Penggemar K-Pop Kembali Tuntut Hana Bank Berhenti Danai Proyek Nikel

Reading time: 2 menit
Penggemar K-Pop menuntut Hana Bank berhenti mendanai proyek nikel. Foto:KPOP4PLANET
Penggemar K-Pop menuntut Hana Bank berhenti mendanai proyek nikel. Foto:KPOP4PLANET

Jakarta (Greeners) – Sebanyak 12 basis penggemar K-pop Indonesia menyampaikan surat secara terbuka ke kantor pusat Hana Bank di Seoul. Mereka menuntut Hana Bank agar segera berhenti mendanai proyek nikel bertenaga pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara di Pulau Obi. 

Hana Bank yang menunjuk sejumlah bintang K-pop, seperti G-Dragon dan An Yu-jin, sebagai brand ambassador menuai kritik dari penggemar K-pop. Kritik tersebut muncul terkait strategi pendanaan bank yang dinilai masih mendukung industri batu bara. Para penggemar mengklaim bahwa Hana Bank terus memberikan dukungan finansial kepada proyek-proyek batu bara skala besar di Indonesia.

KPOP4PLANET dan 12 basis penggemar K-pop Indonesia mengirimkan surat terbuka untuk Ketua Hana Financial Group, Ham Young-Joo, ke kantor pusat Hana Bank. Mereka mengecam Hana Bank karena telah memberikan dukungan keuangan yang signifikan kepada Grup Harita. Grup tersebut masih bergantung pada batu bara dalam operasi nikelnya di Pulau Obi, Indonesia.

Sejak 2018, Hana Bank telah mengucurkan pembiayaan US$ 84 juta ke Grup Harita, mengacu laporan Market Forces. Harita Group saat ini sedang membangun dan mengoperasikan pembangkit listrik tenaga batu bara berkapasitas 1,6 GW di Pulau Obi. Perusahaan tersebut juga berencana untuk memperluasnya menjadi lebih dari 4 GW. Hal ini secara langsung bertentangan dengan “Deklarasi Penghentian Pembiayaan Batu Bara” oleh Hana Financial Group. 

Organizer ZeroBaseOne Indonesia Cinta mengatakan, di Pulau Obo masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih. Sementara, aktivitas industri terus berlangsung dan mendapat dukungan pembiayaan internasional. 

“Ketika korporasi tetap berjalan normal di tengah krisis yang warga lokal alami, ini bukan hanya soal transisi energi. Ada ketimpangan kekuasaan dan tanggung jawab,” kata Cinta dalam keterangan tertulisnya, Kamis (5/2).

Menurutnya, dukungan finansial yang terus mengalir tanpa perubahan nyata di lapangan berarti turut membiarkan kerusakan ini berlangsung. 

Ungkapkan Kekecewaan 

Dalam surat terbuka tersebut, para penggemar juga mengungkapkan kekecewaan. Mereka menyatakan, “Pulau Obi yang dulunya subur dan hijau telah mengalami degradasi lingkungan yang parah. Kini masyarakat kesulitan, bahkan untuk mengakses air bersih.” 

Menurut mereka, emisi kabron dan polusi dari perluasan proyek PLTU batu bara dengan dukungan keuangan Hana Bank, akan sepenuhnya ditanggung oleh generasi mendatang.

Faktanya, emisi gas rumah kaca tahunan Grup Harita mencapai 10,87 MtCO2e pada tahun 2024, yang setara hampir 1% dari total emisi Indonesia pada 2023. Menurut Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), jika rencana ekspansi produksi nikel Harita berjalan sesuai jadwal, emisi akan berlipat ganda pada tahun 2028. Dukungan keuangan dari Hana Bank disebut secara tidak langsung berkontribusi pada “bom gas rumah kaca.”

“Tanpa generasi mendatang, Hana Bank tidak akan bertahan. Mereka harus secara aktif menafsirkan kebijakan pendanaan iklim yang mereka katakan, bukan hanya berinvestasi di PLTU batu bara, tetapi juga segera mengecualikan pembiayaan untuk perusahaan yang mengembangkan bisnis mereka berdasarkan tenaga batu bara,” ujar Juru Kampanye KPOP4PLANET di Indonesia, Nurul Sarifah. 

Dari surat terbuka ini para penggemar menuntut agar Hana Bank menghentikan pendanaan untuk Grup Harita selama masih bergantung pada PLTU batu baru baru, mengecualikan investasi untuk perusahaan yang membangun atau memperluas bisnis dan bergantung pada PLTU batu bara baru, dan menetapkan kebijakan yang memperkuat prinsip-prinsip pendanaan iklim.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top