Insinyur Teknik Lingkungan Perlu Terlibat Gapai Pembangunan Berkelanjutan

Reading time: 3 menit
Insinyur teknik lingkungan perlu terlibat dalam pembangunan berkelanjutan. Foto: BKTL
Insinyur teknik lingkungan perlu terlibat dalam pembangunan berkelanjutan. Foto: BKTL

Jakarta (Greeners) – Dunia, termasuk juga Indonesia, sedang menghadapi triple planetary crisis seperti perubahan iklim, kerusakan, dan polusi serta kehilangan biodiversity. Pembangunan berkelanjutan menjadi cara untuk memelihara bumi tetap lestari. Perlu peran insinyur teknik lingkungan dalam mencapai tujuan ini.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong mengatakan, masa depan di Indonesia ada pada biodiversity, bioekonomi.

“Insinyur Indonesia saya minta, kalau bapak presiden kan berulang kita akan bertransformasi ke green ekonomi, bioekonomi dan blue ekonomi,” katanya di Jakarta, Sabtu (27/4).

BACA JUGA: Pembangunan Berkelanjutan Jamin Kelanggengan Hidup Manusia

Wamen menyampaikan keynote speech tersebut dalam Seminar Nasional dan Konvensi Badan Kejuruan Teknik Lingkungan (BKTL), Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di Rimbawan I Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta.

Dalam acara ini turut hadir kepala dinas lingkungan hidup dari sejumlah wilayah Indonesia, serta para insinyur dan mahasiswa teknik lingkungan dari berbagai universitas.

Alue pun meminta PII melihat lebih jauh potensi itu. Menurutnya, arah pembangunan berkelanjutan, ekonomi, sosial, dan lingkungan yang inklusif bukan hanya untuk manusia, melainkan juga makhluk hidup ekosistem lainnya.

Ia melanjutkan, cacing pun berhak untuk hidup karena punya perannya sendiri termasuk berkontribusi bagi manusia. Ini menjadi bagian dari konsep pembangunan berkelanjutan.

Suhu Bumi Terus Meningkat

Alue menjelaskan, perubahan iklim bukan wacana, tapi fakta. Setiap tahun, tren kenaikan suhu bumi terus meningkat. Kenaikan suhu sudah tak dapat ditoleransi. Kenaikan 1,5 derajat Celcius di akhir abad bakal terpenuhi kalau tidak ada aksi nyata, masif, dan strategis.

Selain itu, juga terjadi kenaikan gas rumah kaca di atmosfer. Permukaan laut juga mengalami kenaikan antara 0,7-0,9 cm per tahun.

“Kita berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca 29 persen dengan usaha sendiri. Dengan dukungan internasional 41 persen. Komitmen menurunkan 29 persen emisi itu membutuhkan Rp4.000 triliun untuk mencapainya,” tuturnya.

BACA JUGA: BRIN Usung Ekonomi Ramah Lingkungan di G20

Belum lagi persoalan sampah yang masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Untuk mengatasi persoalan sampah tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga perubahan perilaku di masyarakat.

Alue juga menyoroti soal sumber daya air. Air yang dulunya barang gratis dan bebas, sekarang menjadi barang ekonomi. Padahal, sumber air tawar di Indonesia luar biasa besar. Namun, karena polusi, pencemaran sumber daya air terancam dan tak lagi murah.

Insinyur teknik lingkungan perlu terlibat dalam pembangunan berkelanjutan. Foto: BKTL

Insinyur teknik lingkungan perlu terlibat dalam pembangunan berkelanjutan. Foto: BKTL

Fokus Cari Solusi

Dari sederet persoalan itu, insinyur teknik lingkungan harus fokus mencari solusi. Di antaranya, mengimplementasikan keilmuwannya untuk menjamin pembangunan masyarakat yang berlanjutan. Kemudian, meminimalkan pencemaran dan degradasi lingkungan.

“Para insinyur teknik lingkungan menjadi potensi besar bangsa. Harapannya menjadi problem solver di bidang lingkungan hidup,” ucap Alue.

Di samping itu, harus menjadi garda terdepan menyumbangkan solusi inovatif terhadap tantangan lingkungan hidup yang semakin besar.

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Badan Kejuruan Teknik Lingkungan PII Novrizal Tahar mengungkapkan, profesi teknik lingkungan menjadi bagian penting di dalam isu-isu dunia ke depan.

Direktur Pengelolaan Sampah KLHK ini juga mengungkap, persoalan sampah berkaitan dengan tiga krisis yang terjadi di planet Bumi.

Perubahan iklim, sampah organik yang menghasilkan gas metan dan persoalan sampah plastik menjadi bagian dari persoalan tersebut.

“BKTL PII mendorong pengelolaan sampah dilakukan profesional dan modern. Tidak bisa dilakukan sambil lalu oleh Dinas Lingkungan di kabupaten/kota,” katanya.

Peran Insinyur Teknik Lingkungan

Novrizal mendukung para lulusan teknik lingkungan untuk mengambil sertifikasi insinyur profesional agar kompetensinya bisa semakin masyarakat rasakan.

Saat ini, terdapat 88 program studi teknik lingkungan di Indonesia. Ini merupakan keilmuan keteknikan yang kompatibel dengan isu-isu dunia, termasuk mengenai perubahan iklim dan pencemaran.

“Seluruh negara memerlukan keilmuan dan profesi ini karena isu terkait lingkungan menjadi visi pembangunan setiap negara,” ungkapnya.

Ketua Umum PII Danis Hidayat Sumadilaga juga menyoroti peran insinyur lingkungan menuju Indonesia Emas. Menurut dia, peran insinyur teknik lingkungan harus di garda terdepan. Selain itu, memastikan keberlanjutan lingkungan agar terus terjaga melalui program lingkungan sosial dan pemerintahan.

“Insiyur lingkungan bisa bahu-membahu dengan keinsiyuran lainnya agar pengelolaan teknologi terealisasi maksimal di Indonesia,” ungkap Danis.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top