar-alkohol-yang-ramah-lingkungan/feed/ 0
Mahasiswa UI Temukan Senyawa Aktif Tetracera untuk Obat Antioksidan https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ui-temukan-senyawa-aktif-tetracera-untuk-obat-antioksidan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ui-temukan-senyawa-aktif-tetracera-untuk-obat-antioksidan https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ui-temukan-senyawa-aktif-tetracera-untuk-obat-antioksidan/#respond Sun, 09 Feb 2025 03:00:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=45867 Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dari Program Doktoral Fakultas Farmasi (FF), Vera Ladeska, meneliti tanaman Tetracera indica dan Tetracera macrophylla. Penelitian ini mengungkapkan senyawa dalam kedua tanaman tersebut berpotensi sebagai antioksidan […]]]>

Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dari Program Doktoral Fakultas Farmasi (FF), Vera Ladeska, meneliti tanaman Tetracera indica dan Tetracera macrophylla. Penelitian ini mengungkapkan senyawa dalam kedua tanaman tersebut berpotensi sebagai antioksidan dan anti-inflamasi yang dapat menghambat enzim lipoksigenase.

Hasil penelitian tersebut ia sampaikan dalam sidang promosi doktor pada Senin (6/1) di Ruang Sidang Besar, Gedung Pascasarjana FFUI, Kampus Depok. Dalam pidatonya, Vera menjelaskan bahwa inflamasi adalah respons perlindungan tubuh terhadap cedera jaringan. Namun, jika tidak segera ditangani, inflamasi dapat memicu peningkatan radikal bebas yang berisiko menyebabkan disfungsi organ dan berujung pada penyakit kronis.

“Melalui penelitian ini, kami ingin menggali potensi tanaman Tetracera macrophylla dan Tetracera indica yang dikenal dalam pengobatan tradisional, yang memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti fenol, flavonoid, dan terpenoid yang berfungsi sebagai antioksidan dan antiinflamasi,” ujarnya.

BACA JUGA: Pengusaha Muda di Nepal Mengaspal Jalan dari Sampah Plastik

Dalam prosesnya, ia berhasil mengisolasi enam senyawa aktif dari ranting Tetracera macrophylla. Senyawa tersebut meliputi (1) asam 2,3-dihidroksi-olean-12-en-28-oat; (2) asam 3,4-dihidroksi benzoate; (3) 2-hidroksi-olean-12-en-3beta-ol; (4) asam 3-hidroksi olean-11-on-12-en-28-oat; (5) kaempferol 3-glukosida; dan (6) katekin.

Enam senyawa ini menunjukkan aktivitas antioksidan yang signifikan. Terutama, senyawa 1 dan 4 yang memiliki potensi paling kuat sebagai penghambat aktivitas enzim lipoksigenase (LOX). Hal itu baik secara in vitro maupun in silico.

Potensi Besar Tetracera macrophylla

Dari hasil risetnya, Vera menemukan bahwa tanaman tersebut memiliki potensi lebih besar daripada Tetracera indica dalam mengatasi inflamasi dan oksidasi. Hal tersebut karena ekstrak etil asetat ranting Tetracera macrophylla mengandung fenol dan flavonoid yang tinggi serta aktivitas antioksidan yang sangat baik.

Selain itu, dua senyawa yang terkandung di dalamnya, yaitu senyawa 1 dan 4, berinteraksi paling kuat dengan protein LOX. Hal ini menjadikan keduanya kandidat potensial sebagai agen antiinflamasi. Pengembangan terapi antiinflamasi berbasis bahan alam, khususnya Tetracera macrophylla, punya potensi besar untuk peneliti kembangkan sebagai sumber obat.

BACA JUGA: Desainer Belgia Daur Ulang Bola Tenis Bekas Jadi Aksen Interior Unik

Dekan FFUI, Arry Yanuar mengapresiasi penelitian Vera terkait pengembangan obat yang berbasis alam. Menurutnya, penelitan ini telah menunjukkan potensi besar tanaman Tetracera macrophylla sebagai sumber senyawa bioaktif yang bisa menjadi alternatif terapi antioksidan dan antiinflamasi. Selain itu, berkat penelitiannya, Vera juga berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Farmasi di FFUI dengan yudisium summa cumlaude.

“Hasil penelitian ini tidak hanya memperkaya khazanah ilmiah dalam bidang farmasi. Namun, juga membuka peluang pengembangan obat berbasis bahan alam yang lebih aman dan efektif untuk pengelolaan penyakit kronis,” ujarnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ui-temukan-senyawa-aktif-tetracera-untuk-obat-antioksidan/feed/ 0
Periset BRIN Kembangkan Minyak Kelapa Jadi Bahan Bakar Pesawat https://www.greeners.co/ide-inovasi/periset-brin-kembangkan-minyak-kelapa-jadi-bahan-bakar-pesawat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=periset-brin-kembangkan-minyak-kelapa-jadi-bahan-bakar-pesawat https://www.greeners.co/ide-inovasi/periset-brin-kembangkan-minyak-kelapa-jadi-bahan-bakar-pesawat/#respond Thu, 21 Nov 2024 06:00:25 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=45290 Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan riset katalis berbasis Metal-Organic Frameworks (MOFs). Riset ini bertujuan untuk mengubah minyak kelapa menjadi bio-jet fuel, atau bahan bakar pesawat hayati. Peneliti Ahli […]]]>

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan riset katalis berbasis Metal-Organic Frameworks (MOFs). Riset ini bertujuan untuk mengubah minyak kelapa menjadi bio-jet fuel, atau bahan bakar pesawat hayati.

