Jakarta (Greeners) – Indonesia akan mengalami fenomena El Nino pada 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kekuatan El Nino tahun 2026 tidak akan sekuat tahun 2015, namun cenderung menyerupai kondisi tahun 2023.
BMKG menyatakan bahwa berbagai model iklim global menunjukkan potensi El Nino dengan peluang kejadian sekitar 50%–80%. Intensitasnya berada pada level lemah hingga moderat pada pertengahan 2026, lalu berpotensi menguat menjelang akhir tahun.
Belakangan, publik juga ramai menyoroti istilah “Godzilla El Nino”. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa istilah tersebut muncul karena adanya peluang El Nino berkembang hingga intensitas super kuat. Namun, hingga awal April 2026, peluang tersebut masih di bawah 20%.
“Prediksi curah hujan bulanan menunjukkan tingkat kekeringan tahun 2026 dapat mencapai tingkat kekeringan seperti pada El Nino 2023,” kata Ardhasena kepada Greeners, Selasa (7/4).
Ia menjelaskan bahwa El Nino dipicu oleh pelemahan angin pasat (angin yang bergerak ke barat) di wilayah ekuator Pasifik. Kondisi ini menyebabkan air laut hangat bergeser ke wilayah tengah hingga timur Pasifik. Sementara, perairan di timur Indonesia menjadi lebih dingin. Pendinginan suhu muka laut tersebut mengurangi pasokan uap air ke atmosfer Indonesia.
Berdasarkan komposit data curah hujan selama kejadian El Nino periode 1981–2025, jika terjadi El Nino, curah hujan berpotensi menurun sebesar 30%–40% pada bulan Juni–Juli–Agustus di hampir seluruh wilayah Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku Utara, dan Maluku.
Penurunan juga berpotensi terjadi di sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta Papua.
Sementara itu, pada periode September, Oktober, dan November, jika terjadi El Nino, penurunan curah hujan sebesar 30%–40% terjadi di hampir seluruh wilayah Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku Utara, dan Maluku.
Dampak serupa juga berpotensi terasa di sebagian besar Sumatra bagian selatan, NTB, dan NTT, serta sebagian wilayah Kalimantan bagian selatan, Kalimantan timur, dan Papua bagian selatan.
Pengaruh Iklim Global
Frekuensi dan intensitas El Nino tidak terlepas dari pengaruh perubahan iklim global. Meski belum ada bukti kuat bahwa frekuensinya meningkat secara signifikan, variabilitas ENSO semakin tinggi sehingga lebih sulit diprediksi.
Ardhasena mengatakan bagi Indonesia kondisi ini berpotensi mengubah pola musim. Dalam hal ini, musim hujan dan kemarau menjadi tidak menentu baik dari segi waktu maupun durasinya.
“Secara umum perubahan iklim menyebabkan pola iklim menjadi lebih kontras, wilayah yang kering menjadi lebih kering dan wilayah basah menjadi lebih basah sehingga meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi,” ucapnya.
Sejumlah kajian berbasis pemodelan perubahan iklim menunjukkan bahwa frekuensi El Nino cenderung menurun. Namun, kejadian dengan intensitas kuat justru semakin sering terjadi. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya pemanasan di Samudra Pasifik yang memperbesar akumulasi panas di lapisan laut. Akibatnya, ketika El Nino terjadi, anomali pemanasannya lebih mudah mencapai tingkat ekstrem.
Di sisi lain, perubahan lingkungan global seperti degradasi lahan, urbanisasi, dan meningkatnya kebutuhan air juga dapat memperparah dampak El Nino. Bahkan, meskipun intensitasnya tidak meningkat, dampaknya tetap bisa lebih besar. Sebab, meningkatnya kerentanan sistem alam dan sosial terhadap kekeringan, gagal panen, dan krisis air.
Saat ini, BMKG telah memiliki sistem peringatan dini iklim. BMKG secara rutin mengeluarkan informasi peringatan dini kekeringan meteorologis setiap dasarian (10 hari). Kemudian disebarluaskan kepada pemerintah daerah yang berpotensi terdampak.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































