Jakarta (Greeners) – Kondisi cuaca kering dan ekstrem melanda hampir seluruh wilayah Provinsi Riau. Bahkan, kini statusnya sangat rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menanggapi kondisi tersebut, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengerahkan 387 personel dan armada udara untuk mengatasi karhutla di Provinsi Riau.
Berdasarkan data pantauan satelit periode 1 Januari hingga 26 Maret 2026, tercatat 266 titik panas (42,56% dari total nasional) berada di Provinsi Riau. Luas area terbakar di Riau hingga Februari 2026 telah mencapai 4.440,2 hektare. Hingga saat ini, tim gabungan telah berhasil melakukan 265 operasi pemadaman darat di berbagai titik kritis.
Untuk mengatasi tantangan di lapangan, Kemenhut memobilisasi personel dari Manggala Agni Balai Dalkarhutla Sumatra. Personel tersebut tersebar di Daops Pekanbaru, Dumai, Siak, dan Rengat. Selain itu, Kemenhut juga mengirimkan regu Bantuan Kendali Operasi (BKO) Manggala Agni dari luar Riau, yaitu dari Daops Bukit Tempurung (Jambi), Daops Kota Jambi, dan Daops Labuhan Batu (Sumatra Utara).
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatra, Ferdian Krisnanto menyampaikan bahwa Manggala Agni tengah berjibaku melakukan pemadaman di beberapa lokasi kritis bersama satgas kabupaten dan provinsi. Satgas tersebut tersebar di Kelurahan Mundam (Dumai), SM Giam Siak Kecil, Desa Merbau dan Pulau Muda (Pelalawan), Desa Talang Jerinjing (Indragiri Hulu) serta wilayah Pulau Rupat (Bengkalis).
“Strategi awal saat ini adalah melakukan penyekatan api agar kebakaran tidak meluas. Kemudian, memukul dan mematikan kepala api serta mematikan sumber potensi asap utama,” ujar Ferdi dalam siaran pers.
Keterbatasan Air
Sementara itu, penanganan karhutla juga tidak terlepas dari tantangan. Ada kendala yang dihadapi oleh tim petugas, yakni faktor keterbatasan air untuk pemadaman karena minimnya curah hujan. Hal ini juga mengakibatkan tinggi muka air tanah, terutama pada wilayah gambut.
Manggala Agni kemudian dibantu oleh masyarakat dan pemerintah daerah setempat dengan alat berat untuk menggali embung air dan membersihkan kanal. Mereka juga memperlebar sekat bakar.
Dirjen Gakkum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan bahwa semangat kolaborasi lintas instansi menjadi kunci utama untuk menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.
“Kami terus berupaya melakukan langkah pengendalian karhutla melalui kerja kolaboratif bersama BNPB, BMKG, TNI, POLRI, serta masyarakat dan pihak swasta. Operasi darat maupun udara terus diintensifkan demi menjaga langit Riau tetap biru,” ujar Dwi.
Selain melakukan pemadaman darat, operasi ini diperkuat oleh satu unit helikopter Kemenhut dan dua helikopter BNPB. Helikopter tersebut digunakan untuk misi patroli, waterbombing, dan evakuasi.
Selain itu, sebagai tindak lanjut atas SK Gubernur Riau Nomor Kpts.102/II/2026, Kemenhut berkoordinasi dengan BNPB dan BMKG. Mereka bekerja sama untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mempercepat penanganan karhutla melalui hujan buatan.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia








































