Jakarta (Greeners) – Daftar burung di Indonesia kembali mengalami perubahan. Hingga Januari 2026, tercatat 1.834 spesies burung di Indonesia, dengan 538 spesies di antaranya merupakan burung endemis, yaitu spesies yang seluruh sebaran alaminya hanya terdapat di wilayah Indonesia.
Dari sisi persebaran, Sulawesi memiliki jumlah spesies endemis tertinggi (159), lalu Maluku (117), Jawa dan Bali (80), Papua (75), Nusa Tenggara (62), Sumatra (54), dan Kalimantan lima spesies. Angka per wilayah ini menunjukkan jumlah spesies endemis Indonesia yang tercatat hadir di wilayah tersebut.
Selain memperlihatkan kekayaan burung endemis, data ini juga menunjukkan kondisi keterancaman beberapa spesies burung di Indonesia secara global. Saat ini, 159 spesies burung di Indonesia tercatat berstatus terancam punah secara global. Hal itu mencakup 29 spesies berstatus Kritis (Critically Endangered/CR), 49 spesies berstatus Genting (Endangered/EN), dan 81 spesies berstatus Rentan (Vulnerable/VU).
Perubahan status pada beberapa spesies terjadi karena adanya pembaruan data ilmiah. Pembaruan ini memberikan gambaran lebih akurat mengenai kondisi populasi di alam.
Tidak Terjadi Perubahan Signifikan
Sementara itu, dari sisi jumlah spesies yang tercatat di Indonesia, tidak terjadi perubahan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, di balik angka yang tampak stabil tersebut, terjadi perubahan penting dalam kajian ilmiah.
Sebanyak lima spesies baru ditambahkan ke dalam daftar, sementara enam spesies lainnya dikeluarkan setelah adanya pembaruan kajian taksonomi. Perubahan ini tidak sekadar memengaruhi angka total spesies, tetapi juga berkaitan dengan peninjauan ulang identitas serta batasan antarspesies.
Contohnya terlihat pada kelompok kangkok (Hierococcyx) di Kalimantan. Menurut kajian terbaru, kangkok gelap (Hierococcyx bocki) yang sebelumnya dianggap satu spesies ternyata berubah menjadi dua spesies.
Dari kajian mendalam, ada populasi kangkok gelap yang berada di Kalimantan memiliki karakter vokal yang berbeda dibandingkan dengan wilayah lain yang menjadi persebarannya, yaitu Sumatra dan Semenanjung Malaysia. Oleh karena itu, statusnya naik menjadi spesies yang berbeda, yakni kangkok tiga-nada (Hierococcyx tiganada).
Perubahan lain juga terjadi pada kelompok myzomela di Kepulauan Banda. Kajian terbaru menunjukkan bahwa myzomela banda yang sebelumnya dianggap satu spesies ternyata memiliki perbedaan suara yang kuat dan tidak saling merespons kicauan satu sama lain antara spesies myzomela di Pulau Tanimbar dan Pulau Babar. Hasil penelitian ini membuat populasi spesies di dua pulau tersebut diperlakukan sebagai spesies tersendiri, yaitu myzomela tanimbar (Myzomela annabellae) dan myzomela babar (Myzomela babarensis).
Penambahan Spesies
Selain itu, ada pula spesies yang ditambahkan karena perkembangan pengetahuan mengenai sebaran habitatnya. Puyuh-siul dulit (Rhizothera dulitensis) dimasukkan ke dalam daftar burung Indonesia. Sebab, penelitian menunjukkan bahwa habitat alaminya di pegunungan Borneo kemungkinan juga mencakup wilayah Kalimantan di Indonesia, meskipun catatan perjumpaan langsung masih terbatas.
Di sisi lain, beberapa spesies dikeluarkan dari daftar setelah hasil kajian terbaru menunjukkan bahwa mereka menjadi subspesies. Misalnya, paok sangihe dan paok siau yang kini kembali digabungkan ke menjadi subspesies paok sulawesi (Erythropitta celebensis).
Empat takson lain, seperti myzomela rote, sikatan kalao, sikatan bubik-sulawesi, dan burung-madu wakatobi, juga tidak lagi diperlakukan sebagai spesies tersendiri. Saat ini, keempatnya ditempatkan sebagai subspesies dari spesies kerabatnya, yaitu Myzomela dammermani irianawidodoae, Cyornis djampeanus kalaoensis, Muscicapa dauurica sodhii, dan Cinnyris jugularis infrenatus. Hal ini terjadi karena masih diperlukan bukti tambahan untuk memastikan statusnya sebagai spesies penuh.
Tekanan Populasi
Meski pengetahuan tentang burung terus berkembang, berbagai tekanan terhadap populasi burung di alam masih berlangsung. Perubahan penggunaan lahan yang menyebabkan hilangnya atau terpecahnya habitat menjadi salah satu ancaman utama. Selain itu, perburuan untuk perdagangan burung peliharaan juga masih menjadi tekanan besar bagi banyak spesies.
Menurut Head of Conservation & Development Burung Indonesia Adi Widyanto, publikasi Status Burung di Indonesia tidak hanya menjadi rujukan ilmiah, tetapi juga dimanfaatkan secara luas dalam praktik konservasi.
“Dokumen ini digunakan oleh berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, organisasi non-pemerintah, hingga praktisi konservasi. Data di dalamnya dipakai untuk perencanaan program konservasi, survei, hingga identifikasi satwa,” kata Adi dalam keterangan tertulisnya, Kamis (2/4).
Adi menegaskan bahwa rujukan taksonomi yang digunakan juga menjadi dasar bagi berbagai kerja prioritas konservasi. Hal ini termasuk penilaian Daftar Merah IUCN kelompok burung, serta identifikasi Daerah Penting bagi Burung dan Keanekaragaman Hayati (IBA) dan Daerah Keanekaragaman Hayati Utama (KBA).
Sebagai catatan global, penyelarasan daftar burung dunia dilakukan melalui AviList, daftar burung dunia yang dihasilkan berdasarkan konsensus dan diluncurkan pada 11 Juni 2025. Tujuan AviList adalah menyatukan perbedaan utama antar daftar taksonomi globa. Alhasil batas spesies menjadi lebih konsisten dan data burung di Indonesia dapat dibandingkan dengan referensi global.
Penyelarasan tersebut membantu menempatkan dinamika taksonomi burung Indonesia dalam konteks global, meski daftar utama edisi ini tetap menggunakan HBW/BirdLife Checklist.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































