Rumah Tangga di Kota Batu Jalankan Program Zero Waste Cities

Reading time: 2 menit
Rumah tangga di kota Batu menjalankan program Zero Waste Cities. Foto: Ecoton
Rumah tangga di kota Batu menjalankan program Zero Waste Cities. Foto: Ecoton

Jakarta (Greeners) – Sebanyak 50 rumah tangga di Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu tengah menjalankan program Zero Waste Cities. Program ini menekankan pada pemilahan sampah sejak dari sumber. Program tersebut melibatkan berbagai pihak. Di antaranya TPS3R Jalibar Berseri, Pemerintah Desa Oro-Oro Ombo dan DLH Kota Batu bersama Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton).

Koordinator program Titik Setyowati menjelaskan bahwa sebelum implementasi program yang lebih jauh, ada Analisis Sampah (AKSA) di skala RW. Tujuan dari AKSA untuk mengetahui timbulan sampah di kawasan RW 05 Desa Oro-Oro Ombo.

“Untuk itu kami melibatkan 50 rumah tangga sebagai relawan untuk memberikan sampah harian mereka dalam keadaan terpilah menjadi tiga jenis, yaitu organik, daur ulang, dan residu kemudian kita timbang perjenis,” terangnya.

Titik menambahkan bahwa AKSA telah menjadi ajang belajar memilah sampah rumah tangga dengan benar. Apabila sampah sudah terpilah dari sumber, maka nantinya akan lebih mudah diproses di TPS3R.

“Juga sebagai ruang mengedukasi pilah sampah rumah ke rumah Door to Door Education (DTDE),” tambah Titik.

Sampah yang sudah terpilah sejak dari sumber akan petugas angkut secara terpilah juga di dalam kendaraan roda tiga. AKSA akan berlangsung selama delapan hari berturut-turut, hingga diperoleh sebuah data timbulan dan komposisi sampah yang berguna. Nantinya data tersebut akan digunakan untuk rencana induk pengelolaan sampah.

Selain itu, Project Manager Zero Waste Cities Ecoton Tonis Afrianto mengatakan, AKSA berguna untuk menentukan kebijakan dalam pengelolaan sampah di masa mendatang.

“Dalam membangun sistem pengelolaan sampah tidak boleh ngawur, harus tahu dulu jenis sampah yang mendominasi di kawasan tersebut. Jika terbukti sampah jenis organik mendominasi, perlu untuk membangun sistem pengelolaannya, misalnya rumah kompos, komposter di kawasan RT/RW, biogas dan lain sebagainya, sehingga sampah organik bisa tertangani di sumber tanpa pindah ke TPA,” tegasnya.

Rumah Kompos Kota Batu

Sementara itu, Fungsional Bidang Persampahan DLH Kota Batu, Eni Maulidiyah mengungkapkan bahwa DLH Kota Batu sudah menyiapkan rumah kompos untuk mengatasi timbulan sampah organik skala kota.

“Sepanjang tahun 2025 kami sudah membangun 16 titik Rumah Kompos (RuKom) di Kota Batu. Ini juga menjadi kebijakan kota untuk menuntaskan permasalahan pengelolaan sampah, salah satunya jenis organik. Kami mengimbau masyarakat Kota Batu agar selalu memilah sampah dari sumber sehingga sampah organik dapat terkelolah dengan mudah,” ujarnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top