Bapanas Kembangkan Pangan Lokal untuk Atasi Krisis Pangan

Reading time: 2 menit
Bapanas mempersiapkan pengembangan pangan lokal untuk atasi krisis pangan. Foto: Freepik
Bapanas mempersiapkan pengembangan pangan lokal untuk atasi krisis pangan. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Badan Pangan Nasional (Bapanas) mempersiapkan pengembangan pangan lokal untuk mengatasi krisis pangan. Salah satunya melalui program B2SA atau Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman yang mendukung diversifikasi pangan lewat kearifan pangan lokal.

“Lewat program ini, Bapanas mendorong masyarakat untuk mengonsumsi pangan lokal. Namun, untuk dapat menyukseskan program ini, kami membutuhkan partisipasi dari pegiat pangan lokal. Sejak dulu, sudah banyak sumber karbohidrat seperti papeda, olahan sagu di Papua,” ungkap Direktur Ketersediaan Pangan Bapanas, Budi Waryanto.

Menurutnya, pangan tersebut harus dipopulerkan kembali melalui inovasi, misalnya jadi olahan lain yang lebih menarik untuk menarik minat konsumsi tapi tetap bergizi.

BACA JUGA: Pangan Lokal Penuhi Nutrisi, Jangan Sampai Food Loss

Sejak tahun 2021-2022, di bawah mandat presiden, Bapanas pun sudah mengantisipasi empat faktor yang mengancam ketahanan pangan. Di antaranya ketidakpastian situasi global karena ancaman geopolitik, perubahan iklim, dampak pandemi COVID-19, disrupsi pangan, serta El-Nino.

“Bapanas menggandeng Kementerian BUMN agar bisa memanfaatkan kebijakan pangan. Namun, tentu saja pemerintah tidak bisa langsung menguasai 100% kondisi pangan. Terdapat kerja sama antara pemerintah dan sektor swasta dalam mempersiapkan stok pangan sebagai mitigasi kemarau panjang sebagai dampak dari pergerakan angin El Nino,” jelas Budi.

Menurut Budi, Bapanas juga masih fokus terhadap penyediaan pangan skala nasional. Hingga kini, beras masih mendominasi pangan utama dengan persentase konsumsi sebanyak 90%.

El Nino Menjadi Tantangan Ketahanan Pangan

Sementara itu, Dosen dan Peneliti Pangan di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (ITB), Angga Dwiartama mengatakan kondisi El Nino menjadi tantangan ketahanan pangan nasional. Menurut Angga, kurangnya lahan produksi serta minimnya akses masyarakat terhadap lahan menjadi salah satu faktor yang memperburuk dampak El Nino terhadap penurunan produksi pangan.

“Karena akses terhadap lahan terbatas, akhirnya kelompok masyarakat cenderung menerapkan sistem pertanian intensif monokultur, seperti menanam padi yang memiliki nilai ekonomi,” kata Angga.

Masalahnya, lanjut Angga, pertanian padi pun sangat bergantung dengan ketersediaan air. Sehingga, di masa kekeringan akibat El Nino ini, tingkat risiko gagal panen tinggi. Itu menyebabkan kerentanan petani juga semakin meningkat.

BACA JUGA: Mandiri Pangan dengan Berkebun

CEO Kans.id, Konsultan Pemberdayaan Masyarakat dan Pertanian Berkelanjutan, Nugroho Hasan mengamini bahwa El-Nino menyebabkan penurunan produksi pangan oleh petani.

Secara umum, produktivitas hasil produksi padi di Jawa Tengah masih cukup baik di daerah Boyolali dan Klaten. Namun, efek dari El Nino menyebabkan hasil produksi turun dari angka rata-rata 7-8 ton per hektare menjadi hanya 5-6 ton per hektare.

“Sementara, ada kenaikan pada harga Gabah Kering Panen (GKP),” ujar Hasan.

Pangan Lokal Perlu Dipopulerkan

Siak, Provinsi Riau, tengah berupaya mempopulerkan kembali pangan lokal. Founder SKELAS dan Heritage Hero Siak, Cindi Shandoval sepakat pangan lokal mesti dijaga. Meskipun demikian, ada tantangan dalam memastikan kelestariannya yang bisa membantu menjaga fungsi lahan setempat.

“SKELAS menawarkan pengalaman exclusive Siak traditional dining di Istana Siak. Acara ini menyajikan makanan tradisional Siak yang dimasak langsung oleh maestro. Setiap menu tersaji bersama narasi kepada tamu terkait asal-usul makanan, makna dari makanan, hingga penggunaan bahan baku,” ungkap Cindi.

Sajian beragam menu itu menggunakan resep turun-temurun dan rempah-rempah lokal yang hanya tumbuh di kawasan hutan Siak. Sehingga, pengalaman ini hanya ada di Siak.

“Oleh karena itu, kami juga berusaha agar timbul kesadaran bersama menjaga lahan agar rempah lokal tersebut tetap dapat tumbuh di hutan. Selain itu, ada perputaran ekonomi di sana yang bermanfaat bagi masyarakat lokal,” tambah Cindi.

Menurut Cindi, hal ini bisa SKELAS lakukan melalui dukungan penuh dari pemerintah kabupaten Siak. Ini merupakan bagian dari upaya menjaga kelestarian makanan tradisional dan kearifan lokal di Siak.

“Kami berharap semoga dengan upaya ini bisa memastikan anak cucu masih dapat menikmati makanan tradisional dan bahan pangan lokal di Siak,” ujarnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top