Selamatkan Hutan Aceh, Yayasan HAkA Gelar Kampanye “Stop Deforestation”

Reading time: 2 menit
Yayasan HAkA menggelar kampanye "Stop Deforestation" untuk menyelamatkan Hutan Aceh. Foto: Yayasan HAkA
Yayasan HAkA menggelar kampanye "Stop Deforestation" untuk menyelamatkan Hutan Aceh. Foto: Yayasan HAkA

Jakarta (Greeners) – Yayasan HAkA melakukan aksi kampanye “Stop Deforestation” sebagai langkah mendesak untuk memutus mata rantai bencana di Aceh. Aksi ini sekaligus sebagai peringatan bahwa kerusakan hutan hari ini akan menjadi penderitaan masyarakat di masa depan.

Juru Kampanye Hutan dan Satwa Liar Yayasan HAkA, Raja Mulkan mengatakan bahwa seruan ini bukan hanya ditujukan kepada pemerintah dan pelaku usaha, tetapi juga kepada seluruh lapisan masyarakat.

Menurutnya, perlindungan hutan tidak dapat diserahkan kepada satu pihak semata. Tanpa kesadaran kolektif dan keberanian untuk menghentikan praktik perusakan hutan, Aceh akan terus menghadapi krisis ekologis yang berulang.

“Hutan Aceh adalah benteng terakhir hutan yang ada di pulau sumatra, memiliki peran strategis sebagai penyangga kehidupan, sumber keanekaragaman hayati, serta benteng alami terhadap bencana. Kehilangan hutan berarti kehilangan perlindungan, kehilangan ruang hidup, dan kehilangan masa depan,” kata Raja dalam keterangan tertulisnya, Minggu (18/1).

Raja menambahkan, banjir yang melanda berbagai wilayah di Aceh pada akhir tahun 2025 bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Bencana tersebut merupakan akumulasi dari kerusakan ekologis yang terus dibiarkan. Terutama akibat deforestasi hutan yang masif dan berkepanjangan.

“Hilangnya tutupan hutan telah merusak keseimbangan alam dan menghilangkan fungsi hutan sebagai pelindung alami dari bencana hidrometeorologis,” tambahnya.

Selamatkan Hutan Aceh

Raja menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh lagi mengorbankan hutan, dan kebijakan yang melemahkan perlindungan lingkungan harus dihentikan. Meski Aceh punya hutan terluas di pulau Sumatra, itu bukan jaminan daerah ini bebas dari bencana hidrometeorologis.

“Faktanya, sekitar 47 persen daratan Aceh berada di wilayah dengan lereng curam hingga sangat curam. Ini sebagai bahan refleksi, apakah bencana banjir yang kita alami sanggup mencegah manusia untuk tidak merusak hutan lagi?” ungkapnya.

Momentum banjir yang terjadi saat ini, kata dia, seharusnya menjadi titik balik untuk menata ulang hubungan manusia dengan alam. Yayasan HAkA mengajak semua pihak untuk melihat hutan bukan sebagai komoditas semata, tetapi sebagai penentu keselamatan dan keberlanjutan hidup bersama.

Aksi Bersih-bersih Sekolah

Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi pada November 2025 lalu menyebabkan ratusan sekolah di Aceh terdampak. Lumpur tebal yang tersisa menghambat aktivitas pendidikan ribuan siswa, termasuk siswa penyandang disabilitas di SLB Negeri Pembina Aceh Tamiang.

Menanggapi kondisi tersebut, Yayasan HAkA melakukan aksi bersih-bersih secara intensif di lima sekolah terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang. Dalam pelaksanaannya, mereka berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Aceh.

Kegiatan tesebut dilaksanakan di SLB Negeri Pembina Aceh Tamiang, SMAN 1 Kejuruan Muda, SMKN 1 Karang Baru, SMKN 2 Karang Baru, dan SMAN 1 Bandar Pusaka. Aksi gotong royong ini melibatkan tim relawan Yayasan HAkA yang bekerja sama dengan guru, wali murid, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Syiah Kuala, serta mahasiswa Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.

Para relawan membersihkan lumpur tebal dari ruang kelas dan ruang guru, sekaligus membersihkan fasilitas sekolah yang masih layak digunakan agar proses belajar mengajar dapat segera kembali berjalan.

Selain kegiatan bersih-bersih, Yayasan HAkA juga menyalurkan bantuan berupa dispenser, galon air minum, botol minum, kaos kaki siswa, serta perlengkapan kebersihan seperti sabun dan alat pel. Bantuan ini ditujukan untuk mendukung kebutuhan operasional sekolah dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

“Kami berharap kegiatan bersih-bersih dan penyaluran bantuan ini dapat mempercepat pemulihan proses belajar mengajar di sekolah sekolah terdampak banjir, khususnya di Aceh Tamiang,” ujar Raja.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak untuk membangun pendidikan lingkungan yang lebih baik dan berkelanjutan di masa depan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top