Jakarta (Greeners) – Kabar terkait penyebaran virus Nipah menjadi perhatian publik pada belakangan ini. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan risiko dan upaya kesiapsiagaan terhadap virus tersebut.
Peneliti Ahli Utama Virologi sekaligus Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Niluh Putu Indi Dharmayanti mengatakan, virus Nipah (Nipah virus/NiV) merupakan penyakit zoonotik. Perlu pemahaman secara tepat berdasarkan kajian ilmiah, mengingat karakteristiknya yang serius dan berpotensi menimbulkan wabah apabila tidak ada antisipasi yang baik.
Menurutnya, virus nipah perlu masyarakat waspadai karena memiliki tingkat kematian yang tinggi dan berpotensi menimbulkan wabah. Meski hingga kini belum ada kasus pada manusia di Indonesia, berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa virus ini telah bersirkulasi di alam.
“Nipah virus memiliki dampak serius terhadap kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, serta aspek sosial dan ekonomi,” kata Indi melansir Berita BRIN, Jumat (6/2).
Berdasarkan sejarah, virus ini pertama kali teridentifikasi pada wabah di Malaysia tahun 1998. Sejak itu, menimbulkan kejadian berulang di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Ia menjelaskan, virus ini termasuk genus Henipavirus dengan reservoir alami berupa kelelawar buah dari famili Pteropodidae, khususnya genus Pteropus. Kelelawar ini dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit, namun berpotensi menularkannya ke hewan lain maupun manusia.
Penularan virus Nipah ke manusia, lanjut Indi, dapat terjadi melalui beberapa jalur, antara lain kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti babi, konsumsi makanan yang terkontaminasi, serta penularan antarmanusia. Di sejumlah negara, wabah NiV juga berkaitan dengan konsumsi makanan yang terkontaminasi urin atau saliva kelelawar.
Virus Nipah pada Satwa Liar
Sementara itu, terkait di Indonesia, Indi mengungkapkan bahwa sejumlah penelitian telah memberikan bukti ilmiah keberadaan virus Nipah pada satwa liar. Studi serologis di Kalimantan Barat menemukan antibodi Nipah virus pada sekitar 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus vampyrus, meskipun tidak ditemukan pada babi.
“Deteksi molekuler juga telah berlangsung menggunakan metode PCR pada sampel saliva dan urin kelelawar di Sumatra Utara, yang mengonfirmasi keberadaan genom Nipah virus,” jelasnya.
Penelitian lanjutan bahkan menemukan virus serupa pada Pteropus hypomelanus di wilayah Jawa. Karakter genetiknya berkerabat dekat dengan isolat dari Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya.
Menurut Indi, kondisi ekologis Indonesia menjadikan risiko penularan virus Nipah tidak bisa masyarakat abaikan. Ada faktor pendorong terjadinya spillover virus. Di antaranya keanekaragaman spesies kelelawar yang tinggi, kedekatan habitat satwa liar dengan permukiman manusia, serta praktik perburuan dan perdagangan satwa.
Selain itu, keberadaan pasar hewan dengan sanitasi kurang memadai serta populasi babi yang besar di beberapa wilayah turut meningkatkan potensi penularan lintas spesies.
“Interaksi yang intens antara manusia, hewan, dan lingkungan menjadi kunci munculnya penyakit zoonotik seperti Nipah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus spesifik untuk Nipah virus. Oleh karena itu, penanganan kasus sangat bergantung pada perawatan suportif, sementara pencegahan menjadi langkah paling penting untuk menekan risiko wabah.
Menurut Indi, One Health menjadi strategi utama dalam kesiapsiagaan menghadapi Nipah virus. Pendekatan ini menekankan kolaborasi lintas sektor antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan dalam memantau serta mengendalikan penyakit zoonotik.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































