Dua Spesies Ngengat Baru Ditemukan di Papua dan Sulawesi

Reading time: 2 menit
Penemuan dua spesies ngengat baru di Papua dan Sulawesi. Foto: BRIN
Penemuan dua spesies ngengat baru di Papua dan Sulawesi. Foto: BRIN

Jakarta (Greeners) – Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengidentifikasi dua spesies ngengat baru di Papua dan Sulawesi. Kedua ngengat endemik Indonesia tersebut berasal dari genus Glyphodella dan Chabulina.

Temuan Glyphodella fojaensis dan Chabulina celebesensis terpublikasi dalam jurnal internasional Raffles Bulletin of Zoology edisi Februari 2026, Volume 74, halaman 87–94. Judulnya adalah “Description of two new endemic species of the closely related genera, Glyphodella and Chabulina from Indonesia.”

Penemuan dua spesies baru ini merupakan hasil penelitian oleh peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Hari Sutrisno dan Rosichon Ubaidillah. Penelitian melalui survei lapangan di wilayah Papua dan Sulawesi selama periode 2002–2017. Selain itu, para peneliti juga mengkaji koleksi spesimen di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Bogor.

Dalam publikasinya, para peneliti melaporkan bahwa Glyphodella fojaensis merupakan satu-satunya spesies dari genus Glyphodella di Indonesia. Spesies ini bersifat endemik Papua, khususnya di kawasan Pegunungan Foja.

Sementara itu, Chabulina celebesensis merupakan spesies baru yang endemik Sulawesi. Spesies ini ada di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara.

Menurut Rosichon, kedua spesies ini memiliki karakter morfologi yang khas, terutama pada pola sayap dan struktur genitalia yang menjadi penanda utama dalam identifikasi ngengat.

Rosichon menjelaskan bahwa Glyphodella fojaensis memiliki ciri berupa bercak kuning berbentuk bulat pada sayap depan. Struktur genitalia jantannya juga menunjukkan perbedaan dibandingkan spesies kerabatnya. Sementara itu, Chabulina celebesensis dapat dikenali dari pola garis pada sayap serta bentuk genitalia yang khas.

“Perbedaan karakter tersebut menjadi dasar utama penetapan kedua spesies sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan. Karakter morfologi ini menunjukkan adanya keunikan evolusi dan adaptasi pada masing-masing habitat, baik di Papua maupun Sulawesi,” kata Rosichon dalam keterangan tertulisnya, Selasa (3/3).

Gunakan Perangkap Cahaya

Penelitian ini menggunakan perangkap cahaya untuk mengoleksi spesimen, serta pengamatan detail menggunakan mikroskop. Seluruh spesimen kemudian disimpan dan didokumentasikan di Museum Zoologicum Bogoriense sebagai koleksi nasional.

Berdasarkan hasil penelitian, Glyphodella fojaensis hidup di hutan tropis primer di kawasan Pegunungan Foja, Papua. Sementara itu, Chabulina celebesensis ada di hutan sekunder tropis di wilayah Sulawesi. Kedua spesies ini bersifat nokturnal atau aktif pada malam hari.

Penemuan ini menambah data keanekaragaman serangga Indonesia, khususnya kelompok ngengat dari famili Crambidae. Selain itu, temuan ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia.

Para peneliti menilai bahwa keberadaan spesies endemik yang terbatas pada wilayah tertentu membuatnya rentan terhadap perubahan lingkungan, seperti deforestasi dan degradasi habitat.

“Oleh karena itu, diperlukan upaya perlindungan ekosistem hutan di Papua dan Sulawesi agar spesies-spesies endemik ini dapat terus lestari,” jelas Rosichon.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top