BRIN Bakal Kembangkan Alat Penahan Ombak dari Limbah Plastik

Reading time: 3 menit
BRIN akan mengembangkan teknologi alat penahan ombak (APO) semipermeable hex brick dari limbah plastik. Foto: BRIN
BRIN akan mengembangkan teknologi alat penahan ombak (APO) semipermeable hex brick dari limbah plastik. Foto: BRIN

Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan mengembangkan dan menerapkan teknologi alat penahan ombak (APO) semipermeable hex brick dari limbah plastik. Teknologi itu untuk rehabilitasi mangrove di Kabupaten Demak.

Kerja sama ini BRIN lakukan lewat Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) bersama Yayasan Bakau Manfaat Universal (BAKAU-MU). Keduanya memilih Kabupaten Demak sebagai tempat penerapan teknologi APO. Sebab, kawasan tersebut sangat terdampak fenomena abrasi dan banjir rob. Salah satu upaya yang bisa mereka lakukan adalah menanam mangrove.

BACA JUGA: BRIN Targetkan Penemuan 50 Taksa Baru di Indonesia

Namun, menurut Kepala PRBB BRIN Akbar Hanif Dawam Abdullah, penanaman mangrove akan menjadi sia-sia, jika bibit yang ditanam terhempas energi gelombang air laut yang terlalu kuat.

“Salah satu strategi bentuk pengendalian abrasi penahan gelombang yaitu perlu pemasangan APO, yang juga dapat menangkap sedimentasi karena turbulensi yang terbentuk di sekitar APO,” katanya di Cibinong, Jumat (22/3).

Kerja Sama Masih Berupa Pilot Project

Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN, Yaya Ihya Ulumuddin juga memastikan tim akan meneliti terlebih dahulu supaya penggunaan teknologi ini tidak menimbulkan mikroplastik yang berbahaya bagi biota laut.

“Muncullah ide menggunakan limbah plastik sebagai bahan pembuat APO. Sebagaimana sifatnya, plastik tahan lama dan mudah didapat. Namun, di sisi lain ada pertanyaan, apakah plastik itu akan luruh lagi ke lingkungan dan menjadi mikroplastik yang akan mencemari laut?” ungkap Yaya.

Kerja sama ini, lanjut Yaya, bukan merupakan implementasi yang sudah siap pakai, tetapi masih berproses sebagai pilot project. Sebab, ada berbagai uji yang harus mereka lakukan sementara produk dibuat dan diimplementasikan di lapangan.

“Uji-uji lain terus kami lakukan seperti apakah terjadi peluruhan berupa mikroplastik, bagaimana pengaruhnya terhadap biota, perubahan hidrologinya seperti apa, dan lain-lain,” katanya.

Menurut Yaya, dari publikasi-publikasi yang ada, sudah banyak pemanfaatan sampah plastik, antara lain sebagai bahan bangunan seperti bata atau genting yang sudah komersial.

“Ini bisa menjadi peluang kita tanpa meng-copy paste, tetapi fokus dengan kebutuhan nyata di lapangan,” ujarnya.

Ilustrasi mangrove. Foto: Freepik

Ilustrasi mangrove. Foto: Freepik

Kajian Rehabilitasi Mangrove

Yaya menambahkan, kegiatan ini mereka awali dengan kajian rehabilitasi mangrove di pesisir. Hasil dari kajian itu, ternyata butuh semacam pelindung dari gelombang untuk mangrove yang mereka tanam.

“Karena mangrove tidak akan tumbuh jika terkendala oleh gelombang air laut, sehingga kami mencoba membuat pelindung tersebut dari sampah plastik,” ungkap Yaya.

Oleh karena itu, perlu pemulihan atau perbaikan ekosistem mangrove. Namun, Yaya mengatakan di beberapa tempat tidak mudah merestorasi mangrove. Sebab, lahannya sudah tidak ada mangrove sama sekali atau sangat jarang. Sehingga, perlu membuat pelindung untuk mangrove yang baru tertanam.

BACA JUGA: Periset BRIN: Masyarakat Perlu Memiliki Peta Bahaya Tsunami

“Rusaknya mangrove juga telah mengubah kondisi lahan, sehingga mangrove tidak bisa pulih dengan sendirinya. Lokasi seperti ini memerlukan sedikit rekayasa agar kondisi yang tidak mendukung menjadi mendukung,” tambah Yaya.

Menurut Yaya, salah satu upaya untuk memulihkan lahan mangrove adalah membuat pelindung atau alat pemecah ombak.

Butuh Waktu 3 Tahun untuk Mengembangkan Teknologi

Yaya mengatakan, kegiatan ini butuh waktu selama tiga tahun, pada 2024 hingga 2026. Yaya berharap dalam kurun waktu tersebut mereka bisa mendapatkan satu teknologi yang lengkap.

Menurut Yaya, beberapa peneliti atau LSM juga sudah pernah membuat APO yang berasal dari kayu, bambu, ban bekas, dan beton berupa gorong-gorong yang disusun. APO tersebut dapat berfungsi meredam energi gelombang. Namun, tantangan menggunakan material kayu atau bambu adalah kalah dengan biota laut. Dalam setahun biota laut sudah bisa hancur.

“Padahal, secara ekologis atau lingkungan, material tersebut paling bagus karena merupakan material alam. Secara hidrologis juga baik karena dapat melewatkan air dan menangkap sedimen dengan baik. Proses perangkapan sedimen ini yang diperlukan oleh mangrove untuk bisa tumbuh,” jelasnya.

Ada juga APO dari beton, dengan kelebihan terletak dari konstruksinya yang tahan hingga 10 tahun. Sehingga, mampu lebih banyak mereduksi kekuatan gelombang laut. Namun, tantangannya pada biaya pembangunan yang sangat mahal dan kurang diminati karena menggunakan bahan semen.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top