Peneliti Ahli Madya pada Pusat Riset Kimia BRIN, Deliana Dahnum menjelaskan bahwa bio-jet fuel merupakan salah satu bentuk energi terbarukan yang memanfaatkan minyak nabati sebagai bahan baku.

“Indonesia memiliki potensi besar karena banyak sumber daya alam berupa minyak kelapa yang tumbuh subur di wilayah tropis,” ungkap Deliana dalam forum diskusi Media Lounge Discussion (MELODI) di Jakarta, Kamis (21/11).

BACA JUGA: Sampah untuk Bahan Bakar Pesawat

Dahnum menambahkan, dalam pengembangan bio-jet fuel ini, minyak kelapa yang digunakan terutama berasal dari kelapa yang tidak layak konsumsi. Contohnya kelapa tua, kecil, atau yang sudah berjamur. Kelapa-kelapa tersebut mereka olah menjadi bahan bakar alternatif yang berpotensi menggantikan bahan bakar fosil.

Melalui inovasi ini, Dahnum yakin Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Selain itu, inovasi ini juga memungkinkan pemanfaatan sumber daya lokal yang ramah lingkungan. Ia berharap inisiatif ini dapat mendukung tercapainya ketahanan energi yang berkelanjutan di Indonesia.

Dukung Energi Berkelanjutan

Sementara itu, untuk mengubah minyak kelapa menjadi bio-jet fuel, perlu adanya proses katalisis dengan bantuan katalis yang efisien. BRIN mengembangkan katalis berbasis Metal-Organic Frameworks (MOFs), sebuah material inovatif yang mampu mengubah minyak kelapa menjadi bio-jet fuel secara produktif dan efektif.

“Pengembangan ini telah mencapai tahap uji coba laboratorium dan menunjukkan potensi untuk kami kembangkan pada skala lebih besar. Ini termasuk pada kelapa yang tidak layak konsumsi, guna memaksimalkan keberlanjutan energi,” katanya.

BACA JUGA: Pertamina dan Airbus Kembangkan Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan

Dahnum juga berharap riset mengenai bio-jet fuel ini dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan. Hal itu dapat mempercepat transisi menuju tahap yang lebih maju. Dengan demikian, riset ini dapat berkontribusi langsung dalam memenuhi kebutuhan energi yang berkelanjutan.

Sebagai penghargaan atas upaya dan kontribusinya, Deliana Dahnum menerima Penghargaan L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2024, bersama empat peneliti perempuan lainnya. Penelitian ini merupakan salah satu inovasi yang memanfaatkan sumber daya lokal. Selain itu, gagasan Dahnum juga telah mendukung produksi bahan bakar ramah lingkungan yang dapat mengurangi emisi karbon.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/periset-brin-kembangkan-minyak-kelapa-jadi-bahan-bakar-pesawat/feed/ 0
Keren! Mahasiswa UGM Olah Biji Kakao untuk Kosmetik https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-manfaatkan-biji-kakao-untuk-produk-kosmetik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-manfaatkan-biji-kakao-untuk-produk-kosmetik https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-manfaatkan-biji-kakao-untuk-produk-kosmetik/#respond Wed, 20 Nov 2024 06:28:53 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=45281 Lima mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengolah biji kakao menjadi produk kosmetik dengan nilai ekonomi tinggi. Produk berbahan dasar kakao ini diberi nama Kakolie […]]]>

Lima mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengolah biji kakao menjadi produk kosmetik dengan nilai ekonomi tinggi. Produk berbahan dasar kakao ini diberi nama Kakolie Beauty yang menawarkan berbagai produk perawatan tubuh, seperti body soap, body scrub, dan body lotion.

Dengan ide inovatifnya, lima mahasiswa dari UGM ini berhasil mengembangkan dan memanfaatkan biji kakao yang belum dimanfaatkan secara optimal. Tujuan pengembangan produk ini adalah untuk meningkatkan nilai guna sekaligus nilai ekonomi dari biji kakao.

Dengan memanfaatkan bahan dasar tumbuhan ini, Kakolie Beauty menawarkan berbagai manfaat, seperti mencerahkan kulit secara alami, mencegah garis halus, serta cocok untuk kulit sensitif.

BACA JUGA: Greeners.Co Ajak Mahasiswa UGM Mengenal Ecopreneurship

Kelima mahasiswa FEB UGM yang terlibat dalam pengembangan Kakolie Beauty adalah Jeanette Sabrina Nainggolan, bersama empat rekannya dari Program Sarjana Studi Manajemen angkatan 2022, yaitu Karina Mutia Azrah, Gracella Tambunan, Hanna Takiya Irfan Bey, dan Raisa Aulia.

Jeanette Sabrina, salah satu penggagas Kakolie Beauty, menjelaskan bahwa ia bersama tim mengembangkan produk ini dengan memanfaatkan biji kakao dari Desa Putat, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di samping itu, Desa Putat sudah terkenal sebagai salah satu sentra produksi kakao di wilayah tersebut

“Kami berupaya menghadirkan produk perawatan tubuh dengan bahan utama biji kakao yang mengandung antioksidan tinggi sehingga baik untuk kulit,” ujar Jeanette lewat keterangan tertulisnya, Senin (18/11).

