UGM Pasang Sistem Penjernih Air Bertenaga Surya di Bener Meriah

Reading time: 2 menit
UGM memasang sistem penjernih air bertenaga surya di Bener Meriah. Foto: UGM
UGM memasang sistem penjernih air bertenaga surya di Bener Meriah. Foto: UGM

Jakarta (Greeners) – Universitas Gadjah Mada (UGM) memasang sistem penjernih air bertenaga surya di RSUD Bener Meriah, Aceh. Upaya ini untuk memperkuat layanan kesehatan di wilayah terdampak bencana, yang masih menghadapi keterbatasan akses air bersih dan listrik.

Pemasangan sistem penjernih air bertenaga surya ini berdasarkan hasil asesmen awal di lapangan. Prioritas alat untuk Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Puskesmas Mesidah, serta Polindes di wilayah Simpur.

“Selanjutnya, penempatan alat penjernih air bertenaga surya akan kami pasang di titik prioritas lainnya,” ujar Dosen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM, Adhy Kurniawan, mengutip Berita UGM, Senin (5/1).

Menurut Adhy, air bersih dan listrik merupakan kebutuhan mendasar. Untuk itu, pemanfaatan panel surya dapat meminimalisasi ketergantungan pada listrik konvensional maupun bahan bakar minyak (BBM).

“Sistem penjernih air yang terpasang memiliki kapasitas 500 hingga 1.000 GPD atau setara 1.900 sampai 3.800 liter per hari. Ini mampu memenuhi kebutuhan air minum dan air bersih bagi ratusan warga, terutama di posko pengungsian,” ungkapnya.

Sementara itu, di Puskesmas Bandar dan RSUD Muyang Kute, kata Nurhadi, tim UGM juga melakukan pengecekan menyeluruh terhadap fasilitas kamar operasi dan kamar bersalin, termasuk memastikan ketersediaan air bersih. Koordinasi turut dilakukan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendapatkan gambaran kondisi infrastruktur air bersih di wilayah tersebut.

“Kami mendapat informasi bahwa empat dari delapan sumber PDAM di Bener Meriah rusak, sementara fasilitas perbaikannya belum sampai ke lokasi. Saat ini masyarakat hanya mengandalkan empat sumber PDAM secara bergantian,” jelas Nurhadi.

Adanya Kasus Penyakit Menular

Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Muhammad Nurhadi Rahman, mengungkapkan bahwa salah satu tantangan utama dalam penanganan bencana di Bener Meriah adalah akses yang terputus. Meski demikian, fasilitas kesehatan tetap beroperasi dalam kondisi serba terbatas.

“Air mati dari pukul 10 pagi hingga sekitar jam 7 malam. Kondisi ini sangat memengaruhi layanan kesehatan,” ujar Nurhadi.

Selain membantu pelayanan kesehatan, tim juga menjangkau Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Kecamatan Timang Gajah, yang dihuni sekitar 30 kepala keluarga dalam satu rumah kepala dusun. Kondisi di posko tersebut cukup terbatas, dengan hanya satu dapur umum dan satu kamar mandi. Di lokasi ini, tim melakukan edukasi personal hygiene serta pengawasan penyakit menular dan tidak menular.

Nurhadi menuturkan dari hasil pemantauan menunjukkan adanya kasus penyakit menular seperti ISPA, gastroenteritis akut (GEA), serta scabies dan penyakit kulit lainnya. Sementara, penyakit tidak menular yang banyak ditemui meliputi hipertensi, hiperglikemia, dispepsia, myalgia dan artritis, karies gigi, serta stomatitis.

“Tim juga mencatat satu pasien dengan dugaan gangguan kesehatan mental, yakni suspected bipolar disorder,” tambahnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top