Peneliti IPB Kembangkan Teknologi EC+ untuk Olah Limbah Sawit

Reading time: 2 menit
Ilustrasi limbah sawit. Foto: Freepik
Ilustrasi limbah sawit. Foto: Freepik

Peneliti IPB University menghadirkan inovasi untuk mendukung guna ulang limbah sawit. Dosen Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknik dan Teknologi, Suprihatin, mencetuskan ide tersebut.

Suprihatin mengungkap bahwa latar belakang inovasi ini adalah pesatnya perkembangan pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia yang memberikan kontribusi ekonomi signifikan. Namun, industri tersebut juga menyisakan persoalan lingkungan serius, terutama dari limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS).

Menurut Suprihatin, setiap ton tandan buah segar (TBS) dapat menghasilkan limbah cair sekitar 0,75–0,90 m³. Hal itu setara 3,33 m³ per ton minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Limbah tersebut mengandung berbagai polutan seperti padatan tersuspensi (TSS), bahan organik, minyak dan lemak, serta nutrien yang berpotensi mencemari lingkungan.

Untuk memanfaatkan kembali limbah tersebut, Suprihatin mengembangkan proses EC+, yakni teknologi pengolahan lanjutan berbasis elektrokimia (elektrokoagulasi). Inovasi ini telah terpilih menjadi salah satu 117 Inovasi Indonesia-2025 versi Business Innovation Center.

Secara sederhana, proses ini menggunakan arus listrik searah untuk melepaskan ion positif (Al³⁺) dari elektroda anoda. Ion tersebut berperan mendestabilisasi partikel koloid dan membentuk flok Al (OH) yang mampu mengikat kontaminan dalam limbah cair.

“Proses ini efektif menghilangkan TSS, COD, BOD, warna, minyak atau lemak hingga nutrien seperti fosfat. Air limbah dapat menjadi bersih dan layak guna kembali. Keunggulan EC+ juga tidak hanya pada kinerja teknisnya, tetapi juga pada aspek lingkungan dan ekonomi,” ujar Suprihatin melansir Berita IPB, Selasa (10/3).

Suprihatin menjelaskan, proses EC+ tersebut tidak memerlukan tambahan bahan kimia seperti tawas. Dengan demikian, hasilnya lebih ramah lingkungan dan biaya pengolahannya lebih murah sekitar 50 persen daripada metode koagulasi kimia. Konsumsi energi listriknya pun relatif terukur, yakni sekitar 9,80 kWh per meter kubik limbah.

“Proses berlangsung cepat, dapat dirancang secara modular, dioperasikan secara kontinu maupun batch, serta mudah untuk ditingkatkan skalanya (scale up). Endapan (sludge) yang dihasilkan bahkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau pembenah tanah (soil improver),” ujarnya.

Dukung ekonomi Sirkular

Menurut Suprihatin, EC+ berperan penting dalam mendukung konsep ekonomi sirkular pada industri kelapa sawit. Air hasil olahan dapat digunakan kembali untuk mencuci peralatan dan lantai pabrik, maupun penyiraman tanaman. Sludge juga dapat berkombinasi dengan biochar dari pirolisis tandan kosong untuk memperkaya unsur hara tanah.

“Proses EC+ dapat menjadi komponen kunci dalam membentuk siklus tertutup air dan unsur hara, mengurangi penggunaan input pupuk sintetis, serta mendukung terwujudnya konsep zero waste di industri kelapa sawit,” tambahnya.

Ia berharap inovasi ini bisa menghadirkan solusi teknologi yang tidak hanya menyelesaikan masalah limbah. Namun, harapannya bisa menciptakan nilai tambah dan keberlanjutan bagi industri strategis nasional.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top