Raih Juara 3

Selain itu, inovasi oleh kelima mahasiswa tersebut berhasil membawa mereka meraih juara 3 dalam program pra-inkubasi bisnis YES! X CSDU pada 10 November 2024 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM. Bahkan, sebagai pemenang, mereka berhak mendapatkan pendanaan sebesar 10 juta rupiah untuk mendukung pengembangan usaha mereka di masa depan.

Karina Mutia Azrah, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa produk Kakolie Beauty lahir melalui program pra-inkubasi bisnis YES! X CSDU. Selama mengikuti program ini, ia dan tim menerima mentoring serta berbagai pelatihan yang sangat membantu dalam pengembangan usaha mereka.

“Saya sangat bersyukur bisa mengikuti program ini. Materi selama pelatihan benar-benar membantu kami untuk mengeksplorasi dunia kewirausahaan dan memulai usaha,” ujar Karina.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-manfaatkan-biji-kakao-untuk-produk-kosmetik/feed/ 0
Keren, Lampu Gantung Berbentuk Matahari Ini Terbuat dari Kulit Jeruk https://www.greeners.co/ide-inovasi/keren-lampu-gantung-berbentuk-matahari-ini-terbuat-dari-kulit-jeruk/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=keren-lampu-gantung-berbentuk-matahari-ini-terbuat-dari-kulit-jeruk https://www.greeners.co/ide-inovasi/keren-lampu-gantung-berbentuk-matahari-ini-terbuat-dari-kulit-jeruk/#respond Tue, 22 Oct 2024 07:18:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=45031 Saat ini, banyak barang bekas, seperti plastik, kayu, dan logam yang dapat kita olah menjadi benda unik dan bermanfaat. Namun, sampah organik juga berpotensi menjadi barang bernilai. Salah satu desainer […]]]>

Saat ini, banyak barang bekas, seperti plastik, kayu, dan logam yang dapat kita olah menjadi benda unik dan bermanfaat. Namun, sampah organik juga berpotensi menjadi barang bernilai. Salah satu desainer asal Inggris, Alkesh Parmar, memanfaatkan kulit jeruk sebagai bahan untuk menciptakan lampu gantung yang menyerupai matahari.

Yanko Design melansir, meskipun sampah kulit buah terurai secara hayati, sampah tersebut sebenarnya memiliki banyak kegunaan. Salah satunya, kulit jeruk kering menjadi lentur dan memiliki tekstur seperti kulit sehingga mudah dijahit.

Selain itu, minyak dan aroma dari kulit jeruk juga dapat digunakan sebagai wewangian. Namun, sering kali kulitnya dibuang setelah dikupas. Di tangan Parmar, kulit jeruk ia ubah menjadi benda yang bermanfaat dan memikat. Ini menunjukkan potensi besar dari limbah organik.

Parmar menjahit kepingan kulit jeruk menjadi bahan yang mirip kain. Produk itu akhirnya ia manfaatkan sebagai penghias barang. Salah satu contoh inovatifnya adalah ia mencoba memadukan kulit jeruk itu pada lampu gantung. Alhasil, lampu gantung itu berbentuk bola yang tampak seperti jeruk raksasa.

BACA JUGA: Dosen IPB Ciptakan Teknologi IoT untuk Atasi Heat Stress pada Sapi

Di samping itu, proses penjahitan tersebut disebut APeel. Dalam proses ini, setiap jahitan direkatkan untuk memastikan kekuatan dan daya tahan produk. Setelah percobaannya berhasil, ternyata kulit jeruk ini memiliki sifat yang menjadikannya sangat cocok untuk digunakan sebagai bahan kain.

Dengan ide gagasan Parmar, kulit jeruk yang awalnya hanya sampah kini berubah menjadi barang seni penuh estetika. Lampu dari kulit jeruk ini memiliki tekstur khas yang menarik perhatian dan mengundang kekaguman para pengamat, berkat penggunaan materialnya yang berkelanjutan.

Lampu Gantung Bisa Jadi Pupuk

Selain itu, karena terbuat dari bahan yang dapat terurai secara hayati, produk ini bisa pengguna jadikan kompos setelah mencapai akhir masa pakainya. Hasil kompos tersebut akan menjadi pupuk untuk menanam pohon buah, seperti jeruk, sekaligus menciptakan ekonomi sirkular.

Walaupun kulit jeruk akan terurai seiring waktu, apabila kamu buang secara sembarangan, kulit jeruk dapat menumpuk, menyumbat pipa, dan mencemari air. Meskipun terlihat sepele, jumlah kulit jeruk yang terbuang bisa menjadi polutan jika tidak kamu kelola dengan baik.

