Jakarta (Greeners) – Puluhan paus pilot terdampar di pesisir Pantai Mbadokai, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin (9/3). Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Akbar Reza, menilai peristiwa ini kemungkinan akibat kerusakan organ ekolokasi.
Dari total 55 ekor paus pilot yang terdampar, sebanyak 21 ekor mati, terdiri dari empat anakan dan 17 paus dewasa. Sementara itu, 34 ekor lainnya berhasil digiring kembali ke laut.
Akbar menjelaskan bahwa paus pilot merupakan satwa yang berstatus dilindungi penuh. Namun, berdasarkan data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), belum tersedia data populasi global spesies ini.
“Kalau kita lihat dari data IUCN, kita nggak punya data populasi globalnya, jadi kita nggak tahu dia itu populasinya jumlahnya itu meningkat, menurun, stabil atau seperti apa,” ujar Akbar melansir Berita UGM, Kamis (2/4).
Menurutnya, kejadian ini menjadi alarm adanya gangguan ekologis di wilayah perairan tersebut. Terlebih, peristiwa serupa bukan kali pertama terjadi. Pada 2024, sekitar 50 ekor paus pilot terdampar di Alor. Sebelumnya, pada 2020, tercatat 11 ekor terdampar di Sabu Raijua dan 52 ekor di Madura.
Kejadian berulang di wilayah NTT, Laut Sawu, hingga perairan barat Kupang ini diduga berkaitan dengan jalur migrasi tahunan paus pilot. Pada periode awal hingga pertengahan tahun, paus-paus ini bermigrasi dari perairan selatan menuju wilayah tropis yang lebih hangat.
“Dari Australia yang dekat dengan Antartik yang dingin, mereka mencari perairan yang hangat di daerah tropis,” tambah Akbar.
Beragam Spesies Terdampar
Selain paus pilot, penelitian kolaboratif antara BRIN dan James Cook University, Australia, mengungkapkan bahwa sejak tahun 1990-an hingga 2021, lebih dari 20 spesies paus dan lumba-lumba pernah terdampar di perairan Indonesia.
Beberapa di antaranya adalah lumba-lumba hidung botol, paus biru, dugong, dan hiu paus. Bahkan, tiga ekor paus biru pernah terdampar mati beberapa tahun lalu. Di wilayah Yogyakarta, kejadian terdamparnya paus besar juga tercatat berulang pada akhir hingga awal tahun.
Untuk mengetahui penyebab pasti peristiwa terdamparnya mamalia laut ini, perlu proses nekropsi atau pembedahan, sebagaimana visum pada manusia untuk menentukan penyebab kematian.
Organ ekolokasi pada paus berfungsi untuk navigasi dan mencari makan melalui pantulan gelombang suara. Kerusakan pada organ ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor.
Di antaranya adalah gangguan dari aktivitas manusia yang menghasilkan gelombang suara, seperti lalu lintas kapal yang padat, survei seismik, gempa bumi, hingga eksplorasi minyak dan gas yang menggunakan sonar.
Selain itu, faktor lain seperti infeksi parasit serta pencemaran lingkungan, termasuk plastik, jaring nelayan, dan serpihan kapal juga dapat merusak kemampuan ekolokasi paus.
“Kondisi inilah yang kemudian membuat paus-paus ini terdampar,” katanya.
Untuk mencegah kejadian serupa, perlu pemahaman yang lebih baik mengenai pola pergerakan dan migrasi paus. Sayangnya, penelitian terkait hal ini masih terbatas.
Padahal, informasi tersebut penting untuk menentukan langkah mitigasi, seperti pengaturan jalur pelayaran kapal agar tidak bertabrakan, baik secara fisik maupun melalui gangguan gelombang suara dengan paus.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































