Jakarta (Greeners) — Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada 21 Februari kembali menjadi refleksi serius atas krisis sampah plastik di Indonesia. Lembaga kajian lingkungan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) mengungkap temuan terbaru: mikroplastik terdeteksi dalam darah dan air ketuban.
Peneliti Ecoton, Sofi Azilan Aini, menyatakan bahwa sejak 2017 pihaknya telah mendeteksi keberadaan mikroplastik dalam feses, air susu ibu, air seni, ketuban, hingga darah perempuan.
“Ini seperti kutukan akibat kita menyia-nyiakan sampah plastik. Plastik sekali pakai yang terbuang tanpa pengolahan layak pada akhirnya kembali ke tubuh manusia,” ujarnya.
Indonesia dan Krisis Sampah Plastik
Ecoton mencatat Indonesia kini menjadi penyumbang sampah plastik laut terbesar ketiga di dunia setelah India dan Nigeria. Praktik membakar sampah dan membuangnya ke sungai memperparah pencemaran mikroplastik di udara, air sungai, bahkan air hujan.
Rata-rata konsumsi mikroplastik penduduk Indonesia mencapai 15 gram per bulan. Infiltrasi mikroplastik ke aliran darah menjadi ancaman serius karena partikel tersebut berpotensi menetap di organ vital dan memicu kerusakan sel.
Momentum HPSN sendiri merujuk pada tragedi longsoran sampah di TPA Leuwigajah pada 21 Februari 2005 yang menewaskan 157 jiwa. Peringatan ini ditetapkan melalui Keputusan Presiden RI Nomor 21 Tahun 2018.
Namun, lebih dari dua dekade berlalu, persoalan mendasar pengelolaan sampah tampak belum terselesaikan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan pada 2023 timbulan sampah nasional mencapai 31,9 juta ton. Sebanyak 11,3 juta ton di antaranya tidak terkelola, dengan lebih dari 7,8 juta ton berupa sampah plastik. Sebagian besar pengelolaan masih melalui pembakaran (57 persen), pembuangan sembarangan, atau penimbunan tanpa pengolahan memadai.
100 Persen Sampel Darah dan Ketuban Tercemar
Bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Ecoton melakukan uji pada perempuan di Gresik dan menemukan seluruh sampel darah (100 persen) mengandung mikroplastik dengan jumlah 2–18 partikel per mililiter.
Jenis partikel yang peneliti temukan berupa fiber dan fragmen dengan ukuran lebih dari 0,45 mikrometer. Analisis polimer menunjukkan kandungan polyethylene (PE) pada sebagian besar sampel, serta poly(n-butyl methacrylate) (PBMA). PE umum digunakan pada kemasan plastik, sementara PBMA banyak ditemukan pada pelapis dan perekat.
Selain itu, pengujian terhadap 42 sampel air ketuban (amnion) ibu melahirkan di Gresik juga menunjukkan 100 persen mengandung mikroplastik. Jenis polimer dominan adalah polyethylene yang lazim berasal dari botol plastik sekali pakai, kantong kresek, dan wadah makanan berbahan plastik.
Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, menyebut temuan ini mengkhawatirkan karena terdapat korelasi antara paparan mikroplastik dengan peningkatan kadar Malondialdehyde (MDA), penanda inflamasi dalam tubuh.
“Penemuan mikroplastik dalam ketuban dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan bayi,” ujarnya.
Mikroplastik di Otak Manusia
Temuan serupa juga menguatkan kekhawatiran global. Riset kolaboratif antara Greenpeace dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 2025 mengungkap adanya mikroplastik dalam jaringan otak manusia.
Penelitian tersebut merujuk kajian di New Mexico (2024) yang menemukan konsentrasi mikroplastik dan nanoplastik di otak 7–30 kali lebih tinggi dibandingkan hati dan ginjal. Konsentrasi plastik pada sampel otak 2024 bahkan meningkat 50 persen dibanding 2016.
Fenomena ini terjadi di tengah produksi plastik global yang telah melampaui 300 juta ton per tahun, dengan sekitar 2,5 juta ton di antaranya mencemari lautan.
Ecoton menegaskan plastik seharusnya tidak berada dalam tubuh manusia. Namun, realitas menunjukkan partikel plastik telah masuk hingga ke rahim—ruang yang selama ini dianggap paling aman bagi kehidupan.
Langkah pencegahan kian mendesak, mulai dari mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghindari pembakaran sampah, hingga membatasi paparan produk yang mengandung mikroplastik seperti kosmetik berbasis scrub plastik.
“Sebagai generasi muda, kita harus menghindari produk yang berpotensi mengandung mikroplastik karena partikel ini bisa masuk melalui pernapasan, makanan, maupun kulit,” tutur Sofi.
Penulis: Indiana Malia











