Dengan demikian, pemanfaatan kulit jeruk tidak hanya menciptakan produk seni yang menarik, tetapi juga berdampak positif bagi lingkungan. Produk ini juga dapat menjadi referensi bagi desainer lain untuk menciptakan produk-produk berkelanjutan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/keren-lampu-gantung-berbentuk-matahari-ini-terbuat-dari-kulit-jeruk/feed/ 0
Dosen IPB Ciptakan Teknologi IoT untuk Atasi Heat Stress pada Sapi https://www.greeners.co/ide-inovasi/dosen-ipb-ciptakan-teknologi-iot-untuk-atasi-heat-stress-pada-sapi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dosen-ipb-ciptakan-teknologi-iot-untuk-atasi-heat-stress-pada-sapi https://www.greeners.co/ide-inovasi/dosen-ipb-ciptakan-teknologi-iot-untuk-atasi-heat-stress-pada-sapi/#respond Mon, 16 Sep 2024 04:15:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=44747 Dosen Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Iyep Komala, bersama dua peneliti lainnya, Mohammad Fayruz dan Rudi Hernowo, meluncurkan inovasi terbaru dalam teknologi peternakan bernama ‘D Ruminansia’. Alat ini dirancang untuk […]]]>

Dosen Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Iyep Komala, bersama dua peneliti lainnya, Mohammad Fayruz dan Rudi Hernowo, meluncurkan inovasi terbaru dalam teknologi peternakan bernama ‘D Ruminansia’. Alat ini dirancang untuk mengatasi masalah heat stress pada sapi, menggunakan teknologi Internet of Things (IoT).

Heat stress merupakan kondisi tubuh sapi (atau hewan lainnya) mengalami kesulitan dalam mengatur suhu tubuh akibat paparan panas yang berlebihan. Hal ini terjadi ketika hewan tidak dapat mengeluarkan panas dari tubuhnya secara efektif karena suhu lingkungan atau kelembapan yang tinggi.

Menurut Iyep, sapi perah rentan mengalami heat stress. Hal itu dapat mengakibatkan penurunan produksi susu dan berdampak negatif pada kondisi reproduksi. Alat ini tidak hanya mendeteksi heat stress, tetapi juga mengukur kenyamanan sapi dalam kandang.

BACA JUGA: U-Bouy, Alat Peringatan Dini untuk Cegah Kematian Massal Ikan

Selain itu, Iyep menjelaskan, pengembangan D Ruminansia merupakan solusi terhadap penurunan produksi susu di Indonesia, di mana impor susus sapi masih cukup besar, yaitu mencapai sekitar 82 persen.

Heat stress pada sapi perah dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Oleh karena itu, kami mengembangkan D Ruminansia sebagai alat pengukur mikroklimat dan thermal humidity index berbasis IoT untuk memantau kenyamanan ruminansia,” ujar Iyep lewat keterangan tertulisnya pada laman Berita IPB, Jumat (13/9).

Ia menambahkan, sapi perah sangat mudah mengalami heat stress. Sebab, selama ini metode pencatatan data iklim di kandang masih bersifat manual dan tidak memungkinkan pemantauan jarak jauh. Dengan menggunakan D Ruminansia, para peternak dapat memantau dan mengontrol iklim kandang secara real-time dan jarak jauh. Teknologi ini juga memungkinkan perhitungan Temperature Humidity Index (THI) untuk deteksi heat stress pada ternak.

D Ruminansia Terbukti Efektif

Saat ini, para peneliti telah melakukan uji coba D Ruminansia di Cipelang, Bogor. Hasil uji coba tersebut terbukti efektif dalam mengukur kadar amonia, kecepatan angin, dan intensitas cahaya.

“Metode rekap data iklim yang umum saat ini masih manual dan tidak memungkinkan pemantauan jarak jauh. Dengan D Ruminansia, kami menghadirkan inovasi berbasis IoT yang memungkinkan pemantauan dan pengendalian mikroklimat di kandang sapi secara realtime,” tambah Iyep.

Teknologi ini juga sudah terdaftar untuk hak cipta dan hak merek, serta sedang dalam proses pengajuan hak paten. Peneliti telah menerapkan D Ruminansia di Balai Embrio Ternak Ruminansia. Nantinya, peneliti akan menerapkan alat ini di peternakan sapi perah di Cijeruk dan Cibungbulang, Bogor, serta Pondok Ranggon, Jakarta Timur.

BACA JUGA: Bioteknologi Bisa Tingkatkan Produksi Hingga Triliunan Rupiah

Akses D Ruminansia telah tersedia laman resmi di https://d-ruminansia.com/ atau aplikasi smartphone. Fitur-fitur unggulan dari alat ini termasuk sistem kontrol terintegrasi, artificial intelligence, dan perhitungan temperature humidity index untuk mendeteksi heat stress.

Dengan inovasi ini, Iyep berharap peternak dapat lebih efektif dalam mengelola dan meningkatkan produktivitas sapi perah. Sehingga, mereka bisa menjaga kesejahteraan hewan melalui pemantauan kondisi lingkungan secara real-time.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/dosen-ipb-ciptakan-teknologi-iot-untuk-atasi-heat-stress-pada-sapi/feed/ 0
Kreatif! Desainer Italia Buat Tempat Hiasan Bunga dari Mikroalga https://www.greeners.co/ide-inovasi/kreatif-desainer-italia-buat-tempat-hiasan-bunga-dari-mikroalga/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kreatif-desainer-italia-buat-tempat-hiasan-bunga-dari-mikroalga https://www.greeners.co/ide-inovasi/kreatif-desainer-italia-buat-tempat-hiasan-bunga-dari-mikroalga/#respond Thu, 29 Aug 2024 06:25:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=44611 Inovasi dalam mendaur ulang merupakah hal yang penting untuk menangani limbah yang dihasilkan. Salah satu inisiatif menarik dalam hal ini yaitu proyek By Osmosis yang dipelopori oleh Laura Bordini. Perempuan […]]]>

Inovasi dalam mendaur ulang merupakah hal yang penting untuk menangani limbah yang dihasilkan. Salah satu inisiatif menarik dalam hal ini yaitu proyek By Osmosis yang dipelopori oleh Laura Bordini. Perempuan asal Italia ini mengubah mikroalga produk menjadi biomaterial yang unik dan kreatif seperti tempat hiasan bunga.

