Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama United Nations Development Programme (UNDP) meluncurkan kapal listrik bertenaga surya. Inovasi tersebut untuk membantu nelayan menekan biaya bahan bakar, mengurangi emisi, serta memperkuat mata pencaharian mereka di tengah tantangan perubahan iklim.
Kapal listrik bertenaga surya ini dipamerkan dalam kegiatan Clean Energy Electric Boat Innovation Expo di Pulau Tunda, Banten, Rabu (14/1). Kegiatan ini merupakan bagian dari Proyek SeaBLUE, kerja sama UNDP dan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP), dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Jepang. Selain kapal listrik, UNDP juga memperkenalkan cooler box atau kotak pendingin bertenaga surya untuk menjaga kesegaran hasil tangkapan.
Berdasarkan data KKP, Indonesia memiliki lebih dari dua juta nelayan kecil yang secara kolektif menyumbang hingga 60 persen produksi perikanan tangkap nasional. Namun, banyak nelayan kecil masih sangat rentan terhadap risiko perubahan iklim, fluktuasi harga bahan bakar, serta kehilangan hasil pasca-panen.
Kondisi tersebut terlihat di wilayah kepulauan terpencil seperti Morotai dan Kepulauan Tanimbar. Di wilayah ini, kenaikan biaya operasional dan penurunan kualitas hasil tangkapan terus mengancam pendapatan dan ketahanan pangan masyarakat.
Kepala BRIN, Arif Satria, menyoroti pentingnya inovasi ini dari sisi teknis. Menurutnya, transisi menuju kapal bertenaga listrik merupakan langkah krusial dalam upaya dekarbonisasi sektor perikanan.
“Kemitraan kami dengan UNDP memastikan bahwa kapal listrik tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga benar-benar dapat masyarakat manfaatkan. Dengan mengombinasikan penyempurnaan desain, pelatihan langsung, dan pemantauan berkelanjutan, kami membangun fondasi untuk implementasi yang lebih luas di wilayah pesisir Indonesia,” kata Arief dalam keterangan tertulisnya.
Bersama BRIN melalui inisiasi co-development (co-dev), kolaborasi ini menghasilkan komponen teknologi kapal listrik yang relevan dengan kondisi operasional di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Distribusi 162 Cooler Box
Kepala Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN, Aam Muharam berharap kapal listrik dan ekosistem energinya dapat menjadi solusi transportasi perairan yang ramah lingkungan, terjangkau, dan berdaya guna bagi masyarakat di daerah 3T.
“Serta menjadi langkah strategis menuju masa depan transportasi berkelanjutan di Indonesia,” ucapnya.
Sementara itu, proyek ini juga menargetkan distribusi 162 cooler box bertenaga surya dan enam mesin kapal listrik. Distribusi tersebut akan disalurkan ke 34 desa di Morotai dan Kepulauan Tanimbar.
Pelatihan operator serta instalasi stasiun pengisian daya telah selesai. Sementara itu, pemasangan akhir dan pelatihan untuk mesin kapal listrik akan rampung pada akhir Januari.
Sejalan dengan inisiatif ini, kunjungan lapangan lanjutan akan dilaksanakan pada Februari untuk meninjau kemajuan serta menghimpun pembelajaran dari implementasi proyek.
Kepala Perwakilan UNDP Indonesia, Sara Ferrer Olivella mengungkapkan, nelayan skala kecil merupakan jantung komunitas pesisir Indonesia. Namun, banyak di antaranya menghadapi tantangan terkait kenaikan biaya operasional di tengah perubahan iklim.
“Dengan menyediakan kapal bertenaga surya serta sistem pendingin (cooler box), UNDP bekerja bersama dengan para mitra untuk menghadirkan solusi praktis yang dapat menekan biaya bahan bakar, menjaga kualitas hasil tangkapan, dan memastikan pendapatan mereka tetap stabil,” kata Sara.
Menurutnya, solusi ini menempatkan energi bersih langsung di tangan masyarakat. Bahkan dapat membantu keluarga mempertahankan mata pencaharian, dan membangun ketangguhan untuk masa depan.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































