Jamur Kulit Jeruk, Cendawan Oranye yang Memesona

Reading time: 2 menit
Tampilan jamur ini sangat mirip dengan berbagai spesies jamur beracun. Foto: Shutterstock

Aleuria aurantia atau biasa disebut jamur kulit jeruk, merupakan salah satu spesies Aleuria yang paling menyebar di dunia. Selain dari bentuknya yang unik, cendawan satu ini dapat kita kenali dari warna tubuhnya yang cerah.

Jamur A. aurantia tergabung dalam ordo Pezizales dan famili Pyronemataceae. Ia pertama kali Christiaan H. Persoon publikasikan pada tahun 1800, dengan nama Peziza aurantia.

Pemindahan jamur kulit jeruk ke genus Aleuria sebenarnya terjadi pada tahun 1870. Lewat riset DNA lanjutan, Karl W. G. L. Fuckel meyakini jika fungi tersebut berasal dari genus berbeda.

Secara morfologi, tampilan A. aurantia sejatinya cukup mirip dengan Sowerbyella rhenana. Keduanya sama-sama berbentuk cawan, tapi A. aurantia tumbuh tanpa batang dan lamela.

Morfologi dan Ciri-Ciri Jamur Kulit Jeruk

Ukuran jamur kulit jeruk terbilang cukup besar, mereka mampu berkembang biak mulai dari 2–10 cm. Tampilannya pun terbilang sangat khas. Warna oranye atau jingga mendominasi jamur ini.

Saat masih muda, permukaan bawah jamur biasanya berwarna keputihan. Sedangkan ketika dewasa warna tersebut berubah menjadi oranye, tapi lebih pucat dari permukaan atasnya.

Seperti yang telah disebutkan, A. aurantia berbiak tanpa batang, lamela, tudung dan cincin. Tubuh buahnya muncul secara langsung dari permukaan kayu, terutama yang sudah busuk.

Spora fungi ini juga tidak mempunyai warna, ukurannya antara 13–14 x 7,5–10 mikrometer. Bentuk spora umumnya terlihat oval, jumlahnya banyak serta tidak mengeluarkan bau khas.

Jamur kulit jeruk sendiri tumbuh secara berkelompok dengan tingkat kepadatan yang rapat. Karena itu, tubuh buahnya sering kali berbentuk tidak sempurna sebab tumbuh berimpitan.

Habitat dan Distribusi Jamur Kulit Jeruk

Secara umum A. aurantia dianggap sebagai jamur saprobik, tapi sejumlah ahli berpendapat bahwa jamur ini memiliki sifat mikoriza dan dapat bersimbiosis dengan berbagai tumbuhan.

Tidak cuma itu, jamur kulit jeruk juga pakar yakini memiliki sifat terestrial. Mereka acap kali ditemukan tumbuh di atas tanah, terutama di tanah lempung, tepi jalan, atau jalan setapak.

Negara-negara Eropa, Amerika Selatan, Asia dan Australasia merupakan habitat asli spesies jamur ini. Mereka menyebar ke berbagai negara, termasuk daerah Chili selatan dan Irlandia.

Di Eropa dan Amerika, jamur A. aurantia berkembang biak pada musim panas hingga gugur. Mereka juga mekar ketika musim dingin di daerah beriklim dingin, seperti di Amerika Utara.

Pemanenan jamur kulit jeruk sendiri dilakukan secara tradisional, yaitu ditepik langsung dari alam. Budi dayanya pun terbilang sangat jarang karena edibilitasnya masih jadi perdebatan.

Karakteristik dan Manfaat Aleuria Aurantia

Melansir berbagai sumber, jamur A. aurantia paling sering ditemukan di sekitar pohon ek dan beech. Mereka tumbuh pada tangkai pohon yang pendek, atau di antara rumput dan lumut.

Sebagai jamur saprobik, spesies A. aurantia memenuhi kebutuhan nutrisi dengan menyerap sari makanan dari inangnya. Meski bersifat parasit, jamur ini berguna sebagai pengurai flora.

Jika sudah mati, bahan organik yang terkandung di dalam jamur kulit jeruk berguna sebagai pupuk alami. Ini membuat tanah menjadi subur dan pertumbuhan tanaman jadi lebih sehat.

Menurut orang yang pernah mengonsumsinya, cita rasa A. aurantia tidak terlalu nikmat. Ia juga sangat jarang dijadikan sebagai menu utama, sehingga memiliki nilai ekonomis rendah.

Lagipula, mengonsumsi jamur kulit jeruk liar sejatinya tidak ahli anjurkan. Selain manfaatnya masih belum jelas, tampilan jamur ini sangat mirip dengan berbagai spesies jamur beracun.

Taksonomi Spesies Aleuria Aurantia

Penulis : Yuhan al Khairi

Top