Biomaterial merupakan bahan yang berasal dari organisme biologis seperti tumbuhan, hewan, bakteri, jamur, dan bentuk kehidupan lainnya. Penggunaannya sangat beragam, mulai dari implan medis hingga kemasan ramah lingkungan.

Mikroalga adalah mikroorganisme bersel satu yang hidup di perairan, seperti laut, danau, sungai, dan perairan payau yang berpotensi besar dalam menciptakan kemasan berkelanjutan. Meskipun desainer belum banyak mempertimbangkan tumbuhan renik ini sebagai bahan produksi kemasan.

Laura mengeksplorasi biomassa mikroalga hasil dari proses pemurnian air di pusat pembuangan limbah di Lindlar, Jerman. Dengan pendekatan ini, Laura tidak hanya menciptakan produk baru, tetapi juga menciptakan konsep ekonomi sirkular.

BACA JUGA: Maglor, Inovasi Pakan Ternak dari Maggot BSF dan Daun Kelor

Dalam proyek By Osmosis, Laura mengubah biomassa mikroalga menjadi berbagai bentuk kemasan dan menggunakan kemasan tersebut sebagai biostimulan untuk pertanian.

Salah satu produk yang Laura hasilkan yaitu tempat bunga yang terbuat dari campuran mikroalga dan serbuk kayu. Tempat bunga ini tidak hanya berfungsi untuk menyimpan tanaman sementara. Inovasi Laura juga bermanfaat sebagai biostimulan setelah bunga tersebut tidak digunakan lagi. Dengan demikian, kemasan ini mendukung regenerasi tanah dan pertumbuhan tanaman baru, memperlihatkan siklus hidup yang berkelanjutan.

Yanko Design melansir, selain tempat bunga, Laura juga menciptakan wadah benih dari mikroalga. Wadah ini ia rancang untuk dapat mendukung pertumbuhan benih serta berkontribusi positif terhadap lingkungan setelah digunakan.

Kemasan lain yang menarik adalah kartu tanam yang menggabungkan pesan seperti ‘Nice to Seed You’ dengan benih dan mikroalga. Kartu ini tidak hanya memberikan pesan yang personal, tetapi juga mendorong penanaman dan pertumbuhan tanaman.

Tempat hiasan bunga dari mikroalga. Foto: Yanko Design

Tempat hiasan bunga dari mikroalga. Foto: Yanko Design

Mikroalga Miliki Potensi Besar

Inovasi yang Laura lakukan melalui proyek By Osmosis, menunjukkan bahwa mikroalga berpotensi besar sebagai bahan baku dalam desain produk berkelanjutan. Dengan mengubah limbah mikroalga menjadi kemasan dan biostimulan, Laura tidak hanya menciptakan produk baru, tetapi juga memperkenalkan cara berpikir yang lebih ekologis dan sirkular dalam desain produk.

Laura berharap eksperimen ini dapat memicu kreativitas para desainer dan pencipta produk lainnya untuk mempertimbangkan mikroalga sebagai bahan alternatif di masa depan.

BACA JUGA: Keren! Desainer Asal New York Buat Hiasan Lampu dari Jamur

“Dengan adopsi lebih luas dari bahan-bahan berkelanjutan dan proses daur ulang yang inovatif, kita dapat melangkah menuju praktik konsumsi dan produksi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ungkap Laura.

Dengan demikian, proyek By Osmosis bukan hanya tentang menciptakan produk baru. Proyek ini bisa mengubah cara pandang semua orang untuk bisa memanfaatkan limbahnya dan mencari solusi yang berkelanjutan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/kreatif-desainer-italia-buat-tempat-hiasan-bunga-dari-mikroalga/feed/ 0
Keren! Desainer Asal New York Buat Hiasan Lampu dari Jamur https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-asal-new-york-buat-hiasan-lampu-dari-jamur-miselium/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=desainer-asal-new-york-buat-hiasan-lampu-dari-jamur-miselium https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-asal-new-york-buat-hiasan-lampu-dari-jamur-miselium/#respond Mon, 05 Aug 2024 03:00:43 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=44366 Menentukan desain lampu merupakan hal penting yang perlu kita perhatikan karena mempengaruhi estetika ruangan. Penting juga bagi desainer untuk menciptakan kap lampu yang menarik. Salah satunya seperti desainer asal New York […]]]>

Menentukan desain lampu merupakan hal penting yang perlu kita perhatikan karena mempengaruhi estetika ruangan. Penting juga bagi desainer untuk menciptakan kap lampu yang menarik. Salah satunya seperti desainer asal New York yang membuat hiasan lampu dengan konsep ramah lingkungan dari jamur miselia.

Terdengarnya tampak unik, namun desain lampu yang terbuat dari jamur ini jauh lebih daripada unik. Sebab, kap lampu tersebut juga ramah lingkungan dan dapat terurai secara hayati. Tentunya langkah ini menjadi sebuah terobosan untuk mendukung produk-produk lebih berkelanjutan.

