Warga Batu Gelar Brand Audit, Sampah Sachet Paling Banyak Ditemukan

Reading time: 2 menit
Warga Batu gelar brand audit, banyak temukan sampah sachet. Foto: Ecoton
Warga Batu gelar brand audit, banyak temukan sampah sachet. Foto: Ecoton

Jakarta (Greeners) – Warga Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu, Malang menggelar kegiatan brand audit di halaman TPS3R Jalibar Berseri, Kamis (2/4). Kemasan sachet menjadi salah satu jenis sampah terbanyak yang warga temukan.

Kegiatan ini melibatkan 30 relawan. Mereka dari anggota TPS3R Jalibar Berseri, kader PKK Desa Oro-Oro Ombo, dan Tim Percepatan Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu. Mereka memilah sampah berdasarkan kategori, menghitung jumlah kemasan berdasarkan merek, serta mendokumentasikan hasilnya.

Brand audit dilakukan terhadap sampah yang dihasilkan dari aktivitas AKSA yang terlebih dahulu dilaksanakan sebelumnya. Dari hasil pemilahan dan pencatatan, sampah didominasi oleh kemasan sachet dari berbagai produk kebutuhan sehari-hari. Di antaranya sabun, sampo, deterjen, dan minuman instan.

Salah satu relawan dari Desa Oro-Oro Ombo, Ony Dwi Setyowati mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi kali pertama baginya. “Saya belajar mengenali dan mendata merek-merek dari kemasan plastik sekali pakai. Ternyata, sampah bermerek itu banyak sekali, ya”, ujar Ony dalam keterangan tertulisnya.

Kemasan Sachet Mendominasi

Sementara itu, hasil dari brand audit ini juga mengungkap 10 besar produsen penyumbang sampah kemasan. Tanobel menjadi penyumbang terbesar dengan total 774 kemasan. Mayora sebanyak 300 kemasan, Wings 274 kemasan, dan Danone 273 kemasan.

Selanjutnya, Indofood tercatat sebanyak 212 kemasan, Santos Jaya Abadi 143 kemasan, serta P&G sebanyak 132 kemasan. Merek lainnya seperti Unilever 63 kemasan, Ultrajaya 61 kemasan, dan Ajinomoto 51 kemasan juga turut berkontribusi terhadap timbulan sampah, meskipun dalam jumlah lebih kecil.

Temuan ini memperlihatkan bahwa produk-produk kebutuhan sehari-hari kemasan sachet masih menjadi pilihan utama masyarakat. Di sisi lain, timbulan sachet memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan volume sampah yang sulit daur ulang.

Eni Maulidiyah dari DLH Kota Batu mengimbau masyarakat untuk mulai lepas dari ketergantungan kemasan sachet. Baginya, kegiatan brand audit ini juga menjadi momentum agar masyarakat paham bahwa masih banyak sampah anorganik dengan berbagai merek yang masyarakat gunakan.

“Terutama produk-produk kemasan sachet yang bisa dikurangi dengan membeli dalam kapasitas besar atau bisa dibeli secara curah atau refill sehingga sampah pembungkusnya tidak jadi residu,” ujarnya.

Eni berharap data dari kegiatan ini tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga menjadi dasar advokasi untuk mendorong perubahan yang lebih luas dalam pengurangan sampah, khususnya sampah sachet di Kota Batu.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top