keanekaragaman hayati
Tamarin pinche merupakan satwa asli Amerika Selatan dan termasuk dalam salah satu jenis primata terkecil di dunia. Berdasarkan penelitian, satwa ini memiliki 38 jenis suara berbeda.
Maraknya perdagangan satwa ilegal, pencurian keanekaragaman hayati maupun sumber daya genetik serta lemahnya perlindungan hukum menjadi penyebab semakin berkurangnya jumlah keanekaragaman hayati Indonesia.
Tindakan biopiracy ternyata tidak terbatas pada kegiatan pencurian kekayaan genetik secara ilegal dan sembunyi-sembunyi, melainkan banyak praktik biopiracy yang dilakukakan secara legal dan terang-terangan.
Lemahnya perlindungan terhadap potensi kenakeragaman hayati Indonesia menjadi penyebab terjadinya pencurian atau pembajakan sumber daya genetik lokal untuk kepentingan asing atau yang sering disebut dengan praktik biopiracy.
Bunga pukul delapan (Turnera subulata) ditemukan tumbuh liar di tempat-tempat yang terkena sinar matahari langsung atau sedikit terlindungi. Meski liar, tumbuhan berbunga ini memiliki banyak khasiat.
Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) berkolaborasi dengan Fakultas Biologi Universitas Nasional melakukan pendataan keragaman hayati pada kegiatan Implementation Quarry Life Award.
Walaupun tergolong sebagai tumbuhan liar, bunga kenikir dapat dijadikan obat herbal yang sangat ampuh, terutama daun-daunnya digunakan secara luas dalam pengobatan tradisional.
Diharapkan dengan adanya peta infografik dan papan informasi, potensi keanekaragaman hayati Hutan Kota Krida Loka dapat tergali.
Nepenthes rafflesiana merupakan tumbuhan karnivora yang merambat di lantai hutan. Tumbuhan ini biasanya menjebak mangsanya dengan membuka katup bagian atas dari bunga kantungnya.
Pecuk-ular Asia (Anhinga melanogaster) memiliki leher yang panjang serupa ular. Burung yang masuk dalam kategori hampir terancam punah ini mampu menyelam dalam waktu lama untuk mencari ikan.
Padma raksasa (Rafflesia arnoldii) terkenal karena memiliki bunga yang sangat besar, bahkan terbesar di dunia.
Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) atau sumatran elephant merupakan mamalia darat terbesar di Indonesia.
Ngengat atlas (Attacus atlas) kerap dianggap sebagai ngengat terbesar di dunia karena luas permukaan sayapnya yang mencapai 400 cm². Rentang sayapnya pun termasuk salah satu yang terlebar, yaitu berkisar antara 25-30 cm.
