Kini, miselium sedang menjadi bintang dalam industri desain meskipun bentuknya sederhana. Tetapi, miselium merupakan akar jamur yang memiliki banyak manfaat. Misalnya, mendisitribusikan air dan nutrisi ke tanaman sekaligus berfungsi sebagai makanan bagi organisme yang hidup di tanah yang sama.

Yanko Design melansir, baru-baru ini miselium telah menjadi fokus banyak penelitian dan eksperimen desain yang menggunakannya sebagai alaternatif bahan seperti kain atau bahkan beton.

BACA JUGA: Plasma Nano Bubble, Teknologi yang Mampu Pulihkan Kualitas Air

MushLume sebagai penggagas kap lampu yang terbuat dari jamur miselium ini memanfaatkan miselium menjadi desain lampu yang penuh esetetika. Jamur itu mereka tanam hingga mengeras di dalam cetakan.

Setelah matang, jamur tersebut akan dikeluarkan dari cetakan kemudian dipanaskan. Kemudian, jamur akan dikeringkan hingga menjadi bentuk kap lampu yang unik.

Desainer asal New York memuat hiasan lampu dari jamur. Foto: Yanko Design

Desainer asal New York memuat hiasan lampu dari jamur. Foto: Yanko Design

Hiasan Lampu MushLume Bisa Terurai Secara Hayati

Hasil dari material ini menjadi produk yang berkelanjutan. Proses pembuatannya juga hanya menggunakan sedikit air dan energi. Sehingga, produk ini bisa mengurangi emisi karbon dan limbah secara signifikan.

Bahannya pun dapat terurai secara hayati, apabila kap lampu itu rusak, tentu pemiliknya bisa mengompos kap lampu tersebut. Tidak sekadar ramah lingkungan, lampu MushLume juga menghadirkan estetika khas pada ruangan mana pun.

BACA JUGA: Keren! Alumni UI Ciptakan Sampo Alami Anti Gatal untuk Anabul

Permukaannya terlihat natural dan mentah ini menyerupai beton dari kejauhan tetapi faktanya lampu ini sangatlah ringan. Tekstur dan polanya pun sangatlah unik bisa menambah karakter pada desainnya sekaligus memberikan nuansa yang hangat pada cahaya yang tersebar dalam ruangan.

Meskipun desainer perlu menguji lebih lanjut untuk mengembangkan jamur miselium ini, tentu MushLume telah membuktikan bahwa mereka berhasil menciptakan produk-produk lebih berkelanjutan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-asal-new-york-buat-hiasan-lampu-dari-jamur-miselium/feed/ 0
Unpad Kembangkan Suplemen Cegah Stunting dari Ikan Bandeng https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-unpad-kembangkan-suplemen-cegah-stunting-dari-ikan-bandeng/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-unpad-kembangkan-suplemen-cegah-stunting-dari-ikan-bandeng https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-unpad-kembangkan-suplemen-cegah-stunting-dari-ikan-bandeng/#respond Sun, 28 Jul 2024 03:00:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=44370 Sisa olahan ikan bandeng seringkali dibuang ke lingkungan atau diolah kembali untuk dijadikan pakan ternak. Padahal, sisa olahan ikan tersebut seperti tulang ikan memiliki kandungan tinggi kalsium dan protein. Melihat […]]]>

Sisa olahan ikan bandeng seringkali dibuang ke lingkungan atau diolah kembali untuk dijadikan pakan ternak. Padahal, sisa olahan ikan tersebut seperti tulang ikan memiliki kandungan tinggi kalsium dan protein. Melihat potensi tersebut, mahasiswa Universitas Padjajaran (Unpad) memanfaatkan tulang ikan bandeng tersebut menjadi suplemen penanganan stunting.

Lima mahasiswa Unpad dari Fakultas Farmasi telah melakukan riset ini untuk merancang formulasi kapsul suplemen kalsium-protein ini dengan nama Grow Kiddy. Mereka ialah Sarah Raisya Nurhaliza, Mazaya Salwa Nadhira, Angel Christella, Aurelina Yunita Hess, dan Joseph Fide Anggi.

Penelitian tersebut di bawah bimbingan Iyan Sopyan. Tim ini berhasil mendapatkan pendanaan dalam Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Eksakta (PKM-RE) Kemdikbudristek Tahun 2024.

BACA JUGA: Desainer Asal Swiss Buat Bangku Daur Ulang dari Serbuk Gergaji

Dalam penelitian ini, peneliti akan mendapatkan sisa produksi tulang ikan bandeng dari pemasok tulang ikan bandeng di daerah Ujung Berung, Kota Bandung. Selanjutnya, mereka akan mengembangkan tulang ikan bandeng tersebut menjadi kapsul.

Dari sisi bentuk sediaan suplemen, kapsul merupakan salah satu sediaan yang praktis karena balita akan lebih mudah menelannya. Apabila terdapat balita yang kesulitan dalam menelan kapsul, serbuk dalam kapsul pun dapat dilarutkan.

Mahasiswa Unpad Lakukan Proses Riset yang Panjang

Rangkaian proses riset telah peneliti mulai dengan persiapan bahan tulang ikan bandeng dengan mencuci dan merebus. Lalu, peneliti akan mempresto tulang ikan bandeng pada sampel segar. Kemudian, tulang ikan bandeng akan masuk proses pengeringan, penghalusan, dan pengayakan. Setelah itu, peneliti akan mencampur tulang ikan bandeng dengan bahan-bahan yang terdapat dalam formulasi ke dalam tepung tulang ikan bandeng, lalu akan mereka hancurkan.

Serbuk tulang ikan bandeng yang telah peneliti dapatkan, selanjutnya akan mereka uji kandungan kalsium dan proteinnya. Hasil pengujian juga akan mereka tinjau untuk dasar pertimbangan penetapan dosis yang tepat bagi pengguna suplemen.

BACA JUGA: Keren! Alumni UI Ciptakan Sampo Alami Anti Gatal untuk Anabul

Adapun pengujian lainnya berupa pengujian waktu hancur, sifat alir, dan keseragaman bobot kapsul. Seluruh pengujian peneliti lakukan agar formulasi yang telah mereka rancang bisa memenuhi syarat keberterimaan sesuai pedoman yang ada.

Para peneliti muda ini berharap supaya penelitian ini dapat menghadirkan suplemen yang dapat menurunkan angka prevalensi stunting. Suplemen hasil riset ini juga dapat membantu peningkatan kesehatan balita.

“Kapsul suplemen kalsium-protein ini harapannya dapat memiliki efektivitas yang baik dari sisi zat penyusunnya. Sehingga, ke depannya angka prevalensi stunting di Indonesia menurun hingga mencapai batas standar prevalensi yang WHO tetapkan, yaitu tidak melebihi 20%,” ujar ketua penelitian, Sarah.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-unpad-kembangkan-suplemen-cegah-stunting-dari-ikan-bandeng/feed/ 0
Mahasiswa Unsoed Buat Tablet Hisap dari Daun Pegagan https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-unsoed-buat-tablet-hisap-dari-daun-pegagan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-unsoed-buat-tablet-hisap-dari-daun-pegagan https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-unsoed-buat-tablet-hisap-dari-daun-pegagan/#respond Sat, 20 Jul 2024 06:00:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=44316 Sekelompok mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) berhasil menciptakan inovasi berupa produk tablet hisap “Cebra Tab”. Produk ini merupakan tablet hisap yang mengombinasikan bahan aktif ekstrak daun pegagan dan daun krokot […]]]>

Sekelompok mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) berhasil menciptakan inovasi berupa produk tablet hisap “Cebra Tab”. Produk ini merupakan tablet hisap yang mengombinasikan bahan aktif ekstrak daun pegagan dan daun krokot untuk meningkatkan daya ingat dan mencegah stroke.

Inovasi tersebut adalah gagasan mahasiswa Unsoed yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa di Bidang Kewirausahaan (PKM-K). Tim PKM-K ini terdiri dari Esti sebagai ketua tim dengan 4 anggota lainnya, yaitu Rizki Febri Pratama, Devina Aulia Hayati, Pipin Mufidatun Rahmah, dan Muhammad Farrel Ryandra Ardaffa.

Esti menjelaskan, pegagan merupakan tanaman yang cocok tumbuh di tanah yang lembap seperti tanah gambut. Saat ini, Indonesia memiliki lahan gambut seluas 20,2 hektare. Sehingga, pegagan dapat berpotensi sebagai sumber daya alam melimpah yang menguntungkan.

BACA JUGA: Plasma Nano Bubble, Teknologi yang Mampu Pulihkan Kualitas Air

Namun, saat ini masyarakat masih kurang memanfaatkan daun pegagan karena rasanya pahit. Selain itu, krokot juga masih belum dimanfaatkan secara maksimal karena rasanya yang asam.

“Inovasi daun pegagan menjadi tablet hisap menjadi peluang pasar yang dapat diperjualbelikan ke berbagai kalangan usia karna bersifat herbal,” ucap Esti lewat keterangan tertulisnya, Rabu (17/7).

Mahasiswa Unsoed Jual “Cebra Tab” dengan Harga Ekonomis

Produk tablet hisap “Cebra-Tab” telah terstandardisasi. Produk ini sudah melalui berbagai macam pengujian. Di antaranya uji waktu alir, uji kadar air, uji sudut diam, uji kekerasan tablet, uji keseragaman ukuran, serta uji kerapuhan tablet dengan hasil memenuhi syarat produk farmasi.

“Sehingga, produk ini mencapai status layak konsumsi dengan tingkat keamanan yang teruji sebagai suplemen peningkat daya ingat dan pencegah stroke,” tutur Esti.

Tim pembuat tablet hisap herbal ini dibimbing oleh Dosen Ekonomi Pembangunan Unsoed, Muhammad Syah Fibrika Ramadhan. Pengembangan dan pengujian produk dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi dan Laboratorium Teknologi Sediaan Fitofarmasetika Fakultas Ilmu Kesehatan Unsoed.

Tim telah mengemas produk ini ini dalam kemasan yang yang menarik. Sekelompok mahasiswa Unsoed tersebut telah menjual tablet hisap herbal ini dengan harga yang ekonomis.

Daun Pegagan Bisa Tingkatkan Daya Ingat Otak

Esti menambahkan, dengan adanya inovasi “Cebra-Tab”, daun krokot akan memiliki nilai praktis dan nilai jual yang menguntungkan, baik bagi pengusaha maupun dunia kesehatan.

Daun pegagan ini mengandung asiaticoside dan brahmoside untuk meningkatkan daya ingat otak. Selain itu, kandungan triterpenoid dalam pegagan juga dapat merevitalisasi pembuluh darah sehingga memperlancar peredaran darah menuju otak.

Kandungan flavonoid dalam pegagan dapat menangkal radikal bebas. Daun krokot mengandung lemak omega-3 untuk mencerdaskan otak. Vitamin A, vitamin B kompleks, dan vitamin C yang terkandung dalam krokot dapat mencegah penyakit kardiovaskuler, khususnya cerebro-vaskular accident atau stroke.

Cebra Tab Bisa Cegah Stroke

Saat ini, delirium atau linglung masih menjadi penyakit yang banyak diderita lansia. Bahkan, banyak kalangan muda yang menderita penyakit ini.

Penyakit delirium merupakan masalah pada otak yang dapat mengganggu fungsi syaraf dan darah. Orang yang mengalami delirium berpotensi terkena serangan stroke.

Penyakit delirium terjadi akibat beberapa faktor. Di antaranya inflamasi, penuaan, stres oksidatif, ketidakseimbangan neurotransmiter, gangguan endokrin, dan gangguan tidur. Selain itu, tren konsumsi junk food saat ini dapat menimbulkan dampak buruk karena meningkatkan kadar kolesterol yang memicu darah tinggi hingga penyakit stroke.

BACA JUGA: Peneliti BRIN Kembangkan Tanaman Kayu Putih di Papua

“Maka dari itu, perlu suplemen pendukung untuk menstabilkan fungsi otak dan menjaga kesehatan darah. Namun, suplemen kesehatan otak dan pencegah stroke saat ini kebanyakan berbahan dasar L-carnitine dan vitamin E dalam dosis tinggi. Itu dapat menyebabkan efek samping berbahaya seperti kram perut, diare, gangguan pencernaan, bahkan pendarahan,” ungkap Esti.

Dengan demikian, lanjut Esti, suplemen herbal “Cebra Tab” bisa menjadi alternatif produk untuk menjaga kesehatan otak dan mencegah penyakit stroke.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-unsoed-buat-tablet-hisap-dari-daun-pegagan/feed/ 0
Couro, Lampu Ramah Lingkungan dari Daun Pohon Palem https://www.greeners.co/ide-inovasi/couro-lampu-ramah-lingkungan-dari-daun-pohon-palem/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=couro-lampu-ramah-lingkungan-dari-daun-pohon-palem https://www.greeners.co/ide-inovasi/couro-lampu-ramah-lingkungan-dari-daun-pohon-palem/#respond Tue, 02 Apr 2024 05:43:22 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=43444 Desainer asal Spanyol, Let’s Pause menciptakan Couro, lampu ramah lingkungan yang terbuat dari limbah kering daun pohon palem Amerika. Tanaman itu telah memberikan tampilan lampu transparan lebih unik dan menyebarkan […]]]>

Desainer asal Spanyol, Let’s Pause menciptakan Couro, lampu ramah lingkungan yang terbuat dari limbah kering daun pohon palem Amerika. Tanaman itu telah memberikan tampilan lampu transparan lebih unik dan menyebarkan cahaya yang indah.

Saat ini, terobosan baru oleh desainer dalam bidang pencahayaan yang berkelanjutan memang perlu penggunaan bahan dan teknik yang berbeda. Namun, desain lampu yang memiliki material ramah lingkungan memiliki keunikan tersendiri.

Pause pun tidak sekadar memilih material yang ramah lingkungan. Ia juga memerhatikan secara visual yang indah dan memukau untuk ditaruh di dalam ruangan. Lampu liontin ini merupakan salah satu koleksi di Ceci Ferrero.

BACA JUGA: Desainer Prancis Buat Kursi Roda Kayu Ramah Lingkungan

Yanko Design melansir bahwa koleksi ini meliputi kap lampu Couro 8 Leafs. Kemudian, daunnya dibalut secara artistik ke dalam susunan lampu tersebut sehingga memiliki nuansa memukau dan elegan.

Lampu tersebut bahkan akan terlihat lebih cantik di atas meja makan atau tergantung di pintu masuk hotel. Sehingga, sangat cocok untuk ruang pribadi maupun komersial. Desain pencahayaannya pun dapat digantung dengan ketinggian berbeda-beda.

“Tekstur daunnya, dengan seratnya yang padat, mengingatkan pada kulit tua dan memberikan elemen sentuhan yang unik,” kata Pause.

Couro. Foto: Yanko Design

Couro. Foto: Yanko Design

Koleksi Couro Bernuansa Natural

Lampu berbingkai daun cokelat ini di dalamnya terbuat dari alumunium dan terpasang colokan hitam serta kabel listrik berbahan katun hitam matte sepanjang 2,5 meter. Kemudian, koleksi Couro yang menggunakan limbah daun telah memberikan tampilan natural dengan sentuhan alam pada koleksinya.

BACA JUGA: Peneliti di Swedia Buat Kain Viscose dari Daur Ulang Katun Bekas

Selain itu, Couro bisa melengkapi berbagai gaya dekorasi interior dan menambahkan percikan gaya dan keanggunan yang unik ke berbagai ruangan, baik itu di ruang tamu atau di area kantor. Desain ini juga telah menjadi bukti bahwa desain yang unik dapat terbuat dari material ramah lingkungan, salah satunya limbah daun.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/couro-lampu-ramah-lingkungan-dari-daun-pohon-palem/feed/ 0